Feeds:
Posts
Comments

Liburan kali ini kami memang nggak ada rencana jalan-jalan jauh selain karena Bapak Abink sudah mulai dikejar deadline, juga kami nggak ada budget buat jalan-jalan di liburan kali ini. Bukannya nggak ngiler kalau lihat teman-teman pada jalan-jalan keluar kota, luar pulau bahkan luar negeri, tapi kami  sedang mengencangkan ikat pinggang untuk sesuatu yang lebih besar, InsyaAllah… Jadilah liburan kali ini kami isi dengan jalan-jalan yang murah meriah nggak pake muntah.

PIKNIK

Piknik salah satu kegiatan favorit kami kalo cuaca lagi cerah.. Nggak harus piknik rame-rame, bertiga-pun jadi…

Mulai dari Piknik di CoesFord, reserve dekat rumah cuma sekitar 10 menit driving.. Lumayan lah tempatnya ada sungai kecil, jadi ALia bisa main lempar batu disana dan dia bawa perahu kertasnya.. Nggak banyak sih yang kami lakukan disana, cuma ngobrol-ngobrol, ngemil tahu goreng, liat anak-anak main… menikmati  semilir angin dan hangat matahari sisa summer :)

CoesFord

Dilanjutkan Piknik dan  main air di Okains Bay sama beberapa keluarga beberapa hari setelahnya.. Bawa makanan macam-macam mulai dari sandwiches, nasi, potato salad, rujak buah sampai bubur ketan item ada di sana. Selain makan-makan, ibu-ibu asyik ngerumpi, anak-anak juga puas main air dan bapak-bapak bisa mancing. Semua senang…..

Okains Bay

INTERACTIVE STORY TELLING

Dulu waktu ALia masih sekolah di Pre-school dan Play centre, hampir setiap hari Rabu aku ajak Alia ke Library karena ada toddler time, pembacaan cerita buat anak-anak. Kali ini kami ikutan acara yang diadakan oleh selwyn parenting network yang kebetulan diadakan di Lincoln. Acaranya asiiik banget, story teller-nya juga hebat banget, cuma menurut aku makannnya kok kurang pas buat acara anak-anak yaa… hehehh… tetep ya emak-emak yang dipikirin makanan. Tapi bener lho, masa di acara anak-anak minuman yang disediakan cuma soft drink :( untuk snack okelah, ada biscuits dan buah-buahan..

Di acara ini Alia enjoy banget, ikutan yanyi, nyeletuk-nyeletuk lucu, dan dia ketemuan sama beberapa temannya dari Playcentre. Sampai susaah diajak pulang maunya main terus…

PRINCESS AND THE FROG SHOW

Tadinya aku nggak yakin mau booking tiket nonton show ini secara menurutku cerita princess and the frog agak kurang pas buat anak-anak.. Tapi setelah baca iklannya, dan didorong keinginan menggebu-gebu untuk nonton theatre disini jadilah aku booking  tempat seminggu sebelumnya. Pas dateng ke tempat pertunjukannya ternyata udah banyak anakkecil disana dan tiket sudah sold out (untung kita udah booking). Setting panggungnya sangat-sangat sederhana, bahkan ALia nggak excited sama sekali. Cuma diem aja dan nggak mau duduk sendiri (padahal aku booking 3 seats). Satu menit pertama setelah show dimulai, agak kecewa tapiiiiii setelah itu kami benar-benar menikmati shownya. Ternyata cerita Princess and the frognya udah dimodifikasi, tambah ini itu, bener-bener menghibur dan cocok buat anak-anak.. Kalau ada show lagi mau nonton lagiiiii……

Princess and the Frog show

 

Truss…. apa lagi ya hiburan kami selama school holiday ALia nggak sekolah selama 2 minggu ini??? Nanti kita lanjut lagi di part 2 deh yaaa…

 

Membaca beberapa postingan kawan baik di facebook atau di kompasiana atau di blog sering kali banyak yang bercerita mengenai pengalamannya atau pengalaman orang lain dalam usaha meraih gelar Doctor of Philosophy (Ph.D). Banyak tulisan-tulisan tersebut yang menceritakan sisi “menyeramkan” dari perjalanan menunju PhD. Sehingga tak ayal muncul banyak plesetan dari PhD yang salah satu nya Permanent Head Damage.

Tidak terlalu salah jika memang Ph.D di plesetkan menjadi Permanent Head Damage. Karena memang selama proses pendidikannya jenjang strata 3 ini penuh dengan hal-hal yang tidak dapat diprediksi dan diperkirakan. Jika penulis lainnya menceritakan sisi “seram” dari perjalanan menuju PhD. Maka Pak Abink ingin mencoba bercerita dari sisi lainnya. Tapi bagi yang membaca tulisan ini HARAP DIINGAT bahwa perjalanan menuju Ph.D merupakan perjalanan yang independen. Walaupun di Fakultas dan Jurusan yang sama ataupun bidang ilmu yang sama dua orang Kandidat Ph.D pasti memiliki pengalaman yang berbeda. Jadi tulisan ini merupakan pengalaman yang saya alami dan juga beberapa kawan yang “berjalan” bersama saya.

Yang pertama saya sangat setuju dengan beberapa anggapan bahwa yang dibutuhkan dalam perjalanan menuju Ph.D ini adalah ketekunan. bisa dibilang faktor penentu keberhasilan seseorang menempuh strata 3 itu 30% kecerdasan  dan 60% ketekunan. Lha ya 10% apa? yang 10% yaitu keberuntungan. Jadi jenjang strata 3 ini tidak mutlak membutuhkan kecerdasan. Yang mutlak dibutuhkan adalah ketekunan, keuletan dan kerja keras. Bagaimana dengan keberuntungan? Pasti, walau tidak besar dan signifikan, menurut saya keberuntungan juga sangat dibutuhkan. Oleh karenanya sebagai orang yang beriman maka sudah sewajarnya kita selalu berdoa agar diberikan jalan yang benar dari Tuhan YME.

Selanjutnya, seperti yang saya sebutkan bahwa kerja keras dan ketekunan itu mutlak. Tapi sebenarnya yang lebih penting itu kerja cerdas. Dalam menempuh program Doktoral, sudah seharus nya kita memiliki strategi dan persiapan yang matang. Banyak hal yang harus dikerjakan dalam perjalanan ini. Oleh karenanya jika tidak mampu membuat strategi yang tepat maka yang terjadi adalah penumpukan pekerjaan dan terkuras nya energi. Jadi sebelum memutuskan untuk menempuh program S3, saya anjurkan untuk mengobservasi terlebih dahulu hal-hal penting didalamnya, Seperti halnya ketersediaan literartur, akses terhadap data, akses terhadap teknologi-teknologi pendukung, dan yang tak kalah penting adalah yang saya namakan “academic friend”.

Yang menarik menurut saya dimana sering kali Ph.D kandidat lainnya lupa ada peran dari seorang academic friend. Untuk lulus pembimbing/promotor atau supervisor memang aktor pendukung utama dalam sebuah kelulusan. Tapi kita tidak boleh melupakan peran dari para academic fiends tersebut. Siapa sih academic friends itu? Istilah itu saya ruju dari istilah kawan saya yang berhasil lulus Ph.D dalam waktu 2 tahun 9 bulan sehingga oleh Faculty di catat sebagai pemegang rekor kelulusan tercepat. Menurut kolega saya tersebut academic friends itu adalah kawan dimana kita bisa saling adu argumentasi mengenai penelitian kita. Tidak penting apakah bidang penelitiannya sama, seorang academic friends akan dengan setia memberikan kritik atau masukan dari sudut pandangnya sebagai orang awam dimana sering kali sudut pandang itu terlupakan. Jadi carilah academic friends anda sebagai penyeimbang.

Yang berikutnya mengenai pengendalian stress. Menurut saya dalam perjalanan menuju gelar Ph.D ini stress adalah hal yang sangat lumrah. Tidak mungkin seorang kandidat doktor tidak mengalami stress sama sekali selama perjalanan Ph.D nya. Yang paling penting menurut saya adalah pengendalian stress itu. Jika gelaja stress mulai menghampiri maka segeralah mencari hiburan berdasarkan kesenangan masing-masing. Tetapi sebenarnya menurut saya, stress itu bisa di minimalisir jika kita menyenangi bidang yang kita kerjakan tersebut. Jangan jadikan hambatan dan kendala sebagai sumber stress. Tapi jadikan sebagai tantangan yang harus dihadapi. So far cara itu berhasil saya terapkan.

Waktu – ini salah satu komponen utama dalam perjalanan menuju jenjang doktoral. Waktu bisa menjadi teman tetapi juga bisa menjadi momok. Jadi jangan bermain-main dengan waktu. Lebih baik habiskan waktu diawal ketimbang kita kehabisan waktu di akhir. Saya teringat strategi yang dilakukan oleh seorang kawan yang jugasudah sukses menjadi seorang Doktor. Belio berpesan kepada saya bahwa waktu itu sangat berharga. Jangan lewatkan waktu tanpa sesuatu yang produktif. Jadi beliau menyarankan, setiap hari itu harus di buat target. Misal nya dalam sehari minimal membaca 2 artikel dan menulis 2 paragraph.

Buatlah riset Ph.D ini sesimple yang kita bisa. Walaupun simpel tetapi harus berkualitas. Intinya kerjakan sesuai dengan target yang digariskan. Kadang kala bagi seorang Ph.D candidate dalam perjalanan nya akan menemukan hal-hal menarik baru. Sehingga sering kali topik penelitiannya meluas dan sering kali tidak terkendali. Saya selalu ingat pesan pembimbing S3 saya. Dr David Cohen selalu berpesan ini adalah riset Ph.D dan target utama bukan nobel (walau kalau dapat nobel juga tidak menolak). Jadi kerjakan penelitian dalam koridor yang telah digariskan. Jika ada temuan baru yang menarik, jadikan lah topik pada penelitian berikutnya. Berkaitan dengan kesimpelan riset Ph.D, Dr Cohen pembimbing saya selalu berpesa, bahwa dalam menulis thesis tidak semua pembaca adalah expert. Kebanyakan pembaca adalah non expert educated reader. Jadi ketika menulis maka terangkanlah dalam bahasa yang lugas bagai kita menjelaskan pada anak umur 10 tahun.

Nah intinya, menurut saya pribadi, mengerjakan program doktoral itu tidak lah menyeramkan, Program doktoral tidak lah mudah, tetapi bukan juga hal yang sangat susah. Dibutuhkan kerja keras, semangat, ketekunan dan yang pasti doa dan dukungan dari orang-orang terdekat khususnya keluarga.

 

Bersepeda adalah hobi baru Alia akhir-akhir ini. Sebenarnya Alia sudah punya sepeda sejak umur dua tahun. Di beliin Kai Roben hadiah ulang tahun. Tapi karena belum cukup tinggi maka hampir 6 bulan sepedanya mangkrak di halaman. Nah setelah genap umur tiga tahun, Alia sudah bisa naik sepeda. Walau masih pakai training wheel. Waktu Kakak Nadia pulang, Alia di kasi sepeda. Jadi sekarang Alia punya dua sepeda.

Alia paling senang sepedaan sama Pak ABink di sore hari waktu ibu kerja. Kadang-kadang juga sepedaan dipagi hari waktu weekend. Kalo weekend sering kali Pak dan Bu Abink ikut Alia bersepeda. Rute nya tidak jauh-jauh. Cuma dari rumah, ke kampus Pak ABink dan mampir bentar di offis untuk ngopi atau ngeteh.

Paling seru kalo sepedaannya weekend. Karena kalau cuacara cerah, sambil sepedaan, Pak Abink juga suka jeprat-jepret Alia. Maklum Pak Abink kan lagi bermimpi jadi photographer amatiran. Spot kesukaan Alia yaitu depan Library. Maklum library nya Lincoln Uni cukup khas bergaya bangunan kuno. Jadi cocok untuk spot berfoto-foto. Kadang dalam photo session, Bu Abink juga sering dijadiin model dadakan sama Pak ABink. Hasil nya jadi ga karuan sih hehehehe….

Beberapa pose Alia kalo pas Photo Session dengan Pak Abink setelah sepedaan di Lincoln Campus

 

Sekali lagi Pak ABink ingin bercerita mengenai beberapa pengalaman berharga yang diperoleh KeluargaHussein dari  New Zealand Kindergarten. Ceritaini sebenarnya pengalaman dari Bu Abink waktu mengantar Alia visit di KidFirst. Nah di suatu sesi, Alia di kenalkan dengan seorang teman baru yang namanya Chloe. Chloe sudah empat tahun jadi lebih gede dari Alia. 

Nah ceritanya salah seorang guru di KidFirst bercerita mengenai Dragon. Si Dragon datang ke kamar anak-anak dan mengacak kamar mereka. Sehingga kamar menjadi messy alias berantakan. Nah di akhir cerita Bu Guru meminta anak-anak berdasarkan imaginasinya untuk menggambar Dragon yang mengacak-acak kamar. 

Setelah selesai menggambar anak-anak menunjukkan naga mereka masing-masing sesuai imajinasi mereka. Nah giliran Alia menunjukkan gambar naganya, maka bentuknya tidak karuan. Nah melihat gambar naganya Alia yang mirip benang kusut, Chloe bertanya, kenapa kok naga nya Alia kok bentuk nya tidak mirip naga. Mendengar pertanyaan itu Bu Guru menjelaskan, bahwa setiap orang punya naga yang spesial. Tidak ada yang sama. 

Pelajaran berharga dari situ yang kami peroleh bahwa sejak kecil kreativitas telah dipupuk. Tidak ada benar salah yang ada adalah justifikasi kreativitas tersebut. Selain itu yang kami salut adalah sejak kecil mereka juga di ajarkan untuk menghargai perbedaan. Yang berarti keseragaman tidak mutlak.

 

Sejak Januari yang lalu, si kecil Alia sudah berumur tiga tahun. Sudah tidak mau di panggil little girl lagi, apa lagi di panggil baby. Mau nya dipanggil kakak Alia atau Big Girl. Sejak berumur tiga tahun itulah saya dan Bu Abink memilih Kindergarten sebagai “sekolah” untuk Alia. Maka pindahlah Alia dari Lincoln Daycare ke Linciln KidFirst.

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi kami menyekolahkan Alia di Kindergarten. Pertama sejak anak berumur tiga tahun, maka pemerintah New Zealand memberikan subsidi 20 jam gratis untuk bersekolah di pusat-pusat pendidikan usia dini. Sekedar informasi di New Zealand ini PAUD di buat dalam beragam format. Ada yang dalam bentuk Kindergarten macam kidfirst, ada pula Childacare/daycare dan ada pula yang dikelola komunitas dalam bentuk playcentre. Nah sebenarnya untuk semua PAUD centre ini diatas usia tiga tahun otomatis mendapat subsidi 20 jam gratis. Alasan lain menyekolahkan Alia di Kindy yaitu untuk mengajarkan kemandirian. Dengan asusmi di Kindy rasio guru dengan murid tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil berbeda dengan di Daycare yang rasio nya bisa 1:5. Jadi anak-anak sudah dianggap dewasa tidak terlalu diawasi macam di Childcare.

Setelah hampir empat bulan berjalan, ternyata pilihan kami sangat tepat. Beberapa perubahan positif terjadi pada Alia. Yang paling tampak adalah kemandirian. Sejak masuk ke kindy Alia :

- bisa pakai kaos kaki sendiri

- bisa pasang sepatu sendiri

- bisa pakai celana sendiri, kalau pake baju masih harus di bantu 

- tidak ngompol lagi, kalau mau pipis selalu bilang ” daddy/mommy, I wanna go to toilet” terus langsung lari ke toilet. Memang masih harus di bantu naek ke toilet karena toilet nya masih ketinggian

- bisa brush teeth sendiri

Selain mandiri perkembangan signifikan lainnya adalah kemampuan berkomunikasi. Sekarang Alia sudah lancar bahasa inggrisnya – grammar nya pun sering akurat. Contoh nya Alia selalu bilang ” I went to toilet with Sue at schoo’ wow 3 y/o girl sudah mengerti Past tense.  Bahkan beberapa words yang dipakainya kami tidak mengerti (nasib-nasib). Dari sisi kognitif nya, Alia sudah kenal huruf. Bahkan Alia sudah bisa menulis namanya sendiri. 

Nah tapi jangan bayangkan model pendidikan PAUD di New Zealand sama dengan TK TK di Indonesia walaupun TK Plus sekalipun. Di New Zealand, tidak ada namanya keseragaman. Tidak ada namanya duduk dalam kelas kemudian belajar alphabet bersama atau menyenyi bersama atau diajarkan “Ini Truk”…”ini bola”. Anak-anak wajib masuk ruangan hanya untuk morning tea, lunch dan “mat time”. Mat time ini dongeng sebelum pulang sekolah. 

Saya pernah bertanya kepada salah satu guru di Kidfirst. Bagaimana bisa Alia dapat belajar huruf dan angka begitu cepatnya. Apa di Kindy diajarkan secara khusus untuk membaca dan menulis. Belio menjelaskan bahwa konsep nya adalah belajar sambil bermain. Maksud nya adalah waktu bermain, kadang-kadang si guru menanyakan “what is this” …”this is a bus” so “B” is for Bus. Sambil nunjukin huruf B yang ada dimana saja. Bisa di kaos salah satu anak. Atau dimana saja. Jadi waktu saya tanya apa kegiatan anak seharian di Kindy. Dia menjawab bermain dan berkreasi. Karena dunia anak adalah bermain dan kreativitas. Pernah saya bertanya juga kenapa mereka tidak banyak menyediakan kertas untuk mewarna. Ternyata mewarna tidak terlalu cocok untuk pengembangan kreativitas anak usia dini. Dalam mewarna ada batasan dan ada kesesuaian. Misal mewarna pohon maka warna tidak boleh keluar dari batas warna begitu juga warna batang harus coklat. Padahal anak masih mengeksplorasi segala kemungkinan. Benar-benar pendidikan yang memanusiakan manusia. 

Hal lain yang membuat saya kagum adalah tidak adanya perbedaan antara anak yang normal dengan yang sedikit berketerbatasan. Salah satu teman Alia sedikit terbatas pendengaran dan penglihatan. Tetapi si anak tetap diperlakukan sama. Diberikan kesempatan yang sama dengan teman-teman yang lain. Walau sedikit ada perhatian khusus dari para guru.

Nah yang menarik selain Alia yang banya belajar, saya pun banyak mendapatkan pelajaran berharga selama mengantar Alia ke sekolah. Maklum kesepakatan di KeluargaHussein, Pak Abink antar Alia sekalian ke kampus, dan Bu Abink yang jemput Alia di sore hari. Nah setiap pagi Pak Abink mengantarkan Alia sekolah. Maka setiap pagi Pak Abink bertemu dengan beberapa ibu/bapak nya murid-murid lain. Kadang geli melihat bapak-bapak yang badannya besar bin kekar tapi dengan santai  nge gendong anaknya sambil menjjing tas sekolah. Kemudia sebelum pulang si Bapak juga ber hug ria dengan si anak sambil bercanda. Selain itu Pak Abink juga belajar kesopan santunan orang New Zealand. Contoh kecil saja adalah mengenai membuka pintu. Mereka rela memegang pintu ketika melihat ada orang lain datang. Selain itu jika ada ibu-ibu yang datang maka Bapak-bapak rela untuk tergesa-gesa membukakan pintu. Benar-benar contoh sopan santun yang tidak dibuat-buat.

Banyak pelajaran berharga yang Alia dan kami pelajari dari Kindergarten ala New Zealand ini. Semoga pengalaman dan pengetahuan yang kami peroleh ini bisa kami tularkan di Indonesia dikemudian hari.

 

Salam keluargaHussein

Good Bye Alia (Story by Liz)

Even though yo’ve not been in Lincoln Preschool for very long, Alia we have seen your confidence grow hugely during your time with us. We have enjoyed observing the ways in which you have enjoyed all the different activities and challenges presented to you with an assured confidence. 

You express yourself very clearly, Alia both with the children and adults, and you are able to select activities based on your interest at the time, rather than be influenced buy peer presure. Sometimes that’s not easy thing to do!

You have a well developed self-awareness and because of that you are able to recognise the progress that you have made during your time here. An example of this is the way that you mastered the tchnique you needed to swing on the rope with your feet off the ground. You were so pleased with your achivement here and rightly so. 

You have become increasingly confident in your interactions with your peers and in the way that you are willing to give new activities ‘a go’.

We are sorry to see you go ALia, we’ve really enjoyed having you here in Lincoln Preschool. We wish you have lots of luck in Lincoln Kindergarten.

~~~~~~###~~~~~~

Belum ada cerita ALia masuk pre-school kok tiba-tiba udah good bye aja yaa?! Jadi, ALia mulai masuk pre-school kira-kira 6 bulan yang lalu. Cuma 2x seminggu dari jam 8-12.30 tapi itu cukup ngasih ruang aku buat ngapa-ngapain sendirian (me time nih ceitanya..) dan bikin Alia tambah pintar dan mandiri. Hari-hari sulit pertama kali masuk sekolah baru tanpa Ibu cuma terjadi di 2 hari pertama. Hari selanjutnya gampang dan santaiiii…. Intinya ALia, Ibu dan Bapak hepi atas pilihan masukin ALia ke pre-school. Eh, ada sih yang bikin nggak hepi kalo pas waktunya bayar :p Tapiiii  next week ALia udah 3 tahun jadi udah dapet 20 hours subsidi dari pemerintah nggak harus bayar mahal lagi,  horraayy….

Diatas adalah cerita dari guru (primary caregiver) Alia di pre-school.  Hari Jumat, 21 Januari kemarin adalah hari tereakhir Alia di lincoln pre-school. Alia bawa buku cerita utuk kenang-kenangan. Alia cerita kalau gurunya bilang terimakasih ke Alia dan baca bukunya buat semua teman2 Alia, trus semua nyanyi “happy last day” for Alia. Sedih juga rasanya mau mindahin Alia dari pre-school ke Kindy, karena di pre-school ALia memang kelihatan banyak belajar, banyak teman, guru-gurunya perhatian dan tempatnya dekeet banget dari rumah heehehe…  Tapi mindahin ALia ke Kindy juga bukan tanpa pertimbangan walaupun kami butuh extra efforts to make it run smoothly. Ya buat nganter ALia lebih pagi dan lebih jauh, nyiapin snack dan lunch box ALia tiap hari, dan yang paling penting nyiapin ALia di lingkungan, teman dan guru yang baru. Trus kenapa dong ALia dipindah ke Kindy?? Karena Alia minggu depan udah 3 tahun, udah dapet 20 hours free dari pemerintah NZ dan Kindy cuma nerima anak-anak 3 tahun keatas. Waktu di pre-school teman-teman Alia umurnya bervariasi mulai dari bebi sampai 5 tahun dan di sana kesannya lebih ke ‘penitipan anak’ (tapi tetap dikemas dengan Early Childhood Curriculum). Di Kindy ALia akan punya teman seumuran (3-5 thn), nggak akan ada primary caregiver, jadi insyaAllah akan lebih fokus di kegiatan bermain-belajar yang benar-benar pas di usia ALia. Doakan ALia tambah pinter, jadi pribadi yang baik hati, baik budi, punya banyak teman, dan semakin solehah. Amiiinnn…

Weekend kali ini (21 Januari 2012) lumayan cerah. Ramalan cuaca ala metservice.com sejak sehari sebelumnya telah mengestimasi bahwa pada hari Sabtu cuaca akan mendung di pagi hari dan cerah di siang dan sore hari. Karena cuaca yang cerah, Bu Abink mengusulkan untuk berjalan-jalan ke New Brighton beach mumpung ada Sand Castle Festival. Usul yang bagus pastilah harus ditindak lanjuti. Maklum dari Senin sampai Jum’at Pak ABink sibuk dengan thesis nya dan Bu Abink sibuk dengan pekerjaannya. Jadi mumpung weekend harus di mamfaatkan semaksimal mungkin.

Nah maka setelah sarapan dan sedikit berberes rumah KeluargaHussein meluncur ke New Brighton. 45 menit kemudian, sampailah di The Pier – salah satu landmark dari New Brighton. Sampai di The Pier, parkiran ternyata sudah ramai dan penuh. Sedikit berputar Alhamdulillah dapat tempat parkir yang lumayan dekat dari pantai.

Disepakati Bahwa Alia hanya punya dua pilihan, yaitu duduk di stroller atau jalan kaki, tidak ada pilihan minta gendong…. hampir tiga tahu gitun loh. Ternyata setelah jalan beberapa meter dan memasuki area pantau, stroller nya mogok. Maklum roda stroller tidak di disain untuk berjalan di atas pasir.

Di New Brighton cukup ramai orang. Para pematung pasir sedang bekerja ketika kami sampai. Beberapa diantara mereka ada yang baru mulai dan yang lainnya ada yang hampir selesai

The Pier

Selain melihat-lihat pematung pasir yang sedang sibuk berkreasi, KeluargaHussein juga asik melihat beragam layang-layang yang di naikkan oleh pengunjung lainnya. Mungkin pemaasan karena minggu depan akan ada Kite Festival. Sambil melihat layang-layang ternyata ada Kudi Poni. Tak ayal si kecil Alia yang memang hobi kuda kudaan (Pak Abink yang biasanya jadi kuda) langsung tertarik naik POni.

Alia Naik Poni

Setelah puas bermain dan berjalan-jalan di New Brighton, Pak Abink yang lagi hobi photography mengusulkan untuk lanjut piknik ke Mona Vale. Mona Vale itu taman kecil yang bunga nya cantik-cantik di daerah Riccarton. Karena hari masih sore Bu ABink pun setuju. Kurang dari 30 menit sampailah di Mona Vale.

Selain bunga, di Mona Vale juga ada sungai yang banyak bebeknya. Alia biasanya suka sekali kasi makan bebek alias duck feeding. Nah sebagai iming-iming agar bisa kooperatif, maka duck feeding menjadi salah satu agenda kegiatan di Mona Vale selain photo hunting. Puas berjalan-jalan dan ber photo ria, maka sudah waktunya untuk duck feeding. Berjalanlah KeluargaHussein menyusuri sungai yang ada di Mona Vale. Setelah berjalan beberapa saat tibalah di tempat yang agak rindang dan banyak bebeknya. Riang lah hati Alia. Ritual pertama adalah mengampar tikar dan menyiapkan makanan (baik untuk bebek maupun untuk KeluargaHussein). Nah belum sempat mengeluarkan bekal sekelompok bebek berenang mendekati KeluargaHussein. Nah loe, feeling sudah ga enak. Benar saja, setelah berenang mendekat serombongan bebek itu keluar dari air dan segera mendatangi kami. Awal Alia dan bu ABink masih riang gembira menyambut kedatangan rombongan bebek itu. Maklum cuma 2-3 ekor doank. Eh tidak dinyana tidak diduga datang lagi serombongan denga jumlah yang lebih besar mendesak kami.

Segeralah pecah tangis Alia ketakutan di buru “gerombolan” bebek. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah angkat kaki da  kaboorrr dari tempat itu. Tapi kabur beberapa langkah pun rombongan bebek masih mengikuti kami. Waduh jadi serasa panglima bebek diikutin pasukan bebek. Alia pun tidak berani berjalan sendiri sehingga harus nemplok minta gendong Pak ABink.

Wah jadi kebalik nih ya.  Biasanya bebek yang diburu dan dikejar manusia. Eh sekarang malah mausia yang dikejar sama bebek. Oke petualngan dikajr bebek belum selesai. Masih ada babak kedua. Nah setelah dikejar di episode pertama, keluargaHussein sukses meloloskan diri dari kejaran bebek-bebek Mona Vale. Karena cukup lelah, Pak ABink mengusulkan untuk sejenak berisitrahat. Di meja pinggir sungai. PAda awalnya Bu ABink sudah menyampaikan kehawatirannya kalo-kalo si bebek datang lagi. Karena tempat nya cukup jauh, PAk Abink yakin bahwa tidak akan ada lagi serbuan bebek. Ternyata…dugaan itu salah. Baru saja duduk, eh empat sekawan bebek berenang mendekat. Dan setelah sampai di darat langsung meringsek maju mendekati kami. Tak Ayal Alia pun kembali berteriak dan menangis.

Karena hari memang sudah semakin sore dan trauma akan kejar-kejaran dengan pasukan bebek. Maki piknik pun di akhiri. KeluargaHussein kembali kerumah membawah sejuta kisah dan cerita. Selamat akhir pekan kawan. Sukses selalu….!!!

Story by : Pak ABink

Photo by : Pak ABink

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers