A Reminder: Keep Your Feet on the Ground and Keep Reaching for the Stars

SONY DSC
Be like a duck. Stay calm on the surface, but paddle very hard underneath

“Asal nya dari mana?”  “ambil (kuliah) apa di sini?” dan “Kerja apa/dimana di Indonesia?” mungkin adalah pertanyaan-pertanyaan yang paling sering saya (dan teman-teman lain) terima waktu pertama kali kenalan dengan sesama orang Indonesia (di luar negeri). Waktu saya jawab saya dari Malang dan sedang menyelesaikan sekolah S3 saya di sini (New Zealand), mungkin sebagian besar kenalan baru saya mengira saya adalah dosen/pejabat di Malang. Padahal saya bukan siapa-siapa.Kalau kata Cita Citata “Aku mah apa atuh”🙂 Aku cuma Ibu Rumah Tangga, bukan pejabat.

Terus, kalo cuma ibu rumah tangga ngapain sekolah sampe s3 segala? Sekolah kan hak semua orang ya.. Dan saya menganggap ini adalah bagian dari rejeki saya dan keluarga. Saya sebut rejeki karena saya masih ‘mau’ dan semangat untuk sekolah lagi, bapak Abink juga mau support saya 100 %, Alia, keluarga lainnya dan keadaan waktu itu juga sangat memudahkan proses pengambilan keputusan untuk saya sekolah lagi.

Kalau ada yang bilang untuk mendidik anak, diperlukan orang tua yang berpendidikan tinggi, sebenernya saya setengah setuju dengan pernyataan itu. Setujunya hanya setengah lho.. Artinya, orang tua yang tidak berpendidikan tinggi pun saya yakin bisa mendidik anaknya dengan baik juga.

Anyway, kalo ngomongin tentang kenapa saya bisa terdampar di New Zealand dan berjalan sampai sejauh ini, pastinya nggak lepas dari kehendak Allah dan dukungan bapak Abink (dan mama, papa, bapak, ibu juga pastinya). Saya awalnya datang ke New Zealand sebagai bagian dari support group-nya bapak Abink yang lagi sekolah s3 di NZ. Waktu itu, saya ibu-ibu muda beranak satu yang niatnya cuma nemenin suami sekalian liburan panjang ke New Zealand (secara NZ adalah salah satu negara impian saya, selain Swiss, Arab/Mekkah dan Jepang).

Selama setahun penuh saya benar-benar menikmati liburan saya di NZ. Jalan-jalan kesana kemari, anter dan nemenin anak sekolah, aktif di sekolah anak, aktif di kegiatan community, sampe ambil kursus gratis early childhood education dan parenting.

Setelah anak udah agak gede dan udah di sapih, saya mula mikir cari kerjaan. Tapi, karena tujuan saya ke NZ untuk support suami, jadi saya harus cari kerjaan yang nggak mengganggu jam belajar dan kerja suami dan nggak bikin anak terbengkalai juga. Waktu itu bapak Abink sekolah sambil nyambi jadi tutor juga. Berarti, saya harus kerja di pagi hari sebelum suami berangkat ke kampus dan malam/sore hari setelah suami pulang kampus, biar bisa gantian di rumah jagain anak.

Jadilah saya nekat ngelamar kerjaan sebagai early morning cleaner di University of Canterbury (UC). Saya bilang nekat karena rumah saya di Lincoln, sedangkan tempat kerja waktu itu di Cristchurch, jaraknya sekitar 18 km. Ditambah lagi, jam kerja nya mulai dari jam 4 pagi sampe jam 7 pagi. Jadi, karena perjalanan Lincoln-UC makan waktu sekitar 20 menit (18km), saya harus berangkat dari rumah jam 3.30 pagi.

Karena sudah diterima kerja dan  restu bapak Abink sudah di tangan, saya nekat aja nyetir sendirian di pagi buta. Gelap dan dingin….  Apalagi waktu winter.. Saya sempat nyetir di tengah hujan salju yang deres banget (winter tahun 2011). Walaupun waktu itu deg-deg an setengah mati, tapi sekarang jadi pengalaman yang nggak bakal terlupakan.

Mungkin karena nggak tega ngeliat saya nyetir sendiri di pagi buta, bapak Abink ngasih saran untuk cari kerja yang deket-deket aja. Jadilah saya tanya-tanya lowongan kerjaan (jadi cleaner juga) di Lincoln University (LU). Akhirnya saya diterima juga kerja di Lincoln Uni, jadi evening cleaner. Jam kerjanya mulai jam 6 sampe jam 9 malem dan deket rumah. Waktu keterima kerja sore, bapak Abink udah nyuruh-nyuruh saya berhenti kerja pagi, tapi saya nya berhasil meyakinkan bahwa saya bakal baik-baik aja kerja di pagi dan sore hari🙂 Jadilah saya selama 1,5 tahun menjabat sebagai “floor director” (alias tukang vacuum karpet dan nge pel) di UC dan LU hehehhe.. Capek? Pasti.

Trus gimana ceritanya dari cleaner bisa sekolah? Di awal tahun 2012, saya dan bapak Abink ngobrol-ngobrol soal kemungkinan saya sekolah juga. Terus duitnya dari mana? Kebetulan ada sedikit tabungan dari hasil kerja dan saya harus cari bea siswa. Iseng-iseng saya bikin proposal, dan saya kirim-kirim untuk cari pembimbing. Target kami waktu itu memang daftar di LU atau UC, karena udah tau medan dan nggak jauh-jauh dari bapak Abink dan Alia. LU tanggapannya bagus dan cepet banget. Saya diterima di LU, padahal beasiswa belum di tangan. Karena udah cocok dengan pembimbingnya dan saya juga bisa langsung research (tanpa harus ambil mata kuliah), jadilah kita ‘nekat’ daftar sekolah tanpa beasiswa dulu. Dengan harapan, saya akan dapat bea siswa. PD banget ya…..

Setelah saya jadi student, saya lepas kerjaan pagi saya. Jadi waktu itu status saya adalah PhD student sekaligus cleaner di LU🙂 Setelah jadi student, saya ngelamar-ngelamar kerjaan jadi riset assistant dan diterima. Saya kerja untuk salah satu dosen di LU. Akhirnya saya lepas kerjaan evening cleaner.

Di hari pengumuman bea siswa yang ditunggu-tunggu, ternyata saya nggak dapet beasiswa yang saya mau. Kecewa pasti, tapi kalau dibandingkan dengan pengalaman dan perjuangan para ‘pejuang beasiswa’ lain penolakan beasiswa ini pasti nggak ada apa-apa nya🙂 Makanya saya salut banget sama para pejuang beasiswa yang tahan banting, yang walaupun ditolak, masih punya semangat bangkit lagi coba cari yang lain. Toh kita nggak pernah tau rejeki kita datangnya dari ‘sumber’ yang mana. Ya kan?

Waktu itu rasanya Allah memang maha baik dan maha tau apa yang saya butuhkan.. Beberapa hari setelah penolakan beasiswa, saya dihubungi oleh salah satu staff di fakultas. Dia bilang, komite beasiswa LU menawarkan jenis bea siswa lain untuk saya. Saya ditawari ‘teaching assistant scholarship’. Beasiswa dari LU, mereka tanggung uang sekolah saya sampai lulus, tapi saya harus kerja jadi teaching assistant. Alhamdulillah kan.. Saya jadi punya penghasilan untuk hidup (walaupun nggak banyak), dan saya jadi punya pengalaman tutoring sekaligus jadi ‘dosen tamu’ untuk beberapa mata kuliah. Salah satu pengalaman tutoring saya pernah saya ceritakan di sini dan di sini.

Waktu pertama kali menginjakkan kaki saya di salah satu ruang kelas di LU, saya ‘cuma’ sebagai cleaner, tapi 2 tahun kemudian, saya masuk ke ruangan itu dan berdiri di depan untuk tutoring dan lecturing. Saya pernah gagal dapat beasiswa, tapi Allah ganti dengan yang lebih baik untuk saya. Bukan untuk sombong atau jumawa, tapi sebagai pengingat bahwa kita nggak pernah tau apa yang Allah siapkan untuk kita di depan.

Nggak ada gunanya sombong dengan posisi kita yang sekarang, padahal kita nggak tau apa yang akan kita hadapi di depan kita. Nggak perlu minder juga dengan posisi kita sekarang, karena dengan usaha, kerja keras dan doa pasti kita bisa mencapai apa yang kita cita-citakan.

Sekarang, setelah liburan panjang di nz berakhir, studi sudah selesai, dan harus kembali ke kampung halaman, saya masih dan selalu berharap Allah menyiapkan sesuatu yang terbaik buat saya (dan keluarga). Apapun itu, yang penting  jangan lupa selalu bersyukur.

Stay humble. Keep your feet on the ground and keep reaching for the stars.

381352_2594466454300_97717243_n
Kaikoura Beach, NZ, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s