Serunya Garage Sale

Pertama kali saya mendenger frasa garage sale sekitar 4 tahun yang lalu ketika sedang belajar di Wollongong – Australia, sekitar 100 Km dari Sydney. Ketika itu saya tidak terlalu tertarik dan berminat dengan even yang bernama garage sale tersebut. Empat tahun kemudian ketika menjejakkan kaki di negeri awan putih ini, frasa garage sale kembali terdengar oleh kuping saya. Pada awalnya saya tetap bersikeras untuk tidak tertarik dengan even tersebut. Akan tetapi karena kebutuhan, ajakan teman dan lingkungan yang mendukung, sekarang saya mungkin salah satu orang yang akan berangkat terpagi untuk mendatangi garaga sale.

Kalo ada yang belum tahu apa itu garage sale, maka simaklah definisi yang saya kutip dari om wikipedia “garage sales is an informal, irregularly scheduled event for the sale of used goods by private individuals, in which “block sales” are allowed, so that sellers are not required to obtain business licenses or collect sales tax“. Dari definisi tersebut secara singkat bisa di simpulkan bahwa garage sale merupakan suatu kegiatan jual beli barang secara informa dan tidak terjadwal. Dimana barang-barang yang dijual merupakan barang-barang yang sudah tidak dipakai. Di beberapa tempat di Indonesia dikenal sebagai pasar loak (jawa) dan pasar tungging (Banjarmasin).

Biasanya Garage Sale di adakan pada hari Sabtu dan dimulai sekitar pukul 8am. Beraneka ragam barang yang dijual di garage sale. Mulai dari pakaian, sepeda, elektronik, peralatan rumah tangga hingga buku dan majalah. Harga yang barang yang dijual pun relatif sangat murah. Sebagai contoh sebuah boneka Mickey Mouse bisa di dapat dengan harga 2 dolar. Atau 10 biji piring seharga 1 dolar. Sangat murah dibanding dengan membeli di toko seperti halnya Warehouse atau K-Mart. Kalo anda semua berpikir baik sekali ya orang New Zealand mau menjual barang bekas nya begitu murah ternyata hasil dari bisik-bisik dengan kawan yang asli New Zealand, tujuan utama dari garage sale adalah membersihkan rumah. Maklum saja New Zealand atau Australia tidak lah senyaman Indonesia dalam hal buang-membuang sampah. Di Indonesia, barang yang tidak anda pakai dengan mudah bisa di kirim ke tukang besi kiloan dan mereka malah yang akan membayar plus mengambil kerumah. Akan tetapi di New Zealand, anda harus membawa sendiri barang tersebut ke tempat daur ulang yang sudah disediakan. Dan untuk membuang pun anda harus membayar. Seorang kawan pernah harus membayar hingga 70 dolar hanya untuk membuang beberapa peralatan dapur, sofa dan peralatan elektronik.

Oke, kembali pada cerita Garaga Sale, pengalaman saya pertama kali mengunjungi garaga sale terjadi beberapa bulan yang lalu. Ketika ada Monster Garage Sale di Lincolntown. Even ini lumayan besar karena diadakan oleh komunitas dan gereja. Sejak beberapa minggu sebelumnya kawan-kawan mengajak saya untuk datang. Akan tetapi saya berpikir, sebegitu “kere” nya kah saya hingga harus berburu barang di garage sale. Akan tetapi tepat pada hari diadakan Monster Garage Sale tersebut, saya dan istri tergelitik untuk datang mengingat acara tersebut diadakan di community centre sekitar 300m dari rumah kami.

Moster Garage Sale

Tepat pukul 9 pagi setelah sarapan dan Alia bangun, kami berjalan kaki menjur Community Centre. Baru sampai di lokasi, sudah tampak deretan pengunjung yang sedang antri dengan tertib untuk masuk kedalam gedung community centre. Saya sempat berbisik pada istri saya. Saya katakan pada istri bahwa tampak nya orang New Zealand lebih mlarat dari pada orang Indonesia. Di Indonesia PNS seperti saya jangan harap mau membeli baju bekas atau peralatan-peralatan elektronik bekas, Kalo mobil bekas sih masih oke.

Tetapi ketika sudah sampai di dalam saya benar-benar terkesima. Beranaka ragam barang di tawarkan dan yang pasti masih layak pakai. Bahkan diantara barang-barang tersebut masih ada yang bisa dikategorikan “Brand New”. Mungkin si empunya hanya menggunakan 1-2 kali kemudian bosan dan tidak digunakan lagi. Melihat barang-barang yang ditawarkan saya menjadi bersemangat. Bayangkan saja, sebuah sofa ditawarkan dengan harga 5 dolar. Se kantung boneka di jual dengan harga 1 dolar. Sungguh menggugah selera untuk membeli. Keluar dari Community Centre tidak terasa kami sudah membeli setumpuk buku cerita buat si cantik Alia, sepeda roda tiga yang kebesaran, sekantong plastik boneka dan Juicer buat Ibu. Untuk memborong beraneka ragam benda tersebut kami hanya menghabiskan sekitar 25 dolar.

Pengalaman ke garage sale tersebut sangat berkesan bagi kami. Tidak hanya karena kami dapat membeli barang-barang dengan harga murah. Tetapi banyak pengalaman berharga yang lain yang kami dapatkan. Sebut saja bagaimana orang-orang “bule” si penjual dengan ramah menjelaskan dan menawarkan barang yang dia jual. Pengalaman bagaimana rebutan membeli barang yang diinginkan dan dengan besar hati merelakan barang tersebut dibeli oleh orang lain. Dan yang pasti pengalaman membeli barang bekas yang tentunya akan sangat kecil kemungkinannya untuk dilakukan jika di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s