Academic Trip: Kuala Lumpur – Kuantan (2)

Sehari di Kuala Lumpur kami habiskan cuma untuk jalan-jalan santai di sekitar hotel dan reunian dengan teman lama, ditutup dengan lunch istimewa di Nando’s.

Ambil koper di hotel, langsung nyari taksi untuk lanjut ke bandara. Waktu sopir taksinya tau kalau kami mau ke Kuatan, dia bilang kalau ke Kuantan mending naik mobil aja, paling 3 jam juga nyampe.. hehehehe… Kita emang udah niatin naik pesawat aja ke Kuantannya, walaupun terbangnya cuma 45 menit 🙂

Sampai Kuntan, kami dijemput teman kuliah waktu di Lincoln dulu, yang kebetulan tinggal di Kuantan dan beliau juga jadi panitia conference yang kami hadiri. Setelah makan malam, Langsung diantar ke hotel untuk istirahat. Di Kuantan kami nginap di SwissBell Garden Resort Hotel, tempat diadakannya conference. Sengaja pilih di situ biar deket sama tempat conference dan kebetulan hotelnya punya akses langsung ke pantai. Ditambah lagi playground dan kolam renang anak-anak nya cukup luas, walaupun, bangunan dan interior kamarnya udah keliatan tua..

kuantan 2

Sebenernya saya dan bapak Abink punya jatah masing-masing satu kamar, tapi karena nggak pengen ‘pisah ranjang’ dan Alia masih nggak mungkin bobok beda kamar sama kami, jadi saya minta satu kamar aja buat kami, tapi minta upgrade ke family room 🙂 Sebelum berangkat, urusan upgrade kamar sebenernya udah beres lewat email. Tapi nggak tau kenapa waktu kita check in, kamar yang dijanjikan belum siap. Jadilah kami dikasih dua kamar, dan dijanjikan untuk pindah ke family room besoknya. OK deeehh….

Hari ke-2 di Kuantan, diisi oleh conference seharian. Di acara pembukaan dan sesi hari pertama ini kami sengaja ajak Alia karena nggak pengen absen, tapi saya ngalah, duduk di belakang aja nemenin Alia. Pas break makan siang, kami sengaja nggak makan di tempat conference karena pengen liat-liat kota Kuantan sekalian makan siang di luar aja. Akhirnya pesen taksi, muter kota Kuantan. Kuantan ini kota pantai di Pahang. Feel nya kayak di Banjarmasin. Ya panasnya, ya suasanya, mirip Banjarmasin. Cuma memang kota Banjarmasin keliatan lebih gede dan lebih rame kotanya.

Setelah puter-puter kota, trus diantar sama pak sopir taksi nya ke East Coast Mall, mall terbesar di kuantan untuk makan siang. Cari-cari foodcourt nggak ketemu, akhirnya kami pilih makan di warung ayam aja, mesen 2 paket Nasi Ayam yang ternyata enaaaakk dan lengkap banget. Nasi ayam Hainan ini juga favorit bapak Abink setiap ke Singapore/Malaysia, selain es Bandung 🙂

kuantan7

Setelah makan siang kami langsung balik ke hotel lagi untuk ikut conference sesi selanjutnya. Kebetulan saya dan Bapak Abink kebagian presentasi di sesi terakhir conference hari pertama ini. Saya dan bapak Abink di track yang sama, dan Bapak Abink didaulat sebagai chair person di sesi ini. Karena kami presentasi di sesi yang sama, jadilah Alia harus ikut lagi ke dalam ruangan conference. Begitu kami masuk ruangan semua langsung liat ke Alia dan bilang kalau Alia adalah peserta termuda di conference ini 🙂 Lagi-lagi saya memilihkan tempat duduk paling belakang untuk Alia, dan saya menemani disebelahnya. Untungya lagi conference kit-nya ada highlighter warna-warni yang bisa Alia pakai untuk gambar dan mewarna. Alhamdulillah selama conference dan selama bapak Ibu nya presentasi Alia nggak rewel, dan nggak ribut sama sekali. Malah dia inisiatif untuk foto-fotoin saya pas presentasi 🙂

kuantan3

kuantan8

Hari ke-3 di Kuantan, setelah subuh kami langsung ke pantai.. main-main sebentar trus lanjut sarapan. Tapi ternyata setelah sarapan, Alia nagih ke pantai lagi. Ya udah deh, akhirnya saya nemenin Alia main di pantai dan terpaksa absen di sesi terakhir conference. Sementara bapak Abink lanjut conference, saya nemenin ALia main pasir lanjut berenang di kolam renang. Pantainya menurut saya biasa aja, tapi sepiii dan ombaknya nggak besar, enak buat main. Cuma panasnya itu lohh bikin nggak kuat main lama-lama..

kuantan5

Setelah puas main di pantai, saya cuma main di sekitar hotel berdua Alia karena bapak Abink ada undangan untuk ngasih kuliah tamu di University Malaysia Pahang (UMP). Karena conference sudah slesai dan bosen juga stay di hotel, akhirnya saya ajak Alia nge-mall lagi 😀 dan janjian sama bapak Abink di East coast mall (lagi). Karena udah makan siang di hotel, jadilah kami cuma beli manisan aneka buah buat saya, dan es krim buat Alia.

kuantan 4

Hari ke-3 Malamnya, kami janjian sama beberapa teman kuliah di Lincoln yang sekarang tinggal di Pahang untuk makan malam bareng.

Kuantan1
Photo courtesy of kak Maz

Malam terakhir kami di Kuantan terasa spesial, selain karena dinner pakai menu spesial, tapi juga karena makannya rame-rame sama teman dan tetangga di Lincoln dulu.

Perjalanan ke KL dan Kuantan kali ini walaupun cuma sebentar, memang kami niatkan untuk conference, jalan-jalan keluarga dan menyambung silaturahmi dengan kawan lama. Alhamdulillah semua tercapai 🙂

 

Academic Trip: Kuala Lumpur – Kuantan (1)

Di bulan Oktober lalu, saya dan bapak Abink berkesempatan menghadiri dan berpartisipasi di Internasional conference di Kuantan, Malaysia. Ceritanya, ini conference perpisahan sebelum saya lulus dari Lincoln University. Sengaja cari yang deket rumah karena research budget udah menipis dan nggak kepengen nombok hehehhe..

Academic trip ke Kuantan kali ini agak luar biasa, karena kami bawa anak kecil. Iya, Alia ikut nemenin bapak ibunya conference. Awalnya ragu sih, bawa anak kecil ke conference. Tapi setelah tanya sama panitia dan bikin beberapa kesepakatan sama Alia, akhirnya kami putuskan untuk ajak Alia.

Persiapan pergi kali ini memang agak lebih ribet karena saya dan bapak Abink dibiayai oleh instansi yang berbeda, ditambah Alia yang harus bayar dari kantong pribadi. Proses beli tiket, sinkronisasi penerbangan dan tempat duduk perlu effort sedikit 🙂 tapi ya udah lah ya, karena udah diniatin jadi ya dijalani aja. Toh tinggal angkat telepon dan buka internet 🙂

Karena bawa Alia, kita sengaja nambah 2 hari dari jadwal konferens untuk santai-santai. Sebenernya kami nggak menjadwalkan kemana-mana selama di Kl dan Kuantan kali ini. Niatnya cuma untuk conference sekaligus refreshing bertiga. Jadi ngapain aja kita selama di KL dan Kuantan?

DAY 1. KL – Suria KLCC Mall, Bukit bintang & Mini Reunion

Kami berangkat pakai pesawat pagi dari Surabaya ke KL. Sampai di KL,langsung naik taksi ke Dorsett Regency Kuala Lumpur. Alhamdulillah udah bisa langsung cek in. Abis cek ini, kami langsung cuss jalan-jalan ke sekitar bukit  bintang, cari makan siang.. Males yang ribet-ribet, kami akhirnya makan di Food Republic di dalem Pavilion mall aja. Tau nggak apa yang dicari pertama kali sama bapak Abink? Dia cari es Bandung, rose syrup yang wanginya khas ituu…

Abis makan siang, ada insiden Alia mimisan banyaakkk banget, sampe  agak panik karena mimisannya nggak brenti-brenti. Cuaca hari itu memang panasss banget, ditambah capek dan minum es bandung. Akhirnya istirahat bentar di dalem mall, sambil nyusun rencana selanjutnya. Biar nggak terlalu capek, akhirnya kita putuskan untuk ke toko buku Kinokuniya di Suria KLCC mall siang itu naik GO-KL. GO-KL ini free bus yang berhenti dibeberapa titik. Untuk ke Suria KLCC mall, naik yang  green line. Halte GO-KL ini di sekitar  Pavillion mall aja, jadi kami nggak perlu jalan jauh lagi.

Abis hunting buku, kami jalan-jalan aja di dalem mall, dan minum es Bandung lagi 😀 tapi kami nggak lupa untuk poto-poto narsis ala tourist di petronas twin towers juga.. Sayang hari itu KL ditutupi kabut asap yg cukup tebal 😦

KL3

Selain jalan-jalan santai dan hunting buku, agenda kami hariitu adalah ketemuan sama salah satu temen Bapak Abink sewaktu kuliah di Lincoln dulu. Kami janjian di salah satu spot dekat hotel, di Bukit Bintang. Karena waktu janjian uda makin dekat, kami segera naik GO-KL green line untuk kembali ke Bukit Bintang.

KL1

Setelah makan malam, reunian di lanjut di lobby hotel, karena Alia udah capek dan butuh istirahat 🙂

KL4

DAY 2 KL-

Di hari ke-2 ini, kami rencana jalan-jalan sebentar trus lanjut berangkat naik pesawat ke Kuantan setelah makan siang. Karena nggak begitu jauh dari bukit bintang, kami memutuskan untuk ke Central Market (Pasar Seni) aja. Naik GO-KL lagi, tapi yang purple line.

KL5

Sampe di pasar seni, muter-muter bentar trus lanjut naik ke lantai atas ke 3D Illusion Art Museum. Di 3d museum ini ada sekitar 36 foto plus satu ruangan untuk muter film 3d tentang binatang dimana kita bisa “main” bareng bintang-binatang itu. Lumayan seru sih foto-foto di sana.. Alia juga happy banget..

KL6.jpg

KL7

KL8

KL9

Karena waktu nya udah mepet harus brangkat ke bandara untuk lanjut ke Kuantan, kami segera balik ke bukit bintang dan ngeliat ada Nando’s , resto ayam kesukaan kami waktu di Christchurch. Akhirnya diputuskan makan siang dulu di nandos, ambil koper ke hotel, trus langsung lanjut naik taksi ke bandara. Ada yang udah nggak sabar mau main pasir di pantai Kuantan 🙂

Horse Riding @Rubicon Valley

Di hari terakhir puasa kemarin, saya bersama Teh Neneng, seorang kawan yang datang liburan ke Christchurch dari Palmerston North, pergi ke Rubicon Valley, Springfield. Sekitar 67 km dari Lincoln, bisa ditempuh selama sekitar 1 jam naik mobil.

Tadinya saya nggak pernah kepikiran bakal naik kuda di NZ, secara saya agak penakut dan bukan penyuka binatang. Tapi kemarin waktu ada teman yang ngajakin naik kuda dan kebetulan beliau nggak ada teman jalan, saya jadi mikir-mikir… Apalagi setelah baca-baca reviewnya, liat foto-fotonya dan mereka menjanjikan a calm, relaxing time away from the city” , saya sangat tergoda. Setelah berhari-hari sibuk nyiapin full-draft thesis sekaligus nulis artikel bareng pak Supervisor yang banyak maunya, rasanya saya butuh sedikit refreshing 🙂

Akhirnya, berangkatlah kami dari rumah jam 6 pagi untuk ngejar shuttle ke Springfield jam 7.15. Sampe di Springfield sekitar jam 8.30, dijemput sama Chris, pemilik Rubicon Valley Horse Riding company sekaligus guide kita hari itu.

Setelah ngisi formulir, bayar, dan pilih-pilih helm yang pas di kepala kami, akhirnya kami kenalan dengan Arrow dan Whisper, kuda-kuda yang akan kami tunggangi pagi itu.

Setelah dijelaskan cara-cara mengendalikan kuda, prosedur keamanan, dll, akhirnya berangkatlah kita jalan-jalan naik kuda. Ini pertama kali saya naik kuda dan mengendalikan sendiri, nggak pake dituntun! Dulu waktu kecil kan kalo naik kuda selalu ada tukang kuda nya lari-lari ikutan nuntun kudanya disebelah kita kan 😀

Sebelum memutuskan berangkat, saya sudah cek ramalan cuaca hari itu dan diperkirakan hari bakal cerah. Tapi weatherman kan juga manusia, tempatnya salah dan khilaf.. Bukannya cerah, pagi itu malah dingiin gerimis dan berawan. Tapi setelah sejam kita berkuda, matahari mulai muncul walaupun gunung bersaljunya masih ketutup awan 😦

SONY DSC
Teh Neneng & Chris

Sebagian besar track di Rubicon Valley flat aja, jadi nggak begitu susah buat beginner rider kayak saya. Tapi di 10 menit pertama ada insiden kecil, kuda yang ditunggangi teh Neneng ‘membangkang’ nggak mau dikendalikan.. eh, si Arrow, kuda saya juga ikut-ikutan ngambek. Setelah di handle sama Chris mereka jadi nurut lagi. kata Chris, kita harus lebih tegas sama kudanya, kita yang mengendalikan kuda bukan kita yg dikendalikan.

Waktu itu kita juga dibawa masuk ke salah satu ladang yang penuh domba.. Seruu… jadi berasa penggembala domba.

SONY DSC

SONY DSCSetelah ngelewatin sheep farm, kita dibawa ke track yang lebih menantang, lewat lereng, naik turun curam dan berbatu. Agak takut sih karna si Arrow rasanya mepet pinggir lereng terus. Jadi takut jatuh… Chris bilang, kita harus percaya sama kuda kita.. Pengennya ambil foto di track naik-turun itu, tapi apa daya nggak punya nyali untuk ambil kamera untuk poto-poto, harus konsentrasi jaga keseimbangan dan mengendali kuda (supaya baik jalannya).

Nggak lama setelahnya, kami dibawa ke tempat yang pemangdangnnya Subhanallah indah bangetttt… walalupun mendung masih tetep bikin merinding pemandangannya.

SONY DSC
Beginner rider
SONY DSC
Breathtaking scenery

SONY DSC

SONY DSC

Setelah naik turun bukit, kita melanjutkan perjalanan, lewat hutan pinus, nyebrang sungai, ketemu sapi, domba, kuda, kelinci.. Sampai-sampai nggak terasa sudah 2 jam kami jalan-jalan, dan para kuda harus segera kembali ke kandang.

SONY DSC
Tapal Kuda

Setelah say goodbye ke Arrow dan Whisper, kami diantar Chris kembali ke Springfield village untuk tunggu dijemput Shuttle yang sudah kami pesan sehari sebelumnya. Karena waktu itu masih pukul 12 siang dan Shuttle kami baru dalatang sekitar pukul 4 sore, akhirnya kami jalan-jalan di sekitar Springfield village ke arah Springfield train station. Jalan-jalan nggak tentu arah, yang kami mau cuma menikmati pemandangan, menikmati sejuk dinginnya udara winter sambil cari tempat yang pas untuk sholat Dhuhur dan Ashar.

Ditengah perjalanan, kami lihat beberapa Llama yang sedang bermain main di halaman rumah yang luas…

SONY DSC
Llamas

Nggak berapa jauh, saya ketemu sama satu rumah yang menurut saya cantik banget.. Rumah besar di pedesaan, dikelilingi bukit dan lapangan rumput yang luas. Rumah impian banget….

SONY DSC
Rumah Impian, kayak di negeri dongeng

Akhirnya, setelah jalan sekitar 15 menit, kami berhenti di sekitar train station. Tempatnya sepi, pemandangannya indah, tapi gunung bersaljunya masih tertutup awan. Akhirnya kami memutuskan untuk sholat di situ. Setelah sholat, kami ngobrol-ngobrol santai aja sambil menunggu awan pergi dari puncak gunung bersalju.

SONY DSC
Sholat

SONY DSC

Setelah sholat dan puas memandangi gunung bersalju, kami kembali ke Springfield playground, tempat dimana seharusnya kami menunggu jemputan shuttle. Masih sekitar 1,5 jam lagi shuttle kami datang. Jadi kami menghabiskan waktu bermain ayunan, tidur-tiduran di ayunan besar, mengamati tingkah polah lucu anak-anak yang sedang bermain di playground, sambil berdoa semoga suatu saat nanti saya bisa ke sini lagi bawa Alia naik kuda..

Beberapa tips buat yang pengen berkuda di NZ:

  • Harga berkuda di NZ lumayan mahal, coba sering-sering cek website diskonan, sepert http://www.bookme.co.nz atau grabone.co.nz untuk dapat harga yang lebih murah.
  • Cek ramalan cuaca. Pakai baju nyaman sesuai musim dan cuaca. kalau Winter, jangan lupa pake sarung tangan, kaos kaki yang hangat dan jaket yang hangat.
  • Selama berkuda boleh ambil foto, tapi bakal susah kalau ambil foto pakai HP, karena kebanyakan kita ambil foto selagi kudanya jalan.
  • Ikuti arahan guide, percaya diri, rileks dan nikmati perjalanan.

Japan Trip: Fujiko F. Fujio Museum, Brought Back my Childhood Memories

DSC06593

Siapa sih yang nggak kenal Doraemon? Hampir semua orang pasti tau Doraemon ya.. Apalagi anak ’90an udah hampir pasti pernah nonton serialnya di TV atau baca komiknya. Saya buka pembaca komik. Saya nggak pernah baca komik; kecuali komik doraemon. Sebagai penggemar setia Doraemon, jalan-jalan ke Fujiko F. Fujio museum jadi salah satu agenda yang saya tunggu-tunggu waktu berkunjung ke Jepang bulan November lalu.

Walaupun tau meseum nya di luar kota Tokyo, saya tetep ngotot untuk pergi kesana. Setelah browsing sana-sini, ternyata tiket masuk museumnya cuma dijual di Lawson minimarket, dan bisa dibeli lewat mesin pejual tiket (lupa nama mesinnya). Saya dan bapak Abink beli tiket ke Lawson deket hotel, 2 hari sebelum hari kunjungan ke Museum. Di Lawson kami coba-coba beli tiket lewat mesin, tapi ternyata gagal karena kami sama sekali nggak ngerti tulisan kanji dan di mesin nggak ada option bahasa inggrisnya.

Akhirnya sok PD nanya ke mbak-mbak kasirnya pake bahasa inggris. Ternyataaa mbak kasirnya nggak bisa bahasa inggris. Saya ngomong inggris, dia ngomong jepang. Mana nyambuunggg…. 😦

Bahkan waktu saya sebut Fujiko F Fujio, dia juga masih nggak ngerti apa maksud saya.. Saya bilang lagi “doraemon”, dia juga masih nggak ngeh juga. Akhirnya saya yang hampir putus asa tiba-tiba punya ide untuk bilang “doremon, kawasaki” dengan logat yang saya buat sebisa mungkin mirip logat Jepang. Dan ternyata berhasiil… mbak-mbak kasirnya akhirnya bantuin saya untuk beli tiket museum lewat mesin tiketnya. Tapi, pas harus masukin nama, di layar cuma bisa di-input pake huruf kanji. Ya mene ketehek ya gimana cara nulis nama saya pake huruf kanji. Akhirnya saya tulis di kertas nama saya pake huruf latin dan mbak nya nerjemahin pake huruf kanji. Nggak tau deh, yang ditulis bener-bener nama saya atau nama dia sendiri hehehhe 😀 Akhirnya setelah melewati perjuangan panjang karena keterbatasan bahasa, tiket museum impian pun bisa sampai di tangan saya.

DSC06598

Waktu beli tiket museumnya, kita harus pilih jam kunjungannya. Pilihannya jam 10 pagi, jam 12, jam 2 siang  atau jam 3 sore. Jam kunjungannya akan tercetak di tiket dan harus datang tepat waktu. Keterlambatan bisa ditolerir sampai 30 menit. Kalau datang 30 menit setelah jam yang tertera di tiket bakal nggak boleh masuk dan tiketnya hangus.

Waktu itu saya pilih jam 2 siang karena di hari itu kami harus pindah hotel dulu; dan biar nggak terlalu terburu-buru berangkatnya secara perjalanan dari Tokyo ke Kawasaki makan waktu cukup lama. Dari Shinjuku station, naik kereta ke Noborito station. Trus bisa langsung nunggu shuttle bus di depan Noborito station.

Karena saya perginya pas weekend jadi rame banget yang mau main ke museum. Tapi nggak usah khawatir bakal nggak kebagian bis, karena shuttle bisnya datang setiap 15 menit sekali. Busnya pun bukan bus biasa, tapi bus bergambar doraemon dan ‘kawan-kawan’nya. Sampe pernak-pernik dalem bisnya pun bertema tokoh kartun Jepang. Cute!

Oiya, shuttle bus-nya nggak gratis ya 🙂 kita bisa bayar pake Suica/pasmo card atau bayar cash. Kalo nggak salah untuk dewasa tarifnya sekitar 200 yen.

DSC06586 DSC06591 DSC06596Sampe di museum, kita masih harus ngantri lagi dan dijelaskan kalo nggak boleh ambil foto selama di dalem museum. Foto-foto baru boleh di arena bermain, taman dan kantin. Padahal dalemnya museum menarik banget loh.. kita bisa liat komik pertama yang di bikin pak Fujiko F. Fujio, trus baca-baca lagi sejarah Doraemon, dari waktu Doraemon masih berwarna kuning (eh, atau merah ya? *lupa). Di sana juga bisa liat-liat naskah asli cerita-cerita doraemon yang sangat familiar, liat meja kerjanya pak Fujiko F. Fujio, dengar kisah hidupnya, dll. Sayang, karena rame banget, jadi kurang ‘khusyuk’ jalan-jalan di dalem museumnya. *berarti suatu saat harus balik ke Jepang lagi nih!

Di Fujiko F. Fujio museum, pengunjung dipinjami alat semacam HT/radio. Setiap koleksi di dalem museum diberi nomor, dan kita tinggal pencet nomer di radio dan bisa dengar sejarah/cerita tentang koleksi-koleski di museum itu. Bagi yang males baca, atau nggak bisa nyampe depan karena kehalangan orang-orang bisa liat-liat aja sambil denger penjelasannya dari radio.

Lumayan puas liat-liat di dalem museum, saya nge rengek-rengek minta makan ke bapak Abink. Tapi ternyata restaurant nya rameeee dan harus ambil nomer antrian. Karena nggak tahan laper, akhirnya kami jajan dorayaki eskrim (yang enak bangeeett) dan memory bread. Saking lapernya enaknya dorayaki eskrim, saya dan bapak Abink sampe abis 2 masing-masing!

IMG_1772

DSC06603
Dorami Cookie dan Memory Bread. Kalo makan memory bread bakal inget perkalian-perkalian yang di tulis di roti nya 🙂

Udah agak kenyang, kami jalan-jalan di sekitar taman. Sayang karena rame pake banget, kami nggak bisa foto-foto dengan leluasa. beberapa spot foto yang bagus antriannya mengular…

doraemon2
Nggak ada Alia, Dorami pun jadi :p
doraemon3
Akhirnya nonton film ‘Stand by Me’ di pesawat dari Tokyo ke Singapore

doraemon1 doraemon4Capek jalan-jalan di taman akhirnya kami balik ke Tokyo naik shuttle bus lagi, sambung kereta dari Noborito station ke Shinjuku, lanjut ke Kanda station.

Karena laper banget belom makan dari siang (2 bungkus dorayaki es krim tadi nggak diitung ‘makan’ ya.. itu ‘cuma’ snack :p ), kami cari makanan seadanya dan sedapet nya aja.. Di jalan dari kanda Station menuju hotel, kami mampir warung yang keliatannya oke. Ternyata di situ pesennya (lagi-lagi) harus pake mesin, dan nggak ada pilihan bahasa inggrisnya 😦 Tau kami kebingungan, salah satu karyawan restauran langsung menghampiri kami. Untungnya, saya udah tau apa bahasa Jepangnya pork (thanks to mbak Tya). Karena kami nggak makan pork, jadi kami bilang “no butaniku/no pork”, dengan logat agak kejepang-jepangan. Pas saya berusaha ngomong dengan logat Jepang, eh, si mas karyawannya jawab pake bahasa Inggris aja dong! Yaelah, tau gitu langsung aja tadi ngomong inggris yaa.. Akhirnya kami berhasil membawa pulang dua porsi makanan jepang ditambah bonus green tea dingin gratis diminum di tempat 🙂

IMG_1804
Pilih-pilih menu
IMG_1806
Minum green tea dingin setelah perjalanan panjang. Nikmaattt….

Sampe di hotel, makan berdua sambil cerita2 soal tontonan-tontonan masa kecil saya dan bapak Abink. Termasuk Doraemon, candy-candy, conan, satria baja hitam, dll. Kunjungan ke Fujiko F. Fujio hari itu bener-bener bisa bikin saya senyum terus sepanjang hari. Mungkin malam itu saya tidur-pun sambil senyum 🙂

Japan Trip – Asakusa dan Secangkir Matcha

Cerita jalan-jalan ke Jepang masuk ke babak kedua (babak pertama bisa dibaca di sini). Setelah sampai di Akihabara dan turun di Akihabara station, Pak ABink langsung menuju Remm Akihabara yang jarak nya tidak lebih dari 100m dari station. Celakanya Bu ABink masih ditempat conference dan tidak ninggal kunci bahkan tidak bilang kamar nya dimana. Tapi Pak Abink nekat aja ke resepsionis dan bilang kalo istri sudah check in sekitar dua hari sebelumnya. Jadi bole ndak kalo Pak ABink minta kunci kamar. Setelah sedikit introgasi dan mengecek paspor dan ID lainnya akhirnya dengan sukses Pak ABink mendapatkan kunci kamar Bu Abink.

Setelah masuk kamar, Pak Abink langsung konek internet dan kirim message ke Bu Abink kalo sudah masuk kamar dengan sukses. Pesan dibalas disuruh nunggu sampai jam 1, alasannya bu Abink masi mau menikmati bento lezat yang disedikan panitia sebagai suguhan makan siang di konferens. Alhasil dikarenakan masih sekitar 1.5 jam sebelum Bu ABink datang, maka Pak ABink memutuskan untuk turun ke bawah dan berjalan-jalan disekitar Akihabara.

Akihabara
Akihabara

Lebih kurang 1,5 jam menunggu akhirnya yang ditunggu datang juga. Setelah istirahat beberapa menit Pak dan Bu ABink memutuskan untuk berjalan-jalan keluar. Mumpung masih terang. FYI pada musim gugur matahari di Jepang tenggelam sekitar pukul 5 sore. Hasil diskusi memutuskan rute yang diambil adalah ke Asakusa yang ada di distrik Taito. Di Asakusa ada sebuah kuil Budha yang disebut Senso-Ji Budhist Temple. Dari Akihabara ke Asakusa lumayan gampang tinggal naik Tsukuba Express turun di Asakusa Train Station dilanjutkan berjalan kaki beberapa ratus meter ke Senso-Ji Temple. Disepanjang jalan dari Asakusa Station ke Senso-Ji Temple banyak hal-hal menarik yang dapat dilihat. Mulai dari orang-orang yang menawarkan jasa untuk mencoba Rickshaw (Becak khas Jepang), penjual makanan khas Jepang seperti Takoyaki hingga pedagang-pedagang souvenir. Karena belum makan siang, Pak ABink nodong Bu Abink untuk traktir Takoyaki. Rasanya sedikit beda dengan Takoyaki yang di jual di Malang. Lebih mantab yang dijual di Jepang heheheh

Warung Takoyaki
Warung Takoyaki

Setelah kenyang Pak dan Bu ABink melanjutkan wisata ke Senso-JI Temple. Banyak tempat menarik di Senso-JI Temple yang dapat direkam baik dalam memori otak maupun memori kamera. Gambar-gambar berikut akan mewakili memori otak dari Pak dan Bu ABink

2014-11-13 14.10.12 2014-11-13 14.17.12 2014-11-13 14.20.49

Senso-Ji Temple
Senso-Ji Temple

2014-11-13 14.21.47

Puas berfoto dan berkeliling Senso-Ji Temple, Pak dan BU Abink berjalan kembali ke Asakusa Train Station. Dengan pertimbangan mendapatkan pemandangan yang lain, maka rute yang diambil bukan rute yang sama dengan rute datang. Sepanjang perjalanan ke Asakusa Train Station banyak pedagang souvenir yang menjajakan dagangannya. Snack, cookies hingga hiasan-hiasang khas Jepang banyak dijual didaerah tersebut. Salah satu objek huntingan dari KeluargaHussein adalah Tokyo Banana. Tapi sayang sipenjual tidak memiliki Tokyo Banana

Kaki Lima
Kaki Lima

Puas melihat-lihat penjual makanan, kami singgah ke sebuah warung yang menawarkan Matcha, teh hijau khas Jepang. Selama di Jepang, si Ibu benar-benar tergila-gila dengan Matcha. Maka si Ibu langsung memesan secangkin besar Matcha dan sepotong mochi yang di atas nya di beri kacang merah. Pak ABink yang masih kenyang dengan Takoyaki cuma minta icip-icip aja. Tidak lama si Matcha datang. Bentuk nya benar-benar menarik seperti green tea latte yang biasa di order di cafe langganan. Menyesal Pak Abink ga pesen sendiri.

2014-11-13 14.32.14

Tapi tunggu dulu, curiga nih Pak ABink kok Matcha di kasi gula-gula?. Si Ibu yang minum cuma senyum senyum saja dan memaksa Pak ABink untuk mencoba nya. Melihat si Ibu dengan nikmat meminum Matcha nya Pak ABink pun ingin icip-icip. Ternyata rasanya…..wuaduhh….luar biasa kuat rasanya dan pahit. Maklum tidak diberi gula. Beda dengan Green Tea Latte yang biasa di order heheheh.

2014-11-13 14.33.36 2014-11-13 14.35.21

Lihat lah perbedaan ekspresi antara si penggemar Matcha dan penggemar green tea latte. Setelah puas menikmati secangkir Matcha dan sepotong mochi, Pak dan Bu ABink langsung kembali ke Train Station untuk lanjut ke Shibuya untuk melihat secara langsung Shibuya Crossing yang tersohor dan juga Patung Hachiko yang melegenda.

Napak Tilas New Zealand 2014: Invercargill dan Bluff

Masih mau cerita tentang liburan kami awal Agustus lalu.. Maap kalo udah pada bosen 🙂  Setelah sehari di Queenstown, kami lanjut nyetir ke Invercargill, kota paling selatan di NZ. Sebenernya dari dulu bapak Abink udah pengen banget ke Invercargill, tapi belum ada kesempatannya dan saya dulu suka nggak mau di ajak ke sana. Sekarang saatnya untuk diwujudkan keinginannya menjelajah New Zealand sampai ke ujung selatan. Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam aja dari Queenstown. Pemandangan sepanjang jalan nya mashaAllah baguuss banget! Diawali dengan menyusuri danau Wakatipu, terus lewat padang rumput yang kadang kosong, kadang penuh domba, sapi dan kijang, trus lewat kota-kota kecil yang cantik.. Cakep deh ! Sayangnya, sepanjang perjalanan hujan dan gerimis mengundang..

rainbow

Menyusuri Lake Wakatipu
Menyusuri Lake Wakatipu
Kingston
Kingston
Kingston (Kesalahan bukan pada mata anda. Ini fotonya emang burem :p
Kingston (Kesalahan bukan pada mata anda. Ini fotonya emang burem )

Invercargill.  Kami sampai di Invercargill sudah sore dan hari (masih) hujan.. jadi kami sengaja mampir ke supermarket untuk belanja cemilan dan sedikit bahan-bahan untuk masak makan malam. Untungnya di Invercargill kami nginepnya di motel, jadi bisa masak dan nggak perlu keluar cari makan malem. Oiya sebelum ke motel, kami sempet mampir ke warehouse juga beli boots murah meriah untuk saya dan ALia karena sepatu kami nggak tahan air jadi kaos kaki ikutan basah dan jadi dingin banget.. Karena sepatu saya sobek dikit (duh, kesian amat ya) terpaksa saya buang sepatu kesayangan yang udah menemani selama 3 tahun 😦 tapi sekarang udah ada gantinya sih, hasil hunting diskonan sehari hahaha..

Motel di Invercargill ini bisa dibilang motel terbaik yang pernah kami (saya) tinggali (walaupun cuma semalem ya). Kalau dari bangunannya memang nggak terlihat istimewa, ya standar bangunan motel biasa.. Tapi, pas nyampe di reception, ibu receptionisnya super ramah, trus kamar nya luuuaaaassss banget, ada spa bath di kamar, dan yang pasti harganya murah 🙂 Saking saya terpesonanya sama pelayanan motel ini, saya bela-belain foto di depan motelnya loh, biar jadi kenang-kenangan hahaha 😀

invercargill2

invercargill1
Invercargill water towerS

Setelah check out pagi-pagi, kami langsung menuju Invercargill water tower dan lanjut ke Bluff, ujung selatan New Zealand. Di Bluff kami cuma poto-poto aja, trus jalan di walking tracknya, dan kunjungan kami ke Bluff ditutup dengan menikmati brunch di cafe pinggir laut 🙂 sayangnya pas kami ke sana lagi nggak musim oyster, jadi cafe-nya nggak sedia oyster.

bluff

bluff2
Bluff Walking Track
bluff4
Bluff Walking Track
bluff3
Bluff Cafe

Abis dari Bluff kami langsung balik ke Queenstown lagi untuk pulang ke Christchurch naik bis besok paginya. Ini beberapa foto yang kami ambil selama perjalanan Queenstown-Invercargill/Bluff-Queenstown-Christchurch.

Camera 360

Camera 360
Nggak peduli rumputnya hijau atau udah cokelat, para domba tetep makan dengan lahap. Itu yang bintik2 putih di tengah2 itu domba looh..
Camera 360
Domba-domba yang lagi digiring
SInggah sebentar di Wanaka
Wanaka

Napak Tilas New Zealand 2014: Lake Tekapo & Queenstown

Bisa dibilang lake Tekapo adalah tempat wisata yang paling sering kami kunjungi selama tinggal di NZ. Selama 3.5 tahun di New Zealand, kami sudah 4 kali ke sana di 3 musim yang berbeda (winter, spring dan autumn). Pas Alia dan bapak Abink ke NZ kemaren, kami merencanakan untuk liburan ke luar kota Christchurch untuk 2-3 hari waktu weekend. Sebenernya bapak Abink pengen ke North Island ke Rotorua & Matamata atau ke Wellington. Tapi karena saya cari tiketnya agak mepet, jadi harga tiket pesawat udah mahal aja.. Jadi kita cari alternative liburan yang sesuai budget. Setelah mempertimbangkan waktu, tenaga dan ketebalan dompet, akhirnya diputuskan ke Queenstown (lewat lake Tekapo) dan Invercargill aja.

Liburan kali ini kami sewa mobil dari Christchurch ke Queenstown trus pulangnya naik bis. ALesannya sih biar ngirit (secara tiket pesawat kok ya pas mahal bener) dan sekalian biar bisa brenti-brenti di jalan untuk nostalgia dan poto-poto. Jadi, monggo dinikmati foto-foto amatirnya….

Perjalanan dari Christchurch Lincoln ke Lake Tekapo perlu waktu sekitar 3 jam. Karena kami berangkat pagi dan bapak Abink nggak sempat ngopi, jadi kami berhenti dulu untuk beli kopi di salah satu cafe di daerah Dunsandel. Take away aja….

dunsandel cafe
Dunsandel cafe

Sekitar satu setengah jam dari Dunsandel, kami berhenti lagi di Geraldine. Salah satu kota kecil yang cantik, dan setiap jalan ke Tekapo kami selalu mampir ke kota ini untuk istirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Tekapo.

geraldine
Geraldine Museum

Lake Tekapo. Karena ini kelima kalinya kami ke Lake Tekapo, jadi kami sepakat untuk nggak berlama-lama di sini. Di Lake tekapo, kami cuma berhenti sebentar untuk foto-foto di depan danau, di depan patung anjing dan di depan gereja kecil yang banyak dicetak di kartu pos itu..  Sayang kami fotonya cuma pakai kamera HP jadi hasilnya nggak begitu bagus. Padahal bapak Abink bawa “kamera beneran” lohh.. tapi nggak tau kenapa selama liburan kami nggak pake kameranya jadinya hasil fotonya nggak maksimal (halahh, padahal belum tentu bagus juga kalo pake kamera beneran 😀 hahaha..) Oiya, cerita tentang lake Tekapo juga sudah pernah di posting di sini , di sini dan di sini yaa..

tekapo5
Bapak Abink n Kk ALia (yang banyak gaya) di depan Lake Tekapo
tekapo8
Lake Tekapo
tekapo4
Lake Tekapo dan Church of The Good Shepherd – foto ini diambil bapak Abink sekitar summer 2 tahun lalu- kemarin nggak dapet foto yg bagus di tekapo 😦

Biasanya, kalo udah sampe Tekapo, kami selalu menyempatkan untuk naik ke Mt John untuk liat Lake Tekapo dari atas gunung. Tapi kali ini kami memutuskan nggak naik ke Mt John karena ngejar sholat Ashar di Queenstown. Tapi, kita berhenti makan siang dulu di lake Pukaki sekitar 1 jam dari lake Tekapo. Makan siang kami hari itu smoked salmon sandwiches pake sambel ABC 🙂 yumm…

Sampe Queenstown udah sore, dan agak gerimis. Jadilah sore itu kami cuma keluar cari makan malam sebentar di tengah kota terus balik ke Hotel untuk istirahat.

Queenstown

Ini keempat kali nya kami ke Queenstown, tapi kami masih tetap excited karena kami mencoba ‘atraksi’ yang berbeda. Liburan ke Queenstown kali ini, selain jalan-jalan di sekitar ‘queenstown mall’, kami pengen coba cruising di lake Wakatipu. Berbekal tiket diskonan, kami mengarungi lake Wakatipu selama 1.5 jam. Sayangnya, hari itu hujan deras, jadi indahnya lake Wakatipu nggak keliatan maksimal.

Lake Wakatipu
Lake Wakatipu
wakatipu1
Cruising Lake Wakatipu
queenstown4
Quuenstown Mall in the morning
Camera 360
Hotel tempat kami menginap, persis di depan Lake Wakatipu

Selain cruising di lake Wakatipu dan jalan-jalan di sekitar kota, kami juga sempat coba masuk ke minus5 icebar. Walaupun namanya minus5, tapi di dalem ruangannya jauuuuhhh lebih dingin dari minus 5. Makanya mereka juga menyediakan jaket, sarung tangan bahkan topi juga kalu mau pake topi. Tiket masuk yang saya beli sudah termasuk complimentary drink. Kebetulan saya beli family pass (lagi diskon banyak banget) dapet 2 cocktail dan 2 mocktail. Karena kami nggak minum alkohol sama sekali jadi kami bertiga pesen mocktail semua. Di sini, semuanya terbuat dari es. Mulai dari kursi, hiasan-hiasan sampai gelasnyapun terbuat dari es. Yang paling seneng di icebar ini tentu aja Alia.. Dari sehari sebelumnya, dia udah nggak sabar pengen liat gelas es dan pengen jilat-jilat gelas esnya, pengen duduk di kursi es juga katanya.. Overall, pengalaman di ice bar ini lumayan lah, tapi kalau ditanya mau ke sana lagi atau enggak, mungkin saya akan bilang enggak 🙂 Harga tiketnya (kalo nggak diskon) menurut saya agak overpriced juga. Tiket masuknya aja dihargai $20 atau $25 untuk entry + mocktail atau $30 untuk entry + cocktail. Mahal kaan… Tapi kadang di website diskonan kayak grabone atau bookme suka ada diskonan kok.

Camera 360
Kami cuma bertahan sekitar 15-20 menit aja di dalam icebar, karena kedinginan… Malam itu, kami memutuskan untuk makan malam dipinggir Lake Wakatipu aja, sekaligus menikmati malam terakhir di Queenstown.

queenstown1
Lake Wakatipu
Pavlova for desert
Big Pavlova. Yuummm….
Lagi di gunung tapi makannya seafood :)
Lagi di gunung tapi makannya seafood 🙂

Walaupun udah kenyang, saya nggak bisa tahan untuk nggak mampir jajan hot cookies-nya Cookie Time. White chocolate and macadamia cookies-nya yummyyy…… Setelah bungkus beberapa hot cookies, kami langsung balik ke hotel karena Alia udah rewel pengen istirahat dan udara malam itu dingiiiinnn banget. Lagipula, besok pagi kami harus melanjutkan perjalanan napak tilas New Zealand 2014 ini 😀

Napak Tilas New Zealand 2014: Christchurch City

Selain jalan-jalan dan nostalgia seputar kampus dan Lincoln town, saya juga sempat bawa Alia dan bapak Abink jalan-jalan ke Christchurch City. Karena kami nggak punya kendaraan, lagi-lagi kami menikmati jalan-jalan di Christchurch city naik bus. Walaupun dengan naik bus kemana-mana bikin perjalanan jadi lama, tapi ALia happy banget naik bus di sini.Kami biasa berangkatnya siang atau menjelang sore setelah semua urusan beres. Kadang Alia sampe ketiduran di bus karena kecapekan 🙂

Jadi selama di CHristchurc, kami kemana aja?

HAGLEY PARK/BOTANICAL GARDEN. Dari Lincoln ke Hagley park bisa ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit naik bus 81. Sebenernya di hari kami ke sana cuacanya lagi mendung ditambah angin dingin. Tapi karena Alia ngotot pengen main di (playgroundnya) Hagley akhirnya kami putuskan untuk ‘mampir sebentar’. Nggak banyak yang bisa dilakukan di Hagley park waktu winter. Bunga-bunga belum ada yang mekar dan kolam untuk main air ditutup karena dingin. Jadi kami kemarin cuma ajak Alia main sebentar di playground, trus jalan aja menyusuri taman, dan numpang lewat di visitor centre yang baru dibuka. Visitor centre nya lumayan keren. Ada cafe, nursery, dan toko souvenirnya juga.

Hagley park ini cukup luas (sekitar 165 hectares) dan dibagi jadi 2 bagian. North dan South Hagley Park. Kalau hari hangat, hagley park ini bakal dipenuhi orang-orang (dengan keluarga) untuk piknik, jalan-jalan, atau sekedar baca buku sambil tidur-tiduran di rumput. Di botanical gardennya sendiri di bagi jadi beberapa sections: playground area, azalea and magnolia garden yang mekar di bulan September, rose garden yang bakal mekar di sekitar bulan Januari, daffodil garden yang indah di bulan September, ada juga tropical garden yang di ruangan khusus dengan suhu dan kelembapan yang diatur sehingga pohon dan bunga tropis bisa hidup di situ. Dulu, setiap ada kesempatan, kami serig sekali jalan-jalan di Hagley park untuk sekedar ngasih makan bebek, ajak Alia main di playground atau nemenin Alia main sepeda keliling taman. Jadi pas kita bertiga balik ke Hagley park lagi, rasanya seneg bangettt….

chc2

CATHEDRAL SQUARE. Sebenernya dulu kami nggak begitu sering ke sini. Apalagi sesudah gempa besar di bulan tahun 2011 dan 2012 lalu bikin gereja Cathedral nya hancur dan belum selesai diperbaiki sampai sekarang.

chc5
in front of the Chalice
chc6
Gereja Cathedral yang masih belum selesai diperbaiki

CHRISTCHURCH GONDOLA. Sebenernya, kami belum pernah naik gondola di Chc sebelum ditutup karena gempa di tahun 2011 itu. Pas Alia dan bapak Abink pulang ke Indonesia tahun lalu pun, gondola nya belum beroperasi. Jadilah kesempatan naik gondola untuk Alia dan bapak Abink baru ada pas jadi turis bulan lau 🙂 Saya sendiri udah naik duluan summer tahun lalu dan udah posting juga di sini. ALia sih seneng naik gondola.. Tapi pas udah sampe atas, dan pas masuk ke time tunnel dia agak ketakutan. Jadi di time tunnel itu kan naik kereta kecildi ruangan yg gelap gitu. Alia sebenernya nggak takut gelap sih, tapi memang ‘boneka-boneka’ atau patung-patung yang di situ agak serem siih.. Jadinya dia agak nggak hepi gitu di dalem time tunnel nya. Untung cuma sebentar 🙂

gond1

gond2

gond3

Jadi cuma ke situ-situ doang selama di Christchurch??? Iyaaaa…. tapi udah lah ya, cukup napak tilas di Christchurchnya. Kita lanjut napak tilas ke kota yang lain lagi: Queenstown!!

Napak Tilas New Zealand 2014: Lincoln

Waktu pertama kali ketemu Alia dan Bapak ABink di Christchurch Airport, rasanya kayak mimpi yang jadi kenyataan #lebay. Tapi beneran loh, karena waktu bapak Abink harus kembali kerja di Indonesia dan saya balik ke New Zealand tanpa mereka, rasanya agak-agak berlebihan untuk minta Alia dan bapak Abink untuk balik ke New Zealand, walaupun cuma untuk sekedar liburan. Selain karena agak susah ngatur waktunya, tapi alesan utama sih karena budget liburan ke New Zealand itu ‘lumayan banget’ buat kami 🙂

Tapi, rejeki itu memang sudah ada yang atur ya.. di saat saya menyibukkan diri dan menguatkan hati untuk kembali ke NZ tanpa mereka, ada kabar kalau bapak ABink bakal ada kerjaan ke New Zealand selama 2 minggu. Tapi, pertanyaan selanjutnya ‘apa Alia mau diajak juga?’ Lagi-lagi kami galau karena jadwal keberangkatan bapak ABink ke sini nggak bertepatan dengan liburan semester di sini, yang artinya saya masih harus kerja dan bapak Abink juga bakal punya jadwal meeting yang lumayan padat. Tapi, setelah sepakat untuk nemenin Alia nya gantian jadilah diputuskan untuk bawa Alia, lumayan ketemu 2 minggu melepas kangen 🙂

Trus apa aja kegiatan kami selama 2 minggu di NZ? DI hari pertama mereka datang, langsung jalan-jalan keliling kampus, nostalgia untuk bapak Abink dan Alia. Lewat lapangan belakang rumah kami dulu, library, office bapak dulu, dan jalan-jalan seputar kampus yang sering kami lewati dulu.

Ivey Hall -Lincoln University Library
Ivey Hall -Lincoln University Library
Bug hotel
Bug hotel di kampus
Lincoln University Bus Stop
Lincoln University Bus Stop

Selain jalan-jalan di sekitar kampus, kami juga sempat jalan-jalan ke lincoln town (sekitar 2km dari kampus). Sempat ajak Alia masuk ke Lincoln Library yang baru di renovasi. ALia samapi nggak percaya library nya jadi bagus.. Dulu, waktu rumah kami masih di depan library, saya sering banget ajak Alia ke library. Setiap seminggu sekali saya juga biasa bawa Alia ikutan toddler time di library. Jadi Lincoln library lumayan punya kenangan buat Alia..

(new) Lincoln Library
(new) Lincoln Library

Setelah dari library, kami nyebrang ke cafe favorit untuk menikmati chai latte (dan fluffy untuk Alia). Ngomong-ngomong soal fluffy, biasanya di sini fluffy selalu di sajikan dengan marshmallow. Tapi dari dulu, kami udah kasih tau Alia kalau marhmallow yang di cafe-cafe itu kita nggak tau apakah gelatine nya halal atau nggak. Kadang gelatine juga dibuat dari babi. Jadi, dari dulu Alia nggak pernah makan marshmallow di new zealand. Bukan karena semua marshmallow di sini nggak hahal, tapi karena saya males cari tau merek marshmallow mana yang halal. Pernah sih sekali tanpa sengaja saya nemu postingan orang jual marshmallow halal di trade me, dan saya beli buat Alia. Dan selama beberapa tahun di NZ, Alia cuma makan marhsmallow sekali itu aja 🙂

Nah beberapa bulan lau saya baru tau kalo ternyata  ada juga marshmallow halal yang di jual di supermarket. Waktu alia ke sini kemaren, saya beli sekantong marshmallow untuk Alia. Yang pertama kali keluar dari mulut ALia waktu tau saya beliin marshmallow “Ini marshmallow nya halal nggak bu?” dan kemudian terjadilah percakapan kecil soal makanan:

ALia : Ini marshmallownya halal ya bu?

Ibu : Iya kak, ini halal.

Alia : Kok ibu tau?

Ibu : Ibu udah tanya ke pabriknya 🙂 (walaupun sebenrnya bukan saya yang nanya sih)

Alia : Kalau orang muslim itu nggak makan pork ya bu?

Ibu : Iya kak. Tapi kita boleh makan ayam, daging sapi, kambing, ikan…

Alia : Kalo Jojo (sahabat ALia waktu di NZ dulu) sukanya makan salami. Itu kan ada pork nya. Tapi nggak apa-apa kalo Jojo kan bukan muslim

Ibu : ALia mau makan salami? (ibu yang iseng … boleh nggak sih iseng nanya kayak gini ke anak?)

Alia : Nggak mau…. ALia kan muslim.. terus, pork kan kotor. Alia nggak mau ah kotor-kotor..

Ibu : (fiiuuh… slamet.. slamet… )

chai latte & fluffy
chai latte & fluffy

Puas ngobrol-ngobrol, sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk foto-foto di lincoln town bus stop yang ada papan tulisan Lincoln nya. Selama ini belum pernah foto di situ. Sekarang karena merasa jadi turis merasa harus foto di situ hahaha 😀

10568716_336027886551896_1198268073_n
Selain jalan-jalan sekitar Lincoln, kami juga sempat napak tilas ke Christchrch city, dan Queenstown. Kami juga sempat mampir ke Invercargill untuk mewujudkan keinginan bapak Abink yang dulu selalu saya tolak. Kali ini karena (lagi-lagi) merasa turis, jadi nggak ada salahnya kita mampir ke sana. InshaaAllah cerita nya bakal di posting kalo lagi nggak males yaa….

Salam,

Keluargahussein (yang udah nggak sabar ngumpul dan liburan lagi) 🙂

Cerita Mudik #2

Akhirnya, hari-hari yang saya tunggu datang juga.. Setelah beli tiket pulang sejak September lalu, rasanya sudah nggak sabar mau ketemu Alia n bapak ABink lagi di kampung halaman. Seperti yang saya ceritakan di sini bahwa mudik kali ini saya bakal mampir  ke Auckland selama 4 hari, trus terbang ke Bali via Sydney, lanjut terbang ke Surabaya trus naik mobil ke Malang. Perjalanan panjang dan melelahkan, tapi semua terbayar ketika di pintu keluar Juanda International Airport ada anak kecil yang lari menyambut saya dengan pelukan hangatnya 🙂

Mudik kali ini saya sengaja hanya bawa satu koper, dan tas laptop karena nggak mau ribet ketika transit dan lagi pula baggage allowance international flight cuma dapet 23 kg dan domestik flight cuma 20kg. Ini pertama kalinya saya menumpang New Zealand’s flag airline (Air New Zealand) untuk penerbangan domestik dan Internasional karena tiket pulang ke Indo di saat summer holiday cuma tiket AIrNZ-Garuda yang paling terjangkau 🙂 Jadi, perjalanan Christchurch-Auckland dan Auckland-Sydney saya numpang Air NZ. Perjalanan Sydney-Bali dan Bali-Surabaya saya numpang Garuda Indonesia. ALhamdulillah pesawat dari Sydney ke Bali kosong, jadi ya nyaman2 aja walaupun makanannya kurang yummy ….. 🙂

Alhamdulilah perjalanan mudik kali ini lancar aman terkendali kecuali boneka kiwi bird buat ponakan-ponakan yang ketinggalan di Auckland, delay penerbangan Bali-Surabaya selama hampir 2 jam dan koper yang ketinggalan di Sydney karena waktu transit terlalu mepet. Sempat deg-deg an sih waktu sampe Bali semua penumpang udah dapet koper masing-masing kecuali saya. Langsung lapor ke bagian baggage claim. Mereka bantu nge-cek dan ketauan kalo koper saya ketinggalan di Sydney. ALhamdulillah, sampe Malang jadi ada alasan beli baju baru dan bisa diganti sama Asuransi hehehhehe 🙂 Koper baru sampe ke rumah 3 hari setelah saya sampe rumah dan oleh2 langsung diserbu sama si anak kecil dengan riang gembira 😀