Tentang Lagu Anak-anak

Punya anak kecil pasti harus selalu update dengan lagu anak-anak. Salah satu lagu anak-anak yang saya nyanyiin sejak Alia masih bayi adalah lagu ‘Oh Amelia’ ciptaan Pak AT Mahmud. Tapi saya suka ganti liriknya menyesuaikan nama Anak, menyesuaikan suasana atau menyelipkan harapan saya sebagai ibu nya Alia. Jadi liriknya setiap nyanyi bisa beda-beda dan kadang agak ‘narsis’ hehehe…  dan judul lagunya pun ikutan diganti sama Alia jadi ‘Oh kakak Alia’. Sampe sekarang kalau Alia lagi nggak bisa bobok atau lagi nggak enak badan dia kadang minta di puk-puk sambil dinanyiin lagu ‘Oh Kakak Alia’. Misalnya kayak gini nih liriknya :

Oh kakak Alia, anak pintar, anak solehah..

Selalu gembira, riang slalu sepanjang hari

Oh Kakak Alia, anak sopan anak yang cerdas..

Dimana-mana, kakak Alia temannya banyak.

Begitu ALia agak gede, umur setahunan, saya mulai mengenalkan Alia sama Barney. Jadi pas pindahan ke NZ, saya sengaja bawa VCD Barney banyak banget, dan para kakek neneknya juga sering ngirim VCD Barney buat Alia dan makanan buat bapak ibunya. Kenapa barney? karena banyak lagu-lagu yang bagus-bagus dan gampang diikutin iramanya. Jadilah, bukan cuma Alia yang nge-fans sama barney, tapi saya dan bapak Abink juga apal banget sama lagu-lagu Barney 🙂

Begitu lebih gedean lagi, Alia mulai suka nonton acara anak-anak di TV, tetep yang banyak lagu-lagunya kayak Tiki Tour Bus, Blue’s Clues, dan the Wiggles. Karena Tiki Tour dan Blue’s Clues lagunya susah untuk diikutin, jadilah Alia lebih suka nonton the Wiggles, dan mulai minjem-minjem CD the Wiggles dari Library.

Sebenernya, awalnya Alia nggak begitu suka nonton the Wiggles, saya jug agak-agak aneh liat 4 bapak-bapak nyanyi lagu anak-anak sambil joget-joget 🙂 tapi lama kelamaan jadi suka dan apal lagu-lagunya. Bahkan, waktu the Wiggles konser di Christchurch kami sempetin buat nonton.

The Wiggles2
Farewell Concert di CBS Canterbury Arena-Christchurch

Begitu Alia umur 6 tahunan, saya pikir harus cari tambahan referensi lagu anak-anak buat Alia, terutama yang berbahasa Indonesia. Di ulang tahun Alia yang ke 6, saya sengaja nyari CD lagu anak-anak buat kado ulang tahun Alia. Saya coba cari lagunya Tasya, Sherina, sampai lagu-lagu ciptaan Pak Kasur atau Ibu Sud. Tapi susah banget dapetinnya 😦 akhirnya nemu kumpulan lagu anak Indonesia sepanjang masa, tapi kualitas rekaman dan penyanyi nya nggak menarik dan nggak sesuai harapan. Alia juga nggak enjoy dengernya. Karena susah dapet lagu anak-anak yang cocok, dia jadi suka denger lagu-lagu remaja dan dewasa yang dinyanyiin sama BTR atau One Direction 🙂 Lagunya emang enak-enak sih, tapi saya masih pengen selain denger lagu-lagu dewasa/remaja, Alia juga denger lagu anak-anak yang sesuai umurnya.

Sampai tahun lalu, saya denger lagu anak-anak yang dinyanyiin sama Naura, anaknya Nola B3. Begitu Alia denger lagu-lagunya, dia langsung suka, dan nggak berhenti dengerin lagu-lagu Naura. Sejak saat itu, Alia jadi nge-fans banget sama Naura. Kadang saya biarin aja dia nonton Naura TV, update kegiatan-kegiatan Naura 🙂 Alia paling seneng liat Naura pas latihan Gymnastic. Emang dasarnya dari kecil Ailia udah suka jungkir balik, jadinya dia suka pengen ikut2an. Sampe pernah dia bilang pengen ikutan les gymnastic. Tapi, saya belum nemu ada Gymnastic club di Malang buat anak-anak. Alia juga pernah bilang kalau Alia pengen ke Lincoln lagi, karena dia inget dulu pernah ikutan Gym class, trus disekolahnya juga ada monkey bars jadi bisa latian. Duh nak, berat diongkos dong kalau ke Lincoln cuma buat ikutan Gym class  😀

Bulan lalu, Naura ngeluarin album ke dua yang bisa dibeli di toko Ayam goreng. Pastinya saya langsung beli, takut keabisan. Jadilah selama beberapa minggu ini, CD Naura Album 1 tergantikan oleh Album ke 2. Tapi saya dan bapak Abink nggak ada yang protes, karena kam juga suka lagu-lagunya 😀 Happy banget, akhirnya ada lagi lagu anak-anak yang berkualitas, liriknya bagus-bagus dan dinyanyikan secara indah dan “serius”. Ayo dong Naura, bikin konser di Malang nanti pasti Alia nonton deh!

Ujian Thesis Doctoral ala New Zealand University (2) : via Video conference

SONY DSC
Saat menghadiri Wisuda tahun lalu. Sayangnya bukan saya yang diwisuda 🙂

Delapan April 2016 adalah hari wisuda di Lincoln University (LU). Saya seharusnya bisa diwisuda bersama kawan-kawan lain di LU, tapi saya memilih “Graduate in Absentia” karena kondisi yang ngggak memungkinkan untuk saya datang ke NZ.

Kalau sekitar 3 tahun yang lalu Bapak Abink sudah pernah cerita dengan Judul yang sama di sini tentang bagaimana ujian doktoral di Lincoln University, kali ini saya bawa cerita ujian yang sedikit berbeda dengan pengalaman bapak Abink 3 tahun lalu.

Begitu saya submit thesis, dan menyelesaikan kontrak kerja, saya langsung balik ke Indonesia. Meja kerja sudah saya kembalikan ke bagian administrasi untuk bisa dipakai oleh orang lain. Tapi, saya masih pakai locker saya untuk simpan beberapa barang yang kira-kira saya butuhkan kalau balik lagi NZ untuk ujian. Waktu itu memang rencananya saya bakal balik ke LU untuk ujian sekitar akhir tahun 2015 atau awal tahun 2016. Bahkan saya masih nitip koper isi baju dll di rumah seorang teman. Tapi, lagi-lagi kita cuma bisa berencana, tapi Allah siapkan rencana lain buat saya. Karena waktu itu nggak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh, saya harus rela ujian jarak jauh, lewat video conference. Waktu itu rasanya kecewa, karena waktu pulang ke Indonesia saya sama sekali nggak ada persiapan untuk ninggalin NZ untuk waktu yg belum ditentukan. Saya kira bakal ketemu NZ lagi dalam 4-6 bulan setelah kepulangan saya ke Indonesia. Tapi, karena terbang ke NZ lagi adalah pilihan terakhir, akhirnya saya pasrah aja, ngurus ujian jarak jauh ini biar jadi lancar..

Proses setelah submit thesis sampai ujian, kurang lebih hampir sama dengan pengalaman Bapak Abink. Tapi, entah kenapa waktu tunggu saya lebih lama. Saya harus nunggu sekitar 5 bulan sampai saya dapat email panggilan untuk ujian. Mulai tahun ini LU punya kebijakan baru mengenai ujian thesis doktoral. Kali ini, pembimbing tidak ikut andil dalam penilaian. Tugas pembimbing sudah selesai sampai kita submit thesis kita untuk dinilai oleh examiners. Artinya keputusan layak atau tidaknya sebuah thesis untuk mengantarkan seorang candidat doktor untuk menyandang gelar Doktor hanya berada di tangan para penguji. Kebijakan baru ini bikin saya lebih deg-deg an, karena thesis saya akan dinilai oleh orang-orang yang saya sama sekali nggak tau siapa aja mereka.

Tapi, dibalik kebijakan LU yang bikin deg-deg an, ada juga kebijakan lain yang menurut saya menguntungkan student. Ketika kita terima email yang menyatakan bahwa thesis kita layak untuk diuji secara oral, kita juga bakal langsung dapat review yang ditulis oleh para examiners. Jadi, kita udah tau kelebihan dan kelemahan thesis kita di mata examiners. Jadi kita bisa siap-siap buat oral examinationnya nanti.

Thesis examination melalui video conference sebenarnya belum biasa dilakukan di Lincoln University. Untuk bisa ujian jarak jauh, saya harus mengirimkan surat dokter yang menyatakan bahwa saya tidak direkomendasikan untuk terbang ke NZ.

Beberapa minggu sebelum hari ujian, saya sudah lumayan intens komunikasi dengan postgrad administrator dan convenor mengenai apa aja yang harus dipersiapkan untuk ujian jarak jauh dan juga mengatur jadwal yang cocok untuk saya yang di Indonesia, supervisor & convenor di NZ dan examiner di Australia. Selanjutnya, untuk memastikan koneksi internet dan komunikasi lancar, saya sempat 2x melakukan percobaan teleconference. Yang pertama, hanya berdua dengan convenor, dan yang selanjutnya rame-rame sama IT personnya LU, Postgrad Administrator, dan examiners.

Ujian thesis waktu itu jatuh di Hari Selasa, jam 9 pagi WIB, jam 3 sore waktu NZ, jam 1 siang waktu Australia. Saya udah siap dari pagi, saking deg-deg annya 🙂 Udah stand by di depan laptop 15 menit sebelum jam 9. Ujiannya sendiri berlangsung selama 45-60 menit aja. Dimulai dengan presentasi dari saya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Alhamdulillah, examiners  saya lumayan gampang ‘dipuaskan’ dengan jawaban-jawaban saya. Setelah sesi tanya jawab berakhir, teleconference dengan saya diputus supaya supervisors, convenor dan examiner bisa diskusi mengenai hasil ujian. Saya tinggal menunggu convenor menghubungi saya untuk bergabung lagi. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, akhirnya saya dihubungi dan diyatakan lulus. Yeaaayyy Alhamdulillah…

Viva

Intinya, ujian secara langsung atau melalui video conference ada plus dan minusnya. kalau ujian langsung komunikasinya pasti lebih lancar, diskusi mengenai revisi (kalau ada) juga bakal lebih jelas. Tapi kelemahannya, kalau udah pulang ke Indo harus ngeluarin biaya banyakk 🙂

Kalau ujian lewat video conference lebih banyak yang harus dipersiapkan, terutama konekasi internet yang stabil. Pre-test juga penting banget dilakukan beberapa hari sebelum ujian. Persiapan video conference nya sendiri sebenernya nggak begitu ribet karena kita tinggal tunggu undangan Skype meeting (Lync) dari postgrad adminstrator atau IT person. Tinggal klik-klik untuk instal dll aja.

Yang terpenting untuk ujian langsung maupun video conference adalah persiapan, baca lagi thesisnya, yakin aja kalau kita adalah orang yang paling tau tentang apa yang kita tulis selama 3 tahun terakhir. Dan jangan lupa banyak berdoa..

Daylight Saving

Edisi kangen NZ, bertepatan dengan berakhirnya daylight saving time untuk NZ dan sekitarnya 🙂 Buat yang di New Zealand jangan lupa mundurin jamnya sejam, and enjoy the lie-in!

keluargahussein.com

pic from http://www.coloring.com

Daylight saving ends today. Jarum jam harus dimundurin sejam. Karena nggak punya jam dinding, jadi tahun ini saya nggak perlu muter-muter jarum jam. Laptop dan HP pun udah otomatis menyesuaikan jadwal daylight saving.

Dulu waktu jaman-jaman bapak Abink masih kuliah di Australia (sekitar 2006an), saya suka bingung kenapa perbedaan waktu antara Indonesia-Australia berubah-ubah. Kadang beda waktunya 4 jam, trus beberapa bulan kemudian jadi beda 3 jam. Setelah saya browsing-browsing, ternyata karena daylight saving 🙂 Walaupun di beberapa wilayah australia nggak ada daylight saving, waktu itu bapak Abink tinggal di wilayah Australia yang kena dayight saving.

Dari 82 negara di dunia, ada sekitar 73 negara yang memberlakukan daylight saving time (DST). Pastinya ke 73 negara itu yang tidak berada di sekitar garis kathulistiwa. Kalo negara di sekitar garis khatulistiwa kan  jadwal terbit tan tenggelamnya matahari relatif nggak berubah ya. Siang 12 jam, dan malam 12 jam juga.

pic…

View original post 383 more words

Academic Trip: Kuala Lumpur – Kuantan (2)

Sehari di Kuala Lumpur kami habiskan cuma untuk jalan-jalan santai di sekitar hotel dan reunian dengan teman lama, ditutup dengan lunch istimewa di Nando’s.

Ambil koper di hotel, langsung nyari taksi untuk lanjut ke bandara. Waktu sopir taksinya tau kalau kami mau ke Kuatan, dia bilang kalau ke Kuantan mending naik mobil aja, paling 3 jam juga nyampe.. hehehehe… Kita emang udah niatin naik pesawat aja ke Kuantannya, walaupun terbangnya cuma 45 menit 🙂

Sampai Kuntan, kami dijemput teman kuliah waktu di Lincoln dulu, yang kebetulan tinggal di Kuantan dan beliau juga jadi panitia conference yang kami hadiri. Setelah makan malam, Langsung diantar ke hotel untuk istirahat. Di Kuantan kami nginap di SwissBell Garden Resort Hotel, tempat diadakannya conference. Sengaja pilih di situ biar deket sama tempat conference dan kebetulan hotelnya punya akses langsung ke pantai. Ditambah lagi playground dan kolam renang anak-anak nya cukup luas, walaupun, bangunan dan interior kamarnya udah keliatan tua..

kuantan 2

Sebenernya saya dan bapak Abink punya jatah masing-masing satu kamar, tapi karena nggak pengen ‘pisah ranjang’ dan Alia masih nggak mungkin bobok beda kamar sama kami, jadi saya minta satu kamar aja buat kami, tapi minta upgrade ke family room 🙂 Sebelum berangkat, urusan upgrade kamar sebenernya udah beres lewat email. Tapi nggak tau kenapa waktu kita check in, kamar yang dijanjikan belum siap. Jadilah kami dikasih dua kamar, dan dijanjikan untuk pindah ke family room besoknya. OK deeehh….

Hari ke-2 di Kuantan, diisi oleh conference seharian. Di acara pembukaan dan sesi hari pertama ini kami sengaja ajak Alia karena nggak pengen absen, tapi saya ngalah, duduk di belakang aja nemenin Alia. Pas break makan siang, kami sengaja nggak makan di tempat conference karena pengen liat-liat kota Kuantan sekalian makan siang di luar aja. Akhirnya pesen taksi, muter kota Kuantan. Kuantan ini kota pantai di Pahang. Feel nya kayak di Banjarmasin. Ya panasnya, ya suasanya, mirip Banjarmasin. Cuma memang kota Banjarmasin keliatan lebih gede dan lebih rame kotanya.

Setelah puter-puter kota, trus diantar sama pak sopir taksi nya ke East Coast Mall, mall terbesar di kuantan untuk makan siang. Cari-cari foodcourt nggak ketemu, akhirnya kami pilih makan di warung ayam aja, mesen 2 paket Nasi Ayam yang ternyata enaaaakk dan lengkap banget. Nasi ayam Hainan ini juga favorit bapak Abink setiap ke Singapore/Malaysia, selain es Bandung 🙂

kuantan7

Setelah makan siang kami langsung balik ke hotel lagi untuk ikut conference sesi selanjutnya. Kebetulan saya dan Bapak Abink kebagian presentasi di sesi terakhir conference hari pertama ini. Saya dan bapak Abink di track yang sama, dan Bapak Abink didaulat sebagai chair person di sesi ini. Karena kami presentasi di sesi yang sama, jadilah Alia harus ikut lagi ke dalam ruangan conference. Begitu kami masuk ruangan semua langsung liat ke Alia dan bilang kalau Alia adalah peserta termuda di conference ini 🙂 Lagi-lagi saya memilihkan tempat duduk paling belakang untuk Alia, dan saya menemani disebelahnya. Untungya lagi conference kit-nya ada highlighter warna-warni yang bisa Alia pakai untuk gambar dan mewarna. Alhamdulillah selama conference dan selama bapak Ibu nya presentasi Alia nggak rewel, dan nggak ribut sama sekali. Malah dia inisiatif untuk foto-fotoin saya pas presentasi 🙂

kuantan3

kuantan8

Hari ke-3 di Kuantan, setelah subuh kami langsung ke pantai.. main-main sebentar trus lanjut sarapan. Tapi ternyata setelah sarapan, Alia nagih ke pantai lagi. Ya udah deh, akhirnya saya nemenin Alia main di pantai dan terpaksa absen di sesi terakhir conference. Sementara bapak Abink lanjut conference, saya nemenin ALia main pasir lanjut berenang di kolam renang. Pantainya menurut saya biasa aja, tapi sepiii dan ombaknya nggak besar, enak buat main. Cuma panasnya itu lohh bikin nggak kuat main lama-lama..

kuantan5

Setelah puas main di pantai, saya cuma main di sekitar hotel berdua Alia karena bapak Abink ada undangan untuk ngasih kuliah tamu di University Malaysia Pahang (UMP). Karena conference sudah slesai dan bosen juga stay di hotel, akhirnya saya ajak Alia nge-mall lagi 😀 dan janjian sama bapak Abink di East coast mall (lagi). Karena udah makan siang di hotel, jadilah kami cuma beli manisan aneka buah buat saya, dan es krim buat Alia.

kuantan 4

Hari ke-3 Malamnya, kami janjian sama beberapa teman kuliah di Lincoln yang sekarang tinggal di Pahang untuk makan malam bareng.

Kuantan1
Photo courtesy of kak Maz

Malam terakhir kami di Kuantan terasa spesial, selain karena dinner pakai menu spesial, tapi juga karena makannya rame-rame sama teman dan tetangga di Lincoln dulu.

Perjalanan ke KL dan Kuantan kali ini walaupun cuma sebentar, memang kami niatkan untuk conference, jalan-jalan keluarga dan menyambung silaturahmi dengan kawan lama. Alhamdulillah semua tercapai 🙂

 

Academic Trip: Kuala Lumpur – Kuantan (1)

Di bulan Oktober lalu, saya dan bapak Abink berkesempatan menghadiri dan berpartisipasi di Internasional conference di Kuantan, Malaysia. Ceritanya, ini conference perpisahan sebelum saya lulus dari Lincoln University. Sengaja cari yang deket rumah karena research budget udah menipis dan nggak kepengen nombok hehehhe..

Academic trip ke Kuantan kali ini agak luar biasa, karena kami bawa anak kecil. Iya, Alia ikut nemenin bapak ibunya conference. Awalnya ragu sih, bawa anak kecil ke conference. Tapi setelah tanya sama panitia dan bikin beberapa kesepakatan sama Alia, akhirnya kami putuskan untuk ajak Alia.

Persiapan pergi kali ini memang agak lebih ribet karena saya dan bapak Abink dibiayai oleh instansi yang berbeda, ditambah Alia yang harus bayar dari kantong pribadi. Proses beli tiket, sinkronisasi penerbangan dan tempat duduk perlu effort sedikit 🙂 tapi ya udah lah ya, karena udah diniatin jadi ya dijalani aja. Toh tinggal angkat telepon dan buka internet 🙂

Karena bawa Alia, kita sengaja nambah 2 hari dari jadwal konferens untuk santai-santai. Sebenernya kami nggak menjadwalkan kemana-mana selama di Kl dan Kuantan kali ini. Niatnya cuma untuk conference sekaligus refreshing bertiga. Jadi ngapain aja kita selama di KL dan Kuantan?

DAY 1. KL – Suria KLCC Mall, Bukit bintang & Mini Reunion

Kami berangkat pakai pesawat pagi dari Surabaya ke KL. Sampai di KL,langsung naik taksi ke Dorsett Regency Kuala Lumpur. Alhamdulillah udah bisa langsung cek in. Abis cek ini, kami langsung cuss jalan-jalan ke sekitar bukit  bintang, cari makan siang.. Males yang ribet-ribet, kami akhirnya makan di Food Republic di dalem Pavilion mall aja. Tau nggak apa yang dicari pertama kali sama bapak Abink? Dia cari es Bandung, rose syrup yang wanginya khas ituu…

Abis makan siang, ada insiden Alia mimisan banyaakkk banget, sampe  agak panik karena mimisannya nggak brenti-brenti. Cuaca hari itu memang panasss banget, ditambah capek dan minum es bandung. Akhirnya istirahat bentar di dalem mall, sambil nyusun rencana selanjutnya. Biar nggak terlalu capek, akhirnya kita putuskan untuk ke toko buku Kinokuniya di Suria KLCC mall siang itu naik GO-KL. GO-KL ini free bus yang berhenti dibeberapa titik. Untuk ke Suria KLCC mall, naik yang  green line. Halte GO-KL ini di sekitar  Pavillion mall aja, jadi kami nggak perlu jalan jauh lagi.

Abis hunting buku, kami jalan-jalan aja di dalem mall, dan minum es Bandung lagi 😀 tapi kami nggak lupa untuk poto-poto narsis ala tourist di petronas twin towers juga.. Sayang hari itu KL ditutupi kabut asap yg cukup tebal 😦

KL3

Selain jalan-jalan santai dan hunting buku, agenda kami hariitu adalah ketemuan sama salah satu temen Bapak Abink sewaktu kuliah di Lincoln dulu. Kami janjian di salah satu spot dekat hotel, di Bukit Bintang. Karena waktu janjian uda makin dekat, kami segera naik GO-KL green line untuk kembali ke Bukit Bintang.

KL1

Setelah makan malam, reunian di lanjut di lobby hotel, karena Alia udah capek dan butuh istirahat 🙂

KL4

DAY 2 KL-

Di hari ke-2 ini, kami rencana jalan-jalan sebentar trus lanjut berangkat naik pesawat ke Kuantan setelah makan siang. Karena nggak begitu jauh dari bukit bintang, kami memutuskan untuk ke Central Market (Pasar Seni) aja. Naik GO-KL lagi, tapi yang purple line.

KL5

Sampe di pasar seni, muter-muter bentar trus lanjut naik ke lantai atas ke 3D Illusion Art Museum. Di 3d museum ini ada sekitar 36 foto plus satu ruangan untuk muter film 3d tentang binatang dimana kita bisa “main” bareng bintang-binatang itu. Lumayan seru sih foto-foto di sana.. Alia juga happy banget..

KL6.jpg

KL7

KL8

KL9

Karena waktu nya udah mepet harus brangkat ke bandara untuk lanjut ke Kuantan, kami segera balik ke bukit bintang dan ngeliat ada Nando’s , resto ayam kesukaan kami waktu di Christchurch. Akhirnya diputuskan makan siang dulu di nandos, ambil koper ke hotel, trus langsung lanjut naik taksi ke bandara. Ada yang udah nggak sabar mau main pasir di pantai Kuantan 🙂

Alia & Ibu : Movie Date

Udah dari berhari-hari yang lalu si anak kecil ngajakin nonton film di bioskop. Zootopia. Setiap ngeliat iklannya di TV, si anak kecil selalu minta nonton.

Alia : ” Ini kan udah Februari, Ibu.. kapan kita nonton Zootopia”

Ibu : “Iya nanti ya kak, kalau ada waktu dan ada rejeki kita nonton ya”

Alia : “Janji yaa..”

Akhirnya, kemaren abis jemput Alia ekskul nari di sekolah saya sengaja bawa sandal Alia di mobil. Tadinya mau ajak Alia nge-date berdua makan es krim aja, tapi di jalan kepikiran pengen bikin surprise kecil buat Alia. Sengaja minggirin mobil bentar, trus browsing bioskop mana yang lagi muter film Zootopia, sekalian liat jam tayangnya. Ternyata ada yang main jam 3.15, saya pikir cukuplah waktu untuk ngejar sebelum jam 3.15 sampe sana.

Waktu Alia dikasih tau kalau kita mau nonton Zootopia berdua hari ini, dia seneng banget.. Walaupun dengan catatan dapet parkir, dapet tiket dan ada beberapa kesepakatan kecil sama Alia 🙂

Sampe sana, Alhamdulillah dapet parkir. Tapi, pas mau beli tiket ternyata saya salah liat jam tayang, film nya bukan jam 3.15 tapi jam 13.15. Duh, udah telat banget berarti! Ada lagi baru jam 5 an. Tadinya saya bilang ke Alia nggak usah nonton hari ini. Tapi ALia pengen banget nonton, dan karena udah nyampe tempatnya juga dan Alia oke aja untuk nunggu sekitar 2 jam an, ya udah lah kita beli tiket yang jam 5 itu. Sembari nunggu, kita makan siang dulu di resto fast food favorit anak-anak. Heran juga saya kemaren Alia mesen fish burger plus kentang dan milo, dimakan sampe abis…. Biasanya Alia selalu nyisa kalau makan burger, apalagi pake kentang goreng..

Abis makan, kita mau sholat Ashar di masjid besar depan gedung bioskopnya. Tapi mendungnya gelap banget, takutnya ujan trus nggak bisa balik ke gedung bioskopnya. Tapi Bismillah aja, nyebrang lewat Alun-alun Malang ke Masjid Jami’ yang sungguh adem itu.. Abis sholat kita buru-buru nyebrang lagi ke mall tempat gedung bioskopnya. Sebenenrya Alia minta nunggu nya di Alun-alun aja, sambil liat burung katanya. Tapi karena mendungnnya udah menggantung jadi dia oke aja, waktu saya bilang tunggu di mall aja. Daripada nggak jadi nonton ya Kak?

12814539_10207192553065519_2310788192682237127_n
Masjid Jami’ Malang (foto diambil beberapa minggu yg lalu) 

 

10660125_10207192553745536_9048908420697895865_n
Alun-alun Malang (foto diambil beberapa minggu yg lalu)

Film nya masih sekitar sejam setengah lagi. Kita nunggu di Lounge gedung bioskopnya sambil nyeruput ice green tea latte berdua. Main tebak-tebakan, main orang-gajah-semut, becanda-becanda, cerita-cerita.. Bener-bener berasa nge-date nya 🙂 Alia sama sekali nggak rewel (walaupun nanya jam tiap 5 menit sekali).

Akhirnya, pas pintu theater udah dibuka, kita cepet2 masuk ke dalem, dan begitu film dimulai, si anak kecilnya langsung asik nonton sambil ngemil popcorn. Trus film nya gimana? Film nya bagusss pake banget! Kata ALia, dia paling suka part yang pas Nick the Fox jadi liar. Trus part yang paling lucu menurut Alia adalah part yang ada Sloth-nya 😀 Besokannya Alia langsung minta search di yutub tentang Sloth, the slowest mammal on earth.

Intinya, nggak rugi nge-date berdua Alia kemaren. Walaupun capek, tapi semua terbayar. Anaknya senang, Ibu nya happy.. Bapaknya? Bapaknya kebagian cerita dan foto-fotonya aja plus ngeluarin duitnya 🙂

Lebaran Kali Ini (2015 M/1436 H)

Selamat lebaran, selamat idul fitri buat semua… Mohon maaf kalau ada sala-salah kata dan prasangka. Semoga Ibadah ramadhan kita diterima Allah SWT dan dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya. Aamiin…

Lebaran kali ini masih sama seperti lebaran lima tahun sebelumnya, saya merayakan jauh dari kampung halaman. Lebaran di New Zealand lagi, yang berarti ini tahun ke-6 saya lebaran di NZ. Bedanya, kalau tahun lalu Bapak Abink dan Alia ada rejeki berlebaran ke NZ, tahun ini kami lebaran masing-masing.

Tahun ini, karena merasa bakal jadi lebaran terakhir di NZ, saya benar-benar menikmati suasana ramadhan dan lebaran di sini. Walaupun sahur dan buka puasa seadanya ala anak kos dan shalat tarawih di Musholla sederhana di kampus, rasanya tetap nikmat..

Jamaah Putri Sholat Idul Fitri di Musholla Lincoln University
Jamaah Putri Sholat Idul Fitri di Musholla Lincoln University

Cuma malam takbirannya aja yang berasa sepi banget di sini.. Selama 6 kali ramadhan di sini, saya cuma ngalamin satu kali malam takbiran yang mirip di Indonesia. 2 tahun yang lalu, waktu komunitas muslim Malaysia masih banyak di Lincoln, kami muslim dari Indonesia bergabung dengan komunitas pelajar muslim Malaysia untuk takbiran bareng di Musholla. Rasanya mak-nyess banget waktu itu..

Tahun ini, di hari terakhir puasa saya pergi jalan-jalan dan pulangnya sengaja mampir ke Masjid AnNuur di kota untuk shalat maghrib, isya sekaligus takbiran. Abis sholat Isya berjamaah, saya iseng nanya sama Aunty-aunty orang Mesir apa ada takbiran di masjid Annur? Kata beliau bakal ada takbiran, bentar lagi… Seneng banget saya… Ternyataa takbirannya cuma dibaca sekali doang…. satu putaran takbir, terus udah… Kecewa sih, tapi ya sudahlah ya 🙂 Alhamdulillah bisa takbiran walaupun cuma sebentar..

Masjid AnNuur Christchurch
Masjid AnNuur Christchurch

Di hari lebaran, teman-teman pelajar di Lincoln dan beberapa dari Canterbury shalat Iedul Fitri di musholla kampus, dilanjut dengan sarapan bersama di rumah salah satu teman. Jangan bayangkan kami sarapan sereal, atau roti a la bule yaa… Kali ini sarapannya istimewa: lontong sayur, rendang, opor, gulai kambing, sampai pempek pun ada!

lebaran 2015Puas sarapan dan haha hihi bareng teman-teman student, kami lanjut berkunjung ke Rumah keluarga Pak lilik dan Bu Nina, dan lanjut lagi ke rumah keluarga Pak Rob dan Bu Yanti. Bu Nina dan Bu yanti ini jago banget masaknya, dan mereka baik-baik banget selalu buka rumah mereka untuk disinggahi selama lebaran. Makan siang di sana masih menu khas lebaran, ditambah tiramisu, tape ketan item + lemang, brownies, kue nastar, kastengel, lengkap lah pokoknya, semua enak! Selain untuk makan-makan, saya juga sengaja menyempatkan diri berkunjung untuk pamit karena tahun ini inshaaAllah bakal jadi lebaran terakhir di NZ. Sekalian silaturahim sama teman-teman Indonesia lainnya yg biasanya juga berkumpul di rumah beliau.

Intinya, lebaran kali ini tetap spesial, walaupun perasasaan lagi campur aduk antara seneng karena tahun depan insyaaAllah bakal lebaran di rumah, tapi sedih juga karna harus meninggalkan New Zealand sebentar lagi. Jadi inget kata seorang teman, hidup dan beribadah di belahan negeri manapun sama aja, karena bumi ini adalah buminya Allah.

Hanmer Springs

Long weekend kemarin Alia bareng keluarga besar bapak Abink jalan ke Jogja.. Mama saya pergi ke Bandung, trus bareng keluarga kakak saya jalan ke Jakarta. Saya? Ngerem aja di ofis, karna buanyaakk kerjaan #curcol. Untuk mengobati rasa rindu jalan-jalan, mending sekarang pasang foto-foto pas jalan bareng temen-temen bulan lalu aja ah.. Mudah2an yang baca masih belum bosen liat foto-foto pemandangan di NZ ya.

Awal April lalu saya bareng beberapa teman student Indonesia di Lincoln jalan-jalan ke Hanmer Springs. Hanmer springs ini tempatnya nggak terlalu jauh dari Lincoln, cuma sekitar 2,5 jam aja naik mobil. Desa kecil yang selalu rame dengan orang-orang yang pengen berendam air panas. Terutama kalo lagi liburan pasti rame banget desa ini.Tempat berendam nya kata saya sih keren, tiap kolam ada keterangan suhu airnya. Jadi, kita bisa pilih mau berendem di kolam yang panas banget, panas biasa, atau yang anget-anget tai ayam kuku aja. Trus, ada kolam arusnya juga, walaupun nggak terlalu gede, tapi lumayanlah untuk main-main pake ban atau pelampung. Di sini, kolam-kolamnya nggak semua di bangun kayak kolam renag modern, tapi ada beberapa kolam yang dibikin alami aja, jadi kayak kita berendem di sungai, bisa duduk-duduk di atas batu. Mereka sebutnya rock pool. Kalau nggak mau berendem bareng banyak orang, bisa juga sewa private pool. Tapi inget, di Hanmer Spring orang dateng untuk berendam ya, bukan untuk berenang, jadi memang dilarang berenang di sana.

Sebenernya kalo nggak mau berendem, di hanmer spring juga bisa naik quad bike, semacam ‘becak-becak fantasi’ yang sepet booming juga di Indonesia itu looh.. Atau, kalau yang suka tantangan bisa juga coba jet boating, rafting atau bungy jumping, atau jalan-jalan aja naik ke atas bukit untuk liat pemandangan dari atas. Atau kalau winter bisa main ski juga di Hanmer Springs.

Kali ini, saya nggak berendam, cuma jalan-jalan aja di sekitar situ, kebetulan pas ada pasar kaget di deket tempat pemandiannya, trus jalan lagi ke taman, ngasih makan bebek. Trus duduk-duduk aja, sambil makan es krim sambil nunggu temen-temen yang pada berendam.. Terus pulang deh….  Tapi saya menikmati banget pemandangan sepanjang jalan.. Perbukitan.. kadang ijo, kadang coklat, kadang banyak sapi kadang ketemu domba.. Lewat perkebunan anggur, sungai, padang rumput… Subhanallah.. Monggo di intip sedikit foto-foto di Hanmer Springs Village dan sepanjang perjalanan.

SONY DSCSONY DSC SONY DSC  SONY DSCSONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC

Liburan Lebaran Manis

10569209_335094483311903_1045622079_n

Udah sebulan lebih nggak nge-blog, walaupun udah masuk akhir bulan Syawal, saya mau bilang Selamat Lebaran dulu buat semuanya ya… Mohon maaf lahir dan batin dari kami sekeluarga..

Kalau lebaran tahun lalu saya sendirian, tahun ini saya nggak sendiri lagi karena 2 orang kesayangan datang jauh-jauh dari Indonesia untuk berlebaran di New Zealand. Sebenernya tujuan awalnya bukan untuk lebaran siih.. Tapi Bapak Abink lagi ada join research dan tugas lain yang mengharuskan untuk datang ke New Zealand. Karena kebetulan waktu kosongnya pas libur lebaran, jadilah sekalian merayakan lebaran di NZ. Jauh-jauh hari setelah tau bapak ABink bakal ada tugas ke NZ, saya udah nitip pesen kalo saya pengen Alia diajak juga.. Awalnya agak ragu sih ngajak Alia karena kami (saya dan bapak Abink) sama-sama punya agenda kerjaan. Setelah menimbang-nimbang akhirnya diputuskan Alia diajak ke NZ dengan beberapa konsekuensi yang sudah kami sepakati bersama.

Sebulan sebelum berangkat ke NZ, Alia udah mulai itung-itung hari, sambil merencanakan kepingin ketemu siapa aja di NZ (tentunya sahabat-sahabat nya di Kindy dulu). Dan setiap dia minta saya pulang ke Malang, saya selalu bilang “kan Ibu tunggu kk Alia mau ke Lincoln dulu..” dan itu berhasil bikin dia jadi hepi lagi 🙂

Nungguin orang-orang tersayang yang mau dateng memang bener-bener bikin semangat, happy, deg-deg an sekaligus lapar mata dan menguras dompet. Kenapa? Karena sebelum mereka datang saya memang niat mau beli baju-baju hangat buat Alia karena baju2 hangat ALia dulu udah nggak muat dan udah dihibahkan juga. Tapi setiap keluar dari toko anak-anak, adaa aja bonusnya 🙂 Buat bapak ABink gimana? Buat bapak Abink nggak perlu beli karena jaket n thermalnya masih lengkap.. Cuma perlu nambah beli kaos kaki dan kaos tangan aja.

Di hari mereka datang, saya dibantu seorang  teman baik untuk jemput mereka dan kemudian nginep di rumah teman tersebut selama 2 minggu. Nginep di rumah keluarga yang luar biasa baiknya ini bikin kami merasa beruntung punya teman/saudara walaupun jauh dari kampung halaman. Terimakasih ya mas, mbak…. You know who you are!

Hari lebaran di NZ tahun ini diumumkan secara mendadak. Kok iso? DI sore hari tanggal 27 Juli beberapa umat muslim sudah pergi untuk melihat hilal tapi belum terlihat. Jadi diumumkan bahwa lebaran di NZ bakal jatuh di tanggal 29 (bukan 28). Tapi ditengah malam, ternyata pengumuman itu direvisi dan ditetapkan lebaran jatuh tanggal 28. Bahkan ada beberapa teman yang nggak tahu kalau ada revisi pengumuman itu heheheh….

Lebaran1

Kalau tahun-tahun sebelumnya kami sholat ied di kota, tahun ini warga muslim di Lincoln juga mengadakan sholat idulfitri di mushala kampus. Karen kami nggak punya kendaraan, jadi kami memang sudah berniat untuk sholat di kampus aja. selain itu, saya ada janji meeting kerjaan nggak bisa di batalkan di hari itu. Karena kebetulan saya lagi nggak sholat, jadilah saya nitip Alia ke teman-teman Indonesia di sana. Nggak mungkin juga ALia ikutan ke shaf laki-laki sama Bapak Abink 🙂 Lagi-lagi saya bersyukur punya saudara yang baik-baik di sini…

Lebaran tahun ini jadi lebaran yang sangat berkesan buat saya. Setelah lebaran sendirian tahun lalu, dan menahan diri untuk nggak terlalu berharap jalan-jalan di NZ sama ALia dan bapak Abink lagi, akhirnya Allah ngasih kejutan manis di tahun ini. Menyusuri jalan yang dulu pernah kami lewati, menyusuri lapangan belakang rumah kami dulu, menemani Alia main di tempat bermain favoritnya waktu kecil, menghabiskan sore di cafe favorit kami ditemani sepotong salmon bagel dan yang terpenting, mereka ada di sini dan kami merayakan lebaran bersama. Sekeluarga!

Harta Karun dari Kampung Halaman

Camera 360

Heppii deh Sabtu lalu dapet ransum dari Indonesia berupa sambel terasi, bumbu pecel, kopi mocca pake ampas, tepung cendol dan kering tempee… Duluu di tahun 2010 waktu awal-awal kami tinggal di New Zealand kami seriing banget dapet kiriman dari Indonesia. Biasanya mama-papa saya suka ngirimin pernak pernik buat Alia dan bapak-ibu mertua bagian ngirim2 makanan. tapi lama kelamaan semakin jarang dapet kiriman dari Indonesia. Selain karena ongkos kirimnya mahal, juga karena kami sudah bisa beradaptasi dengan kondisi (terutama makanan) di sini. Jadi kangennya nggak pake “banget” atau “tingkat dewa”. Walaupun kalo dapet kiriman juga pasti bakal seneng banget..

Anyway, minggu lalu saya bukan terima paket pos dari Indonesia tapi barang2 itu dibawain sama salah satu teman saya yang lagi jalan-jalan liburan ke New Zealand. Pas dia nawarin mau nitip apa saya seneng banget.. Tapi namanya nitip harus tau diri dong yaa.. Akhirnya kepikir pengen kopi (1 renteng) sambal terasi (1 renteng) dan bumbu pecel (3 bungkus) dari Indonesia. Saya minta tolong mama saya untuk ngirimin ke rumah temen saya itu (kebetulan rumah orang tua temen saya itu deket sama tempat tinggal ortu saya). Dan hari Sabtu kemarin kami ketemuan di Hagley park. Ngobrol-ngobrol di dalem campervan yang mereka sewa sambil ngeliatin mereka beres2 dan bersih-bersih sebelum si campervan dikembalikan sore itu. Begitu mereka ngeluarin titipan dari mama…. ternyataa mama nambahin titipannya. Bukan lagi cuma kopi, sambel dan bumbu pecel, tapi juga teh naga, tepung cendol dan kering tempe kesukaan saya…. Woohooo.. Terimakasih ya mamaaa.. terimakasih juga Midha, Febri dan dd Khansa sudah bawain harta karun titipannya..

20140531_135202 (1)

Ngomong soal titip menitip, saya sudah pernah jadi pihak yang ‘dititip’ dan ‘menitip’. Dan menurut saya wajar aja ya kalau kita tinggal jauh dari keluarga dan kemudian nitip sesuatu untuk dibawa kalau ada teman yang pulang kampung. Tapi jadi nggak wajar kalau titipannya ‘nggak tau diri’. Apalagi baggage allowance untuk tiket ekonomi dari NZ ke Indonesia cuma dapet 20 kg, sepertinya kalau buat student yang mau pulang untuk ambil data, kopernya bakal penuh dengan buku, kuisioner (dan oleh-oleh). Sedangkan untuk student yang mau pulang for good karena udah slesai studinya juga bakal bawa bermacam2 barang dan oleh-oleh tentunya. Kalau ada yang nitip macem-macem bakal ngerepotin kan.. Walaupun sekarang beberapa maskapai ngasih baggage allowance 30 kg per orang, tapi ya tetep aja kalau misal harus ganti pesawat lokal di Indo juga jatah nya cuma 20kg kan.. ALhamdulillah selama ini saya nggak pernah dapet titipan yg banyak banget sampai harus mengorbankan kepentingan saya. Karena saya memang suka packing dari jauh-jauh hari, jadi sudah tau kira2 berapa banyak barang yang harus dibawa. Waktu pulang kemarin saya sudah menetapkan jatah untuk barang-barang pribadi berapa kg dan jatah untuk titipan orang lain berapa kg, dan saya terapkan sistem ‘first-come, first-served’ hahaha 🙂 Jadi mohon maaf kalau ada teman-teman yang mau nitip tapi saya tolak karena jatahnya udah penuh.

Kalau datang ke negara yang bio security nya ketat seperti New Zealand dan Australia, kita sebagai pihak yang dititip juga harus waspada sama apa yang dititipkan ke kita. Menurut saya, nggak salah kok kalau kita buka-buka bungkusan punya orang lain yang akan kita bawa dari Indonesia ke NZ (atau ke negara lain). Karena, nanti di custom, kita lah yang harus tanggung jawab terhadap apa yang ada di bungkusan itu. Pernah ada cerita, seorang teman  nitip dibawakan obat-obatan herbal dari Indonesia. Karena di NZ agak-agak parno terhadap herbal-herbal gitu, terutama kalo mengandung madu, jadilah temen yang dititip tadi harus terhambat di custom bandara NZ selama beberapa saat. Jadi merasa bersalah nggak sih yang nitip itu obat-obatan?

Jadi, apa aja sih yang boleh dibawa dan nggak boleh di bawa masuk New Zealand? Secara umum, segala macam fresh fruit and vegetable nggak boleh keluar dari bandara. Daging sapi juga nggak boleh, kecuali abon. Saya dan teman2 lain sudah sering lolos bawa abon, bumbu pecel, sambel bu Rudi, gudeg kaleng, kering tempe dan kue-kue kering. Tapi ada juga teman yang lagi apes dan abonnya nggak diijinin keluar. Trus, makanan atau obat-obatan yang mengandung madu, atau madu murni juga nggak bisa masuk New Zealand. Kemarin saya bawa tolak angin cair pun diambil sama mereka karena ada madunya 🙂 Trus, barang dari kayu juga ada aturan khusus kalau mau dibawa masuk ke NZ. Biar aman, mending barang-barang yang kita nggak yakin boleh masuk atau nggak, sebaiknya di declair aja, kasih liat ke petugasnya. Kalau kita nggak declair trus pas di scan ternyata ketauan kita bawa barang yang nggak boleh dibawa masuk, dendanya bikin sakit ati looh….

By the way, adakah dari teman-teman yang mau datang ke NZ dalam waktu dekat? Titip bawain my precious Alia sekalian bapaknya dooong 🙂