“Alia juga mau jadi guru, tapi gurunya anak kecil….”

Sepertinya postingan mengenai sekolah masih berlanjut. Setelah si ibu menerima tantangan dari seorang kawan blogger untuk posting cerita mengenai sekolah, saya juga ga mau ketinggalan cerita mengenai cita-cita anak kecil lucu yang pengen jadi guru – tapi gurunya anak kecil.

Jika si Ibu sejak dulu pengen jadi guru TK dan katanya berkembang menjadi pemiliki sekaligus guru, maka sejak dulu saya pengen jadi dosen. Mungkin keinginan jadi dosen ini dikarenakan kakek saya dulu dosen, kemudian mama saya juga dosen, papa juga dosen walau cuma part-time (belio notaris).  Nah jadi mungkin karena pas hamil dulu mama sering ngajak saya ngajar (dalam perut) jadi sejak kecil saya sudah pengen jadi dosen. Seijin Sang Pencipta, akhirnya saya berhasil menggapai mimpi menjadi seorang dosen. 

Nah ternyata keinginan jadi guru itu nular ke Alia. Sejak lama Alia paling senang main sekolah-sekolahan. Boneka-boneka nya di jejer kemudian Alia niruin gurunya kalo lagi ngajarin murid-muridnya. Mulai dari ngajari speeling, singing sampai marahin muridnya yang “pura-puranya” ngompol. Bapake ini juga sering kali juga berperan jadi murid. Ikut nyanyi sama anak-anak TK lainnya. Seru deh kalo Alia sudah mulai maen sekolah-sekolahan.

Suatu hari Alia nanya ke saya. :

Alia : Bapak, kerja jadi dosen ya?

Bapak : kok Alia tahu?

ALia : Di kasi tahu mama (mama itu panggilan untuk Oma nya Alia..)

Bapak : Alia tahu apa itu dosen?

Alia : Tahu, dosen itu guru kan?

Bapak : Sip….dosen itu guru, sama kayak teacher Ayu (guru favorit nya Alia di See me grow yang sering Alia tiruin), tapi kalo dosen murid nya itu orang gede bukan anak kecil.

Alia : ooo, jadi dosen itu guru nya orang besar ya?

Bapak : Yes

Alia : Kalo sudah gede, Alia juga mau jadi guru, tapi gurunya anak kecil aja

Bapak : boleh, jadi Alia harus rajin belajar supaya pintar.

Dari percakapan itu saya berpikir, profesi apa pun itu baik. Tapi menjadi seorang guru itu merupakan sebuah panggilan hidup. Saya cuma bisa berdoa dan mendukung sepenuh hati apa yang dicitacitakan gadis kecil itu, Semoga mimpi-mimpinya menjadi kenyataan.

Sekolah Impian

Waktu saya kecil setiap ditanya cita-cita saya apa, selalu saya jawab “mau jadi guru TK”. Saya ingat betul, waktu itu nenek saya pernah bilang “Jangan jadi guru. Guru itu gajinya kecil”. Dari situ, saat saya sma saya mulai berpikir untuk merubah sedikit cita-cita saya, dari “guru Tk” menjadi “guru dan pemilik TK” :) cerdas nggak tuh? Sekarang gimana? Sekarang saya masih tetep pengen punya early childhood centre sendiri seperti yang saya tulis di halaman ini.

Kebetulan sekali mb Joeyz lagi bikin ‘sayembara’ tentang sekolah impian.  Jadi kalau punya rejeki, sekolah macam apa yang pengen saya dirikan? Udah ketebak lah ya kalo say pengen bikin TK :) trus TK macam apa?

Pertama-tama, saya pikir bukan cuma anak di daerah terpencil/tdk mampu saja yang membutuhkan pendidikan berkualitas. Anak-anak di kota pun butuh pendidikan yang berkualitas. TK impian saya ini bias di aplikasikan di desa maupun di kota (kayak kampanye ya). Bayarnya gimana? Bayarnya subsidi silang aja. Yang mampu bayar, yang nggak mampu nggak usah bayar, kan punya cadangaan 10M.. Beberapa poin tentang sekolah impian saya:

Menghargai anak-anak sebagai pribadi-pribadi yang unik (udah kayak iklan belum nih kalimatnya?). Karena setiap anak itu unik, jadi jangan merasa aneh kalau setiap anak punya keinginan, kemampuan dan pendapat yang berbeda. Di sekolah saya nanti, setiap murid bakal di-encourage untuk mengungkapkan pendapatnya, apapun itu. Di sekolah bakal ditanamkan kalau berbeda itu bukan masalah. Jadi, guru sebagai fasilitator harus benar-benar menghargai pendapat setiap anak. Nggak ada gambar siapa lebih bagus dari siapa. Setiap anak punya kreatifitasnya masing-masing. Nggak ada yang salah kalau anak menggambar daun berwarna pink, bukan hijau. Kebetulan, kami punya pengalaman tentang ini di sekolah Alia di NZ yang pernah diceritakan bapak Abink di sini. Kalau anak-anak sudah terbiasa dengan perbedaan, sudah pasti Indonesia di masa depan akan semakin damai. Nggak ada lagi tuh yang putus silaturahim gara-gara beda pilihan capres :)

Untuk menunjang penghargaan terhadap setiap pribadi anak yang unik, di sekolah saya nanti bakal ada sesi di mana setiap anak bebas memilih kegiatan apa yang ingin dilakukan. Bebas. Misalnya, kegiatan membuat kerajinan tangan. Kalau di sekolah-sekolah pada umumnya semua anak akan membuat kerajinan tangan yang sama, di sekolah saya nanti anak-anak bebas membuat kerjinan tangan sesuai keinginannya. Boleh menggunting kertas, menempel, membuat sesuatu dari kardus, dari ranting, melukis, terserah mereka. Mereka (walaupun masih anak-anak) berhak menentukan pilihan.

Mengajarkan nilai kasih sayang, saling menghargai dan sopan-santun. Walaupun anak-anak bebas berpendapat dan bebas menentukan pilihan, di sekolha tetap diajarkan bagaimana ber sopan-santun. Bagaimana harus menghormati yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda. Tidak  boleh ada bullying dan kekerasan sama sekali di sekolah saya nanti.

Sekolah dengan arena bermain yang luas. Arena bermain yang saya maksud di sini bukan di dalam ruangan ya. Di luar ruangan. Kenapa luar ruangan? Tau kan kalau anak kecil itu nggak bias diem dan cepat bosan? Coba bayangkan kalau sekolah anak-anak minim tempat bermain luar ruangan. Kita aja yang kalo diminta stay di dalem ruangan bakal bosen dan nggak produktif kan.. Apa lagi anak-anak. Selain itu, di Tk saya nanti anak-anak bakal di encourage untuk bermain di luar banyak-banyak. Tanpa takut kotor!

Di TK saya nanti juga bakal ada kebun sayur yang ditanam oleh anak-anak danada hewan peliharaan seperti ayam, kelinci, ikan (sekarang sih cuma tiga hewan itu yang ada di pikiran saya, secara saya ‘geli’ sama segala jenis binatang). Dari situ anak-anak belajar tentang sains, belajar bersyukur, berbagi, sekaligus belajar menghargai orang lain.

Nggak boleh bawa snack kemasan untuk bekal. Jaman sekarang kan penyakit makin aneh-aneh ya.. Diduga, berbagai penyakit muncul karena gaya hidup dan makanan yang nggak sehat. Makanya di sekolah saya nanti anak-anak akan dapat snack sehat dan buah-buahan. Anak-anak boleh juga bawa bekal dari rumah, tapi harus bekal sehat (sehat bukan berarti nggak enak kan!). Kalau anak-anak bawa homemade food, pasti lebih sehat dan akan mengurangi sampah juga. Misal nih ya, di TK saya nanti ada 40 orang murid. Kalau setiap hari mereka bawa bekal snack kemasan, bakal berapa banyak plastic yang terkumpul selama sehari, sebulan, setahun? Selain sehat, juga mengajarkan mereka untuk menjaga lingkungan. Anak kecil itu makhluk paling pinter loh.. Kalau di sekolah ditanamkan bagaimana cara menjaga kesehatan dan menjaga lingkungan, diharapkan ini akan menjadi kebiasaan sampai mereka besar nanti.

Mengajarkan ‘hidup sederhana’. Sebisa mungkin sekolah akan memanfaatkan barang-barang bekas untuk sarana bermain dan belajar. Sebisa mungkin tidak mendorong anak untuk beli, beli dan beli. Tapi gunakan barang bekas yang masih bias dimanfaatkan. Banyak kok yang bias kita bikin dari barang bekas. Contohnya: sock puppets dari kaus kaki bekas atau yang ilang sebelah. Anak-anak pasti seneng bikinnya dan kalo udah jadi bias di lanjut bikin pertunjukannya di sekolah.

 

Sock puppet. pic from www.aokcorral.com

Sock puppet. pic from http://www.aokcorral.com

Berusaha menggunakan bahan dari alam untuk media bermain dan belajar. contonya nih melukis dengan media daun atau melukis di batu.

 

 

masih dalam rangka ‘hidup sederhana’, anak-anak boleh merayakan ulang tahun di sekolah, tapi tanpa bagi-bagi goodie bag mewah, tanpa kue tart yang mewah. Sekolah yang akan memfasilitasi ‘pesta’ ulang tahun untuk anak. Maksudnya apa? Maksudnya supaya anak-anak (atau orang tuanya) nggak terbiasa ‘pamer’ dan saling berlomba mengadakan pesta ultah nan meriah (dengan bingkisan yang mahal) di sekolah :)

Guru yang fun, tidak berhenti bercerita dan bertanya kepada anak-anak. Dengan bertanya dan bercerita akan merangsang anak untuk berpikir dan kreatif. Jadi, guru-gurunya harus dipastikan sayang anak, dan nggak capek ngomong sama anak-anak. Lemah lembut, tapi bias tegas di saat yang dibutuhkan. Para guru juga harus terlibat dalam semua kegiatan anak-anak (baca:nggak jaim alias jaga image).

Orang tua murid yang berkomitmen untuk mendukung program sekolah. Ini penting banget ya, walaupun mungkin untuk ibu bekerja agak susah menyediakan homemade food (no-wrap) untuk anak-anaknya, tapi nggak ada yang nggak mungkin kok.Percuma juga kalo disekolah anak-anak diberi kebebasan berimajinasi, tapi di rumah masih sering dihakimi dan dibanding-bandingkan. Jadi, komitmen orang tua penting!

Sepertinya sekolah impian saya biasa-biasa aja dan cenderung ‘kejam’ ya? Intinya, saya pengen anak-anak jadi long-life learner  jadi pribadi yang selalu bersyukur dan mudah berempati, peduli dengan alam, keluarga dan diri sendiri. Sebenernya masih banyak lagi nih, tapi untuk sekarang cukup itu dulu deh ya.. Itu menurut saya seperti ‘filosofi’nya sekolah impian saya nanti.

Menangin saya dong teacher Joeyz sekolah ini bukan mustahil untuk di bangun di Indonesia untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Apalagi kalau ada dana 10 M :) … Saya mupeng sama novel & tas nyaa.. atau kalau nggak dapet yang itu, blazer merahnya boleh juga :)

Pelajaran Hari Ini

Saya termasuk orang yang susah untuk bilang “nggak”, termasuk sama diri sendiri. Hari ini saya presented di internal conference di kampus tapi rasanya nggak maksimal secara di awal saya register udah ragu-ragu,  karena udah pernah ikut tahun lalu dan saya juga baru ikut thr3sis competition di bulan Juni lalu. Tapi ketika spv saya yang biasanya cuek bebek meng-encourage saya untuk ikut, saya jadi nggak bisa nolak dan akhirnya saya kirim abstract penelitian saya tepat di hari terakhir batas pengiriman abstract, dan kirim power point presentasi ke panitianya pun telat (sampe harus di tagih). Malu siih, tapi karena saya sudah bilang ‘iya’ sama pak spv jadi saya nggak bisa mundur lagi. Siap nggak siap, mau nggak mau, saya harus ngomong sesuatu kaan…Dan ternyata spv saya dateng tepat beberapa saat sebelum giliran saya presentasi.  Rasanya gimana?? Rasanya nggak sama kayak ngadepin anak-anak bule yang suke ngeyel, abis pak spv nggak ada ngomongnya… Tapi “dahi berkerutnya” sudah cukup bikin saya stress…

ALhamdulillah udah berlalu, sekarang fokus ke thesis lagi..

Pelajaran yang bisa dipetik hari ini:

  • Harus punya prioritas, jangan semua mau dilakukan tapi hasilnya malah nggak maksimal.
  • Nggak bakal bisa menyenangkan semua orang. Sebelum meng-iya-kan permintaan seseorang, tanya ke diri sendiri dulu. Ada yang bakal dikorbankan nggak? Kalau ada, sanggup hadapi resiko atas pengorbanan itu nggak? Baru bikin keputusan.
  • Preparation makes perfect.

Maaf ya yang pada mampir baca dan berharap dapet pelajaran dari tulisan ini… Ternyata ini cuma curcol-an semata..

Weekend Update #2

Udah hari Selasa, tapi masih ngomongin wiken?? Ahh nggak papa lahh, mumpung lagi ujhan bechek ngga ada ojhek jadi jam segini masih diem di kamar sambil iseng2 nulis wiken update :)

Video Call. Wiken ini nggak lama sih skype nya karena saya lagi banyaak kerjaan, marking 45 paper dan nge-donlot-in data dari satistics NZ orderan dari si bos yang harus diberesin secepatnya. Jadilah skype kali ini lumayan singkat, sambil makan siang dan sambil masak. Intinya nggak mau ada waktu yang kebuang hehehe…

Alia n bapak ABink cerita kalo kemarin baru ambil raport Alia di sekolah. Overall, ALia raport nya bagus, kemampuan dan keinginan membaca nya top dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Yang bikin saya lebih hepi, dia di sekolah (dan di rumah) selalu inget bilang “please, thank you, excuse me” dsb. Contohnya pas kita lagi skype tiba-tiba alia pengen main sepeda di luar dan minta ditemenin Mak Ul (ART kami). ALia bilang “Mak Ul… Alia mau minta tolong…”  iiih, manis banget deh anakku. *rabidmom mode:on

Sebagai hadiah karena ALia jadi anak manis, saya bakal kirim sesuatu yang saya pesen dari ol shop. Yang bayar tetep bapak Abink, karna kalo saya transfer dari sini fee nya lebih mahal dari harga barangnya hahhaaha.. *alesan

Green Smoothy Challenge. Awal bulan ini saya sign up untuk ikutan 30 days green smoothy challenge yang dipoplerkan oleh Jadah + Jen. Jadilah wiken kemaren kesempatan untuk beli-beli buah biar green smoothy nya nggak nge bosenin. Sebenernya saya udah lama banget nyobain green smoothy (dulu banyak orang nyebutnya green monster), trus berhenti. Sampai tahun lalu saya mulai minum green smoothy lagi tapi masih on-off suka-suka saya aja. Jadilah bulan ini saya pengen mulai rutin lagi minum green smoothy. Bukan biar kurus sih niat utamanya tapi biar sehat dan jadi kebiasaan baik. Doakan saya berhasil yaaa…

Flatmate. Flatmate saya udah dateng. Happy…. karena ga harus pulang sendirian kalo malem, bisa sepedaan berdua.. ada temen ngobrol juga di rumah.

Sekian posting tentang wiken update yang penting nggak penting ini :)

Mood Booster Saya Adalah………

IMG_20140225_213708

Minggu ini termasuk minggu yang berat buat kami (saya sih, lebih tepatnya). Kenapa? Karena di tengah Minggu saya harus balik lagi ke New Zealand, ninggalin Alia dan Bapak Abink. Jangan ditanya gimana rasanya, kali ini rasanya lebih sedih daripada perpisahan pertama kami di bulan Juli lalu walaupun lebih minim air mata. Mungkin karena saya merasa di Malang adalah zona nyaman saya dan saya merasa dibutuhkan untuk ngurus rumah (tangga) di Malang. Tapi, karena rejekinya masih di NZ ya dinikmati dan disyukuri aja. Kalo dibawa sedih malah nggak produktif nanti. Ya nggak?

Perjalanan Malang-Surabaya-Denpasar-Sydney-Christchurch cukup menyenangkan. Sampe di Christchurch, cuaca sangat cerah dan saya dijemput temen pake mobilnya yang dulu pernah jadi mobil saya. Begitu masuk mobil, lewat jalan2 yang pernah kami bertiga lewatin, ditambah cuaca cerah langsung inget Alia dan Bapak Abink. Biasanya kalo cuaca cerah kami suka jalan-jalan. Tapi kali ini saya sendirian di NZ :(

Begitu masuk flat, saya langsung disibukkan dengan urusan administrative kayak laporan ke landlord kalo saya udah masuk rumah dan nelpon ke perusahaan listrik untuk sign up account baru di rumah baru. Begitu abis maghrib, leyeh-leyeh di sofa jadi terasa sepinya dan saya keinget bapak Abink dan Alia karena lay out flat lama tapi baru ini sangat mirip rumah kami yang dulu. Bedanya, lagi-lagi saya sekarang sendirian :(

Sehari setelah saya nyampe New Zealand, saya langsung ke kampus. Saya juga sudah langsung ada janji ketemu beberapa orang untuk urusan kerjaan. Sampe sehari setelahnya saya juga masih disibukkan dengan urusan kerjaan sampe sore. Begitu saya memutuskan untuk mulai pegang thesis lagi, saya dapet kabar kalo Alia demam. Jadi nggak konsen dan memutuskan pulang sambil mampir belanja ke supermarket. Sedihnya jadi bertambah-tambah :( Pengeeen banget bawa Alia dan Bapaknya kesini sama saya. Tapi karna kondisi nggak memungkinkan, jadi pinggirin dulu pikiran itu. Ganti dengan pikiran positif, Alhamdulillah banyak saudara di sana yang bisa bantu jaga Alia…

Walaupun sedih (pake banget) pisahan sama keluarga lagi, tapi nggak sampe dibawa berlarut-larut kok.. Hari Sabtu kemarin saya sengaja tinggal dirumah selain karena ada janjian sama Landlord yang mau datang, juga biar bisa Skype sama Alia. Dan anak kecil ku yang sudah sembuh dari demamnya langsung pamer boneka minion barunya, cerita ini itu sambil sarapan pizza :)

ALia pake kacamata Minion :)

ALia pake kacamata Minion :)

Abis Skype sama bapak Abink n Alia, mood saya jadi bagus banget :) bisa nyiapin bahan tutoring minggu depan, baca-baca buat thesis, sampe bisa  update blog segala hahahha :D Ternyata mood booster saya bukan (window) shopping, makan di resto mahal atau ngopi2 di café.. Cukup ngobrol sama Alia n bapak Abink dan semangkok (besar) mixed vegetable salad. Aaaahh….. indahnya hidupkuuuuu…… ALhamdulillah, terimakasih Allah…..

Sepotong cerita belajar di New Zealand

Menyambung cerita pengalaman bersekolah Pak ABink di 3 Negara berbeda, sekarang Pak ABink mau sharing cerita mengenai sekolah di New Zealand. Sebenernya pengen cerita lebih banyak mengenai sekolah di Australia dan di Indonesia. Tapi karena dokumentasi photo tercecer entah dimana maka rasanya jadi kurang afdho. Jadi sekarang ceritanya yang di New Zealand dulu mumpung masih banyak yang diingat dan banyak photonya.

Cerita bersekolah di New Zealand ini diawali dari diterima nya Pak ABink jadi dosen di Universitas Brawijaya. Sebagai seorang dosen baru, Pak ABink sudah ditodong pihak fakultas untuk mempersiapkan diri bersekolah kejenjang yang lebih tinggi. Browsing sana browsing sini pingin hati sih ke Eropa. Alasannya sepela soalnya pengena jalan-jalan dan ngerasain hidup di Eropa secara sudah pernah tinggal di Australia sekitar 1.5 tahun.

aotearoa

Setelah ngobrol sana ngobrol sini plus browsing-browsing akhirnya tambatan hati jatuh kepada New Zealand. Kenapa New Zealand? alasannya sepele karena senior Pak ABink – Dr Irawanto sudah berangkat duluan untuk sekolah di New Zealand. Belio banyak bercerita mengenai menarik nya bersekolah di New Zealand.

Dari 8 Universitas yang menawarkan program Doctoral, Pak ABink memutuskan untuk mengirimkan surat aplikasi ke beberapa Universitas. Yang menjadi prioritas adalah University of Auckland secara ini adalah universitas terkemuka di dunia bukan saja di New Zealand. Apa dikata setelah menunggu sekitar 6 bulan surat lamaran S3 Pak ABink mendapat balasan sebuah penolakan. Alasannya adalah karena Master yang Pak ABink miliki adalah coursework yang tidak cukup untuk mengambil Ph.D.

Patah hati ditolak University of Auckland, Pak ABink tidak patah semangat. Setelah koresponden dengan potential supervisor, Pak ABink mengirimkan aplikasi ke tiga Universitas sekaligus. Yaitu Massey University, Waikato University dan Lincoln University. Yang paling cepat membalas adalah Waikato University. Waikato menyatakan akan menerima Pak Abink tetapi harus mengambil Postgraduate Certificate selama 2 semester sebelum dapat mengambil program Doctoral. Senada dengan Waikato University, MAssey University juga memberikan surat penerimaan. Tetapi dengan syarat Pak ABink harus mengambil Master Management tahun kedua sebelum diterima di program Doctoral. FYI di New Zealand program PHD itu fees nya adalah domestic fees. Karena harus menambah PG Cert dan Master di Waikato dan Massey maka untuk tahun pertama Pak ABink tidak eligible untuk domestic fees. Sehingga Pak ABink terpaksa menolak surat penerimaan tersebut.

Bagaimana dengan Lincoln University? Berbeda dengan Waikato dan Massey. Lincoln University memberikan surat penerimaan untuk Pak ABink. Juga dengan syarat. tetapi syarat nya cuma bridging 2 mata pelajaran. Dua mata pelajaran ini bias diambil secara bersama sama dengan program Doctoral dan Pak ABink eligible langsung untuk membayar domestic fees. Akhirnya dengan pertimbangan tersebut, maka Pak ABink menerina tawaran dari Lincoln University.

Lincoln University Canterbury

Lincoln University Canterbury

Setelah mendapat admission dari Lincoln University, muncul masalah kedua. Masalah tersebut adalah berkaitan dengan pendanaan. Waktu itu Kai Roben sebenarnya bersedia untuk membayari sekolah Pak ABink di New Zealand. Tetapi mengingat Pak ABink sudah bekerja maka akan lebih baik jika dibayari oleh pihak kantor atau dengan bea siswa. Akhirnya dengan mengucap Bismillah, pak ABink mendaftar ke program beasiswa DIKTI. Alhamdulillah akhirnya Pak ABink mendapatkan beasiswa tersebut.

Berbekal beasiswa DIKTI, Pak ABink berangkat ke New Zealand pada Agustus 2009. Pada saat itu Bu ABink dan Alia tidak langsung pergi bersama Pak ABink. Pertimbangan utama adalah alas an untuk Pak Abink beradaptasi dan mempelajari lingkungan secara langsung. Selain itu Alia masih berusia 6 bulan sehingga lebih baik menunggu hingga Alia berumur 1 tahun.

Bagi yang ingin bersekolah, Pak ABink sarankan jika membawa keluarga, maka berangkat sedniri terlebih dahulu baru ketika semua sudah settle maka undanglah keluarga untuk datang. Di masa “orientasi” tersebut Pak ABink tinggal di asrama mahasiswa self-catered yang namanya Crescent.

Crescent

Crescent

Di Crescent Pak ABink tinggal bersama dua orang Malaysia dan seorang Jerman. Selama masa orientasi tersebut Pak ABink sangat berterima kasih dengan seorang teman dari Indonesia yaitu Dr. Dessy Aliandrina karena belio selalu siap membantu dan berbagi dengan Pak ABink. Jadi serasa menemukan seorang saudara di Tanah nun jauh tersebut.

Bersama dengan Dr. Dwi Suhartanto dan Dr. Dessy Aliandrina

Bersama dengan Dr. Dwi Suhartanto dan Dr. Dessy Aliandrina

Sedangkan untuk perkuliahan, di awal bulan pertama Pak ABink hidupnya nomaden. Seharusnya setiap Doctoral student mendapatkan work station lengkap. Tetapi karena pada saat Pak ABink tiba adalah pertengahan semester maka pada saat itu tidak ada work station kosong, sehingga Pak ABink ditempatkan di ruang bersama yang biasanya diisi mahasiswa tingkat Master.

Setelah beberapa minggu di Orchard Building (nama untuk ruang bersama) Pak Abink dipindahkan ke Printery (ruang khusus Doctoral student). Di Printery ini Pak Abink mendapatkan work station permanent.

Pak ABink at Printery

Pak ABink at Printery

Pada saat itu di Printery sudah ada 3 mahasiswa Indonesia lainnya. Yaitu Dr. Dessy Aliandrina, Dr. Dwi Suhartanto dan Dr. Ludia Wambraw. Sangat menyenangkan memiliki kawan-kawan seperjuangan dari Negara yang sama.

Diawal kedatangan Pak ABink di New Zealand, ada sebuah organisasi pelajar Indonesia yang namanya adalah PPIC (Perhimpunan Pelajar Indonesia Canterbury). Pada saat itu sedikit sekali mahasiswa yang mau bergabung dengan PPIC. Di tahun 2009 hanya sekitar 10 orang mahasiswa Indonesia yang bergabung dalam organisasi tersebut. Ditahun 2010, Pak Abink berkesempatan menjadi Ketua PPIC menggantikan Dr. Dodi Ariyanto yang menyelesaikan studinya.

7233_155450966882_2288857_n

PPIC 2009

Selama menjadi mahasiswa di New Zealand, Pak ABink banyak mengalami kejadian-kejadian luar biasa. Sebut saja gempa bumi. Tercatat selama 3.5 tahun di New Zealand, KeluargaHussein mengalami 3 kali gempa bumi yang cukup besar. Gempa pertama terjadi pada bulan puasa tahun 2010. Gempa tersebut sekitar 7.6SR dan terjadi pukul 4 pagi pada saat waktu sahur. Gempa kedua terjadi pada Bulan Februari 2011 dan yang terakhir pada Juli 2011. Untuk gempa pada Februari 2011 tersebut tercatat yang menyebabkan korban dan kerusakan terbesar. Hampir 90 orang menjadi korban dan kota Christchurch harus di tutup beberapa waktu.

Printery Setelah Gempa

Printery Setelah Gempa

Teringat pesan dari pemberi beasiswa jika selama kuliah karyasiswa diharapkan juga selalu membuka wawasan dan jaringan maka Pak ABink selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan budaya. Salam satunya kegiatan rutin yang diikuti bersama PPIC adalah kegiatan Internasional Night yang rutin diadakan di Lincoln University. Acaranya biasanya terdiri dari cultural performance, pameran kebudayaan dan international dinner. Tim PPIC selalu aktif dalam kegiatan tersebut. Selain International Night banyak juga kegiatan-kegiatan kebudayaan lain yang Pak ABink ikuti seperti halnya Culture Galore dan Santa Parade.

International Night

International Night

Selama 3.5 tahun tinggal di New Zealand, KeluargaHussein menempati 3 rumah yang berbeda. Rumah merupakan salah satu tantangan tersendiri ketika kita tinggal di luar negeri. Mulai dari rumah yang tidak nyaman hingga harga sewa yang terlalu mahal. Pertama kali mendapatkan rumah Pak ABink sedang dalam kondisi terdesak. Hingga H-2 minggu sebelum kedatangan Alia dan Bu ABink, rumah belum didapatkan. Sehingga ketika ada yang menawarkan sebuah rumah yang sudah tua, besar dan mahal mau tidak mau Pak ABink ambil rumah tersebut. Beruntungnya tidak ada kontrak permanen sehingga jika ingin berhenti mengontrak cukup memberikan 3 minggu notice saja kepada owner nya. Dirumah tersebut, KeluargaHussein hanya tinggal selama 4 bulan. Ketika ada seorang kawan dari PNG yang pulang maka dengan antusias KeluargaHussein meng overtake rumah kawan tersebut. Kebetulan tetangga rumah tersebut adalah orang Indonesia juga yaitu Dr. Ludia dari Papua. Sehingga sangat menyenangkan punya tetangga berasal dari satu Negara. Dirumah kedua itu KeluargaHussein tidak tinggal terlalu lama-hanya sekitar 7 bulan. Karena setelah itu KeluargaHussein mendapatkan tawaran untuk tinggal dirumah yang dimiliki kampus. Rumah kampus ini berada dalam lingkungan kampus sehingga sangat dekat dengan office Pak ABink. Dengan banyak pertimbangan akhirnya KeluargaHussein pindah ke rumah kampus -ER01. DIsini kami tinggal hingga Pak ABink lulus.

ER01-Lincoln University

ER01-Lincoln University

Sebagai mahasiswa Doktoral, kurang afdol jika tidak diselingi dengan kegiatan-kegiatan akademis. Selama menjadi mahasiswa Doktoral Pak ABink aktif dalam kegiatan-kegiatan seminar baik menjadi peserta maupun menjadi pembicara. Sebagai pembicara Pak ABink selama kuliah tercatat tiga kali mengikuti conference. Yang pertama adalah Konferensi Pelajar Indonesia di Wellington.

Kongres Pelajar Indonesia Selandia Baru

Kongres Pelajar Indonesia Selandia Baru

Kemudian Pak ABink juga pernah ikut pada Konferensi Social Marketing yang diadakan oleh Australian Association Social Marketing di Griffith Brisbane dan juga Lincoln University Postgraduate conference.

Selain cerita akademik dan persahabatan, Pak Abink juga pernah mengalami kejadian mengerikan selama kuliah di New Zealand. Pada saat itu libur Waitangi Day. Dua hari setelah Pak ABink dinyatakan lulus Program Doktoral. KeluargaHussein ingin mengunjungi kawan yang juga tinggal di Lincoln. Dari arah Kota KeluargaHussein berkendara dengan kecepatan sedang. Di tikungan Birch Rd, seorang pengendara HD dengan kecepatan tinggi menabrak mobil keluargahussein. Sukur Alhamdulillah hanya Mobil Keluargahussein yang hancur lebur dan kaki Pak Abink retak. Alia dan Bu ABink selamat tanpa kekurangan apapun.

FBR 853 setelah kecelakaan

FBR 853 setelah kecelakaan

Dari sepenggal cerita tersebut, Pak ABink sangat banyak bersukur kepada Allah SWT karena berkat nikmat dan rejeki nya keluargahussein banyak mendapatkan pengalaman yang akan terkenang sepanjang masa.

3 Universitas dengan 3 rasa berbeda

Tidak terasa ternyata dalam 10 tahun terakhir ini Pak ABink sangat beruntung memiliki pengalaman untuk mencicipi belajar di 3 universitas yang berbeda dengan jenjang yang berbeda pula. Ketiga universitas itu adalah Universitas Brawijaya tempat Pak ABink menempuh pendidikan Sarjana bidang Ekonomi Manajemen kekhususan Manajemen keuangan, kemudian dilanjutkan pada University of Wollongong Australia untuk mengambil Master di bidang Commerce dengan kekhususan Strategic Marketing dan yang terakhir di Lincoln University Canterbury Selandia Baru untuk tingkat Doktoral (Ph.D) dibidang social marketing. Teringat obrolan dari seorang teman yang terinspirasi dari sebuah pilem bahwa jika kamera kita rusak, maka memori kita akan hilang maka tulislah kenangan tersebut agar dapat selalu dikenang dan diingat maka Pak ABink mencoba untuk menuangkan kembali ingatan-ingatan dari 10 tahun yang lalu tersebut.

Tahun 2001, Pak ABink lulus dari sekolah menengah umum disebuah SMU negeri di Kota Malang, yaitu SMUN 8 Malang. Layaknya anak-anak yang dilanda euphoria kelulusan, keberhasilan menyelesaikan pendidikan menengan atas tersebut pun Pak ABink tanggapi dengan suka cita dan penuh bahagia. Tetapi dibalik kebahagiaan tersebut terselip suatu kekhawatiran mengenai masa depan. Khususnya mengenai kemana kaki harus melangkah untuk menuntut ilmu lebih tinggi. Pada masa itu persaingan masuk perguruan tinggi negeri sangat ketat. Setiap tahun hanya 100-150 mahasiswa yang bias diterima di masing-masing jurusan pada universitas-universitas negeri terkemuka. Berbekal rasak khawatir tersebut Pak ABink mencoba untuk mendaftar di universitas-universitas swasta sebagai cadangan jika tidak dapat diterima di universitas negeri.

Selain universitas swasta, Kai Roben juga memberi saran jika mau Pak ABink bias bersekolah di luar negeri dimana Malaysia adalah yang paling memungkinkan. Pertimbangannya simple saja karena Malaysia relative dekat dan biayanya masih terjangkau. Dengan alas an tersebut Pak ABink dan Kai Roben pun berangkat ke salah satu universitas swasta di Malaysia yang berafiliasi dengan salah satu Universitas di Australia.

Formulir sudah ditangan dan sudah diisi. Tetapi setelah berkonsultasi dengan Mama Hannie akhirnya rencana brsekolah di Malaysia pun dibatalkan. Mama Hannie beralasan dan khawatir kalo Pak ABink sampai sekolah di Malaysia takutnya Pak ABink menikah dengan orang Malaysia dan nanti tidak mau kembali ke Indonesia. Sedikit mengada ada tapi sebagai anak maka pertimbangan orang tua harus di dengarkan.

Alhasil berbekal semangat ikut UMPTN Pak Abink berhasil diterima sebagai mahasiswa baru di Jurusan Manajemen Universitas Brawijaya. Seingat Pak ABink mahasiswa baru jurusan Manajemen pada saat itu hanya sekitar 120 orang dan di bagi kedalam 4 kelas. Yaitu kelas A, B, C dan D. Pembagian kelas tersebut berdasarkan NIM yang tak lain dan tak bukan berdasarkan urutan abjad nama awal mahasiswa.

Kelas A ini cukup solid dan kompak secara dari sekitar 35 mahasiswanya, mayoritas adalah laki-laki. Perempuan hanya sekitar 9 orang. Kesolidan kelas A ini secara umum bertahan hingga sekarang. Tetapi semenjak semester 5 ketika dimulai era konsentrasi maka kelas A mulai jarang berkumpul. Pada saat itu Pak ABink masuk konsentrasi Manajemen Keuangan.

Singkat cerita, masa-masa berkuliah di Universitas Brawijaya sangat menyenangkan. Pak ABink lumayan aktif dikegiatan kemahasiswaan khususnya di LSME (Lingkar Studi Mahasiswa Ekonomi). Dimasa kuliah inilah Pak Abink pertama kali bertemu dengan Ibu ABink. Jadi tercatat kami sudah berkenalan sejak tahun 2002. Waktu yang cukup lama untuk saling mengenal.

Di masa kuliah ini Pak Abink bukan mahasiswa yang sangat cemerlang walau harus disyukuri karena paling tidak Pak ABink lulus dengan predikat Cum Laude dan masa kuliah hanya 3 tahun 3 bulan (seperti nya Pak ABink merupakan lulusan pertama dari angkatan 2001).

Setelah lulus S1 sekitar bulan Desember 2004 dan Wisuda pada Februari 2005, Kai Roben menyuruh Pak ABink untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Kali ini Kai Roben menyuruh dan berketetapan hati untuk menyekolahkan Pak ABink ke luar negeri dan dari hasil survey yang paling terjangkau adalah universitas di Malaysia. Kembali Malaysia menjadi tujuan pendidikan. Sekitar Bulan Februari Pak ABink dan Kai Roben mensurvey universitas-universitas di Malaysia. Yang disurvey pada saat itu adalah University Malaya, Universiti Kebangsaan Malaysia dan University Putra Malaysia.

Yang menarik pada saat itu adalah ketika berkunjung ke UKM, Pak ABink bertemu dengan seorang dosen akuntansi UB yang kebetulan juga sedang mengambil S3 di UKM. ALhasil dikenalkannya lah Pak ABink dengan kawan belio yang juga seorang mahasiswa MBA di UKM. Banyak cerita dan pengalaman yang disampaikan kawan tersebut yang akhirnya dapat disimpulkan bahwa MBA di UKM (menurut belio) tidak recommended.

Tapi apa dinyana, karena kembali Malaysia adalah Negara dengan kualitas pendidikan yang baik dengan biaya terjangkau maka Pak ABink tetap mendaftar di program MBA pada UKM dan UM.

Sedikit berbeda dengan universitas-universitas di Indonesia, pendaftaran program S2 di Malaysia dibuka sepanjang tahun. Tetapi pengumumannya menjelang perkuliahan di mulai. Sehingga ketika bulan Maret mendaftar maka Pak ABink tidak mendapat jawaban diterima atau tidak.

Di masa penantian tersebut, Kai Roben terbayang-bayang akan komplainan dari kawan yang mengambil MBA di UKM tersebut. Sehingga Kai menyuruh Pak ABink untuk mencari informasi S2 di Australia. Singkat cerita Pak ABink tertarik dengan program S2 yang ditawarkan oleh University of Wollongong. Maka dengan penuh kesadaran Pak ABink mendaftar ke UOW melalui agen pendidikan di Kota Malang. Ada hal yang lucu dan menarik pada saat mendaftar tersebut. Jadi ketika mau mengurus administrasi pendaftaran, salah satu konselor dari agen tersebut menyampaikan bahwa Pak ABink harus menguruskan badan. Karena kalo terlalu gemuk bias tidak diberikan visa. Mendengar informasi tersebut, maka patah hati lah Pak Abink. Masak orang mau sekolah harus diet dulu. Kayak militer saja. Karena si konselor tersebut bersikukuh untuk Pak Abink berdiet maka Pak ABink mundur teratur. Mencari agen lainnya. Akhirnya dapat agen pendidikan lain di Kota Surabaya. Lewat agen tersebut, Pak ABink tidak perlu diet dan sampai juga di UOW.

Karena nilai bahasa inggris yang sangat kurang maka Pak ABink harus ikut ELICOS selama 10 minggu. ELICOS diadakan di Wollongong University College (WUC) yaitu sebuah college tempat menempuh program diploma atau kursus persiapan bahasa inggris. Di WUC ini Pak ABink bertemu dengan dua sahabat sependeritaan dan sepermainan yaitu Suluh dan Ginanjar. Di luar college kami selalu berajalan dan bermain bersama tetapi selama di college kami sepakat supaya Bahasa Inggris meningkat maka kami brteman juga dengan yang lain. Sangat seru kursus di WUC ini. Walau Pak ABink kuliah di Australia, tetapi rasanya seperti di Beijing. Karena hamper 70% mahasiswa WUC adalah Asian dan mayoritas adaah orang China.

Mahasiswa WUC dari China, Thailand dan indonesia

Di kampus WUC bersama kawan-kawan dari China dan Thailand

Selain Pak Abink, Suluh dan Ginanar, pada saat ini di WUC ada bebebrapa mahasiswa lain dari Indonesia. Yang Pak ABink ingat adalah Pak Madyan (dosen Unair), Pak Heru (dosen Polinema) dan Mirza (ini cewek dari Jakarta). Tidak ada yang sekelas pada saat itu kecuali Mirza dengan Pak Madyan.

Akhirnya setelah 10 minggu berkutat belajar Bahasa Inggris Pak ABink dkk dinyatakan lulus dan berhak untuk melanjutkan mengambil postgraduate. Pada saat itu Pak ABink memutuskan untuk mengambil Master Strategic Marketing. Pada awalnya Pak ABink sempat bimbang. Dari Indonesia memang maksud hati ingin mengambil pendidikan tersebut. tetapi ketika sudah di Australia dan bertemu dengan kawan-kawan dari China maka hati sempat goyah. Motivasi kawan-kawan dari China pada saat itu adalah untuk menjadi seorang permanent resident. Untuk mendapatkan PR mereka harus bersekolah Akuntansi dan program yang memungkinkan adalah mengambil Master Professional Akuntansi. Tetapi setelah berdiskusi dengan Kai Roben, maka Pak ABink dengan kebulatan tekad mengambil Master Strategic Marketing.

4590_83940481918_2360648_n

Lebaran Bersama Mirza, Suluh dan Mia

Dikelas Postgraduate ini banyak sekali yang Pak ABink pelajari. Baik dari sisi pelajaran marketing hingga masalah akademik lainnya seperti plagiarism, etos kerja hingga berpikir kritis. Disinilah tempat pertama kali Pak ABink diajarkan bagaimana melakukan suatu pemikiran kritis pada permasalahan-permasalahan pemasaran. Sangat menyenangkan sekali belajar di UOW. Lingkungan yang sangat mendukung hingga fasilitas yang sangat memadai.

Akhirnya dengan sagal kerja keras dan cucuran keringat serta doa yang tak pernah berhenti pada Agustus 2006 Pak Abink berhasil diwisuda dengan gelar Master of Strategic Marketing. Tapi oleh DIKTI disetarakan dengan gelar Master of Commerce (Strategic Marketing).

Graduation with Migo from China

Graduation with Migo from China

Setelah lulus dari Wollongong, Pak ABink kembali ketanah air dan mengabdi di Universitas Brawijaya sebagai pengajar. Kurang dari 3 tahun mengabdi sebagai dosen, Pak ABink kembali berkesempatan untuk bersekolah kembali. Kali ini pilihan untuk bersekolah adalah New Zealand. Dari delapan Universitas negeri yang menawarkan program Doktoral, akhirnya Pak ABink memilih Lincoln University sebagai tempat menuntut ilmu

Lincoln University

Lincoln Univesity

Lincoln University ini bukan Universitas besar. Jumlah mahasiswa nya sekitar 4000 orang berasal dari 130 Negara yang berbeda (menurut marketingnya). Untuk program Doktoral ilmu bisnis dan manajemen saja mahasiswa yang terdaftar berasal dari beragam Negara seperti New Zealand, Brazil, Vietnam, Pakistan, Indonesia, Malaysia, Thailand, PNG, Sri Lanka, India dan sebagainya.

Ibu ABink bersama Doctoral Student dari Berbagai Negara

Ibu ABink bersama Doctoral Student dari Berbagai Negara

Study Doctoral di Lincoln University sangat menyenangkan. Iklim New Zealand yang sejuk ditambah dengan segar nya udara Lincoln membuat pikiran semakin terbuka. Gedung-gedung perkuliahan yang menawan menambah semangat untuk belajar.

Ivy Hall - Lincoln University Library

Ivy Hall – Lincoln University Library

Akhirnya setelah berhasil submit thesis pada bulan Oktober 2012, Pak ABink mempertahankan thesis pada bulan Februari 2013. Untuk ujian thesis secara lengkap bias di baca pada postingan pak Abink di kolom kompasiana. Akhirnya setelah ujian dan revisi Pak ABink resmi dinyatakan sebagai seorang Doctor dengan gelar Ph.D (Doctor of Philosphy).

Pak ABink Ph.D Thesis

Pak ABink Ph.D Thesis

Lengkap sudah perjalanan akademik formal Pak ABink. Penuh puji syukur selalu Pak ABink ucapkan ke Allah yang maha pengasih karena berkat Nya Allah perjalanan akademik yang panjang tersebut bias dilalui. Pengalaman di 3 universitas ini benar-benar memberikan warna pada pandangan hidup dan akademik dari Pak ABink. Semoga hal ini dapat menjadi hal yang bermanfaat bagi Pak ABink dan KeluargaHussein.