Alia, daddy dan nail art

Apa hubungannya Alia, daddy dan nail art? mungkin dibanyak keluarga ketiga hal tersebut tidak ada hubungannya. Tapi di keluargahussein, tiga hal tersebut sering memicu perdebatan yang sering kali diakhiri oleh tangisan. Sebagai anak cewe yang hobi princess, Alia tergila gila dengan yang namanya pewarna kuku  atau yang sering disebut dengan kuteks. Kegemarannya terhadap kuteks sedikit terfasilitasi karena ada tantenya dan juga salah satu guru di sekolah nya yang juga seperti nya penggemar kuteks.

Sebenarnya sebagai anak cewe menggunakan pewarna kuku tidak menjadi masalah. Hal tersebut wajar karena penggunaan pewarna kuku konon kabar nya membuat lebih menarik. Tapi yang menjadi masalah adalah Alia ini baru 4.5 tahun. Sehingga daddy Abink merasa belum waktunya menggunakan hal-hal semacam itu. Selain itu di agama keluargahussein, penggunaan pewarna kuku kecuali daun pacar juga akan menghambat jika ingin beribadah khususnya bersuci. Oleh karena itu, penentang keras dari kegandrungan ALia terhadap pewarna kuku adalah daddy Abink.

Sudah sejak sebulan yang lalu Alia ngotot pakau kuteks. Karena ketidaktahuan kalo daddy Abink tidak suka, ketika main dirumah Oma Niek, Alia di entertain oleh Oma dengan diberi kuteks. Tetapi ketika Daddy datang, Oma langsung heboh mencari aseton untuk membersihkannya. Kegandrungan Alia terhadap pewarna kuku tidak berhenti hingga rumah Oma. Hingga beberapa waktu yang lalu walau sudah diberikan pengertian Alia tetap ngotot minta pewarna. Akhirnya Daddy menyerah dengan syarat. Setelah diskusi dengan tante ade, disepakati bahwa nail art bentuk stiker yang banyak dijual di accessories shop dapat menjadi alternative. Maka di janjikanlah Alia untuk dibelikan nail art. Tetapi hanya boleh di gunakan hari Sabtu dan Minggu.

Rencana pembelian nail art pun sempat tertunda beberapa kali secara Daddy masih terus mencoba bernegosiasi dengan Alia. AKhirnya keinginan Alia terturuti ketika Kai Roben datang ke Malang. Apa bole buat, mengikuti saran dari salah satu pakar pendidikan anak, bahwa jika anak berada di tangan orang lain, maka orang tua hanya akan jadi penonton. Well, it’s ok. Walaupun Kai Roben yang membelikan, tetapi Kai menyetujui bahwa Nail art hanya digunakan pada saat weekend. Alia pun setuju.

Setelah hampirr satu minggu tergelatak di kamar tante, akhirnya weekend pun tiba. Sudah sejak hari Kamis, Alia cerita ke daddy (bahasa lain dari nodong/ngingetin) kalo hari Sabtu Alia bole pakai Nail Art. Karena sudah deal bahwa boleh pakai nya Weekend saja Daddy Abink tidak banyak berkomentar dengan harapan Alia masih bias di nego. Tiba dihari yang ditunggu tunggu ternyata Daddy abink dan Alia harus ke perkawinan anak kolega dari Daddy di Surabaya. Alia pun ikut bersama Daddy ke Surabaya. Di mobil, Alia terus mengingatkan bahwa sekembali dari Surabaya Alia mau minta tante ade untuk masangkan nail artnya. Kembali daddy Abink tidak berkomentar. Diam seribus bahasa hehehehe….dalam hati terus mencari strategi untuk bernegosiasi.

Sampai di Surabaya, Daddy dan Alia mengina di apartemen nya Kai. Sampai di apartemen, ALia bobok, karena sepanjang perjalanan tidak mau dengan alas an mau bobok di apartemen saja. Sekitar 1 jam sebelom acara dimulai, Alia bangun dan dengan “nice” nya langsung inta ganti baju, cuci muka dan makan roti. Nice sekali anak Daddy sore itu. Sepanjang perjalanan daddy dan Alia ngobrol-ngobrol tentang “adek-adek” nya ALia Pop, Poppa, Frankrin and Frankrin. Daddy Abink ikut saja obrolan nya Alia. Sambil daddy beberapa kali mengingatkan Alia kalao nanti di pesta perkawinan Alia harus salim dengan temennya daddy dan juga harus makan yang banyak serta tidak minta gendong. Hebatnya selama di acara tersebut, Alia benar-benar nice. Dengan semua teman daddy, Alia mau salim. Makannya pun banyak. Serta yang hebat, walau terlihat bosan dan capek, Alia tidak rewel dan minta gendong, Bangga sekali Daddy dengan ALia. Diperjalanan pulang Daddy kasi hadiah kecil ALia yaitu oreo dan jus buah.

Esok harinya diperjalanan pulang Alia, sedikit rewel karena pagi tidak mau sarapan. Sarapannya mau di Malang saja sama Tante Adek. Selama perjalanan pun ALia cuma sekali nodong kalo hari ini dia mau pakai Nail Art. Akhirnya on the top of her nice attitude, Daddy Abink tidak mau lagi bernegosiasi. Biarlah sekali-sekali menyalurkan hasrat anak. Selama bukan keburukan dan tidak menyebabkan bahaya tidak ada salahnya dituruti.

Sampai di Malang, Alia makan, mandi dan pakai Nail Art. Happy sekali. Hebatnya ketika sudah malam, waktunya tidur, Alia pura-pura lupa, tetapi ketika daddy Abink mengingatkan kalao nail art harus dilepas tanpa perlawanan dan argumentasi Alia langsung menyodorkan jari-jarinya yang mungil untuk dilepas nail art nya. Sebelum bobok, sebuah cerita dam ciuman daddy berikan untuk Alia. I and your mom really proud of you Alia…. you are nice nice wee girl

Daddy Abink

Hari ini 28 Tahun yang Lalu

Ini kali kedua Pak Abink merayakan ulang tahun di negeri Kiwi New Zealand. Sedikit berbeda dengan tahun lalu, ulang tahun kali ini tidak ada tiup lilin dan nasi kuning seperti tahun lalu. Tetapi walau tidak ada tiup lilin, ulang tahun kali ini tetap berkesan. Karena bagaimanapun sekarang masih dalam suasana darurat karena sebulan yang lalu (22/02/2011) Kota Christchurch terkena gempa yang meluluhlantakkan hampir 80% Christchurch CBD termasuk Cathedral Square yang tersohor itu. Selain itu secara kebetulan ulang tahun Pak Abink bersamaan dengan ulang tahun seorang sahabat KeluargaHussein yaitu Mbak Resti.

Ulang tahun ke 28 ini menandakan bahwa Pak Abink haruslah lebih bijak daripada sebelumnya. Harus lebih banyak bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh sang pencipta Allah SWT.

Semoga dengan bertambah nya umur, Pak Abink semakin dewasa dan bijak dalam bertindak, semakin sabar, semakin cakep, sayang keluarga dan bisa menyelesaikan PhD nya tepat waktu.

Lincoln, 19 Marer 2011