Berburu Sekolah di Luar Negeri

Akhir-akhir ini banyak mahasiswa mendatangi saya untuk meminta rekomendasi melanjutkan pendidikan untuk jenjang S2. Paling banyak minta rekomendasi untuk S2 ke UGM, ITB, UI atau UB sendiri. Ada beberapa mahsiswa yang berminat ke Ciputra atau ke Prasetya Mulya. Selain dalam negeri, beberapa mahasiswa juga meminta rekomendasi untuk S2 ke luar negeri. Tingginya minat mahasiswa belajar keluar negeri tidak terlepas dari banyaknya beasiswa yang ditawarkan oleh LPDP  dan lembaga pemberi beasiswa lainnya seperti USAID, AUSAID dan NZAID.

Tidak tanggung-tanggung beberapa mahasiswa melamar untuk S2 ke universitas-universitas top di luar negeri. Sebut saja Durham University, Leicester University, Leeds University, University of Adelaide, Monash University dll. Kebanyakan untuk mahasiswa Manajemen UK dan Australia merupakan pilihan yang paling banyak dipilih.

Harus diperhatikan bagi yang berminat untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi khususnya yang menggunakan sumber pendanaan beasiswa maka ada dua syarat mutlak + 1 syarat tambahan yang harus dipenuhi agar dapat mewujudkan impian bersekolah ke luar negeri. Kenapa menjadi 2+ 1 syarat nya?. Berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman beberapa teman akan coba saya ceritakan.

Syarat utama dan pertama untuk melamar beasiswa adalah kelayakan Bahasa. Jika sekolah yang dituju berbahasa Inggris maka nilai TOEFL atau IELTS paling tidak berada di angka 575 untuk TOEFL dan 6.5 untuk IELTS. Jika nilai mu sudah berada diangka tersebut maka melajulah ke syarat kedua. Syarat kedua ini cukup mudah tetapi memerlukan kesabaran dan ketelatenan. Syarat kedua ini adalah berburu Sekolah dan Letter of Acceptance. Sedikit bocoran kenapa banyak mahasiswa yang ke UK dan Australia, menurut pengamatan saya hal tersebut dikarenakan banyaknya agent pendidikan yang siap membantu sepert halnya IDP, Edlink, ALFALINK dll. Untuk mendaftar dan mendapatkan sekolah ke UK dan Australia cukup datangi agent-agent tersebut sebutkan bidang pelajaran/master yang anda inginkan maka konselor-konselor agent tersebut akan membantu mencarikan sekolah yang sesuai. Tidak hanya sebatas mencarikan, mereka juga akan membantu anda melakukan pendaftaran hingga mendapatkan LOA nya. Cukup mudah kan.

Jika ingin tantangan yang lebih maka carilah sekolah sendiri. Bagaimana cara mencarinya. Browsing di internet adalah cara yang paling mudah. Ketik saja nama Universitas nya di mesin pencari maka akan sampailah kita ke web sekolah nya. Beberapa negara sudah menyediakan one stop education information. Misal nya Stuned. Di website Stuned kita tingga pilih mau belajar apa ditingkat apa.

study-finder

Setelah mendapatkan universitas yang dituju maka pelajari dulu apa saja kurikulum yang mereka tawarkan. Sesuai dengan minat atau tidak. Jika tidak lebih baik carilah yang sesuai minat. Jika kurang jelas jangan ragu untuk meng-email bagian admisi nya. Mereka sangat responsif. Biasanya kurang dari 3 hari pertanyaan kita akan dibalas. Jika sudah sreg maka segera kirim aplikasi.

Untuk pendaftaran beberapa kampus masih manual yang berarti calon mahasiswa harus mengirimkan form aplikasi dan juga bukti-bukti pendukung lainnya menggunakan pos. Akan tetapi sudah banyak kampus yang memberlakukan apply online. Yang maksud nya calon mahasiswa tinggal mengisi form secara online dan mengirimkan soft-copy file pendukung pada mereka. Jika seluruh syarat lengkap biasanya LOA akan di terbitkan paling lama 1 bulan untuk program course work.  Tetapi pengalaman saya apply ke Universitas di Malaysia, pendaftaran dibuka kapan saja, tetapi pengumuman penerimaan dilakukan mendekati tahun ajaran baru.

apply-online

Selamat jika sudah mendapatkan LoA. FYI jenis LoA ada dua. Yang pertama Full Offer  dan yang kedua conditional offer. JIka full Offer maka sudah tidak ada syarat lagi yang harus dipenuhi. Tetapi jika conditional offer yang kita dapatkan maka masih ada beberapa syarat yang harus dilengkapi. Paling sering dijumpai adalah conditional offer terkait dengan ketentuan Bahasa Inggris. Biasanya banyak calon mahasiswa yang syarat Bahasa Inggris nya kurang tetap mengirimkan pendaftaran. Jika nilai dan background academic nya sesuai conditional LOA akan diterbitkan. Ada yang bertanya, dengan conditional LOA apakah bisa mulai sekolah? Jawabannya tidak. Kita harus tetap mendapatkan Full Offer untuk bisa mulai bersekolah. Beberapa negara seperti New Zealand mensyaratkan Full Offer untuk menerbitkan visa pelajar. Sampai langkah ini bagi yang bersekolah dengan biaya mandiri maka yang berikutnya adalah mempersiapkan keberangkatan. Tapi bagi pemburu beasiswa maka masih ada syarat tambahan yang harus dipenuhi.

FYI – umur LOA biasanya dua tahun. Misal  mengirimkan aplikasi untuk intake August 2017. Jika gagal berangkat di August 2017 maka LOA tadi masih bisa digunakan sampai August 2019 tanpa harus mendaftar kembali. Konsultasikan dengan pihak sekolah apakah intake (kemasukan) bisa dilakukan disemester 1 dan 2 atau hanya di semester 1 saja. Beberapa sekolah untuk S2 mengijinkan mahasiswa untuk memulai sekolah disemester 1 atau disemester 2.

Bagi pemburu beasiswa, beberapa langkah dan strategi masih butuh dilakukan. Langkah berikutnya adalah berburu beasiswanya. Untuk beberapa beasiswa seperti halnya LPDP, kemampuan Bahasa Inggris dan Full Offer dari Universitas yang ada di daftar LPDP sudah memberikan kesempatan 60% untuk diterima sedangkan 30% nya adalah wawancara terkait dengan kesiapan dan bakal kontribusi yang kita berikan sedangkan yang 10% adalah kekuatan doa (CMIIW). Sedikit berbeda dengan pemberi beasiswa lainnya. Sebut NZAID dengan skema NZ ASEAN Scholarship. Pemberi beasiswa biasanya memiliki sektor-sektor prioritas. Sehingga jika ingin mendapatkan beasiswa tersebut, maka pilihlah program study atau topik penelitian yang sesuai dengan sektor-sektor prioritas tersebut. Dalam beberapa kasus kandidat yang tidak berada pada sektor-sektor tersebut bisa mendapatkan beasiswa. Tetapi sebagian besar adalah kandidat yang berada pada sektor-sektor tersebut.

priotirty-sector

Jika aplikasi sudah dikirimkan ya sisanya tinggal berdoa dan mempersiapkan diri untuk interview .

Dapat disimpulkan bahwa semakin banyaknya penyedia beasiswa untuk studi lanjut khususnya keluar negeri meningkatkan minat dari pelajar-pelajar Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Walaupun terkesan kompleks tetapi jika dijalani dengan tekun dan  telaten maka akan memberikan hasil yang optimal. Sehingga kita haruslah tetap semangat dan berusaha untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Advertisements

Woody Plant: Student sociopreneur project (1)

Dear everyone,

Last semester I (misterhussein aka Pak Abink) taught Entrepreneurship laboratory. At this subject students were requested to  create entrepreneur projects. Some students made food business, others took a challenge in fashion business and small group of students did a sociopreneur project.

Based on urban dictionary , social entrepreneurship is An enterprising individual that starts a venture not merely for profits but for inclusion of the communities that so far have been left out of the main stream. In the easiest way, we can say that social entrepreneurship is not only think about money and profit. They also think about society.

Upon the completion of class room project, I requested  students to participate in ISOC 2016 hosted by Surya University. ISOC 2016 is a sociopreneur competition challenging people to design and conduct sociopreneur project. Initially, five groups from my class sent a proposal to the committee. Upon the shortlisted announcement, two groups from my class were passed into the second stage named global online voting.

The first group is Woody Plant. Please see the description below about Woody Plant:

 

Screen Shot 2016-08-05 at 7.13.52 AM

Woody plant is a business that is constantly innovating to create products that lift and waste that undermine the environmental impact to be beneficial for nature and people. We treat waste industrial waste wood pallets and plastic bottles into media such as gardening gardening box and various forms of pot. Gardening box is a mini gardening media package that can be applied practically and easily, because in it is included the box, scop, soil, organic fertilizer, spray, seed and usage instructions. For parents who have children to provide education through the activities of gardening and caring for plants, a means to provide gardening experience, training responsibilities and discipline for children. Attractive design tailored to different segments, and can adjust the order and the needs of the customer. 

Ecological imbalance has occurred worldwide. All started from the human hand, awareness of the environment that can restore and reduce damage to our nature. Invites the public to be aware and cultured environment is one of our dreams. By not littering and participate separating by category when taking out the trash. Any small positive movements we do will have an impact on nature and humans in the future.

Please check their video: Woody Plant

If you like the project please register and vote for them.

 

 

 

 

Ujian Thesis Doctoral ala New Zealand University (2) : via Video conference

SONY DSC
Saat menghadiri Wisuda tahun lalu. Sayangnya bukan saya yang diwisuda 🙂

Delapan April 2016 adalah hari wisuda di Lincoln University (LU). Saya seharusnya bisa diwisuda bersama kawan-kawan lain di LU, tapi saya memilih “Graduate in Absentia” karena kondisi yang ngggak memungkinkan untuk saya datang ke NZ.

Kalau sekitar 3 tahun yang lalu Bapak Abink sudah pernah cerita dengan Judul yang sama di sini tentang bagaimana ujian doktoral di Lincoln University, kali ini saya bawa cerita ujian yang sedikit berbeda dengan pengalaman bapak Abink 3 tahun lalu.

Begitu saya submit thesis, dan menyelesaikan kontrak kerja, saya langsung balik ke Indonesia. Meja kerja sudah saya kembalikan ke bagian administrasi untuk bisa dipakai oleh orang lain. Tapi, saya masih pakai locker saya untuk simpan beberapa barang yang kira-kira saya butuhkan kalau balik lagi NZ untuk ujian. Waktu itu memang rencananya saya bakal balik ke LU untuk ujian sekitar akhir tahun 2015 atau awal tahun 2016. Bahkan saya masih nitip koper isi baju dll di rumah seorang teman. Tapi, lagi-lagi kita cuma bisa berencana, tapi Allah siapkan rencana lain buat saya. Karena waktu itu nggak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh, saya harus rela ujian jarak jauh, lewat video conference. Waktu itu rasanya kecewa, karena waktu pulang ke Indonesia saya sama sekali nggak ada persiapan untuk ninggalin NZ untuk waktu yg belum ditentukan. Saya kira bakal ketemu NZ lagi dalam 4-6 bulan setelah kepulangan saya ke Indonesia. Tapi, karena terbang ke NZ lagi adalah pilihan terakhir, akhirnya saya pasrah aja, ngurus ujian jarak jauh ini biar jadi lancar..

Proses setelah submit thesis sampai ujian, kurang lebih hampir sama dengan pengalaman Bapak Abink. Tapi, entah kenapa waktu tunggu saya lebih lama. Saya harus nunggu sekitar 5 bulan sampai saya dapat email panggilan untuk ujian. Mulai tahun ini LU punya kebijakan baru mengenai ujian thesis doktoral. Kali ini, pembimbing tidak ikut andil dalam penilaian. Tugas pembimbing sudah selesai sampai kita submit thesis kita untuk dinilai oleh examiners. Artinya keputusan layak atau tidaknya sebuah thesis untuk mengantarkan seorang candidat doktor untuk menyandang gelar Doktor hanya berada di tangan para penguji. Kebijakan baru ini bikin saya lebih deg-deg an, karena thesis saya akan dinilai oleh orang-orang yang saya sama sekali nggak tau siapa aja mereka.

Tapi, dibalik kebijakan LU yang bikin deg-deg an, ada juga kebijakan lain yang menurut saya menguntungkan student. Ketika kita terima email yang menyatakan bahwa thesis kita layak untuk diuji secara oral, kita juga bakal langsung dapat review yang ditulis oleh para examiners. Jadi, kita udah tau kelebihan dan kelemahan thesis kita di mata examiners. Jadi kita bisa siap-siap buat oral examinationnya nanti.

Thesis examination melalui video conference sebenarnya belum biasa dilakukan di Lincoln University. Untuk bisa ujian jarak jauh, saya harus mengirimkan surat dokter yang menyatakan bahwa saya tidak direkomendasikan untuk terbang ke NZ.

Beberapa minggu sebelum hari ujian, saya sudah lumayan intens komunikasi dengan postgrad administrator dan convenor mengenai apa aja yang harus dipersiapkan untuk ujian jarak jauh dan juga mengatur jadwal yang cocok untuk saya yang di Indonesia, supervisor & convenor di NZ dan examiner di Australia. Selanjutnya, untuk memastikan koneksi internet dan komunikasi lancar, saya sempat 2x melakukan percobaan teleconference. Yang pertama, hanya berdua dengan convenor, dan yang selanjutnya rame-rame sama IT personnya LU, Postgrad Administrator, dan examiners.

Ujian thesis waktu itu jatuh di Hari Selasa, jam 9 pagi WIB, jam 3 sore waktu NZ, jam 1 siang waktu Australia. Saya udah siap dari pagi, saking deg-deg annya 🙂 Udah stand by di depan laptop 15 menit sebelum jam 9. Ujiannya sendiri berlangsung selama 45-60 menit aja. Dimulai dengan presentasi dari saya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Alhamdulillah, examiners  saya lumayan gampang ‘dipuaskan’ dengan jawaban-jawaban saya. Setelah sesi tanya jawab berakhir, teleconference dengan saya diputus supaya supervisors, convenor dan examiner bisa diskusi mengenai hasil ujian. Saya tinggal menunggu convenor menghubungi saya untuk bergabung lagi. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, akhirnya saya dihubungi dan diyatakan lulus. Yeaaayyy Alhamdulillah…

Viva

Intinya, ujian secara langsung atau melalui video conference ada plus dan minusnya. kalau ujian langsung komunikasinya pasti lebih lancar, diskusi mengenai revisi (kalau ada) juga bakal lebih jelas. Tapi kelemahannya, kalau udah pulang ke Indo harus ngeluarin biaya banyakk 🙂

Kalau ujian lewat video conference lebih banyak yang harus dipersiapkan, terutama konekasi internet yang stabil. Pre-test juga penting banget dilakukan beberapa hari sebelum ujian. Persiapan video conference nya sendiri sebenernya nggak begitu ribet karena kita tinggal tunggu undangan Skype meeting (Lync) dari postgrad adminstrator atau IT person. Tinggal klik-klik untuk instal dll aja.

Yang terpenting untuk ujian langsung maupun video conference adalah persiapan, baca lagi thesisnya, yakin aja kalau kita adalah orang yang paling tau tentang apa yang kita tulis selama 3 tahun terakhir. Dan jangan lupa banyak berdoa..

Berburu Sekolah (2)

Sekolah hari pertama Alia.jpg

Setelah cerita sekilas tentang berburu TK dan daycare buat Alia sepulang dari NZ di postingan yang ini, kali ini mua cerita sedikit tentang berburu  sekolah dasar untuk Alia, sekalian menjawab beberapa email yang masuk tanya tentang sekolah dasar di Malang.

Karena sudah lewat setahun, dan saya nggak nyimpen brosur-brosur sekolah yg kami survey, jadi cerita berburu sekolah ini bakal singkat aja, mengingat ingatan saya yang lumayan ‘pendek’. Mudah-mudahan bisa ngasih sedikit gambaran tentang beberapa SD di malang.

Sebenernya jauh-jauh hari kami udah mulai cari tau tentang SD di Malang, tapi ya cuma sepintas lalu aja. Tapi kami sudah punya beberapa gambaran kriteria sekolah yang kami mau.

1. SD MIN Malang  di Jl. Bandung. Ini salah satu SD favorit di Malang. Selain belajar pelajaran umum, pelajaran agama islam nya banyak, termasuk pelajaran bahasa arab dll. Setahun bisa terima 3-4 kelas, tapi seleksinya emang ketat karena peminatnya banyak. Pendaftaran dibuka Sekitar bulan Maret-April. Kalau nggak salah tes di sekolah ini cuma psikotes dan wawancara aja.

2. SD Islam Sabilillah di kawasan Masjid Sabillilah, depan pasar Blimbing. Ini juga banyak tambahan agama Islamnya. Anak-anak sekolah sampai jam 3 (pulang setelah sholat ashar)  dan nggak ada PR lagi di rumah. Persaingan masuk lumayan ketat, karena banyaknya peminat. Untuk bisa  sekolah di SD ini, ada tes mengaji juga. Nilai plusnya, anak-anak juga diajari menghapal Qur’an. Pendaftaran SD Sabilillah ini biasanya sudah dibuka di bulan Maret.

3. SD Unggulan Permata Jingga. Ini SD Swasta Nasional masih baru di sekitar Sawojajar. Sekolah ini adalah sekolah inklusi yang juga menerima murid berkebutuhan khusus jadi anak-anak  bisa belajar berempati. Plus nya sekolah ini nggak pakai TES MASUK, dan metode pendidikannya menyenangkan jadi nggak bikin anak jenuh. Untuk yang beragama Islam, ada sholat Dhuha di sekolah setiap pagi.

4. SD Anak Soleh di Jl. Arumba. Hampir sama seperti SD Islam lainnya. Tapi karena masih relatif baru, seleksi masuknya nggak begitu ketat. Menerima 2 kelas setiap tahun. Nilai plusnya, selain sekolah berbasis agama, SD Anak Saleh ini punya halaman yang luas. Tapi, kurangnya, jalan masuk ke Jl. Arumba masih sempit dan kebayang macetnya dan ramenya kalau pagi pas nganter sekolah. Sebagai supir kurang pengalaman, saya keder deh kalau harus lewat situ tiap pagi 🙂

5. SD PJ Global School di Permata Jingga, di perumahan Permata Jingga. Tes nya nggak ketat, setahun terima 2 kelas, tapi tiap kelas cuma dibatasi 20 orang. Pakai 2 kurikulum, nasional dan kurikulum dari Singapore. Bahasa pengantar bahasa Inggris. Setiap pagi, untuk yg muslim sholat dhuha, yang beragama lain beribadah sesuai agamanya di tempat terpisah. Sekolah ini juga baru buka cabang baru di Jl. Raya Langsep.

6. SDN Kauman (sebelah hotel pelangi). Ini SD negeri favorit di Malang. Terkenal input dan output nya bagus, tapi memang sekolahnya jadi lebih berat ada PR, dll.

Sebenernya untuk yang mau cari sekolah Islam, masih ada lagi sekolah-sekolah Islam lain, seperti SD Insan Amanah di Griyashanta, SD Moh. Hatta di Jl. Simpang Flamboyan atau SDIT Insan Permata di sekitar Sengkaling. Untuk yang mau cari sekolah nasional berwawasan Internasional (berbahasa Inggris) ada SD Lab UM di kawasan Univ Negeri Malang, atau sekolah Gracia di Jl Bunga Lely.

Lagi-lagi saya nggak bisa kasih masukan spesifik sekolah mana yang terbaik di Malang. Kan kebutuhan dan prioritas tiap anak & orang tua berbeda-beda.

Alhamdulillah kami sudah nemu sekolah yang paling mendekati kriteria kami (dengan segala plus minus nya), dan sejauh ini Alia happy sekolah disitu..  Tahun ini ALia bakal naik ke kelas 2, trus nggak lama lagi kami harus mulai hunting SMP buat Alia. Hhhmmm atau mungkin hunting TK/Playgroup dulu deh, buat adeknya Alia 🙂

Pendidikan yang memanusiakan manusia

Jarang sekali saya menulis sebuah tulisan di blog keluargahussein ini yang topik nya agak serius. Biasanya hanya tulisan ringan sehari-hari atau tulisan mengenai cerita perjalanan dan jalan-jalan. Tetapi kali ini saya ingin mencoba mengekspresikan opini saya mengenai sistem pendidikan yang berlaku dan bagaimana manusianya menyikapi sistem pendidikan tersebut.

Saya masih ingat ketika masih mahasiswa dan menjadi aktivis (lebih tepat berlagak menjadi aktivis) ada seorang teman yang jika berbicara mengenai sistem pendidikan selalu mengucapkan bahwa pendidikan itu harus memanusiakan manusia. Dari dulu hingga sekarang saya masih ragu sebenarnya si kawan itu benar-benar paham atau tidak mengenai pendidikan yang memanusiakan manusia. Bisa jadi hanya sebuah jargon yang diucapkan supaya terlihat kerena karena menggunakan bahasa/term/istilah yang sulit dipahami. Tetapi mungkin saja si kawan itu memang paham dengan makna nya. Saya sendiri saat itu tidak terlalu memusingkan apa makna dari jargon tersebut.

Akan tetapi saat ini ketika saya sudah menjadi seorang pengajar dan pendidik saya mulai memikirkan apa yang dimaksud dengan pendidikan yang memanusiakan manusia itu. Ternyata merenung sesaat tidak menjawab filosofi dari statement tersebut. Perlu sebuah renungan yang mendalam.

Apakah merenung lama juga mendapatkan makna mendalam dari jargon tersebut? ternyata tetap tidak. Sampai saat ini saya juga masih mencari makna. Walaupun demikian ada beberapa titik terang yang sedikit memberikan gambaran mengenai apa sebenarnya pendidikan yang memanusiakan manusia.

Titik terang itu saya dapat setelah saya intens mengikuti pendidikan si kecil Alia. Ya, Alia si gadis kecil berumur 6.5 tahun yang baru lulus dari TK dan akan masuk SD. Proses mengikutinya sedikit banyak memberikan gambaran mengenai jargon tersebut.

Beberapa waktu sebelum Alia lulus atau bisa dikata dipenghujung tahun lalu, saya dan istri sudah mulai berdiskusi mengenai mau kemana arah pendidikan Alia setelah TK. Jenjang pendidikan anak usia dini seperti TK itu merupakan jenjang awal dalam pendidikan formal seorang manusia. Setelah jenjang itu harus dipikirkan kemana kaki akan melangkah karena masa depan ditentukan darin situ.

Sebagai seseorang yang selalu mendapatkan kesempatan untuk bersekolah di sekolah yang (katanya) terbaik mulai dari TK hingga program Doktor saya juga berkeinginan Alia mendapatkan pendidikan yang terbaik. Tetapi pertanyaannya pendidikan yang terbaik itu adalah pendidikan yang seperti apa? Apakah pendidikan yang mampu menciptkana seseorang yang ahli matematika? atau mungkin ahli bahasa? atau bahkan menjadikan seseorang itu bisa segalanya seperti halnya robot yang terprogram komputer? Masing-masing orang akan menjawab berbeda-beda sesuai dengan seleranya masing-masing.

Tetapi saya dan istri sepakat bahwa sebenarnya pendidikan yang terbaik adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Persis seperti apa yang dikatakan kawan saya tersebut beberapa belas tahun yang lalu. Lalu bagaimana kami mendefinisikannya?

Mari kita tengok kondisi saat ini. Saya melihat banyak orang pintar, orang pandai orang hebat yang ternyata perilaku nya tidak seperti bagaimana manusia seharusnya. Banyak orang-orang hebat yang ternyata memakan hak temannya atau hak orang lain. Banyak orang hebat yang ternyata menyikut orang lain untuk kepentingannya sendiri. Menurut saya seorang manusia itu sudah diberikan akal dan pikiran oleh Sang Pencipta dimana akal dan pikiran tersebut mampu untuk menimbang dan memikirkan baik dan buruk. Tetapi kenyataannya dengan pendidikan maksimal ternyata kemampuan akal dan pikiran tersebut malah tidak ada.

Apakah kondisi tersebut disebabkan oleh pendidikan? terlalu cepat untuk membuat sebuah kesimpulan. Tetapi kita juga harus ingat bahwa aspek dalam pendidikan itu ada tiga hal penting yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Nah saya yakin manusia seutuhnya adalah manusia yang mampu menyeimbangkan ketiga hal tersebut. Dengan adanya keseimbangan ketiga hal tersebut maka manusia akan dapat menjadi manusia seutuhnya.

Yang menjadi masalah, seperti nya saat ini aspek kognitif menjadi fokus utama dalam dunia pendidikan khususnya dalam pendidikan dasar (mungkin saya salah karena saya bukan ahli pendidikan). Sehingga dengan semakin fokus nya pendidikan pada aspek kognitif ini lembaga pendidikan sedikit meluapakan aspek afektif nya.

Sekali lagi mungkin saya salah, tetapi saya dan banyak teman-teman dosen yang mengakui bahwa saat ini banyak mahasiswa yang berasal dari sekolah-sekolah unggulan. Nilai mereka pun sangat baik, akan tetapi nilai-nilai kehidupan, sikap dan perilakunya berbanding terbalik dengan aspek kognisinya. Sangat disayangkan sekali.

Sekarang jika ditanyakan apakah saya sudah mendapatkan sekolah/lembaga pendidikan buat Alia yang sistem pendidikannya memanusiakan manusia? Jawabannya yang seratus persen ada belum saya temukan. Akan tetapi saat ini saya berkeyakinan bahwa paling tidak saya tidak ingin gadis cantik ku ini berubah menjadi robot yang terpogram secama sistematik dengan proses pembelajaran disekolah. Saya ingin Alia dengan senang hati pergi ke sekolah. Dengan riang pulang menghabiskan hari-harinya dengan seimbang. Sehingga paling tidak jika disekolah aspek kognitif bisa diperoleh, maka dirumah atau dilingkungan aspek afeksi dan psikomotor nya bisa ditingkatkan. Jangan sampai disekolah bergelut dengan pengembangan kognisi dirumah masih harus pula bergelut dengan peningkatan aspek kognisi.

Pantang Pulang Sebelum Padam

Dapet feedback dari pak SPV, setelah menunggu 2 minggu lamanya. Agak-agak membingungkan sih, komen-komennya. Pas didatengi ke ofisnya, bliaunya nggak ada di tempat. Ya wis, coba dikerjain sendiri dulu aja sambil nunggu ketemuan hari Senin nanti.

Disela-sela ngerjain revisian chapter, tiba-tiba pak SPV ngirim email lagi kata pembukanya gini “I hope you aren’t depressed by my comments”. hihihih… iya juga sih, saya agak2 down begitu liat komennya yg lumayan banyak. Ihhh serem deh, jangan-jangan si bapak bisa baca isi hatiku  😀

Pengennya sih istirohat dulu, mencerna komen satu demi satu, pelan-pelan kerjanya… tapi kalo inget janjiku ke anak gadisku pagi ini, kayaknya gak bisa ini kalo kerja pelan-pelan. Harus di gas pol ini. Nggak ada libur weekend ini.

Tadi pagi, nelpon ke rumah cerita-cerita dan becanda2 seperti biasa. Terus, tiba-tiba aja obrolan mengarah ke potong rambut alia karna udah mulai nggak rapi. Trus terjadilah percakapan berikut:

Ibu : Alia, rambutnya dirapihin ya. Ke salon aja, nanti dianter bapak..

Alia : Nggak mau.

Ibu: Enak loh, nanti sebelum dipotong dikeramas dulu

Alia : Alia udah pernah.

Bapak: Alia lagi pengen mainan apa?

Alia : Alia nggak pengen mainan. Alia pengen nonton frozen.

Bapak : Ok. Kalo gitu, abis dari salon Alia boleh nonton frozen di laptop.

Alia : Alia maunya frozen yang baru

Bapak : Emang ada frozen yang baru?

Alia : Ada, Alia liat iklannya di TV

Ibu: Tapi itu belom ada di bioskop, kak.

ALia : Itu mungkin adanya bulan Agustus bu.

Ibu : Ohya? kalo gitu nanti ibu ikut ya nonton bareng.

Alia : Ibu udah pulang bulan Agustus? Agustus 2015?

Ibu : InshaaAllah..

Alia : Yeaaayyyyyy!!!!!

Kalo ibu bisa pulang sekarang, Ibu bakal pulang sekarang juga. Tapi kan kalo kata orang Banjar “waja sampai kaputing”, kalo kata petugas pemadam kebakaran “pantang pulang sebelum padam” (mengutip kata-kata Kai Roben dan bapak Abink). Makanya Ibu juga pantang pulang sebelum beres. “Beres” disini bermakna ganda ya.. bisa berarti “submit” atau “lulus” atau “punya full draft”. Tergantung nanti Agustus deh, saya bisa sampai tahapan yang mana.

Life is Like a Roller Coaster…..

enjoy-life-quote-roller-coaster-scream-Favim.com-262111
pic. from http://www.greenlandice.be

Disclaimer: Postingan ini mengandung curhat. Yang lagi nggak kepengen di curhatin, boleh cari bahan bacaan yg lain 🙂

Ok. I’ll enjoy the ride!

Rasanya kayak waktu naik roller coaster pertama kalinya, di Dufan beberapa tahun yang lalu. Awalnya PD dan semangat banget mau naik, dibela-belain ngantri panjang banget… Pas udah naiknya deg-deg an banget, takut tapi berusaha menikmati. Kalo ditanya mau naik lagi apa nggak? Jawabnya: Nggak mau!

Sama kayak waktu mau sekolah PhD, tahun 2012 lalu. Awalnya semangat dan PD banget.. Bahkan untuk pisah sementara sama keluarga saya juga awalnya merasa PD. Pas udah dijalanin, ternyata banyak ups and down nya. Bener-bener kayak naik roller coaster. Kalau sekarang ditanya, mau lagi apa nggak? Jawaban saya: Nggak mau!

Ini sebenrnya pas lagi melow-melownya, banyak kerjaan, waktu mepet, progress lambat, ditambah kangen keluarga di rumah. Liat-liat foto lama, bikin tambah mellow.. eh lha kok tetiba ketemu quote roller coaster. Ya wis lah ya, dijalani aja, masak ya mau mellow terus2an? Mendingan dinikmati aja.. ini kan bagian dari rejeki Allah buat kami. There’s always a silver lining in every cloud. Pasti semua ada hikmahnya.

Inhale… exhale…. Bismillah and back to work!

Japan Trip: Fujiko F. Fujio Museum, Brought Back my Childhood Memories

DSC06593

Siapa sih yang nggak kenal Doraemon? Hampir semua orang pasti tau Doraemon ya.. Apalagi anak ’90an udah hampir pasti pernah nonton serialnya di TV atau baca komiknya. Saya buka pembaca komik. Saya nggak pernah baca komik; kecuali komik doraemon. Sebagai penggemar setia Doraemon, jalan-jalan ke Fujiko F. Fujio museum jadi salah satu agenda yang saya tunggu-tunggu waktu berkunjung ke Jepang bulan November lalu.

Walaupun tau meseum nya di luar kota Tokyo, saya tetep ngotot untuk pergi kesana. Setelah browsing sana-sini, ternyata tiket masuk museumnya cuma dijual di Lawson minimarket, dan bisa dibeli lewat mesin pejual tiket (lupa nama mesinnya). Saya dan bapak Abink beli tiket ke Lawson deket hotel, 2 hari sebelum hari kunjungan ke Museum. Di Lawson kami coba-coba beli tiket lewat mesin, tapi ternyata gagal karena kami sama sekali nggak ngerti tulisan kanji dan di mesin nggak ada option bahasa inggrisnya.

Akhirnya sok PD nanya ke mbak-mbak kasirnya pake bahasa inggris. Ternyataaa mbak kasirnya nggak bisa bahasa inggris. Saya ngomong inggris, dia ngomong jepang. Mana nyambuunggg…. 😦

Bahkan waktu saya sebut Fujiko F Fujio, dia juga masih nggak ngerti apa maksud saya.. Saya bilang lagi “doraemon”, dia juga masih nggak ngeh juga. Akhirnya saya yang hampir putus asa tiba-tiba punya ide untuk bilang “doremon, kawasaki” dengan logat yang saya buat sebisa mungkin mirip logat Jepang. Dan ternyata berhasiil… mbak-mbak kasirnya akhirnya bantuin saya untuk beli tiket museum lewat mesin tiketnya. Tapi, pas harus masukin nama, di layar cuma bisa di-input pake huruf kanji. Ya mene ketehek ya gimana cara nulis nama saya pake huruf kanji. Akhirnya saya tulis di kertas nama saya pake huruf latin dan mbak nya nerjemahin pake huruf kanji. Nggak tau deh, yang ditulis bener-bener nama saya atau nama dia sendiri hehehhe 😀 Akhirnya setelah melewati perjuangan panjang karena keterbatasan bahasa, tiket museum impian pun bisa sampai di tangan saya.

DSC06598

Waktu beli tiket museumnya, kita harus pilih jam kunjungannya. Pilihannya jam 10 pagi, jam 12, jam 2 siang  atau jam 3 sore. Jam kunjungannya akan tercetak di tiket dan harus datang tepat waktu. Keterlambatan bisa ditolerir sampai 30 menit. Kalau datang 30 menit setelah jam yang tertera di tiket bakal nggak boleh masuk dan tiketnya hangus.

Waktu itu saya pilih jam 2 siang karena di hari itu kami harus pindah hotel dulu; dan biar nggak terlalu terburu-buru berangkatnya secara perjalanan dari Tokyo ke Kawasaki makan waktu cukup lama. Dari Shinjuku station, naik kereta ke Noborito station. Trus bisa langsung nunggu shuttle bus di depan Noborito station.

Karena saya perginya pas weekend jadi rame banget yang mau main ke museum. Tapi nggak usah khawatir bakal nggak kebagian bis, karena shuttle bisnya datang setiap 15 menit sekali. Busnya pun bukan bus biasa, tapi bus bergambar doraemon dan ‘kawan-kawan’nya. Sampe pernak-pernik dalem bisnya pun bertema tokoh kartun Jepang. Cute!

Oiya, shuttle bus-nya nggak gratis ya 🙂 kita bisa bayar pake Suica/pasmo card atau bayar cash. Kalo nggak salah untuk dewasa tarifnya sekitar 200 yen.

DSC06586 DSC06591 DSC06596Sampe di museum, kita masih harus ngantri lagi dan dijelaskan kalo nggak boleh ambil foto selama di dalem museum. Foto-foto baru boleh di arena bermain, taman dan kantin. Padahal dalemnya museum menarik banget loh.. kita bisa liat komik pertama yang di bikin pak Fujiko F. Fujio, trus baca-baca lagi sejarah Doraemon, dari waktu Doraemon masih berwarna kuning (eh, atau merah ya? *lupa). Di sana juga bisa liat-liat naskah asli cerita-cerita doraemon yang sangat familiar, liat meja kerjanya pak Fujiko F. Fujio, dengar kisah hidupnya, dll. Sayang, karena rame banget, jadi kurang ‘khusyuk’ jalan-jalan di dalem museumnya. *berarti suatu saat harus balik ke Jepang lagi nih!

Di Fujiko F. Fujio museum, pengunjung dipinjami alat semacam HT/radio. Setiap koleksi di dalem museum diberi nomor, dan kita tinggal pencet nomer di radio dan bisa dengar sejarah/cerita tentang koleksi-koleski di museum itu. Bagi yang males baca, atau nggak bisa nyampe depan karena kehalangan orang-orang bisa liat-liat aja sambil denger penjelasannya dari radio.

Lumayan puas liat-liat di dalem museum, saya nge rengek-rengek minta makan ke bapak Abink. Tapi ternyata restaurant nya rameeee dan harus ambil nomer antrian. Karena nggak tahan laper, akhirnya kami jajan dorayaki eskrim (yang enak bangeeett) dan memory bread. Saking lapernya enaknya dorayaki eskrim, saya dan bapak Abink sampe abis 2 masing-masing!

IMG_1772

DSC06603
Dorami Cookie dan Memory Bread. Kalo makan memory bread bakal inget perkalian-perkalian yang di tulis di roti nya 🙂

Udah agak kenyang, kami jalan-jalan di sekitar taman. Sayang karena rame pake banget, kami nggak bisa foto-foto dengan leluasa. beberapa spot foto yang bagus antriannya mengular…

doraemon2
Nggak ada Alia, Dorami pun jadi :p
doraemon3
Akhirnya nonton film ‘Stand by Me’ di pesawat dari Tokyo ke Singapore

doraemon1 doraemon4Capek jalan-jalan di taman akhirnya kami balik ke Tokyo naik shuttle bus lagi, sambung kereta dari Noborito station ke Shinjuku, lanjut ke Kanda station.

Karena laper banget belom makan dari siang (2 bungkus dorayaki es krim tadi nggak diitung ‘makan’ ya.. itu ‘cuma’ snack :p ), kami cari makanan seadanya dan sedapet nya aja.. Di jalan dari kanda Station menuju hotel, kami mampir warung yang keliatannya oke. Ternyata di situ pesennya (lagi-lagi) harus pake mesin, dan nggak ada pilihan bahasa inggrisnya 😦 Tau kami kebingungan, salah satu karyawan restauran langsung menghampiri kami. Untungnya, saya udah tau apa bahasa Jepangnya pork (thanks to mbak Tya). Karena kami nggak makan pork, jadi kami bilang “no butaniku/no pork”, dengan logat agak kejepang-jepangan. Pas saya berusaha ngomong dengan logat Jepang, eh, si mas karyawannya jawab pake bahasa Inggris aja dong! Yaelah, tau gitu langsung aja tadi ngomong inggris yaa.. Akhirnya kami berhasil membawa pulang dua porsi makanan jepang ditambah bonus green tea dingin gratis diminum di tempat 🙂

IMG_1804
Pilih-pilih menu
IMG_1806
Minum green tea dingin setelah perjalanan panjang. Nikmaattt….

Sampe di hotel, makan berdua sambil cerita2 soal tontonan-tontonan masa kecil saya dan bapak Abink. Termasuk Doraemon, candy-candy, conan, satria baja hitam, dll. Kunjungan ke Fujiko F. Fujio hari itu bener-bener bisa bikin saya senyum terus sepanjang hari. Mungkin malam itu saya tidur-pun sambil senyum 🙂

A Reminder: Keep Your Feet on the Ground and Keep Reaching for the Stars

SONY DSC
Be like a duck. Stay calm on the surface, but paddle very hard underneath

“Asal nya dari mana?”  “ambil (kuliah) apa di sini?” dan “Kerja apa/dimana di Indonesia?” mungkin adalah pertanyaan-pertanyaan yang paling sering saya (dan teman-teman lain) terima waktu pertama kali kenalan dengan sesama orang Indonesia (di luar negeri). Waktu saya jawab saya dari Malang dan sedang menyelesaikan sekolah S3 saya di sini (New Zealand), mungkin sebagian besar kenalan baru saya mengira saya adalah dosen/pejabat di Malang. Padahal saya bukan siapa-siapa.Kalau kata Cita Citata “Aku mah apa atuh” 🙂 Aku cuma Ibu Rumah Tangga, bukan pejabat.

Terus, kalo cuma ibu rumah tangga ngapain sekolah sampe s3 segala? Sekolah kan hak semua orang ya.. Dan saya menganggap ini adalah bagian dari rejeki saya dan keluarga. Saya sebut rejeki karena saya masih ‘mau’ dan semangat untuk sekolah lagi, bapak Abink juga mau support saya 100 %, Alia, keluarga lainnya dan keadaan waktu itu juga sangat memudahkan proses pengambilan keputusan untuk saya sekolah lagi.

Kalau ada yang bilang untuk mendidik anak, diperlukan orang tua yang berpendidikan tinggi, sebenernya saya setengah setuju dengan pernyataan itu. Setujunya hanya setengah lho.. Artinya, orang tua yang tidak berpendidikan tinggi pun saya yakin bisa mendidik anaknya dengan baik juga.

Anyway, kalo ngomongin tentang kenapa saya bisa terdampar di New Zealand dan berjalan sampai sejauh ini, pastinya nggak lepas dari kehendak Allah dan dukungan bapak Abink (dan mama, papa, bapak, ibu juga pastinya). Saya awalnya datang ke New Zealand sebagai bagian dari support group-nya bapak Abink yang lagi sekolah s3 di NZ. Waktu itu, saya ibu-ibu muda beranak satu yang niatnya cuma nemenin suami sekalian liburan panjang ke New Zealand (secara NZ adalah salah satu negara impian saya, selain Swiss, Arab/Mekkah dan Jepang).

Selama setahun penuh saya benar-benar menikmati liburan saya di NZ. Jalan-jalan kesana kemari, anter dan nemenin anak sekolah, aktif di sekolah anak, aktif di kegiatan community, sampe ambil kursus gratis early childhood education dan parenting.

Setelah anak udah agak gede dan udah di sapih, saya mula mikir cari kerjaan. Tapi, karena tujuan saya ke NZ untuk support suami, jadi saya harus cari kerjaan yang nggak mengganggu jam belajar dan kerja suami dan nggak bikin anak terbengkalai juga. Waktu itu bapak Abink sekolah sambil nyambi jadi tutor juga. Berarti, saya harus kerja di pagi hari sebelum suami berangkat ke kampus dan malam/sore hari setelah suami pulang kampus, biar bisa gantian di rumah jagain anak.

Jadilah saya nekat ngelamar kerjaan sebagai early morning cleaner di University of Canterbury (UC). Saya bilang nekat karena rumah saya di Lincoln, sedangkan tempat kerja waktu itu di Cristchurch, jaraknya sekitar 18 km. Ditambah lagi, jam kerja nya mulai dari jam 4 pagi sampe jam 7 pagi. Jadi, karena perjalanan Lincoln-UC makan waktu sekitar 20 menit (18km), saya harus berangkat dari rumah jam 3.30 pagi.

Karena sudah diterima kerja dan  restu bapak Abink sudah di tangan, saya nekat aja nyetir sendirian di pagi buta. Gelap dan dingin….  Apalagi waktu winter.. Saya sempat nyetir di tengah hujan salju yang deres banget (winter tahun 2011). Walaupun waktu itu deg-deg an setengah mati, tapi sekarang jadi pengalaman yang nggak bakal terlupakan.

Mungkin karena nggak tega ngeliat saya nyetir sendiri di pagi buta, bapak Abink ngasih saran untuk cari kerja yang deket-deket aja. Jadilah saya tanya-tanya lowongan kerjaan (jadi cleaner juga) di Lincoln University (LU). Akhirnya saya diterima juga kerja di Lincoln Uni, jadi evening cleaner. Jam kerjanya mulai jam 6 sampe jam 9 malem dan deket rumah. Waktu keterima kerja sore, bapak Abink udah nyuruh-nyuruh saya berhenti kerja pagi, tapi saya nya berhasil meyakinkan bahwa saya bakal baik-baik aja kerja di pagi dan sore hari 🙂 Jadilah saya selama 1,5 tahun menjabat sebagai “floor director” (alias tukang vacuum karpet dan nge pel) di UC dan LU hehehhe.. Capek? Pasti.

Trus gimana ceritanya dari cleaner bisa sekolah? Di awal tahun 2012, saya dan bapak Abink ngobrol-ngobrol soal kemungkinan saya sekolah juga. Terus duitnya dari mana? Kebetulan ada sedikit tabungan dari hasil kerja dan saya harus cari bea siswa. Iseng-iseng saya bikin proposal, dan saya kirim-kirim untuk cari pembimbing. Target kami waktu itu memang daftar di LU atau UC, karena udah tau medan dan nggak jauh-jauh dari bapak Abink dan Alia. LU tanggapannya bagus dan cepet banget. Saya diterima di LU, padahal beasiswa belum di tangan. Karena udah cocok dengan pembimbingnya dan saya juga bisa langsung research (tanpa harus ambil mata kuliah), jadilah kita ‘nekat’ daftar sekolah tanpa beasiswa dulu. Dengan harapan, saya akan dapat bea siswa. PD banget ya…..

Setelah saya jadi student, saya lepas kerjaan pagi saya. Jadi waktu itu status saya adalah PhD student sekaligus cleaner di LU 🙂 Setelah jadi student, saya ngelamar-ngelamar kerjaan jadi riset assistant dan diterima. Saya kerja untuk salah satu dosen di LU. Akhirnya saya lepas kerjaan evening cleaner.

Di hari pengumuman bea siswa yang ditunggu-tunggu, ternyata saya nggak dapet beasiswa yang saya mau. Kecewa pasti, tapi kalau dibandingkan dengan pengalaman dan perjuangan para ‘pejuang beasiswa’ lain penolakan beasiswa ini pasti nggak ada apa-apa nya 🙂 Makanya saya salut banget sama para pejuang beasiswa yang tahan banting, yang walaupun ditolak, masih punya semangat bangkit lagi coba cari yang lain. Toh kita nggak pernah tau rejeki kita datangnya dari ‘sumber’ yang mana. Ya kan?

Waktu itu rasanya Allah memang maha baik dan maha tau apa yang saya butuhkan.. Beberapa hari setelah penolakan beasiswa, saya dihubungi oleh salah satu staff di fakultas. Dia bilang, komite beasiswa LU menawarkan jenis bea siswa lain untuk saya. Saya ditawari ‘teaching assistant scholarship’. Beasiswa dari LU, mereka tanggung uang sekolah saya sampai lulus, tapi saya harus kerja jadi teaching assistant. Alhamdulillah kan.. Saya jadi punya penghasilan untuk hidup (walaupun nggak banyak), dan saya jadi punya pengalaman tutoring sekaligus jadi ‘dosen tamu’ untuk beberapa mata kuliah. Salah satu pengalaman tutoring saya pernah saya ceritakan di sini dan di sini.

Waktu pertama kali menginjakkan kaki saya di salah satu ruang kelas di LU, saya ‘cuma’ sebagai cleaner, tapi 2 tahun kemudian, saya masuk ke ruangan itu dan berdiri di depan untuk tutoring dan lecturing. Saya pernah gagal dapat beasiswa, tapi Allah ganti dengan yang lebih baik untuk saya. Bukan untuk sombong atau jumawa, tapi sebagai pengingat bahwa kita nggak pernah tau apa yang Allah siapkan untuk kita di depan.

Nggak ada gunanya sombong dengan posisi kita yang sekarang, padahal kita nggak tau apa yang akan kita hadapi di depan kita. Nggak perlu minder juga dengan posisi kita sekarang, karena dengan usaha, kerja keras dan doa pasti kita bisa mencapai apa yang kita cita-citakan.

Sekarang, setelah liburan panjang di nz berakhir, studi sudah selesai, dan harus kembali ke kampung halaman, saya masih dan selalu berharap Allah menyiapkan sesuatu yang terbaik buat saya (dan keluarga). Apapun itu, yang penting  jangan lupa selalu bersyukur.

Stay humble. Keep your feet on the ground and keep reaching for the stars.

381352_2594466454300_97717243_n
Kaikoura Beach, NZ, 2011

Berburu Sekolah

Alia Kolase

Anak kecil yang dulu lahirnya cuma 2.6 kg itu udah 6 tahun aja umurnya. Tahun ini mau masuk SD. Anaknya sih biasa-biasa aja mau masuk SD, tapi bapak Ibu nya yang bingung cari-cari sekolah yang cocok buat Alia. Sebenernya pengalaman hunting sekolah buat Alia ini bukan pertama kalinya. Waktu kita baru pulang dari New Zealand sekitar 2 tahun yang lalu juga saya dan bapak Abink lumayan kebingungan nentukan Alia harus sekolah dimana.

Tahun 2013 lalu, kami pulang ke Malang karena bapak Abink udah beres sekolahnya dan harus kembali kerja. Sedangkan waktu itu Alia yang umurnya 4 tahun juga lagi hepi-hepi nya sekolah TK di KidsFirst Lincoln. Punya banyak temen, lumayan sering playdate, dan udah deket sama guru-gurunya. Tapi memang nggak ada pilihan, Alia harus ikut pulang dan pindah sekolah ke Malang. Begitu sampe Malang, euforia liburan cuma terjadi di 2-3 hari pertama aja.  Selanjutnya Alia udah rewel minta sekolah. Salahnya, saya dan bapak Abink nggak punya gambaran Alia mau disekolahin di  mana, karena beberapa saat kami masih di NZ, beberap saat sbelum pulang kami ribet banget ngeberesin rumah ditambah ada kejadian kecelakaan itu 😦

Jadilah kami survey-survey sekolahnya lumayan kilat waktu itu, ditambah tanya-tanya temen yang punya anak seumuran Alia pada sekolah di mana hehehhe 🙂 Waktu itu salah satu kriteria sekolah yang kami cari adalah full day school atau ada day care nya sekalian karena Alia bakal stay di Malang sama Bapak Abink aja sementara saya harus balik lagi ke NZ. Kriteria lain untuk calon sekolah Alia adalah bersih, aman dan harus bikin anak happy sekolah di situ. Nggak muluk-muluk. Jadilah kami survey beberapa sekolah:

1. TK BA Restu. Waktu itu kami survey sekolah sekitar bulan April dan kebetulan TK ini udah buka pendaftaran. Kami nggak sempat survey liat-liat sampe ke dalem2nya karena pas itu hari sekolah dan sekolah rame sama calon2 murid baru yang antri ambil formulir. Kami juga sempat beli formulirnya yang cukup mahal harganya sekitar Rp 200.000 kalo nggak salah. Cuma sebentar di sana, di jalan pulang saya tanya Alia mau nggak sekolah di situ? ALia jawabnya ” No. Too crowded”. Memang sih BA Restu ini salah satu TK favorit di Malang. Kalo liat guru-gurunya keliatan kalo udah berpengalaman (udah setengah baya). Saya dan bapak ABink juga kurang sreg karena terlalu banyak murid dan nggak ada day care ditambah lagi mereka nggak mau terima murid baru secepatnya. Harus tunggu tahun ajaran baru. Akhirnya, walaupun formulir udah dibeli, Alia nggak jadi deh sekolah di sana.

2. TK Anak Saleh. 

TK anak saleh ini lumayan masih baru. Ada day care nya juga dan lokasinya dekat rumah kami. Waktu kami survey ke sana belum dibuka pendaftaran murid baru dan kami sempat masuk untuk lihat-lihat ke dalam ruangannya. Bagusnya TK anak saleh ini sekolah islam yang tentunya udah ada pelajaran agama dan mengaji untuk anak-anak. Tapi uang pangkalnya lumayan mahal (untuk ukuran kota Malang)  sekitar Rp 6.000.000 dan lagi-lagi nggak bisa terima murid baru di tengah tahun ajaran. Padahal Alianya waktu itu udah pengen banget masuk sekolah dan di tambah lagi kami kurang sreg sama “suasana” day care nya. Nggak jadi deh Alia sekolah di sana..

3. TK Palm Kids 

Kami survey TK Palm Kids yang di Perumahan Permata Jingga, cukup dekat dengan rumah kami. Waktu datang ke sana, Alia kelihatan happy dan bilang mau sekolah di situ. Mungkin karena muridnya nggak terlalu banyak. Di Palm kids anak-anak belajar pake 2 bahasa. Bahasa indonesia dan bahasa inggris. Kalau nggak salah ada tambahan bahasa mandarinya segala (cmiiw). Walaupun di palm Kids mau menerima murid baru di tengah tahun ajaran, tapi sayang kelasnya sudah penuh untuk yang di permata jingga, dan lagi sekolah nya cume sampe jam 11 an. Artinya kami harus cari day care lagi untuk Alia sepulang sekolah. Repott….

4. TK Brawijaya

TK ini berada di lingkungan Universitas Brawijaya dan ada day care nya juga. Waktu itu bapak Abink pengen banget Alia sekolah di sini biar kalo pas lagi istirahat atau lagi senggang, bapaknya bisa nengokin Alia di daycare 🙂 Dari segi biaya juga terjangkau. Waktu itu ALia udah rewel banget minta masuk sekolah karena beberapa hari cuma survey-survey aja tapi nggak masuk-masuk sekolah hehehhe… Tapi saya sebenernya agak nggak sreg sama pengamanan’nya karen pas kami ke sana pager sekolah dibiarin terbuka dan halamannya langsung ke jalan besar. Akhirnya pending dulu dan coba liat sekolah yang lain.

5. See Me Grow

Tau TK ini dari temen yang anaknya juga sekolah di sana. TK ini baru dibuka di tahun 2012. Jadi waktu itu masih baru banget, belum pernah ada murid yang lulus 🙂 Waktu pertama kali ke sana kesan pertama yang saya tangkap sekolah ini hommy dan bersih banget. Tanya2 soal day care nya juga saya udah langsung cocok dan Alia bilang mau sekolah di situ. Akhirnya hari itu juga langsung daftar di sekolah itu. Uang pangkalnya juga murah waktu itu cuma sekitar  Rp 2.500.000. Tapi uang bulanan + day care nya memang lebih mahal dari sekolah-sekolah lain yang kami survey. Tapi nggak apa2  lah, yang penting anak nya hepi dulu 🙂

Jadilah besok nya Alia langsung masuk sekolah (tanpa day care selama beberapa hari) untuk adaptasi. Proses adaptasi Alia di sekolah baru juga cukup baik, nggak begitu menguras airmata. Walaupun ada drama-drama kecil soal bahasa, kebiasaan di dalam kelas dll.

Di beberapa hari pertama Alia sekolah, teachernya bilang kalau Alia nggak malu-malu tanya sama teacher arti kata-kata yang diomongin temen2nya. maklum, waktu itu Alia masih belum lancar ngomong bahasa Indonesia. Untungnya See Me Grow belajarnya pakai 2 bahasa. Bahasa Indonesia dan bahasa inggris yang membantu proses adaptasi Alia di lingkungan baru.

Adaptasi Alia dari Lincoln Kidsfirst ke See Me Grow lumayan lancar, walaupun setelah beberapa hari ada drama-drama nggak mau sekolah. Ceritanya, selama di Lincoln anak-anak nggak pernah dipaksa untuk belajar nulis atau duduk belajar di kelas, sedangkan di Indonesia anak TK udah harus duduk di kelas belajar nulis, baca, menggunting dll. Karena Alia masih belum terbiasa duduk lama di kelas dan nulis nya juga belum lancar, dia hampir selalu selesai paling akhir kalo pas pelajaran nulis. Suatu hari, waktu temen2 seklasnya (yang cuma 8 orang) udah selesai nulis, alia masih belum slesai. Sama teacher, temen2 diminta kasih semangat ke Alia, tapi mungkin karena Alianya grogi jadinya Alia nya malah nangis.. tapu setelah dikasih pebgertian akhirnya acara nangis di kelas udah bisa diatasi.

Alia pulang ke indonesia waktu itu di bulan April dan langsung masuk sekolah di tengah2 tahun  ajaran. Tadinya saya dan bapak Abink maunya Alia nggak usah lanjut ke TK B dulu, karena takutnya anaknya belum siap. Tapi setelah kinsultasi sama bu guru akhirnya diputuskan Alia tetel naik ke tk b walaupun cuma belajar 2 bulan di tk a. Pertimbangannya, selai  karena anaknya mampu ngikutin pelajaran, kami juga nggak mau dia jadi minder karena ditinggal naik kelas sama teman2 lainnya. Begitu juga setelah di tk b, kami memutuskan kali Alia ikutan di wisuda walaupun umurnya masih belum cukup. Lulus dari tk See Me Grow, Alia nggak langsung masum sd tapi pindah ke TK yang lain yang kami rasa sesuai kebutuhan kami (dan Alia) selanjutnya. Karena kami rasa daptasi dengan lingkungan  di Indonesia sudah oke, jadi kali ini kami nggak lagi cari sekolah bilingual buat alia.

Nggak terasa, Alia udah hampir lukus tk (lagi).. Tapi kali ini kami harus cari sd yang cocok buat Alia (dan bapak ibunya). Proses cari sd buat Alia ini juga lumayan menguras emosi ibunya (kalo bapaknya lebih tenang). Lumayan bikin ibunya berasa jadi abg labil karena bingung mau daftar sekolah yang mana. Sekolah A oke, tapi kayaknya sekolah B lebih bagus.. Browsing2, kepincut sekolah c yang yahud. Duhh… harus shalat istikharah dan ngobrol2 lagi sama bapak abink tentang apa harapan dan kebutuhan kita untuk sekolah anak.. cari sekolah  harus sesuai kebutuhan kaann?!

Makanya sebelum balik ke nz, saya benar benar memanfaatkan waktu yang ada untuk survey sekolah Alia. Mudah2an sekolah alia nanti bisa bantu saya dan bapak Abink untuk mengarahkan Alia jadi anak yang selalu ingin belajar, santun dan solehah. Aamiin…..