Berburu Sekolah di Luar Negeri

Akhir-akhir ini banyak mahasiswa mendatangi saya untuk meminta rekomendasi melanjutkan pendidikan untuk jenjang S2. Paling banyak minta rekomendasi untuk S2 ke UGM, ITB, UI atau UB sendiri. Ada beberapa mahsiswa yang berminat ke Ciputra atau ke Prasetya Mulya. Selain dalam negeri, beberapa mahasiswa juga meminta rekomendasi untuk S2 ke luar negeri. Tingginya minat mahasiswa belajar keluar negeri tidak terlepas dari banyaknya beasiswa yang ditawarkan oleh LPDP  dan lembaga pemberi beasiswa lainnya seperti USAID, AUSAID dan NZAID.

Tidak tanggung-tanggung beberapa mahasiswa melamar untuk S2 ke universitas-universitas top di luar negeri. Sebut saja Durham University, Leicester University, Leeds University, University of Adelaide, Monash University dll. Kebanyakan untuk mahasiswa Manajemen UK dan Australia merupakan pilihan yang paling banyak dipilih.

Harus diperhatikan bagi yang berminat untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi khususnya yang menggunakan sumber pendanaan beasiswa maka ada dua syarat mutlak + 1 syarat tambahan yang harus dipenuhi agar dapat mewujudkan impian bersekolah ke luar negeri. Kenapa menjadi 2+ 1 syarat nya?. Berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman beberapa teman akan coba saya ceritakan.

Syarat utama dan pertama untuk melamar beasiswa adalah kelayakan Bahasa. Jika sekolah yang dituju berbahasa Inggris maka nilai TOEFL atau IELTS paling tidak berada di angka 575 untuk TOEFL dan 6.5 untuk IELTS. Jika nilai mu sudah berada diangka tersebut maka melajulah ke syarat kedua. Syarat kedua ini cukup mudah tetapi memerlukan kesabaran dan ketelatenan. Syarat kedua ini adalah berburu Sekolah dan Letter of Acceptance. Sedikit bocoran kenapa banyak mahasiswa yang ke UK dan Australia, menurut pengamatan saya hal tersebut dikarenakan banyaknya agent pendidikan yang siap membantu sepert halnya IDP, Edlink, ALFALINK dll. Untuk mendaftar dan mendapatkan sekolah ke UK dan Australia cukup datangi agent-agent tersebut sebutkan bidang pelajaran/master yang anda inginkan maka konselor-konselor agent tersebut akan membantu mencarikan sekolah yang sesuai. Tidak hanya sebatas mencarikan, mereka juga akan membantu anda melakukan pendaftaran hingga mendapatkan LOA nya. Cukup mudah kan.

Jika ingin tantangan yang lebih maka carilah sekolah sendiri. Bagaimana cara mencarinya. Browsing di internet adalah cara yang paling mudah. Ketik saja nama Universitas nya di mesin pencari maka akan sampailah kita ke web sekolah nya. Beberapa negara sudah menyediakan one stop education information. Misal nya Stuned. Di website Stuned kita tingga pilih mau belajar apa ditingkat apa.

study-finder

Setelah mendapatkan universitas yang dituju maka pelajari dulu apa saja kurikulum yang mereka tawarkan. Sesuai dengan minat atau tidak. Jika tidak lebih baik carilah yang sesuai minat. Jika kurang jelas jangan ragu untuk meng-email bagian admisi nya. Mereka sangat responsif. Biasanya kurang dari 3 hari pertanyaan kita akan dibalas. Jika sudah sreg maka segera kirim aplikasi.

Untuk pendaftaran beberapa kampus masih manual yang berarti calon mahasiswa harus mengirimkan form aplikasi dan juga bukti-bukti pendukung lainnya menggunakan pos. Akan tetapi sudah banyak kampus yang memberlakukan apply online. Yang maksud nya calon mahasiswa tinggal mengisi form secara online dan mengirimkan soft-copy file pendukung pada mereka. Jika seluruh syarat lengkap biasanya LOA akan di terbitkan paling lama 1 bulan untuk program course work.  Tetapi pengalaman saya apply ke Universitas di Malaysia, pendaftaran dibuka kapan saja, tetapi pengumuman penerimaan dilakukan mendekati tahun ajaran baru.

apply-online

Selamat jika sudah mendapatkan LoA. FYI jenis LoA ada dua. Yang pertama Full Offer  dan yang kedua conditional offer. JIka full Offer maka sudah tidak ada syarat lagi yang harus dipenuhi. Tetapi jika conditional offer yang kita dapatkan maka masih ada beberapa syarat yang harus dilengkapi. Paling sering dijumpai adalah conditional offer terkait dengan ketentuan Bahasa Inggris. Biasanya banyak calon mahasiswa yang syarat Bahasa Inggris nya kurang tetap mengirimkan pendaftaran. Jika nilai dan background academic nya sesuai conditional LOA akan diterbitkan. Ada yang bertanya, dengan conditional LOA apakah bisa mulai sekolah? Jawabannya tidak. Kita harus tetap mendapatkan Full Offer untuk bisa mulai bersekolah. Beberapa negara seperti New Zealand mensyaratkan Full Offer untuk menerbitkan visa pelajar. Sampai langkah ini bagi yang bersekolah dengan biaya mandiri maka yang berikutnya adalah mempersiapkan keberangkatan. Tapi bagi pemburu beasiswa maka masih ada syarat tambahan yang harus dipenuhi.

FYI – umur LOA biasanya dua tahun. Misal  mengirimkan aplikasi untuk intake August 2017. Jika gagal berangkat di August 2017 maka LOA tadi masih bisa digunakan sampai August 2019 tanpa harus mendaftar kembali. Konsultasikan dengan pihak sekolah apakah intake (kemasukan) bisa dilakukan disemester 1 dan 2 atau hanya di semester 1 saja. Beberapa sekolah untuk S2 mengijinkan mahasiswa untuk memulai sekolah disemester 1 atau disemester 2.

Bagi pemburu beasiswa, beberapa langkah dan strategi masih butuh dilakukan. Langkah berikutnya adalah berburu beasiswanya. Untuk beberapa beasiswa seperti halnya LPDP, kemampuan Bahasa Inggris dan Full Offer dari Universitas yang ada di daftar LPDP sudah memberikan kesempatan 60% untuk diterima sedangkan 30% nya adalah wawancara terkait dengan kesiapan dan bakal kontribusi yang kita berikan sedangkan yang 10% adalah kekuatan doa (CMIIW). Sedikit berbeda dengan pemberi beasiswa lainnya. Sebut NZAID dengan skema NZ ASEAN Scholarship. Pemberi beasiswa biasanya memiliki sektor-sektor prioritas. Sehingga jika ingin mendapatkan beasiswa tersebut, maka pilihlah program study atau topik penelitian yang sesuai dengan sektor-sektor prioritas tersebut. Dalam beberapa kasus kandidat yang tidak berada pada sektor-sektor tersebut bisa mendapatkan beasiswa. Tetapi sebagian besar adalah kandidat yang berada pada sektor-sektor tersebut.

priotirty-sector

Jika aplikasi sudah dikirimkan ya sisanya tinggal berdoa dan mempersiapkan diri untuk interview .

Dapat disimpulkan bahwa semakin banyaknya penyedia beasiswa untuk studi lanjut khususnya keluar negeri meningkatkan minat dari pelajar-pelajar Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Walaupun terkesan kompleks tetapi jika dijalani dengan tekun dan  telaten maka akan memberikan hasil yang optimal. Sehingga kita haruslah tetap semangat dan berusaha untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Advertisements

A Reminder: Keep Your Feet on the Ground and Keep Reaching for the Stars

SONY DSC
Be like a duck. Stay calm on the surface, but paddle very hard underneath

“Asal nya dari mana?”  “ambil (kuliah) apa di sini?” dan “Kerja apa/dimana di Indonesia?” mungkin adalah pertanyaan-pertanyaan yang paling sering saya (dan teman-teman lain) terima waktu pertama kali kenalan dengan sesama orang Indonesia (di luar negeri). Waktu saya jawab saya dari Malang dan sedang menyelesaikan sekolah S3 saya di sini (New Zealand), mungkin sebagian besar kenalan baru saya mengira saya adalah dosen/pejabat di Malang. Padahal saya bukan siapa-siapa.Kalau kata Cita Citata “Aku mah apa atuh” 🙂 Aku cuma Ibu Rumah Tangga, bukan pejabat.

Terus, kalo cuma ibu rumah tangga ngapain sekolah sampe s3 segala? Sekolah kan hak semua orang ya.. Dan saya menganggap ini adalah bagian dari rejeki saya dan keluarga. Saya sebut rejeki karena saya masih ‘mau’ dan semangat untuk sekolah lagi, bapak Abink juga mau support saya 100 %, Alia, keluarga lainnya dan keadaan waktu itu juga sangat memudahkan proses pengambilan keputusan untuk saya sekolah lagi.

Kalau ada yang bilang untuk mendidik anak, diperlukan orang tua yang berpendidikan tinggi, sebenernya saya setengah setuju dengan pernyataan itu. Setujunya hanya setengah lho.. Artinya, orang tua yang tidak berpendidikan tinggi pun saya yakin bisa mendidik anaknya dengan baik juga.

Anyway, kalo ngomongin tentang kenapa saya bisa terdampar di New Zealand dan berjalan sampai sejauh ini, pastinya nggak lepas dari kehendak Allah dan dukungan bapak Abink (dan mama, papa, bapak, ibu juga pastinya). Saya awalnya datang ke New Zealand sebagai bagian dari support group-nya bapak Abink yang lagi sekolah s3 di NZ. Waktu itu, saya ibu-ibu muda beranak satu yang niatnya cuma nemenin suami sekalian liburan panjang ke New Zealand (secara NZ adalah salah satu negara impian saya, selain Swiss, Arab/Mekkah dan Jepang).

Selama setahun penuh saya benar-benar menikmati liburan saya di NZ. Jalan-jalan kesana kemari, anter dan nemenin anak sekolah, aktif di sekolah anak, aktif di kegiatan community, sampe ambil kursus gratis early childhood education dan parenting.

Setelah anak udah agak gede dan udah di sapih, saya mula mikir cari kerjaan. Tapi, karena tujuan saya ke NZ untuk support suami, jadi saya harus cari kerjaan yang nggak mengganggu jam belajar dan kerja suami dan nggak bikin anak terbengkalai juga. Waktu itu bapak Abink sekolah sambil nyambi jadi tutor juga. Berarti, saya harus kerja di pagi hari sebelum suami berangkat ke kampus dan malam/sore hari setelah suami pulang kampus, biar bisa gantian di rumah jagain anak.

Jadilah saya nekat ngelamar kerjaan sebagai early morning cleaner di University of Canterbury (UC). Saya bilang nekat karena rumah saya di Lincoln, sedangkan tempat kerja waktu itu di Cristchurch, jaraknya sekitar 18 km. Ditambah lagi, jam kerja nya mulai dari jam 4 pagi sampe jam 7 pagi. Jadi, karena perjalanan Lincoln-UC makan waktu sekitar 20 menit (18km), saya harus berangkat dari rumah jam 3.30 pagi.

Karena sudah diterima kerja dan  restu bapak Abink sudah di tangan, saya nekat aja nyetir sendirian di pagi buta. Gelap dan dingin….  Apalagi waktu winter.. Saya sempat nyetir di tengah hujan salju yang deres banget (winter tahun 2011). Walaupun waktu itu deg-deg an setengah mati, tapi sekarang jadi pengalaman yang nggak bakal terlupakan.

Mungkin karena nggak tega ngeliat saya nyetir sendiri di pagi buta, bapak Abink ngasih saran untuk cari kerja yang deket-deket aja. Jadilah saya tanya-tanya lowongan kerjaan (jadi cleaner juga) di Lincoln University (LU). Akhirnya saya diterima juga kerja di Lincoln Uni, jadi evening cleaner. Jam kerjanya mulai jam 6 sampe jam 9 malem dan deket rumah. Waktu keterima kerja sore, bapak Abink udah nyuruh-nyuruh saya berhenti kerja pagi, tapi saya nya berhasil meyakinkan bahwa saya bakal baik-baik aja kerja di pagi dan sore hari 🙂 Jadilah saya selama 1,5 tahun menjabat sebagai “floor director” (alias tukang vacuum karpet dan nge pel) di UC dan LU hehehhe.. Capek? Pasti.

Trus gimana ceritanya dari cleaner bisa sekolah? Di awal tahun 2012, saya dan bapak Abink ngobrol-ngobrol soal kemungkinan saya sekolah juga. Terus duitnya dari mana? Kebetulan ada sedikit tabungan dari hasil kerja dan saya harus cari bea siswa. Iseng-iseng saya bikin proposal, dan saya kirim-kirim untuk cari pembimbing. Target kami waktu itu memang daftar di LU atau UC, karena udah tau medan dan nggak jauh-jauh dari bapak Abink dan Alia. LU tanggapannya bagus dan cepet banget. Saya diterima di LU, padahal beasiswa belum di tangan. Karena udah cocok dengan pembimbingnya dan saya juga bisa langsung research (tanpa harus ambil mata kuliah), jadilah kita ‘nekat’ daftar sekolah tanpa beasiswa dulu. Dengan harapan, saya akan dapat bea siswa. PD banget ya…..

Setelah saya jadi student, saya lepas kerjaan pagi saya. Jadi waktu itu status saya adalah PhD student sekaligus cleaner di LU 🙂 Setelah jadi student, saya ngelamar-ngelamar kerjaan jadi riset assistant dan diterima. Saya kerja untuk salah satu dosen di LU. Akhirnya saya lepas kerjaan evening cleaner.

Di hari pengumuman bea siswa yang ditunggu-tunggu, ternyata saya nggak dapet beasiswa yang saya mau. Kecewa pasti, tapi kalau dibandingkan dengan pengalaman dan perjuangan para ‘pejuang beasiswa’ lain penolakan beasiswa ini pasti nggak ada apa-apa nya 🙂 Makanya saya salut banget sama para pejuang beasiswa yang tahan banting, yang walaupun ditolak, masih punya semangat bangkit lagi coba cari yang lain. Toh kita nggak pernah tau rejeki kita datangnya dari ‘sumber’ yang mana. Ya kan?

Waktu itu rasanya Allah memang maha baik dan maha tau apa yang saya butuhkan.. Beberapa hari setelah penolakan beasiswa, saya dihubungi oleh salah satu staff di fakultas. Dia bilang, komite beasiswa LU menawarkan jenis bea siswa lain untuk saya. Saya ditawari ‘teaching assistant scholarship’. Beasiswa dari LU, mereka tanggung uang sekolah saya sampai lulus, tapi saya harus kerja jadi teaching assistant. Alhamdulillah kan.. Saya jadi punya penghasilan untuk hidup (walaupun nggak banyak), dan saya jadi punya pengalaman tutoring sekaligus jadi ‘dosen tamu’ untuk beberapa mata kuliah. Salah satu pengalaman tutoring saya pernah saya ceritakan di sini dan di sini.

Waktu pertama kali menginjakkan kaki saya di salah satu ruang kelas di LU, saya ‘cuma’ sebagai cleaner, tapi 2 tahun kemudian, saya masuk ke ruangan itu dan berdiri di depan untuk tutoring dan lecturing. Saya pernah gagal dapat beasiswa, tapi Allah ganti dengan yang lebih baik untuk saya. Bukan untuk sombong atau jumawa, tapi sebagai pengingat bahwa kita nggak pernah tau apa yang Allah siapkan untuk kita di depan.

Nggak ada gunanya sombong dengan posisi kita yang sekarang, padahal kita nggak tau apa yang akan kita hadapi di depan kita. Nggak perlu minder juga dengan posisi kita sekarang, karena dengan usaha, kerja keras dan doa pasti kita bisa mencapai apa yang kita cita-citakan.

Sekarang, setelah liburan panjang di nz berakhir, studi sudah selesai, dan harus kembali ke kampung halaman, saya masih dan selalu berharap Allah menyiapkan sesuatu yang terbaik buat saya (dan keluarga). Apapun itu, yang penting  jangan lupa selalu bersyukur.

Stay humble. Keep your feet on the ground and keep reaching for the stars.

381352_2594466454300_97717243_n
Kaikoura Beach, NZ, 2011