Benarkah Ph.D itu kepanjangan dari Permanent Head Damage?

https://1ladywithakeyboard.wordpress.com/
https://1ladywithakeyboard.wordpress.com/

Membaca beberapa postingan kawan baik di facebook atau di kompasiana atau di blog sering kali banyak yang bercerita mengenai pengalamannya atau pengalaman orang lain dalam usaha meraih gelar Doctor of Philosophy (Ph.D). Banyak tulisan-tulisan tersebut yang menceritakan sisi “menyeramkan” dari perjalanan menunju PhD. Sehingga tak ayal muncul banyak plesetan dari PhD yang salah satu nya Permanent Head Damage.

Tidak terlalu salah jika memang Ph.D di plesetkan menjadi Permanent Head Damage. Karena memang selama proses pendidikannya jenjang strata 3 ini penuh dengan hal-hal yang tidak dapat diprediksi dan diperkirakan. Jika penulis lainnya menceritakan sisi “seram” dari perjalanan menuju PhD. Maka Pak Abink ingin mencoba bercerita dari sisi lainnya.

Tapi bagi yang membaca tulisan ini HARAP DIINGAT bahwa perjalanan menuju Ph.D merupakan perjalanan yang independen. Walaupun di Fakultas dan Jurusan yang sama ataupun bidang ilmu yang sama dua orang Kandidat Ph.D pasti memiliki pengalaman yang berbeda. Jadi tulisan ini merupakan pengalaman yang saya alami dan juga beberapa kawan yang “berjalan” bersama saya.

Yang pertama saya sangat setuju dengan beberapa anggapan bahwa yang dibutuhkan dalam perjalanan menuju Ph.D ini adalah ketekunan. bisa dibilang faktor penentu keberhasilan seseorang menempuh strata 3 itu 30% kecerdasan  dan 60% ketekunan. Lha yang 10% apa? yang 10% yaitu keberuntungan.

Jadi jenjang strata 3 ini tidak mutlak membutuhkan kecerdasan. Yang mutlak dibutuhkan adalah ketekunan, keuletan dan kerja keras. Bagaimana dengan keberuntungan? Pasti, walau tidak besar dan signifikan, menurut saya keberuntungan juga sangat dibutuhkan. Oleh karenanya sebagai orang yang beriman maka sudah sewajarnya kita selalu berdoa agar diberikan jalan yang benar dari Tuhan YME.

Selanjutnya, seperti yang saya sebutkan bahwa kerja keras dan ketekunan itu mutlak. Tapi sebenarnya yang lebih penting itu kerja cerdas. Dalam menempuh program Doktoral, sudah seharus nya kita memiliki strategi dan persiapan yang matang. Banyak hal yang harus dikerjakan dalam perjalanan ini. Oleh karenanya jika tidak mampu membuat strategi yang tepat maka yang terjadi adalah penumpukan pekerjaan dan terkuras nya energi. Jadi sebelum memutuskan untuk menempuh program S3, saya anjurkan untuk mengobservasi terlebih dahulu hal-hal penting didalamnya, Seperti halnya ketersediaan literartur, akses terhadap data, akses terhadap teknologi-teknologi pendukung, dan yang tak kalah penting adalah yang saya namakan “academic friend”.

Yang menarik menurut saya dimana sering kali Ph.D kandidat lainnya lupa ada peran dari seorang academic friend. Untuk lulus pembimbing/promotor atau supervisor memang aktor pendukung utama dalam sebuah kelulusan. Tapi kita tidak boleh melupakan peran dari para academic fiends tersebut. Siapa sih academic friends itu? Istilah itu saya ruju dari istilah kawan saya yang berhasil lulus Ph.D dalam waktu 2 tahun 9 bulan sehingga oleh Faculty di catat sebagai pemegang rekor kelulusan tercepat. Menurut kolega saya tersebut academic friends itu adalah kawan dimana kita bisa saling adu argumentasi mengenai penelitian kita. Tidak penting apakah bidang penelitiannya sama, seorang academic friends akan dengan setia memberikan kritik atau masukan dari sudut pandangnya sebagai orang awam dimana sering kali sudut pandang itu terlupakan. Jadi carilah academic friends anda sebagai penyeimbang.

Yang berikutnya mengenai pengendalian stress. Menurut saya dalam perjalanan menuju gelar Ph.D ini stress adalah hal yang sangat lumrah. Tidak mungkin seorang kandidat doktor tidak mengalami stress sama sekali selama perjalanan Ph.D nya. Yang paling penting menurut saya adalah pengendalian stress itu. Jika gelaja stress mulai menghampiri maka segeralah mencari hiburan berdasarkan kesenangan masing-masing. Tetapi sebenarnya menurut saya, stress itu bisa di minimalisir jika kita menyenangi bidang yang kita kerjakan tersebut. Jangan jadikan hambatan dan kendala sebagai sumber stress. Tapi jadikan sebagai tantangan yang harus dihadapi. So far cara itu berhasil saya terapkan.

www.phdcomics.com
http://www.phdcomics.com

Waktu – ini salah satu komponen utama dalam perjalanan menuju jenjang doktoral. Waktu bisa menjadi teman tetapi juga bisa menjadi momok. Jadi jangan bermain-main dengan waktu. Lebih baik habiskan waktu diawal ketimbang kita kehabisan waktu di akhir. Saya teringat strategi yang dilakukan oleh seorang kawan yang jugasudah sukses menjadi seorang Doktor. Belio berpesan kepada saya bahwa waktu itu sangat berharga. Jangan lewatkan waktu tanpa sesuatu yang produktif. Jadi beliau menyarankan, setiap hari itu harus di buat target. Misal nya dalam sehari minimal membaca 2 artikel dan menulis 2 paragraph.

Buatlah riset Ph.D ini sesimple yang kita bisa. Walaupun simpel tetapi harus berkualitas. Intinya kerjakan sesuai dengan target yang digariskan. Kadang kala bagi seorang Ph.D candidate dalam perjalanan nya akan menemukan hal-hal menarik baru. Sehingga sering kali topik penelitiannya meluas dan sering kali tidak terkendali. Saya selalu ingat pesan pembimbing S3 saya. Dr David Cohen selalu berpesan ini adalah riset Ph.D dan target utama bukan nobel (walau kalau dapat nobel juga tidak menolak). Jadi kerjakan penelitian dalam koridor yang telah digariskan. Jika ada temuan baru yang menarik, jadikan lah topik pada penelitian berikutnya. Berkaitan dengan kesimpelan riset Ph.D, Dr Cohen pembimbing saya selalu berpesa, bahwa dalam menulis thesis tidak semua pembaca adalah expert. Kebanyakan pembaca adalah non expert educated reader. Jadi ketika menulis maka terangkanlah dalam bahasa yang lugas bagai kita menjelaskan pada anak umur 10 tahun.

Nah intinya, menurut saya pribadi, mengerjakan program doktoral itu tidak lah menyeramkan, Program doktoral tidak lah mudah, tetapi bukan juga hal yang sangat susah. Dibutuhkan kerja keras, semangat, ketekunan dan yang pasti doa dan dukungan dari orang-orang terdekat khususnya keluarga.

3 Comments Add yours

  1. Je says:

    Adakah akun fb atau ym atau lainnya yang bisa dihubungi, saya ingin dengar banyak cerita lagi sebelum berangkat ke lincoln. Tks

    Like

    1. Terimakasih sudah mampir baca pak/bu Je.. Mau sekolah ke Lincoln kah pak/bu? akun fb saya raditha hapsari.

      Like

  2. elsa says:

    Lebih menyeramkan dari pada menyelesaikan thesis ya mbk? Alhamdulillah…kmrn bs menyelesaikan S2 tepat waktu. Gak perlu tambah semester. Tapi emang betul itu. 60 % yg dibutuhkan adalah ketekunan. Dan tahan godaan untuk berlama2 istirahat.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s