Pendidikan yang memanusiakan manusia

Jarang sekali saya menulis sebuah tulisan di blog keluargahussein ini yang topik nya agak serius. Biasanya hanya tulisan ringan sehari-hari atau tulisan mengenai cerita perjalanan dan jalan-jalan. Tetapi kali ini saya ingin mencoba mengekspresikan opini saya mengenai sistem pendidikan yang berlaku dan bagaimana manusianya menyikapi sistem pendidikan tersebut.

Saya masih ingat ketika masih mahasiswa dan menjadi aktivis (lebih tepat berlagak menjadi aktivis) ada seorang teman yang jika berbicara mengenai sistem pendidikan selalu mengucapkan bahwa pendidikan itu harus memanusiakan manusia. Dari dulu hingga sekarang saya masih ragu sebenarnya si kawan itu benar-benar paham atau tidak mengenai pendidikan yang memanusiakan manusia. Bisa jadi hanya sebuah jargon yang diucapkan supaya terlihat kerena karena menggunakan bahasa/term/istilah yang sulit dipahami. Tetapi mungkin saja si kawan itu memang paham dengan makna nya. Saya sendiri saat itu tidak terlalu memusingkan apa makna dari jargon tersebut.

Akan tetapi saat ini ketika saya sudah menjadi seorang pengajar dan pendidik saya mulai memikirkan apa yang dimaksud dengan pendidikan yang memanusiakan manusia itu. Ternyata merenung sesaat tidak menjawab filosofi dari statement tersebut. Perlu sebuah renungan yang mendalam.

Apakah merenung lama juga mendapatkan makna mendalam dari jargon tersebut? ternyata tetap tidak. Sampai saat ini saya juga masih mencari makna. Walaupun demikian ada beberapa titik terang yang sedikit memberikan gambaran mengenai apa sebenarnya pendidikan yang memanusiakan manusia.

Titik terang itu saya dapat setelah saya intens mengikuti pendidikan si kecil Alia. Ya, Alia si gadis kecil berumur 6.5 tahun yang baru lulus dari TK dan akan masuk SD. Proses mengikutinya sedikit banyak memberikan gambaran mengenai jargon tersebut.

Beberapa waktu sebelum Alia lulus atau bisa dikata dipenghujung tahun lalu, saya dan istri sudah mulai berdiskusi mengenai mau kemana arah pendidikan Alia setelah TK. Jenjang pendidikan anak usia dini seperti TK itu merupakan jenjang awal dalam pendidikan formal seorang manusia. Setelah jenjang itu harus dipikirkan kemana kaki akan melangkah karena masa depan ditentukan darin situ.

Sebagai seseorang yang selalu mendapatkan kesempatan untuk bersekolah di sekolah yang (katanya) terbaik mulai dari TK hingga program Doktor saya juga berkeinginan Alia mendapatkan pendidikan yang terbaik. Tetapi pertanyaannya pendidikan yang terbaik itu adalah pendidikan yang seperti apa? Apakah pendidikan yang mampu menciptkana seseorang yang ahli matematika? atau mungkin ahli bahasa? atau bahkan menjadikan seseorang itu bisa segalanya seperti halnya robot yang terprogram komputer? Masing-masing orang akan menjawab berbeda-beda sesuai dengan seleranya masing-masing.

Tetapi saya dan istri sepakat bahwa sebenarnya pendidikan yang terbaik adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Persis seperti apa yang dikatakan kawan saya tersebut beberapa belas tahun yang lalu. Lalu bagaimana kami mendefinisikannya?

Mari kita tengok kondisi saat ini. Saya melihat banyak orang pintar, orang pandai orang hebat yang ternyata perilaku nya tidak seperti bagaimana manusia seharusnya. Banyak orang-orang hebat yang ternyata memakan hak temannya atau hak orang lain. Banyak orang hebat yang ternyata menyikut orang lain untuk kepentingannya sendiri. Menurut saya seorang manusia itu sudah diberikan akal dan pikiran oleh Sang Pencipta dimana akal dan pikiran tersebut mampu untuk menimbang dan memikirkan baik dan buruk. Tetapi kenyataannya dengan pendidikan maksimal ternyata kemampuan akal dan pikiran tersebut malah tidak ada.

Apakah kondisi tersebut disebabkan oleh pendidikan? terlalu cepat untuk membuat sebuah kesimpulan. Tetapi kita juga harus ingat bahwa aspek dalam pendidikan itu ada tiga hal penting yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Nah saya yakin manusia seutuhnya adalah manusia yang mampu menyeimbangkan ketiga hal tersebut. Dengan adanya keseimbangan ketiga hal tersebut maka manusia akan dapat menjadi manusia seutuhnya.

Yang menjadi masalah, seperti nya saat ini aspek kognitif menjadi fokus utama dalam dunia pendidikan khususnya dalam pendidikan dasar (mungkin saya salah karena saya bukan ahli pendidikan). Sehingga dengan semakin fokus nya pendidikan pada aspek kognitif ini lembaga pendidikan sedikit meluapakan aspek afektif nya.

Sekali lagi mungkin saya salah, tetapi saya dan banyak teman-teman dosen yang mengakui bahwa saat ini banyak mahasiswa yang berasal dari sekolah-sekolah unggulan. Nilai mereka pun sangat baik, akan tetapi nilai-nilai kehidupan, sikap dan perilakunya berbanding terbalik dengan aspek kognisinya. Sangat disayangkan sekali.

Sekarang jika ditanyakan apakah saya sudah mendapatkan sekolah/lembaga pendidikan buat Alia yang sistem pendidikannya memanusiakan manusia? Jawabannya yang seratus persen ada belum saya temukan. Akan tetapi saat ini saya berkeyakinan bahwa paling tidak saya tidak ingin gadis cantik ku ini berubah menjadi robot yang terpogram secama sistematik dengan proses pembelajaran disekolah. Saya ingin Alia dengan senang hati pergi ke sekolah. Dengan riang pulang menghabiskan hari-harinya dengan seimbang. Sehingga paling tidak jika disekolah aspek kognitif bisa diperoleh, maka dirumah atau dilingkungan aspek afeksi dan psikomotor nya bisa ditingkatkan. Jangan sampai disekolah bergelut dengan pengembangan kognisi dirumah masih harus pula bergelut dengan peningkatan aspek kognisi.

4 Comments Add yours

  1. Intinya moral ya, pak🙂 terlepas dari apapun agamanya, moral itu perlu demi hubungan yg baik antarsesama manusia dan ciptaanNya.

    Like

  2. Dan menemukan sekolah yang memanusiakan manusia lainnya itu aku yakin gak akan mudah. Good luck in finding it Bil!

    Like

  3. Hafidh Frian says:

    Yg penting ilmunya dapat mengantarkan pada pengenalan diri sebagai manusia dan manusia sebagai hamba Allah SWT. Semoga Alia dapat pendidikan yg dapat menjawab tantangan jaman yg makin rumit ini.🙂

    Like

  4. Messa says:

    Betul pak. Kalau bisa, siswa tak usahlah lagi dibebani dengan PR sepulang sekolah. Supaya mereka bisa bercengkerama dgn keluarga di rumah. Semoga bapak&istri menemukan sekolah yg cocok.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s