Preparation makes perfect

Sebenarnya Pak ABink sudah memiliki blog yang dipersiapkan untuk menjadi kumpulan-kumpulan tulisan berkaitan dengan parenting dan pendidikan anak berdasarkan pengalaman Pank ABink bersama Alia. Tetapi karena tulisan-tulisan nya di “serobot” Bu ABink untuk di posting disini, jadi untuk efisiensi waktu dan tempat maka sejak hari ini akan ber transmigrasi ke blog ini.

Masih tentang pengalaman parenting, ada hal menarik yang ingin Pak ABink share sebagai catatan dimasa depan. Hal menarik tersebut adalah “preparation makes perfect”. Banyak yang akan bilang jika memang persiapan akan menghasilkan suatu kesempurnaan. Semakin lama persiapan semakin sempurna pula hasilnya. Dalam interaksi dengan Alia, pola ini pun sukses Pak ABink terapkan.

Yang pertama adalah ketika Bu ABink harus kembali ke New Zealand sendirian dan ALia tinggal bersama Pak ABink di Indonesia. Sudah hampir sejak 6 bulan sebelumnya Pak ABink dan Bu ABink mempersiapkan ALia. Hampir disetiap kesempatan yang “memungkinkan” hal tersebut disampaikan ke Alia. Pertama-tama memang terjadi penolakan dari Alia. Tetapi setelah diulang berkali-kali, dilibatkan dan perencanaan dan diberi penjelasan, maka penolakan tersebut berkurang sedikit demi sedikit. Tetapi  dalam rangka persiapan ini harus ada seni khusus. Karena bagaimana pun anak berumur 4 tahun (pada saat itu) belum memiliki kemampuan pemrosesan emosional sebaik orang dewasa. Jadi teringat pesan salah satu pakar pendidikan bahwa bagi anak rumus nya adalah yang penting nyaman/enak. Mereka belum sampai di tahap butuh. Jadi bagaimana pun dalam usaha menyampaikan pesan, harus melihat waktu, kondisi dan situasi. Dengan persiapan yang cukup lama, hasilnya pun memuaskan. Ketika Bu ABink berangkat ke Niu Zieland, Alia tidak menangis sedikit pun. ALia cuma dadah dadah bye bye. Dan kalo sekarang ditanyai pun dengan santai akan di jawab Ibu di Lincoln (baca: New Zealand) lagi belajar supaya pintar bisa ngajarin Alia.

Contoh kedua adalah ketika Pak ABink harus datang ke resepsi kawinan anak Kolega Pak ABink di Surabaya. Sudah sejak 3-4 hari sebelumnya, PAk Abink sounding ke ALia kalau hari Sabtu daddy dan Alia mau ke Surabaya. Alia harus nice. Harus salim kalo ketemu temannya Daddy, ga ada acara gendong dan ga rewel. Hampir dsetiap kesempatan yang memungkinkan pesan tersebut Pak ABink  sampaikan. Yang terjadi seperti yang diharapkan. Ketika acara berlangsung, Alia begitu nice. Cantik, pintar, sopan dan tenang. Luar biasa anak ku.

Sebenarnya banyak contoh-contoh lainnya. Tapi dari situ Pak ABink coba menyimpulkan, bahwa sebenarnya berdamai dengan anak umur 4 tahun itu tidak susah. Senangkan hatinya dan sampaikan pesan yang kita inginkan maka si dia akan tau apa yang harus dilakukan sesuai dengan harapan kita. Yang juga tak kalah penting prinsp “marketing” atau teori social exchange itu juga dapat diterapkan. Jika kita menjual maka harus ada tawaran supaya jualan kita di beli. Tawaran tidak selalu kebendaan atau moneter. Tawaran bias berupa pujian, janji untuk bermain bersama, membacakan buku, atau hal-hal lain yang membangun.

20130616_204311

Salam,

Daddy ABink

Berdamai Dengan Otak Reptil

Sering kali jika Alia menginginkan sesuatu dan keinginannya tersebut tidak dipenuhi maka akan mengamuk. Situasi ini juga pasti sering dirasakan oleh para orang tua yang lain. Apa yang lazim nya dilakukan oleh para orang tua jika si kecil sedang mengamuk?

Yang pertama kali dilakukan adalah menjelaskan dengan sabar tentang kenapa keinginannya tidak dikabulkan. Apakah berhasil? Hampir separo lebih orang tua akan gagal menenangkan si kecil. Jika gagal dan si anak tetap mengamuk dan menangis, apa yang akan terjadi? Orang tua akan pindah ke fase kedua yaitu terpancing emosinya dan memarahi si anak.

Jika orang tua sudah terpancing emosinya dengan memarahi anak, apa yang akan terjadi? Menjadi diam kah si anak? Jawabannya adalah anak akan semakin kencang menangisnya. Apakah ini menyelesaikan masalah? Bisa dikatakan tidak. Jika anak diam karena di marahi, itu terjadi karena anak takut dengan orang tua. Perasaan takut ini jika dilakukan berulang kali akan mengacaukan pola interaksi anak dan orang tua.

Saya pun pertama kali jika Alia sudah ngamuk dan menangis karena keinginannya tidak terpenuhi maka saya akan menjalankan langkah 1 dan 2. Hasilnya Alia tetap menangis, saya ikut marah dan suasana menjadi tidak nyaman.

Dari sebuah seminar mengenai pendidikan anak, saya berkenalan dengan yang namanya otak reptil. Saya tidak tahu secara ilmiah apa yang dimaksud dengan otak reptile ini. Tapi menurut pakar parenting yang saya ikuti diskusinya otak reptile itu adalah situasi otak ketika seseorang sedang terbawa emosi.

Nah dalam kondisi otak reptile ini anak anak atau bahkan orang dewasa tidak akan mampu memproses informasi yang didapat. Pada kondisi ini yang diperlukan adalah pelepasan emosi dan energy. Masing-masing individu pelepasan emosi ini berbeda beda. Tapi yang pasti tidak akan dalam jangka waktu yang lama.

Jadi ketika si kecil sedang dikuasai oleh otak reptile, maka yang harus dilakukan oleh orang tua adalah mendiamkan saja dan tidak terpancing. Pada situasi ini walaupun dijelaskan anak tidak akan mampu memproses informasi yang diberikan.

Sering kali muncul pertanan berikutnya. Kadang ketika marah si anak berbuat kasar dan menjurus membahayakan diri sendiri atau orang lain. Misalnya memukul mukul kepala, memukul orang lain sampai membanting atau membuang barang yang ada disekitarnya. Jika sudah sampai pada taraf ini berdasarkan pengalaman saya dengan Alia, yang perlu dilakukan adalah jauhkan si kecil dari benda benda yang berbahaya. Jika dirasa masih membahayakan yang perlu dilakukan adalah menahan atau memegang tangan atau badan. Peluk yang kencang. Biasanya si kecil akan meronta ronta. Walaupun memegang atau memeluk usahakan jangan sampau menyakiti. Pegang beberapa saat, tapi jangan perhatikan. Kita cuma perlu diam.

Jika amarah dan emosi sudah mulai mereda, maka mulailah ajak bicara. Biasanya jika emosi sudah mereda maka anak akan sangat mudah diajak berbicara. Ajak si kecil berbicara hati ke hati. Jelaskan kepadanya kenapa kita melarang atau tidak mengabulkan keinginannya.

Kesimpulannya adalah, ketika anak sedang mengamuk dan emosi maka otak reptile yang bekerja. Otak reptile tidak akan bisa memproses informasi apa saja. Maka sebagai orang tua maka kitalah yang harus menguasai situasi.

Selamat belajar bersama anak-anak!!

Salam,
Bapak Abink