Weekend Update

Hari ini diem di rumah karena mau nyuci, bersih2 rumah, masak untuk beberapa hari dan Skype sama Alia & Bapak Abink. Hasilnya? Nyuci beres.. Rumah bersih walaupun kurang sempurna, Belajar, dapet lah sedikit-sedikit.. Skype dan telpon SUkses!!

Seharian vIdeocall dua kali. Nelpon sampe 4 kali dan nggak cuma sebentar. Obrolan hari ini ditutup dengan dengerin Alia n Bapak Abink main jual-jualan dan sekolah-sekolahan. Dan, saya sukses bangga denger bapak Abink yang dengan sabar ngeladenin Alia main, dan bangga karena ALia udah pinter banget baca bukunya..

Ceritanya bapak ABink jadi muridnya, Alia jadi gurunya. Karena ini ceritanya waktu tidur siang untuk murid-murid, jadi gurunya bacain cerita di tempat tidur. Bapak Abink pilih cerita tentang princess Sofia untuk dibacain Alia. Ada yang lucu, pas Alia baca di bagian sofia bilang “I don’t know how to be myself and a princess at the same time“. ALia baca kata “know” nya pake dikasih huruf K jelas didepannya jadi kedengerannya kayak “kenow”. Pas dibenerin sama bapak Abink, dia bilang “itu kan di depannya da huruf K nya bapaaak…” Jadiah bapak Abink yang beralih peran jadi guru untuk menjelaskan ke anak kecil yang bahasa Inggrisnya udah mulai medok (tapi kita semua sayang) itu.

Baruuuu aja telpon ditutup tapi sayanya udah kangen lagi hehhehe…. Weekend depan kita ngobrol seharian lagi ya kk ALiaa… Aymisyu anak solehah-ku….

skype

Advertisements

Selamat Ulang Tahun Suamiku

Selamat Ulang Tahun Suamikuuu…

Terimakasih sudah jadi imam yang sabar, pengertian dan baik hati..

Terimakasih sudah jadi bapak yang penyayang..

Terimakasih selalu support dan kasih ijin aku untuk belajar terus..

Terimakasih untuk selalu nemenin Alia main dan belajar di rumah, berdoa bersama, bacain cerita sebelum tidur dan denger cerita-cerita dari gadis kecil kita,..

Terimakasih sudah merawat Alia waktu sakit..

Terimakasih untuk selalu bikin kami bangga..

Semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan dan kebahagiaan dan keberkahan untukmu, terus menerangi jalan kita, menetapkan kita pada iman islam nya, menganugerahi kita anak yang soleh dan solehah dan menjadikan kita orangtua soleh dan solehah. Aamiin…

Terimakasih yang sangat special juga buat (ALmh)Mama Hannie, Bapak Roben dan Ibu Kunthi. Terimakasih sudah mendidik dan membesarkan sehingga sekarang jadi suami dan bapak yang soleh, baik hati dan membanggakan. Terimakasih banyak Mama, Bapak dan Ibu.. Dita & Alia tinggal menikmati ‘produk suksesnya’ 🙂

IMG_20140115_091007

3 Universitas dengan 3 rasa berbeda

Tidak terasa ternyata dalam 10 tahun terakhir ini Pak ABink sangat beruntung memiliki pengalaman untuk mencicipi belajar di 3 universitas yang berbeda dengan jenjang yang berbeda pula. Ketiga universitas itu adalah Universitas Brawijaya tempat Pak ABink menempuh pendidikan Sarjana bidang Ekonomi Manajemen kekhususan Manajemen keuangan, kemudian dilanjutkan pada University of Wollongong Australia untuk mengambil Master di bidang Commerce dengan kekhususan Strategic Marketing dan yang terakhir di Lincoln University Canterbury Selandia Baru untuk tingkat Doktoral (Ph.D) dibidang social marketing. Teringat obrolan dari seorang teman yang terinspirasi dari sebuah pilem bahwa jika kamera kita rusak, maka memori kita akan hilang maka tulislah kenangan tersebut agar dapat selalu dikenang dan diingat maka Pak ABink mencoba untuk menuangkan kembali ingatan-ingatan dari 10 tahun yang lalu tersebut.

Tahun 2001, Pak ABink lulus dari sekolah menengah umum disebuah SMU negeri di Kota Malang, yaitu SMUN 8 Malang. Layaknya anak-anak yang dilanda euphoria kelulusan, keberhasilan menyelesaikan pendidikan menengan atas tersebut pun Pak ABink tanggapi dengan suka cita dan penuh bahagia. Tetapi dibalik kebahagiaan tersebut terselip suatu kekhawatiran mengenai masa depan. Khususnya mengenai kemana kaki harus melangkah untuk menuntut ilmu lebih tinggi. Pada masa itu persaingan masuk perguruan tinggi negeri sangat ketat. Setiap tahun hanya 100-150 mahasiswa yang bias diterima di masing-masing jurusan pada universitas-universitas negeri terkemuka. Berbekal rasak khawatir tersebut Pak ABink mencoba untuk mendaftar di universitas-universitas swasta sebagai cadangan jika tidak dapat diterima di universitas negeri.

Selain universitas swasta, Kai Roben juga memberi saran jika mau Pak ABink bias bersekolah di luar negeri dimana Malaysia adalah yang paling memungkinkan. Pertimbangannya simple saja karena Malaysia relative dekat dan biayanya masih terjangkau. Dengan alas an tersebut Pak ABink dan Kai Roben pun berangkat ke salah satu universitas swasta di Malaysia yang berafiliasi dengan salah satu Universitas di Australia.

Formulir sudah ditangan dan sudah diisi. Tetapi setelah berkonsultasi dengan Mama Hannie akhirnya rencana brsekolah di Malaysia pun dibatalkan. Mama Hannie beralasan dan khawatir kalo Pak ABink sampai sekolah di Malaysia takutnya Pak ABink menikah dengan orang Malaysia dan nanti tidak mau kembali ke Indonesia. Sedikit mengada ada tapi sebagai anak maka pertimbangan orang tua harus di dengarkan.

Alhasil berbekal semangat ikut UMPTN Pak Abink berhasil diterima sebagai mahasiswa baru di Jurusan Manajemen Universitas Brawijaya. Seingat Pak ABink mahasiswa baru jurusan Manajemen pada saat itu hanya sekitar 120 orang dan di bagi kedalam 4 kelas. Yaitu kelas A, B, C dan D. Pembagian kelas tersebut berdasarkan NIM yang tak lain dan tak bukan berdasarkan urutan abjad nama awal mahasiswa.

Kelas A ini cukup solid dan kompak secara dari sekitar 35 mahasiswanya, mayoritas adalah laki-laki. Perempuan hanya sekitar 9 orang. Kesolidan kelas A ini secara umum bertahan hingga sekarang. Tetapi semenjak semester 5 ketika dimulai era konsentrasi maka kelas A mulai jarang berkumpul. Pada saat itu Pak ABink masuk konsentrasi Manajemen Keuangan.

Singkat cerita, masa-masa berkuliah di Universitas Brawijaya sangat menyenangkan. Pak ABink lumayan aktif dikegiatan kemahasiswaan khususnya di LSME (Lingkar Studi Mahasiswa Ekonomi). Dimasa kuliah inilah Pak Abink pertama kali bertemu dengan Ibu ABink. Jadi tercatat kami sudah berkenalan sejak tahun 2002. Waktu yang cukup lama untuk saling mengenal.

Di masa kuliah ini Pak Abink bukan mahasiswa yang sangat cemerlang walau harus disyukuri karena paling tidak Pak ABink lulus dengan predikat Cum Laude dan masa kuliah hanya 3 tahun 3 bulan (seperti nya Pak ABink merupakan lulusan pertama dari angkatan 2001).

Setelah lulus S1 sekitar bulan Desember 2004 dan Wisuda pada Februari 2005, Kai Roben menyuruh Pak ABink untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Kali ini Kai Roben menyuruh dan berketetapan hati untuk menyekolahkan Pak ABink ke luar negeri dan dari hasil survey yang paling terjangkau adalah universitas di Malaysia. Kembali Malaysia menjadi tujuan pendidikan. Sekitar Bulan Februari Pak ABink dan Kai Roben mensurvey universitas-universitas di Malaysia. Yang disurvey pada saat itu adalah University Malaya, Universiti Kebangsaan Malaysia dan University Putra Malaysia.

Yang menarik pada saat itu adalah ketika berkunjung ke UKM, Pak ABink bertemu dengan seorang dosen akuntansi UB yang kebetulan juga sedang mengambil S3 di UKM. ALhasil dikenalkannya lah Pak ABink dengan kawan belio yang juga seorang mahasiswa MBA di UKM. Banyak cerita dan pengalaman yang disampaikan kawan tersebut yang akhirnya dapat disimpulkan bahwa MBA di UKM (menurut belio) tidak recommended.

Tapi apa dinyana, karena kembali Malaysia adalah Negara dengan kualitas pendidikan yang baik dengan biaya terjangkau maka Pak ABink tetap mendaftar di program MBA pada UKM dan UM.

Sedikit berbeda dengan universitas-universitas di Indonesia, pendaftaran program S2 di Malaysia dibuka sepanjang tahun. Tetapi pengumumannya menjelang perkuliahan di mulai. Sehingga ketika bulan Maret mendaftar maka Pak ABink tidak mendapat jawaban diterima atau tidak.

Di masa penantian tersebut, Kai Roben terbayang-bayang akan komplainan dari kawan yang mengambil MBA di UKM tersebut. Sehingga Kai menyuruh Pak ABink untuk mencari informasi S2 di Australia. Singkat cerita Pak ABink tertarik dengan program S2 yang ditawarkan oleh University of Wollongong. Maka dengan penuh kesadaran Pak ABink mendaftar ke UOW melalui agen pendidikan di Kota Malang. Ada hal yang lucu dan menarik pada saat mendaftar tersebut. Jadi ketika mau mengurus administrasi pendaftaran, salah satu konselor dari agen tersebut menyampaikan bahwa Pak ABink harus menguruskan badan. Karena kalo terlalu gemuk bias tidak diberikan visa. Mendengar informasi tersebut, maka patah hati lah Pak Abink. Masak orang mau sekolah harus diet dulu. Kayak militer saja. Karena si konselor tersebut bersikukuh untuk Pak Abink berdiet maka Pak ABink mundur teratur. Mencari agen lainnya. Akhirnya dapat agen pendidikan lain di Kota Surabaya. Lewat agen tersebut, Pak ABink tidak perlu diet dan sampai juga di UOW.

Karena nilai bahasa inggris yang sangat kurang maka Pak ABink harus ikut ELICOS selama 10 minggu. ELICOS diadakan di Wollongong University College (WUC) yaitu sebuah college tempat menempuh program diploma atau kursus persiapan bahasa inggris. Di WUC ini Pak ABink bertemu dengan dua sahabat sependeritaan dan sepermainan yaitu Suluh dan Ginanjar. Di luar college kami selalu berajalan dan bermain bersama tetapi selama di college kami sepakat supaya Bahasa Inggris meningkat maka kami brteman juga dengan yang lain. Sangat seru kursus di WUC ini. Walau Pak ABink kuliah di Australia, tetapi rasanya seperti di Beijing. Karena hamper 70% mahasiswa WUC adalah Asian dan mayoritas adaah orang China.

Mahasiswa WUC dari China, Thailand dan indonesia
Di kampus WUC bersama kawan-kawan dari China dan Thailand

Selain Pak Abink, Suluh dan Ginanar, pada saat ini di WUC ada bebebrapa mahasiswa lain dari Indonesia. Yang Pak ABink ingat adalah Pak Madyan (dosen Unair), Pak Heru (dosen Polinema) dan Mirza (ini cewek dari Jakarta). Tidak ada yang sekelas pada saat itu kecuali Mirza dengan Pak Madyan.

Akhirnya setelah 10 minggu berkutat belajar Bahasa Inggris Pak ABink dkk dinyatakan lulus dan berhak untuk melanjutkan mengambil postgraduate. Pada saat itu Pak ABink memutuskan untuk mengambil Master Strategic Marketing. Pada awalnya Pak ABink sempat bimbang. Dari Indonesia memang maksud hati ingin mengambil pendidikan tersebut. tetapi ketika sudah di Australia dan bertemu dengan kawan-kawan dari China maka hati sempat goyah. Motivasi kawan-kawan dari China pada saat itu adalah untuk menjadi seorang permanent resident. Untuk mendapatkan PR mereka harus bersekolah Akuntansi dan program yang memungkinkan adalah mengambil Master Professional Akuntansi. Tetapi setelah berdiskusi dengan Kai Roben, maka Pak ABink dengan kebulatan tekad mengambil Master Strategic Marketing.

4590_83940481918_2360648_n
Lebaran Bersama Mirza, Suluh dan Mia

Dikelas Postgraduate ini banyak sekali yang Pak ABink pelajari. Baik dari sisi pelajaran marketing hingga masalah akademik lainnya seperti plagiarism, etos kerja hingga berpikir kritis. Disinilah tempat pertama kali Pak ABink diajarkan bagaimana melakukan suatu pemikiran kritis pada permasalahan-permasalahan pemasaran. Sangat menyenangkan sekali belajar di UOW. Lingkungan yang sangat mendukung hingga fasilitas yang sangat memadai.

Akhirnya dengan sagal kerja keras dan cucuran keringat serta doa yang tak pernah berhenti pada Agustus 2006 Pak Abink berhasil diwisuda dengan gelar Master of Strategic Marketing. Tapi oleh DIKTI disetarakan dengan gelar Master of Commerce (Strategic Marketing).

Graduation with Migo from China
Graduation with Migo from China

Setelah lulus dari Wollongong, Pak ABink kembali ketanah air dan mengabdi di Universitas Brawijaya sebagai pengajar. Kurang dari 3 tahun mengabdi sebagai dosen, Pak ABink kembali berkesempatan untuk bersekolah kembali. Kali ini pilihan untuk bersekolah adalah New Zealand. Dari delapan Universitas negeri yang menawarkan program Doktoral, akhirnya Pak ABink memilih Lincoln University sebagai tempat menuntut ilmu

Lincoln University
Lincoln Univesity

Lincoln University ini bukan Universitas besar. Jumlah mahasiswa nya sekitar 4000 orang berasal dari 130 Negara yang berbeda (menurut marketingnya). Untuk program Doktoral ilmu bisnis dan manajemen saja mahasiswa yang terdaftar berasal dari beragam Negara seperti New Zealand, Brazil, Vietnam, Pakistan, Indonesia, Malaysia, Thailand, PNG, Sri Lanka, India dan sebagainya.

Ibu ABink bersama Doctoral Student dari Berbagai Negara
Ibu ABink bersama Doctoral Student dari Berbagai Negara

Study Doctoral di Lincoln University sangat menyenangkan. Iklim New Zealand yang sejuk ditambah dengan segar nya udara Lincoln membuat pikiran semakin terbuka. Gedung-gedung perkuliahan yang menawan menambah semangat untuk belajar.

Ivy Hall - Lincoln University Library
Ivy Hall – Lincoln University Library

Akhirnya setelah berhasil submit thesis pada bulan Oktober 2012, Pak ABink mempertahankan thesis pada bulan Februari 2013. Untuk ujian thesis secara lengkap bias di baca pada postingan pak Abink di kolom kompasiana. Akhirnya setelah ujian dan revisi Pak ABink resmi dinyatakan sebagai seorang Doctor dengan gelar Ph.D (Doctor of Philosphy).

Pak ABink Ph.D Thesis
Pak ABink Ph.D Thesis

Lengkap sudah perjalanan akademik formal Pak ABink. Penuh puji syukur selalu Pak ABink ucapkan ke Allah yang maha pengasih karena berkat Nya Allah perjalanan akademik yang panjang tersebut bias dilalui. Pengalaman di 3 universitas ini benar-benar memberikan warna pada pandangan hidup dan akademik dari Pak ABink. Semoga hal ini dapat menjadi hal yang bermanfaat bagi Pak ABink dan KeluargaHussein.

Cerita Mudik #1

Nggak terasa udah kurang beberapa hari lagi aja saya mau mudiik 🙂 Packing-packing udah dicicil dari beberapa minggu yang lalu, sekarang mulai angkat2 barang yang mau disimpen di ofis dan simpen-simpen barang yang mau ditinggal di NZ nitip di rumah temen. Repot…. padahal cuma sendiri dan barang nggak begitu banyak…

Jadi inget 7 bulan yang lalu, waktu kita seeluarga boyongan pulang ke Malang. Setelah kurang lebih 3,5 tahun tinggal di NZ, ternyata barang kami banyaaakkk….. packing pun lamaaaaa nggak selasai-selasai. Masukin koper, bongkar lagi, masukin lagi, timbang lagi.. Hasilnya kita bawa 3 koper besar, ditambah 2 tas kecil, plus foto berbingkai 40×40 cm, dan satu airfryer.. Ribet, tapi sayang juga kan kalo baggage allowance yang 30 kg per orang itu nggak dimaksimalkan hehehe…

Di Christchurch Airport sesaat sebelum berangkat
Di Christchurch Airport sesaat sebelum berangkat
Nggak tau deh ini Alia lagi nunjuk apa.. kok keliatan exited banget :)
Nggak tau deh ini Alia lagi nunjuk apa.. kok keliatan excited banget 🙂

Waktu itu kami berencana singgah di Singapore untuk jalan-jalan dan ketemuan sama Kai Nini-nya ALia. 72 jam sebelum terbang kami check in lewat internet. Penerbangan Christchurch-Singapore berhasil check-in. Tapiii pas kita mau check in penerbangan Singapore-Surabaya sistemnya bilang nggak bisa check in, harus hubungi agen atau check in langsung di Bandara. ALhamdulillah kami memutuskan untuk pergi ke agen tempat kami beli tiket besok paginya. Setelah di  liat sama pak Agennya, ternyata bapak Abink nggak boleh masuk Singapore  karena  expired date paspornyanya kurang dari 6 bulan…  Dasar kami ceroboh (dan orang agennya juga nggak ngingetin), kami nggak nge-cek kalo ternyata pasport nya Bapak Abink bakal habis sebelum 6 bulan. PANIK…. karena kami harus terbang besok paginya, hotel di SIngapore udah dibooking untuk 2 hari dan udah janjian sama Kai-Nininya Alia. Akhirnya, diputuskan bapak Abink nggak bakalan tinggal di Singapore, dan langsung naik pesawat ke Surabaya. Sementara saya, Alia, kai, nini bersenang-senang dulu di Singapore. Walaupun waktu itu Alia masih jet lag, kebangun tengah malem dan baru tidur lagi jam 10 pagi di dalem taksi atau di tempat makan 🙂

Singapore
Singapore

Dari Singapore ke Surabaya pun, saya dan Alia cuma ber dua aja karena kai-nini beli pesawat yang berangkat lebih awal. Jadi, setelah nganter Kai Nini di depan hotel, saya dan Alia masih sempat jajan-jajan gorengan dan rujak trus ngadem lagi di kamar hotel. Alia bahkan sempet bobok siang dulu. Ke Changi naik taksi berdua Alia dengan satu tas koper besar yang beratnya sekitar 30kg. Padahal sebagian barang udah di titip ke kai – nini looh… Sampe pak sopirnya bilang “kamu pasti belanja banyak ya di SIngapore.. Koper kamu berat banget” hehehhe belum tau dia kalo koper itu isinya barang2 kita dari NZ 🙂 Perjalanan Singapore-Surabaya lancar, Alia seneng banget main2 di bandara, ngoceeeh terus nggak berhenti ngomong (ini karena dia ngantuk tapi masih seneng main).

Sampai di Surabaya, kami nginep lagi semalem baru besok pagi nya pulang ke Malang. Sampai di Malang, selain happy kembali kerumah ketemu mama papa dan sodara-sodara, ternyata masih banyakk harus di urusin, terutama soal sekolah Alia. Si anak kecil solehah ini ngotot banget pengen cepet2 sekolah, sedangkan ibu-bapaknya agak2 rewel soal milih sekolah yang dirasa cocok dan sesuai kebutuhan. Cerita soal pilih-pilih sekolah Alia, inshaaAllah nanti bakal diceritain juga…

Maap yaa buat yang baca blog ini, cerita-nya mudur ke 7 bulan lalu… Mumpung lagi sempat nulis, biar jadi kenang-kenangan kami juga 🙂

Alia, Pop, Poppa dan Frangkrin and Frangkrin

Dunia anak memang dunia penuh khayalan. Memang menyenangkan jika melihat anak kecil yang imajinasinya bergerak kemana mana. Dulu sempat sebel dengan imajinasi Alia yang kadang-kadang cukup “mengerikan” tapi karena teringat Bu ABink yang selalu bilang “kamu mau anak mu diem aja atau berimajinasi dengan bermain” yah itu pilihan hehehhe…

Imajinasi ALia yang menurut Pak ABink cukup mengerikan adalah ketika bermain dengan “teman-temannya” yaitu Pop, Poppa, Frangkrin and Frangkrin. Dulu waktu Alia masih di Lincoln, sering di mobil atau di kamar Alia cerita habis main sama Pop dan Poppa, tapi Frangkrin and Frangkrin ga bisa main soalnya masih sakit. Sering di mobil cerita kalo lagi mau jalan-jalan sama Pop atau Poppa. Sekarang Pop sama Poppa lagi duduk d sebelah nya Alia. Wah kadang kalo nyetir mobil sendiri jadi merinding hehehehe….

Seiring dengan bertambah nya umur, imajinasi nya Alia tidak terlalu imajiner lagi. Tetapi mungkin karena sering sendirian, dan mulai banyak “saudara” ALia mempromosikan Pop dan Poppa menjadi adik nya Alia. Kenapa saya bilang kurang imajiner, karena sekarang Pop dan Poppa sudah di bendakan oleh Alia. Kadang boneka sheep nya di jadikan Pop atau Poppa atau kadang boneka bear nya. Tapi pada intinya Alia tetap senang bermain dengan kawan-kawan khayalannya.20130224_102428

Ketika Daddy Harus Bekerja

Menjadi (temporarily) “single fighter” dalam merawat anak (gadis) ternyata sangat melelahkan. Dulu waktu di New Zealand KeluargaHussein dalam formasi lengkap. Ada Pak Abink, Bu Abink dan ALia. Jadi tugas-tugas serta pekerjaan-pekerjaan rumah dapat di selesaikan secara bergantian. Sehingga pada saat ini Pak ABink confident bahwa menjaga Alia sendirian bukan pekerjaan yang susah.

Tetapi ketika Bu Abink harus kembali ke tanah negeri Awan Putih (baca: Niu Zielan) dan Pak ABink di rumah berdua dengan Alia ternyata baru kerasa berat nya. Memang di rumah ada Mak Ul, ART kami yang baru bekerja 3 bulan terakhir. Untuk urusan rumah tidak menjadi masalah. Tetapi si wee girl ini belom mau di tinggal dan dijaga Mak Ul begitu juga Pak ABink dan Bu Abink belum sreg meninggalkan Alia dirumah berdua dengan Mak Ul. Alhasil Alia masih harus di taruh di daycare setelah pulang sekolah.

Menaruh Alia di daycare bukan hal yang susah. Tetapi yang menjadi tantangan buat Pak ABink adalah ketika ada jadwal mengajar pagi – 7am. Memang kelas bias di nego untuk dimulai pukul 7.30am tetapi tetap waktu tersebut tidak begitu pas karena Alia biasanya baru bangun jam 6.30am. Kemudian proses feeding bisa memakan waktu 15-20 menit. Praktis pukul 7am Alia baru siap mandi. Mandi sampai ganti baju paling tidak 15-20 menit. Kalo buru-buru kadang malah ALia tidak mandi. Sehingga Kadang Pak ABink hanya punya waktu 15 menit untuk mandi dan bersiap ke kantor. Dari rumah ke Kindi nya ALia membutuhkan waktu paling tidak 10-15 menit. Sehingga sampai sekolah skitar pukul 7.45. Dari sekolah ke kampus butuh sekitar 10 menit sehingga pukul 8am biasanya Pak ABink baru sampai kampus.

Tantangan lainnya adalah jika Pak ABink harus mengajar di malam hari dan di hari Sabtu. Di malam hari, biasanya dimulai pukul 3.30pm dan berakhir pukul 8pm. Untuk beberapa waktu yang lalu, Alia berhasil dititipkan di rumah mama atau tante ade. Tapi dengan mulainya tante ade kuliah lagi, harus ada strategi baru untuk menitipkan Alia. Belum lagi mulai minggu ini setiap fortnight Pak ABink haru mengajar d luar kota. Praktis Alia tidak ada yang mengantar dan jemput. Wah benar-benar tantangan yang berat. Untungnya ada Mama Papa n Tante Ade yang juga tinggal di Malang, jadi bisa diminta tolong utuk jemput Alia kalau Bapak Abink harus ke luar kota..

Tapi hanya dengan satu keyakinan dan dukungan dari Mama, papa, Bapak, Ibu dan Tante Ade Pak dan Bu Abink percaya bahwa semua ini akan dapat diatasi.

Petualangan dimulai hari ini

Aku sungguh kagum dengan Alia. Hanya dengan lambaian tangan dan dua kali teriakan bye bye mommy dia melepaskan kepergian ibu nya untuk kembali ke negeri awan putih Aotearoa untuk meneruskan program S3. Berbeda dengan sikecil Alia, walau mental ku sudah kusiapkan sejak jauh hari bahwa paling tidak dalam lima bulan kedepan aku tidak akan bersama istri yang lebih dari 5 tahun ini selalu berada disisiku, leherku serasa tercekat. Tidak sepatah kata pun bisa kuucapkan untuk mengantarkan kepergiannya. Aku sadar bahwa ini adalah pilihan kami berdua. Pilihan yang dalam bahasa kami adalah investment.

Mungkin dalam sebagian orang pilihan investasi kami ini adalah pilihan gila. Tapi bagi kami keluargaHussein, ini adalah salah satu ikhtiar kami untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang bahagia dan berberkah. Pengorbanan perpisahan sementara ini kami yakini akan diganjar dengan setimpal oleh Allah yang maha kuasa.

Dengan lambaian tangan mungil nya Alia melepas kepergian mommy. Tidak ada kucuran air mata aku liat keluar dari sudut matanya. Benar-benar gadis kecil yang berhati keras. Selain itu mungkin usaha kami berdua yang sudah sejak jauh-jauh hari mempersiapkanya berhasil. Sejak awal Ibu ABink bersekolah, Alia sudah kami beri tahu bahwa nanti ibu akan kembali ke New Zealand dan Alia pindah sekolah di Indonesia menemani Bapak. Hampir tiap kesempatan kami dengungkan hal tersebut.

Tetapi aku lupa mempersiapkan diri sendiri. Perasaan ini benar-benar campur aduk ketika melihat bagian jiwaku melangkah memasuki ruang keberangkatan. Perasaan tegar dan kuat yang aku tunjukkan hingga pagi hari menjelang mengantarkannya hilang seketika. Kerongkongan ini serasa kering dan tercekat. Tapi aku yakin semua akan baik-baik saja.

Setelah mengantarkan Bu Abink masuk keruang tunggu keberangkatan dan yakin bahwa semua sudah aman, aku, Alia, kai, nini dan ade meninggalkan bandara. Tujuan pertama adalah sarapan. Karena sebelum berangkat kami tidak senpat bersarapan. Tempat sarapan yang dipilih adalah restoran favorit Almarhumah Mama Hannie – Happy Suzy. Menu yang aku pesan pun standar kegemaran Mama Hannie yaitu Gudeg.

Cobaan pertama muncul di Happy Suzy. Alia mogok makan. Mulai di tawari gudeg hingga dipesankan Kai Soto, Alia tetap tidak mau makan. Tetapi lumayan waktu Ade menyuapkan nasi dengan abon daging, Alia sedikit mau makan. Paling tidak 3-4 sendok masuk keperutnya. Mungkin karena tidur nya terlalu malam dan bangunnya terlalu pagi, Alia tertidur kembali di mobil dalam perjalanan kembali ke Gunawangsa. Sampai di Gunawangsa, Nini gendong dan menidurkan Alia di kamar. Nini dan Ade pergi ke Pasar Atum dan Alia tidur aku temani. Tidak lebih dari 30 menit sejak ditidurkan di kasur, bangun lah Alia.

Diawal bangun nya Alia mencari mommy nya. Tetapi dengan sukses aku berhasil menenangkannya. Karena sejak pagi telah di janjikan untuk main ke Chipmunk Playland, maka sudah waktunya lah dieksekusi janji tersebut. Pada awalnya Kai tidak mau ikut karena Kai ingin belajar saja di apartment. Tetapi karena Alia ngotot pergi sama Kai maka Kai pun ikut juga.

Sesampai di Galaxy Mall, Alia lebih memilih beli mainan daripada maen di Chipmunks.   Maka meluncurlah kami ber 3 ke sogo kids untuk membeli mainan. Di Sogo kids ALia dibelikan kai lego, dan beberapa jenis mainan lainnya.Seperti nya hati Alia cukup senang sehingga mau diajak kompromi untuk makan siang. Sementara Kai dan aku sibuk ngobrol mengenai disertasi kai, Alia sibuk maen. Yang menyenangkan ALia makan cukup banyak. Menu yang di pesan untuk Alia adalah Zupa Soup. Rupanya sup cream daging yang di campur roti mudah di telan oleh nya. Sehingga 3/4 porsi dihabiskan ALia sendiri. Setelah acara ngobrol dan makan selesai, aku yang memerlukan sepatu melihat -lihat sepatu dan ternyata Alia juga minta Kainya untuk dibelikan sepatu. Alhasil si Kai yang memang sayang luar biasa dengan Alia kembali meluluskan keinginan Alia. Padahal sehari sebelumnya, Alia sudah dibelikan sepatu oleh Kai. Tak ayal sepatu warna pink yang ada logo buaya berpindah ke kaki Alia. Senang dengan sepatu barunya, Alia langsung minta memakai sepatu barunya sampai ke apartmen.

Dari apartmen, aku, Alia, Kai, Nini dan Ade langsung ke airport untuk mengantarkan Kai dan Nini pulang ke Banjarmasin. Dari Airport aku dan Alia serta Ade langsung kembali ke Malang. Sepanjang perjalanan ALia bobok. Sampai dirumah karena kami berdua belum makan malam, aku pesan kan alia bubur dari wari mie langganan di depan komplek. 4-5 suapan pertama masih lancar. Setelah itu kembali ngadat. Tetapi bisa di wajarkan, karena sudah hampir jam 9 malam dan sepertinya Alia sudah mengantuk. Setelah makan, minum dan cuci kaki, maka aku ajak Alia untuk masuk kamar untuk tidur. Selesai membacakan 1 buah buku, aku ajak Alia berdoa. Mendoakan mommy nya untuk bisa segera lulus. Setelah berdoa tidak lebih dari 5 menit Alia langsung pulas tertidur.

Akhirnya petualangan kami berdua dimulai hari ini. Semoga aku, Alia dan mommy  bisa mendapatkan berkah dari hal ini. Jangan khawatir mommy. Alia berada ditangan yang tepat. Konsentrasilah untuk belajar. Cinta dan doa kami selalu bersamamu. Yakin lah bahwa Allah adalah maha pengasih lagi maha penyayang. Dia akan selalu bersama hamba Nya yang menuntuk ilmu di jalan kebaikan.

Malang, 30 Juni 2013

Daddy Abink

Alia, daddy dan nail art

Apa hubungannya Alia, daddy dan nail art? mungkin dibanyak keluarga ketiga hal tersebut tidak ada hubungannya. Tapi di keluargahussein, tiga hal tersebut sering memicu perdebatan yang sering kali diakhiri oleh tangisan. Sebagai anak cewe yang hobi princess, Alia tergila gila dengan yang namanya pewarna kuku  atau yang sering disebut dengan kuteks. Kegemarannya terhadap kuteks sedikit terfasilitasi karena ada tantenya dan juga salah satu guru di sekolah nya yang juga seperti nya penggemar kuteks.

Sebenarnya sebagai anak cewe menggunakan pewarna kuku tidak menjadi masalah. Hal tersebut wajar karena penggunaan pewarna kuku konon kabar nya membuat lebih menarik. Tapi yang menjadi masalah adalah Alia ini baru 4.5 tahun. Sehingga daddy Abink merasa belum waktunya menggunakan hal-hal semacam itu. Selain itu di agama keluargahussein, penggunaan pewarna kuku kecuali daun pacar juga akan menghambat jika ingin beribadah khususnya bersuci. Oleh karena itu, penentang keras dari kegandrungan ALia terhadap pewarna kuku adalah daddy Abink.

Sudah sejak sebulan yang lalu Alia ngotot pakau kuteks. Karena ketidaktahuan kalo daddy Abink tidak suka, ketika main dirumah Oma Niek, Alia di entertain oleh Oma dengan diberi kuteks. Tetapi ketika Daddy datang, Oma langsung heboh mencari aseton untuk membersihkannya. Kegandrungan Alia terhadap pewarna kuku tidak berhenti hingga rumah Oma. Hingga beberapa waktu yang lalu walau sudah diberikan pengertian Alia tetap ngotot minta pewarna. Akhirnya Daddy menyerah dengan syarat. Setelah diskusi dengan tante ade, disepakati bahwa nail art bentuk stiker yang banyak dijual di accessories shop dapat menjadi alternative. Maka di janjikanlah Alia untuk dibelikan nail art. Tetapi hanya boleh di gunakan hari Sabtu dan Minggu.

Rencana pembelian nail art pun sempat tertunda beberapa kali secara Daddy masih terus mencoba bernegosiasi dengan Alia. AKhirnya keinginan Alia terturuti ketika Kai Roben datang ke Malang. Apa bole buat, mengikuti saran dari salah satu pakar pendidikan anak, bahwa jika anak berada di tangan orang lain, maka orang tua hanya akan jadi penonton. Well, it’s ok. Walaupun Kai Roben yang membelikan, tetapi Kai menyetujui bahwa Nail art hanya digunakan pada saat weekend. Alia pun setuju.

Setelah hampirr satu minggu tergelatak di kamar tante, akhirnya weekend pun tiba. Sudah sejak hari Kamis, Alia cerita ke daddy (bahasa lain dari nodong/ngingetin) kalo hari Sabtu Alia bole pakai Nail Art. Karena sudah deal bahwa boleh pakai nya Weekend saja Daddy Abink tidak banyak berkomentar dengan harapan Alia masih bias di nego. Tiba dihari yang ditunggu tunggu ternyata Daddy abink dan Alia harus ke perkawinan anak kolega dari Daddy di Surabaya. Alia pun ikut bersama Daddy ke Surabaya. Di mobil, Alia terus mengingatkan bahwa sekembali dari Surabaya Alia mau minta tante ade untuk masangkan nail artnya. Kembali daddy Abink tidak berkomentar. Diam seribus bahasa hehehehe….dalam hati terus mencari strategi untuk bernegosiasi.

Sampai di Surabaya, Daddy dan Alia mengina di apartemen nya Kai. Sampai di apartemen, ALia bobok, karena sepanjang perjalanan tidak mau dengan alas an mau bobok di apartemen saja. Sekitar 1 jam sebelom acara dimulai, Alia bangun dan dengan “nice” nya langsung inta ganti baju, cuci muka dan makan roti. Nice sekali anak Daddy sore itu. Sepanjang perjalanan daddy dan Alia ngobrol-ngobrol tentang “adek-adek” nya ALia Pop, Poppa, Frankrin and Frankrin. Daddy Abink ikut saja obrolan nya Alia. Sambil daddy beberapa kali mengingatkan Alia kalao nanti di pesta perkawinan Alia harus salim dengan temennya daddy dan juga harus makan yang banyak serta tidak minta gendong. Hebatnya selama di acara tersebut, Alia benar-benar nice. Dengan semua teman daddy, Alia mau salim. Makannya pun banyak. Serta yang hebat, walau terlihat bosan dan capek, Alia tidak rewel dan minta gendong, Bangga sekali Daddy dengan ALia. Diperjalanan pulang Daddy kasi hadiah kecil ALia yaitu oreo dan jus buah.

Esok harinya diperjalanan pulang Alia, sedikit rewel karena pagi tidak mau sarapan. Sarapannya mau di Malang saja sama Tante Adek. Selama perjalanan pun ALia cuma sekali nodong kalo hari ini dia mau pakai Nail Art. Akhirnya on the top of her nice attitude, Daddy Abink tidak mau lagi bernegosiasi. Biarlah sekali-sekali menyalurkan hasrat anak. Selama bukan keburukan dan tidak menyebabkan bahaya tidak ada salahnya dituruti.

Sampai di Malang, Alia makan, mandi dan pakai Nail Art. Happy sekali. Hebatnya ketika sudah malam, waktunya tidur, Alia pura-pura lupa, tetapi ketika daddy Abink mengingatkan kalao nail art harus dilepas tanpa perlawanan dan argumentasi Alia langsung menyodorkan jari-jarinya yang mungil untuk dilepas nail art nya. Sebelum bobok, sebuah cerita dam ciuman daddy berikan untuk Alia. I and your mom really proud of you Alia…. you are nice nice wee girl

Daddy Abink

Ujian Thesis Doctoral ala New Zealand University

Akhirnya perjalanan akademik Pak Abink di tanah New Zealand di tutup dengan manis dengan diraihnya gelar Ph.D dalam bidang Marketing. Perjalanan akademik menempuh program doktoral ini dilalui dengan banyak tantangan, hambatan, cobaan dan pengalaman yang tak terlupakan. Alhamdulillah semua berjalan manis. Mungkin di kesempatan lain akan KeluargaHussein coba review perjalanan selama 3.5 tahun hidup di tanah Kiwi ini.

Kali ini, Pak Abink, ingin berbagi cerita mengenai bagaimana ujian thesis mahasiswa Doktoral di New Zealand. Semoga bisa berguna untuk memberikan gambaran bagi kandidat Doktor lainnya yang sedang berjuang.

Untuk dapat di uji dalam sidang doktoral, seorang kandidat Doktor harus lah berhasil menyelesaikan thesis nya terlebih dahulu. Secara umum kandidat Doktor diberikan waktu 3 tahun hingga 3.5 tahun untuk menyelesaikan thesis. Walaupun ada beberapa kandidat yang kurang dari 3 tahun atau bahkan ada yang sampai 5 tahun untuk menyelesaikan thesis nya.

Nah untuk Pak ABink sendiri, butuh 3 tahun 2 bulan untuk merampungkan thesis dan mendapat persetujuan dari pembimbing untuk men-submit thesis. Prosedur untuk submit mun tidak susah. Cukup minta submission form dari student service atau dari PG admin fakultas. Setelah dapat form tersebut maka di gandakan 4 kali. Diisi kemudian harus di tanda tangani oleh supervisor utama. Dalam beberapa kasus jika supervisor utama sedang on-leave maka supervisor kedua boleh untuk tanda tangan selama supervisor pertama sudah memberikan ijin. Setelah mendapat ijin dari supervisor, kandidat Doktor harus menggandakan thesis 4kali. Disarankan 5 karena kopi yang ke 5 untuk mahasiswa itu sendiri. Yang menjadi pertanyaan, buat siapa saja kah 4 jilid thesis tersebut?

Sistem New Zealand mensyaratkan bahwa Doktoral thesis akan di review oleh empat orang yaitu domestik examiner (penguji dari dalam New Zealand di luar Universitas), international examiner (penguji dari negara di luar New Zealand, serta dua supervisor. Tapi untuk supervisor hanya akan memberikan 1 penilaian (nilai bersama).

Nah setelah menggandakan thesis 5 kali, maka 4 jili thesis diserahkan ke student service. Tips bagi para kandidat doktor lainnya, adalah 3-6 bulan sebelum submission, ingatkan supervisor untuk mencari examiner baik international maupun domestik. Karena jika nama penguji sudah ada (kandidat tidak tahu siapa penguji tersebut untuk menghindari bias) maka jika thesis sudah masuk ke student service maka dalam 1×24 jam akan segera di kirim ke penguji. Yang sering terjadi adalah, supervisor belom memberikan nama ke student service sehingga walau sudah di submit, thesis akan tetap berada di student service dalam jangka waktu tertentu.

Setelah di submit, maka yang akan dilakukan adalah MENUNGGU. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu. Masing-masing universitas punya kebijkan masing-masing dalam kondisis menunggu ini. Untuk Lincoln University, 60 hari setelah thesis di submit maka convenor  akan mengirimkan reminder kepada para penguji. INGAT yang bisa dilakukan oleh convenor adalah mengirimkan reminder. Jadi sebentar atau lama review dari penguji sangat tergantung dari penguji itu sendiri. Untuk Lincoln University waktu tunggu standar adalah 3 – 7 bulan. Alhamdulillah PAk Abink cuma perlu menunggu 3 bulan sudah termasik christmast holiday.

Sudah menjadi rahasia umum jika tahap yang paling menegangkan adalah menunggu. Karena penilaian terbesar adalah review dari penguji + supervisor. Ada beberapa rekomendasi yang akan diberikan. Rekomendasi pertama adalah layak uji tanpa perbaikan (kondisi ini jarang terjadi), rekomendasi B adalah layak uji dengan perbaikan, rekomendasi C adalah re-do dan resubmit (untuk kasus ini thesis di kembalikan dan kandidat harus menambah beberapa hal sesuai rekomendasi penguji) dan yang terakhir adalah fail. Jadi dari pengalaman dan obrolan dengan kawan-kawan yang sudah Doktor, jika kita sudah di panggil untuk ujian maka sebenarnya kandidat tersebut sudah 80% lulus. Tinggal saat ujian saja. Tetapi dalam ujian jarang kasus gagal lulus selama thesis tersebut dikerjakan sendiri.

Nah untuk ujiannya pun cukup santai. Kandidat akan diberitahukan 1-2 minggu sebelom ujian. Kemudian berbeda dengan sidang Doktoral di Indonesia yang benar-benar formal, sidang ujian ini mirip seperti diskusi. Dalam ujian hanya akan ada lokal examiner, convenor dan supervisor. Diskusi mayoritas dengan lokal examiner. Lokal examiner akan membacakan beberapa pertanyaan dari international examiner. Sisanya akan ada diskusi dengan convenor dan supervisor.

Setelah diskusi selesai, kandidat akan di suruh keluar ruangan. Penguji, convenor dan supervisor akan meeting. Setelah meeting kandidat akan di panggil dan diumumkan apakah berhal mendapat kan gelar Ph.D nya atau tidak.

Jika dinyatakan lulus maka tahap berikut nya adalah melakukan revisi dan mendeposit kan thesis di library. Jika thesis sudah di deposit di library maka kandidat harus mencari clearance form dari library dan student finance. Jika sudah semua maka kandidat secara remis bisa meng klaim dirinya Doktor.

Kesimpulannya adalah ujian Doktoral ala New Zealand, tidak rumit. Tidak terlalu formal. Yang dipentingkan adalah daya kritis dan analitis. Bagi yang sedang mengerjakan thesis PAk Abink ucapkan selamat berjuang. Bagi yang sedang menunggu review, semoga segera di berikan hasil sesuai dengan keinginan.

Hari ini 28 Tahun yang Lalu

Ini kali kedua Pak Abink merayakan ulang tahun di negeri Kiwi New Zealand. Sedikit berbeda dengan tahun lalu, ulang tahun kali ini tidak ada tiup lilin dan nasi kuning seperti tahun lalu. Tetapi walau tidak ada tiup lilin, ulang tahun kali ini tetap berkesan. Karena bagaimanapun sekarang masih dalam suasana darurat karena sebulan yang lalu (22/02/2011) Kota Christchurch terkena gempa yang meluluhlantakkan hampir 80% Christchurch CBD termasuk Cathedral Square yang tersohor itu. Selain itu secara kebetulan ulang tahun Pak Abink bersamaan dengan ulang tahun seorang sahabat KeluargaHussein yaitu Mbak Resti.

Ulang tahun ke 28 ini menandakan bahwa Pak Abink haruslah lebih bijak daripada sebelumnya. Harus lebih banyak bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh sang pencipta Allah SWT.

Semoga dengan bertambah nya umur, Pak Abink semakin dewasa dan bijak dalam bertindak, semakin sabar, semakin cakep, sayang keluarga dan bisa menyelesaikan PhD nya tepat waktu.

Lincoln, 19 Marer 2011