Gempa: Pengalaman KeluargaHussein yang tak Terlupakan

Tanggal 4 September pukul 4.35 dini hari, Pulau Selatan New Zealand di hantam gempa berkekuatan 7.1 SR. Gempa tersebut menghantam beberapa kota seperti halnya Christchurch, Darfield, Lincoln dan Timaru. Pada saat itu, KeluargaHussein sedang bersiap-siap untuk sahur.

New Zealand Earthquake

Sangat jelas teringat bahwa pada waktu itu, Pak Abink baru saja terbangun karena alarm yang di set up pukul 4.30 berbunyi. Seperti hari-hari sebelumnya ketika alarm berbunyi Pak Abink bangun sebentar untuk mematikan kemudian kembali “leyeh-leyeh” menunggu alarm Bu Abink yang di set up pukul 4.45am. Baru saja hendak memejamkan mata tiba-tiba bu Abink teriak “Pak..gempa..” dan memang saat itu bunyi gemuruh terdengar cukup keras dan disusul dengan guncangan yang cukup keras.

Antara sadar dan tidak Pak Abink segera meloncat bangun dan berusaha untuk membuka kunci kamar sedangkan Bu Abink segera mengangkat Alia yang masih tertidur nyenyak. Setelah berhasil membuka kunci kamar, Keluarga Hussein segera berusaha lari keluar rumah. Tetapi karena guncangan yang sangat keras di tambah tidak memakai kaca-mata dan tidak ada nya penerangan, Pak Abink sempat beberapa kalo tersandung dan yang lebih parah alih-alih menuju pintu keluar, ini malah salah masuk ke toilet. Jika sekarang hal tersebut menjadi lelucon bahan tertawaan tetapi pada waktu itu menjadi ajang untuk menambah kepanikan.

Setelah berhasil keluar dari rumah Keluarga Hussein berkumpul di halaman menunggu gempa berhenti. Sekitar setengah menit kemudian gempa berhenti. Di luar rumah, Keluarga Hussein dan Keluarga Soleman hanya bias berdiri, menunggu dan berdoa semoga gempa segera berakhir dan tidak terjadi sesuatu apapun dengan rumah.

Saat gempa berhenti, Pak Abink dan Bu Abink berusaha mencuri-curi kesempatan untuk masuk ke dalam rumah untuk mengambil beberapa barang. Karena maklum pada saat keluar rumah kami tidak ada yang menggunakan alas kaki. Jaket pun hanya sweater tipis untuk tidur pada cuaca di luar rumah saat itu sangat dingin sekitar 2 derajad celcius. Pada saat itu kami belum berani masuk ke dalam rumah karena lampu mati dan masih adanya gempa-gempa susulan.

Setelah berhasil mengumpulkan surat-surat dan menyelamatkan Ipad, kaca-mata, HP dan kunci mobil Keluarga Hussein tetap duduk-duduk di halaman. Aneh nya tetangga-tetangga baru keluar rumah sekitar 10-15 menit setelah gempa utama berakhir. Pak Abink jadi bertanya-tanya, apakah mereka memang tidak takut, masih tertidur atau memang itulah safety procedure yang di ajarkan kepada mereka?? Wallahualam.

Sekitar 30 menit dari gempa utama berakhir, Mbak Dessy menelpon Pak Abink dan menginformasikan bahwa ada kemungkinan gempa susulan dengan skala yang lebih besar. Oleh karenanya mahasiswa-mahasiswa yang tinggal di kampus hall di evakuasi ke lapangan parkir New World. Mendapat telpon tersebut, kami langsung menuju New World yang jarak nya sekitar 1.5km dari rumah.

Sesampainya di New World, sudah banyak orang yang juga siaga. Pak Abink bertemu dengan beberapa teman Malaysia. Mungkin karena mereka belum pernah memiliki pengalaman dengan gempa, mereka tampak shock dan kebingungan. Setelah beberapa saat di New World Keluarga Hussein bertemu dengan Mbak Dessy, Keluarga Soleman dan Keluarga Mambu. Sambil menunggu terang kami bersiaga di mobil karena saat itu gempa susulan masih sambung menyambung.

Setelah matahari sudah cukup tinggi dan hari sudah cukup terang, kami memutuskan untuk kembali kerumah masing-masing. Sebelum balik kerumah, Keluarga Hussein menyempatkan menengok Keluarga Tafif. Syukur Alhamdulillah mereka baik-baik saja hanya anak-anak agak sedikir shock dan belum berani masuk kerumah.

Sesampai diruma, Pak Abink langsung menginstruksikan kepada Bu Abink untuk mempersiapkan sebuah tas yang isinya perlengkapan darurat seperti halna beberapa helai pakaian, air minum, biscuit dan surat-surat penting. Tujuannya adalah jika ada gempa susulan yang berkekuatan lebih besar minimal kami bias bertahan 1-2 hari.

Selama mempersiapkan perlengkapan darurat gempa dengan skala menengah dating silih berganti. Hal tersebut di perparah dengan listrik yang tidak tersambung dan kabar yang mengatakan bahwa air tidak layak minum. Akhirnya kami memutuskan untuk tinggal di luar rumah bersama Keluarga Soleman dan Keluarga Mambu.

Ketika hari semakin siang, perut semakin lapar dan listrik tidak kunjung menyala, Pak Abink memberanikan diri untuk ke Lincoln Town mencari siapa tahu ada  took yang buka.

Christchurch Earthquake

Ternyata hanya New World yan buka dan itu pun hanya menjual roti, susu, biscuit sedikit makanan kaleng, air putih dan susu. Karena tidak ada pasokan listrik maka mereka hanya menerima uang cash. Pada saat itu untungnya Pak Abink membawa sedikit uang cash (sekitar $13). Dengan memperhitungkan bahwa mungkin saja kondisi tidak akan stabi dalam 1-2 hari maka Pak Abink membeli 2 kantung roti, keripik dan biscuit. Cukup lah untuk 1-2 hari. Sebenarnya di kulkas, kami punya sedikit daging dan ayam serta beras. Tapi yang menjadi masalah kabar yang di dengar listrik pada hampir di setiap daerah di Christchurch dan Lincoln.

Sesampainya dirumah, Mbak Ludia, istri Pak Soleman menyampaikan bahwa air keran yang biasa kami minum ternyata tidak layak untuk diminum sehingga harus membeli air kemasan. Tetapi berhubung uang cash sudah tidak Pak Abink tidak bisa membeli. Syukurlah Mbak Ludia sudah membeli 4 botol sehingga 1 botol diberikan kepada Pak Abink.

Christchurch Earthquake

Siang hari pun gempa susulan dengan skala menengah masih dapat dirasakan.  Menjelang sore, kami mendengar kabar bahwa listrik di daerah Hornby sudah menyala. Pom bensin buka begitu juga Pak n Sav. Dengan sedikit keberanian Keluarga Hussein berangkat ke kota untuk membeli bensin dan sedikit ransum darurat.

Menjelang malam, rangkaian gempa susulan masih terus dating silih berganti. Listrik di Lincoln Town pun belum 100% menyala. Akhirnya diputuskan bahwa malam itu Lincolners akan membuat posko gempa di rumah Keluarga Mambu yang kebetulan listriknya sudah menyala. Tercatat hampir seluruh Lincolners keculai Keluarga Tafif dan Pak Roby yang tidak ikut mengungsi di posko gempa tersebut. Sepanjang malam kami semua bergantian untuk jaga malam. Takutnya ketika sedang lelap tertidur tiba-tiba gempa dating lagi. Malam itu juga kami mendengar kabar bahwa keesokan harinya Pulau Selatan akan di hantam badai dengan kecepatan maksimum 130km/jam. Bertambah paniklah kami.

Pagi harinya, cuaca semakin mendung. Angin bertiup kencang. Sehingga praktis kami hanya bisa tinggal dirumah. Menjelang sore ketika angin tidak terlalu kncang bertiup dan frekuensi gempa semakin berkurang, kami mencoba untuk kembali kerumah untuk mandi dan mempersiapkan perbekalan takutnya malam badai akan dating lagi dan listrik akan padam kembali. Walaupun kembali kerumah masing-masing, kami tetap sepakat untuk  tetap membuat posko gempa dan badai.

Setelah berbincang dengan Pak Soleman akhirnya di putuskan untuk memindah posko ke rumah Pak Abink dan Pak Soleman yang kebetulan bersebelahan mengingat struktur rumah Pak Yuang yang dari kayu agak sedikit rawan dari ancaman badai. Malam harinya kembali Pak Abink, Pak Yuan, Pak Soleman dan Bu Dessy berjaga malam. Malam itu gempa kembali mengguncang Christchurch dan sekitar nya berkali-kali. Tercatat 3 kali gempa dengan kekuatan sekitar 5SR pada tengah malam dan dini hari.

Posko Gempa

Keesokan paginya gempa susulan pun masih dapat dirasakan. Sesekali gempa dengan skala menengah sekitar 5SR masih dapat dirasakan walaupun frekuensi nya sedikit berkurang. Berdasarkan analisa para ahli, gempa-gempa susulan tersebut masih akan dapat dirasakan selama seminggu kedepan. Dimana kami semua  harus waspada karena ternyata episentrum gempa berpindah-pindah, Contohnya pada gempa tanggal 4 September tercatat episentrum nya di Darfield sekitar 50km dari Christchurch sedangkan gempa dengan kekuatan 5SR terakhir yang dirasakan pada tanggal 8 September episentrum nya berada di lytellton yang hanya berjarak 10km dari Christchurch CBD.

Sekarang gempa sudah sangat berkurang. Hidup berangsunr kembali normal. Persiapan menghadapi lebaran telah dimulai. Beberapa hari lagi lebaran akan datang. Kami KeluargaHussein mengucapkan mohon maaf lahir bathin and stay safe

3 Comments Add yours

  1. Chita says:

    Subhanallah, Mbak Dita dan keluarga dalam keadaan baik-baik saja yah. Ya Allah, kalau dilihat dari fotonya rasanya pasti keras sekali guncangannya.
    Oiya, selamat lebaran yah untuk Mbak Dita dan keluarga. Mohon maaf lahir dan batin ^^

    Like

  2. Bil pesanku satu…jangan sampai keliru ke toilet lagi ya….he..he…salam persatuan…..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s