Menciptakan Generasi Wirausahawan

Di Agama yang saya anut jelas disebutkan bahwa rejeki akan datang dari 10 pintu dimana 9 pintunya adalah perdagangan. Jadi jangan heran jika sekarang yang menjadi orang kaya bukanlah dari kalangan PNS macam saya, atau kalangan pegawai tetapi mereka yang menjalankan bisnis alias berdagang.

Walaupun secara fakta juga ditemukan bahwa menjadi seorang wirausahawan itu berpeluang untuk lebih sukses dibandingkan menjadi pegawai, tetap saja jumlah wirausahawan di Indonesia terbilang cukup rendah. Menurut data yang dipublikasikan pada republika online wirausahawan di Indonesia baru mencapai lebih kurang 44 juta jiwa. Jauh dibandingkan total penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa.

Beranaka cara telah dilakukan untuk meningkatkan jumlah wirausahawan di Indonesia. Dalam dunia pendidikan hampir seluruh program studi di universitasi mengajarkan mata kuliah kewirausahaan. Selain itu sejak anak-anak dan remaja sudah banyak kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan jumlah wirausahawan tersebut. Jika kita tinjau dari segi usaha yang dilakukan berbagai pihak termasuk pemerintah untuk mendorong jumlah wirausahawan, sebenarnya yang sudah dilakukan cukup tepat. Sebenarnya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini sudah semakin banyak minat dari generasi muda untuk menjadi wirausahawan. Terbukti dalam program-program yang ditawarkan oleh pemerintah, banyak generasi muda yang ikut ambil bagian. Sebut saja program kreativitas mahasiswa kewirausahaan dan program mahasiswa wirausaha. Akan tetapi banyak dari generasi muda tersebut setelah 1-2 tahun mencoba menjadi wirausahawan, dan program tersebut sudah selesai, maka hilang pula lah semangat dari mereka untuk menjadi seorang wirausahawan, Banyak diantara mereka yang pada akhirnya kembali menjadi seorang pencari kerja, bukan sebagai orang yang berani membuka lapangan pekerjaan baru.

Berdasarkan fenomena tersebut, tahun 2013 yang lalu, saya mencoba membuat sebuah penelitian ilmiah. Saya mencoba untuk melihat faktor-faktor apakah yang membuat seorang wirausahawan loyal dalam memilih profesi/pekerjaan sebagai seorang wirausahawan. Penelitian ini di danai sepenuh nya dari dana DPP Jurusan Manajemen FEBUB.

Pada penelitian ini saya mencoba menggabungkan dua teori yang lazim digunakan pada bidang studi pemasaran dan keperilakuan. Kedua teori tersebut adalah teori loyalitas dan teory perilaku Ajzen. Dalam membangun model penelitian saya berasumsi bahwa seorang wirausahawan yang telah berwirausaha lebih dari tiga tahun secara konsep merupakan konsumen yang loyal terhadap pilihan karir menjadi seorang wirausahawan. Sehingga untuk menjelaskannya saya menggunakan teori loyaliyas. Untuk mencari tahu faktor-faktor yang melatarbelakanginya saya menggunakan teori perilaku ajzen yang mengatakan bahwa dalam ber perilaku seorang individu harus memiliki niat terlebih dahulu. Untuk mendapatkan niat tersebut dibutuhkan sebuah sikap/attitude, norma subjektif dan juga persepsi bahwa individu tersebut mampu untuk mengendalikan perilaku yang ingin dilakukan. Sehingga jika digambarkan maka model penelitian saya akan seperti dibawah ini.

Reseach Model ESMUntuk menganalisa model tersebut saya menggunakan Covariance Based SEM (CBSEM) dengan alat AMOS 19. Untuk melengkapi hasil analisa saya menggunakan teknik second-order Confirmatory Factor Analysis. Data dikumpulkan dari para wirausahawan di Kota Malang yang telah berwirausaha minimal 3 tahun. Sampel dikumpulkan dengan pendekatan purposive.

Yang menarik dari hasil penelitian ini adalah bahwa untuk menciptakan seorang wirausahawan yang tetap memilih profesi sebagai wirausahawan tidak berpaling untuk memilih profesi lain maka dibutuhkan sebuah sikap loyal yang tinggi. Tanpa adanya sebuah niatan/sikap loyal untuk tetap menjadi seorang wirausahawan maka terbuka sebuah peluang bahwa individu akan mencari pekerjaan/profesi lain.

Temuan lain yang menarik adalah bahwa dimensi kognisi dari sikap loyal untuk tetap berprofesi sebagai seorang wirausahawan merupakan dimensi yang paling berpengaruh dalam menciptakan niat loyal tersebut walau sebenarnya temuan ini juga menemukan bahwa dimensi afeksi dan konasi juga berperan secara signifikan.

Temuan ketiga yang bagi saya menjawab pertanyaan kenapa di Indonesia beberapa etnis tertentu seperti halnya orang Padang atau etnis Tionghoa merupakan pebisnis-pebisnis tangguh. Ternyata jawabannya adalah untuk mencipakan sebuah niat loyal menjadi seorang wirausahawan dibutuhkan sebuah norma subjective dan persepsi diri bahwa individu tersebut mampu melakukan perilaku tersebut. Maknanya adalah jika seorang individu tinggal di lingkungan/keluarga yang memiliki sebuah normal bahwa berwirausaha itu adalah pilihan yang baik maka individu tersebut akan memiliki niat yang besar untuk tetap menjadi seorang wirausahawan. Jadi wajar, jika seorang anak lahir pada keluarga yang berprofesi sebagai pebisnis maka niat si anak untuk menjadi wirausahawan akan lebih tinggi dibandingkan jika anak tersebut tinggal/lahir di lingkungan yang tidak memiliki normal subjective mendukung profesi kewirausahaan. Begitu pula dengan konsep percara diri. Konsep ini memiliki peranan yang penting. Untuk tetap memilih profesi sebagai seorang wirausahawan, maka individu tersebut harus memiliki keyakinan bahwa mereka mampu untuk menjadi wirausahawan. Jika individu tersebut sejak awal berpikir bahwa mereka tidak mampu menjadi wirausahawan maka jangan harap individu tersebut dapat menjadi wirausahawan.

Temuan menarik lainnya adalah, ternyata untuk menjadi seorang wirausahawan tidak dibutuhkan sebuah sikap positif mengenai wirausahawan dikarenakan pengujian statistik menunjukkan bahwa sikap tidak memiliki pengaruh terhadap niat. Sehingga hal ini dapat menjelaskan kenapa banyak individu yang sebenarnya tidak bercita-cita menjadi wirausahawan tetapi malah menjadi wirausahawan yang sukses. Banyak orang juga yang sejak awal tidak memiliki pandangan bahwa menjadi wirausahawan tetapi sukses menjadi wirausahawan. Hal ini berarti bahwa seseorang yang terpaksa menjadi pebisnis, dengan catatan yang bersangkutan yakin bahwa mampu mengendalikan perilaku tersebut maka individu tersebut akan sukses menjadi wirausahawan

Dari hasil temuan saya tersebut ada beberapa langkah yang bisa diambil jika kita ingin mencetak generasi wirausaha yang tangguh dikemudian hari. Yang pertama buatlah sebuah ekosistem/lingkungan yang mendukung seorang individu menjadi wirausahawan. Kemudian sejak kecil ditanamkan bahwa menjadi seorang wirausahawan bukan hal yang sulit. Yakinkan si anak bahwa mereka pasti bisa menjadi pebisnis. Munculkan optimisme dikalangan generasi muda bahwa menjadi wirausahawan/pebisnis bukan yang mustahil.

Yang terakhir dikarenakan aspek kognisi merupakan dimensi dari niat yang pengaruhnya paling besar, maka program-program pengembangan dan pembelajaran menjadi seorang wirausaha yang baik akan sangat membantu individu untuk tetap memiliki niat menjadi wirausahawan.

Tulisan di blog ini ditulis oleh Pak ABink. Hasil penelitian secara detail dan formal ditulis dan direncanakan untuk di publikasikan pada Jurnal Pengurusan.

Daylight Saving

pic from http://www.coloring.com

Daylight saving ends today. Jarum jam harus dimundurin sejam. Karena nggak punya jam dinding, jadi tahun ini saya nggak perlu muter-muter jarum jam. Laptop dan HP pun udah otomatis menyesuaikan jadwal daylight saving.

Dulu waktu jaman-jaman bapak Abink masih kuliah di Australia (sekitar 2006an), saya suka bingung kenapa perbedaan waktu antara Indonesia-Australia berubah-ubah. Kadang beda waktunya 4 jam, trus beberapa bulan kemudian jadi beda 3 jam. Setelah saya browsing-browsing, ternyata karena daylight saving 🙂 Walaupun di beberapa wilayah australia nggak ada daylight saving, waktu itu bapak Abink tinggal di wilayah Australia yang kena dayight saving.

Dari 82 negara di dunia, ada sekitar 73 negara yang memberlakukan daylight saving time (DST). Pastinya ke 73 negara itu yang tidak berada di sekitar garis kathulistiwa. Kalo negara di sekitar garis khatulistiwa kan  jadwal terbit tan tenggelamnya matahari relatif nggak berubah ya. Siang 12 jam, dan malam 12 jam juga.

pic from http://www.geolounge.com

Sebelum saya dateng ke NZ, saya masih bingung-bingung aja kenapa harus ada daylight saving. Tapi setelah mengalami sendiri daylight saving, saya jadi sedikit paham. Karena “paham”nya masih sdikit, jadi sebenernya saya masih banyak “bingung”nya hehehehe…

Daylight saving selalu dimulai waktu spring, menjelang summer, dimana matahari bersinar lebih lama. Dan daylight saving berakhir waktu autumn menjelang winter. Kalo di NZ, daylight saving biasanya dimulai di bulan September dan berakhir di bulan April. Katanya sih, daylight saving dilakukan agar orang-orang bisa menikmati kegiatan outdoor lebih lama di malam hari (karena masih terang). Logika asal-asalan ala saya mungkin kayak gini: Misalnya matahari di musim panas tenggelam jam 8 malam. Kalo nggak ada daylight saving, jadi kita cuma dapet terangnya matahari sampe jam 8 malem aja. Tapi karena jam dimajuin 1 hour, jadinya kita bisa main-main di luar sampe jam 9 malem. Kalo misal kita pulang kerja jam 5 sore, trus pengen ngajak anak main bola di luar, tanpa daylight saving kita cuma punya waktu 3 jam sebelum matahari tenggelam. tapi, dengan daylight saving waktu main bola sama anak jadi lebih lama kann… 😀

Dengan maju atau mundurnya waktu selama satu jam, nggak terus bikin semua jadwal jadi berubah. Semua jadwal langsung otomatis ngikutin jam yang baru. Misalnya, kita pesen tiket pesawat sebelum daylight saving, dan dijadwalkan terbang jam 9 pagi. Walapun kita terbang nya pas daylight saving, dimana jam udah maju sejam, nggak berarti terus jadwal pesawat kita majuin sejam juga dari jam 9 ke jam 10. Jadwal tetep jam 9, tapi dengan “jarum jam” yang udah dimajuin. Intinya kalo jam hp dan laptop kita udah otomatis, percaya aja sama “mereka” dan tetep ikutin jadwal yg udah disusun 🙂

Tapi buat saya, daylight saving time bikin agak kacau jadwal nelpon ke Indonesia. karena perbedaan waktu Indonesia-NZ jadi 6 jam. Bapak Abink n Alia biasanya nyampe rumah jam 5 sore, yang mana di NZ udah jam 11 malem, dan pastinya saya udah ngantuk dan capek. Apalagi kalo nelpon sama mereka kan nggak bisa sebentar..

Jadinya saya seneng banget daylight saving tahun ini udah berakhir. Beda waktu Indo-NZ kembali ke 5 jam, bisa santai-santai dulu di kamar setelah sholat subuh, nggak harus buru-buru siap-siap ke ofis.. Tapi, sedihnya gelapnya jadi lebih cepet, bikin saya nggak bisa tinggal lama-lama di ofis. Saya takut pulang malem sendirian hehehe…

Catatan kecil tentang berbuat baik

pic borrowed from https://ahechoes.files.wordpress.com/2013/12/always-be-kind-for-everyone-is-fighting-a-hard-battle-plato-quote.jpg
pic borrowed from https://ahechoes.files.wordpress.com/2013/12/always-be-kind-for-everyone-is-fighting-a-hard-battle-plato-quote.jpg

Ya. Setiap orang punya msalahnya masin-masing. Bahkan orang yang terlihat selalu ceria sekalipun pasti punya masalah. Orang terlihat sangat sempurna juga saya yakin punya masalah. Mungkin sapaan hangat kita di pagi hari bisa bikin mood seseorang jadi bagus sepanjang hari 🙂

Dulu waktu masih kerja jadi cleaner (iyaa… cleaner!), saya inget bener pas saya lagi capek-capeknya kerja, ada salah satu ‘pejabat’ di kantor yg lagi saya bersihin bilang terimakasih ke saya. Walaupun cuma bilang terimakasih, tapi efek nya jadi luar biasa ke saya. Jadi semangat lagi, dan merasa dihargai.

Ngomong-ngomong soal berbuat baik, di facebook, saya join satu group yang namanya ‘pay it forward’. Jadi, grup ini memfasilitasi orang-orang untuk saling berbagi. Kalo ada barang-barang yang udah nggak dipake biasanya di upload fotonya di grup itu dan ditawarkan ke member yang lagi butuh/berminat ngambil. Kalo ada lebih dari satu orang biasanya bakal diundi. Barang-barang yang ditawarkan macem-macem, dari perabot rumah tangga, baju, sepatu, mainan anak-anak, buku-buku sampe anak anjing/kucing juga ada. Asik ya ide nya 🙂

Masih tentang berbuat baik, kalu yang suka nonton Ellen DeGeners show pasti tau ada sesi “inspiring people” di acara itu. Memang sejak ‘merantau’ ke NZ saya jadi suka nonton Ellen DeGeneres show. Dulu, waktu masih punya TV, hampir setiap sore saya nonton show nya. Tapi sekarang saya nonton lewat yutub aja. Kadang kalo lagi capek atau bosen, tapi nggak punya banyak waktu untuk ‘break’, saya sengaja nonton the ellen show. Nonton 2-3 video paling cuma ngabisin waktu 10-15 menit aja dan itu udah bisa bikin saya ‘fresh’ lagi; atau bahkan ‘mbrebes mili’ karna terharu. Biasanya saya jadi ikutan terharu kalo nonton bagian ‘inspiring people’ di Ellen show. Mereka yang diundang di sesi itu biasanya orang2 yang punya positive attitude dan berbuat baik sama orang lain.

Walaupun banyak yang bilang kalau dunia ini udah kacau, tapi saya yakin masih banyak kok orang baik di dunia ini. Apalagi kalau kita mau memulai kebaikan dari diri sendiri, dan PAY IT FORWARD! Kalau kita dapat satu kebaikan dari orang lain, jangan lupa untuk memberi satu kebaikan untuk orang lain juga, dan kebaikannya bakalan jadi berlipat-lipat, kayak MLM 🙂

Jadi inget kata-kata Ellen De Generes untuk penutup talkshow nya:

“be kind to one another”.

Sekolah Impian

Waktu saya kecil setiap ditanya cita-cita saya apa, selalu saya jawab “mau jadi guru TK”. Saya ingat betul, waktu itu nenek saya pernah bilang “Jangan jadi guru. Guru itu gajinya kecil”. Dari situ, saat saya sma saya mulai berpikir untuk merubah sedikit cita-cita saya, dari “guru Tk” menjadi “guru dan pemilik TK” 🙂 cerdas nggak tuh? Sekarang gimana? Sekarang saya masih tetep pengen punya early childhood centre sendiri seperti yang saya tulis di halaman ini.

Kebetulan sekali mb Joeyz lagi bikin ‘sayembara’ tentang sekolah impian.  Jadi kalau punya rejeki, sekolah macam apa yang pengen saya dirikan? Udah ketebak lah ya kalo say pengen bikin TK 🙂 trus TK macam apa?

Pertama-tama, saya pikir bukan cuma anak di daerah terpencil/tdk mampu saja yang membutuhkan pendidikan berkualitas. Anak-anak di kota pun butuh pendidikan yang berkualitas. TK impian saya ini bias di aplikasikan di desa maupun di kota (kayak kampanye ya). Bayarnya gimana? Bayarnya subsidi silang aja. Yang mampu bayar, yang nggak mampu nggak usah bayar, kan punya cadangaan 10M.. Beberapa poin tentang sekolah impian saya:

Menghargai anak-anak sebagai pribadi-pribadi yang unik (udah kayak iklan belum nih kalimatnya?). Karena setiap anak itu unik, jadi jangan merasa aneh kalau setiap anak punya keinginan, kemampuan dan pendapat yang berbeda. Di sekolah saya nanti, setiap murid bakal di-encourage untuk mengungkapkan pendapatnya, apapun itu. Di sekolah bakal ditanamkan kalau berbeda itu bukan masalah. Jadi, guru sebagai fasilitator harus benar-benar menghargai pendapat setiap anak. Nggak ada gambar siapa lebih bagus dari siapa. Setiap anak punya kreatifitasnya masing-masing. Nggak ada yang salah kalau anak menggambar daun berwarna pink, bukan hijau. Kebetulan, kami punya pengalaman tentang ini di sekolah Alia di NZ yang pernah diceritakan bapak Abink di sini. Kalau anak-anak sudah terbiasa dengan perbedaan, sudah pasti Indonesia di masa depan akan semakin damai. Nggak ada lagi tuh yang putus silaturahim gara-gara beda pilihan capres 🙂

Untuk menunjang penghargaan terhadap setiap pribadi anak yang unik, di sekolah saya nanti bakal ada sesi di mana setiap anak bebas memilih kegiatan apa yang ingin dilakukan. Bebas. Misalnya, kegiatan membuat kerajinan tangan. Kalau di sekolah-sekolah pada umumnya semua anak akan membuat kerajinan tangan yang sama, di sekolah saya nanti anak-anak bebas membuat kerjinan tangan sesuai keinginannya. Boleh menggunting kertas, menempel, membuat sesuatu dari kardus, dari ranting, melukis, terserah mereka. Mereka (walaupun masih anak-anak) berhak menentukan pilihan.

Mengajarkan nilai kasih sayang, saling menghargai dan sopan-santun. Walaupun anak-anak bebas berpendapat dan bebas menentukan pilihan, di sekolha tetap diajarkan bagaimana ber sopan-santun. Bagaimana harus menghormati yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda. Tidak  boleh ada bullying dan kekerasan sama sekali di sekolah saya nanti.

Sekolah dengan arena bermain yang luas. Arena bermain yang saya maksud di sini bukan di dalam ruangan ya. Di luar ruangan. Kenapa luar ruangan? Tau kan kalau anak kecil itu nggak bias diem dan cepat bosan? Coba bayangkan kalau sekolah anak-anak minim tempat bermain luar ruangan. Kita aja yang kalo diminta stay di dalem ruangan bakal bosen dan nggak produktif kan.. Apa lagi anak-anak. Selain itu, di Tk saya nanti anak-anak bakal di encourage untuk bermain di luar banyak-banyak. Tanpa takut kotor!

Di TK saya nanti juga bakal ada kebun sayur yang ditanam oleh anak-anak danada hewan peliharaan seperti ayam, kelinci, ikan (sekarang sih cuma tiga hewan itu yang ada di pikiran saya, secara saya ‘geli’ sama segala jenis binatang). Dari situ anak-anak belajar tentang sains, belajar bersyukur, berbagi, sekaligus belajar menghargai orang lain.

Nggak boleh bawa snack kemasan untuk bekal. Jaman sekarang kan penyakit makin aneh-aneh ya.. Diduga, berbagai penyakit muncul karena gaya hidup dan makanan yang nggak sehat. Makanya di sekolah saya nanti anak-anak akan dapat snack sehat dan buah-buahan. Anak-anak boleh juga bawa bekal dari rumah, tapi harus bekal sehat (sehat bukan berarti nggak enak kan!). Kalau anak-anak bawa homemade food, pasti lebih sehat dan akan mengurangi sampah juga. Misal nih ya, di TK saya nanti ada 40 orang murid. Kalau setiap hari mereka bawa bekal snack kemasan, bakal berapa banyak plastic yang terkumpul selama sehari, sebulan, setahun? Selain sehat, juga mengajarkan mereka untuk menjaga lingkungan. Anak kecil itu makhluk paling pinter loh.. Kalau di sekolah ditanamkan bagaimana cara menjaga kesehatan dan menjaga lingkungan, diharapkan ini akan menjadi kebiasaan sampai mereka besar nanti.

Mengajarkan ‘hidup sederhana’. Sebisa mungkin sekolah akan memanfaatkan barang-barang bekas untuk sarana bermain dan belajar. Sebisa mungkin tidak mendorong anak untuk beli, beli dan beli. Tapi gunakan barang bekas yang masih bias dimanfaatkan. Banyak kok yang bias kita bikin dari barang bekas. Contohnya: sock puppets dari kaus kaki bekas atau yang ilang sebelah. Anak-anak pasti seneng bikinnya dan kalo udah jadi bias di lanjut bikin pertunjukannya di sekolah.

Sock puppet. pic from www.aokcorral.com
Sock puppet. pic from http://www.aokcorral.com

Berusaha menggunakan bahan dari alam untuk media bermain dan belajar. contonya nih melukis dengan media daun atau melukis di batu.

pic from www.lushome.com
pic from http://www.lushome.com
pic from www.indesignartandcraft.com
pic from http://www.indesignartandcraft.com

masih dalam rangka ‘hidup sederhana’, anak-anak boleh merayakan ulang tahun di sekolah, tapi tanpa bagi-bagi goodie bag mewah, tanpa kue tart yang mewah. Sekolah yang akan memfasilitasi ‘pesta’ ulang tahun untuk anak. Maksudnya apa? Maksudnya supaya anak-anak (atau orang tuanya) nggak terbiasa ‘pamer’ dan saling berlomba mengadakan pesta ultah nan meriah (dengan bingkisan yang mahal) di sekolah 🙂

Guru yang fun, tidak berhenti bercerita dan bertanya kepada anak-anak. Dengan bertanya dan bercerita akan merangsang anak untuk berpikir dan kreatif. Jadi, guru-gurunya harus dipastikan sayang anak, dan nggak capek ngomong sama anak-anak. Lemah lembut, tapi bias tegas di saat yang dibutuhkan. Para guru juga harus terlibat dalam semua kegiatan anak-anak (baca:nggak jaim alias jaga image).

Orang tua murid yang berkomitmen untuk mendukung program sekolah. Ini penting banget ya, walaupun mungkin untuk ibu bekerja agak susah menyediakan homemade food (no-wrap) untuk anak-anaknya, tapi nggak ada yang nggak mungkin kok.Percuma juga kalo disekolah anak-anak diberi kebebasan berimajinasi, tapi di rumah masih sering dihakimi dan dibanding-bandingkan. Jadi, komitmen orang tua penting!

Sepertinya sekolah impian saya biasa-biasa aja dan cenderung ‘kejam’ ya? Intinya, saya pengen anak-anak jadi long-life learner  jadi pribadi yang selalu bersyukur dan mudah berempati, peduli dengan alam, keluarga dan diri sendiri. Sebenernya masih banyak lagi nih, tapi untuk sekarang cukup itu dulu deh ya.. Itu menurut saya seperti ‘filosofi’nya sekolah impian saya nanti.

Menangin saya dong teacher Joeyz sekolah ini bukan mustahil untuk di bangun di Indonesia untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Apalagi kalau ada dana 10 M 🙂 … Saya mupeng sama novel & tas nyaa.. atau kalau nggak dapet yang itu, blazer merahnya boleh juga 🙂

Pelajaran Hari Ini

Saya termasuk orang yang susah untuk bilang “nggak”, termasuk sama diri sendiri. Hari ini saya presented di internal conference di kampus tapi rasanya nggak maksimal secara di awal saya register udah ragu-ragu,  karena udah pernah ikut tahun lalu dan saya juga baru ikut thr3sis competition di bulan Juni lalu. Tapi ketika spv saya yang biasanya cuek bebek meng-encourage saya untuk ikut, saya jadi nggak bisa nolak dan akhirnya saya kirim abstract penelitian saya tepat di hari terakhir batas pengiriman abstract, dan kirim power point presentasi ke panitianya pun telat (sampe harus di tagih). Malu siih, tapi karena saya sudah bilang ‘iya’ sama pak spv jadi saya nggak bisa mundur lagi. Siap nggak siap, mau nggak mau, saya harus ngomong sesuatu kaan…Dan ternyata spv saya dateng tepat beberapa saat sebelum giliran saya presentasi.  Rasanya gimana?? Rasanya nggak sama kayak ngadepin anak-anak bule yang suke ngeyel, abis pak spv nggak ada ngomongnya… Tapi “dahi berkerutnya” sudah cukup bikin saya stress…

ALhamdulillah udah berlalu, sekarang fokus ke thesis lagi..

Pelajaran yang bisa dipetik hari ini:

  • Harus punya prioritas, jangan semua mau dilakukan tapi hasilnya malah nggak maksimal.
  • Nggak bakal bisa menyenangkan semua orang. Sebelum meng-iya-kan permintaan seseorang, tanya ke diri sendiri dulu. Ada yang bakal dikorbankan nggak? Kalau ada, sanggup hadapi resiko atas pengorbanan itu nggak? Baru bikin keputusan.
  • Preparation makes perfect.

Maaf ya yang pada mampir baca dan berharap dapet pelajaran dari tulisan ini… Ternyata ini cuma curcol-an semata..

Sultana Mania

pic taken from http://gardenofeaden.blogspot.co.nz/
pic taken from http://gardenofeaden.blogspot.co.nz/

Pada tau sultana kann? Kalo di Indonesia kita sebutnya kismis. Dulu, saya nggak suka banget sama kismis. Kalau makan roti yang ada kismisnya pasti kismisnya nggak dimakan. Bahkan kadang saya pilih nggak makan roti nya juga. Nggak suka. Rasanya aneh di lidah saya waktu itu.

Sejak kita ikut bapak Abink sekolah di NZ dan ALia sekolah di playcentre, kismis jadi snack sehari-hari Alia. Karena di sini kismis hampir selalu ada di setiap lunch box anak-anak. Alia juga hampir setiap hari bawa kismis ke sekolah untuk snack. Saya sebagai ibu yang baik tentunya juga bertugas memastikan bahwa nggak ada makanan terbuang sepulang sekolah. Kalo ada raisin sisa, ya tentu masuk ke perut ibu nya dong ya.. hahahha 😀 Sejak saat itu saya mulai bisa makan raisin. Lama kelamaan saya mulai coba-coba segala bentuk kue yang ada kismis nya.

Saya nggak ngerti banyak soal kismis, jadi saya cuma aware kalo ada 2 macam kismis. Kalo di bahasa inggris disebut sultana dan raisin. Kalo raisin warnanya lebih hitam, lebih kering dan menurut saya lebih asem rasanya. Kalo sultana (biasa disebut golden raisin juga) warnanya lebih cerah, lebih juicy dan lebih manis. Jadi saya lebih nge-fans sama sultana dibanding raisin. Walaupun sama-sama dari anggur, tapi sultana dan kismis berasal dari jenis yang berbeda dan cara mengeringkannya juga berbeda.  Kalo ngomong kandungan gizinya, sultana da raisin sama-sama mengandung vitamin B, C dan K dan pastinya bakal jadi camilan sehat untuk anak-anak karena walaupun manis, mereka mengandung gula alami. Ngomongin kismis aya jadi inget kk Alia.. Mau kismis nggak kak??

Karena udah lumayan lama juga nggak makan sultana, saya yang biasanya kalo jajan scone milih yang cheese, kemarin karena ngeliat ada sultana scone langsung saya berubah haluan. Sultana scone ditemani secangkir (besar) earl grey milk tea buat sarapan itu perfecto banget!

Malemnya, pulang ofis niat mau bikin bakso ayam. Pas lagi nyiapin bahan, inget kalo masih punya 3 buah pisang yang udah mateng banget. Jadilah malem itu bikin banana muffin juga. Dan pastinya pake ditambah sultana banyak-banyak.. Mudah2an banana and sultana muffin nya juga bisa bikin pagi ini se-perfect pagi kemarin ya 🙂

Say NO to Gangguan Jantung & Stroke!

Yuk ah mulai makan sehat, hidup sehat..
Keinginan ada, tapi kadang niat nya kurang kuat jadi ‘diet’ nya masih on-off dan belum jadi gaya hidup. Sebulan bisa nggak makan nasi, tapi bulan depannya makan nasi dan mie tiap hari. Sebulan bisa ke gym 3-4 kali seminggu, tapi bulan depannya nggak nge-gym sama sekali. Bikin jus juga udah mulai ogah-ogahan karena dingin.. Biarpun tiap hari ngingetin bapak Abink n Alia untuk makan buah tapi aku sendiri males..
Thanks mb Eda sudah diingatkan kalau stroke dan jantung mengintai kita.