Ujian Thesis Doctoral ala New Zealand University (2) : via Video conference

SONY DSC
Saat menghadiri Wisuda tahun lalu. Sayangnya bukan saya yang diwisuda 🙂

Delapan April 2016 adalah hari wisuda di Lincoln University (LU). Saya seharusnya bisa diwisuda bersama kawan-kawan lain di LU, tapi saya memilih “Graduate in Absentia” karena kondisi yang ngggak memungkinkan untuk saya datang ke NZ.

Kalau sekitar 3 tahun yang lalu Bapak Abink sudah pernah cerita dengan Judul yang sama di sini tentang bagaimana ujian doktoral di Lincoln University, kali ini saya bawa cerita ujian yang sedikit berbeda dengan pengalaman bapak Abink 3 tahun lalu.

Begitu saya submit thesis, dan menyelesaikan kontrak kerja, saya langsung balik ke Indonesia. Meja kerja sudah saya kembalikan ke bagian administrasi untuk bisa dipakai oleh orang lain. Tapi, saya masih pakai locker saya untuk simpan beberapa barang yang kira-kira saya butuhkan kalau balik lagi NZ untuk ujian. Waktu itu memang rencananya saya bakal balik ke LU untuk ujian sekitar akhir tahun 2015 atau awal tahun 2016. Bahkan saya masih nitip koper isi baju dll di rumah seorang teman. Tapi, lagi-lagi kita cuma bisa berencana, tapi Allah siapkan rencana lain buat saya. Karena waktu itu nggak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh, saya harus rela ujian jarak jauh, lewat video conference. Waktu itu rasanya kecewa, karena waktu pulang ke Indonesia saya sama sekali nggak ada persiapan untuk ninggalin NZ untuk waktu yg belum ditentukan. Saya kira bakal ketemu NZ lagi dalam 4-6 bulan setelah kepulangan saya ke Indonesia. Tapi, karena terbang ke NZ lagi adalah pilihan terakhir, akhirnya saya pasrah aja, ngurus ujian jarak jauh ini biar jadi lancar..

Proses setelah submit thesis sampai ujian, kurang lebih hampir sama dengan pengalaman Bapak Abink. Tapi, entah kenapa waktu tunggu saya lebih lama. Saya harus nunggu sekitar 5 bulan sampai saya dapat email panggilan untuk ujian. Mulai tahun ini LU punya kebijakan baru mengenai ujian thesis doktoral. Kali ini, pembimbing tidak ikut andil dalam penilaian. Tugas pembimbing sudah selesai sampai kita submit thesis kita untuk dinilai oleh examiners. Artinya keputusan layak atau tidaknya sebuah thesis untuk mengantarkan seorang candidat doktor untuk menyandang gelar Doktor hanya berada di tangan para penguji. Kebijakan baru ini bikin saya lebih deg-deg an, karena thesis saya akan dinilai oleh orang-orang yang saya sama sekali nggak tau siapa aja mereka.

Tapi, dibalik kebijakan LU yang bikin deg-deg an, ada juga kebijakan lain yang menurut saya menguntungkan student. Ketika kita terima email yang menyatakan bahwa thesis kita layak untuk diuji secara oral, kita juga bakal langsung dapat review yang ditulis oleh para examiners. Jadi, kita udah tau kelebihan dan kelemahan thesis kita di mata examiners. Jadi kita bisa siap-siap buat oral examinationnya nanti.

Thesis examination melalui video conference sebenarnya belum biasa dilakukan di Lincoln University. Untuk bisa ujian jarak jauh, saya harus mengirimkan surat dokter yang menyatakan bahwa saya tidak direkomendasikan untuk terbang ke NZ.

Beberapa minggu sebelum hari ujian, saya sudah lumayan intens komunikasi dengan postgrad administrator dan convenor mengenai apa aja yang harus dipersiapkan untuk ujian jarak jauh dan juga mengatur jadwal yang cocok untuk saya yang di Indonesia, supervisor & convenor di NZ dan examiner di Australia. Selanjutnya, untuk memastikan koneksi internet dan komunikasi lancar, saya sempat 2x melakukan percobaan teleconference. Yang pertama, hanya berdua dengan convenor, dan yang selanjutnya rame-rame sama IT personnya LU, Postgrad Administrator, dan examiners.

Ujian thesis waktu itu jatuh di Hari Selasa, jam 9 pagi WIB, jam 3 sore waktu NZ, jam 1 siang waktu Australia. Saya udah siap dari pagi, saking deg-deg annya 🙂 Udah stand by di depan laptop 15 menit sebelum jam 9. Ujiannya sendiri berlangsung selama 45-60 menit aja. Dimulai dengan presentasi dari saya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Alhamdulillah, examiners  saya lumayan gampang ‘dipuaskan’ dengan jawaban-jawaban saya. Setelah sesi tanya jawab berakhir, teleconference dengan saya diputus supaya supervisors, convenor dan examiner bisa diskusi mengenai hasil ujian. Saya tinggal menunggu convenor menghubungi saya untuk bergabung lagi. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, akhirnya saya dihubungi dan diyatakan lulus. Yeaaayyy Alhamdulillah…

Viva

Intinya, ujian secara langsung atau melalui video conference ada plus dan minusnya. kalau ujian langsung komunikasinya pasti lebih lancar, diskusi mengenai revisi (kalau ada) juga bakal lebih jelas. Tapi kelemahannya, kalau udah pulang ke Indo harus ngeluarin biaya banyakk 🙂

Kalau ujian lewat video conference lebih banyak yang harus dipersiapkan, terutama konekasi internet yang stabil. Pre-test juga penting banget dilakukan beberapa hari sebelum ujian. Persiapan video conference nya sendiri sebenernya nggak begitu ribet karena kita tinggal tunggu undangan Skype meeting (Lync) dari postgrad adminstrator atau IT person. Tinggal klik-klik untuk instal dll aja.

Yang terpenting untuk ujian langsung maupun video conference adalah persiapan, baca lagi thesisnya, yakin aja kalau kita adalah orang yang paling tau tentang apa yang kita tulis selama 3 tahun terakhir. Dan jangan lupa banyak berdoa..

Advertisements

Lincoln, Home Far Away from Home

Pagi ini, saya pulang ke Indonesia.

Saya dan Bapak Abink selalu bilang kalau Lincoln udah seperti rumah ke dua kami. 2009-2015 bukan waktu yang sebentar untuk kami. Allah SWT memilihkan tempat ini untuk kami bertumbuh dan belajar. Belajar lebih dekat dengan Allah, belajar menghargai waktu, belajar mengalahkan ketakutan dan ego, belajar menghargai perbedaan, dan belajar menikmati pertemuan dan perpisahan.

Terimakasih untuk semua yang sudah hadir menciptakan rumah kedua bagi kami. Thank you Lincoln, thank you New Zealand..  I’ll see you again soon, InsyaaAllah…

SONY DSC

One Afternoon in Rotorua

Sebenernya saya jalan-jalan ke Rotorua ini tahun lalu, di bulan September 2014, tepatnya. Awalnya, saya yang waktu itu lagi pengen banget jalan-jalan iseng-iseng ngajakin temen untuk jalan-jalan, cari tiket murah 🙂

Beberapa hari setelahnya, saya dapet tuh tiket murah pake budget airline lumayan murah cuma $29 sekali jalan ke Auckland. Pikir-pikir, karena udah 2x ke Auckland, mending kita ke Auckland semalem trus besok paginya jalan lagi ke tempat lain naik bis. Setelah browsing sana sini, diputuskan untuk ke Waitomo caves, tapi mampir Rotorua dulu semalem. Setelah menimbang waktu, biaya dan tenaga, akhirnya kita susun itinerary Auckland-Rotorua-Waitomo-Auckland, 4 hari 3 malam naik bis.Deal!

20140911_160700Ini bukan pertama kalinya saya jalan-jalan naik bis. Sebelumnya, di Juli 2014, saya juga pernah naik bis dari Queenstown ke Christchurch bareng bapak Abink n Alia, dan sejak saat itu janji bakal naik bis lagi kapan-kapan. Kenapa saya ketagihan naik bis? Karena murah, nyaman, dan santaiii… Kalau mau cari tiket bis murah bisa ke website nya naked bus NZ. Tapi sebenernya kalu naik mobil sendiri, enaknya bisa berhenti untuk foto-foto dimana aja, dan bisa cari jalur yang kita suka. Ada plus minus nya lah ya… 🙂

Perjalanan dari Auckland ke Rotorua lancar, pemandangan indah.. Perjalanan dari Auckland ke Rotorua ditempuh selama 4 jam naik bis. Trip kali ini saya sengaja pilih untuk menginap di X-Base backpacker. Selain karena ngirit biaya, saya juga belum pernah nginap di backpacker yang sharing kamar dengan 6-8 orang. Ternyata pas dateng cuma ada kita berdua yang nginep di situ, dan malem nya baru dateng satu orang lagi, solo traveler dari China atau Vietnam ya? Lupa 🙂

backpacker
X-Base Backpacker Rotorua

Pengalaman pertama nginep di backpacker seruuu… Lumayan nyaman tempat tidurnya, setiap kamar ada toilet dan kamar mandi, dapet sabun shampo dan handuk. Kami booking backpacker ini dari website http://www.nakedsleep.com (by naked bus). Untuk di Rotorua kita booking dorm bed untuk 8 orang (female only), cuma bayar sekitar $17 per orang per malam. Pas di Auckland, kami booking double room with en suit bathroom bayar $50 per malam, tapi karena bagi dua sama temen jadinya masing2 cuma bayar $25 🙂 Lumayan murah kan, kalau dibanding nginep di hotel/motel bisa lebih dari $100 per malam.

Karena kita nyampe di Rotorua, udah terasa bau belerang, secara rotorua ini dijuluki Geothermal Wonderland-nya New Zealand.  Karena udah tengah hari, kita putuskan untuk jalan-jalan di kota aja. Kebetulan tempat kita nginep tepat di depan Kuirau Park. Parknya lumayan cantik dan ada beberapa spot lumpur panas (geothermal). Bahkan disediain kolam untuk yang pengen berendam atau cuma nyelupin kaki di air panas yg mengandung belerang.

rotorua6rotorua7Yang paling bikin saya seneng, di Kuirau park saya ketemu sama beberapa ‘Pukeko’ (NZ native bird) deket banget. Nggak tau kenapa saya suka banget sama Pukeko 🙂

rotorua5
Pukeko

Setelah puas menimati Kuirau park, kami lanjut jalan-jalan di sekitar kota dan museum. Rotorua ini kotanya ‘compact’, ada park, playground, tempat makan, belanja souvenir, museum, lake,semua bisa ditempuh dengan jalan kaki Tapi kalau main Luge, parasailing, jetboating, main ke Maori village, nyobain mud spa atau liat geothermal wonderland nya harus ada mobil atau ikut tour. Nulis ini bikin saya pengen banget balik ke Rotorua 🙂

Rotorua
Rotorua
Knitted Tree di Rotorua
Knitted Tree di Rotorua
X-Base Backpacker Rotorua
Rotorua Museum
rotorua3
Eat Streat. Macam-macam restaurant berjejer di depan Lake Rotorua
Lake Rotorua
Lake Rotorua

Setelah puas jalan-jalan sekitar kota dan berkontemplasi di pinggir danau, akhirnya kita putuskan untuk kembali ke tempat kami menginap sebelum gelap. Di bulan September, angin dan udara di Rotorua masih dingin banget waktu malam. Dan malam itu kami habiskan di kamar backpacker dengan menikmati semangkuk mie kuah, mengisi tenaga untuk melanjutkan perjalanan ke Waitomo besok pagi…

Horse Riding @Rubicon Valley

Di hari terakhir puasa kemarin, saya bersama Teh Neneng, seorang kawan yang datang liburan ke Christchurch dari Palmerston North, pergi ke Rubicon Valley, Springfield. Sekitar 67 km dari Lincoln, bisa ditempuh selama sekitar 1 jam naik mobil.

Tadinya saya nggak pernah kepikiran bakal naik kuda di NZ, secara saya agak penakut dan bukan penyuka binatang. Tapi kemarin waktu ada teman yang ngajakin naik kuda dan kebetulan beliau nggak ada teman jalan, saya jadi mikir-mikir… Apalagi setelah baca-baca reviewnya, liat foto-fotonya dan mereka menjanjikan a calm, relaxing time away from the city” , saya sangat tergoda. Setelah berhari-hari sibuk nyiapin full-draft thesis sekaligus nulis artikel bareng pak Supervisor yang banyak maunya, rasanya saya butuh sedikit refreshing 🙂

Akhirnya, berangkatlah kami dari rumah jam 6 pagi untuk ngejar shuttle ke Springfield jam 7.15. Sampe di Springfield sekitar jam 8.30, dijemput sama Chris, pemilik Rubicon Valley Horse Riding company sekaligus guide kita hari itu.

Setelah ngisi formulir, bayar, dan pilih-pilih helm yang pas di kepala kami, akhirnya kami kenalan dengan Arrow dan Whisper, kuda-kuda yang akan kami tunggangi pagi itu.

Setelah dijelaskan cara-cara mengendalikan kuda, prosedur keamanan, dll, akhirnya berangkatlah kita jalan-jalan naik kuda. Ini pertama kali saya naik kuda dan mengendalikan sendiri, nggak pake dituntun! Dulu waktu kecil kan kalo naik kuda selalu ada tukang kuda nya lari-lari ikutan nuntun kudanya disebelah kita kan 😀

Sebelum memutuskan berangkat, saya sudah cek ramalan cuaca hari itu dan diperkirakan hari bakal cerah. Tapi weatherman kan juga manusia, tempatnya salah dan khilaf.. Bukannya cerah, pagi itu malah dingiin gerimis dan berawan. Tapi setelah sejam kita berkuda, matahari mulai muncul walaupun gunung bersaljunya masih ketutup awan 😦

SONY DSC
Teh Neneng & Chris

Sebagian besar track di Rubicon Valley flat aja, jadi nggak begitu susah buat beginner rider kayak saya. Tapi di 10 menit pertama ada insiden kecil, kuda yang ditunggangi teh Neneng ‘membangkang’ nggak mau dikendalikan.. eh, si Arrow, kuda saya juga ikut-ikutan ngambek. Setelah di handle sama Chris mereka jadi nurut lagi. kata Chris, kita harus lebih tegas sama kudanya, kita yang mengendalikan kuda bukan kita yg dikendalikan.

Waktu itu kita juga dibawa masuk ke salah satu ladang yang penuh domba.. Seruu… jadi berasa penggembala domba.

SONY DSC

SONY DSCSetelah ngelewatin sheep farm, kita dibawa ke track yang lebih menantang, lewat lereng, naik turun curam dan berbatu. Agak takut sih karna si Arrow rasanya mepet pinggir lereng terus. Jadi takut jatuh… Chris bilang, kita harus percaya sama kuda kita.. Pengennya ambil foto di track naik-turun itu, tapi apa daya nggak punya nyali untuk ambil kamera untuk poto-poto, harus konsentrasi jaga keseimbangan dan mengendali kuda (supaya baik jalannya).

Nggak lama setelahnya, kami dibawa ke tempat yang pemangdangnnya Subhanallah indah bangetttt… walalupun mendung masih tetep bikin merinding pemandangannya.

SONY DSC
Beginner rider
SONY DSC
Breathtaking scenery

SONY DSC

SONY DSC

Setelah naik turun bukit, kita melanjutkan perjalanan, lewat hutan pinus, nyebrang sungai, ketemu sapi, domba, kuda, kelinci.. Sampai-sampai nggak terasa sudah 2 jam kami jalan-jalan, dan para kuda harus segera kembali ke kandang.

SONY DSC
Tapal Kuda

Setelah say goodbye ke Arrow dan Whisper, kami diantar Chris kembali ke Springfield village untuk tunggu dijemput Shuttle yang sudah kami pesan sehari sebelumnya. Karena waktu itu masih pukul 12 siang dan Shuttle kami baru dalatang sekitar pukul 4 sore, akhirnya kami jalan-jalan di sekitar Springfield village ke arah Springfield train station. Jalan-jalan nggak tentu arah, yang kami mau cuma menikmati pemandangan, menikmati sejuk dinginnya udara winter sambil cari tempat yang pas untuk sholat Dhuhur dan Ashar.

Ditengah perjalanan, kami lihat beberapa Llama yang sedang bermain main di halaman rumah yang luas…

SONY DSC
Llamas

Nggak berapa jauh, saya ketemu sama satu rumah yang menurut saya cantik banget.. Rumah besar di pedesaan, dikelilingi bukit dan lapangan rumput yang luas. Rumah impian banget….

SONY DSC
Rumah Impian, kayak di negeri dongeng

Akhirnya, setelah jalan sekitar 15 menit, kami berhenti di sekitar train station. Tempatnya sepi, pemandangannya indah, tapi gunung bersaljunya masih tertutup awan. Akhirnya kami memutuskan untuk sholat di situ. Setelah sholat, kami ngobrol-ngobrol santai aja sambil menunggu awan pergi dari puncak gunung bersalju.

SONY DSC
Sholat

SONY DSC

Setelah sholat dan puas memandangi gunung bersalju, kami kembali ke Springfield playground, tempat dimana seharusnya kami menunggu jemputan shuttle. Masih sekitar 1,5 jam lagi shuttle kami datang. Jadi kami menghabiskan waktu bermain ayunan, tidur-tiduran di ayunan besar, mengamati tingkah polah lucu anak-anak yang sedang bermain di playground, sambil berdoa semoga suatu saat nanti saya bisa ke sini lagi bawa Alia naik kuda..

Beberapa tips buat yang pengen berkuda di NZ:

  • Harga berkuda di NZ lumayan mahal, coba sering-sering cek website diskonan, sepert http://www.bookme.co.nz atau grabone.co.nz untuk dapat harga yang lebih murah.
  • Cek ramalan cuaca. Pakai baju nyaman sesuai musim dan cuaca. kalau Winter, jangan lupa pake sarung tangan, kaos kaki yang hangat dan jaket yang hangat.
  • Selama berkuda boleh ambil foto, tapi bakal susah kalau ambil foto pakai HP, karena kebanyakan kita ambil foto selagi kudanya jalan.
  • Ikuti arahan guide, percaya diri, rileks dan nikmati perjalanan.

Lebaran Kali Ini (2015 M/1436 H)

Selamat lebaran, selamat idul fitri buat semua… Mohon maaf kalau ada sala-salah kata dan prasangka. Semoga Ibadah ramadhan kita diterima Allah SWT dan dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya. Aamiin…

Lebaran kali ini masih sama seperti lebaran lima tahun sebelumnya, saya merayakan jauh dari kampung halaman. Lebaran di New Zealand lagi, yang berarti ini tahun ke-6 saya lebaran di NZ. Bedanya, kalau tahun lalu Bapak Abink dan Alia ada rejeki berlebaran ke NZ, tahun ini kami lebaran masing-masing.

Tahun ini, karena merasa bakal jadi lebaran terakhir di NZ, saya benar-benar menikmati suasana ramadhan dan lebaran di sini. Walaupun sahur dan buka puasa seadanya ala anak kos dan shalat tarawih di Musholla sederhana di kampus, rasanya tetap nikmat..

Jamaah Putri Sholat Idul Fitri di Musholla Lincoln University
Jamaah Putri Sholat Idul Fitri di Musholla Lincoln University

Cuma malam takbirannya aja yang berasa sepi banget di sini.. Selama 6 kali ramadhan di sini, saya cuma ngalamin satu kali malam takbiran yang mirip di Indonesia. 2 tahun yang lalu, waktu komunitas muslim Malaysia masih banyak di Lincoln, kami muslim dari Indonesia bergabung dengan komunitas pelajar muslim Malaysia untuk takbiran bareng di Musholla. Rasanya mak-nyess banget waktu itu..

Tahun ini, di hari terakhir puasa saya pergi jalan-jalan dan pulangnya sengaja mampir ke Masjid AnNuur di kota untuk shalat maghrib, isya sekaligus takbiran. Abis sholat Isya berjamaah, saya iseng nanya sama Aunty-aunty orang Mesir apa ada takbiran di masjid Annur? Kata beliau bakal ada takbiran, bentar lagi… Seneng banget saya… Ternyataa takbirannya cuma dibaca sekali doang…. satu putaran takbir, terus udah… Kecewa sih, tapi ya sudahlah ya 🙂 Alhamdulillah bisa takbiran walaupun cuma sebentar..

Masjid AnNuur Christchurch
Masjid AnNuur Christchurch

Di hari lebaran, teman-teman pelajar di Lincoln dan beberapa dari Canterbury shalat Iedul Fitri di musholla kampus, dilanjut dengan sarapan bersama di rumah salah satu teman. Jangan bayangkan kami sarapan sereal, atau roti a la bule yaa… Kali ini sarapannya istimewa: lontong sayur, rendang, opor, gulai kambing, sampai pempek pun ada!

lebaran 2015Puas sarapan dan haha hihi bareng teman-teman student, kami lanjut berkunjung ke Rumah keluarga Pak lilik dan Bu Nina, dan lanjut lagi ke rumah keluarga Pak Rob dan Bu Yanti. Bu Nina dan Bu yanti ini jago banget masaknya, dan mereka baik-baik banget selalu buka rumah mereka untuk disinggahi selama lebaran. Makan siang di sana masih menu khas lebaran, ditambah tiramisu, tape ketan item + lemang, brownies, kue nastar, kastengel, lengkap lah pokoknya, semua enak! Selain untuk makan-makan, saya juga sengaja menyempatkan diri berkunjung untuk pamit karena tahun ini inshaaAllah bakal jadi lebaran terakhir di NZ. Sekalian silaturahim sama teman-teman Indonesia lainnya yg biasanya juga berkumpul di rumah beliau.

Intinya, lebaran kali ini tetap spesial, walaupun perasasaan lagi campur aduk antara seneng karena tahun depan insyaaAllah bakal lebaran di rumah, tapi sedih juga karna harus meninggalkan New Zealand sebentar lagi. Jadi inget kata seorang teman, hidup dan beribadah di belahan negeri manapun sama aja, karena bumi ini adalah buminya Allah.

Hari-hari Menyenangkan di Taman Kanak-kanak

Hari ini, saya bikin sedikit kompilasi foto-foto Alia selama di Pre-school dan kindy di New Zealand dan Indonesia. Ternyata punya anak yang baru lulus TK itu rasanya campur aduk antara sedih dan seneng..

Dulu, pertama kali masuk ‘sekolah’ di playcentre Alia sama sekali nggak mau ditinggal.Lama kelamaan, dia udah enjoy main sendiri atau main bareng temen-temennya. Setelah Alia umur 2.5 tahun, pindah ke Lincoln Pre-school karena saya mulai kerja dan nggak punya tenaga untuk aktif di playcentre yang harus duty dan bantu-bantu administrasi. Setelah ulang tahunnya yang ke-3, Alia pindah sekolah lagi ke Lincoln KidsFirst. Di umur 4tahun, Alia harus pulang ke Indonesia dan sekolah di See me grow. setelah lulus dari see me grow masuk ke Iqro dan sekarang Alia udah lulus dari Iqro, siap masuk SD.

Alia tulis di surat terimakasihnya untuk Ms Linda & Ms Windri:
Alia tulis di surat terimakasihnya untuk Ms Linda & Ms Windri: “Terimakasih sudah mengajari Alia berdoa dan menulis” 🙂

Karena lagi jauh-jauhan sama Alia, rasanya campur aduk kalo ngeliat foto-foto dan video Alia yang di tag ke saya oleh para mama di Iqro’ (makasih ya semua!). Apalagi kalo liat foto-foto Alia jaman dulu, waktu masih baru masuk sekolah sampai sekarang udah bisa baca pidato di depan teman-teman, guru dan orang tua. Rasanya waktu cepat sekali berlalu.. Walaupun saya nggak ada di sana waktu Alia lulus TK dan nggak bisa antar Alia di hari pertamanya masuk SD, tapi doa saya selalu mengiringi.

———————————–

Salah satu cerita tentang  Playcentre bisa dibaca di sini

Salah satu cerita tentang  Lincoln pre-school bisa dibaca di sini

Salah satu cerita tentang  Lincoln KidsFirst bisa dibaca di sini

Salah satu cerita tentang  See Me Grow bisa dibaca di sini

Hanmer Springs

Long weekend kemarin Alia bareng keluarga besar bapak Abink jalan ke Jogja.. Mama saya pergi ke Bandung, trus bareng keluarga kakak saya jalan ke Jakarta. Saya? Ngerem aja di ofis, karna buanyaakk kerjaan #curcol. Untuk mengobati rasa rindu jalan-jalan, mending sekarang pasang foto-foto pas jalan bareng temen-temen bulan lalu aja ah.. Mudah2an yang baca masih belum bosen liat foto-foto pemandangan di NZ ya.

Awal April lalu saya bareng beberapa teman student Indonesia di Lincoln jalan-jalan ke Hanmer Springs. Hanmer springs ini tempatnya nggak terlalu jauh dari Lincoln, cuma sekitar 2,5 jam aja naik mobil. Desa kecil yang selalu rame dengan orang-orang yang pengen berendam air panas. Terutama kalo lagi liburan pasti rame banget desa ini.Tempat berendam nya kata saya sih keren, tiap kolam ada keterangan suhu airnya. Jadi, kita bisa pilih mau berendem di kolam yang panas banget, panas biasa, atau yang anget-anget tai ayam kuku aja. Trus, ada kolam arusnya juga, walaupun nggak terlalu gede, tapi lumayanlah untuk main-main pake ban atau pelampung. Di sini, kolam-kolamnya nggak semua di bangun kayak kolam renag modern, tapi ada beberapa kolam yang dibikin alami aja, jadi kayak kita berendem di sungai, bisa duduk-duduk di atas batu. Mereka sebutnya rock pool. Kalau nggak mau berendem bareng banyak orang, bisa juga sewa private pool. Tapi inget, di Hanmer Spring orang dateng untuk berendam ya, bukan untuk berenang, jadi memang dilarang berenang di sana.

Sebenernya kalo nggak mau berendem, di hanmer spring juga bisa naik quad bike, semacam ‘becak-becak fantasi’ yang sepet booming juga di Indonesia itu looh.. Atau, kalau yang suka tantangan bisa juga coba jet boating, rafting atau bungy jumping, atau jalan-jalan aja naik ke atas bukit untuk liat pemandangan dari atas. Atau kalau winter bisa main ski juga di Hanmer Springs.

Kali ini, saya nggak berendam, cuma jalan-jalan aja di sekitar situ, kebetulan pas ada pasar kaget di deket tempat pemandiannya, trus jalan lagi ke taman, ngasih makan bebek. Trus duduk-duduk aja, sambil makan es krim sambil nunggu temen-temen yang pada berendam.. Terus pulang deh….  Tapi saya menikmati banget pemandangan sepanjang jalan.. Perbukitan.. kadang ijo, kadang coklat, kadang banyak sapi kadang ketemu domba.. Lewat perkebunan anggur, sungai, padang rumput… Subhanallah.. Monggo di intip sedikit foto-foto di Hanmer Springs Village dan sepanjang perjalanan.

SONY DSCSONY DSC SONY DSC  SONY DSCSONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC

Dating with my little girl

Senin sampai Jumat adalah hari sibuk. Sejak si Ibu sekolah di New Zealand, mau tidak mau Alia hampir menghabiskan hari-harinya di sekolah dan di penitipan. Jam 6 Pak ABink bangunin Alia, kemudian lanjut nyiapin sarapan. Semenjak umur 6 tahun ini sudah agak lumayan Alia sudah mau makan sendiri. Setelah sarapan, lanjut dengan mandi dan ganti baju. Sama seperti sarapan, semenjak umur 6 tahun Alia sudah TOP mau mandi sendiri dan ganti baju sendiri. Tinggal disiapin air panas dan pakaiannya semua beres. Setelah siap jam 7.15 diantar ke sekolah, dan PakAbink jemput jam 4 an. Hampir setiap hari jadwal nya adalah seperti itu. Banyak teman yang tanya gimana cara Pak ABink bisa handle rutinitas seperti ini? .Yes… jawabannya karena Pak ABink super daddy…. sombong mode:on. Untuk jawaban sebenernya nanti dibahas di postingan lainnya. Postingan ini cuma mau cerita daring seru Pak ABink dengan Alia.

Nah kembali kecerita di atas, sibuknya hari kerja membuat, waktu maen-maen, ngobrol-ngobrol dan becanda-becanda agak sedikit berkurang walau setiap malam Pak Abink dalam 6 tahun ini selalu menjadi pendongeng yang baik buat Alia. Mumpung Sabtu dan Minggu belakangan jadwal mengajar Pasca kelas paruh waktu nya Pak ABink belum giliran, maka Pak ABink selalu mencoba untuk menebus dosa dengan ngajak Alia jalan-jalan, shopping, berenang atau hanya sekedar main Alia’s game.

Untuk episode weekend ini dating dengan Alia dimulai dengan dinner di Hotel Pelangi. Jumat malam setelah Solat Magrib, Pak Abink pengen dinas inspeksi ke Hotel Pelangi. Karena Alia cuma nonton Tipi jadi kayaknya bakalan asik kalo ngajak Alia. Setelah nego ini itu, sepakat Alia ikut Pak ABink kerja. Sesuai kesepakatan, selama Pak ABink inspeksi dan memberi arahan kepada karyawan, Alia dengan manis nya duduk di Restoran sambil main Tab S nya Pak Abink dan ngemil kentang goreng. Setelah selesai memberi arahan dan inspeksi, Pak Abink ikutan duduk di restoran sambil nunggu Jus Melon dan Kentang goreng nya Alia habis. Di tengah negmil kentang goreng, tiba-tiba Alia bilang:

Alia : Bapak, ayo kita bikin joke…..

Pak Abink : Joke apaan nak?

Alia : Jeli apa yang terbang ke langit???

Pak Abink : Mana ada jeli yang terbang….jeli mah untuk di makan…

Alia : Salah…. bapak nyerah kah????

Pak Abink : ya bapak nyerah….

Alia : jawabannya Jelikopter…..

Pak Abink : hahahaha….. (sakti juga nih bocah….)

Setelah opening yang gokil, tebak-tebakannya berlanjut sampe si kentang goreng ludes. Pak ABink kontribus dengan ikut ngemil dua potong….(suerrr cuma dua potong)

Sampe rumah Alia, langsung cuci kaki dan solat Isha. Habis solat, Alia langsung ambil buku dan nyodorin buku untuk dibaca. Sambil nyodorin dia nego untuk bobok di kamar saya. FYI kami punya perjanjian. Alia sudah 6 tahun, jadi harus bobok sendiri di kamarnya. Cuma kalo holiday dia boleh tidur sama Pak Abink. Karena Jumat belom holiday jadi dengan terpaksa keinginan cuma keinginan. Sempat agak ngambek tapi setelah bikin kesepakatan kalo hari Sabtunya jalan-jalan ke Matos cari buku baru maka Alia sepakat untuk tidur sendir.

Hari Sabtu pagi, Pak Abink sudah ganteng jam 8. Karena Pak Abink mau ketemu manajer Hotel Pelangi untuk kasi beberapa pengarahan. Alia belum mandi waktu Pak Abink mau berangkat. Sebelum berangkat, Pak Abink kasi pesen, kalo jam 10 an Pak Abink selesai kerja langsung pulang jemput Alia lanjut ke Matos beli buku.

Pulang kerja ternyata Alia melaksanakan kesepakatan, sudah mandi lengkap dengan baju pink dan sepatu yang juga berwarna pink. Keren banget nih si gadis.

Sampe di Matos Pak Abink dan Alia langsung ke Gramedia cari buku. Kita kembali buat kesepakatan. Kali ini Pak ABink beri kebebasan ke Alia buat beli buku sendiri selama terjangkau. Tetapi syarat nya Alia harus baca buku itu sendiri. Akhir nya deal. Alia cari buku sendiri. Setelah browsing sana sini akhirnya Alia dapat 3 buku paporit. Dua buku Frozen dan 1 Buku Strawberry Shortcake

IMG_2738

Dapet buku paporit, tidak membuat Alia pengen pulang. Si gadis malah nantangin, juntuk ga pulang dulu. Tapi jalan-jalan dulu (bener-bener deh…turunan si Ibuk…..).

Puter-puter di Matos akhirnya capek dan laper yang ujung-ujung nya membuat kami stop di salah satu cafe paporit KeluargaHussein. Setelah lihat-lihat menu kami sepakat, untuk pesen sebucket chicken wing dan semangkok french fries. Untuk minum, Alia mau es teh tarik, kalo pak Abink kopi tarik aja.

Alia dan Es Teh Tarik nya
Alia dan Es Teh Tarik nya

Sebagai penggemar ayam, Pak ABink dan Alia berlomba menghabiskan si Chicken Wing. dalam kurang dari 1 jam bucket Chicken Wing kosong. Pak Abink kontribusi sekitar 65% untuk Chicken Wing dan Alia mendominasi French Fries dengan sekitar 60% kontribusi ngabisin. Habis makan kumat bakat selfie Pak Abink. Selfie lah kami

Selfie Dulu....
Selfie Dulu….

Selfie sudah, kenyang sudah, jalan-jalan sudah. Maka next stop adalah rumah. Sampai rumah si Bapak langsung tepar dan si Alia sibuk dengan Loom Band nya. Berakhir lah dating kami weekend kali ini. Walaupun tidak bisa mengganti waktu yang hilang selama weekdays, paling tidak jalan-jalan dengan Alia ini bisa memperkuat team work kami. Jadi inget pesen Kak Seto. jaman sekarang jangan bermimpi punya anak penurut, tapi mimpilah punya anak yang mandiri dan bisa bekerja sama.

Autumn is a Season when Every Leaf is a Flow

Saya suka banget Autumn. Daun-daun berubah warna warni, udara sejuk, kadang ujan, kadang cerah, dan suasanya selalu romantis. Tiap pagi, kalo lagi cerah saya selalu bersepeda lambat-lambat sambil menikmati setiap pohon yang mulai berubah warnanya. Benar-benar memanjakan mata… Karena berharap tahun ini adalah tahun terakhir saya menikmati Autumn di NZ sebagai student, beberapa hari lalu saya sengaja pergi ke ofis jalan kaki demi bisa leluasa mengabadikan warna-warni dedaunan di musim gugur tahun ini.

SONY DSC

SONY DSC
Ivey Hall
SONY DSC
Yellow, green and orange
SONY DSC
Orange
SONY DSC
Autumn

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSCSONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC
Daun kering
SONY DSC
Yellow
SONY DSC
Yellowish leaves
SONY DSC
Sepatu kotor kena rumput basah abis ujan
SONY DSC
Mirip apel tapi kecil-kecil

SONY DSC
Rugby FIeld
SONY DSC
The Workshop – Student Lounge
SONY DSC
In front of the ‘Landscape & Architecture Building’
SONY DSC
I can see green, orange, yellow and red!
SONY DSC
Ivey Hall
SONY DSC
AERU building

si Kupu-kupu

Alia ayunan

Halo… Disini kupu-kupu Alia. Siapa ini?

Itu sapaan baru Alia kalo lagi teponan sama saya. Alia nggak cuma menyebut dirinya sendiri kupu-kupu, tapi ngasih panggilan juga buat Ibu n Bapaknya. Dia panggil saya ‘kepompong Ibu’  dan ‘ulat Bapak’ untuk bapak Abink..

Di umur Alia yang 6 tahun ini, saya dan bapak Abink cukup hepi dengan ‘pencapaian’ Alia. Ditengah keterbatasan kami sebagai orang tua yang sama-sama sibuk, bahkan harus menjalani long distance parenting untuk beberapa saat, kami bersyukur karena perkembangan Alia lumayan oke. Terlepas dari drama-drama kecil seputar parenting, kami pengen Alia tau kalo kami bangga banget punya anak kayak Alia 🙂

Di 6 tahun ini dia udah lumayan bisa pegang komitmen. Dari awal pas Alia pulang ke Indonesia, saya dan bapak Abink pengen Alia punya kegiatan di luar rumah selain sekolah. Jadi, kami kasih Alia pilihan mau belajar musik atau belajar lukis/gambar. Dia pilih musik.

Awalnya dia pengen banget belajar gitar, tapi di tempat les musik deket rumah masih belom bisa nerima anak 6 tahun untuk belajar gitar. Kami tawarin lagi, mau tetep musik atau gambar? Alia tetep pilih musik, dan pilihan akhirnya jatuh ke piano. Dari awal kami udah bilang kalo Alia udah bikin pilihan, harus dijalani. Dan ternyata, dia suka les pianonya. Ibu Bapak nya yang nggak bisa main piano tentunya hepi banget punya anak yang bisa baca not balok dan bisa main piano hahahha 😀 *rabidmom mode:on.

Satu kejadian lagi yang bikin saya bangga sama si kupu-kupu Alia ini.. Kemaren dia lagi nggak enak badan. Udah 2 hari pilek sih memang.. Tapi, hari Rabu kemarin dia udah enakan dan harusnya bisa masuk sekolah walopun masih meler dikit. Tapi, dia bilang ke Bapak Abink nggak usah sekolah dulu.

Sama bapaknya dikasih pilihan:(1) Alia masuk sekolah seperti biasa plus daycare sampe jam 4, atau (2) boleh istirahat di rumah tapi nggak boleh nonton TV sampe bapak Abink pulang kerja, harus latihan piano untuk konser minggu depan, bobok/istirahat siang, dan nggak usah ikut berenang di sekolah hari Kamis.

Kalo menurut saya pilihan nomer-2 itu lumayan berat buat Alia. Biasanya kalo di rumah dia jarang banget istirahat/bobok siang. Trus nggak nonton TV dari pagi sampe jam 5 sore itu juga lumayan susah kalo Alia lagi di rumah. Apalagi, pilihan nggak berenang di sekolah itu kayaknya nggak mungkin dia pilih karena Alia selalu excited kalo pas ada acara berenang di sekolah. tapi ternyataaaaaa… dia pilih tetep di rumah dan setelah di cek, dia menepati semua kesepakatan yang udah dibuat. Ooohh, Ibu bangga banget deh sama kk Alia 🙂

Pencapaian lain Alia di umur 6 tahun ini, akhirnya dia berani masukin kepala ke air dan berenang. Walopun gayanya masih acak-acakan, tapi saya bangga banget. Secara saya cuma bisa berenang gaya katak, dan paling pol cuma maju 5 meter aja.

#swimming lesson with the best coach in the world bapak Abink @misterhussein

A post shared by Raditha Hapsari (@radithahapsari) on

Itu foto sekitar 3 bulan lalu, Alia masih belajar pake pelampung dan belom brani nyelupin kepala ke air 😀

Sebenernya Alia udah lumayan sering nyemplung ke kolam renang. Paling nggak sebulan sekali berenang di sekolah dan lumayan sering diajak berenang sambil diajarin sama bapak Abink karena bapak Abink lumayan jago berenangnya. Tapi sampe sekitar 3 minggu lalu, dia masih belum berani untuk masukin kepala ke air dan tahan napas.

Ternyata, pas bapak Abink lagi nggak enak badan, si Alia di bawa berenang dan disuruh nyemplung sendiri. Ternyata waktu itu dia lepas pelampungnya dan tiba-tiba aja berani masukin kepala ke air dan akhirnya berhasil berenang beberapa meter. Wooohooo…. berarti tugas bapak Abink selanjutnya tinggal ngelatih pernapasan Alia aja.. Yeaaayyy!!

Kupu-kupu Alia, semoga selalu jadi anak yang baik dan jadi kebanggan keluarga ya nak… We love you, my little butterfly. Just spread your wings and fly high…