Ujian Thesis Doctoral ala New Zealand University (2) : via Video conference

SONY DSC
Saat menghadiri Wisuda tahun lalu. Sayangnya bukan saya yang diwisuda 🙂

Delapan April 2016 adalah hari wisuda di Lincoln University (LU). Saya seharusnya bisa diwisuda bersama kawan-kawan lain di LU, tapi saya memilih “Graduate in Absentia” karena kondisi yang ngggak memungkinkan untuk saya datang ke NZ.

Kalau sekitar 3 tahun yang lalu Bapak Abink sudah pernah cerita dengan Judul yang sama di sini tentang bagaimana ujian doktoral di Lincoln University, kali ini saya bawa cerita ujian yang sedikit berbeda dengan pengalaman bapak Abink 3 tahun lalu.

Begitu saya submit thesis, dan menyelesaikan kontrak kerja, saya langsung balik ke Indonesia. Meja kerja sudah saya kembalikan ke bagian administrasi untuk bisa dipakai oleh orang lain. Tapi, saya masih pakai locker saya untuk simpan beberapa barang yang kira-kira saya butuhkan kalau balik lagi NZ untuk ujian. Waktu itu memang rencananya saya bakal balik ke LU untuk ujian sekitar akhir tahun 2015 atau awal tahun 2016. Bahkan saya masih nitip koper isi baju dll di rumah seorang teman. Tapi, lagi-lagi kita cuma bisa berencana, tapi Allah siapkan rencana lain buat saya. Karena waktu itu nggak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh, saya harus rela ujian jarak jauh, lewat video conference. Waktu itu rasanya kecewa, karena waktu pulang ke Indonesia saya sama sekali nggak ada persiapan untuk ninggalin NZ untuk waktu yg belum ditentukan. Saya kira bakal ketemu NZ lagi dalam 4-6 bulan setelah kepulangan saya ke Indonesia. Tapi, karena terbang ke NZ lagi adalah pilihan terakhir, akhirnya saya pasrah aja, ngurus ujian jarak jauh ini biar jadi lancar..

Proses setelah submit thesis sampai ujian, kurang lebih hampir sama dengan pengalaman Bapak Abink. Tapi, entah kenapa waktu tunggu saya lebih lama. Saya harus nunggu sekitar 5 bulan sampai saya dapat email panggilan untuk ujian. Mulai tahun ini LU punya kebijakan baru mengenai ujian thesis doktoral. Kali ini, pembimbing tidak ikut andil dalam penilaian. Tugas pembimbing sudah selesai sampai kita submit thesis kita untuk dinilai oleh examiners. Artinya keputusan layak atau tidaknya sebuah thesis untuk mengantarkan seorang candidat doktor untuk menyandang gelar Doktor hanya berada di tangan para penguji. Kebijakan baru ini bikin saya lebih deg-deg an, karena thesis saya akan dinilai oleh orang-orang yang saya sama sekali nggak tau siapa aja mereka.

Tapi, dibalik kebijakan LU yang bikin deg-deg an, ada juga kebijakan lain yang menurut saya menguntungkan student. Ketika kita terima email yang menyatakan bahwa thesis kita layak untuk diuji secara oral, kita juga bakal langsung dapat review yang ditulis oleh para examiners. Jadi, kita udah tau kelebihan dan kelemahan thesis kita di mata examiners. Jadi kita bisa siap-siap buat oral examinationnya nanti.

Thesis examination melalui video conference sebenarnya belum biasa dilakukan di Lincoln University. Untuk bisa ujian jarak jauh, saya harus mengirimkan surat dokter yang menyatakan bahwa saya tidak direkomendasikan untuk terbang ke NZ.

Beberapa minggu sebelum hari ujian, saya sudah lumayan intens komunikasi dengan postgrad administrator dan convenor mengenai apa aja yang harus dipersiapkan untuk ujian jarak jauh dan juga mengatur jadwal yang cocok untuk saya yang di Indonesia, supervisor & convenor di NZ dan examiner di Australia. Selanjutnya, untuk memastikan koneksi internet dan komunikasi lancar, saya sempat 2x melakukan percobaan teleconference. Yang pertama, hanya berdua dengan convenor, dan yang selanjutnya rame-rame sama IT personnya LU, Postgrad Administrator, dan examiners.

Ujian thesis waktu itu jatuh di Hari Selasa, jam 9 pagi WIB, jam 3 sore waktu NZ, jam 1 siang waktu Australia. Saya udah siap dari pagi, saking deg-deg annya 🙂 Udah stand by di depan laptop 15 menit sebelum jam 9. Ujiannya sendiri berlangsung selama 45-60 menit aja. Dimulai dengan presentasi dari saya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Alhamdulillah, examiners  saya lumayan gampang ‘dipuaskan’ dengan jawaban-jawaban saya. Setelah sesi tanya jawab berakhir, teleconference dengan saya diputus supaya supervisors, convenor dan examiner bisa diskusi mengenai hasil ujian. Saya tinggal menunggu convenor menghubungi saya untuk bergabung lagi. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, akhirnya saya dihubungi dan diyatakan lulus. Yeaaayyy Alhamdulillah…

Viva

Intinya, ujian secara langsung atau melalui video conference ada plus dan minusnya. kalau ujian langsung komunikasinya pasti lebih lancar, diskusi mengenai revisi (kalau ada) juga bakal lebih jelas. Tapi kelemahannya, kalau udah pulang ke Indo harus ngeluarin biaya banyakk 🙂

Kalau ujian lewat video conference lebih banyak yang harus dipersiapkan, terutama konekasi internet yang stabil. Pre-test juga penting banget dilakukan beberapa hari sebelum ujian. Persiapan video conference nya sendiri sebenernya nggak begitu ribet karena kita tinggal tunggu undangan Skype meeting (Lync) dari postgrad adminstrator atau IT person. Tinggal klik-klik untuk instal dll aja.

Yang terpenting untuk ujian langsung maupun video conference adalah persiapan, baca lagi thesisnya, yakin aja kalau kita adalah orang yang paling tau tentang apa yang kita tulis selama 3 tahun terakhir. Dan jangan lupa banyak berdoa..

Advertisements

Lebaran Kali Ini (2015 M/1436 H)

Selamat lebaran, selamat idul fitri buat semua… Mohon maaf kalau ada sala-salah kata dan prasangka. Semoga Ibadah ramadhan kita diterima Allah SWT dan dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya. Aamiin…

Lebaran kali ini masih sama seperti lebaran lima tahun sebelumnya, saya merayakan jauh dari kampung halaman. Lebaran di New Zealand lagi, yang berarti ini tahun ke-6 saya lebaran di NZ. Bedanya, kalau tahun lalu Bapak Abink dan Alia ada rejeki berlebaran ke NZ, tahun ini kami lebaran masing-masing.

Tahun ini, karena merasa bakal jadi lebaran terakhir di NZ, saya benar-benar menikmati suasana ramadhan dan lebaran di sini. Walaupun sahur dan buka puasa seadanya ala anak kos dan shalat tarawih di Musholla sederhana di kampus, rasanya tetap nikmat..

Jamaah Putri Sholat Idul Fitri di Musholla Lincoln University
Jamaah Putri Sholat Idul Fitri di Musholla Lincoln University

Cuma malam takbirannya aja yang berasa sepi banget di sini.. Selama 6 kali ramadhan di sini, saya cuma ngalamin satu kali malam takbiran yang mirip di Indonesia. 2 tahun yang lalu, waktu komunitas muslim Malaysia masih banyak di Lincoln, kami muslim dari Indonesia bergabung dengan komunitas pelajar muslim Malaysia untuk takbiran bareng di Musholla. Rasanya mak-nyess banget waktu itu..

Tahun ini, di hari terakhir puasa saya pergi jalan-jalan dan pulangnya sengaja mampir ke Masjid AnNuur di kota untuk shalat maghrib, isya sekaligus takbiran. Abis sholat Isya berjamaah, saya iseng nanya sama Aunty-aunty orang Mesir apa ada takbiran di masjid Annur? Kata beliau bakal ada takbiran, bentar lagi… Seneng banget saya… Ternyataa takbirannya cuma dibaca sekali doang…. satu putaran takbir, terus udah… Kecewa sih, tapi ya sudahlah ya 🙂 Alhamdulillah bisa takbiran walaupun cuma sebentar..

Masjid AnNuur Christchurch
Masjid AnNuur Christchurch

Di hari lebaran, teman-teman pelajar di Lincoln dan beberapa dari Canterbury shalat Iedul Fitri di musholla kampus, dilanjut dengan sarapan bersama di rumah salah satu teman. Jangan bayangkan kami sarapan sereal, atau roti a la bule yaa… Kali ini sarapannya istimewa: lontong sayur, rendang, opor, gulai kambing, sampai pempek pun ada!

lebaran 2015Puas sarapan dan haha hihi bareng teman-teman student, kami lanjut berkunjung ke Rumah keluarga Pak lilik dan Bu Nina, dan lanjut lagi ke rumah keluarga Pak Rob dan Bu Yanti. Bu Nina dan Bu yanti ini jago banget masaknya, dan mereka baik-baik banget selalu buka rumah mereka untuk disinggahi selama lebaran. Makan siang di sana masih menu khas lebaran, ditambah tiramisu, tape ketan item + lemang, brownies, kue nastar, kastengel, lengkap lah pokoknya, semua enak! Selain untuk makan-makan, saya juga sengaja menyempatkan diri berkunjung untuk pamit karena tahun ini inshaaAllah bakal jadi lebaran terakhir di NZ. Sekalian silaturahim sama teman-teman Indonesia lainnya yg biasanya juga berkumpul di rumah beliau.

Intinya, lebaran kali ini tetap spesial, walaupun perasasaan lagi campur aduk antara seneng karena tahun depan insyaaAllah bakal lebaran di rumah, tapi sedih juga karna harus meninggalkan New Zealand sebentar lagi. Jadi inget kata seorang teman, hidup dan beribadah di belahan negeri manapun sama aja, karena bumi ini adalah buminya Allah.

Autumn is a Season when Every Leaf is a Flow

Saya suka banget Autumn. Daun-daun berubah warna warni, udara sejuk, kadang ujan, kadang cerah, dan suasanya selalu romantis. Tiap pagi, kalo lagi cerah saya selalu bersepeda lambat-lambat sambil menikmati setiap pohon yang mulai berubah warnanya. Benar-benar memanjakan mata… Karena berharap tahun ini adalah tahun terakhir saya menikmati Autumn di NZ sebagai student, beberapa hari lalu saya sengaja pergi ke ofis jalan kaki demi bisa leluasa mengabadikan warna-warni dedaunan di musim gugur tahun ini.

SONY DSC

SONY DSC
Ivey Hall
SONY DSC
Yellow, green and orange
SONY DSC
Orange
SONY DSC
Autumn

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSCSONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC
Daun kering
SONY DSC
Yellow
SONY DSC
Yellowish leaves
SONY DSC
Sepatu kotor kena rumput basah abis ujan
SONY DSC
Mirip apel tapi kecil-kecil

SONY DSC
Rugby FIeld
SONY DSC
The Workshop – Student Lounge
SONY DSC
In front of the ‘Landscape & Architecture Building’
SONY DSC
I can see green, orange, yellow and red!
SONY DSC
Ivey Hall
SONY DSC
AERU building

Berbagi Dapur

Sering denger orang bilang kalo masakan laki-laki itu lebih enak daripada masakan perempuan? Saya sudah membuktikan. Dulu, waktu kami sekeluarga masih “berlibur sangat panjang” di NZ, saya selalu ‘berbagi dapur’ sama bapak Abink karena bapak Abink suka masak di waktu senggangnya. Walaupun kalo abis bapak Abink masak dapur jadi kayak kapal pecah, tapi masakannya enak loh. Bahkan bapak Abink sempet dapet pesenan macaroni schotel beberapa loyang untuk acara gathering suatu komunitas.

Sempet suatu saat, pas bapak Abink lagi banyak waktu luang kita bikin kompetisi bikin kue antara bapak Abink VS salah satu temen baik kami dari Vietnam yang tinggal di sebelah rumah. Si temen kami ini juga baru-baru suka bikin kue. Akhirnya mereka bertanding bikin fruit muffin, dan yang menang adalah bapak Abink…. Hebat deh, suamiku 🙂

Brownies
Brownies Cheese Cake
bnasigoreng
Nasi goreng
bmacaroni
Macaroni Schotel
bchicken
Ayam Panggang, Telur Dadar
baso kuah
Bakso Kuah
cookies
Chocolate chips cookies

Hobi masak bapak Abink waktu itu pastinya sangat membantu saya banget. Di tahun ke tiga masa sekolahnya memang bapak Abink banyak waktu luang, sedangkan saya baru mulai nulis proposal thesis. Jadinya kayak gayung bersambut. Dapur yang bisanya jadi wilayah kekuasaan saya jadi diambil alih sama bapak Abink. Kalau pas lagi sama-sama pengen masak, kadang saya dan bapak Abink juga masak bareng-bareng, atau bikin kue bertiga sama Alia. Alia juga pastinya ikut hepi, karena gizi dan seleranya selalu terpenuhi.

Terimakasih ya bapak Abink, udah jadi tim ‘dapur’ yang solid dan saling mengisi 🙂

Pantang Pulang Sebelum Padam

Dapet feedback dari pak SPV, setelah menunggu 2 minggu lamanya. Agak-agak membingungkan sih, komen-komennya. Pas didatengi ke ofisnya, bliaunya nggak ada di tempat. Ya wis, coba dikerjain sendiri dulu aja sambil nunggu ketemuan hari Senin nanti.

Disela-sela ngerjain revisian chapter, tiba-tiba pak SPV ngirim email lagi kata pembukanya gini “I hope you aren’t depressed by my comments”. hihihih… iya juga sih, saya agak2 down begitu liat komennya yg lumayan banyak. Ihhh serem deh, jangan-jangan si bapak bisa baca isi hatiku  😀

Pengennya sih istirohat dulu, mencerna komen satu demi satu, pelan-pelan kerjanya… tapi kalo inget janjiku ke anak gadisku pagi ini, kayaknya gak bisa ini kalo kerja pelan-pelan. Harus di gas pol ini. Nggak ada libur weekend ini.

Tadi pagi, nelpon ke rumah cerita-cerita dan becanda2 seperti biasa. Terus, tiba-tiba aja obrolan mengarah ke potong rambut alia karna udah mulai nggak rapi. Trus terjadilah percakapan berikut:

Ibu : Alia, rambutnya dirapihin ya. Ke salon aja, nanti dianter bapak..

Alia : Nggak mau.

Ibu: Enak loh, nanti sebelum dipotong dikeramas dulu

Alia : Alia udah pernah.

Bapak: Alia lagi pengen mainan apa?

Alia : Alia nggak pengen mainan. Alia pengen nonton frozen.

Bapak : Ok. Kalo gitu, abis dari salon Alia boleh nonton frozen di laptop.

Alia : Alia maunya frozen yang baru

Bapak : Emang ada frozen yang baru?

Alia : Ada, Alia liat iklannya di TV

Ibu: Tapi itu belom ada di bioskop, kak.

ALia : Itu mungkin adanya bulan Agustus bu.

Ibu : Ohya? kalo gitu nanti ibu ikut ya nonton bareng.

Alia : Ibu udah pulang bulan Agustus? Agustus 2015?

Ibu : InshaaAllah..

Alia : Yeaaayyyyyy!!!!!

Kalo ibu bisa pulang sekarang, Ibu bakal pulang sekarang juga. Tapi kan kalo kata orang Banjar “waja sampai kaputing”, kalo kata petugas pemadam kebakaran “pantang pulang sebelum padam” (mengutip kata-kata Kai Roben dan bapak Abink). Makanya Ibu juga pantang pulang sebelum beres. “Beres” disini bermakna ganda ya.. bisa berarti “submit” atau “lulus” atau “punya full draft”. Tergantung nanti Agustus deh, saya bisa sampai tahapan yang mana.

Daylight Saving

pic from http://www.coloring.com

Daylight saving ends today. Jarum jam harus dimundurin sejam. Karena nggak punya jam dinding, jadi tahun ini saya nggak perlu muter-muter jarum jam. Laptop dan HP pun udah otomatis menyesuaikan jadwal daylight saving.

Dulu waktu jaman-jaman bapak Abink masih kuliah di Australia (sekitar 2006an), saya suka bingung kenapa perbedaan waktu antara Indonesia-Australia berubah-ubah. Kadang beda waktunya 4 jam, trus beberapa bulan kemudian jadi beda 3 jam. Setelah saya browsing-browsing, ternyata karena daylight saving 🙂 Walaupun di beberapa wilayah australia nggak ada daylight saving, waktu itu bapak Abink tinggal di wilayah Australia yang kena dayight saving.

Dari 82 negara di dunia, ada sekitar 73 negara yang memberlakukan daylight saving time (DST). Pastinya ke 73 negara itu yang tidak berada di sekitar garis kathulistiwa. Kalo negara di sekitar garis khatulistiwa kan  jadwal terbit tan tenggelamnya matahari relatif nggak berubah ya. Siang 12 jam, dan malam 12 jam juga.

pic from http://www.geolounge.com

Sebelum saya dateng ke NZ, saya masih bingung-bingung aja kenapa harus ada daylight saving. Tapi setelah mengalami sendiri daylight saving, saya jadi sedikit paham. Karena “paham”nya masih sdikit, jadi sebenernya saya masih banyak “bingung”nya hehehehe…

Daylight saving selalu dimulai waktu spring, menjelang summer, dimana matahari bersinar lebih lama. Dan daylight saving berakhir waktu autumn menjelang winter. Kalo di NZ, daylight saving biasanya dimulai di bulan September dan berakhir di bulan April. Katanya sih, daylight saving dilakukan agar orang-orang bisa menikmati kegiatan outdoor lebih lama di malam hari (karena masih terang). Logika asal-asalan ala saya mungkin kayak gini: Misalnya matahari di musim panas tenggelam jam 8 malam. Kalo nggak ada daylight saving, jadi kita cuma dapet terangnya matahari sampe jam 8 malem aja. Tapi karena jam dimajuin 1 hour, jadinya kita bisa main-main di luar sampe jam 9 malem. Kalo misal kita pulang kerja jam 5 sore, trus pengen ngajak anak main bola di luar, tanpa daylight saving kita cuma punya waktu 3 jam sebelum matahari tenggelam. tapi, dengan daylight saving waktu main bola sama anak jadi lebih lama kann… 😀

Dengan maju atau mundurnya waktu selama satu jam, nggak terus bikin semua jadwal jadi berubah. Semua jadwal langsung otomatis ngikutin jam yang baru. Misalnya, kita pesen tiket pesawat sebelum daylight saving, dan dijadwalkan terbang jam 9 pagi. Walapun kita terbang nya pas daylight saving, dimana jam udah maju sejam, nggak berarti terus jadwal pesawat kita majuin sejam juga dari jam 9 ke jam 10. Jadwal tetep jam 9, tapi dengan “jarum jam” yang udah dimajuin. Intinya kalo jam hp dan laptop kita udah otomatis, percaya aja sama “mereka” dan tetep ikutin jadwal yg udah disusun 🙂

Tapi buat saya, daylight saving time bikin agak kacau jadwal nelpon ke Indonesia. karena perbedaan waktu Indonesia-NZ jadi 6 jam. Bapak Abink n Alia biasanya nyampe rumah jam 5 sore, yang mana di NZ udah jam 11 malem, dan pastinya saya udah ngantuk dan capek. Apalagi kalo nelpon sama mereka kan nggak bisa sebentar..

Jadinya saya seneng banget daylight saving tahun ini udah berakhir. Beda waktu Indo-NZ kembali ke 5 jam, bisa santai-santai dulu di kamar setelah sholat subuh, nggak harus buru-buru siap-siap ke ofis.. Tapi, sedihnya gelapnya jadi lebih cepet, bikin saya nggak bisa tinggal lama-lama di ofis. Saya takut pulang malem sendirian hehehe…

A Reminder: Keep Your Feet on the Ground and Keep Reaching for the Stars

SONY DSC
Be like a duck. Stay calm on the surface, but paddle very hard underneath

“Asal nya dari mana?”  “ambil (kuliah) apa di sini?” dan “Kerja apa/dimana di Indonesia?” mungkin adalah pertanyaan-pertanyaan yang paling sering saya (dan teman-teman lain) terima waktu pertama kali kenalan dengan sesama orang Indonesia (di luar negeri). Waktu saya jawab saya dari Malang dan sedang menyelesaikan sekolah S3 saya di sini (New Zealand), mungkin sebagian besar kenalan baru saya mengira saya adalah dosen/pejabat di Malang. Padahal saya bukan siapa-siapa.Kalau kata Cita Citata “Aku mah apa atuh” 🙂 Aku cuma Ibu Rumah Tangga, bukan pejabat.

Terus, kalo cuma ibu rumah tangga ngapain sekolah sampe s3 segala? Sekolah kan hak semua orang ya.. Dan saya menganggap ini adalah bagian dari rejeki saya dan keluarga. Saya sebut rejeki karena saya masih ‘mau’ dan semangat untuk sekolah lagi, bapak Abink juga mau support saya 100 %, Alia, keluarga lainnya dan keadaan waktu itu juga sangat memudahkan proses pengambilan keputusan untuk saya sekolah lagi.

Kalau ada yang bilang untuk mendidik anak, diperlukan orang tua yang berpendidikan tinggi, sebenernya saya setengah setuju dengan pernyataan itu. Setujunya hanya setengah lho.. Artinya, orang tua yang tidak berpendidikan tinggi pun saya yakin bisa mendidik anaknya dengan baik juga.

Anyway, kalo ngomongin tentang kenapa saya bisa terdampar di New Zealand dan berjalan sampai sejauh ini, pastinya nggak lepas dari kehendak Allah dan dukungan bapak Abink (dan mama, papa, bapak, ibu juga pastinya). Saya awalnya datang ke New Zealand sebagai bagian dari support group-nya bapak Abink yang lagi sekolah s3 di NZ. Waktu itu, saya ibu-ibu muda beranak satu yang niatnya cuma nemenin suami sekalian liburan panjang ke New Zealand (secara NZ adalah salah satu negara impian saya, selain Swiss, Arab/Mekkah dan Jepang).

Selama setahun penuh saya benar-benar menikmati liburan saya di NZ. Jalan-jalan kesana kemari, anter dan nemenin anak sekolah, aktif di sekolah anak, aktif di kegiatan community, sampe ambil kursus gratis early childhood education dan parenting.

Setelah anak udah agak gede dan udah di sapih, saya mula mikir cari kerjaan. Tapi, karena tujuan saya ke NZ untuk support suami, jadi saya harus cari kerjaan yang nggak mengganggu jam belajar dan kerja suami dan nggak bikin anak terbengkalai juga. Waktu itu bapak Abink sekolah sambil nyambi jadi tutor juga. Berarti, saya harus kerja di pagi hari sebelum suami berangkat ke kampus dan malam/sore hari setelah suami pulang kampus, biar bisa gantian di rumah jagain anak.

Jadilah saya nekat ngelamar kerjaan sebagai early morning cleaner di University of Canterbury (UC). Saya bilang nekat karena rumah saya di Lincoln, sedangkan tempat kerja waktu itu di Cristchurch, jaraknya sekitar 18 km. Ditambah lagi, jam kerja nya mulai dari jam 4 pagi sampe jam 7 pagi. Jadi, karena perjalanan Lincoln-UC makan waktu sekitar 20 menit (18km), saya harus berangkat dari rumah jam 3.30 pagi.

Karena sudah diterima kerja dan  restu bapak Abink sudah di tangan, saya nekat aja nyetir sendirian di pagi buta. Gelap dan dingin….  Apalagi waktu winter.. Saya sempat nyetir di tengah hujan salju yang deres banget (winter tahun 2011). Walaupun waktu itu deg-deg an setengah mati, tapi sekarang jadi pengalaman yang nggak bakal terlupakan.

Mungkin karena nggak tega ngeliat saya nyetir sendiri di pagi buta, bapak Abink ngasih saran untuk cari kerja yang deket-deket aja. Jadilah saya tanya-tanya lowongan kerjaan (jadi cleaner juga) di Lincoln University (LU). Akhirnya saya diterima juga kerja di Lincoln Uni, jadi evening cleaner. Jam kerjanya mulai jam 6 sampe jam 9 malem dan deket rumah. Waktu keterima kerja sore, bapak Abink udah nyuruh-nyuruh saya berhenti kerja pagi, tapi saya nya berhasil meyakinkan bahwa saya bakal baik-baik aja kerja di pagi dan sore hari 🙂 Jadilah saya selama 1,5 tahun menjabat sebagai “floor director” (alias tukang vacuum karpet dan nge pel) di UC dan LU hehehhe.. Capek? Pasti.

Trus gimana ceritanya dari cleaner bisa sekolah? Di awal tahun 2012, saya dan bapak Abink ngobrol-ngobrol soal kemungkinan saya sekolah juga. Terus duitnya dari mana? Kebetulan ada sedikit tabungan dari hasil kerja dan saya harus cari bea siswa. Iseng-iseng saya bikin proposal, dan saya kirim-kirim untuk cari pembimbing. Target kami waktu itu memang daftar di LU atau UC, karena udah tau medan dan nggak jauh-jauh dari bapak Abink dan Alia. LU tanggapannya bagus dan cepet banget. Saya diterima di LU, padahal beasiswa belum di tangan. Karena udah cocok dengan pembimbingnya dan saya juga bisa langsung research (tanpa harus ambil mata kuliah), jadilah kita ‘nekat’ daftar sekolah tanpa beasiswa dulu. Dengan harapan, saya akan dapat bea siswa. PD banget ya…..

Setelah saya jadi student, saya lepas kerjaan pagi saya. Jadi waktu itu status saya adalah PhD student sekaligus cleaner di LU 🙂 Setelah jadi student, saya ngelamar-ngelamar kerjaan jadi riset assistant dan diterima. Saya kerja untuk salah satu dosen di LU. Akhirnya saya lepas kerjaan evening cleaner.

Di hari pengumuman bea siswa yang ditunggu-tunggu, ternyata saya nggak dapet beasiswa yang saya mau. Kecewa pasti, tapi kalau dibandingkan dengan pengalaman dan perjuangan para ‘pejuang beasiswa’ lain penolakan beasiswa ini pasti nggak ada apa-apa nya 🙂 Makanya saya salut banget sama para pejuang beasiswa yang tahan banting, yang walaupun ditolak, masih punya semangat bangkit lagi coba cari yang lain. Toh kita nggak pernah tau rejeki kita datangnya dari ‘sumber’ yang mana. Ya kan?

Waktu itu rasanya Allah memang maha baik dan maha tau apa yang saya butuhkan.. Beberapa hari setelah penolakan beasiswa, saya dihubungi oleh salah satu staff di fakultas. Dia bilang, komite beasiswa LU menawarkan jenis bea siswa lain untuk saya. Saya ditawari ‘teaching assistant scholarship’. Beasiswa dari LU, mereka tanggung uang sekolah saya sampai lulus, tapi saya harus kerja jadi teaching assistant. Alhamdulillah kan.. Saya jadi punya penghasilan untuk hidup (walaupun nggak banyak), dan saya jadi punya pengalaman tutoring sekaligus jadi ‘dosen tamu’ untuk beberapa mata kuliah. Salah satu pengalaman tutoring saya pernah saya ceritakan di sini dan di sini.

Waktu pertama kali menginjakkan kaki saya di salah satu ruang kelas di LU, saya ‘cuma’ sebagai cleaner, tapi 2 tahun kemudian, saya masuk ke ruangan itu dan berdiri di depan untuk tutoring dan lecturing. Saya pernah gagal dapat beasiswa, tapi Allah ganti dengan yang lebih baik untuk saya. Bukan untuk sombong atau jumawa, tapi sebagai pengingat bahwa kita nggak pernah tau apa yang Allah siapkan untuk kita di depan.

Nggak ada gunanya sombong dengan posisi kita yang sekarang, padahal kita nggak tau apa yang akan kita hadapi di depan kita. Nggak perlu minder juga dengan posisi kita sekarang, karena dengan usaha, kerja keras dan doa pasti kita bisa mencapai apa yang kita cita-citakan.

Sekarang, setelah liburan panjang di nz berakhir, studi sudah selesai, dan harus kembali ke kampung halaman, saya masih dan selalu berharap Allah menyiapkan sesuatu yang terbaik buat saya (dan keluarga). Apapun itu, yang penting  jangan lupa selalu bersyukur.

Stay humble. Keep your feet on the ground and keep reaching for the stars.

381352_2594466454300_97717243_n
Kaikoura Beach, NZ, 2011

Napak Tilas New Zealand 2014: Christchurch City

Selain jalan-jalan dan nostalgia seputar kampus dan Lincoln town, saya juga sempat bawa Alia dan bapak Abink jalan-jalan ke Christchurch City. Karena kami nggak punya kendaraan, lagi-lagi kami menikmati jalan-jalan di Christchurch city naik bus. Walaupun dengan naik bus kemana-mana bikin perjalanan jadi lama, tapi ALia happy banget naik bus di sini.Kami biasa berangkatnya siang atau menjelang sore setelah semua urusan beres. Kadang Alia sampe ketiduran di bus karena kecapekan 🙂

Jadi selama di CHristchurc, kami kemana aja?

HAGLEY PARK/BOTANICAL GARDEN. Dari Lincoln ke Hagley park bisa ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit naik bus 81. Sebenernya di hari kami ke sana cuacanya lagi mendung ditambah angin dingin. Tapi karena Alia ngotot pengen main di (playgroundnya) Hagley akhirnya kami putuskan untuk ‘mampir sebentar’. Nggak banyak yang bisa dilakukan di Hagley park waktu winter. Bunga-bunga belum ada yang mekar dan kolam untuk main air ditutup karena dingin. Jadi kami kemarin cuma ajak Alia main sebentar di playground, trus jalan aja menyusuri taman, dan numpang lewat di visitor centre yang baru dibuka. Visitor centre nya lumayan keren. Ada cafe, nursery, dan toko souvenirnya juga.

Hagley park ini cukup luas (sekitar 165 hectares) dan dibagi jadi 2 bagian. North dan South Hagley Park. Kalau hari hangat, hagley park ini bakal dipenuhi orang-orang (dengan keluarga) untuk piknik, jalan-jalan, atau sekedar baca buku sambil tidur-tiduran di rumput. Di botanical gardennya sendiri di bagi jadi beberapa sections: playground area, azalea and magnolia garden yang mekar di bulan September, rose garden yang bakal mekar di sekitar bulan Januari, daffodil garden yang indah di bulan September, ada juga tropical garden yang di ruangan khusus dengan suhu dan kelembapan yang diatur sehingga pohon dan bunga tropis bisa hidup di situ. Dulu, setiap ada kesempatan, kami serig sekali jalan-jalan di Hagley park untuk sekedar ngasih makan bebek, ajak Alia main di playground atau nemenin Alia main sepeda keliling taman. Jadi pas kita bertiga balik ke Hagley park lagi, rasanya seneg bangettt….

chc2

CATHEDRAL SQUARE. Sebenernya dulu kami nggak begitu sering ke sini. Apalagi sesudah gempa besar di bulan tahun 2011 dan 2012 lalu bikin gereja Cathedral nya hancur dan belum selesai diperbaiki sampai sekarang.

chc5
in front of the Chalice
chc6
Gereja Cathedral yang masih belum selesai diperbaiki

CHRISTCHURCH GONDOLA. Sebenernya, kami belum pernah naik gondola di Chc sebelum ditutup karena gempa di tahun 2011 itu. Pas Alia dan bapak Abink pulang ke Indonesia tahun lalu pun, gondola nya belum beroperasi. Jadilah kesempatan naik gondola untuk Alia dan bapak Abink baru ada pas jadi turis bulan lau 🙂 Saya sendiri udah naik duluan summer tahun lalu dan udah posting juga di sini. ALia sih seneng naik gondola.. Tapi pas udah sampe atas, dan pas masuk ke time tunnel dia agak ketakutan. Jadi di time tunnel itu kan naik kereta kecildi ruangan yg gelap gitu. Alia sebenernya nggak takut gelap sih, tapi memang ‘boneka-boneka’ atau patung-patung yang di situ agak serem siih.. Jadinya dia agak nggak hepi gitu di dalem time tunnel nya. Untung cuma sebentar 🙂

gond1

gond2

gond3

Jadi cuma ke situ-situ doang selama di Christchurch??? Iyaaaa…. tapi udah lah ya, cukup napak tilas di Christchurchnya. Kita lanjut napak tilas ke kota yang lain lagi: Queenstown!!

Liburan Lebaran Manis

10569209_335094483311903_1045622079_n

Udah sebulan lebih nggak nge-blog, walaupun udah masuk akhir bulan Syawal, saya mau bilang Selamat Lebaran dulu buat semuanya ya… Mohon maaf lahir dan batin dari kami sekeluarga..

Kalau lebaran tahun lalu saya sendirian, tahun ini saya nggak sendiri lagi karena 2 orang kesayangan datang jauh-jauh dari Indonesia untuk berlebaran di New Zealand. Sebenernya tujuan awalnya bukan untuk lebaran siih.. Tapi Bapak Abink lagi ada join research dan tugas lain yang mengharuskan untuk datang ke New Zealand. Karena kebetulan waktu kosongnya pas libur lebaran, jadilah sekalian merayakan lebaran di NZ. Jauh-jauh hari setelah tau bapak ABink bakal ada tugas ke NZ, saya udah nitip pesen kalo saya pengen Alia diajak juga.. Awalnya agak ragu sih ngajak Alia karena kami (saya dan bapak Abink) sama-sama punya agenda kerjaan. Setelah menimbang-nimbang akhirnya diputuskan Alia diajak ke NZ dengan beberapa konsekuensi yang sudah kami sepakati bersama.

Sebulan sebelum berangkat ke NZ, Alia udah mulai itung-itung hari, sambil merencanakan kepingin ketemu siapa aja di NZ (tentunya sahabat-sahabat nya di Kindy dulu). Dan setiap dia minta saya pulang ke Malang, saya selalu bilang “kan Ibu tunggu kk Alia mau ke Lincoln dulu..” dan itu berhasil bikin dia jadi hepi lagi 🙂

Nungguin orang-orang tersayang yang mau dateng memang bener-bener bikin semangat, happy, deg-deg an sekaligus lapar mata dan menguras dompet. Kenapa? Karena sebelum mereka datang saya memang niat mau beli baju-baju hangat buat Alia karena baju2 hangat ALia dulu udah nggak muat dan udah dihibahkan juga. Tapi setiap keluar dari toko anak-anak, adaa aja bonusnya 🙂 Buat bapak ABink gimana? Buat bapak Abink nggak perlu beli karena jaket n thermalnya masih lengkap.. Cuma perlu nambah beli kaos kaki dan kaos tangan aja.

Di hari mereka datang, saya dibantu seorang  teman baik untuk jemput mereka dan kemudian nginep di rumah teman tersebut selama 2 minggu. Nginep di rumah keluarga yang luar biasa baiknya ini bikin kami merasa beruntung punya teman/saudara walaupun jauh dari kampung halaman. Terimakasih ya mas, mbak…. You know who you are!

Hari lebaran di NZ tahun ini diumumkan secara mendadak. Kok iso? DI sore hari tanggal 27 Juli beberapa umat muslim sudah pergi untuk melihat hilal tapi belum terlihat. Jadi diumumkan bahwa lebaran di NZ bakal jatuh di tanggal 29 (bukan 28). Tapi ditengah malam, ternyata pengumuman itu direvisi dan ditetapkan lebaran jatuh tanggal 28. Bahkan ada beberapa teman yang nggak tahu kalau ada revisi pengumuman itu heheheh….

Lebaran1

Kalau tahun-tahun sebelumnya kami sholat ied di kota, tahun ini warga muslim di Lincoln juga mengadakan sholat idulfitri di mushala kampus. Karen kami nggak punya kendaraan, jadi kami memang sudah berniat untuk sholat di kampus aja. selain itu, saya ada janji meeting kerjaan nggak bisa di batalkan di hari itu. Karena kebetulan saya lagi nggak sholat, jadilah saya nitip Alia ke teman-teman Indonesia di sana. Nggak mungkin juga ALia ikutan ke shaf laki-laki sama Bapak Abink 🙂 Lagi-lagi saya bersyukur punya saudara yang baik-baik di sini…

Lebaran tahun ini jadi lebaran yang sangat berkesan buat saya. Setelah lebaran sendirian tahun lalu, dan menahan diri untuk nggak terlalu berharap jalan-jalan di NZ sama ALia dan bapak Abink lagi, akhirnya Allah ngasih kejutan manis di tahun ini. Menyusuri jalan yang dulu pernah kami lewati, menyusuri lapangan belakang rumah kami dulu, menemani Alia main di tempat bermain favoritnya waktu kecil, menghabiskan sore di cafe favorit kami ditemani sepotong salmon bagel dan yang terpenting, mereka ada di sini dan kami merayakan lebaran bersama. Sekeluarga!

Harta Karun dari Kampung Halaman

Camera 360

Heppii deh Sabtu lalu dapet ransum dari Indonesia berupa sambel terasi, bumbu pecel, kopi mocca pake ampas, tepung cendol dan kering tempee… Duluu di tahun 2010 waktu awal-awal kami tinggal di New Zealand kami seriing banget dapet kiriman dari Indonesia. Biasanya mama-papa saya suka ngirimin pernak pernik buat Alia dan bapak-ibu mertua bagian ngirim2 makanan. tapi lama kelamaan semakin jarang dapet kiriman dari Indonesia. Selain karena ongkos kirimnya mahal, juga karena kami sudah bisa beradaptasi dengan kondisi (terutama makanan) di sini. Jadi kangennya nggak pake “banget” atau “tingkat dewa”. Walaupun kalo dapet kiriman juga pasti bakal seneng banget..

Anyway, minggu lalu saya bukan terima paket pos dari Indonesia tapi barang2 itu dibawain sama salah satu teman saya yang lagi jalan-jalan liburan ke New Zealand. Pas dia nawarin mau nitip apa saya seneng banget.. Tapi namanya nitip harus tau diri dong yaa.. Akhirnya kepikir pengen kopi (1 renteng) sambal terasi (1 renteng) dan bumbu pecel (3 bungkus) dari Indonesia. Saya minta tolong mama saya untuk ngirimin ke rumah temen saya itu (kebetulan rumah orang tua temen saya itu deket sama tempat tinggal ortu saya). Dan hari Sabtu kemarin kami ketemuan di Hagley park. Ngobrol-ngobrol di dalem campervan yang mereka sewa sambil ngeliatin mereka beres2 dan bersih-bersih sebelum si campervan dikembalikan sore itu. Begitu mereka ngeluarin titipan dari mama…. ternyataa mama nambahin titipannya. Bukan lagi cuma kopi, sambel dan bumbu pecel, tapi juga teh naga, tepung cendol dan kering tempe kesukaan saya…. Woohooo.. Terimakasih ya mamaaa.. terimakasih juga Midha, Febri dan dd Khansa sudah bawain harta karun titipannya..

20140531_135202 (1)

Ngomong soal titip menitip, saya sudah pernah jadi pihak yang ‘dititip’ dan ‘menitip’. Dan menurut saya wajar aja ya kalau kita tinggal jauh dari keluarga dan kemudian nitip sesuatu untuk dibawa kalau ada teman yang pulang kampung. Tapi jadi nggak wajar kalau titipannya ‘nggak tau diri’. Apalagi baggage allowance untuk tiket ekonomi dari NZ ke Indonesia cuma dapet 20 kg, sepertinya kalau buat student yang mau pulang untuk ambil data, kopernya bakal penuh dengan buku, kuisioner (dan oleh-oleh). Sedangkan untuk student yang mau pulang for good karena udah slesai studinya juga bakal bawa bermacam2 barang dan oleh-oleh tentunya. Kalau ada yang nitip macem-macem bakal ngerepotin kan.. Walaupun sekarang beberapa maskapai ngasih baggage allowance 30 kg per orang, tapi ya tetep aja kalau misal harus ganti pesawat lokal di Indo juga jatah nya cuma 20kg kan.. ALhamdulillah selama ini saya nggak pernah dapet titipan yg banyak banget sampai harus mengorbankan kepentingan saya. Karena saya memang suka packing dari jauh-jauh hari, jadi sudah tau kira2 berapa banyak barang yang harus dibawa. Waktu pulang kemarin saya sudah menetapkan jatah untuk barang-barang pribadi berapa kg dan jatah untuk titipan orang lain berapa kg, dan saya terapkan sistem ‘first-come, first-served’ hahaha 🙂 Jadi mohon maaf kalau ada teman-teman yang mau nitip tapi saya tolak karena jatahnya udah penuh.

Kalau datang ke negara yang bio security nya ketat seperti New Zealand dan Australia, kita sebagai pihak yang dititip juga harus waspada sama apa yang dititipkan ke kita. Menurut saya, nggak salah kok kalau kita buka-buka bungkusan punya orang lain yang akan kita bawa dari Indonesia ke NZ (atau ke negara lain). Karena, nanti di custom, kita lah yang harus tanggung jawab terhadap apa yang ada di bungkusan itu. Pernah ada cerita, seorang teman  nitip dibawakan obat-obatan herbal dari Indonesia. Karena di NZ agak-agak parno terhadap herbal-herbal gitu, terutama kalo mengandung madu, jadilah temen yang dititip tadi harus terhambat di custom bandara NZ selama beberapa saat. Jadi merasa bersalah nggak sih yang nitip itu obat-obatan?

Jadi, apa aja sih yang boleh dibawa dan nggak boleh di bawa masuk New Zealand? Secara umum, segala macam fresh fruit and vegetable nggak boleh keluar dari bandara. Daging sapi juga nggak boleh, kecuali abon. Saya dan teman2 lain sudah sering lolos bawa abon, bumbu pecel, sambel bu Rudi, gudeg kaleng, kering tempe dan kue-kue kering. Tapi ada juga teman yang lagi apes dan abonnya nggak diijinin keluar. Trus, makanan atau obat-obatan yang mengandung madu, atau madu murni juga nggak bisa masuk New Zealand. Kemarin saya bawa tolak angin cair pun diambil sama mereka karena ada madunya 🙂 Trus, barang dari kayu juga ada aturan khusus kalau mau dibawa masuk ke NZ. Biar aman, mending barang-barang yang kita nggak yakin boleh masuk atau nggak, sebaiknya di declair aja, kasih liat ke petugasnya. Kalau kita nggak declair trus pas di scan ternyata ketauan kita bawa barang yang nggak boleh dibawa masuk, dendanya bikin sakit ati looh….

By the way, adakah dari teman-teman yang mau datang ke NZ dalam waktu dekat? Titip bawain my precious Alia sekalian bapaknya dooong 🙂