Belajar Dari New Zealand Kindergarten

Sejak Januari yang lalu, si kecil Alia sudah berumur tiga tahun. Sudah tidak mau di panggil little girl lagi, apa lagi di panggil baby. Mau nya dipanggil kakak Alia atau Big Girl. Sejak berumur tiga tahun itulah saya dan Bu Abink memilih Kindergarten sebagai “sekolah” untuk Alia. Maka pindahlah Alia dari Lincoln Daycare ke Lincoln KidFirst.

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi kami menyekolahkan Alia di Kindergarten. Pertama sejak anak berumur tiga tahun, maka pemerintah New Zealand memberikan subsidi 20 jam gratis untuk bersekolah di pusat-pusat pendidikan usia dini. Sekedar informasi di New Zealand ini PAUD di buat dalam beragam format. Ada yang dalam bentuk Kindergarten macam kidfirst, ada pula Childacare/daycare dan ada pula yang dikelola komunitas dalam bentuk playcentre. Nah sebenarnya untuk semua PAUD centre ini diatas usia tiga tahun otomatis mendapat subsidi 20 jam gratis. Alasan lain menyekolahkan Alia di Kindy yaitu untuk mengajarkan kemandirian. Dengan asusmi di Kindy rasio guru dengan murid tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil berbeda dengan di Daycare yang rasio nya bisa 1:5. Jadi anak-anak sudah dianggap dewasa tidak terlalu diawasi macam di Childcare.

Setelah hampir empat bulan berjalan, ternyata pilihan kami sangat tepat. Beberapa perubahan positif terjadi pada Alia. Yang paling tampak adalah kemandirian. Sejak masuk ke kindy Alia :

– bisa pakai kaos kaki sendiri

– bisa pasang sepatu sendiri

– bisa pakai celana sendiri, kalau pake baju masih harus di bantu

– tidak ngompol lagi, kalau mau pipis selalu bilang ” daddy/mommy, I wanna go to toilet” terus langsung lari ke toilet. Memang masih harus di bantu naek ke toilet karena toilet nya masih ketinggian

– bisa brush teeth sendiri

Selain mandiri perkembangan signifikan lainnya adalah kemampuan berkomunikasi. Sekarang Alia sudah lancar bahasa inggrisnya – grammar nya pun sering akurat. Contoh nya Alia bilang ” I went to toilet with Sue at school” wow 3 y/o girl sudah mengerti Past tense. Bahkan beberapa words yang dipakainya kami tidak mengerti (nasib-nasib). Kalau tentang bahasa Indonesianya, Alia mengerti bahasa Indonesia pasif, karena di rumah, kami berbahasa Indonesia. Untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia Alia masih belum bisa. Mudah-mudahan ini nggak jadi masalah ketika kami harus pulang ke Indonesia nanti. Dari sisi kognitif nya, Alia sudah kenal huruf. Bahkan Alia sudah bisa menulis namanya sendiri.

Nah tapi jangan bayangkan model pendidikan PAUD di New Zealand sama dengan TK TK di Indonesia walaupun TK Plus sekalipun. Di New Zealand, tidak ada namanya keseragaman. Tidak ada namanya duduk dalam kelas kemudian belajar alphabet bersama atau menyenyi bersama atau diajarkan “Ini Truk”…”ini bola”. Anak-anak wajib masuk ruangan hanya untuk morning tea, lunch dan “mat time”. Mat time ini dongeng sebelum pulang sekolah.

Saya pernah bertanya kepada salah satu guru di Kidsfirst. Bagaimana bisa Alia dapat belajar huruf dan angka begitu cepatnya. Apa di Kindy diajarkan secara khusus untuk membaca dan menulis. Belio menjelaskan bahwa konsep nya adalah belajar sambil bermain. Maksud nya adalah waktu bermain, kadang-kadang si guru menanyakan “what is this” …”this is a bus” so “B” is for Bus. Sambil nunjukin huruf B yang ada dimana saja. Bisa di kaos salah satu anak. Atau dimana saja. Jadi waktu saya tanya apa kegiatan anak seharian di Kindy. Dia menjawab bermain dan berkreasi. Karena dunia anak adalah bermain dan kreativitas. Pernah saya bertanya juga kenapa mereka tidak banyak menyediakan kertas untuk mewarna. Ternyata mewarna tidak terlalu cocok untuk pengembangan kreativitas anak usia dini. Dalam mewarna ada batasan dan ada kesesuaian. Misal mewarna pohon maka warna tidak boleh keluar dari batas warna begitu juga warna batang harus coklat. Padahal anak masih mengeksplorasi segala kemungkinan. Benar-benar pendidikan yang memanusiakan manusia.

Hal lain yang membuat saya kagum adalah tidak adanya perbedaan antara anak yang normal dengan yang sedikit berketerbatasan. Salah satu teman Alia sedikit terbatas pendengaran dan penglihatan. Tetapi si anak tetap diperlakukan sama. Diberikan kesempatan yang sama dengan teman-teman yang lain. Walau sedikit ada perhatian khusus dari para guru.

Nah yang menarik selain Alia yang banya belajar, saya pun banyak mendapatkan pelajaran berharga selama mengantar Alia ke sekolah. Maklum kesepakatan di KeluargaHussein, Pak Abink antar Alia sekalian ke kampus, dan Bu Abink yang jemput Alia di sore hari. Nah setiap pagi Pak Abink mengantarkan Alia sekolah. Maka setiap pagi Pak Abink bertemu dengan beberapa ibu/bapak nya murid-murid lain. Kadang geli melihat bapak-bapak yang badannya besar bin kekar tapi dengan santai  nge gendong anaknya sambil menjjing tas sekolah. Kemudia sebelum pulang si Bapak juga ber hug ria dengan si anak sambil bercanda. Selain itu Pak Abink juga belajar kesopan santunan orang New Zealand. Contoh kecil saja adalah mengenai membuka pintu. Mereka rela memegang pintu ketika melihat ada orang lain datang. Selain itu jika ada ibu-ibu yang datang maka Bapak-bapak rela untuk tergesa-gesa membukakan pintu. Benar-benar contoh sopan santun yang tidak dibuat-buat.

Banyak pelajaran berharga yang Alia dan kami pelajari dari Kindergarten ala New Zealand ini. Semoga pengalaman dan pengetahuan yang kami peroleh ini bisa kami tularkan di Indonesia dikemudian hari.

Salam keluargaHussein

Cerita oleh: Bapak Abink

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s