Tentang Lagu Anak-anak

Punya anak kecil pasti harus selalu update dengan lagu anak-anak. Salah satu lagu anak-anak yang saya nyanyiin sejak Alia masih bayi adalah lagu ‘Oh Amelia’ ciptaan Pak AT Mahmud. Tapi saya suka ganti liriknya menyesuaikan nama Anak, menyesuaikan suasana atau menyelipkan harapan saya sebagai ibu nya Alia. Jadi liriknya setiap nyanyi bisa beda-beda dan kadang agak ‘narsis’ hehehe…  dan judul lagunya pun ikutan diganti sama Alia jadi ‘Oh kakak Alia’. Sampe sekarang kalau Alia lagi nggak bisa bobok atau lagi nggak enak badan dia kadang minta di puk-puk sambil dinanyiin lagu ‘Oh Kakak Alia’. Misalnya kayak gini nih liriknya :

Oh kakak Alia, anak pintar, anak solehah..

Selalu gembira, riang slalu sepanjang hari

Oh Kakak Alia, anak sopan anak yang cerdas..

Dimana-mana, kakak Alia temannya banyak.

Begitu ALia agak gede, umur setahunan, saya mulai mengenalkan Alia sama Barney. Jadi pas pindahan ke NZ, saya sengaja bawa VCD Barney banyak banget, dan para kakek neneknya juga sering ngirim VCD Barney buat Alia dan makanan buat bapak ibunya. Kenapa barney? karena banyak lagu-lagu yang bagus-bagus dan gampang diikutin iramanya. Jadilah, bukan cuma Alia yang nge-fans sama barney, tapi saya dan bapak Abink juga apal banget sama lagu-lagu Barney 🙂

Begitu lebih gedean lagi, Alia mulai suka nonton acara anak-anak di TV, tetep yang banyak lagu-lagunya kayak Tiki Tour Bus, Blue’s Clues, dan the Wiggles. Karena Tiki Tour dan Blue’s Clues lagunya susah untuk diikutin, jadilah Alia lebih suka nonton the Wiggles, dan mulai minjem-minjem CD the Wiggles dari Library.

Sebenernya, awalnya Alia nggak begitu suka nonton the Wiggles, saya jug agak-agak aneh liat 4 bapak-bapak nyanyi lagu anak-anak sambil joget-joget 🙂 tapi lama kelamaan jadi suka dan apal lagu-lagunya. Bahkan, waktu the Wiggles konser di Christchurch kami sempetin buat nonton.

The Wiggles2
Farewell Concert di CBS Canterbury Arena-Christchurch

Begitu Alia umur 6 tahunan, saya pikir harus cari tambahan referensi lagu anak-anak buat Alia, terutama yang berbahasa Indonesia. Di ulang tahun Alia yang ke 6, saya sengaja nyari CD lagu anak-anak buat kado ulang tahun Alia. Saya coba cari lagunya Tasya, Sherina, sampai lagu-lagu ciptaan Pak Kasur atau Ibu Sud. Tapi susah banget dapetinnya 😦 akhirnya nemu kumpulan lagu anak Indonesia sepanjang masa, tapi kualitas rekaman dan penyanyi nya nggak menarik dan nggak sesuai harapan. Alia juga nggak enjoy dengernya. Karena susah dapet lagu anak-anak yang cocok, dia jadi suka denger lagu-lagu remaja dan dewasa yang dinyanyiin sama BTR atau One Direction 🙂 Lagunya emang enak-enak sih, tapi saya masih pengen selain denger lagu-lagu dewasa/remaja, Alia juga denger lagu anak-anak yang sesuai umurnya.

Sampai tahun lalu, saya denger lagu anak-anak yang dinyanyiin sama Naura, anaknya Nola B3. Begitu Alia denger lagu-lagunya, dia langsung suka, dan nggak berhenti dengerin lagu-lagu Naura. Sejak saat itu, Alia jadi nge-fans banget sama Naura. Kadang saya biarin aja dia nonton Naura TV, update kegiatan-kegiatan Naura 🙂 Alia paling seneng liat Naura pas latihan Gymnastic. Emang dasarnya dari kecil Ailia udah suka jungkir balik, jadinya dia suka pengen ikut2an. Sampe pernah dia bilang pengen ikutan les gymnastic. Tapi, saya belum nemu ada Gymnastic club di Malang buat anak-anak. Alia juga pernah bilang kalau Alia pengen ke Lincoln lagi, karena dia inget dulu pernah ikutan Gym class, trus disekolahnya juga ada monkey bars jadi bisa latian. Duh nak, berat diongkos dong kalau ke Lincoln cuma buat ikutan Gym class  😀

Bulan lalu, Naura ngeluarin album ke dua yang bisa dibeli di toko Ayam goreng. Pastinya saya langsung beli, takut keabisan. Jadilah selama beberapa minggu ini, CD Naura Album 1 tergantikan oleh Album ke 2. Tapi saya dan bapak Abink nggak ada yang protes, karena kam juga suka lagu-lagunya 😀 Happy banget, akhirnya ada lagi lagu anak-anak yang berkualitas, liriknya bagus-bagus dan dinyanyikan secara indah dan “serius”. Ayo dong Naura, bikin konser di Malang nanti pasti Alia nonton deh!

Advertisements

Ujian Thesis Doctoral ala New Zealand University (2) : via Video conference

SONY DSC
Saat menghadiri Wisuda tahun lalu. Sayangnya bukan saya yang diwisuda 🙂

Delapan April 2016 adalah hari wisuda di Lincoln University (LU). Saya seharusnya bisa diwisuda bersama kawan-kawan lain di LU, tapi saya memilih “Graduate in Absentia” karena kondisi yang ngggak memungkinkan untuk saya datang ke NZ.

Kalau sekitar 3 tahun yang lalu Bapak Abink sudah pernah cerita dengan Judul yang sama di sini tentang bagaimana ujian doktoral di Lincoln University, kali ini saya bawa cerita ujian yang sedikit berbeda dengan pengalaman bapak Abink 3 tahun lalu.

Begitu saya submit thesis, dan menyelesaikan kontrak kerja, saya langsung balik ke Indonesia. Meja kerja sudah saya kembalikan ke bagian administrasi untuk bisa dipakai oleh orang lain. Tapi, saya masih pakai locker saya untuk simpan beberapa barang yang kira-kira saya butuhkan kalau balik lagi NZ untuk ujian. Waktu itu memang rencananya saya bakal balik ke LU untuk ujian sekitar akhir tahun 2015 atau awal tahun 2016. Bahkan saya masih nitip koper isi baju dll di rumah seorang teman. Tapi, lagi-lagi kita cuma bisa berencana, tapi Allah siapkan rencana lain buat saya. Karena waktu itu nggak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh, saya harus rela ujian jarak jauh, lewat video conference. Waktu itu rasanya kecewa, karena waktu pulang ke Indonesia saya sama sekali nggak ada persiapan untuk ninggalin NZ untuk waktu yg belum ditentukan. Saya kira bakal ketemu NZ lagi dalam 4-6 bulan setelah kepulangan saya ke Indonesia. Tapi, karena terbang ke NZ lagi adalah pilihan terakhir, akhirnya saya pasrah aja, ngurus ujian jarak jauh ini biar jadi lancar..

Proses setelah submit thesis sampai ujian, kurang lebih hampir sama dengan pengalaman Bapak Abink. Tapi, entah kenapa waktu tunggu saya lebih lama. Saya harus nunggu sekitar 5 bulan sampai saya dapat email panggilan untuk ujian. Mulai tahun ini LU punya kebijakan baru mengenai ujian thesis doktoral. Kali ini, pembimbing tidak ikut andil dalam penilaian. Tugas pembimbing sudah selesai sampai kita submit thesis kita untuk dinilai oleh examiners. Artinya keputusan layak atau tidaknya sebuah thesis untuk mengantarkan seorang candidat doktor untuk menyandang gelar Doktor hanya berada di tangan para penguji. Kebijakan baru ini bikin saya lebih deg-deg an, karena thesis saya akan dinilai oleh orang-orang yang saya sama sekali nggak tau siapa aja mereka.

Tapi, dibalik kebijakan LU yang bikin deg-deg an, ada juga kebijakan lain yang menurut saya menguntungkan student. Ketika kita terima email yang menyatakan bahwa thesis kita layak untuk diuji secara oral, kita juga bakal langsung dapat review yang ditulis oleh para examiners. Jadi, kita udah tau kelebihan dan kelemahan thesis kita di mata examiners. Jadi kita bisa siap-siap buat oral examinationnya nanti.

Thesis examination melalui video conference sebenarnya belum biasa dilakukan di Lincoln University. Untuk bisa ujian jarak jauh, saya harus mengirimkan surat dokter yang menyatakan bahwa saya tidak direkomendasikan untuk terbang ke NZ.

Beberapa minggu sebelum hari ujian, saya sudah lumayan intens komunikasi dengan postgrad administrator dan convenor mengenai apa aja yang harus dipersiapkan untuk ujian jarak jauh dan juga mengatur jadwal yang cocok untuk saya yang di Indonesia, supervisor & convenor di NZ dan examiner di Australia. Selanjutnya, untuk memastikan koneksi internet dan komunikasi lancar, saya sempat 2x melakukan percobaan teleconference. Yang pertama, hanya berdua dengan convenor, dan yang selanjutnya rame-rame sama IT personnya LU, Postgrad Administrator, dan examiners.

Ujian thesis waktu itu jatuh di Hari Selasa, jam 9 pagi WIB, jam 3 sore waktu NZ, jam 1 siang waktu Australia. Saya udah siap dari pagi, saking deg-deg annya 🙂 Udah stand by di depan laptop 15 menit sebelum jam 9. Ujiannya sendiri berlangsung selama 45-60 menit aja. Dimulai dengan presentasi dari saya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Alhamdulillah, examiners  saya lumayan gampang ‘dipuaskan’ dengan jawaban-jawaban saya. Setelah sesi tanya jawab berakhir, teleconference dengan saya diputus supaya supervisors, convenor dan examiner bisa diskusi mengenai hasil ujian. Saya tinggal menunggu convenor menghubungi saya untuk bergabung lagi. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, akhirnya saya dihubungi dan diyatakan lulus. Yeaaayyy Alhamdulillah…

Viva

Intinya, ujian secara langsung atau melalui video conference ada plus dan minusnya. kalau ujian langsung komunikasinya pasti lebih lancar, diskusi mengenai revisi (kalau ada) juga bakal lebih jelas. Tapi kelemahannya, kalau udah pulang ke Indo harus ngeluarin biaya banyakk 🙂

Kalau ujian lewat video conference lebih banyak yang harus dipersiapkan, terutama konekasi internet yang stabil. Pre-test juga penting banget dilakukan beberapa hari sebelum ujian. Persiapan video conference nya sendiri sebenernya nggak begitu ribet karena kita tinggal tunggu undangan Skype meeting (Lync) dari postgrad adminstrator atau IT person. Tinggal klik-klik untuk instal dll aja.

Yang terpenting untuk ujian langsung maupun video conference adalah persiapan, baca lagi thesisnya, yakin aja kalau kita adalah orang yang paling tau tentang apa yang kita tulis selama 3 tahun terakhir. Dan jangan lupa banyak berdoa..

Berburu Sekolah (2)

Sekolah hari pertama Alia.jpg

Setelah cerita sekilas tentang berburu TK dan daycare buat Alia sepulang dari NZ di postingan yang ini, kali ini mua cerita sedikit tentang berburu  sekolah dasar untuk Alia, sekalian menjawab beberapa email yang masuk tanya tentang sekolah dasar di Malang.

Karena sudah lewat setahun, dan saya nggak nyimpen brosur-brosur sekolah yg kami survey, jadi cerita berburu sekolah ini bakal singkat aja, mengingat ingatan saya yang lumayan ‘pendek’. Mudah-mudahan bisa ngasih sedikit gambaran tentang beberapa SD di malang.

Sebenernya jauh-jauh hari kami udah mulai cari tau tentang SD di Malang, tapi ya cuma sepintas lalu aja. Tapi kami sudah punya beberapa gambaran kriteria sekolah yang kami mau.

1. SD MIN Malang  di Jl. Bandung. Ini salah satu SD favorit di Malang. Selain belajar pelajaran umum, pelajaran agama islam nya banyak, termasuk pelajaran bahasa arab dll. Setahun bisa terima 3-4 kelas, tapi seleksinya emang ketat karena peminatnya banyak. Pendaftaran dibuka Sekitar bulan Maret-April. Kalau nggak salah tes di sekolah ini cuma psikotes dan wawancara aja.

2. SD Islam Sabilillah di kawasan Masjid Sabillilah, depan pasar Blimbing. Ini juga banyak tambahan agama Islamnya. Anak-anak sekolah sampai jam 3 (pulang setelah sholat ashar)  dan nggak ada PR lagi di rumah. Persaingan masuk lumayan ketat, karena banyaknya peminat. Untuk bisa  sekolah di SD ini, ada tes mengaji juga. Nilai plusnya, anak-anak juga diajari menghapal Qur’an. Pendaftaran SD Sabilillah ini biasanya sudah dibuka di bulan Maret.

3. SD Unggulan Permata Jingga. Ini SD Swasta Nasional masih baru di sekitar Sawojajar. Sekolah ini adalah sekolah inklusi yang juga menerima murid berkebutuhan khusus jadi anak-anak  bisa belajar berempati. Plus nya sekolah ini nggak pakai TES MASUK, dan metode pendidikannya menyenangkan jadi nggak bikin anak jenuh. Untuk yang beragama Islam, ada sholat Dhuha di sekolah setiap pagi.

4. SD Anak Soleh di Jl. Arumba. Hampir sama seperti SD Islam lainnya. Tapi karena masih relatif baru, seleksi masuknya nggak begitu ketat. Menerima 2 kelas setiap tahun. Nilai plusnya, selain sekolah berbasis agama, SD Anak Saleh ini punya halaman yang luas. Tapi, kurangnya, jalan masuk ke Jl. Arumba masih sempit dan kebayang macetnya dan ramenya kalau pagi pas nganter sekolah. Sebagai supir kurang pengalaman, saya keder deh kalau harus lewat situ tiap pagi 🙂

5. SD PJ Global School di Permata Jingga, di perumahan Permata Jingga. Tes nya nggak ketat, setahun terima 2 kelas, tapi tiap kelas cuma dibatasi 20 orang. Pakai 2 kurikulum, nasional dan kurikulum dari Singapore. Bahasa pengantar bahasa Inggris. Setiap pagi, untuk yg muslim sholat dhuha, yang beragama lain beribadah sesuai agamanya di tempat terpisah. Sekolah ini juga baru buka cabang baru di Jl. Raya Langsep.

6. SDN Kauman (sebelah hotel pelangi). Ini SD negeri favorit di Malang. Terkenal input dan output nya bagus, tapi memang sekolahnya jadi lebih berat ada PR, dll.

Sebenernya untuk yang mau cari sekolah Islam, masih ada lagi sekolah-sekolah Islam lain, seperti SD Insan Amanah di Griyashanta, SD Moh. Hatta di Jl. Simpang Flamboyan atau SDIT Insan Permata di sekitar Sengkaling. Untuk yang mau cari sekolah nasional berwawasan Internasional (berbahasa Inggris) ada SD Lab UM di kawasan Univ Negeri Malang, atau sekolah Gracia di Jl Bunga Lely.

Lagi-lagi saya nggak bisa kasih masukan spesifik sekolah mana yang terbaik di Malang. Kan kebutuhan dan prioritas tiap anak & orang tua berbeda-beda.

Alhamdulillah kami sudah nemu sekolah yang paling mendekati kriteria kami (dengan segala plus minus nya), dan sejauh ini Alia happy sekolah disitu..  Tahun ini ALia bakal naik ke kelas 2, trus nggak lama lagi kami harus mulai hunting SMP buat Alia. Hhhmmm atau mungkin hunting TK/Playgroup dulu deh, buat adeknya Alia 🙂

Daylight Saving

Edisi kangen NZ, bertepatan dengan berakhirnya daylight saving time untuk NZ dan sekitarnya 🙂 Buat yang di New Zealand jangan lupa mundurin jamnya sejam, and enjoy the lie-in!

keluargahussein.com

pic from http://www.coloring.com

Daylight saving ends today. Jarum jam harus dimundurin sejam. Karena nggak punya jam dinding, jadi tahun ini saya nggak perlu muter-muter jarum jam. Laptop dan HP pun udah otomatis menyesuaikan jadwal daylight saving.

Dulu waktu jaman-jaman bapak Abink masih kuliah di Australia (sekitar 2006an), saya suka bingung kenapa perbedaan waktu antara Indonesia-Australia berubah-ubah. Kadang beda waktunya 4 jam, trus beberapa bulan kemudian jadi beda 3 jam. Setelah saya browsing-browsing, ternyata karena daylight saving 🙂 Walaupun di beberapa wilayah australia nggak ada daylight saving, waktu itu bapak Abink tinggal di wilayah Australia yang kena dayight saving.

Dari 82 negara di dunia, ada sekitar 73 negara yang memberlakukan daylight saving time (DST). Pastinya ke 73 negara itu yang tidak berada di sekitar garis kathulistiwa. Kalo negara di sekitar garis khatulistiwa kan  jadwal terbit tan tenggelamnya matahari relatif nggak berubah ya. Siang 12 jam, dan malam 12 jam juga.

pic…

View original post 383 more words

Academic Trip: Kuala Lumpur – Kuantan (2)

Sehari di Kuala Lumpur kami habiskan cuma untuk jalan-jalan santai di sekitar hotel dan reunian dengan teman lama, ditutup dengan lunch istimewa di Nando’s.

Ambil koper di hotel, langsung nyari taksi untuk lanjut ke bandara. Waktu sopir taksinya tau kalau kami mau ke Kuatan, dia bilang kalau ke Kuantan mending naik mobil aja, paling 3 jam juga nyampe.. hehehehe… Kita emang udah niatin naik pesawat aja ke Kuantannya, walaupun terbangnya cuma 45 menit 🙂

Sampai Kuntan, kami dijemput teman kuliah waktu di Lincoln dulu, yang kebetulan tinggal di Kuantan dan beliau juga jadi panitia conference yang kami hadiri. Setelah makan malam, Langsung diantar ke hotel untuk istirahat. Di Kuantan kami nginap di SwissBell Garden Resort Hotel, tempat diadakannya conference. Sengaja pilih di situ biar deket sama tempat conference dan kebetulan hotelnya punya akses langsung ke pantai. Ditambah lagi playground dan kolam renang anak-anak nya cukup luas, walaupun, bangunan dan interior kamarnya udah keliatan tua..

kuantan 2

Sebenernya saya dan bapak Abink punya jatah masing-masing satu kamar, tapi karena nggak pengen ‘pisah ranjang’ dan Alia masih nggak mungkin bobok beda kamar sama kami, jadi saya minta satu kamar aja buat kami, tapi minta upgrade ke family room 🙂 Sebelum berangkat, urusan upgrade kamar sebenernya udah beres lewat email. Tapi nggak tau kenapa waktu kita check in, kamar yang dijanjikan belum siap. Jadilah kami dikasih dua kamar, dan dijanjikan untuk pindah ke family room besoknya. OK deeehh….

Hari ke-2 di Kuantan, diisi oleh conference seharian. Di acara pembukaan dan sesi hari pertama ini kami sengaja ajak Alia karena nggak pengen absen, tapi saya ngalah, duduk di belakang aja nemenin Alia. Pas break makan siang, kami sengaja nggak makan di tempat conference karena pengen liat-liat kota Kuantan sekalian makan siang di luar aja. Akhirnya pesen taksi, muter kota Kuantan. Kuantan ini kota pantai di Pahang. Feel nya kayak di Banjarmasin. Ya panasnya, ya suasanya, mirip Banjarmasin. Cuma memang kota Banjarmasin keliatan lebih gede dan lebih rame kotanya.

Setelah puter-puter kota, trus diantar sama pak sopir taksi nya ke East Coast Mall, mall terbesar di kuantan untuk makan siang. Cari-cari foodcourt nggak ketemu, akhirnya kami pilih makan di warung ayam aja, mesen 2 paket Nasi Ayam yang ternyata enaaaakk dan lengkap banget. Nasi ayam Hainan ini juga favorit bapak Abink setiap ke Singapore/Malaysia, selain es Bandung 🙂

kuantan7

Setelah makan siang kami langsung balik ke hotel lagi untuk ikut conference sesi selanjutnya. Kebetulan saya dan Bapak Abink kebagian presentasi di sesi terakhir conference hari pertama ini. Saya dan bapak Abink di track yang sama, dan Bapak Abink didaulat sebagai chair person di sesi ini. Karena kami presentasi di sesi yang sama, jadilah Alia harus ikut lagi ke dalam ruangan conference. Begitu kami masuk ruangan semua langsung liat ke Alia dan bilang kalau Alia adalah peserta termuda di conference ini 🙂 Lagi-lagi saya memilihkan tempat duduk paling belakang untuk Alia, dan saya menemani disebelahnya. Untungya lagi conference kit-nya ada highlighter warna-warni yang bisa Alia pakai untuk gambar dan mewarna. Alhamdulillah selama conference dan selama bapak Ibu nya presentasi Alia nggak rewel, dan nggak ribut sama sekali. Malah dia inisiatif untuk foto-fotoin saya pas presentasi 🙂

kuantan3

kuantan8

Hari ke-3 di Kuantan, setelah subuh kami langsung ke pantai.. main-main sebentar trus lanjut sarapan. Tapi ternyata setelah sarapan, Alia nagih ke pantai lagi. Ya udah deh, akhirnya saya nemenin Alia main di pantai dan terpaksa absen di sesi terakhir conference. Sementara bapak Abink lanjut conference, saya nemenin ALia main pasir lanjut berenang di kolam renang. Pantainya menurut saya biasa aja, tapi sepiii dan ombaknya nggak besar, enak buat main. Cuma panasnya itu lohh bikin nggak kuat main lama-lama..

kuantan5

Setelah puas main di pantai, saya cuma main di sekitar hotel berdua Alia karena bapak Abink ada undangan untuk ngasih kuliah tamu di University Malaysia Pahang (UMP). Karena conference sudah slesai dan bosen juga stay di hotel, akhirnya saya ajak Alia nge-mall lagi 😀 dan janjian sama bapak Abink di East coast mall (lagi). Karena udah makan siang di hotel, jadilah kami cuma beli manisan aneka buah buat saya, dan es krim buat Alia.

kuantan 4

Hari ke-3 Malamnya, kami janjian sama beberapa teman kuliah di Lincoln yang sekarang tinggal di Pahang untuk makan malam bareng.

Kuantan1
Photo courtesy of kak Maz

Malam terakhir kami di Kuantan terasa spesial, selain karena dinner pakai menu spesial, tapi juga karena makannya rame-rame sama teman dan tetangga di Lincoln dulu.

Perjalanan ke KL dan Kuantan kali ini walaupun cuma sebentar, memang kami niatkan untuk conference, jalan-jalan keluarga dan menyambung silaturahmi dengan kawan lama. Alhamdulillah semua tercapai 🙂

 

Academic Trip: Kuala Lumpur – Kuantan (1)

Di bulan Oktober lalu, saya dan bapak Abink berkesempatan menghadiri dan berpartisipasi di Internasional conference di Kuantan, Malaysia. Ceritanya, ini conference perpisahan sebelum saya lulus dari Lincoln University. Sengaja cari yang deket rumah karena research budget udah menipis dan nggak kepengen nombok hehehhe..

Academic trip ke Kuantan kali ini agak luar biasa, karena kami bawa anak kecil. Iya, Alia ikut nemenin bapak ibunya conference. Awalnya ragu sih, bawa anak kecil ke conference. Tapi setelah tanya sama panitia dan bikin beberapa kesepakatan sama Alia, akhirnya kami putuskan untuk ajak Alia.

Persiapan pergi kali ini memang agak lebih ribet karena saya dan bapak Abink dibiayai oleh instansi yang berbeda, ditambah Alia yang harus bayar dari kantong pribadi. Proses beli tiket, sinkronisasi penerbangan dan tempat duduk perlu effort sedikit 🙂 tapi ya udah lah ya, karena udah diniatin jadi ya dijalani aja. Toh tinggal angkat telepon dan buka internet 🙂

Karena bawa Alia, kita sengaja nambah 2 hari dari jadwal konferens untuk santai-santai. Sebenernya kami nggak menjadwalkan kemana-mana selama di Kl dan Kuantan kali ini. Niatnya cuma untuk conference sekaligus refreshing bertiga. Jadi ngapain aja kita selama di KL dan Kuantan?

DAY 1. KL – Suria KLCC Mall, Bukit bintang & Mini Reunion

Kami berangkat pakai pesawat pagi dari Surabaya ke KL. Sampai di KL,langsung naik taksi ke Dorsett Regency Kuala Lumpur. Alhamdulillah udah bisa langsung cek in. Abis cek ini, kami langsung cuss jalan-jalan ke sekitar bukit  bintang, cari makan siang.. Males yang ribet-ribet, kami akhirnya makan di Food Republic di dalem Pavilion mall aja. Tau nggak apa yang dicari pertama kali sama bapak Abink? Dia cari es Bandung, rose syrup yang wanginya khas ituu…

Abis makan siang, ada insiden Alia mimisan banyaakkk banget, sampe  agak panik karena mimisannya nggak brenti-brenti. Cuaca hari itu memang panasss banget, ditambah capek dan minum es bandung. Akhirnya istirahat bentar di dalem mall, sambil nyusun rencana selanjutnya. Biar nggak terlalu capek, akhirnya kita putuskan untuk ke toko buku Kinokuniya di Suria KLCC mall siang itu naik GO-KL. GO-KL ini free bus yang berhenti dibeberapa titik. Untuk ke Suria KLCC mall, naik yang  green line. Halte GO-KL ini di sekitar  Pavillion mall aja, jadi kami nggak perlu jalan jauh lagi.

Abis hunting buku, kami jalan-jalan aja di dalem mall, dan minum es Bandung lagi 😀 tapi kami nggak lupa untuk poto-poto narsis ala tourist di petronas twin towers juga.. Sayang hari itu KL ditutupi kabut asap yg cukup tebal 😦

KL3

Selain jalan-jalan santai dan hunting buku, agenda kami hariitu adalah ketemuan sama salah satu temen Bapak Abink sewaktu kuliah di Lincoln dulu. Kami janjian di salah satu spot dekat hotel, di Bukit Bintang. Karena waktu janjian uda makin dekat, kami segera naik GO-KL green line untuk kembali ke Bukit Bintang.

KL1

Setelah makan malam, reunian di lanjut di lobby hotel, karena Alia udah capek dan butuh istirahat 🙂

KL4

DAY 2 KL-

Di hari ke-2 ini, kami rencana jalan-jalan sebentar trus lanjut berangkat naik pesawat ke Kuantan setelah makan siang. Karena nggak begitu jauh dari bukit bintang, kami memutuskan untuk ke Central Market (Pasar Seni) aja. Naik GO-KL lagi, tapi yang purple line.

KL5

Sampe di pasar seni, muter-muter bentar trus lanjut naik ke lantai atas ke 3D Illusion Art Museum. Di 3d museum ini ada sekitar 36 foto plus satu ruangan untuk muter film 3d tentang binatang dimana kita bisa “main” bareng bintang-binatang itu. Lumayan seru sih foto-foto di sana.. Alia juga happy banget..

KL6.jpg

KL7

KL8

KL9

Karena waktu nya udah mepet harus brangkat ke bandara untuk lanjut ke Kuantan, kami segera balik ke bukit bintang dan ngeliat ada Nando’s , resto ayam kesukaan kami waktu di Christchurch. Akhirnya diputuskan makan siang dulu di nandos, ambil koper ke hotel, trus langsung lanjut naik taksi ke bandara. Ada yang udah nggak sabar mau main pasir di pantai Kuantan 🙂

Alia & Ibu : Movie Date

Udah dari berhari-hari yang lalu si anak kecil ngajakin nonton film di bioskop. Zootopia. Setiap ngeliat iklannya di TV, si anak kecil selalu minta nonton.

Alia : ” Ini kan udah Februari, Ibu.. kapan kita nonton Zootopia”

Ibu : “Iya nanti ya kak, kalau ada waktu dan ada rejeki kita nonton ya”

Alia : “Janji yaa..”

Akhirnya, kemaren abis jemput Alia ekskul nari di sekolah saya sengaja bawa sandal Alia di mobil. Tadinya mau ajak Alia nge-date berdua makan es krim aja, tapi di jalan kepikiran pengen bikin surprise kecil buat Alia. Sengaja minggirin mobil bentar, trus browsing bioskop mana yang lagi muter film Zootopia, sekalian liat jam tayangnya. Ternyata ada yang main jam 3.15, saya pikir cukuplah waktu untuk ngejar sebelum jam 3.15 sampe sana.

Waktu Alia dikasih tau kalau kita mau nonton Zootopia berdua hari ini, dia seneng banget.. Walaupun dengan catatan dapet parkir, dapet tiket dan ada beberapa kesepakatan kecil sama Alia 🙂

Sampe sana, Alhamdulillah dapet parkir. Tapi, pas mau beli tiket ternyata saya salah liat jam tayang, film nya bukan jam 3.15 tapi jam 13.15. Duh, udah telat banget berarti! Ada lagi baru jam 5 an. Tadinya saya bilang ke Alia nggak usah nonton hari ini. Tapi ALia pengen banget nonton, dan karena udah nyampe tempatnya juga dan Alia oke aja untuk nunggu sekitar 2 jam an, ya udah lah kita beli tiket yang jam 5 itu. Sembari nunggu, kita makan siang dulu di resto fast food favorit anak-anak. Heran juga saya kemaren Alia mesen fish burger plus kentang dan milo, dimakan sampe abis…. Biasanya Alia selalu nyisa kalau makan burger, apalagi pake kentang goreng..

Abis makan, kita mau sholat Ashar di masjid besar depan gedung bioskopnya. Tapi mendungnya gelap banget, takutnya ujan trus nggak bisa balik ke gedung bioskopnya. Tapi Bismillah aja, nyebrang lewat Alun-alun Malang ke Masjid Jami’ yang sungguh adem itu.. Abis sholat kita buru-buru nyebrang lagi ke mall tempat gedung bioskopnya. Sebenenrya Alia minta nunggu nya di Alun-alun aja, sambil liat burung katanya. Tapi karena mendungnnya udah menggantung jadi dia oke aja, waktu saya bilang tunggu di mall aja. Daripada nggak jadi nonton ya Kak?

12814539_10207192553065519_2310788192682237127_n
Masjid Jami’ Malang (foto diambil beberapa minggu yg lalu) 

 

10660125_10207192553745536_9048908420697895865_n
Alun-alun Malang (foto diambil beberapa minggu yg lalu)

Film nya masih sekitar sejam setengah lagi. Kita nunggu di Lounge gedung bioskopnya sambil nyeruput ice green tea latte berdua. Main tebak-tebakan, main orang-gajah-semut, becanda-becanda, cerita-cerita.. Bener-bener berasa nge-date nya 🙂 Alia sama sekali nggak rewel (walaupun nanya jam tiap 5 menit sekali).

Akhirnya, pas pintu theater udah dibuka, kita cepet2 masuk ke dalem, dan begitu film dimulai, si anak kecilnya langsung asik nonton sambil ngemil popcorn. Trus film nya gimana? Film nya bagusss pake banget! Kata ALia, dia paling suka part yang pas Nick the Fox jadi liar. Trus part yang paling lucu menurut Alia adalah part yang ada Sloth-nya 😀 Besokannya Alia langsung minta search di yutub tentang Sloth, the slowest mammal on earth.

Intinya, nggak rugi nge-date berdua Alia kemaren. Walaupun capek, tapi semua terbayar. Anaknya senang, Ibu nya happy.. Bapaknya? Bapaknya kebagian cerita dan foto-fotonya aja plus ngeluarin duitnya 🙂

Lincoln, Home Far Away from Home

Pagi ini, saya pulang ke Indonesia.

Saya dan Bapak Abink selalu bilang kalau Lincoln udah seperti rumah ke dua kami. 2009-2015 bukan waktu yang sebentar untuk kami. Allah SWT memilihkan tempat ini untuk kami bertumbuh dan belajar. Belajar lebih dekat dengan Allah, belajar menghargai waktu, belajar mengalahkan ketakutan dan ego, belajar menghargai perbedaan, dan belajar menikmati pertemuan dan perpisahan.

Terimakasih untuk semua yang sudah hadir menciptakan rumah kedua bagi kami. Thank you Lincoln, thank you New Zealand..  I’ll see you again soon, InsyaaAllah…

SONY DSC

‘Cacing Berpendar’ di Gua Waitomo

Setelah puas menikmati Rotorua, pagi berikutnya kami siap untuk menjelajah Waitomo. Berbekal tiket murah dari Naked bus, kami berangkat ke Waitomo dengan hati senang 🙂

Naked bus yang kami tumpangi hanya mengantar sampai di Waitomo Village, dan kami harus jalan sedikit ke Waitomo Caves visitor centre (sekitar 500m dari Waitomo Village).

20140911_141216Ada 3 gua yang ditawarkan di Waitomo. Waitomo cave, Aranui cave dan Ruakuri cave. Selain liat gloworms dan menjelajah Aranui & Ruakiri caves, di Waitomo kita juga bisa melakukan panjat dinding di gua dalam tanah(dry underground caving) dan ‘cave tubing’. Tapi saya sama sekali nggak tertarik sama underground caving. Kalau cave tubingnya masih sempet kepengen nyobain, tapi setelah tau harus loncat dari  atas tebing gua yg gelap, nyali langsung ciut. Nggak jadi ahh.. takuutt.. Udahlah, jalan-jalan di dalem gua aja 🙂

Saya sebenernya pengen masuk ke tiga gua itu, tapi nggak siap ngeluarin diut nya heheeh.. kalau masuk ke 3 gua itu harus siap bayar $90. Akhirnya, karena tujuan kami ke Waitomo adalah untuk liat ‘glow worms’ di Waitomo cave, maka diputuskan untuk beli tiket combo Glow worm cave + Aranui cave, waktu itu seharga $65.

Camera 360

Tour pertama adalah masuk ke Glow worm cave, yang lokasinya di sekitar visitor centre. cuma perlu jalan sekitar 100-200 meter udah sampai ke dalam guanya.

Jalan menuju Glow worm cave
Jalan menuju Glow worm cave

Masuk ke dalam gua sepintas kelihatan seperti gua biasa, ditambah efek lampu-lampu terkesan sedikit dramatis. Semakin masuk ke dalam gua, mulai terlihat pendar-pendar cahaya, walaupun nggak begitu banyak dan nggak begitu jelas. Pendar cahaya itu ternyata adalah larva dari salah satu species serangga. Jadi sebetulnya mereka itu bukan cacing! Tapi mungkin karena bentuknya menggantung di langit-langit gua (sepanjang 3-4 cm) menyerupai cacing, jadi disebutnya glow worms. Dan waktu itu kita bisa lihat dari dekat.

u895
Larva-larva ini yg disebut glow worms. Foto dari CD souvenir pack yg dibeli di Waitomo

Semakin ke dalam, lighting di dalam gua semakin berkurang. Dan sampailah kami di Gloworms Grotto. Untuk mengarungi grotto ini kami harus naik sampan. Di Gloworms grotto ini sudah nggak ada lagi cahaya lampu dan cahaya matahari dan dilarang memotret. Selama di atas sampan, pendar-pendar gloworms nya terlihat jelasss sekalii.. Indaaah banget.. Kurang lebih memang kayak di foto dibawah ini. Cantik banget kayak liat bintang-bintang di langit, tapi lebih dekat, dan wananya hijau kebiruan.

u859
Gloworms grotto. Foto didapat dari beli CD souvenir pack 🙂

Setelah keluar dari gloworms cave, kami harus menunggu sekitar 1,5 jam untuk bisa ikut tour ke Aranui cave. Aranui cave ini jaraknya cukup jauh, sekitar 5-10 menit naik mobil dari visitor centre. Waktu booking tiketnya, kami sudah bilang kalau kami nggak bawa mobil dan butuh tumpangan. Akhirnya, kami dikasih tumpangan sama tour guidenya, yang asli orang Maori.

Aranui cave nya sih biasa aja menurut saya 🙂 Mungkin mirip-mirip kayak gua-gua di Indonesia. Aranui cave dilengkapi dengan lampu-lampu, dan track nya udah dibikin rata, kalaupun ada yang menanjak udah dibikin anak tangga juga untuk memudahkan.  Menurut si mas Tour guide, Aranui cave ini ditemukan oleh orang Maori bersama anjingnya yang lagi ngejar-ngejar babi.Tiba-tiba aja babi yang mereka kejar menghilang, dan ternyata  babi itu masuk ke dalam gua Aranui  yang gelap banget ini. Waktu di dalem Aranui cave, tour guide nya sempat sengaja matiin lampu nya, dan ternyata bener2 item, gelap banget nggak ada cahaya di dalam Aranui Cave.

20140911_134934
Aranui Cave

Di Aranui cave ada beberapa lokasi yang berpagar kawat, kata mas tour guidenya sih karena sebelumnya ada tangan-tangan jahil yang sengaja motong stalaktit dan stalakmit untuk dibawa pulang 😦

20140911_134719

Setelah selesai keliling di Aranui cave, kami (masih numpang sama si mas tour guide), kembali ke visitor centre. Karena kami masih punya waktu cukup lama sebelum bis kami datang menjemput, jadilah kami mengeksplore visitor centre dulu, sambil menikmati dua scope ice cream di cafe 🙂

20140911_141819
Boysenberry and lime swirl ice cream ini yummy banget
20140911_153956
Cafe
20140911_153521
Tulis pesan di kayu, terus cemplungin ke baskom isi air.

Puas makan es krim sambil istirahat, kami jalan-jalan ke sekitar visitor centre, dan sekalian jalan ke Waitomo village. Waitomo Village ini memang cuma desa kecil, tapi yang bikin menarik adalah pernak-pernik dan ukiran-ukiran khas Maori. Sambil menunggu bis kami datang, kami numpang istirahat di depan satu cafe kecil di sana. Rasanya, melihat langsung penda-pendar gloworms adalah highlight perjalanan Auckland-Rotorua-Waitomo kami kali ini.

20140911_162914
Pohon jeruk di halaman cafe tempat kita nunggu bis
20140911_175124
i-Site Waitomo Village

One Afternoon in Rotorua

Sebenernya saya jalan-jalan ke Rotorua ini tahun lalu, di bulan September 2014, tepatnya. Awalnya, saya yang waktu itu lagi pengen banget jalan-jalan iseng-iseng ngajakin temen untuk jalan-jalan, cari tiket murah 🙂

Beberapa hari setelahnya, saya dapet tuh tiket murah pake budget airline lumayan murah cuma $29 sekali jalan ke Auckland. Pikir-pikir, karena udah 2x ke Auckland, mending kita ke Auckland semalem trus besok paginya jalan lagi ke tempat lain naik bis. Setelah browsing sana sini, diputuskan untuk ke Waitomo caves, tapi mampir Rotorua dulu semalem. Setelah menimbang waktu, biaya dan tenaga, akhirnya kita susun itinerary Auckland-Rotorua-Waitomo-Auckland, 4 hari 3 malam naik bis.Deal!

20140911_160700Ini bukan pertama kalinya saya jalan-jalan naik bis. Sebelumnya, di Juli 2014, saya juga pernah naik bis dari Queenstown ke Christchurch bareng bapak Abink n Alia, dan sejak saat itu janji bakal naik bis lagi kapan-kapan. Kenapa saya ketagihan naik bis? Karena murah, nyaman, dan santaiii… Kalau mau cari tiket bis murah bisa ke website nya naked bus NZ. Tapi sebenernya kalu naik mobil sendiri, enaknya bisa berhenti untuk foto-foto dimana aja, dan bisa cari jalur yang kita suka. Ada plus minus nya lah ya… 🙂

Perjalanan dari Auckland ke Rotorua lancar, pemandangan indah.. Perjalanan dari Auckland ke Rotorua ditempuh selama 4 jam naik bis. Trip kali ini saya sengaja pilih untuk menginap di X-Base backpacker. Selain karena ngirit biaya, saya juga belum pernah nginap di backpacker yang sharing kamar dengan 6-8 orang. Ternyata pas dateng cuma ada kita berdua yang nginep di situ, dan malem nya baru dateng satu orang lagi, solo traveler dari China atau Vietnam ya? Lupa 🙂

backpacker
X-Base Backpacker Rotorua

Pengalaman pertama nginep di backpacker seruuu… Lumayan nyaman tempat tidurnya, setiap kamar ada toilet dan kamar mandi, dapet sabun shampo dan handuk. Kami booking backpacker ini dari website http://www.nakedsleep.com (by naked bus). Untuk di Rotorua kita booking dorm bed untuk 8 orang (female only), cuma bayar sekitar $17 per orang per malam. Pas di Auckland, kami booking double room with en suit bathroom bayar $50 per malam, tapi karena bagi dua sama temen jadinya masing2 cuma bayar $25 🙂 Lumayan murah kan, kalau dibanding nginep di hotel/motel bisa lebih dari $100 per malam.

Karena kita nyampe di Rotorua, udah terasa bau belerang, secara rotorua ini dijuluki Geothermal Wonderland-nya New Zealand.  Karena udah tengah hari, kita putuskan untuk jalan-jalan di kota aja. Kebetulan tempat kita nginep tepat di depan Kuirau Park. Parknya lumayan cantik dan ada beberapa spot lumpur panas (geothermal). Bahkan disediain kolam untuk yang pengen berendam atau cuma nyelupin kaki di air panas yg mengandung belerang.

rotorua6rotorua7Yang paling bikin saya seneng, di Kuirau park saya ketemu sama beberapa ‘Pukeko’ (NZ native bird) deket banget. Nggak tau kenapa saya suka banget sama Pukeko 🙂

rotorua5
Pukeko

Setelah puas menimati Kuirau park, kami lanjut jalan-jalan di sekitar kota dan museum. Rotorua ini kotanya ‘compact’, ada park, playground, tempat makan, belanja souvenir, museum, lake,semua bisa ditempuh dengan jalan kaki Tapi kalau main Luge, parasailing, jetboating, main ke Maori village, nyobain mud spa atau liat geothermal wonderland nya harus ada mobil atau ikut tour. Nulis ini bikin saya pengen banget balik ke Rotorua 🙂

Rotorua
Rotorua
Knitted Tree di Rotorua
Knitted Tree di Rotorua
X-Base Backpacker Rotorua
Rotorua Museum
rotorua3
Eat Streat. Macam-macam restaurant berjejer di depan Lake Rotorua
Lake Rotorua
Lake Rotorua

Setelah puas jalan-jalan sekitar kota dan berkontemplasi di pinggir danau, akhirnya kita putuskan untuk kembali ke tempat kami menginap sebelum gelap. Di bulan September, angin dan udara di Rotorua masih dingin banget waktu malam. Dan malam itu kami habiskan di kamar backpacker dengan menikmati semangkuk mie kuah, mengisi tenaga untuk melanjutkan perjalanan ke Waitomo besok pagi…