Creativity: Process vs Product

Siapa sih yang nggak pengen anak-anaknya menjadi seorang yang kreatif? Pasti semua orang tua ingin anak-anak nya tumbuh menjadi seorang yang kreatif, punya pendirian, dan tidak takut untuk menjadi dirinya sendiri. Lagi-lagi saya ingin berbagi cerita dari creativity (collage) workshop beberapa minggu yang lalu..

Kreativitas memang sudah seharusnya menjadi milik anak-anak. Biarkan anak-anak menentukan apakah mereka ingin melukis, menggambar, membuat sesuatu dengan cara mereka sendiri. Peran orang tua adalah ecourage them to do it themselves. Seringkali orangtua menginginkan anak-anak melukis/membuat sesuatu yang sempurna seperti yang diharapkan orang tua. MIsalnya, ketika anak melukis seekor kelinci dan memberi warna merah, masih banyak yang mempertanyakan “kok kelinci warnanya merah, nak? Yang bener dong gambarnya.. Kelinci itu warnanya putih, atau cokelat.” Padahal di dunia anak, tidak pernah ada benar atau salah dalam hal menunangkan imajinasi dan kreatifitas. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk mendukung anak-anak menjadi kreatif dalam melukis/membuat produk seni:

  • Be prepared for mess. Kan kalau nggak kotor, nggak belajar🙂
  • Dengarkan cerita anak-anak tentang apa yang sedang dibuatnya. Seringkali anak-anak menggambar bentuk yang menurut kita tidak jelas, tapi dalam imajinasinya mereka sedang membuat sesuatu yang spektakuler.
  • Komentari gerakan dan bentuk yang mereka buat. Misal: cepat, lambat, lingkaran, spiral, dll. Contoh : ” Wow, Alia cepat sekali gambar rainbow nyaa..” atau ” I can see a circle there..”
  • Never interupt children while drawing
  • Don’t draw for children. Lukisan/gambar kita tidak akan berarti apa-apa bagi anak, dan akan merusak kreatifitasnya karena mereka akan tergatung pada kita.
  • Tawarkan media dan resources baru. Misalnya anak-anak biasa membuat kolase dengan memakai glitter, maka bisa tawarkan pasir putih sebagai gantinya. Atau kalau biasa menggambar di kertas ukuran A4, tawarkan melukis dengan kertas yang jauh lebih besar. Biasa menggambar dengan crayon atau spidol? Coba finger painting, pasti lebih asyik🙂
  • Tawarkan topik lukisan hari ini. Misalnya “ALia mau gambar apa hari ini? Kemarin Alia kan ke taman sama bapak, gimana kalau kita gambar apa yang ada di taman kemarin? Alia ingat ada apa aja di sana?” Tapi jangan lupa beri kesempatan anak untuk menjawab dan berpendapat🙂
  • Ketika anak merasa tidak bisa menggambar sesuatu, pilih salah satu objek di dekat kita atau minta mereka berpikir what it looks like bit by bit. Contoh : “Alia mau gambar kucing… Kucing punya apa aja? Kepala, telinga, badan, kaki, ekor. ok.. What does cat’s tail look like? (dst..)”
  • Beri komentar positif pada apa yang sudah dibuat anak-anak.
Salah satu yang seringkali masih menjadi sedikit perdebatan adalah saat ini masih banyak orang tua yang lebih suka memberi anak-anak meraka buku mewarnai. Berikut saya rangkumkan perdebatanya:
  • Buku mewarna dan dan mengikuti garis (kalo kata orang jawa “nge-blat”) sangat mudah diikuti anak-anak. Itulah kenapa buku mewarna dan mengikuti garis dikatakan memiliki devastating effect. 
  • Anak-anak belajar disiplin dari buku mewarna? Kata peelitian, itu nggak benar sama sekali. Anak-anak akan lebih fokus untuk mewarna tanpa melewati garis daripada pada objek/gambar/ warna yang sedang mereka kerjakan.
  • Pernah membandingkan ekspresi kepuasan anak-anak ketika selesai mewarnai gambar yang sudah ada di buku dengan kepuasan ketika mereka selesai menggambar berdasarkan kreatifitas mereka sendiri? Ketika seorang anak menggambar kucing misalnya, mereka bisa mengekspresikan perasaan suka, sayang bahkan takut untuk mengekspresikan relationship mereka dengan seekor kucing. Bagaimana dengan mewarnai seekor kucing di buku mewarna? bisa jadi dalam hati meeka akan berkata “aku nggak akan bisa menggambar kucing sebagus ini”, tau kan, gambar di buku mewarnai selalu sempurna dan “indah”. Kemungkinan anak akan berkata “I can’t draw”😦
  • Banyak orang tua berkata bahwa anaknya sukaa sekali buku mewarnai. Yup! Bagi anak-anak pasti lebih menarik makan cokelat daripada makan sayuran… tapi orang tua nggak akan tinggal diam menuruti selera lidah anak-anak yang lebih suka makan cokelat, bukan?? Sama seperti menggambar dan berkreatifitas, Biarkan anak-anak mempunyai kemerdekaan untuk menjadi kreatif.

Hal lain yang juga perlu dipertimbangkan adalah bagaimana orang tua menyediakan resources dalam proses kreatif anak-anak. Alangkah lebih baik jika kita menyediakan natural resources. Sebisa mungkin menggunakan natural resources akan sangat baik untuk anak-anak belajar menyayangi alam. Salah satu ide yang sedang disukai anak-anak di palycentre minggu ini adalah mengumpulkan daun-daun kering, cuci, biarkan hingga kering. Ambil daun yang sudah kering, letakkan di bawah kertas kosong, bikin coretan rapi diatasnya pakai pensil warna atau crayon, dan akan kelihatan pattern daunnya. Kalo saya waktu kecil dulu, bukannya pake daun tapi pake duit. heheheh…
Cuma sekedar sharing, semua kembali lagi pada kepercayaan masing-masing🙂 setiap anak adalah unik, maka orang tua pasti punya cara unik pula untuk mengasuh mereka..

Story by Ibu Ditha

20130113_105824

4 Comments Add yours

  1. Robensjah says:

    Bagus n mantap.dita

    Like

    1. Terima kasih pak roben sudah mau baca😀

      Like

  2. Bubub says:

    Waaaw, this article is very inspiring and clearly understandable!! Kereeen.. Ijin share dgn cantumkan sumber asli yaa?

    Like

    1. Silakan bubub untuk dishare…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s