Ujian Thesis Doctoral ala New Zealand University (2) : via Video conference

SONY DSC
Saat menghadiri Wisuda tahun lalu. Sayangnya bukan saya yang diwisuda 🙂

Delapan April 2016 adalah hari wisuda di Lincoln University (LU). Saya seharusnya bisa diwisuda bersama kawan-kawan lain di LU, tapi saya memilih “Graduate in Absentia” karena kondisi yang ngggak memungkinkan untuk saya datang ke NZ.

Kalau sekitar 3 tahun yang lalu Bapak Abink sudah pernah cerita dengan Judul yang sama di sini tentang bagaimana ujian doktoral di Lincoln University, kali ini saya bawa cerita ujian yang sedikit berbeda dengan pengalaman bapak Abink 3 tahun lalu.

Begitu saya submit thesis, dan menyelesaikan kontrak kerja, saya langsung balik ke Indonesia. Meja kerja sudah saya kembalikan ke bagian administrasi untuk bisa dipakai oleh orang lain. Tapi, saya masih pakai locker saya untuk simpan beberapa barang yang kira-kira saya butuhkan kalau balik lagi NZ untuk ujian. Waktu itu memang rencananya saya bakal balik ke LU untuk ujian sekitar akhir tahun 2015 atau awal tahun 2016. Bahkan saya masih nitip koper isi baju dll di rumah seorang teman. Tapi, lagi-lagi kita cuma bisa berencana, tapi Allah siapkan rencana lain buat saya. Karena waktu itu nggak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh, saya harus rela ujian jarak jauh, lewat video conference. Waktu itu rasanya kecewa, karena waktu pulang ke Indonesia saya sama sekali nggak ada persiapan untuk ninggalin NZ untuk waktu yg belum ditentukan. Saya kira bakal ketemu NZ lagi dalam 4-6 bulan setelah kepulangan saya ke Indonesia. Tapi, karena terbang ke NZ lagi adalah pilihan terakhir, akhirnya saya pasrah aja, ngurus ujian jarak jauh ini biar jadi lancar..

Proses setelah submit thesis sampai ujian, kurang lebih hampir sama dengan pengalaman Bapak Abink. Tapi, entah kenapa waktu tunggu saya lebih lama. Saya harus nunggu sekitar 5 bulan sampai saya dapat email panggilan untuk ujian. Mulai tahun ini LU punya kebijakan baru mengenai ujian thesis doktoral. Kali ini, pembimbing tidak ikut andil dalam penilaian. Tugas pembimbing sudah selesai sampai kita submit thesis kita untuk dinilai oleh examiners. Artinya keputusan layak atau tidaknya sebuah thesis untuk mengantarkan seorang candidat doktor untuk menyandang gelar Doktor hanya berada di tangan para penguji. Kebijakan baru ini bikin saya lebih deg-deg an, karena thesis saya akan dinilai oleh orang-orang yang saya sama sekali nggak tau siapa aja mereka.

Tapi, dibalik kebijakan LU yang bikin deg-deg an, ada juga kebijakan lain yang menurut saya menguntungkan student. Ketika kita terima email yang menyatakan bahwa thesis kita layak untuk diuji secara oral, kita juga bakal langsung dapat review yang ditulis oleh para examiners. Jadi, kita udah tau kelebihan dan kelemahan thesis kita di mata examiners. Jadi kita bisa siap-siap buat oral examinationnya nanti.

Thesis examination melalui video conference sebenarnya belum biasa dilakukan di Lincoln University. Untuk bisa ujian jarak jauh, saya harus mengirimkan surat dokter yang menyatakan bahwa saya tidak direkomendasikan untuk terbang ke NZ.

Beberapa minggu sebelum hari ujian, saya sudah lumayan intens komunikasi dengan postgrad administrator dan convenor mengenai apa aja yang harus dipersiapkan untuk ujian jarak jauh dan juga mengatur jadwal yang cocok untuk saya yang di Indonesia, supervisor & convenor di NZ dan examiner di Australia. Selanjutnya, untuk memastikan koneksi internet dan komunikasi lancar, saya sempat 2x melakukan percobaan teleconference. Yang pertama, hanya berdua dengan convenor, dan yang selanjutnya rame-rame sama IT personnya LU, Postgrad Administrator, dan examiners.

Ujian thesis waktu itu jatuh di Hari Selasa, jam 9 pagi WIB, jam 3 sore waktu NZ, jam 1 siang waktu Australia. Saya udah siap dari pagi, saking deg-deg annya 🙂 Udah stand by di depan laptop 15 menit sebelum jam 9. Ujiannya sendiri berlangsung selama 45-60 menit aja. Dimulai dengan presentasi dari saya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Alhamdulillah, examiners  saya lumayan gampang ‘dipuaskan’ dengan jawaban-jawaban saya. Setelah sesi tanya jawab berakhir, teleconference dengan saya diputus supaya supervisors, convenor dan examiner bisa diskusi mengenai hasil ujian. Saya tinggal menunggu convenor menghubungi saya untuk bergabung lagi. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, akhirnya saya dihubungi dan diyatakan lulus. Yeaaayyy Alhamdulillah…

Viva

Intinya, ujian secara langsung atau melalui video conference ada plus dan minusnya. kalau ujian langsung komunikasinya pasti lebih lancar, diskusi mengenai revisi (kalau ada) juga bakal lebih jelas. Tapi kelemahannya, kalau udah pulang ke Indo harus ngeluarin biaya banyakk 🙂

Kalau ujian lewat video conference lebih banyak yang harus dipersiapkan, terutama konekasi internet yang stabil. Pre-test juga penting banget dilakukan beberapa hari sebelum ujian. Persiapan video conference nya sendiri sebenernya nggak begitu ribet karena kita tinggal tunggu undangan Skype meeting (Lync) dari postgrad adminstrator atau IT person. Tinggal klik-klik untuk instal dll aja.

Yang terpenting untuk ujian langsung maupun video conference adalah persiapan, baca lagi thesisnya, yakin aja kalau kita adalah orang yang paling tau tentang apa yang kita tulis selama 3 tahun terakhir. Dan jangan lupa banyak berdoa..

Advertisements

Berburu Sekolah (2)

Sekolah hari pertama Alia.jpg

Setelah cerita sekilas tentang berburu TK dan daycare buat Alia sepulang dari NZ di postingan yang ini, kali ini mua cerita sedikit tentang berburu  sekolah dasar untuk Alia, sekalian menjawab beberapa email yang masuk tanya tentang sekolah dasar di Malang.

Karena sudah lewat setahun, dan saya nggak nyimpen brosur-brosur sekolah yg kami survey, jadi cerita berburu sekolah ini bakal singkat aja, mengingat ingatan saya yang lumayan ‘pendek’. Mudah-mudahan bisa ngasih sedikit gambaran tentang beberapa SD di malang.

Sebenernya jauh-jauh hari kami udah mulai cari tau tentang SD di Malang, tapi ya cuma sepintas lalu aja. Tapi kami sudah punya beberapa gambaran kriteria sekolah yang kami mau.

1. SD MIN Malang  di Jl. Bandung. Ini salah satu SD favorit di Malang. Selain belajar pelajaran umum, pelajaran agama islam nya banyak, termasuk pelajaran bahasa arab dll. Setahun bisa terima 3-4 kelas, tapi seleksinya emang ketat karena peminatnya banyak. Pendaftaran dibuka Sekitar bulan Maret-April. Kalau nggak salah tes di sekolah ini cuma psikotes dan wawancara aja.

2. SD Islam Sabilillah di kawasan Masjid Sabillilah, depan pasar Blimbing. Ini juga banyak tambahan agama Islamnya. Anak-anak sekolah sampai jam 3 (pulang setelah sholat ashar)  dan nggak ada PR lagi di rumah. Persaingan masuk lumayan ketat, karena banyaknya peminat. Untuk bisa  sekolah di SD ini, ada tes mengaji juga. Nilai plusnya, anak-anak juga diajari menghapal Qur’an. Pendaftaran SD Sabilillah ini biasanya sudah dibuka di bulan Maret.

3. SD Unggulan Permata Jingga. Ini SD Swasta Nasional masih baru di sekitar Sawojajar. Sekolah ini adalah sekolah inklusi yang juga menerima murid berkebutuhan khusus jadi anak-anak  bisa belajar berempati. Plus nya sekolah ini nggak pakai TES MASUK, dan metode pendidikannya menyenangkan jadi nggak bikin anak jenuh. Untuk yang beragama Islam, ada sholat Dhuha di sekolah setiap pagi.

4. SD Anak Soleh di Jl. Arumba. Hampir sama seperti SD Islam lainnya. Tapi karena masih relatif baru, seleksi masuknya nggak begitu ketat. Menerima 2 kelas setiap tahun. Nilai plusnya, selain sekolah berbasis agama, SD Anak Saleh ini punya halaman yang luas. Tapi, kurangnya, jalan masuk ke Jl. Arumba masih sempit dan kebayang macetnya dan ramenya kalau pagi pas nganter sekolah. Sebagai supir kurang pengalaman, saya keder deh kalau harus lewat situ tiap pagi 🙂

5. SD PJ Global School di Permata Jingga, di perumahan Permata Jingga. Tes nya nggak ketat, setahun terima 2 kelas, tapi tiap kelas cuma dibatasi 20 orang. Pakai 2 kurikulum, nasional dan kurikulum dari Singapore. Bahasa pengantar bahasa Inggris. Setiap pagi, untuk yg muslim sholat dhuha, yang beragama lain beribadah sesuai agamanya di tempat terpisah. Sekolah ini juga baru buka cabang baru di Jl. Raya Langsep.

6. SDN Kauman (sebelah hotel pelangi). Ini SD negeri favorit di Malang. Terkenal input dan output nya bagus, tapi memang sekolahnya jadi lebih berat ada PR, dll.

Sebenernya untuk yang mau cari sekolah Islam, masih ada lagi sekolah-sekolah Islam lain, seperti SD Insan Amanah di Griyashanta, SD Moh. Hatta di Jl. Simpang Flamboyan atau SDIT Insan Permata di sekitar Sengkaling. Untuk yang mau cari sekolah nasional berwawasan Internasional (berbahasa Inggris) ada SD Lab UM di kawasan Univ Negeri Malang, atau sekolah Gracia di Jl Bunga Lely.

Lagi-lagi saya nggak bisa kasih masukan spesifik sekolah mana yang terbaik di Malang. Kan kebutuhan dan prioritas tiap anak & orang tua berbeda-beda.

Alhamdulillah kami sudah nemu sekolah yang paling mendekati kriteria kami (dengan segala plus minus nya), dan sejauh ini Alia happy sekolah disitu..  Tahun ini ALia bakal naik ke kelas 2, trus nggak lama lagi kami harus mulai hunting SMP buat Alia. Hhhmmm atau mungkin hunting TK/Playgroup dulu deh, buat adeknya Alia 🙂

Hari-hari Menyenangkan di Taman Kanak-kanak

Hari ini, saya bikin sedikit kompilasi foto-foto Alia selama di Pre-school dan kindy di New Zealand dan Indonesia. Ternyata punya anak yang baru lulus TK itu rasanya campur aduk antara sedih dan seneng..

Dulu, pertama kali masuk ‘sekolah’ di playcentre Alia sama sekali nggak mau ditinggal.Lama kelamaan, dia udah enjoy main sendiri atau main bareng temen-temennya. Setelah Alia umur 2.5 tahun, pindah ke Lincoln Pre-school karena saya mulai kerja dan nggak punya tenaga untuk aktif di playcentre yang harus duty dan bantu-bantu administrasi. Setelah ulang tahunnya yang ke-3, Alia pindah sekolah lagi ke Lincoln KidsFirst. Di umur 4tahun, Alia harus pulang ke Indonesia dan sekolah di See me grow. setelah lulus dari see me grow masuk ke Iqro dan sekarang Alia udah lulus dari Iqro, siap masuk SD.

Alia tulis di surat terimakasihnya untuk Ms Linda & Ms Windri:
Alia tulis di surat terimakasihnya untuk Ms Linda & Ms Windri: “Terimakasih sudah mengajari Alia berdoa dan menulis” 🙂

Karena lagi jauh-jauhan sama Alia, rasanya campur aduk kalo ngeliat foto-foto dan video Alia yang di tag ke saya oleh para mama di Iqro’ (makasih ya semua!). Apalagi kalo liat foto-foto Alia jaman dulu, waktu masih baru masuk sekolah sampai sekarang udah bisa baca pidato di depan teman-teman, guru dan orang tua. Rasanya waktu cepat sekali berlalu.. Walaupun saya nggak ada di sana waktu Alia lulus TK dan nggak bisa antar Alia di hari pertamanya masuk SD, tapi doa saya selalu mengiringi.

———————————–

Salah satu cerita tentang  Playcentre bisa dibaca di sini

Salah satu cerita tentang  Lincoln pre-school bisa dibaca di sini

Salah satu cerita tentang  Lincoln KidsFirst bisa dibaca di sini

Salah satu cerita tentang  See Me Grow bisa dibaca di sini

Pendidikan yang memanusiakan manusia

Jarang sekali saya menulis sebuah tulisan di blog keluargahussein ini yang topik nya agak serius. Biasanya hanya tulisan ringan sehari-hari atau tulisan mengenai cerita perjalanan dan jalan-jalan. Tetapi kali ini saya ingin mencoba mengekspresikan opini saya mengenai sistem pendidikan yang berlaku dan bagaimana manusianya menyikapi sistem pendidikan tersebut.

Saya masih ingat ketika masih mahasiswa dan menjadi aktivis (lebih tepat berlagak menjadi aktivis) ada seorang teman yang jika berbicara mengenai sistem pendidikan selalu mengucapkan bahwa pendidikan itu harus memanusiakan manusia. Dari dulu hingga sekarang saya masih ragu sebenarnya si kawan itu benar-benar paham atau tidak mengenai pendidikan yang memanusiakan manusia. Bisa jadi hanya sebuah jargon yang diucapkan supaya terlihat kerena karena menggunakan bahasa/term/istilah yang sulit dipahami. Tetapi mungkin saja si kawan itu memang paham dengan makna nya. Saya sendiri saat itu tidak terlalu memusingkan apa makna dari jargon tersebut.

Akan tetapi saat ini ketika saya sudah menjadi seorang pengajar dan pendidik saya mulai memikirkan apa yang dimaksud dengan pendidikan yang memanusiakan manusia itu. Ternyata merenung sesaat tidak menjawab filosofi dari statement tersebut. Perlu sebuah renungan yang mendalam.

Apakah merenung lama juga mendapatkan makna mendalam dari jargon tersebut? ternyata tetap tidak. Sampai saat ini saya juga masih mencari makna. Walaupun demikian ada beberapa titik terang yang sedikit memberikan gambaran mengenai apa sebenarnya pendidikan yang memanusiakan manusia.

Titik terang itu saya dapat setelah saya intens mengikuti pendidikan si kecil Alia. Ya, Alia si gadis kecil berumur 6.5 tahun yang baru lulus dari TK dan akan masuk SD. Proses mengikutinya sedikit banyak memberikan gambaran mengenai jargon tersebut.

Beberapa waktu sebelum Alia lulus atau bisa dikata dipenghujung tahun lalu, saya dan istri sudah mulai berdiskusi mengenai mau kemana arah pendidikan Alia setelah TK. Jenjang pendidikan anak usia dini seperti TK itu merupakan jenjang awal dalam pendidikan formal seorang manusia. Setelah jenjang itu harus dipikirkan kemana kaki akan melangkah karena masa depan ditentukan darin situ.

Sebagai seseorang yang selalu mendapatkan kesempatan untuk bersekolah di sekolah yang (katanya) terbaik mulai dari TK hingga program Doktor saya juga berkeinginan Alia mendapatkan pendidikan yang terbaik. Tetapi pertanyaannya pendidikan yang terbaik itu adalah pendidikan yang seperti apa? Apakah pendidikan yang mampu menciptkana seseorang yang ahli matematika? atau mungkin ahli bahasa? atau bahkan menjadikan seseorang itu bisa segalanya seperti halnya robot yang terprogram komputer? Masing-masing orang akan menjawab berbeda-beda sesuai dengan seleranya masing-masing.

Tetapi saya dan istri sepakat bahwa sebenarnya pendidikan yang terbaik adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Persis seperti apa yang dikatakan kawan saya tersebut beberapa belas tahun yang lalu. Lalu bagaimana kami mendefinisikannya?

Mari kita tengok kondisi saat ini. Saya melihat banyak orang pintar, orang pandai orang hebat yang ternyata perilaku nya tidak seperti bagaimana manusia seharusnya. Banyak orang-orang hebat yang ternyata memakan hak temannya atau hak orang lain. Banyak orang hebat yang ternyata menyikut orang lain untuk kepentingannya sendiri. Menurut saya seorang manusia itu sudah diberikan akal dan pikiran oleh Sang Pencipta dimana akal dan pikiran tersebut mampu untuk menimbang dan memikirkan baik dan buruk. Tetapi kenyataannya dengan pendidikan maksimal ternyata kemampuan akal dan pikiran tersebut malah tidak ada.

Apakah kondisi tersebut disebabkan oleh pendidikan? terlalu cepat untuk membuat sebuah kesimpulan. Tetapi kita juga harus ingat bahwa aspek dalam pendidikan itu ada tiga hal penting yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Nah saya yakin manusia seutuhnya adalah manusia yang mampu menyeimbangkan ketiga hal tersebut. Dengan adanya keseimbangan ketiga hal tersebut maka manusia akan dapat menjadi manusia seutuhnya.

Yang menjadi masalah, seperti nya saat ini aspek kognitif menjadi fokus utama dalam dunia pendidikan khususnya dalam pendidikan dasar (mungkin saya salah karena saya bukan ahli pendidikan). Sehingga dengan semakin fokus nya pendidikan pada aspek kognitif ini lembaga pendidikan sedikit meluapakan aspek afektif nya.

Sekali lagi mungkin saya salah, tetapi saya dan banyak teman-teman dosen yang mengakui bahwa saat ini banyak mahasiswa yang berasal dari sekolah-sekolah unggulan. Nilai mereka pun sangat baik, akan tetapi nilai-nilai kehidupan, sikap dan perilakunya berbanding terbalik dengan aspek kognisinya. Sangat disayangkan sekali.

Sekarang jika ditanyakan apakah saya sudah mendapatkan sekolah/lembaga pendidikan buat Alia yang sistem pendidikannya memanusiakan manusia? Jawabannya yang seratus persen ada belum saya temukan. Akan tetapi saat ini saya berkeyakinan bahwa paling tidak saya tidak ingin gadis cantik ku ini berubah menjadi robot yang terpogram secama sistematik dengan proses pembelajaran disekolah. Saya ingin Alia dengan senang hati pergi ke sekolah. Dengan riang pulang menghabiskan hari-harinya dengan seimbang. Sehingga paling tidak jika disekolah aspek kognitif bisa diperoleh, maka dirumah atau dilingkungan aspek afeksi dan psikomotor nya bisa ditingkatkan. Jangan sampai disekolah bergelut dengan pengembangan kognisi dirumah masih harus pula bergelut dengan peningkatan aspek kognisi.

si Kupu-kupu

Alia ayunan

Halo… Disini kupu-kupu Alia. Siapa ini?

Itu sapaan baru Alia kalo lagi teponan sama saya. Alia nggak cuma menyebut dirinya sendiri kupu-kupu, tapi ngasih panggilan juga buat Ibu n Bapaknya. Dia panggil saya ‘kepompong Ibu’  dan ‘ulat Bapak’ untuk bapak Abink..

Di umur Alia yang 6 tahun ini, saya dan bapak Abink cukup hepi dengan ‘pencapaian’ Alia. Ditengah keterbatasan kami sebagai orang tua yang sama-sama sibuk, bahkan harus menjalani long distance parenting untuk beberapa saat, kami bersyukur karena perkembangan Alia lumayan oke. Terlepas dari drama-drama kecil seputar parenting, kami pengen Alia tau kalo kami bangga banget punya anak kayak Alia 🙂

Di 6 tahun ini dia udah lumayan bisa pegang komitmen. Dari awal pas Alia pulang ke Indonesia, saya dan bapak Abink pengen Alia punya kegiatan di luar rumah selain sekolah. Jadi, kami kasih Alia pilihan mau belajar musik atau belajar lukis/gambar. Dia pilih musik.

Awalnya dia pengen banget belajar gitar, tapi di tempat les musik deket rumah masih belom bisa nerima anak 6 tahun untuk belajar gitar. Kami tawarin lagi, mau tetep musik atau gambar? Alia tetep pilih musik, dan pilihan akhirnya jatuh ke piano. Dari awal kami udah bilang kalo Alia udah bikin pilihan, harus dijalani. Dan ternyata, dia suka les pianonya. Ibu Bapak nya yang nggak bisa main piano tentunya hepi banget punya anak yang bisa baca not balok dan bisa main piano hahahha 😀 *rabidmom mode:on.

Satu kejadian lagi yang bikin saya bangga sama si kupu-kupu Alia ini.. Kemaren dia lagi nggak enak badan. Udah 2 hari pilek sih memang.. Tapi, hari Rabu kemarin dia udah enakan dan harusnya bisa masuk sekolah walopun masih meler dikit. Tapi, dia bilang ke Bapak Abink nggak usah sekolah dulu.

Sama bapaknya dikasih pilihan:(1) Alia masuk sekolah seperti biasa plus daycare sampe jam 4, atau (2) boleh istirahat di rumah tapi nggak boleh nonton TV sampe bapak Abink pulang kerja, harus latihan piano untuk konser minggu depan, bobok/istirahat siang, dan nggak usah ikut berenang di sekolah hari Kamis.

Kalo menurut saya pilihan nomer-2 itu lumayan berat buat Alia. Biasanya kalo di rumah dia jarang banget istirahat/bobok siang. Trus nggak nonton TV dari pagi sampe jam 5 sore itu juga lumayan susah kalo Alia lagi di rumah. Apalagi, pilihan nggak berenang di sekolah itu kayaknya nggak mungkin dia pilih karena Alia selalu excited kalo pas ada acara berenang di sekolah. tapi ternyataaaaaa… dia pilih tetep di rumah dan setelah di cek, dia menepati semua kesepakatan yang udah dibuat. Ooohh, Ibu bangga banget deh sama kk Alia 🙂

Pencapaian lain Alia di umur 6 tahun ini, akhirnya dia berani masukin kepala ke air dan berenang. Walopun gayanya masih acak-acakan, tapi saya bangga banget. Secara saya cuma bisa berenang gaya katak, dan paling pol cuma maju 5 meter aja.

Itu foto sekitar 3 bulan lalu, Alia masih belajar pake pelampung dan belom brani nyelupin kepala ke air 😀

Sebenernya Alia udah lumayan sering nyemplung ke kolam renang. Paling nggak sebulan sekali berenang di sekolah dan lumayan sering diajak berenang sambil diajarin sama bapak Abink karena bapak Abink lumayan jago berenangnya. Tapi sampe sekitar 3 minggu lalu, dia masih belum berani untuk masukin kepala ke air dan tahan napas.

Ternyata, pas bapak Abink lagi nggak enak badan, si Alia di bawa berenang dan disuruh nyemplung sendiri. Ternyata waktu itu dia lepas pelampungnya dan tiba-tiba aja berani masukin kepala ke air dan akhirnya berhasil berenang beberapa meter. Wooohooo…. berarti tugas bapak Abink selanjutnya tinggal ngelatih pernapasan Alia aja.. Yeaaayyy!!

Kupu-kupu Alia, semoga selalu jadi anak yang baik dan jadi kebanggan keluarga ya nak… We love you, my little butterfly. Just spread your wings and fly high…

Pantang Pulang Sebelum Padam

Dapet feedback dari pak SPV, setelah menunggu 2 minggu lamanya. Agak-agak membingungkan sih, komen-komennya. Pas didatengi ke ofisnya, bliaunya nggak ada di tempat. Ya wis, coba dikerjain sendiri dulu aja sambil nunggu ketemuan hari Senin nanti.

Disela-sela ngerjain revisian chapter, tiba-tiba pak SPV ngirim email lagi kata pembukanya gini “I hope you aren’t depressed by my comments”. hihihih… iya juga sih, saya agak2 down begitu liat komennya yg lumayan banyak. Ihhh serem deh, jangan-jangan si bapak bisa baca isi hatiku  😀

Pengennya sih istirohat dulu, mencerna komen satu demi satu, pelan-pelan kerjanya… tapi kalo inget janjiku ke anak gadisku pagi ini, kayaknya gak bisa ini kalo kerja pelan-pelan. Harus di gas pol ini. Nggak ada libur weekend ini.

Tadi pagi, nelpon ke rumah cerita-cerita dan becanda2 seperti biasa. Terus, tiba-tiba aja obrolan mengarah ke potong rambut alia karna udah mulai nggak rapi. Trus terjadilah percakapan berikut:

Ibu : Alia, rambutnya dirapihin ya. Ke salon aja, nanti dianter bapak..

Alia : Nggak mau.

Ibu: Enak loh, nanti sebelum dipotong dikeramas dulu

Alia : Alia udah pernah.

Bapak: Alia lagi pengen mainan apa?

Alia : Alia nggak pengen mainan. Alia pengen nonton frozen.

Bapak : Ok. Kalo gitu, abis dari salon Alia boleh nonton frozen di laptop.

Alia : Alia maunya frozen yang baru

Bapak : Emang ada frozen yang baru?

Alia : Ada, Alia liat iklannya di TV

Ibu: Tapi itu belom ada di bioskop, kak.

ALia : Itu mungkin adanya bulan Agustus bu.

Ibu : Ohya? kalo gitu nanti ibu ikut ya nonton bareng.

Alia : Ibu udah pulang bulan Agustus? Agustus 2015?

Ibu : InshaaAllah..

Alia : Yeaaayyyyyy!!!!!

Kalo ibu bisa pulang sekarang, Ibu bakal pulang sekarang juga. Tapi kan kalo kata orang Banjar “waja sampai kaputing”, kalo kata petugas pemadam kebakaran “pantang pulang sebelum padam” (mengutip kata-kata Kai Roben dan bapak Abink). Makanya Ibu juga pantang pulang sebelum beres. “Beres” disini bermakna ganda ya.. bisa berarti “submit” atau “lulus” atau “punya full draft”. Tergantung nanti Agustus deh, saya bisa sampai tahapan yang mana.

Catatan kecil tentang berbuat baik

pic borrowed from https://ahechoes.files.wordpress.com/2013/12/always-be-kind-for-everyone-is-fighting-a-hard-battle-plato-quote.jpg
pic borrowed from https://ahechoes.files.wordpress.com/2013/12/always-be-kind-for-everyone-is-fighting-a-hard-battle-plato-quote.jpg

Ya. Setiap orang punya msalahnya masin-masing. Bahkan orang yang terlihat selalu ceria sekalipun pasti punya masalah. Orang terlihat sangat sempurna juga saya yakin punya masalah. Mungkin sapaan hangat kita di pagi hari bisa bikin mood seseorang jadi bagus sepanjang hari 🙂

Dulu waktu masih kerja jadi cleaner (iyaa… cleaner!), saya inget bener pas saya lagi capek-capeknya kerja, ada salah satu ‘pejabat’ di kantor yg lagi saya bersihin bilang terimakasih ke saya. Walaupun cuma bilang terimakasih, tapi efek nya jadi luar biasa ke saya. Jadi semangat lagi, dan merasa dihargai.

Ngomong-ngomong soal berbuat baik, di facebook, saya join satu group yang namanya ‘pay it forward’. Jadi, grup ini memfasilitasi orang-orang untuk saling berbagi. Kalo ada barang-barang yang udah nggak dipake biasanya di upload fotonya di grup itu dan ditawarkan ke member yang lagi butuh/berminat ngambil. Kalo ada lebih dari satu orang biasanya bakal diundi. Barang-barang yang ditawarkan macem-macem, dari perabot rumah tangga, baju, sepatu, mainan anak-anak, buku-buku sampe anak anjing/kucing juga ada. Asik ya ide nya 🙂

Masih tentang berbuat baik, kalu yang suka nonton Ellen DeGeners show pasti tau ada sesi “inspiring people” di acara itu. Memang sejak ‘merantau’ ke NZ saya jadi suka nonton Ellen DeGeneres show. Dulu, waktu masih punya TV, hampir setiap sore saya nonton show nya. Tapi sekarang saya nonton lewat yutub aja. Kadang kalo lagi capek atau bosen, tapi nggak punya banyak waktu untuk ‘break’, saya sengaja nonton the ellen show. Nonton 2-3 video paling cuma ngabisin waktu 10-15 menit aja dan itu udah bisa bikin saya ‘fresh’ lagi; atau bahkan ‘mbrebes mili’ karna terharu. Biasanya saya jadi ikutan terharu kalo nonton bagian ‘inspiring people’ di Ellen show. Mereka yang diundang di sesi itu biasanya orang2 yang punya positive attitude dan berbuat baik sama orang lain.

Walaupun banyak yang bilang kalau dunia ini udah kacau, tapi saya yakin masih banyak kok orang baik di dunia ini. Apalagi kalau kita mau memulai kebaikan dari diri sendiri, dan PAY IT FORWARD! Kalau kita dapat satu kebaikan dari orang lain, jangan lupa untuk memberi satu kebaikan untuk orang lain juga, dan kebaikannya bakalan jadi berlipat-lipat, kayak MLM 🙂

Jadi inget kata-kata Ellen De Generes untuk penutup talkshow nya:

“be kind to one another”.

Life is Like a Roller Coaster…..

enjoy-life-quote-roller-coaster-scream-Favim.com-262111
pic. from http://www.greenlandice.be

Disclaimer: Postingan ini mengandung curhat. Yang lagi nggak kepengen di curhatin, boleh cari bahan bacaan yg lain 🙂

Ok. I’ll enjoy the ride!

Rasanya kayak waktu naik roller coaster pertama kalinya, di Dufan beberapa tahun yang lalu. Awalnya PD dan semangat banget mau naik, dibela-belain ngantri panjang banget… Pas udah naiknya deg-deg an banget, takut tapi berusaha menikmati. Kalo ditanya mau naik lagi apa nggak? Jawabnya: Nggak mau!

Sama kayak waktu mau sekolah PhD, tahun 2012 lalu. Awalnya semangat dan PD banget.. Bahkan untuk pisah sementara sama keluarga saya juga awalnya merasa PD. Pas udah dijalanin, ternyata banyak ups and down nya. Bener-bener kayak naik roller coaster. Kalau sekarang ditanya, mau lagi apa nggak? Jawaban saya: Nggak mau!

Ini sebenrnya pas lagi melow-melownya, banyak kerjaan, waktu mepet, progress lambat, ditambah kangen keluarga di rumah. Liat-liat foto lama, bikin tambah mellow.. eh lha kok tetiba ketemu quote roller coaster. Ya wis lah ya, dijalani aja, masak ya mau mellow terus2an? Mendingan dinikmati aja.. ini kan bagian dari rejeki Allah buat kami. There’s always a silver lining in every cloud. Pasti semua ada hikmahnya.

Inhale… exhale…. Bismillah and back to work!

A Reminder: Keep Your Feet on the Ground and Keep Reaching for the Stars

SONY DSC
Be like a duck. Stay calm on the surface, but paddle very hard underneath

“Asal nya dari mana?”  “ambil (kuliah) apa di sini?” dan “Kerja apa/dimana di Indonesia?” mungkin adalah pertanyaan-pertanyaan yang paling sering saya (dan teman-teman lain) terima waktu pertama kali kenalan dengan sesama orang Indonesia (di luar negeri). Waktu saya jawab saya dari Malang dan sedang menyelesaikan sekolah S3 saya di sini (New Zealand), mungkin sebagian besar kenalan baru saya mengira saya adalah dosen/pejabat di Malang. Padahal saya bukan siapa-siapa.Kalau kata Cita Citata “Aku mah apa atuh” 🙂 Aku cuma Ibu Rumah Tangga, bukan pejabat.

Terus, kalo cuma ibu rumah tangga ngapain sekolah sampe s3 segala? Sekolah kan hak semua orang ya.. Dan saya menganggap ini adalah bagian dari rejeki saya dan keluarga. Saya sebut rejeki karena saya masih ‘mau’ dan semangat untuk sekolah lagi, bapak Abink juga mau support saya 100 %, Alia, keluarga lainnya dan keadaan waktu itu juga sangat memudahkan proses pengambilan keputusan untuk saya sekolah lagi.

Kalau ada yang bilang untuk mendidik anak, diperlukan orang tua yang berpendidikan tinggi, sebenernya saya setengah setuju dengan pernyataan itu. Setujunya hanya setengah lho.. Artinya, orang tua yang tidak berpendidikan tinggi pun saya yakin bisa mendidik anaknya dengan baik juga.

Anyway, kalo ngomongin tentang kenapa saya bisa terdampar di New Zealand dan berjalan sampai sejauh ini, pastinya nggak lepas dari kehendak Allah dan dukungan bapak Abink (dan mama, papa, bapak, ibu juga pastinya). Saya awalnya datang ke New Zealand sebagai bagian dari support group-nya bapak Abink yang lagi sekolah s3 di NZ. Waktu itu, saya ibu-ibu muda beranak satu yang niatnya cuma nemenin suami sekalian liburan panjang ke New Zealand (secara NZ adalah salah satu negara impian saya, selain Swiss, Arab/Mekkah dan Jepang).

Selama setahun penuh saya benar-benar menikmati liburan saya di NZ. Jalan-jalan kesana kemari, anter dan nemenin anak sekolah, aktif di sekolah anak, aktif di kegiatan community, sampe ambil kursus gratis early childhood education dan parenting.

Setelah anak udah agak gede dan udah di sapih, saya mula mikir cari kerjaan. Tapi, karena tujuan saya ke NZ untuk support suami, jadi saya harus cari kerjaan yang nggak mengganggu jam belajar dan kerja suami dan nggak bikin anak terbengkalai juga. Waktu itu bapak Abink sekolah sambil nyambi jadi tutor juga. Berarti, saya harus kerja di pagi hari sebelum suami berangkat ke kampus dan malam/sore hari setelah suami pulang kampus, biar bisa gantian di rumah jagain anak.

Jadilah saya nekat ngelamar kerjaan sebagai early morning cleaner di University of Canterbury (UC). Saya bilang nekat karena rumah saya di Lincoln, sedangkan tempat kerja waktu itu di Cristchurch, jaraknya sekitar 18 km. Ditambah lagi, jam kerja nya mulai dari jam 4 pagi sampe jam 7 pagi. Jadi, karena perjalanan Lincoln-UC makan waktu sekitar 20 menit (18km), saya harus berangkat dari rumah jam 3.30 pagi.

Karena sudah diterima kerja dan  restu bapak Abink sudah di tangan, saya nekat aja nyetir sendirian di pagi buta. Gelap dan dingin….  Apalagi waktu winter.. Saya sempat nyetir di tengah hujan salju yang deres banget (winter tahun 2011). Walaupun waktu itu deg-deg an setengah mati, tapi sekarang jadi pengalaman yang nggak bakal terlupakan.

Mungkin karena nggak tega ngeliat saya nyetir sendiri di pagi buta, bapak Abink ngasih saran untuk cari kerja yang deket-deket aja. Jadilah saya tanya-tanya lowongan kerjaan (jadi cleaner juga) di Lincoln University (LU). Akhirnya saya diterima juga kerja di Lincoln Uni, jadi evening cleaner. Jam kerjanya mulai jam 6 sampe jam 9 malem dan deket rumah. Waktu keterima kerja sore, bapak Abink udah nyuruh-nyuruh saya berhenti kerja pagi, tapi saya nya berhasil meyakinkan bahwa saya bakal baik-baik aja kerja di pagi dan sore hari 🙂 Jadilah saya selama 1,5 tahun menjabat sebagai “floor director” (alias tukang vacuum karpet dan nge pel) di UC dan LU hehehhe.. Capek? Pasti.

Trus gimana ceritanya dari cleaner bisa sekolah? Di awal tahun 2012, saya dan bapak Abink ngobrol-ngobrol soal kemungkinan saya sekolah juga. Terus duitnya dari mana? Kebetulan ada sedikit tabungan dari hasil kerja dan saya harus cari bea siswa. Iseng-iseng saya bikin proposal, dan saya kirim-kirim untuk cari pembimbing. Target kami waktu itu memang daftar di LU atau UC, karena udah tau medan dan nggak jauh-jauh dari bapak Abink dan Alia. LU tanggapannya bagus dan cepet banget. Saya diterima di LU, padahal beasiswa belum di tangan. Karena udah cocok dengan pembimbingnya dan saya juga bisa langsung research (tanpa harus ambil mata kuliah), jadilah kita ‘nekat’ daftar sekolah tanpa beasiswa dulu. Dengan harapan, saya akan dapat bea siswa. PD banget ya…..

Setelah saya jadi student, saya lepas kerjaan pagi saya. Jadi waktu itu status saya adalah PhD student sekaligus cleaner di LU 🙂 Setelah jadi student, saya ngelamar-ngelamar kerjaan jadi riset assistant dan diterima. Saya kerja untuk salah satu dosen di LU. Akhirnya saya lepas kerjaan evening cleaner.

Di hari pengumuman bea siswa yang ditunggu-tunggu, ternyata saya nggak dapet beasiswa yang saya mau. Kecewa pasti, tapi kalau dibandingkan dengan pengalaman dan perjuangan para ‘pejuang beasiswa’ lain penolakan beasiswa ini pasti nggak ada apa-apa nya 🙂 Makanya saya salut banget sama para pejuang beasiswa yang tahan banting, yang walaupun ditolak, masih punya semangat bangkit lagi coba cari yang lain. Toh kita nggak pernah tau rejeki kita datangnya dari ‘sumber’ yang mana. Ya kan?

Waktu itu rasanya Allah memang maha baik dan maha tau apa yang saya butuhkan.. Beberapa hari setelah penolakan beasiswa, saya dihubungi oleh salah satu staff di fakultas. Dia bilang, komite beasiswa LU menawarkan jenis bea siswa lain untuk saya. Saya ditawari ‘teaching assistant scholarship’. Beasiswa dari LU, mereka tanggung uang sekolah saya sampai lulus, tapi saya harus kerja jadi teaching assistant. Alhamdulillah kan.. Saya jadi punya penghasilan untuk hidup (walaupun nggak banyak), dan saya jadi punya pengalaman tutoring sekaligus jadi ‘dosen tamu’ untuk beberapa mata kuliah. Salah satu pengalaman tutoring saya pernah saya ceritakan di sini dan di sini.

Waktu pertama kali menginjakkan kaki saya di salah satu ruang kelas di LU, saya ‘cuma’ sebagai cleaner, tapi 2 tahun kemudian, saya masuk ke ruangan itu dan berdiri di depan untuk tutoring dan lecturing. Saya pernah gagal dapat beasiswa, tapi Allah ganti dengan yang lebih baik untuk saya. Bukan untuk sombong atau jumawa, tapi sebagai pengingat bahwa kita nggak pernah tau apa yang Allah siapkan untuk kita di depan.

Nggak ada gunanya sombong dengan posisi kita yang sekarang, padahal kita nggak tau apa yang akan kita hadapi di depan kita. Nggak perlu minder juga dengan posisi kita sekarang, karena dengan usaha, kerja keras dan doa pasti kita bisa mencapai apa yang kita cita-citakan.

Sekarang, setelah liburan panjang di nz berakhir, studi sudah selesai, dan harus kembali ke kampung halaman, saya masih dan selalu berharap Allah menyiapkan sesuatu yang terbaik buat saya (dan keluarga). Apapun itu, yang penting  jangan lupa selalu bersyukur.

Stay humble. Keep your feet on the ground and keep reaching for the stars.

381352_2594466454300_97717243_n
Kaikoura Beach, NZ, 2011

Napak Tilas New Zealand 2014: Christchurch City

Selain jalan-jalan dan nostalgia seputar kampus dan Lincoln town, saya juga sempat bawa Alia dan bapak Abink jalan-jalan ke Christchurch City. Karena kami nggak punya kendaraan, lagi-lagi kami menikmati jalan-jalan di Christchurch city naik bus. Walaupun dengan naik bus kemana-mana bikin perjalanan jadi lama, tapi ALia happy banget naik bus di sini.Kami biasa berangkatnya siang atau menjelang sore setelah semua urusan beres. Kadang Alia sampe ketiduran di bus karena kecapekan 🙂

Jadi selama di CHristchurc, kami kemana aja?

HAGLEY PARK/BOTANICAL GARDEN. Dari Lincoln ke Hagley park bisa ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit naik bus 81. Sebenernya di hari kami ke sana cuacanya lagi mendung ditambah angin dingin. Tapi karena Alia ngotot pengen main di (playgroundnya) Hagley akhirnya kami putuskan untuk ‘mampir sebentar’. Nggak banyak yang bisa dilakukan di Hagley park waktu winter. Bunga-bunga belum ada yang mekar dan kolam untuk main air ditutup karena dingin. Jadi kami kemarin cuma ajak Alia main sebentar di playground, trus jalan aja menyusuri taman, dan numpang lewat di visitor centre yang baru dibuka. Visitor centre nya lumayan keren. Ada cafe, nursery, dan toko souvenirnya juga.

Hagley park ini cukup luas (sekitar 165 hectares) dan dibagi jadi 2 bagian. North dan South Hagley Park. Kalau hari hangat, hagley park ini bakal dipenuhi orang-orang (dengan keluarga) untuk piknik, jalan-jalan, atau sekedar baca buku sambil tidur-tiduran di rumput. Di botanical gardennya sendiri di bagi jadi beberapa sections: playground area, azalea and magnolia garden yang mekar di bulan September, rose garden yang bakal mekar di sekitar bulan Januari, daffodil garden yang indah di bulan September, ada juga tropical garden yang di ruangan khusus dengan suhu dan kelembapan yang diatur sehingga pohon dan bunga tropis bisa hidup di situ. Dulu, setiap ada kesempatan, kami serig sekali jalan-jalan di Hagley park untuk sekedar ngasih makan bebek, ajak Alia main di playground atau nemenin Alia main sepeda keliling taman. Jadi pas kita bertiga balik ke Hagley park lagi, rasanya seneg bangettt….

chc2

CATHEDRAL SQUARE. Sebenernya dulu kami nggak begitu sering ke sini. Apalagi sesudah gempa besar di bulan tahun 2011 dan 2012 lalu bikin gereja Cathedral nya hancur dan belum selesai diperbaiki sampai sekarang.

chc5
in front of the Chalice
chc6
Gereja Cathedral yang masih belum selesai diperbaiki

CHRISTCHURCH GONDOLA. Sebenernya, kami belum pernah naik gondola di Chc sebelum ditutup karena gempa di tahun 2011 itu. Pas Alia dan bapak Abink pulang ke Indonesia tahun lalu pun, gondola nya belum beroperasi. Jadilah kesempatan naik gondola untuk Alia dan bapak Abink baru ada pas jadi turis bulan lau 🙂 Saya sendiri udah naik duluan summer tahun lalu dan udah posting juga di sini. ALia sih seneng naik gondola.. Tapi pas udah sampe atas, dan pas masuk ke time tunnel dia agak ketakutan. Jadi di time tunnel itu kan naik kereta kecildi ruangan yg gelap gitu. Alia sebenernya nggak takut gelap sih, tapi memang ‘boneka-boneka’ atau patung-patung yang di situ agak serem siih.. Jadinya dia agak nggak hepi gitu di dalem time tunnel nya. Untung cuma sebentar 🙂

gond1

gond2

gond3

Jadi cuma ke situ-situ doang selama di Christchurch??? Iyaaaa…. tapi udah lah ya, cukup napak tilas di Christchurchnya. Kita lanjut napak tilas ke kota yang lain lagi: Queenstown!!