Scopus dan Dilema Publikasi

Beberapa teman dan mahasiswa doktoral sering menanyakan bahwa kenapa bisa sebuah jurnal terindeks scopus dan memiliki Quartile (atau yang biasa disebut Q) yang baik (Q2 semisal) tapi dikategorikan predator dan berbahaya untuk publikasi kita?. Jawabannya menurut saya pribadi ya bisa saja. Kenapa tidak. Ibaratnya, waktu remaja mereka adalah anak-anak yang baik. Menuru semua perintah orang tua. Tetapi ketika sudah beranjak dewasa mereka berubah menjadi anak-anak nakal. Analogi tersebut menurut saya sangat tepat, ketika publisher tersebut menerbitkan jurnal diawal-awal periode, proses seleksi, review dan penerbitan sangat teratur dan tertib sesuai dengan aturan yang berlaku. Ketike mereka sudah terindeks scopus maka mereka melihat sebuah ladang penghasilan yang sangat besar. Coba kita hitung. Saya pernah melihat sebuah jurnal dimana dalam 1 tahun mereka bisa terbit lebih dari 12 volume. Tiap volume nya bisa lebih dari 50 artikel. Tiap artikel harus berbayar antara USD 500-1000 bahkan ada yang lebih. Coba kita hitung jika 1 tahun terbit 12 kali dan tiap terbitan ada 50 artikel maka dalam 1 tahun mereka menerbitkan 600 artikel. Anggap saja processing fees atau kadang mereka sebut sebagai editing fees per artikel adalah 600 dolar maka dalam setahun mereka akan mendapatkan omzet USD 360.000. Jika dalam tiga tahun mereka belum discontinue maka paling tidak mereka bisa mendapatkan USD 1 juta. Apakah mereka akan rugi ketika di discontinue? Jawabannya tentu tidak. Dengan omzet USD 1 juta. mudah bagi publisher-publisher tersebut untuk membuat jurnal lagi. Paling tidak mereka hanya butuh 2 tahun untuk meng indeks kan jurnal lain di scopus. Kebanyakan jurnal tersebut dikerjakan tidak lebih dari lima orang. Sehingga biaya operasional pun tidak akan besar. Sehingga jelas ini adalah industri yang sangat menguntungkan.
Kalo begitu kemanakah kita harus publikasi? Mungkin sebagian orang mengatakan jangan lagi menggunakan scopus. Mulai masuk ke FT50, CNRS, CABS, ABDC atau mugkin ke WOS atau SSCI. Bagi peneliti berpengalaman dan memiliki sumber daya serta jaringan luas mungkin tidak akan menemukan masalah berarti untuk publish artikel di pengindeks tersebut. Tetapi bagi kebanyakan penulis pemula, calon doktor ataupun dosen yang sehari-harinya sudah disibukkan dengan mengajar bukan perkara mudah untuk publikasi pada jurnal-jurnal yang di indeks pada pengindeks tersebut. Butuh effort yang sangat besar. Sehingga jika dipaksakan malah tidak ada atau sedikit artikel dari peneliti Indonesia yang dapat diterbitkan. Sehingga bagaimana solusinya?
Berdasarkan pengalaman saya sebagi penulis dan peneliti amatir, scopus masih merupakan peng indeks yang layak dibanding pengindeks lainnya. Akan tetapi ada beberapa rambu yang harus diikuti. Misal nya cari jurnal yang minimal publisher nya adalah publihser mainstream seperti halnya elsevier, sage, routledge, emerald, wiley, taylor and francis dan inderscience. Memang jurnal-jurnal pada publisher ini terkenal lama dan sering kalo kita harus bertempur dengan reviewer-reviewernya. Jika dirasa belum sanggup, saran saya cari artikel yang publisher nya adalah Universitas. Biasanya jurnal yang dimiliki universitas seperti halnya GAMA IJB milik UGM atau EBER milik Universitas Krakow memiliki sistem review yang baik. Kriteria ketiga usahakan jangan mencari yang berbayar. Banyak yang bertanya, apakah jurnal berbayar itu pasti jelek?. Tidak juga tapi potensi untuk mencari keuntungan sangat besar dibanding jurnal-jurnal tidak berbayar
Akhir kata, sebagai seorang peneliti dan penulis jurnal, maka kita harus lah memiliki idealis yang tinggi. Kita mulai harus berpikir bahwa jangan sampai tulisan yang kita buat dengan mencurahkan tenaga, upaya dan waktu yang besar akan berakhir sia-sia. Effort lebih akan memberikan kita sebuah kebahagiaan tersendiri. Selamat menulis dan terus berkarya.
Malang, 13 Juli 2020
Ananda Sabil Hussein

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s