Academic Trip: Kuala Lumpur – Kuantan (1)

Di bulan Oktober lalu, saya dan bapak Abink berkesempatan menghadiri dan berpartisipasi di Internasional conference di Kuantan, Malaysia. Ceritanya, ini conference perpisahan sebelum saya lulus dari Lincoln University. Sengaja cari yang deket rumah karena research budget udah menipis dan nggak kepengen nombok hehehhe..

Academic trip ke Kuantan kali ini agak luar biasa, karena kami bawa anak kecil. Iya, Alia ikut nemenin bapak ibunya conference. Awalnya ragu sih, bawa anak kecil ke conference. Tapi setelah tanya sama panitia dan bikin beberapa kesepakatan sama Alia, akhirnya kami putuskan untuk ajak Alia.

Persiapan pergi kali ini memang agak lebih ribet karena saya dan bapak Abink dibiayai oleh instansi yang berbeda, ditambah Alia yang harus bayar dari kantong pribadi. Proses beli tiket, sinkronisasi penerbangan dan tempat duduk perlu effort sedikit 🙂 tapi ya udah lah ya, karena udah diniatin jadi ya dijalani aja. Toh tinggal angkat telepon dan buka internet 🙂

Karena bawa Alia, kita sengaja nambah 2 hari dari jadwal konferens untuk santai-santai. Sebenernya kami nggak menjadwalkan kemana-mana selama di Kl dan Kuantan kali ini. Niatnya cuma untuk conference sekaligus refreshing bertiga. Jadi ngapain aja kita selama di KL dan Kuantan?

DAY 1. KL – Suria KLCC Mall, Bukit bintang & Mini Reunion

Kami berangkat pakai pesawat pagi dari Surabaya ke KL. Sampai di KL,langsung naik taksi ke Dorsett Regency Kuala Lumpur. Alhamdulillah udah bisa langsung cek in. Abis cek ini, kami langsung cuss jalan-jalan ke sekitar bukit  bintang, cari makan siang.. Males yang ribet-ribet, kami akhirnya makan di Food Republic di dalem Pavilion mall aja. Tau nggak apa yang dicari pertama kali sama bapak Abink? Dia cari es Bandung, rose syrup yang wanginya khas ituu…

Abis makan siang, ada insiden Alia mimisan banyaakkk banget, sampe  agak panik karena mimisannya nggak brenti-brenti. Cuaca hari itu memang panasss banget, ditambah capek dan minum es bandung. Akhirnya istirahat bentar di dalem mall, sambil nyusun rencana selanjutnya. Biar nggak terlalu capek, akhirnya kita putuskan untuk ke toko buku Kinokuniya di Suria KLCC mall siang itu naik GO-KL. GO-KL ini free bus yang berhenti dibeberapa titik. Untuk ke Suria KLCC mall, naik yang  green line. Halte GO-KL ini di sekitar  Pavillion mall aja, jadi kami nggak perlu jalan jauh lagi.

Abis hunting buku, kami jalan-jalan aja di dalem mall, dan minum es Bandung lagi 😀 tapi kami nggak lupa untuk poto-poto narsis ala tourist di petronas twin towers juga.. Sayang hari itu KL ditutupi kabut asap yg cukup tebal 😦

KL3

Selain jalan-jalan santai dan hunting buku, agenda kami hariitu adalah ketemuan sama salah satu temen Bapak Abink sewaktu kuliah di Lincoln dulu. Kami janjian di salah satu spot dekat hotel, di Bukit Bintang. Karena waktu janjian uda makin dekat, kami segera naik GO-KL green line untuk kembali ke Bukit Bintang.

KL1

Setelah makan malam, reunian di lanjut di lobby hotel, karena Alia udah capek dan butuh istirahat 🙂

KL4

DAY 2 KL-

Di hari ke-2 ini, kami rencana jalan-jalan sebentar trus lanjut berangkat naik pesawat ke Kuantan setelah makan siang. Karena nggak begitu jauh dari bukit bintang, kami memutuskan untuk ke Central Market (Pasar Seni) aja. Naik GO-KL lagi, tapi yang purple line.

KL5

Sampe di pasar seni, muter-muter bentar trus lanjut naik ke lantai atas ke 3D Illusion Art Museum. Di 3d museum ini ada sekitar 36 foto plus satu ruangan untuk muter film 3d tentang binatang dimana kita bisa “main” bareng bintang-binatang itu. Lumayan seru sih foto-foto di sana.. Alia juga happy banget..

KL6.jpg

KL7

KL8

KL9

Karena waktu nya udah mepet harus brangkat ke bandara untuk lanjut ke Kuantan, kami segera balik ke bukit bintang dan ngeliat ada Nando’s , resto ayam kesukaan kami waktu di Christchurch. Akhirnya diputuskan makan siang dulu di nandos, ambil koper ke hotel, trus langsung lanjut naik taksi ke bandara. Ada yang udah nggak sabar mau main pasir di pantai Kuantan 🙂

‘Cacing Berpendar’ di Gua Waitomo

Setelah puas menikmati Rotorua, pagi berikutnya kami siap untuk menjelajah Waitomo. Berbekal tiket murah dari Naked bus, kami berangkat ke Waitomo dengan hati senang 🙂

Naked bus yang kami tumpangi hanya mengantar sampai di Waitomo Village, dan kami harus jalan sedikit ke Waitomo Caves visitor centre (sekitar 500m dari Waitomo Village).

20140911_141216Ada 3 gua yang ditawarkan di Waitomo. Waitomo cave, Aranui cave dan Ruakuri cave. Selain liat gloworms dan menjelajah Aranui & Ruakiri caves, di Waitomo kita juga bisa melakukan panjat dinding di gua dalam tanah(dry underground caving) dan ‘cave tubing’. Tapi saya sama sekali nggak tertarik sama underground caving. Kalau cave tubingnya masih sempet kepengen nyobain, tapi setelah tau harus loncat dari  atas tebing gua yg gelap, nyali langsung ciut. Nggak jadi ahh.. takuutt.. Udahlah, jalan-jalan di dalem gua aja 🙂

Saya sebenernya pengen masuk ke tiga gua itu, tapi nggak siap ngeluarin diut nya heheeh.. kalau masuk ke 3 gua itu harus siap bayar $90. Akhirnya, karena tujuan kami ke Waitomo adalah untuk liat ‘glow worms’ di Waitomo cave, maka diputuskan untuk beli tiket combo Glow worm cave + Aranui cave, waktu itu seharga $65.

Camera 360

Tour pertama adalah masuk ke Glow worm cave, yang lokasinya di sekitar visitor centre. cuma perlu jalan sekitar 100-200 meter udah sampai ke dalam guanya.

Jalan menuju Glow worm cave
Jalan menuju Glow worm cave

Masuk ke dalam gua sepintas kelihatan seperti gua biasa, ditambah efek lampu-lampu terkesan sedikit dramatis. Semakin masuk ke dalam gua, mulai terlihat pendar-pendar cahaya, walaupun nggak begitu banyak dan nggak begitu jelas. Pendar cahaya itu ternyata adalah larva dari salah satu species serangga. Jadi sebetulnya mereka itu bukan cacing! Tapi mungkin karena bentuknya menggantung di langit-langit gua (sepanjang 3-4 cm) menyerupai cacing, jadi disebutnya glow worms. Dan waktu itu kita bisa lihat dari dekat.

u895
Larva-larva ini yg disebut glow worms. Foto dari CD souvenir pack yg dibeli di Waitomo

Semakin ke dalam, lighting di dalam gua semakin berkurang. Dan sampailah kami di Gloworms Grotto. Untuk mengarungi grotto ini kami harus naik sampan. Di Gloworms grotto ini sudah nggak ada lagi cahaya lampu dan cahaya matahari dan dilarang memotret. Selama di atas sampan, pendar-pendar gloworms nya terlihat jelasss sekalii.. Indaaah banget.. Kurang lebih memang kayak di foto dibawah ini. Cantik banget kayak liat bintang-bintang di langit, tapi lebih dekat, dan wananya hijau kebiruan.

u859
Gloworms grotto. Foto didapat dari beli CD souvenir pack 🙂

Setelah keluar dari gloworms cave, kami harus menunggu sekitar 1,5 jam untuk bisa ikut tour ke Aranui cave. Aranui cave ini jaraknya cukup jauh, sekitar 5-10 menit naik mobil dari visitor centre. Waktu booking tiketnya, kami sudah bilang kalau kami nggak bawa mobil dan butuh tumpangan. Akhirnya, kami dikasih tumpangan sama tour guidenya, yang asli orang Maori.

Aranui cave nya sih biasa aja menurut saya 🙂 Mungkin mirip-mirip kayak gua-gua di Indonesia. Aranui cave dilengkapi dengan lampu-lampu, dan track nya udah dibikin rata, kalaupun ada yang menanjak udah dibikin anak tangga juga untuk memudahkan.  Menurut si mas Tour guide, Aranui cave ini ditemukan oleh orang Maori bersama anjingnya yang lagi ngejar-ngejar babi.Tiba-tiba aja babi yang mereka kejar menghilang, dan ternyata  babi itu masuk ke dalam gua Aranui  yang gelap banget ini. Waktu di dalem Aranui cave, tour guide nya sempat sengaja matiin lampu nya, dan ternyata bener2 item, gelap banget nggak ada cahaya di dalam Aranui Cave.

20140911_134934
Aranui Cave

Di Aranui cave ada beberapa lokasi yang berpagar kawat, kata mas tour guidenya sih karena sebelumnya ada tangan-tangan jahil yang sengaja motong stalaktit dan stalakmit untuk dibawa pulang 😦

20140911_134719

Setelah selesai keliling di Aranui cave, kami (masih numpang sama si mas tour guide), kembali ke visitor centre. Karena kami masih punya waktu cukup lama sebelum bis kami datang menjemput, jadilah kami mengeksplore visitor centre dulu, sambil menikmati dua scope ice cream di cafe 🙂

20140911_141819
Boysenberry and lime swirl ice cream ini yummy banget
20140911_153956
Cafe
20140911_153521
Tulis pesan di kayu, terus cemplungin ke baskom isi air.

Puas makan es krim sambil istirahat, kami jalan-jalan ke sekitar visitor centre, dan sekalian jalan ke Waitomo village. Waitomo Village ini memang cuma desa kecil, tapi yang bikin menarik adalah pernak-pernik dan ukiran-ukiran khas Maori. Sambil menunggu bis kami datang, kami numpang istirahat di depan satu cafe kecil di sana. Rasanya, melihat langsung penda-pendar gloworms adalah highlight perjalanan Auckland-Rotorua-Waitomo kami kali ini.

20140911_162914
Pohon jeruk di halaman cafe tempat kita nunggu bis
20140911_175124
i-Site Waitomo Village

One Afternoon in Rotorua

Sebenernya saya jalan-jalan ke Rotorua ini tahun lalu, di bulan September 2014, tepatnya. Awalnya, saya yang waktu itu lagi pengen banget jalan-jalan iseng-iseng ngajakin temen untuk jalan-jalan, cari tiket murah 🙂

Beberapa hari setelahnya, saya dapet tuh tiket murah pake budget airline lumayan murah cuma $29 sekali jalan ke Auckland. Pikir-pikir, karena udah 2x ke Auckland, mending kita ke Auckland semalem trus besok paginya jalan lagi ke tempat lain naik bis. Setelah browsing sana sini, diputuskan untuk ke Waitomo caves, tapi mampir Rotorua dulu semalem. Setelah menimbang waktu, biaya dan tenaga, akhirnya kita susun itinerary Auckland-Rotorua-Waitomo-Auckland, 4 hari 3 malam naik bis.Deal!

20140911_160700Ini bukan pertama kalinya saya jalan-jalan naik bis. Sebelumnya, di Juli 2014, saya juga pernah naik bis dari Queenstown ke Christchurch bareng bapak Abink n Alia, dan sejak saat itu janji bakal naik bis lagi kapan-kapan. Kenapa saya ketagihan naik bis? Karena murah, nyaman, dan santaiii… Kalau mau cari tiket bis murah bisa ke website nya naked bus NZ. Tapi sebenernya kalu naik mobil sendiri, enaknya bisa berhenti untuk foto-foto dimana aja, dan bisa cari jalur yang kita suka. Ada plus minus nya lah ya… 🙂

Perjalanan dari Auckland ke Rotorua lancar, pemandangan indah.. Perjalanan dari Auckland ke Rotorua ditempuh selama 4 jam naik bis. Trip kali ini saya sengaja pilih untuk menginap di X-Base backpacker. Selain karena ngirit biaya, saya juga belum pernah nginap di backpacker yang sharing kamar dengan 6-8 orang. Ternyata pas dateng cuma ada kita berdua yang nginep di situ, dan malem nya baru dateng satu orang lagi, solo traveler dari China atau Vietnam ya? Lupa 🙂

backpacker
X-Base Backpacker Rotorua

Pengalaman pertama nginep di backpacker seruuu… Lumayan nyaman tempat tidurnya, setiap kamar ada toilet dan kamar mandi, dapet sabun shampo dan handuk. Kami booking backpacker ini dari website http://www.nakedsleep.com (by naked bus). Untuk di Rotorua kita booking dorm bed untuk 8 orang (female only), cuma bayar sekitar $17 per orang per malam. Pas di Auckland, kami booking double room with en suit bathroom bayar $50 per malam, tapi karena bagi dua sama temen jadinya masing2 cuma bayar $25 🙂 Lumayan murah kan, kalau dibanding nginep di hotel/motel bisa lebih dari $100 per malam.

Karena kita nyampe di Rotorua, udah terasa bau belerang, secara rotorua ini dijuluki Geothermal Wonderland-nya New Zealand.  Karena udah tengah hari, kita putuskan untuk jalan-jalan di kota aja. Kebetulan tempat kita nginep tepat di depan Kuirau Park. Parknya lumayan cantik dan ada beberapa spot lumpur panas (geothermal). Bahkan disediain kolam untuk yang pengen berendam atau cuma nyelupin kaki di air panas yg mengandung belerang.

rotorua6rotorua7Yang paling bikin saya seneng, di Kuirau park saya ketemu sama beberapa ‘Pukeko’ (NZ native bird) deket banget. Nggak tau kenapa saya suka banget sama Pukeko 🙂

rotorua5
Pukeko

Setelah puas menimati Kuirau park, kami lanjut jalan-jalan di sekitar kota dan museum. Rotorua ini kotanya ‘compact’, ada park, playground, tempat makan, belanja souvenir, museum, lake,semua bisa ditempuh dengan jalan kaki Tapi kalau main Luge, parasailing, jetboating, main ke Maori village, nyobain mud spa atau liat geothermal wonderland nya harus ada mobil atau ikut tour. Nulis ini bikin saya pengen banget balik ke Rotorua 🙂

Rotorua
Rotorua
Knitted Tree di Rotorua
Knitted Tree di Rotorua
X-Base Backpacker Rotorua
Rotorua Museum
rotorua3
Eat Streat. Macam-macam restaurant berjejer di depan Lake Rotorua
Lake Rotorua
Lake Rotorua

Setelah puas jalan-jalan sekitar kota dan berkontemplasi di pinggir danau, akhirnya kita putuskan untuk kembali ke tempat kami menginap sebelum gelap. Di bulan September, angin dan udara di Rotorua masih dingin banget waktu malam. Dan malam itu kami habiskan di kamar backpacker dengan menikmati semangkuk mie kuah, mengisi tenaga untuk melanjutkan perjalanan ke Waitomo besok pagi…

Horse Riding @Rubicon Valley

Di hari terakhir puasa kemarin, saya bersama Teh Neneng, seorang kawan yang datang liburan ke Christchurch dari Palmerston North, pergi ke Rubicon Valley, Springfield. Sekitar 67 km dari Lincoln, bisa ditempuh selama sekitar 1 jam naik mobil.

Tadinya saya nggak pernah kepikiran bakal naik kuda di NZ, secara saya agak penakut dan bukan penyuka binatang. Tapi kemarin waktu ada teman yang ngajakin naik kuda dan kebetulan beliau nggak ada teman jalan, saya jadi mikir-mikir… Apalagi setelah baca-baca reviewnya, liat foto-fotonya dan mereka menjanjikan a calm, relaxing time away from the city” , saya sangat tergoda. Setelah berhari-hari sibuk nyiapin full-draft thesis sekaligus nulis artikel bareng pak Supervisor yang banyak maunya, rasanya saya butuh sedikit refreshing 🙂

Akhirnya, berangkatlah kami dari rumah jam 6 pagi untuk ngejar shuttle ke Springfield jam 7.15. Sampe di Springfield sekitar jam 8.30, dijemput sama Chris, pemilik Rubicon Valley Horse Riding company sekaligus guide kita hari itu.

Setelah ngisi formulir, bayar, dan pilih-pilih helm yang pas di kepala kami, akhirnya kami kenalan dengan Arrow dan Whisper, kuda-kuda yang akan kami tunggangi pagi itu.

Setelah dijelaskan cara-cara mengendalikan kuda, prosedur keamanan, dll, akhirnya berangkatlah kita jalan-jalan naik kuda. Ini pertama kali saya naik kuda dan mengendalikan sendiri, nggak pake dituntun! Dulu waktu kecil kan kalo naik kuda selalu ada tukang kuda nya lari-lari ikutan nuntun kudanya disebelah kita kan 😀

Sebelum memutuskan berangkat, saya sudah cek ramalan cuaca hari itu dan diperkirakan hari bakal cerah. Tapi weatherman kan juga manusia, tempatnya salah dan khilaf.. Bukannya cerah, pagi itu malah dingiin gerimis dan berawan. Tapi setelah sejam kita berkuda, matahari mulai muncul walaupun gunung bersaljunya masih ketutup awan 😦

SONY DSC
Teh Neneng & Chris

Sebagian besar track di Rubicon Valley flat aja, jadi nggak begitu susah buat beginner rider kayak saya. Tapi di 10 menit pertama ada insiden kecil, kuda yang ditunggangi teh Neneng ‘membangkang’ nggak mau dikendalikan.. eh, si Arrow, kuda saya juga ikut-ikutan ngambek. Setelah di handle sama Chris mereka jadi nurut lagi. kata Chris, kita harus lebih tegas sama kudanya, kita yang mengendalikan kuda bukan kita yg dikendalikan.

Waktu itu kita juga dibawa masuk ke salah satu ladang yang penuh domba.. Seruu… jadi berasa penggembala domba.

SONY DSC

SONY DSCSetelah ngelewatin sheep farm, kita dibawa ke track yang lebih menantang, lewat lereng, naik turun curam dan berbatu. Agak takut sih karna si Arrow rasanya mepet pinggir lereng terus. Jadi takut jatuh… Chris bilang, kita harus percaya sama kuda kita.. Pengennya ambil foto di track naik-turun itu, tapi apa daya nggak punya nyali untuk ambil kamera untuk poto-poto, harus konsentrasi jaga keseimbangan dan mengendali kuda (supaya baik jalannya).

Nggak lama setelahnya, kami dibawa ke tempat yang pemangdangnnya Subhanallah indah bangetttt… walalupun mendung masih tetep bikin merinding pemandangannya.

SONY DSC
Beginner rider
SONY DSC
Breathtaking scenery

SONY DSC

SONY DSC

Setelah naik turun bukit, kita melanjutkan perjalanan, lewat hutan pinus, nyebrang sungai, ketemu sapi, domba, kuda, kelinci.. Sampai-sampai nggak terasa sudah 2 jam kami jalan-jalan, dan para kuda harus segera kembali ke kandang.

SONY DSC
Tapal Kuda

Setelah say goodbye ke Arrow dan Whisper, kami diantar Chris kembali ke Springfield village untuk tunggu dijemput Shuttle yang sudah kami pesan sehari sebelumnya. Karena waktu itu masih pukul 12 siang dan Shuttle kami baru dalatang sekitar pukul 4 sore, akhirnya kami jalan-jalan di sekitar Springfield village ke arah Springfield train station. Jalan-jalan nggak tentu arah, yang kami mau cuma menikmati pemandangan, menikmati sejuk dinginnya udara winter sambil cari tempat yang pas untuk sholat Dhuhur dan Ashar.

Ditengah perjalanan, kami lihat beberapa Llama yang sedang bermain main di halaman rumah yang luas…

SONY DSC
Llamas

Nggak berapa jauh, saya ketemu sama satu rumah yang menurut saya cantik banget.. Rumah besar di pedesaan, dikelilingi bukit dan lapangan rumput yang luas. Rumah impian banget….

SONY DSC
Rumah Impian, kayak di negeri dongeng

Akhirnya, setelah jalan sekitar 15 menit, kami berhenti di sekitar train station. Tempatnya sepi, pemandangannya indah, tapi gunung bersaljunya masih tertutup awan. Akhirnya kami memutuskan untuk sholat di situ. Setelah sholat, kami ngobrol-ngobrol santai aja sambil menunggu awan pergi dari puncak gunung bersalju.

SONY DSC
Sholat

SONY DSC

Setelah sholat dan puas memandangi gunung bersalju, kami kembali ke Springfield playground, tempat dimana seharusnya kami menunggu jemputan shuttle. Masih sekitar 1,5 jam lagi shuttle kami datang. Jadi kami menghabiskan waktu bermain ayunan, tidur-tiduran di ayunan besar, mengamati tingkah polah lucu anak-anak yang sedang bermain di playground, sambil berdoa semoga suatu saat nanti saya bisa ke sini lagi bawa Alia naik kuda..

Beberapa tips buat yang pengen berkuda di NZ:

  • Harga berkuda di NZ lumayan mahal, coba sering-sering cek website diskonan, sepert http://www.bookme.co.nz atau grabone.co.nz untuk dapat harga yang lebih murah.
  • Cek ramalan cuaca. Pakai baju nyaman sesuai musim dan cuaca. kalau Winter, jangan lupa pake sarung tangan, kaos kaki yang hangat dan jaket yang hangat.
  • Selama berkuda boleh ambil foto, tapi bakal susah kalau ambil foto pakai HP, karena kebanyakan kita ambil foto selagi kudanya jalan.
  • Ikuti arahan guide, percaya diri, rileks dan nikmati perjalanan.

Autumn is a Season when Every Leaf is a Flow

Saya suka banget Autumn. Daun-daun berubah warna warni, udara sejuk, kadang ujan, kadang cerah, dan suasanya selalu romantis. Tiap pagi, kalo lagi cerah saya selalu bersepeda lambat-lambat sambil menikmati setiap pohon yang mulai berubah warnanya. Benar-benar memanjakan mata… Karena berharap tahun ini adalah tahun terakhir saya menikmati Autumn di NZ sebagai student, beberapa hari lalu saya sengaja pergi ke ofis jalan kaki demi bisa leluasa mengabadikan warna-warni dedaunan di musim gugur tahun ini.

SONY DSC

SONY DSC
Ivey Hall
SONY DSC
Yellow, green and orange
SONY DSC
Orange
SONY DSC
Autumn

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSCSONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC
Daun kering
SONY DSC
Yellow
SONY DSC
Yellowish leaves
SONY DSC
Sepatu kotor kena rumput basah abis ujan
SONY DSC
Mirip apel tapi kecil-kecil

SONY DSC
Rugby FIeld
SONY DSC
The Workshop – Student Lounge
SONY DSC
In front of the ‘Landscape & Architecture Building’
SONY DSC
I can see green, orange, yellow and red!
SONY DSC
Ivey Hall
SONY DSC
AERU building

Japan Trip – Selfie Gagal di Shibuya Crossing

Dari Asakusa, Pak dan Bu ABink tidak langsung kembali ke Hotel. Terbatas nya waktu kunjungan di Jepang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dari Asakusa, trip dilanjutkan langsung menuju Shibuya Crossing. Pak ABink yang dalam Bahasa Jawa nya pasrah “bongkoan” dengan Bu ABink cuma tahu kalo di Shibuya itu ada persimpangan yang katanya terpadat di dunia. Jadi ketika di ajak ke Shibuya Pak ABink ok ok saja. Karena tidak tahu jalan akhirnya dari Asakusa Pak ABink dan Bu ABink ke Tokyo station terlebih dahulu. Dari Tokyo Station tinggal naik Chuo Line yang menuju Hachioji. Sekitar 4 stop sampai di Shibuya Train Station.

Keluar dari Shibuya Train Station, ada kerumunan orang yang cukup banyak. Pak Abink yang tidak sempat browsing baru tahu kalo di Shibuya juga ada cerita Hachiko. Buat yang belum tahu Hachiko itu apa bisa di tonton film nya. Di depan Shibuya station dibuatkan sebuah patung Hachiko. Jangan diharapkan poto nya gede, poto nya benar-benar seukuran Hachiko. Pak Abink langsung inget sama patung dog of shepherd yang ada di lake tekapo new zealand.

Pak Abink dan Hachiko
Pak Abink dan Hachiko

Setelah puas poto-poto dengan patung Hachiko, Lanjut ke Shibuya. Seperti yang sudah tersohor, Shibuya Crossing memang padat dan ramai.

Shibuya Crossing
Shibuya Crossing
DSC06536
Menunggu lampu hijau untuk menyeberang
DSC06537
Crowded

Yang seru di Shibuya Crossing ini adalah banyak nya turis atau pun penduduk lokal yang asik berselfie ria sambil menyebrang jalan. Tidak mau ketinggalan, Pak dan Bu Abink pun berselfi ria. Tetapi karena tidak terlatih  maka selfie nya gagal trus. Dua kali nyebrang 4 kali gagal. Diputuskan untuk tidak usah diteruskan hehehehe.

Sebelum berangkat ke Jepang, temen kantor Pak Abink dikasi oleh-oleh ibunya yang juga pulang dari jepang jajan yang namanya Pablo. Si teman minta dioleh olehi Pablo juga. Maka setelah browsing sini sana akhir nya ditemukan kalo di daerah Shibuya ada outlet yang jual Pablo. Dengan panduan google map akhirnya KeluargaHussein berhasil menemukan dimana Pablo berada.

Pablo Cakes
Pablo Cakes

Pablo sudah dibeli, selfie di shibuya sudah photo sama Hachiko juga sudah, berikutnya adalah kembali ke Akihabara karena besok pagi Bapak dan Ibu ABink harus ke Meiji University untuk presentasi makalah.

Bagi yang penasaran dengan Pablo bisa dilihat pada penempakan dibawah ini (yang atas nya itu mobil2x an merek Tomica).

Pablo
Pablo

Japan Trip – Asakusa dan Secangkir Matcha

Cerita jalan-jalan ke Jepang masuk ke babak kedua (babak pertama bisa dibaca di sini). Setelah sampai di Akihabara dan turun di Akihabara station, Pak ABink langsung menuju Remm Akihabara yang jarak nya tidak lebih dari 100m dari station. Celakanya Bu ABink masih ditempat conference dan tidak ninggal kunci bahkan tidak bilang kamar nya dimana. Tapi Pak Abink nekat aja ke resepsionis dan bilang kalo istri sudah check in sekitar dua hari sebelumnya. Jadi bole ndak kalo Pak ABink minta kunci kamar. Setelah sedikit introgasi dan mengecek paspor dan ID lainnya akhirnya dengan sukses Pak ABink mendapatkan kunci kamar Bu Abink.

Setelah masuk kamar, Pak Abink langsung konek internet dan kirim message ke Bu Abink kalo sudah masuk kamar dengan sukses. Pesan dibalas disuruh nunggu sampai jam 1, alasannya bu Abink masi mau menikmati bento lezat yang disedikan panitia sebagai suguhan makan siang di konferens. Alhasil dikarenakan masih sekitar 1.5 jam sebelum Bu ABink datang, maka Pak ABink memutuskan untuk turun ke bawah dan berjalan-jalan disekitar Akihabara.

Akihabara
Akihabara

Lebih kurang 1,5 jam menunggu akhirnya yang ditunggu datang juga. Setelah istirahat beberapa menit Pak dan Bu ABink memutuskan untuk berjalan-jalan keluar. Mumpung masih terang. FYI pada musim gugur matahari di Jepang tenggelam sekitar pukul 5 sore. Hasil diskusi memutuskan rute yang diambil adalah ke Asakusa yang ada di distrik Taito. Di Asakusa ada sebuah kuil Budha yang disebut Senso-Ji Budhist Temple. Dari Akihabara ke Asakusa lumayan gampang tinggal naik Tsukuba Express turun di Asakusa Train Station dilanjutkan berjalan kaki beberapa ratus meter ke Senso-Ji Temple. Disepanjang jalan dari Asakusa Station ke Senso-Ji Temple banyak hal-hal menarik yang dapat dilihat. Mulai dari orang-orang yang menawarkan jasa untuk mencoba Rickshaw (Becak khas Jepang), penjual makanan khas Jepang seperti Takoyaki hingga pedagang-pedagang souvenir. Karena belum makan siang, Pak ABink nodong Bu Abink untuk traktir Takoyaki. Rasanya sedikit beda dengan Takoyaki yang di jual di Malang. Lebih mantab yang dijual di Jepang heheheh

Warung Takoyaki
Warung Takoyaki

Setelah kenyang Pak dan Bu ABink melanjutkan wisata ke Senso-JI Temple. Banyak tempat menarik di Senso-JI Temple yang dapat direkam baik dalam memori otak maupun memori kamera. Gambar-gambar berikut akan mewakili memori otak dari Pak dan Bu ABink

2014-11-13 14.10.12 2014-11-13 14.17.12 2014-11-13 14.20.49

Senso-Ji Temple
Senso-Ji Temple

2014-11-13 14.21.47

Puas berfoto dan berkeliling Senso-Ji Temple, Pak dan BU Abink berjalan kembali ke Asakusa Train Station. Dengan pertimbangan mendapatkan pemandangan yang lain, maka rute yang diambil bukan rute yang sama dengan rute datang. Sepanjang perjalanan ke Asakusa Train Station banyak pedagang souvenir yang menjajakan dagangannya. Snack, cookies hingga hiasan-hiasang khas Jepang banyak dijual didaerah tersebut. Salah satu objek huntingan dari KeluargaHussein adalah Tokyo Banana. Tapi sayang sipenjual tidak memiliki Tokyo Banana

Kaki Lima
Kaki Lima

Puas melihat-lihat penjual makanan, kami singgah ke sebuah warung yang menawarkan Matcha, teh hijau khas Jepang. Selama di Jepang, si Ibu benar-benar tergila-gila dengan Matcha. Maka si Ibu langsung memesan secangkin besar Matcha dan sepotong mochi yang di atas nya di beri kacang merah. Pak ABink yang masih kenyang dengan Takoyaki cuma minta icip-icip aja. Tidak lama si Matcha datang. Bentuk nya benar-benar menarik seperti green tea latte yang biasa di order di cafe langganan. Menyesal Pak Abink ga pesen sendiri.

2014-11-13 14.32.14

Tapi tunggu dulu, curiga nih Pak ABink kok Matcha di kasi gula-gula?. Si Ibu yang minum cuma senyum senyum saja dan memaksa Pak ABink untuk mencoba nya. Melihat si Ibu dengan nikmat meminum Matcha nya Pak ABink pun ingin icip-icip. Ternyata rasanya…..wuaduhh….luar biasa kuat rasanya dan pahit. Maklum tidak diberi gula. Beda dengan Green Tea Latte yang biasa di order heheheh.

2014-11-13 14.33.36 2014-11-13 14.35.21

Lihat lah perbedaan ekspresi antara si penggemar Matcha dan penggemar green tea latte. Setelah puas menikmati secangkir Matcha dan sepotong mochi, Pak dan Bu ABink langsung kembali ke Train Station untuk lanjut ke Shibuya untuk melihat secara langsung Shibuya Crossing yang tersohor dan juga Patung Hachiko yang melegenda.

Japan Trip – Narita Express dan Akihabara

Hampir tiga bulan blog keluargahussein tidak tersentuh. Maklum dua kontributor nya – Bapak dan Ibu Abink lagi sibuk dengan urusan masing-masing. Si cantik Alia pun juga ga mau kalah sibuk dengan urusannya. Setelah tiga bulan tidak update, ada sedikit cerita yang ingin dishare di blog ini agar bisa menjadi kenangan yang selalu diingat dan mungkin berguna bagi teman-teman yang berkunjung di Blog KeluargaHussein.

Sekitar bulan Nopember yang lalu Bapak dan Ibu Abink berkesempatan untuk berkunjung ke Tokyo Jepang. Bukan murni jalan-jalan tapi lebih tepat nya jalan-jalan akademis karena di Tokyo, Pak dan Buk Abink menghadiri serta mempresentasikan hasil penelitian pada International Symposium on Business and Management (ISBM) 2014 yang di adakan di Meiji University Tokyo.

Jalan-jalan kali ini benar-benar rejeki nomplok karena kami berdua tidak perlu merogoh kocek karena seluruh biaya ditanggung institusi kami masing-masing. Bu Abink di sponsori oleh riset bujet Lincoln University dan saya pun di sponsori oleh Univ Brawijaya.

Sudah sejak dua bulan sebelumnya kami berdua mempersiapkan trip. Khususnya Bu Abink yang akan berangkat dari New Zealand. Sudah hampir dua bulan sebelumnya tepat nya sejak paper kami berdua diterima dan funding disetujui, Bu Abink langsung berburu tiket, hotel dan “mempelajari” tempat-tempat menarik yang harus dikunjungi beserta bagaimana cara mencapainya. Akhirnya setelah brosing kanan-kiri, Bu Abink memutuskan untuk naik Singapore Airlines dengan rute Christchurh-Singapore-Narita. Serta memilih untuk tinggal di Akihabara. Alasan memilih Singapore Airlines sepele saja karena untuk sementara rute NZ-Asia itu maskapai paling enak ya Singapore Airlines. Selain itu Bu Abink ada rencana untuk pulang liburan ke Indonesia, jadi dari tinggal beli tiket Singapore-Surabaya. Sedangkan Akihabara dipilih karena distrik itu cukup dekat dengan Meiji University dan banyakHotel yang terjangkau oleh pendanaan kami. Ditambah lagi, bu Abink ngincer salah satu hotel yang bersebelahan dengan Akihabara station, biar kalo mau jalan-jalan gampang.

Camera 360

Setelah Tiket dan hotel di booking, Bu Abink mulai mengurus visa Jepang. Mengurus Visa Jepang di New Zealand tidak terlalu rumit. Bu Abink cukup datang ke Konsulat Jepang di Christchurch, menyerahkan formulir dan persyaratannya. Kurang dari dua minggu visa Bu ABink sudah selesai. Dikarenakan sibuk, Pak ABink menunda pengurusan visa sampai sekitar sebulan sebelum keberengkatan. Itu juga karena di marahi Kai Roben dan didesak Bu Abink untuk segera mengurus visa. Setelah membuka website Kedutaan Jepang di Indonesia, maka Pak ABink memutuskan untuk meminta bantuan travel untuk menguruskan visa tersebut. Sebenarnya mengurus sendiri tidak sulit. Tetapi jika mengurus sendiri ada acara untuk menyampaikan berkas ke Konsulat Jepang di Surabaya dimana Pak Abink agak kesulitan untuk mencari waktu. Akhir nya cara mudah yaitu dengan minta jasa travel agent.

Karena tujuan dari kunjungan ke Jepang adalah untuk konferensi, maka Pak ABink mengajukan aplikasi untuk visa bisnis. Berbekal surat pengantar dari Pak Dekan dan berkas-berkas persyaratan lainnya (bisa dilihat di : http://www.id.emb-japan.go.jp/visa.html) Travel agent yang membantu pengurusan visa mengirimkan aplikasi ke Konsulat Jepang di Surabaya. Hampir seminggu tidak ada jawaban. Hari ke delapan, Pak ABink di e-mail petugas dari travel agent yang melaporkan bahwa untuk aplikasi visa bisnis harus ada undangan dari pihak penyelenggara. Sebenarnya Pak ABink sudah melampirkan surat undangan dari pihak penyelenggaran konferensi. Akan tetapi konsulat Jepang minta surat yang lebih detail yang ditulis dalam Bahasa Jepang. Dikarenakan urusannya yang terlalu rumit, maka diputuskan Pak Abink beralih dengan mengajukan aplikasi untuk visa kunjungan sementara. Bedanya untuk visa ini harus menunjukkan bukti keuangan tiga bulan terakhir. Sukur di tabungan PAk ABink masih ada sisa-sisa yang cukup untuk bukti keuangan. Akhirnya setelah seluruh persyaratan diberikan, kurang dari seminggu Pak ABink mendapatkan visa Jepang.

Setelah mendapatkan visa Jepang maka tinggal menunggu hari keberangkatan. Hari keberangkatan adalah 12 Nopember 2014. Padahal hari itu Pak ABink sedang kedatangan seorang Professor dari Lincoln University. Yaitu Professor Gan. Akan tetapi atas bantuan dari kolega-kolega di kampus, Professor Gan tetap bisa melakukan kegiatah sesuai rencana dan PAk Abink bisa berangkat ke Jepang.

Berbeda dengan rute Bu Abink yang mengambil rute Christchurch-Singapore-Narita, rute yang diambil Pak Abink dengan menggunakan Garuda Indonesia adalah Surabaya-Denpasar-Narita. Berangkat dari Surabaya sekitar pukul 8 malam transit di Denpasar sekitar 3 jam dan berangkat ke Narita Tokyo sekitar jam 1 WITA. Tiba di Tokyo sekitar pukul 8 pagi.

Urusan imigrasi sangat lancar. Tidak ada masalah, Yang menjadi masalah itu adalah bagaimana cara menuju Akihabara. Tetapi dengan bekal informasi dari Bu Abink maka Pak ABink bisa menemukan jalannya dengan mudah. Bagaimana jalannya??

Bagi yang akan ke Tokyo melewati Narita — FYI jika trip ke Tokyo pesawat bisa landing di Narita atau di Haneda. tergantung rute mana yang ingin kita ambil. Kasus kali ini Pak Abink mengambil jalur Narita. Di Narita Airport, Pak Abink membeli tiket Narita Express. Bu Abink juga menyarankan untuk membeli tiket terusan JR Train. Gampang sekali dipintu keluar setelah custom sudah bisa dibeli tiket Narita Express (NEX). Untuk ke Akihabara, Pak ABink harus membyar sekitar 1500 yen. Kemudian beli tiket terusan JR Train 2500 yen dimana 500 adalah deposit.

Logo Narita Express
Logo Narita Express


Mencari platform Narita Express sangat mudah. Banyak tulisan di papan pengumuman sehingga tidak akan tersesat. Menunggu sekitar 10 menit kemudian Narita Express datang. Ketika datang, calon penumpang tidak boleh langsung naik. KArena petugas kebersihan dengan sigap membersihkan gerbong kereta. Cukup nyaman didalam gerbong Narita Express

Penampakan Gerbong Narita Express
Penampakan Gerbong Narita Express

Interior gerbong Narita Express ini hampir sama dengan pesawat. Tidak beda jauh dengan kereta di Indonesia, di dalam Narita Express juga ada pedagan makanan. Bedanya pedagang makanannya memang bagian dari NEX. Sehingga jauh dari kesan kumuh dan kotor seperti di kereta-kereta di Indonesia.

Narsis di dalam Narita Express
Narsis di dalam Narita Express

Untuk menuju Akihabaran memakan waktu sekitar 1 jam. Narita Express tidak stop di Akihabara. Sehingga rute nya adalah Narita-Tokyo-Akihabara. Dari Tokyo train station sambung dengan Yamanote Line yang ke arah Ueno (untuk detail lokal train bisa dilihat di: http://www.jreast.co.jp/e/index.html). Untuk tiket ke Akihabara dengan Yamanote Line ini tidak perlu bayar karena sudah include dengan tiket NEX.

Di Akihabara Bapak dan Ibu ABink menginap di REMM Akihabara. Dalam pikiran Pak ABink untuk mencapai REMM Akihabara harus berjalan beberapa blok lagi. Ternyata REMM AKibhara berada tepat disamping Akihabara Stasiun.

Distrik Akihabara
Distrik Akihabara

Sedikit informasi, Akihabara ini tempat yang paling cocok untuk berburu barang-barang elektronik. Disekitar area tersebut dapatdijumpai dengan mudah toko-toko yang menjual alat elektronik. Selain elektronik, Akihabara juga terkenal sebagai tempat kelahiran AKB48 sister group nya JKT48 yang sedang naik daun itu :D.

AKB48 Cafe Shop
AKB48 Cafe Shop

Di Akihabara Pak ABink dan Bu Abink tidak banyak melakukan kegiatan. Karena Akihabara hanya sebuah distrik bisnis. Dari Akihabara beberarapa tempat dapat dengan mudah dikunjungi seperti Asakusa, Shibuya Crossing, Ueno Park dan Tokyo Dome. Ditulisan lain Pak Abink atau Bu Abink akan bercerita mengenai tempat-tempat menarik di Tokyo.

Napak Tilas New Zealand 2014: Invercargill dan Bluff

Masih mau cerita tentang liburan kami awal Agustus lalu.. Maap kalo udah pada bosen 🙂  Setelah sehari di Queenstown, kami lanjut nyetir ke Invercargill, kota paling selatan di NZ. Sebenernya dari dulu bapak Abink udah pengen banget ke Invercargill, tapi belum ada kesempatannya dan saya dulu suka nggak mau di ajak ke sana. Sekarang saatnya untuk diwujudkan keinginannya menjelajah New Zealand sampai ke ujung selatan. Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam aja dari Queenstown. Pemandangan sepanjang jalan nya mashaAllah baguuss banget! Diawali dengan menyusuri danau Wakatipu, terus lewat padang rumput yang kadang kosong, kadang penuh domba, sapi dan kijang, trus lewat kota-kota kecil yang cantik.. Cakep deh ! Sayangnya, sepanjang perjalanan hujan dan gerimis mengundang..

rainbow

Menyusuri Lake Wakatipu
Menyusuri Lake Wakatipu
Kingston
Kingston
Kingston (Kesalahan bukan pada mata anda. Ini fotonya emang burem :p
Kingston (Kesalahan bukan pada mata anda. Ini fotonya emang burem )

Invercargill.  Kami sampai di Invercargill sudah sore dan hari (masih) hujan.. jadi kami sengaja mampir ke supermarket untuk belanja cemilan dan sedikit bahan-bahan untuk masak makan malam. Untungnya di Invercargill kami nginepnya di motel, jadi bisa masak dan nggak perlu keluar cari makan malem. Oiya sebelum ke motel, kami sempet mampir ke warehouse juga beli boots murah meriah untuk saya dan ALia karena sepatu kami nggak tahan air jadi kaos kaki ikutan basah dan jadi dingin banget.. Karena sepatu saya sobek dikit (duh, kesian amat ya) terpaksa saya buang sepatu kesayangan yang udah menemani selama 3 tahun 😦 tapi sekarang udah ada gantinya sih, hasil hunting diskonan sehari hahaha..

Motel di Invercargill ini bisa dibilang motel terbaik yang pernah kami (saya) tinggali (walaupun cuma semalem ya). Kalau dari bangunannya memang nggak terlihat istimewa, ya standar bangunan motel biasa.. Tapi, pas nyampe di reception, ibu receptionisnya super ramah, trus kamar nya luuuaaaassss banget, ada spa bath di kamar, dan yang pasti harganya murah 🙂 Saking saya terpesonanya sama pelayanan motel ini, saya bela-belain foto di depan motelnya loh, biar jadi kenang-kenangan hahaha 😀

invercargill2

invercargill1
Invercargill water towerS

Setelah check out pagi-pagi, kami langsung menuju Invercargill water tower dan lanjut ke Bluff, ujung selatan New Zealand. Di Bluff kami cuma poto-poto aja, trus jalan di walking tracknya, dan kunjungan kami ke Bluff ditutup dengan menikmati brunch di cafe pinggir laut 🙂 sayangnya pas kami ke sana lagi nggak musim oyster, jadi cafe-nya nggak sedia oyster.

bluff

bluff2
Bluff Walking Track
bluff4
Bluff Walking Track
bluff3
Bluff Cafe

Abis dari Bluff kami langsung balik ke Queenstown lagi untuk pulang ke Christchurch naik bis besok paginya. Ini beberapa foto yang kami ambil selama perjalanan Queenstown-Invercargill/Bluff-Queenstown-Christchurch.

Camera 360

Camera 360
Nggak peduli rumputnya hijau atau udah cokelat, para domba tetep makan dengan lahap. Itu yang bintik2 putih di tengah2 itu domba looh..
Camera 360
Domba-domba yang lagi digiring
SInggah sebentar di Wanaka
Wanaka

Napak Tilas New Zealand 2014: Lake Tekapo & Queenstown

Bisa dibilang lake Tekapo adalah tempat wisata yang paling sering kami kunjungi selama tinggal di NZ. Selama 3.5 tahun di New Zealand, kami sudah 4 kali ke sana di 3 musim yang berbeda (winter, spring dan autumn). Pas Alia dan bapak Abink ke NZ kemaren, kami merencanakan untuk liburan ke luar kota Christchurch untuk 2-3 hari waktu weekend. Sebenernya bapak Abink pengen ke North Island ke Rotorua & Matamata atau ke Wellington. Tapi karena saya cari tiketnya agak mepet, jadi harga tiket pesawat udah mahal aja.. Jadi kita cari alternative liburan yang sesuai budget. Setelah mempertimbangkan waktu, tenaga dan ketebalan dompet, akhirnya diputuskan ke Queenstown (lewat lake Tekapo) dan Invercargill aja.

Liburan kali ini kami sewa mobil dari Christchurch ke Queenstown trus pulangnya naik bis. ALesannya sih biar ngirit (secara tiket pesawat kok ya pas mahal bener) dan sekalian biar bisa brenti-brenti di jalan untuk nostalgia dan poto-poto. Jadi, monggo dinikmati foto-foto amatirnya….

Perjalanan dari Christchurch Lincoln ke Lake Tekapo perlu waktu sekitar 3 jam. Karena kami berangkat pagi dan bapak Abink nggak sempat ngopi, jadi kami berhenti dulu untuk beli kopi di salah satu cafe di daerah Dunsandel. Take away aja….

dunsandel cafe
Dunsandel cafe

Sekitar satu setengah jam dari Dunsandel, kami berhenti lagi di Geraldine. Salah satu kota kecil yang cantik, dan setiap jalan ke Tekapo kami selalu mampir ke kota ini untuk istirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Tekapo.

geraldine
Geraldine Museum

Lake Tekapo. Karena ini kelima kalinya kami ke Lake Tekapo, jadi kami sepakat untuk nggak berlama-lama di sini. Di Lake tekapo, kami cuma berhenti sebentar untuk foto-foto di depan danau, di depan patung anjing dan di depan gereja kecil yang banyak dicetak di kartu pos itu..  Sayang kami fotonya cuma pakai kamera HP jadi hasilnya nggak begitu bagus. Padahal bapak Abink bawa “kamera beneran” lohh.. tapi nggak tau kenapa selama liburan kami nggak pake kameranya jadinya hasil fotonya nggak maksimal (halahh, padahal belum tentu bagus juga kalo pake kamera beneran 😀 hahaha..) Oiya, cerita tentang lake Tekapo juga sudah pernah di posting di sini , di sini dan di sini yaa..

tekapo5
Bapak Abink n Kk ALia (yang banyak gaya) di depan Lake Tekapo
tekapo8
Lake Tekapo
tekapo4
Lake Tekapo dan Church of The Good Shepherd – foto ini diambil bapak Abink sekitar summer 2 tahun lalu- kemarin nggak dapet foto yg bagus di tekapo 😦

Biasanya, kalo udah sampe Tekapo, kami selalu menyempatkan untuk naik ke Mt John untuk liat Lake Tekapo dari atas gunung. Tapi kali ini kami memutuskan nggak naik ke Mt John karena ngejar sholat Ashar di Queenstown. Tapi, kita berhenti makan siang dulu di lake Pukaki sekitar 1 jam dari lake Tekapo. Makan siang kami hari itu smoked salmon sandwiches pake sambel ABC 🙂 yumm…

Sampe Queenstown udah sore, dan agak gerimis. Jadilah sore itu kami cuma keluar cari makan malam sebentar di tengah kota terus balik ke Hotel untuk istirahat.

Queenstown

Ini keempat kali nya kami ke Queenstown, tapi kami masih tetap excited karena kami mencoba ‘atraksi’ yang berbeda. Liburan ke Queenstown kali ini, selain jalan-jalan di sekitar ‘queenstown mall’, kami pengen coba cruising di lake Wakatipu. Berbekal tiket diskonan, kami mengarungi lake Wakatipu selama 1.5 jam. Sayangnya, hari itu hujan deras, jadi indahnya lake Wakatipu nggak keliatan maksimal.

Lake Wakatipu
Lake Wakatipu
wakatipu1
Cruising Lake Wakatipu
queenstown4
Quuenstown Mall in the morning
Camera 360
Hotel tempat kami menginap, persis di depan Lake Wakatipu

Selain cruising di lake Wakatipu dan jalan-jalan di sekitar kota, kami juga sempat coba masuk ke minus5 icebar. Walaupun namanya minus5, tapi di dalem ruangannya jauuuuhhh lebih dingin dari minus 5. Makanya mereka juga menyediakan jaket, sarung tangan bahkan topi juga kalu mau pake topi. Tiket masuk yang saya beli sudah termasuk complimentary drink. Kebetulan saya beli family pass (lagi diskon banyak banget) dapet 2 cocktail dan 2 mocktail. Karena kami nggak minum alkohol sama sekali jadi kami bertiga pesen mocktail semua. Di sini, semuanya terbuat dari es. Mulai dari kursi, hiasan-hiasan sampai gelasnyapun terbuat dari es. Yang paling seneng di icebar ini tentu aja Alia.. Dari sehari sebelumnya, dia udah nggak sabar pengen liat gelas es dan pengen jilat-jilat gelas esnya, pengen duduk di kursi es juga katanya.. Overall, pengalaman di ice bar ini lumayan lah, tapi kalau ditanya mau ke sana lagi atau enggak, mungkin saya akan bilang enggak 🙂 Harga tiketnya (kalo nggak diskon) menurut saya agak overpriced juga. Tiket masuknya aja dihargai $20 atau $25 untuk entry + mocktail atau $30 untuk entry + cocktail. Mahal kaan… Tapi kadang di website diskonan kayak grabone atau bookme suka ada diskonan kok.

Camera 360
Kami cuma bertahan sekitar 15-20 menit aja di dalam icebar, karena kedinginan… Malam itu, kami memutuskan untuk makan malam dipinggir Lake Wakatipu aja, sekaligus menikmati malam terakhir di Queenstown.

queenstown1
Lake Wakatipu
Pavlova for desert
Big Pavlova. Yuummm….
Lagi di gunung tapi makannya seafood :)
Lagi di gunung tapi makannya seafood 🙂

Walaupun udah kenyang, saya nggak bisa tahan untuk nggak mampir jajan hot cookies-nya Cookie Time. White chocolate and macadamia cookies-nya yummyyy…… Setelah bungkus beberapa hot cookies, kami langsung balik ke hotel karena Alia udah rewel pengen istirahat dan udara malam itu dingiiiinnn banget. Lagipula, besok pagi kami harus melanjutkan perjalanan napak tilas New Zealand 2014 ini 😀