Sekolah Impian

Waktu saya kecil setiap ditanya cita-cita saya apa, selalu saya jawab “mau jadi guru TK”. Saya ingat betul, waktu itu nenek saya pernah bilang “Jangan jadi guru. Guru itu gajinya kecil”. Dari situ, saat saya sma saya mulai berpikir untuk merubah sedikit cita-cita saya, dari “guru Tk” menjadi “guru dan pemilik TK” 🙂 cerdas nggak tuh? Sekarang gimana? Sekarang saya masih tetep pengen punya early childhood centre sendiri seperti yang saya tulis di halaman ini.

Kebetulan sekali mb Joeyz lagi bikin ‘sayembara’ tentang sekolah impian.  Jadi kalau punya rejeki, sekolah macam apa yang pengen saya dirikan? Udah ketebak lah ya kalo say pengen bikin TK 🙂 trus TK macam apa?

Pertama-tama, saya pikir bukan cuma anak di daerah terpencil/tdk mampu saja yang membutuhkan pendidikan berkualitas. Anak-anak di kota pun butuh pendidikan yang berkualitas. TK impian saya ini bias di aplikasikan di desa maupun di kota (kayak kampanye ya). Bayarnya gimana? Bayarnya subsidi silang aja. Yang mampu bayar, yang nggak mampu nggak usah bayar, kan punya cadangaan 10M.. Beberapa poin tentang sekolah impian saya:

Menghargai anak-anak sebagai pribadi-pribadi yang unik (udah kayak iklan belum nih kalimatnya?). Karena setiap anak itu unik, jadi jangan merasa aneh kalau setiap anak punya keinginan, kemampuan dan pendapat yang berbeda. Di sekolah saya nanti, setiap murid bakal di-encourage untuk mengungkapkan pendapatnya, apapun itu. Di sekolah bakal ditanamkan kalau berbeda itu bukan masalah. Jadi, guru sebagai fasilitator harus benar-benar menghargai pendapat setiap anak. Nggak ada gambar siapa lebih bagus dari siapa. Setiap anak punya kreatifitasnya masing-masing. Nggak ada yang salah kalau anak menggambar daun berwarna pink, bukan hijau. Kebetulan, kami punya pengalaman tentang ini di sekolah Alia di NZ yang pernah diceritakan bapak Abink di sini. Kalau anak-anak sudah terbiasa dengan perbedaan, sudah pasti Indonesia di masa depan akan semakin damai. Nggak ada lagi tuh yang putus silaturahim gara-gara beda pilihan capres 🙂

Untuk menunjang penghargaan terhadap setiap pribadi anak yang unik, di sekolah saya nanti bakal ada sesi di mana setiap anak bebas memilih kegiatan apa yang ingin dilakukan. Bebas. Misalnya, kegiatan membuat kerajinan tangan. Kalau di sekolah-sekolah pada umumnya semua anak akan membuat kerajinan tangan yang sama, di sekolah saya nanti anak-anak bebas membuat kerjinan tangan sesuai keinginannya. Boleh menggunting kertas, menempel, membuat sesuatu dari kardus, dari ranting, melukis, terserah mereka. Mereka (walaupun masih anak-anak) berhak menentukan pilihan.

Mengajarkan nilai kasih sayang, saling menghargai dan sopan-santun. Walaupun anak-anak bebas berpendapat dan bebas menentukan pilihan, di sekolha tetap diajarkan bagaimana ber sopan-santun. Bagaimana harus menghormati yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda. Tidak  boleh ada bullying dan kekerasan sama sekali di sekolah saya nanti.

Sekolah dengan arena bermain yang luas. Arena bermain yang saya maksud di sini bukan di dalam ruangan ya. Di luar ruangan. Kenapa luar ruangan? Tau kan kalau anak kecil itu nggak bias diem dan cepat bosan? Coba bayangkan kalau sekolah anak-anak minim tempat bermain luar ruangan. Kita aja yang kalo diminta stay di dalem ruangan bakal bosen dan nggak produktif kan.. Apa lagi anak-anak. Selain itu, di Tk saya nanti anak-anak bakal di encourage untuk bermain di luar banyak-banyak. Tanpa takut kotor!

Di TK saya nanti juga bakal ada kebun sayur yang ditanam oleh anak-anak danada hewan peliharaan seperti ayam, kelinci, ikan (sekarang sih cuma tiga hewan itu yang ada di pikiran saya, secara saya ‘geli’ sama segala jenis binatang). Dari situ anak-anak belajar tentang sains, belajar bersyukur, berbagi, sekaligus belajar menghargai orang lain.

Nggak boleh bawa snack kemasan untuk bekal. Jaman sekarang kan penyakit makin aneh-aneh ya.. Diduga, berbagai penyakit muncul karena gaya hidup dan makanan yang nggak sehat. Makanya di sekolah saya nanti anak-anak akan dapat snack sehat dan buah-buahan. Anak-anak boleh juga bawa bekal dari rumah, tapi harus bekal sehat (sehat bukan berarti nggak enak kan!). Kalau anak-anak bawa homemade food, pasti lebih sehat dan akan mengurangi sampah juga. Misal nih ya, di TK saya nanti ada 40 orang murid. Kalau setiap hari mereka bawa bekal snack kemasan, bakal berapa banyak plastic yang terkumpul selama sehari, sebulan, setahun? Selain sehat, juga mengajarkan mereka untuk menjaga lingkungan. Anak kecil itu makhluk paling pinter loh.. Kalau di sekolah ditanamkan bagaimana cara menjaga kesehatan dan menjaga lingkungan, diharapkan ini akan menjadi kebiasaan sampai mereka besar nanti.

Mengajarkan ‘hidup sederhana’. Sebisa mungkin sekolah akan memanfaatkan barang-barang bekas untuk sarana bermain dan belajar. Sebisa mungkin tidak mendorong anak untuk beli, beli dan beli. Tapi gunakan barang bekas yang masih bias dimanfaatkan. Banyak kok yang bias kita bikin dari barang bekas. Contohnya: sock puppets dari kaus kaki bekas atau yang ilang sebelah. Anak-anak pasti seneng bikinnya dan kalo udah jadi bias di lanjut bikin pertunjukannya di sekolah.

Sock puppet. pic from www.aokcorral.com
Sock puppet. pic from http://www.aokcorral.com

Berusaha menggunakan bahan dari alam untuk media bermain dan belajar. contonya nih melukis dengan media daun atau melukis di batu.

pic from www.lushome.com
pic from http://www.lushome.com
pic from www.indesignartandcraft.com
pic from http://www.indesignartandcraft.com

masih dalam rangka ‘hidup sederhana’, anak-anak boleh merayakan ulang tahun di sekolah, tapi tanpa bagi-bagi goodie bag mewah, tanpa kue tart yang mewah. Sekolah yang akan memfasilitasi ‘pesta’ ulang tahun untuk anak. Maksudnya apa? Maksudnya supaya anak-anak (atau orang tuanya) nggak terbiasa ‘pamer’ dan saling berlomba mengadakan pesta ultah nan meriah (dengan bingkisan yang mahal) di sekolah 🙂

Guru yang fun, tidak berhenti bercerita dan bertanya kepada anak-anak. Dengan bertanya dan bercerita akan merangsang anak untuk berpikir dan kreatif. Jadi, guru-gurunya harus dipastikan sayang anak, dan nggak capek ngomong sama anak-anak. Lemah lembut, tapi bias tegas di saat yang dibutuhkan. Para guru juga harus terlibat dalam semua kegiatan anak-anak (baca:nggak jaim alias jaga image).

Orang tua murid yang berkomitmen untuk mendukung program sekolah. Ini penting banget ya, walaupun mungkin untuk ibu bekerja agak susah menyediakan homemade food (no-wrap) untuk anak-anaknya, tapi nggak ada yang nggak mungkin kok.Percuma juga kalo disekolah anak-anak diberi kebebasan berimajinasi, tapi di rumah masih sering dihakimi dan dibanding-bandingkan. Jadi, komitmen orang tua penting!

Sepertinya sekolah impian saya biasa-biasa aja dan cenderung ‘kejam’ ya? Intinya, saya pengen anak-anak jadi long-life learner  jadi pribadi yang selalu bersyukur dan mudah berempati, peduli dengan alam, keluarga dan diri sendiri. Sebenernya masih banyak lagi nih, tapi untuk sekarang cukup itu dulu deh ya.. Itu menurut saya seperti ‘filosofi’nya sekolah impian saya nanti.

Menangin saya dong teacher Joeyz sekolah ini bukan mustahil untuk di bangun di Indonesia untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Apalagi kalau ada dana 10 M 🙂 … Saya mupeng sama novel & tas nyaa.. atau kalau nggak dapet yang itu, blazer merahnya boleh juga 🙂

Advertisements

Napak Tilas New Zealand 2014: Lincoln

Waktu pertama kali ketemu Alia dan Bapak ABink di Christchurch Airport, rasanya kayak mimpi yang jadi kenyataan #lebay. Tapi beneran loh, karena waktu bapak Abink harus kembali kerja di Indonesia dan saya balik ke New Zealand tanpa mereka, rasanya agak-agak berlebihan untuk minta Alia dan bapak Abink untuk balik ke New Zealand, walaupun cuma untuk sekedar liburan. Selain karena agak susah ngatur waktunya, tapi alesan utama sih karena budget liburan ke New Zealand itu ‘lumayan banget’ buat kami 🙂

Tapi, rejeki itu memang sudah ada yang atur ya.. di saat saya menyibukkan diri dan menguatkan hati untuk kembali ke NZ tanpa mereka, ada kabar kalau bapak ABink bakal ada kerjaan ke New Zealand selama 2 minggu. Tapi, pertanyaan selanjutnya ‘apa Alia mau diajak juga?’ Lagi-lagi kami galau karena jadwal keberangkatan bapak ABink ke sini nggak bertepatan dengan liburan semester di sini, yang artinya saya masih harus kerja dan bapak Abink juga bakal punya jadwal meeting yang lumayan padat. Tapi, setelah sepakat untuk nemenin Alia nya gantian jadilah diputuskan untuk bawa Alia, lumayan ketemu 2 minggu melepas kangen 🙂

Trus apa aja kegiatan kami selama 2 minggu di NZ? DI hari pertama mereka datang, langsung jalan-jalan keliling kampus, nostalgia untuk bapak Abink dan Alia. Lewat lapangan belakang rumah kami dulu, library, office bapak dulu, dan jalan-jalan seputar kampus yang sering kami lewati dulu.

Ivey Hall -Lincoln University Library
Ivey Hall -Lincoln University Library
Bug hotel
Bug hotel di kampus
Lincoln University Bus Stop
Lincoln University Bus Stop

Selain jalan-jalan di sekitar kampus, kami juga sempat jalan-jalan ke lincoln town (sekitar 2km dari kampus). Sempat ajak Alia masuk ke Lincoln Library yang baru di renovasi. ALia samapi nggak percaya library nya jadi bagus.. Dulu, waktu rumah kami masih di depan library, saya sering banget ajak Alia ke library. Setiap seminggu sekali saya juga biasa bawa Alia ikutan toddler time di library. Jadi Lincoln library lumayan punya kenangan buat Alia..

(new) Lincoln Library
(new) Lincoln Library

Setelah dari library, kami nyebrang ke cafe favorit untuk menikmati chai latte (dan fluffy untuk Alia). Ngomong-ngomong soal fluffy, biasanya di sini fluffy selalu di sajikan dengan marshmallow. Tapi dari dulu, kami udah kasih tau Alia kalau marhmallow yang di cafe-cafe itu kita nggak tau apakah gelatine nya halal atau nggak. Kadang gelatine juga dibuat dari babi. Jadi, dari dulu Alia nggak pernah makan marshmallow di new zealand. Bukan karena semua marshmallow di sini nggak hahal, tapi karena saya males cari tau merek marshmallow mana yang halal. Pernah sih sekali tanpa sengaja saya nemu postingan orang jual marshmallow halal di trade me, dan saya beli buat Alia. Dan selama beberapa tahun di NZ, Alia cuma makan marhsmallow sekali itu aja 🙂

Nah beberapa bulan lau saya baru tau kalo ternyata  ada juga marshmallow halal yang di jual di supermarket. Waktu alia ke sini kemaren, saya beli sekantong marshmallow untuk Alia. Yang pertama kali keluar dari mulut ALia waktu tau saya beliin marshmallow “Ini marshmallow nya halal nggak bu?” dan kemudian terjadilah percakapan kecil soal makanan:

ALia : Ini marshmallownya halal ya bu?

Ibu : Iya kak, ini halal.

Alia : Kok ibu tau?

Ibu : Ibu udah tanya ke pabriknya 🙂 (walaupun sebenrnya bukan saya yang nanya sih)

Alia : Kalau orang muslim itu nggak makan pork ya bu?

Ibu : Iya kak. Tapi kita boleh makan ayam, daging sapi, kambing, ikan…

Alia : Kalo Jojo (sahabat ALia waktu di NZ dulu) sukanya makan salami. Itu kan ada pork nya. Tapi nggak apa-apa kalo Jojo kan bukan muslim

Ibu : ALia mau makan salami? (ibu yang iseng … boleh nggak sih iseng nanya kayak gini ke anak?)

Alia : Nggak mau…. ALia kan muslim.. terus, pork kan kotor. Alia nggak mau ah kotor-kotor..

Ibu : (fiiuuh… slamet.. slamet… )

chai latte & fluffy
chai latte & fluffy

Puas ngobrol-ngobrol, sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk foto-foto di lincoln town bus stop yang ada papan tulisan Lincoln nya. Selama ini belum pernah foto di situ. Sekarang karena merasa jadi turis merasa harus foto di situ hahaha 😀

10568716_336027886551896_1198268073_n
Selain jalan-jalan sekitar Lincoln, kami juga sempat napak tilas ke Christchrch city, dan Queenstown. Kami juga sempat mampir ke Invercargill untuk mewujudkan keinginan bapak Abink yang dulu selalu saya tolak. Kali ini karena (lagi-lagi) merasa turis, jadi nggak ada salahnya kita mampir ke sana. InshaaAllah cerita nya bakal di posting kalo lagi nggak males yaa….

Salam,

Keluargahussein (yang udah nggak sabar ngumpul dan liburan lagi) 🙂

Pelajaran Hari Ini

Saya termasuk orang yang susah untuk bilang “nggak”, termasuk sama diri sendiri. Hari ini saya presented di internal conference di kampus tapi rasanya nggak maksimal secara di awal saya register udah ragu-ragu,  karena udah pernah ikut tahun lalu dan saya juga baru ikut thr3sis competition di bulan Juni lalu. Tapi ketika spv saya yang biasanya cuek bebek meng-encourage saya untuk ikut, saya jadi nggak bisa nolak dan akhirnya saya kirim abstract penelitian saya tepat di hari terakhir batas pengiriman abstract, dan kirim power point presentasi ke panitianya pun telat (sampe harus di tagih). Malu siih, tapi karena saya sudah bilang ‘iya’ sama pak spv jadi saya nggak bisa mundur lagi. Siap nggak siap, mau nggak mau, saya harus ngomong sesuatu kaan…Dan ternyata spv saya dateng tepat beberapa saat sebelum giliran saya presentasi.  Rasanya gimana?? Rasanya nggak sama kayak ngadepin anak-anak bule yang suke ngeyel, abis pak spv nggak ada ngomongnya… Tapi “dahi berkerutnya” sudah cukup bikin saya stress…

ALhamdulillah udah berlalu, sekarang fokus ke thesis lagi..

Pelajaran yang bisa dipetik hari ini:

  • Harus punya prioritas, jangan semua mau dilakukan tapi hasilnya malah nggak maksimal.
  • Nggak bakal bisa menyenangkan semua orang. Sebelum meng-iya-kan permintaan seseorang, tanya ke diri sendiri dulu. Ada yang bakal dikorbankan nggak? Kalau ada, sanggup hadapi resiko atas pengorbanan itu nggak? Baru bikin keputusan.
  • Preparation makes perfect.

Maaf ya yang pada mampir baca dan berharap dapet pelajaran dari tulisan ini… Ternyata ini cuma curcol-an semata..

Hello Winter !

Suhu pagi ini (8am)

Hello winter !

Winter tahun ini sepertinya terlalu cepat datang. Waktu bulan Mei belum berakhir pun suhu sudah mencapai minus 5, dan salju sudah turun. Winter tahun ini pun sepertinya perjuangan saya lebih berat dari tahun-tahun sebelumnya. Di akhir Mei kemarin, saya sudah merasakan harus bersepeda di tengah hujan (yang juga mengandung sedikit es) dari rumah ke kampus. Jangan ditanya dinginnya.. Kalau biasanya cuma jari-jari tangan dan kaki yang mati rasa, waktu itu rasanya sekitar mata saya juga mati rasa 🙂 Alhamdulillah jarak antara rumah ke kampus cuma 2km, atau 10 menit bersepeda. Saat pulang dari kampus juga jadi saat-saat yang ‘malesin’ alias bikin males. Kalo biasanya orang-orang pada hepi untuk pulang ke rumah, buat saya bikin males karena inget harus menembus dinginnya malam dengan bersepeda. Yang jadi penyemangat pulang adalah (lagi-lagi) bisa nelpon Alia n bapak Abink sesampainya di rumah. Tapi, aku tetap rindu rumah dekat kampus…..  Walaupun dinginnya sampe menusuk tulang, senengnya kalo pas winter gini tiap pagi bisa ngeliat bunga-bunga es di atas rumput, di atas semak-semak, di bunga, bahakan bunga es di atas mobil pun keliatan indah kalo tertimpa sinar matahari. Jadi, karena saya juga nggak akan selamanya tinggal di New Zealand dan musim juga pasti akan berganti, yang bisa (dan harus) dilakukan sekarang adalah bersyukur dan nikmati 🙂 Buat yang lagi kepanasan di Indonesia, monggo dinikmati dulu beberapa foto yang sempat saya ambil pagi ini….

Camera 360

Pine cone dan maple leaf
Pine cone dan maple leaf

Camera 360

Siap tempur :)
Siap tempur 🙂

Teh Anget

894451_278083719012980_1866033612_oPagi-pagi keinget anak kecil solehah ku yang sekarang udah besar .. udah 5 tahun !

Inget 3 tahun lalu waktu mama saya main ke New Zealand, dan ALia masih 2 tahun umurnya. Kebetulan saya biasakan makanan/minuman Alia nggak pake gula garam sampe umur setahun, trus setelahnya dia makan gula garamnya juga sedikiiitt banget. Kalo Alia lagi pengen minum teh juga biasanya saya bikin teh tawar atau pake gula dikiit banget. Sedangkan mama dan papa saya kalo minum teh harus pake gula yang banyak.. Suatu hari, di rumah kami mama saya bikin teh anget dan Alia pengen nyobain.. dan kira-kira terjadi percakapan begini:

ALia : Mama, Alia mau tea nya.

Mama : Boleh, ini anget kok.. Warm…

Alia: yummm…. (dan dia teringat-ingat selalu sama teh manis anget itu)

Besoknya…..

Alia : Ibu, Alia mau minum tea.

Saya: Oke Alia, ibu bikin yaa (dan saya bikin teh hangat dengan gula seujung kuku)

Setelah Alia minum teh bikinan saya….

Alia : Ibu, Alia maunya teh anget… yang warm…

Saya : Iya itu kan ibu bikinnya anget, nggak panas kok…

Alia: Tea nya Ibu nggak warm.. Alia mau yang warm kayak yang mama bikin kemarin….

Ternyata (dulu) Alia mengasosiasikan WARM=SWEET , “anget” itu artinya “manis” hahaha….

I miss you Alia……

Weekend Update

Hari ini diem di rumah karena mau nyuci, bersih2 rumah, masak untuk beberapa hari dan Skype sama Alia & Bapak Abink. Hasilnya? Nyuci beres.. Rumah bersih walaupun kurang sempurna, Belajar, dapet lah sedikit-sedikit.. Skype dan telpon SUkses!!

Seharian vIdeocall dua kali. Nelpon sampe 4 kali dan nggak cuma sebentar. Obrolan hari ini ditutup dengan dengerin Alia n Bapak Abink main jual-jualan dan sekolah-sekolahan. Dan, saya sukses bangga denger bapak Abink yang dengan sabar ngeladenin Alia main, dan bangga karena ALia udah pinter banget baca bukunya..

Ceritanya bapak ABink jadi muridnya, Alia jadi gurunya. Karena ini ceritanya waktu tidur siang untuk murid-murid, jadi gurunya bacain cerita di tempat tidur. Bapak Abink pilih cerita tentang princess Sofia untuk dibacain Alia. Ada yang lucu, pas Alia baca di bagian sofia bilang “I don’t know how to be myself and a princess at the same time“. ALia baca kata “know” nya pake dikasih huruf K jelas didepannya jadi kedengerannya kayak “kenow”. Pas dibenerin sama bapak Abink, dia bilang “itu kan di depannya da huruf K nya bapaaak…” Jadiah bapak Abink yang beralih peran jadi guru untuk menjelaskan ke anak kecil yang bahasa Inggrisnya udah mulai medok (tapi kita semua sayang) itu.

Baruuuu aja telpon ditutup tapi sayanya udah kangen lagi hehhehe…. Weekend depan kita ngobrol seharian lagi ya kk ALiaa… Aymisyu anak solehah-ku….

skype

Note to myself: Jangan sensii…

Tiga minggu balik ke NZ sendirian setelah 3 bulan ‘liburan’ di Malang memang berat buat saya. Manalah saya harus tinggal sendiri di rumah yang berjarak sekitar 2km dari kampus, beban kerja berlipat-lipat dibanding tahun lalu, nggak bisa kerja sampai malem banget di ofis (karna ga ada mobil dan nggak berani pulang larut malam kalo naik sepeda), dan dan hal-hal lain sempat bikin saya lebih ‘sensi’ dan cepet mewek. Banyak yang bilang kalo saya itu hebat, karena bisa pisah lama sama anak dan suami.. Walaupun kadang-kadang (kadang-kadang loh yaaa..) rasa simpatik atau pujian buat saya itu suka bikin saya sensi dan jadi bikin saya merasa ‘dihakimi’. Ketika orang bilang “ya ampuun kok bisa sih jauh sama anak selama itu..” di telinga saya itu kedengarannya kayak “Ihhh .. tega amat sih kamu ninggalin anakmu selama itu..”. Walaupun mungkin dari orang yang ngomong nggak ada maksud untuk begitu.

Sensitifnya saya juga terjadi kalo lagi denger suara Alia atau bapak Abink. Kayak beberapa hari yang lalu, setelah 4 jam tutorial yang bikin saya nggak menyentuh thesis sama sekali hari itu, saya nelpon bapak Abink. Baru denger suaranya aja, saya langsung mewek.. Trus dapet voice note dari Alia juga mewek.. Bermaksud menghibur diri dengan nonton talk show di yutub, mewek lagi (karna ceritanya sedih) hihihi… Tapi, bukan bapak Abink namanya kalo nggak bisa meyakinkan saya kalau kami bakalan baik-baik aja.

Saya jadi ingat beberapa hari yang lalu saya ketemu tetangga flat saya seorang PhD student dari negara tetangga. Waktu itu saya baru pulang dari office sekitar jam 8malam. Di depan gang saya ketemu beliau yang mau balik ke kampus karena ada kerjaan dan terpaksa ninggalin anaknya yang masih 7-8 tahunan sendirian di rumah.  Mungkin kalo saya harus bawa Alia ke sini, saya nggak bakal punya keberanian untuk ninggalin Alia sendiri dirumah sementara saya ke ofis. Tapi ofkors waktu itu saya nggak bilang “wah, kamu hebat deh kok bisa ninggalin anak kamu sendirian malem-malem di rumah” 🙂 bisa-bisa saya bikin dia ‘sensi’ dan merasa dihakimi heheheh…

Tetanggaku itu bukan satu-satunya Ibu-ibu yang bawa anaknya sendirian kesini, sedangkan mereka juga harus sekolah dan suami nggak bisa ikut. Masih banyak ibu-ibu lain yang harus juggling antara sekolah, nemenin anaknya main, ngerjain tugas, nyiapin makan anak dsb. Belum lagi kalo anaknya sakit. Mereka semua jadi bikin saya lebih semangat dan lebih bersyukur. Berpikir bahwa apa yang kami jalani sekarang ini (termasuk LDM) adalah bagian dari rejeki Allah buat kami.

Ya, semua pilihan pasti butuh perjuangan dan ada konsekuensinya. Saya (dan bapak Abink) tentunya sudah melalui proses dan pertimbagan ketika kami memutuskan untuk menjalani LDM sementara. Sayapun yakin setiap ibu-ibu yang memutuskan sekolah untuk sekolah lagi dengan membawa keluarga atau tidak juga pasti punya pertimbangan sendiri. Sekarang, tinggal gimana kita menjalaninya aja. Kan kita sendiri yang menentukan kita mau sedih atau bahagia dengan pilihan kita.  Kalau lagi sedih atau khawatir saya juga selalu ingat hadist dari Al-Tarmidhi ini:

….. Be mindful of Allah, you will find Him before you. Get to know Allah in prosperity and He will know you in adversity. Know that what has passed you by was not going to befall you; and that what has befallen you was not going to pass you by. And know that victory comes with patience, relief with affliction and ease with hardship.

Udah deh, nggak usah sensi-sensi lagii 🙂 Minum hot cokelat aja yuuk ahh….. 🙂

IMG_20140316_141804

Family Gathering di Sekolah Alia

PhotoGrid_1387946783306

Hari Jumat kemarin adalah hari terakhir Alia sekolah untuk term ini sebelum libur 2 minggu. Setiap term/catur wulan, sekolah Alia bikin pertemuan dengan orang tua murid, terima raport dan ngobrol2 sama bu guru tentang perkembangan anak-anak. Kali ini sekolah Alia bikin family gathering juga setelah terima raport.

Undangan terima raport dan family gathering jam 8 pagi. Dress code nya merah atau hijau. Setelah berdiskusi sama Alia, kami memutuskan untuk pake baju ijo aja karena itu warna favorit ibu  kami ber tiga punya baju yang warna ijo-nya mirip2.

Sampai di sekolah, acara dibuka dengan sambutan kepala sekolah trus dilanjut presentasi dari kelasnya Alia tentang cara menanam tomat. Kebetulan kelas Alia punya project menanam tomat beberapa waktu yang lalu. Jadi, setiap anak punya satu pot tomat yang mereka tanam sendiri, dan mereka harus merawat tanaman masing2 sampai berbuah dan akhirnya bisa dipanen.

Setelah itu, acara dilanjut dengan terima raport dan ngobrol dengan guru kelas Alia. Karena muridnya nggak banyak, jadi gurunya bener2 tau perkembangan tiap2 anak. Kata bu guru, Alia suka banget baca dan progress nya pesat sekali. Sekarang Alia sudah bisa baca dengan lancar dan bisa membedakan kata-kata dalam bahasa indonesia dan bahasa inggris. Alia sudah punya teman akrab juga di sekolah, dan yang paling penting si anak kecil hepi di sekolah 🙂

Setelah terima raport, anak-anak boleh main di luar. Ada painting, mancing ikan, mewarnai, dan beberapa guru jualan kue-kue yang bisa dibeli. Acaranya sederhana sih, tapi Alia dan teman2nya senang dan saya jadi bisa kenalan sama beberapa orang tua temen Alia secara saya jarang banget anter/jemput Alia sekolah.

Setelah acara di sekolah Alia selesai, kami menghadiahi si anak solehah segelas eskrim strwberry dan vanilla dengan topping kacang almond, sementara bapak ibunya puas dengan cassata es krim yang legendaris itu.

Sepotong cerita belajar di New Zealand

Menyambung cerita pengalaman bersekolah Pak ABink di 3 Negara berbeda, sekarang Pak ABink mau sharing cerita mengenai sekolah di New Zealand. Sebenernya pengen cerita lebih banyak mengenai sekolah di Australia dan di Indonesia. Tapi karena dokumentasi photo tercecer entah dimana maka rasanya jadi kurang afdho. Jadi sekarang ceritanya yang di New Zealand dulu mumpung masih banyak yang diingat dan banyak photonya.

Cerita bersekolah di New Zealand ini diawali dari diterima nya Pak ABink jadi dosen di Universitas Brawijaya. Sebagai seorang dosen baru, Pak ABink sudah ditodong pihak fakultas untuk mempersiapkan diri bersekolah kejenjang yang lebih tinggi. Browsing sana browsing sini pingin hati sih ke Eropa. Alasannya sepela soalnya pengena jalan-jalan dan ngerasain hidup di Eropa secara sudah pernah tinggal di Australia sekitar 1.5 tahun.

aotearoa

Setelah ngobrol sana ngobrol sini plus browsing-browsing akhirnya tambatan hati jatuh kepada New Zealand. Kenapa New Zealand? alasannya sepele karena senior Pak ABink – Dr Irawanto sudah berangkat duluan untuk sekolah di New Zealand. Belio banyak bercerita mengenai menarik nya bersekolah di New Zealand.

Dari 8 Universitas yang menawarkan program Doctoral, Pak ABink memutuskan untuk mengirimkan surat aplikasi ke beberapa Universitas. Yang menjadi prioritas adalah University of Auckland secara ini adalah universitas terkemuka di dunia bukan saja di New Zealand. Apa dikata setelah menunggu sekitar 6 bulan surat lamaran S3 Pak ABink mendapat balasan sebuah penolakan. Alasannya adalah karena Master yang Pak ABink miliki adalah coursework yang tidak cukup untuk mengambil Ph.D.

Patah hati ditolak University of Auckland, Pak ABink tidak patah semangat. Setelah koresponden dengan potential supervisor, Pak ABink mengirimkan aplikasi ke tiga Universitas sekaligus. Yaitu Massey University, Waikato University dan Lincoln University. Yang paling cepat membalas adalah Waikato University. Waikato menyatakan akan menerima Pak Abink tetapi harus mengambil Postgraduate Certificate selama 2 semester sebelum dapat mengambil program Doctoral. Senada dengan Waikato University, MAssey University juga memberikan surat penerimaan. Tetapi dengan syarat Pak ABink harus mengambil Master Management tahun kedua sebelum diterima di program Doctoral. FYI di New Zealand program PHD itu fees nya adalah domestic fees. Karena harus menambah PG Cert dan Master di Waikato dan Massey maka untuk tahun pertama Pak ABink tidak eligible untuk domestic fees. Sehingga Pak ABink terpaksa menolak surat penerimaan tersebut.

Bagaimana dengan Lincoln University? Berbeda dengan Waikato dan Massey. Lincoln University memberikan surat penerimaan untuk Pak ABink. Juga dengan syarat. tetapi syarat nya cuma bridging 2 mata pelajaran. Dua mata pelajaran ini bias diambil secara bersama sama dengan program Doctoral dan Pak ABink eligible langsung untuk membayar domestic fees. Akhirnya dengan pertimbangan tersebut, maka Pak ABink menerina tawaran dari Lincoln University.

Lincoln University Canterbury
Lincoln University Canterbury

Setelah mendapat admission dari Lincoln University, muncul masalah kedua. Masalah tersebut adalah berkaitan dengan pendanaan. Akhirnya dengan mengucap Bismillah, pak ABink mendaftar ke program beasiswa DIKTI. Alhamdulillah akhirnya Pak ABink mendapatkan beasiswa tersebut.

Berbekal beasiswa DIKTI, Pak ABink berangkat ke New Zealand pada Agustus 2009. Pada saat itu Bu Abink dan Alia tidak langsung pergi bersama Pak ABink. Pertimbangan utama adalah alasan untuk Pak Abink beradaptasi dan mempelajari lingkungan secara langsung. Selain itu Alia masih berusia 6 bulan sehingga lebih baik menunggu hingga Alia berumur 1 tahun.

Bagi yang ingin bersekolah, Pak ABink sarankan jika membawa keluarga, maka berangkat sedniri terlebih dahulu baru ketika semua sudah settle maka undanglah keluarga untuk datang. Di masa “orientasi” tersebut Pak ABink tinggal di asrama mahasiswa self-catered yang namanya Crescent.

Crescent
Crescent

Di Crescent Pak ABink tinggal bersama dua orang Malaysia dan seorang Jerman. Selama masa orientasi tersebut Pak ABink sangat berterima kasih dengan seorang teman dari Indonesia yaitu Dr. Dessy Aliandrina karena belau selalu siap membantu dan berbagi dengan Pak ABink. Jadi serasa menemukan seorang saudara di tanah nun jauh tersebut.

Bersama dengan Dr. Dwi Suhartanto dan Dr. Dessy Aliandrina
Bersama dengan Dr. Dwi Suhartanto dan Dr. Dessy Aliandrina

Sedangkan untuk perkuliahan, di awal bulan pertama Pak Abink belajarnya nomaden. Seharusnya setiap Doctoral student mendapatkan work station lengkap. Tetapi karena pada saat Pak ABink tiba adalah pertengahan semester maka pada saat itu tidak ada work station kosong, sehingga Pak Abink ditempatkan di ruang bersama yang biasanya diisi mahasiswa tingkat Master.

Setelah beberapa minggu di Orchard Building (nama untuk ruang bersama) Pak Abink dipindahkan ke Printery (ruang khusus Doctoral student). Di Printery ini Pak Abink mendapatkan work station permanent.

Pak ABink at Printery
Pak ABink at Printery

Pada saat itu di Printery sudah ada 3 mahasiswa Indonesia lainnya. Yaitu Dr. Dessy Aliandrina, Dr. Dwi Suhartanto dan Dr. Ludia Wambraw. Sangat menyenangkan memiliki kawan-kawan seperjuangan dari Negara yang sama.

Diawal kedatangan Pak ABink di New Zealand, ada sebuah organisasi pelajar Indonesia yang namanya adalah PPIC (Perhimpunan Pelajar Indonesia Canterbury). Pada saat itu sedikit sekali mahasiswa yang mau bergabung dengan PPIC. Di tahun 2009 hanya sekitar 10 orang mahasiswa Indonesia yang bergabung dalam organisasi tersebut. Ditahun 2010, Pak Abink berkesempatan menjadi Ketua PPIC menggantikan Dr. Dodi Ariyanto yang menyelesaikan studinya.

7233_155450966882_2288857_n
PPIC 2009

Selama menjadi mahasiswa di New Zealand, Pak ABink banyak mengalami kejadian-kejadian luar biasa. Sebut saja gempa bumi. Tercatat selama 3.5 tahun di New Zealand, KeluargaHussein mengalami 3 kali gempa bumi yang cukup besar. Gempa pertama terjadi pada bulan puasa tahun 2010. Gempa tersebut sekitar 7.6SR dan terjadi pukul 4 pagi pada saat waktu sahur. Gempa kedua terjadi pada Bulan Februari 2011 dan yang terakhir pada Juli 2011. Untuk gempa pada Februari 2011 tersebut tercatat yang menyebabkan korban dan kerusakan terbesar. Hampir 90 orang menjadi korban dan kota Christchurch harus di tutup beberapa waktu.

Printery Setelah Gempa
Printery Setelah Gempa

Teringat pesan dari pemberi beasiswa jika selama kuliah karyasiswa diharapkan juga selalu membuka wawasan dan jaringan maka Pak ABink selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan budaya. Salam satunya kegiatan rutin yang diikuti bersama PPIC adalah kegiatan Internasional Night yang rutin diadakan di Lincoln University. Acaranya biasanya terdiri dari cultural performance, pameran kebudayaan dan international dinner. Tim PPIC selalu aktif dalam kegiatan tersebut. Selain International Night banyak juga kegiatan-kegiatan kebudayaan lain yang Pak ABink ikuti seperti halnya Culture Galore dan Santa Parade.

International Night
International Night

Selama 3.5 tahun tinggal di New Zealand, KeluargaHussein menempati 3 rumah yang berbeda. Rumah merupakan salah satu tantangan tersendiri ketika kita tinggal di luar negeri. Mulai dari rumah yang tidak nyaman hingga harga sewa yang terlalu mahal. Pertama kali mendapatkan rumah Pak ABink sedang dalam kondisi terdesak. Hingga H-2 minggu sebelum kedatangan Alia dan Bu Abink, rumah belum didapatkan. Sehingga ketika ada yang menawarkan sebuah rumah yang sudah tua, besar dan mahal mau tidak mau Pak ABink ambil rumah tersebut. Beruntungnya tidak ada kontrak permanen sehingga jika ingin berhenti mengontrak cukup memberikan 3 minggu notice saja kepada owner nya. Dirumah tersebut, KeluargaHussein hanya tinggal selama 4 bulan. Ketika ada seorang kawan dari PNG yang pulang maka dengan antusias KeluargaHussein meng overtake rumah kawan tersebut. Kebetulan tetangga rumah tersebut adalah orang Indonesia juga yaitu Dr. Ludia dari Papua. Sehingga sangat menyenangkan punya tetangga berasal dari satu Negara. Dirumah kedua itu KeluargaHussein tidak tinggal terlalu lama-hanya sekitar 7 bulan. Karena setelah itu KeluargaHussein mendapatkan tawaran untuk tinggal dirumah yang dimiliki kampus. Rumah kampus ini berada dalam lingkungan kampus sehingga sangat dekat dengan office Pak ABink. Dengan banyak pertimbangan akhirnya KeluargaHussein pindah ke rumah kampus -ER01. DIsini kami tinggal hingga Pak ABink lulus.

ER01-Lincoln University
ER01-Lincoln University

Sebagai mahasiswa Doktoral, kurang afdol jika tidak diselingi dengan kegiatan-kegiatan akademis. Selama menjadi mahasiswa Doktoral Pak ABink aktif dalam kegiatan-kegiatan seminar baik menjadi peserta maupun menjadi pembicara. Sebagai pembicara Pak ABink selama kuliah tercatat tiga kali mengikuti conference. Yang pertama adalah Konferensi Pelajar Indonesia di Wellington.

Kongres Pelajar Indonesia Selandia Baru
Kongres Pelajar Indonesia Selandia Baru

Kemudian Pak ABink juga pernah ikut pada Konferensi Social Marketing yang diadakan oleh Australian Association Social Marketing di Griffith Brisbane dan juga Lincoln University Postgraduate conference.

Selain cerita akademik dan persahabatan, Pak Abink juga pernah mengalami kejadian mengerikan selama kuliah di New Zealand. Pada saat itu libur Waitangi Day. Dua hari setelah Pak ABink dinyatakan lulus Program Doktoral. KeluargaHussein ingin mengunjungi kawan yang juga tinggal di Lincoln. Dari arah Kota KeluargaHussein berkendara dengan kecepatan sedang. Di tikungan Birch Rd, seorang pengendara HD dengan kecepatan tinggi menabrak mobil keluargahussein. Sukur Alhamdulillah hanya Mobil Keluargahussein yang hancur lebur dan kaki Pak Abink retak. Alia dan Bu Abink selamat tanpa kekurangan apapun.

FBR 853 setelah kecelakaan
FBR 853 setelah kecelakaan

Dari sepenggal cerita tersebut, Pak Abink sangat banyak bersukur kepada Allah SWT karena berkat nikmat dan rejeki nya keluargahussein banyak mendapatkan pengalaman yang akan terkenang sepanjang masa.

3 Universitas dengan 3 rasa berbeda

Tidak terasa ternyata dalam 10 tahun terakhir ini Pak ABink sangat beruntung memiliki pengalaman untuk mencicipi belajar di 3 universitas yang berbeda dengan jenjang yang berbeda pula. Ketiga universitas itu adalah Universitas Brawijaya tempat Pak ABink menempuh pendidikan Sarjana bidang Ekonomi Manajemen kekhususan Manajemen keuangan, kemudian dilanjutkan pada University of Wollongong Australia untuk mengambil Master di bidang Commerce dengan kekhususan Strategic Marketing dan yang terakhir di Lincoln University Canterbury Selandia Baru untuk tingkat Doktoral (Ph.D) dibidang social marketing. Teringat obrolan dari seorang teman yang terinspirasi dari sebuah pilem bahwa jika kamera kita rusak, maka memori kita akan hilang maka tulislah kenangan tersebut agar dapat selalu dikenang dan diingat maka Pak ABink mencoba untuk menuangkan kembali ingatan-ingatan dari 10 tahun yang lalu tersebut.

Tahun 2001, Pak ABink lulus dari sekolah menengah umum disebuah SMU negeri di Kota Malang, yaitu SMUN 8 Malang. Layaknya anak-anak yang dilanda euphoria kelulusan, keberhasilan menyelesaikan pendidikan menengan atas tersebut pun Pak ABink tanggapi dengan suka cita dan penuh bahagia. Tetapi dibalik kebahagiaan tersebut terselip suatu kekhawatiran mengenai masa depan. Khususnya mengenai kemana kaki harus melangkah untuk menuntut ilmu lebih tinggi. Pada masa itu persaingan masuk perguruan tinggi negeri sangat ketat. Setiap tahun hanya 100-150 mahasiswa yang bias diterima di masing-masing jurusan pada universitas-universitas negeri terkemuka. Berbekal rasak khawatir tersebut Pak ABink mencoba untuk mendaftar di universitas-universitas swasta sebagai cadangan jika tidak dapat diterima di universitas negeri.

Selain universitas swasta, Kai Roben juga memberi saran jika mau Pak ABink bias bersekolah di luar negeri dimana Malaysia adalah yang paling memungkinkan. Pertimbangannya simple saja karena Malaysia relative dekat dan biayanya masih terjangkau. Dengan alas an tersebut Pak ABink dan Kai Roben pun berangkat ke salah satu universitas swasta di Malaysia yang berafiliasi dengan salah satu Universitas di Australia.

Formulir sudah ditangan dan sudah diisi. Tetapi setelah berkonsultasi dengan Mama Hannie akhirnya rencana brsekolah di Malaysia pun dibatalkan. Mama Hannie beralasan dan khawatir kalo Pak ABink sampai sekolah di Malaysia takutnya Pak ABink menikah dengan orang Malaysia dan nanti tidak mau kembali ke Indonesia. Sedikit mengada ada tapi sebagai anak maka pertimbangan orang tua harus di dengarkan.

Alhasil berbekal semangat ikut UMPTN Pak Abink berhasil diterima sebagai mahasiswa baru di Jurusan Manajemen Universitas Brawijaya. Seingat Pak ABink mahasiswa baru jurusan Manajemen pada saat itu hanya sekitar 120 orang dan di bagi kedalam 4 kelas. Yaitu kelas A, B, C dan D. Pembagian kelas tersebut berdasarkan NIM yang tak lain dan tak bukan berdasarkan urutan abjad nama awal mahasiswa.

Kelas A ini cukup solid dan kompak secara dari sekitar 35 mahasiswanya, mayoritas adalah laki-laki. Perempuan hanya sekitar 9 orang. Kesolidan kelas A ini secara umum bertahan hingga sekarang. Tetapi semenjak semester 5 ketika dimulai era konsentrasi maka kelas A mulai jarang berkumpul. Pada saat itu Pak ABink masuk konsentrasi Manajemen Keuangan.

Singkat cerita, masa-masa berkuliah di Universitas Brawijaya sangat menyenangkan. Pak ABink lumayan aktif dikegiatan kemahasiswaan khususnya di LSME (Lingkar Studi Mahasiswa Ekonomi). Dimasa kuliah inilah Pak Abink pertama kali bertemu dengan Ibu ABink. Jadi tercatat kami sudah berkenalan sejak tahun 2002. Waktu yang cukup lama untuk saling mengenal.

Di masa kuliah ini Pak Abink bukan mahasiswa yang sangat cemerlang walau harus disyukuri karena paling tidak Pak ABink lulus dengan predikat Cum Laude dan masa kuliah hanya 3 tahun 3 bulan (seperti nya Pak ABink merupakan lulusan pertama dari angkatan 2001).

Setelah lulus S1 sekitar bulan Desember 2004 dan Wisuda pada Februari 2005, Kai Roben menyuruh Pak ABink untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Kali ini Kai Roben menyuruh dan berketetapan hati untuk menyekolahkan Pak ABink ke luar negeri dan dari hasil survey yang paling terjangkau adalah universitas di Malaysia. Kembali Malaysia menjadi tujuan pendidikan. Sekitar Bulan Februari Pak ABink dan Kai Roben mensurvey universitas-universitas di Malaysia. Yang disurvey pada saat itu adalah University Malaya, Universiti Kebangsaan Malaysia dan University Putra Malaysia.

Yang menarik pada saat itu adalah ketika berkunjung ke UKM, Pak ABink bertemu dengan seorang dosen akuntansi UB yang kebetulan juga sedang mengambil S3 di UKM. ALhasil dikenalkannya lah Pak ABink dengan kawan belio yang juga seorang mahasiswa MBA di UKM. Banyak cerita dan pengalaman yang disampaikan kawan tersebut yang akhirnya dapat disimpulkan bahwa MBA di UKM (menurut belio) tidak recommended.

Tapi apa dinyana, karena kembali Malaysia adalah Negara dengan kualitas pendidikan yang baik dengan biaya terjangkau maka Pak ABink tetap mendaftar di program MBA pada UKM dan UM.

Sedikit berbeda dengan universitas-universitas di Indonesia, pendaftaran program S2 di Malaysia dibuka sepanjang tahun. Tetapi pengumumannya menjelang perkuliahan di mulai. Sehingga ketika bulan Maret mendaftar maka Pak ABink tidak mendapat jawaban diterima atau tidak.

Di masa penantian tersebut, Kai Roben terbayang-bayang akan komplainan dari kawan yang mengambil MBA di UKM tersebut. Sehingga Kai menyuruh Pak ABink untuk mencari informasi S2 di Australia. Singkat cerita Pak ABink tertarik dengan program S2 yang ditawarkan oleh University of Wollongong. Maka dengan penuh kesadaran Pak ABink mendaftar ke UOW melalui agen pendidikan di Kota Malang. Ada hal yang lucu dan menarik pada saat mendaftar tersebut. Jadi ketika mau mengurus administrasi pendaftaran, salah satu konselor dari agen tersebut menyampaikan bahwa Pak ABink harus menguruskan badan. Karena kalo terlalu gemuk bias tidak diberikan visa. Mendengar informasi tersebut, maka patah hati lah Pak Abink. Masak orang mau sekolah harus diet dulu. Kayak militer saja. Karena si konselor tersebut bersikukuh untuk Pak Abink berdiet maka Pak ABink mundur teratur. Mencari agen lainnya. Akhirnya dapat agen pendidikan lain di Kota Surabaya. Lewat agen tersebut, Pak ABink tidak perlu diet dan sampai juga di UOW.

Karena nilai bahasa inggris yang sangat kurang maka Pak ABink harus ikut ELICOS selama 10 minggu. ELICOS diadakan di Wollongong University College (WUC) yaitu sebuah college tempat menempuh program diploma atau kursus persiapan bahasa inggris. Di WUC ini Pak ABink bertemu dengan dua sahabat sependeritaan dan sepermainan yaitu Suluh dan Ginanjar. Di luar college kami selalu berajalan dan bermain bersama tetapi selama di college kami sepakat supaya Bahasa Inggris meningkat maka kami brteman juga dengan yang lain. Sangat seru kursus di WUC ini. Walau Pak ABink kuliah di Australia, tetapi rasanya seperti di Beijing. Karena hamper 70% mahasiswa WUC adalah Asian dan mayoritas adaah orang China.

Mahasiswa WUC dari China, Thailand dan indonesia
Di kampus WUC bersama kawan-kawan dari China dan Thailand

Selain Pak Abink, Suluh dan Ginanar, pada saat ini di WUC ada bebebrapa mahasiswa lain dari Indonesia. Yang Pak ABink ingat adalah Pak Madyan (dosen Unair), Pak Heru (dosen Polinema) dan Mirza (ini cewek dari Jakarta). Tidak ada yang sekelas pada saat itu kecuali Mirza dengan Pak Madyan.

Akhirnya setelah 10 minggu berkutat belajar Bahasa Inggris Pak ABink dkk dinyatakan lulus dan berhak untuk melanjutkan mengambil postgraduate. Pada saat itu Pak ABink memutuskan untuk mengambil Master Strategic Marketing. Pada awalnya Pak ABink sempat bimbang. Dari Indonesia memang maksud hati ingin mengambil pendidikan tersebut. tetapi ketika sudah di Australia dan bertemu dengan kawan-kawan dari China maka hati sempat goyah. Motivasi kawan-kawan dari China pada saat itu adalah untuk menjadi seorang permanent resident. Untuk mendapatkan PR mereka harus bersekolah Akuntansi dan program yang memungkinkan adalah mengambil Master Professional Akuntansi. Tetapi setelah berdiskusi dengan Kai Roben, maka Pak ABink dengan kebulatan tekad mengambil Master Strategic Marketing.

4590_83940481918_2360648_n
Lebaran Bersama Mirza, Suluh dan Mia

Dikelas Postgraduate ini banyak sekali yang Pak ABink pelajari. Baik dari sisi pelajaran marketing hingga masalah akademik lainnya seperti plagiarism, etos kerja hingga berpikir kritis. Disinilah tempat pertama kali Pak ABink diajarkan bagaimana melakukan suatu pemikiran kritis pada permasalahan-permasalahan pemasaran. Sangat menyenangkan sekali belajar di UOW. Lingkungan yang sangat mendukung hingga fasilitas yang sangat memadai.

Akhirnya dengan sagal kerja keras dan cucuran keringat serta doa yang tak pernah berhenti pada Agustus 2006 Pak Abink berhasil diwisuda dengan gelar Master of Strategic Marketing. Tapi oleh DIKTI disetarakan dengan gelar Master of Commerce (Strategic Marketing).

Graduation with Migo from China
Graduation with Migo from China

Setelah lulus dari Wollongong, Pak ABink kembali ketanah air dan mengabdi di Universitas Brawijaya sebagai pengajar. Kurang dari 3 tahun mengabdi sebagai dosen, Pak ABink kembali berkesempatan untuk bersekolah kembali. Kali ini pilihan untuk bersekolah adalah New Zealand. Dari delapan Universitas negeri yang menawarkan program Doktoral, akhirnya Pak ABink memilih Lincoln University sebagai tempat menuntut ilmu

Lincoln University
Lincoln Univesity

Lincoln University ini bukan Universitas besar. Jumlah mahasiswa nya sekitar 4000 orang berasal dari 130 Negara yang berbeda (menurut marketingnya). Untuk program Doktoral ilmu bisnis dan manajemen saja mahasiswa yang terdaftar berasal dari beragam Negara seperti New Zealand, Brazil, Vietnam, Pakistan, Indonesia, Malaysia, Thailand, PNG, Sri Lanka, India dan sebagainya.

Ibu ABink bersama Doctoral Student dari Berbagai Negara
Ibu ABink bersama Doctoral Student dari Berbagai Negara

Study Doctoral di Lincoln University sangat menyenangkan. Iklim New Zealand yang sejuk ditambah dengan segar nya udara Lincoln membuat pikiran semakin terbuka. Gedung-gedung perkuliahan yang menawan menambah semangat untuk belajar.

Ivy Hall - Lincoln University Library
Ivy Hall – Lincoln University Library

Akhirnya setelah berhasil submit thesis pada bulan Oktober 2012, Pak ABink mempertahankan thesis pada bulan Februari 2013. Untuk ujian thesis secara lengkap bias di baca pada postingan pak Abink di kolom kompasiana. Akhirnya setelah ujian dan revisi Pak ABink resmi dinyatakan sebagai seorang Doctor dengan gelar Ph.D (Doctor of Philosphy).

Pak ABink Ph.D Thesis
Pak ABink Ph.D Thesis

Lengkap sudah perjalanan akademik formal Pak ABink. Penuh puji syukur selalu Pak ABink ucapkan ke Allah yang maha pengasih karena berkat Nya Allah perjalanan akademik yang panjang tersebut bias dilalui. Pengalaman di 3 universitas ini benar-benar memberikan warna pada pandangan hidup dan akademik dari Pak ABink. Semoga hal ini dapat menjadi hal yang bermanfaat bagi Pak ABink dan KeluargaHussein.