Japan Trip: Fujiko F. Fujio Museum, Brought Back my Childhood Memories

DSC06593

Siapa sih yang nggak kenal Doraemon? Hampir semua orang pasti tau Doraemon ya.. Apalagi anak ’90an udah hampir pasti pernah nonton serialnya di TV atau baca komiknya. Saya buka pembaca komik. Saya nggak pernah baca komik; kecuali komik doraemon. Sebagai penggemar setia Doraemon, jalan-jalan ke Fujiko F. Fujio museum jadi salah satu agenda yang saya tunggu-tunggu waktu berkunjung ke Jepang bulan November lalu.

Walaupun tau meseum nya di luar kota Tokyo, saya tetep ngotot untuk pergi kesana. Setelah browsing sana-sini, ternyata tiket masuk museumnya cuma dijual di Lawson minimarket, dan bisa dibeli lewat mesin pejual tiket (lupa nama mesinnya). Saya dan bapak Abink beli tiket ke Lawson deket hotel, 2 hari sebelum hari kunjungan ke Museum. Di Lawson kami coba-coba beli tiket lewat mesin, tapi ternyata gagal karena kami sama sekali nggak ngerti tulisan kanji dan di mesin nggak ada option bahasa inggrisnya.

Akhirnya sok PD nanya ke mbak-mbak kasirnya pake bahasa inggris. Ternyataaa mbak kasirnya nggak bisa bahasa inggris. Saya ngomong inggris, dia ngomong jepang. Mana nyambuunggg…. 😦

Bahkan waktu saya sebut Fujiko F Fujio, dia juga masih nggak ngerti apa maksud saya.. Saya bilang lagi “doraemon”, dia juga masih nggak ngeh juga. Akhirnya saya yang hampir putus asa tiba-tiba punya ide untuk bilang “doremon, kawasaki” dengan logat yang saya buat sebisa mungkin mirip logat Jepang. Dan ternyata berhasiil… mbak-mbak kasirnya akhirnya bantuin saya untuk beli tiket museum lewat mesin tiketnya. Tapi, pas harus masukin nama, di layar cuma bisa di-input pake huruf kanji. Ya mene ketehek ya gimana cara nulis nama saya pake huruf kanji. Akhirnya saya tulis di kertas nama saya pake huruf latin dan mbak nya nerjemahin pake huruf kanji. Nggak tau deh, yang ditulis bener-bener nama saya atau nama dia sendiri hehehhe πŸ˜€ Akhirnya setelah melewati perjuangan panjang karena keterbatasan bahasa, tiket museum impian pun bisa sampai di tangan saya.

DSC06598

Waktu beli tiket museumnya, kita harus pilih jam kunjungannya. Pilihannya jam 10 pagi, jam 12, jam 2 siangΒ  atau jam 3 sore. Jam kunjungannya akan tercetak di tiket dan harus datang tepat waktu. Keterlambatan bisa ditolerir sampai 30 menit. Kalau datang 30 menit setelah jam yang tertera di tiket bakal nggak boleh masuk dan tiketnya hangus.

Waktu itu saya pilih jam 2 siang karena di hari itu kami harus pindah hotel dulu; dan biar nggak terlalu terburu-buru berangkatnya secara perjalanan dari Tokyo ke Kawasaki makan waktu cukup lama. Dari Shinjuku station, naik kereta ke Noborito station. Trus bisa langsung nunggu shuttle bus di depan Noborito station.

Karena saya perginya pas weekend jadi rame banget yang mau main ke museum. Tapi nggak usah khawatir bakal nggak kebagian bis, karena shuttle bisnya datang setiap 15 menit sekali. Busnya pun bukan bus biasa, tapi bus bergambar doraemon dan ‘kawan-kawan’nya. Sampe pernak-pernik dalem bisnya pun bertema tokoh kartun Jepang. Cute!

Oiya, shuttle bus-nya nggak gratis ya πŸ™‚ kita bisa bayar pake Suica/pasmo card atau bayar cash. Kalo nggak salah untuk dewasa tarifnya sekitar 200 yen.

DSC06586 DSC06591 DSC06596Sampe di museum, kita masih harus ngantri lagi dan dijelaskan kalo nggak boleh ambil foto selama di dalem museum. Foto-foto baru boleh di arena bermain, taman dan kantin. Padahal dalemnya museum menarik banget loh.. kita bisa liat komik pertama yang di bikin pak Fujiko F. Fujio, trus baca-baca lagi sejarah Doraemon, dari waktu Doraemon masih berwarna kuning (eh, atau merah ya? *lupa). Di sana juga bisa liat-liat naskah asli cerita-cerita doraemon yang sangat familiar, liat meja kerjanya pak Fujiko F. Fujio, dengar kisah hidupnya, dll. Sayang, karena rame banget, jadi kurang ‘khusyuk’ jalan-jalan di dalem museumnya. *berarti suatu saat harus balik ke Jepang lagi nih!

Di Fujiko F. Fujio museum, pengunjung dipinjami alat semacam HT/radio. Setiap koleksi di dalem museum diberi nomor, dan kita tinggal pencet nomer di radio dan bisa dengar sejarah/cerita tentang koleksi-koleski di museum itu. Bagi yang males baca, atau nggak bisa nyampe depan karena kehalangan orang-orang bisa liat-liat aja sambil denger penjelasannya dari radio.

Lumayan puas liat-liat di dalem museum, saya nge rengek-rengek minta makan ke bapak Abink. Tapi ternyata restaurant nya rameeee dan harus ambil nomer antrian. Karena nggak tahan laper, akhirnya kami jajan dorayaki eskrim (yang enak bangeeett) dan memory bread. Saking lapernya enaknya dorayaki eskrim, saya dan bapak Abink sampe abis 2 masing-masing!

IMG_1772

DSC06603
Dorami Cookie dan Memory Bread. Kalo makan memory bread bakal inget perkalian-perkalian yang di tulis di roti nya πŸ™‚

Udah agak kenyang, kami jalan-jalan di sekitar taman. Sayang karena rame pake banget, kami nggak bisa foto-foto dengan leluasa. beberapa spot foto yang bagus antriannya mengular…

doraemon2
Nggak ada Alia, Dorami pun jadi :p
doraemon3
Akhirnya nonton film ‘Stand by Me’ di pesawat dari Tokyo ke Singapore

doraemon1 doraemon4Capek jalan-jalan di taman akhirnya kami balik ke Tokyo naik shuttle bus lagi, sambung kereta dari Noborito station ke Shinjuku, lanjut ke Kanda station.

Karena laper banget belom makan dari siang (2 bungkus dorayaki es krim tadi nggak diitung ‘makan’ ya.. itu ‘cuma’ snack :p ), kami cari makanan seadanya dan sedapet nya aja.. Di jalan dari kanda Station menuju hotel, kami mampir warung yang keliatannya oke. Ternyata di situ pesennya (lagi-lagi) harus pake mesin, dan nggak ada pilihan bahasa inggrisnya 😦 Tau kami kebingungan, salah satu karyawan restauran langsung menghampiri kami. Untungnya, saya udah tau apa bahasa Jepangnya pork (thanks to mbak Tya). Karena kami nggak makan pork, jadi kami bilang “no butaniku/no pork”, dengan logat agak kejepang-jepangan. Pas saya berusaha ngomong dengan logat Jepang, eh, si mas karyawannya jawab pake bahasa Inggris aja dong! Yaelah, tau gitu langsung aja tadi ngomong inggris yaa.. Akhirnya kami berhasil membawa pulang dua porsi makanan jepang ditambah bonus green tea dingin gratis diminum di tempat πŸ™‚

IMG_1804
Pilih-pilih menu
IMG_1806
Minum green tea dingin setelah perjalanan panjang. Nikmaattt….

Sampe di hotel, makan berdua sambil cerita2 soal tontonan-tontonan masa kecil saya dan bapak Abink. Termasuk Doraemon, candy-candy, conan, satria baja hitam, dll. Kunjungan ke Fujiko F. Fujio hari itu bener-bener bisa bikin saya senyum terus sepanjang hari. Mungkin malam itu saya tidur-pun sambil senyum πŸ™‚

Advertisements

Japan Trip – Selfie Gagal di Shibuya Crossing

Dari Asakusa, Pak dan Bu ABink tidak langsung kembali ke Hotel. Terbatas nya waktu kunjungan di Jepang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dari Asakusa, trip dilanjutkan langsung menuju Shibuya Crossing. Pak ABink yang dalam Bahasa Jawa nya pasrah “bongkoan” dengan Bu ABink cuma tahu kalo di Shibuya itu ada persimpangan yang katanya terpadat di dunia. Jadi ketika di ajak ke Shibuya Pak ABink ok ok saja. Karena tidak tahu jalan akhirnya dari Asakusa Pak ABink dan Bu ABink ke Tokyo station terlebih dahulu. Dari Tokyo Station tinggal naik Chuo Line yang menuju Hachioji. Sekitar 4 stop sampai di Shibuya Train Station.

Keluar dari Shibuya Train Station, ada kerumunan orang yang cukup banyak. Pak Abink yang tidak sempat browsing baru tahu kalo di Shibuya juga ada cerita Hachiko. Buat yang belum tahu Hachiko itu apa bisa di tonton film nya. Di depan Shibuya station dibuatkan sebuah patung Hachiko. Jangan diharapkan poto nya gede, poto nya benar-benar seukuran Hachiko. Pak Abink langsung inget sama patung dog of shepherd yang ada di lake tekapo new zealand.

Pak Abink dan Hachiko
Pak Abink dan Hachiko

Setelah puas poto-poto dengan patung Hachiko, Lanjut ke Shibuya. Seperti yang sudah tersohor, Shibuya Crossing memang padat dan ramai.

Shibuya Crossing
Shibuya Crossing
DSC06536
Menunggu lampu hijau untuk menyeberang
DSC06537
Crowded

Yang seru di Shibuya Crossing ini adalah banyak nya turis atau pun penduduk lokal yang asik berselfie ria sambil menyebrang jalan. Tidak mau ketinggalan, Pak dan Bu Abink pun berselfi ria. Tetapi karena tidak terlatih Β maka selfie nya gagal trus. Dua kali nyebrang 4 kali gagal. Diputuskan untuk tidak usah diteruskan hehehehe.

Sebelum berangkat ke Jepang, temen kantor Pak Abink dikasi oleh-oleh ibunya yang juga pulang dari jepang jajan yang namanya Pablo. Si teman minta dioleh olehi Pablo juga. Maka setelah browsing sini sana akhir nya ditemukan kalo di daerah Shibuya ada outlet yang jual Pablo. Dengan panduan google map akhirnya KeluargaHussein berhasil menemukan dimana Pablo berada.

Pablo Cakes
Pablo Cakes

Pablo sudah dibeli, selfie di shibuya sudah photo sama Hachiko juga sudah, berikutnya adalah kembali ke Akihabara karena besok pagi Bapak dan Ibu ABink harus ke Meiji University untuk presentasi makalah.

Bagi yang penasaran dengan Pablo bisa dilihat pada penempakan dibawah ini (yang atas nya itu mobil2x an merek Tomica).

Pablo
Pablo

Japan Trip – Asakusa dan Secangkir Matcha

Cerita jalan-jalan ke Jepang masuk ke babak kedua (babak pertama bisa dibaca di sini). Setelah sampai di Akihabara dan turun di Akihabara station, Pak ABink langsung menuju Remm Akihabara yang jarak nya tidak lebih dari 100m dari station. Celakanya Bu ABink masih ditempat conference dan tidak ninggal kunci bahkan tidak bilang kamar nya dimana. Tapi Pak Abink nekat aja ke resepsionis dan bilang kalo istri sudah check in sekitar dua hari sebelumnya. Jadi bole ndak kalo Pak ABink minta kunci kamar. Setelah sedikit introgasi dan mengecek paspor dan ID lainnya akhirnya dengan sukses Pak ABink mendapatkan kunci kamar Bu Abink.

Setelah masuk kamar, Pak Abink langsung konek internet dan kirim message ke Bu Abink kalo sudah masuk kamar dengan sukses. Pesan dibalas disuruh nunggu sampai jam 1, alasannya bu Abink masi mau menikmati bento lezat yang disedikan panitia sebagai suguhan makan siang di konferens. Alhasil dikarenakan masih sekitar 1.5 jam sebelum Bu ABink datang, maka Pak ABink memutuskan untuk turun ke bawah dan berjalan-jalan disekitar Akihabara.

Akihabara
Akihabara

Lebih kurang 1,5 jam menunggu akhirnya yang ditunggu datang juga. Setelah istirahat beberapa menit Pak dan Bu ABink memutuskan untuk berjalan-jalan keluar. Mumpung masih terang. FYI pada musim gugur matahari di Jepang tenggelam sekitar pukul 5 sore. Hasil diskusi memutuskan rute yang diambil adalah ke Asakusa yang ada di distrik Taito. Di Asakusa ada sebuah kuil Budha yang disebut Senso-Ji Budhist Temple. Dari Akihabara ke Asakusa lumayan gampang tinggal naik Tsukuba Express turun di Asakusa Train Station dilanjutkan berjalan kaki beberapa ratus meter ke Senso-Ji Temple. Disepanjang jalan dari Asakusa Station ke Senso-Ji Temple banyak hal-hal menarik yang dapat dilihat. Mulai dari orang-orang yang menawarkan jasa untuk mencoba Rickshaw (Becak khas Jepang), penjual makanan khas Jepang seperti Takoyaki hingga pedagang-pedagang souvenir. Karena belum makan siang, Pak ABink nodong Bu Abink untuk traktir Takoyaki. Rasanya sedikit beda dengan Takoyaki yang di jual di Malang. Lebih mantab yang dijual di Jepang heheheh

Warung Takoyaki
Warung Takoyaki

Setelah kenyang Pak dan Bu ABink melanjutkan wisata ke Senso-JI Temple. Banyak tempat menarik di Senso-JI Temple yang dapat direkam baik dalam memori otak maupun memori kamera. Gambar-gambar berikut akan mewakili memori otak dari Pak dan Bu ABink

2014-11-13 14.10.12 2014-11-13 14.17.12 2014-11-13 14.20.49

Senso-Ji Temple
Senso-Ji Temple

2014-11-13 14.21.47

Puas berfoto dan berkeliling Senso-Ji Temple, Pak dan BU Abink berjalan kembali ke Asakusa Train Station. Dengan pertimbangan mendapatkan pemandangan yang lain, maka rute yang diambil bukan rute yang sama dengan rute datang. Sepanjang perjalanan ke Asakusa Train Station banyak pedagang souvenir yang menjajakan dagangannya. Snack, cookies hingga hiasan-hiasang khas Jepang banyak dijual didaerah tersebut. Salah satu objek huntingan dari KeluargaHussein adalah Tokyo Banana. Tapi sayang sipenjual tidak memiliki Tokyo Banana

Kaki Lima
Kaki Lima

Puas melihat-lihat penjual makanan, kami singgah ke sebuah warung yang menawarkan Matcha, teh hijau khas Jepang. Selama di Jepang, si Ibu benar-benar tergila-gila dengan Matcha. Maka si Ibu langsung memesan secangkin besar Matcha dan sepotong mochi yang di atas nya di beri kacang merah. Pak ABink yang masih kenyang dengan Takoyaki cuma minta icip-icip aja. Tidak lama si Matcha datang. Bentuk nya benar-benar menarik seperti green tea latte yang biasa di order di cafe langganan. Menyesal Pak Abink ga pesen sendiri.

2014-11-13 14.32.14

Tapi tunggu dulu, curiga nih Pak ABink kok Matcha di kasi gula-gula?. Si Ibu yang minum cuma senyum senyum saja dan memaksa Pak ABink untuk mencoba nya. Melihat si Ibu dengan nikmat meminum Matcha nya Pak ABink pun ingin icip-icip. Ternyata rasanya…..wuaduhh….luar biasa kuat rasanya dan pahit. Maklum tidak diberi gula. Beda dengan Green Tea Latte yang biasa di order heheheh.

2014-11-13 14.33.36 2014-11-13 14.35.21

Lihat lah perbedaan ekspresi antara si penggemar Matcha dan penggemar green tea latte. Setelah puas menikmati secangkir Matcha dan sepotong mochi, Pak dan Bu ABink langsung kembali ke Train Station untuk lanjut ke Shibuya untuk melihat secara langsung Shibuya Crossing yang tersohor dan juga Patung Hachiko yang melegenda.

Japan Trip – Narita Express dan Akihabara

Hampir tiga bulan blog keluargahussein tidak tersentuh. Maklum dua kontributor nya – Bapak dan Ibu Abink lagi sibuk dengan urusan masing-masing. Si cantik Alia pun juga ga mau kalah sibuk dengan urusannya. Setelah tiga bulan tidak update, ada sedikit cerita yang ingin dishare di blog ini agar bisa menjadi kenangan yang selalu diingat dan mungkin berguna bagi teman-teman yang berkunjung di Blog KeluargaHussein.

Sekitar bulan Nopember yang lalu Bapak dan Ibu Abink berkesempatan untuk berkunjung ke Tokyo Jepang. Bukan murni jalan-jalan tapi lebih tepat nya jalan-jalan akademis karena di Tokyo, Pak dan Buk Abink menghadiri serta mempresentasikan hasil penelitian pada International Symposium on Business and Management (ISBM) 2014 yang di adakan di Meiji University Tokyo.

Jalan-jalan kali ini benar-benar rejeki nomplok karena kami berdua tidak perlu merogoh kocek karena seluruh biaya ditanggung institusi kami masing-masing. Bu Abink di sponsori oleh riset bujet Lincoln University dan saya pun di sponsori oleh Univ Brawijaya.

Sudah sejak dua bulan sebelumnya kami berdua mempersiapkan trip. Khususnya Bu Abink yang akan berangkat dari New Zealand. Sudah hampir dua bulan sebelumnya tepat nya sejak paper kami berdua diterima dan funding disetujui, Bu Abink langsung berburu tiket, hotel dan “mempelajari” tempat-tempat menarik yang harus dikunjungi beserta bagaimana cara mencapainya. Akhirnya setelah brosing kanan-kiri, Bu Abink memutuskan untuk naik Singapore Airlines dengan rute Christchurh-Singapore-Narita. Serta memilih untuk tinggal di Akihabara. Alasan memilih Singapore Airlines sepele saja karena untuk sementara rute NZ-Asia itu maskapai paling enak ya Singapore Airlines. Selain itu Bu Abink ada rencana untuk pulang liburan ke Indonesia, jadi dari tinggal beli tiket Singapore-Surabaya. Sedangkan Akihabara dipilih karena distrik itu cukup dekat dengan Meiji University dan banyakHotel yang terjangkau oleh pendanaan kami. Ditambah lagi, bu Abink ngincer salah satu hotel yang bersebelahan dengan Akihabara station, biar kalo mau jalan-jalan gampang.

Camera 360

Setelah Tiket dan hotel di booking, Bu Abink mulai mengurus visa Jepang. Mengurus Visa Jepang di New Zealand tidak terlalu rumit. Bu Abink cukup datang ke Konsulat Jepang di Christchurch, menyerahkan formulir dan persyaratannya. Kurang dari dua minggu visa Bu ABink sudah selesai. Dikarenakan sibuk, Pak ABink menunda pengurusan visa sampai sekitar sebulan sebelum keberengkatan. Itu juga karena di marahi Kai Roben dan didesak Bu Abink untuk segera mengurus visa. Setelah membuka website Kedutaan Jepang di Indonesia, maka Pak ABink memutuskan untuk meminta bantuan travel untuk menguruskan visa tersebut. Sebenarnya mengurus sendiri tidak sulit. Tetapi jika mengurus sendiri ada acara untuk menyampaikan berkas ke Konsulat Jepang di Surabaya dimana Pak Abink agak kesulitan untuk mencari waktu. Akhir nya cara mudah yaitu dengan minta jasa travel agent.

Karena tujuan dari kunjungan ke Jepang adalah untuk konferensi, maka Pak ABink mengajukan aplikasi untuk visa bisnis. Berbekal surat pengantar dari Pak Dekan dan berkas-berkas persyaratan lainnya (bisa dilihat di :Β http://www.id.emb-japan.go.jp/visa.html) Travel agent yang membantu pengurusan visa mengirimkan aplikasi ke Konsulat Jepang di Surabaya. Hampir seminggu tidak ada jawaban. Hari ke delapan, Pak ABink di e-mail petugas dari travel agent yang melaporkan bahwa untuk aplikasi visa bisnis harus ada undangan dari pihak penyelenggara. Sebenarnya Pak ABink sudah melampirkan surat undangan dari pihak penyelenggaran konferensi. Akan tetapi konsulat Jepang minta surat yang lebih detail yang ditulis dalam Bahasa Jepang. Dikarenakan urusannya yang terlalu rumit, maka diputuskan Pak Abink beralih dengan mengajukan aplikasi untuk visa kunjungan sementara. Bedanya untuk visa ini harus menunjukkan bukti keuangan tiga bulan terakhir. Sukur di tabungan PAk ABink masih ada sisa-sisa yang cukup untuk bukti keuangan. Akhirnya setelah seluruh persyaratan diberikan, kurang dari seminggu Pak ABink mendapatkan visa Jepang.

Setelah mendapatkan visa Jepang maka tinggal menunggu hari keberangkatan. Hari keberangkatan adalah 12 Nopember 2014. Padahal hari itu Pak ABink sedang kedatangan seorang Professor dari Lincoln University. Yaitu Professor Gan. Akan tetapi atas bantuan dari kolega-kolega di kampus, Professor Gan tetap bisa melakukan kegiatah sesuai rencana dan PAk Abink bisa berangkat ke Jepang.

Berbeda dengan rute Bu Abink yang mengambil rute Christchurch-Singapore-Narita, rute yang diambil Pak Abink dengan menggunakan Garuda Indonesia adalah Surabaya-Denpasar-Narita. Berangkat dari Surabaya sekitar pukul 8 malam transit di Denpasar sekitar 3 jam dan berangkat ke Narita Tokyo sekitar jam 1 WITA. Tiba di Tokyo sekitar pukul 8 pagi.

Urusan imigrasi sangat lancar. Tidak ada masalah, Yang menjadi masalah itu adalah bagaimana cara menuju Akihabara. Tetapi dengan bekal informasi dari Bu Abink maka Pak ABink bisa menemukan jalannya dengan mudah. Bagaimana jalannya??

Bagi yang akan ke Tokyo melewati Narita — FYI jika trip ke Tokyo pesawat bisa landing di Narita atau di Haneda. tergantung rute mana yang ingin kita ambil. Kasus kali ini Pak Abink mengambil jalur Narita. Di Narita Airport, Pak Abink membeli tiket Narita Express. Bu Abink juga menyarankan untuk membeli tiket terusan JR Train. Gampang sekali dipintu keluar setelah custom sudah bisa dibeli tiket Narita Express (NEX). Untuk ke Akihabara, Pak ABink harus membyar sekitar 1500 yen. Kemudian beli tiket terusan JR Train 2500 yen dimana 500 adalah deposit.

Logo Narita Express
Logo Narita Express


Mencari platform Narita Express sangat mudah. Banyak tulisan di papan pengumuman sehingga tidak akan tersesat. Menunggu sekitar 10 menit kemudian Narita Express datang. Ketika datang, calon penumpang tidak boleh langsung naik. KArena petugas kebersihan dengan sigap membersihkan gerbong kereta. Cukup nyaman didalam gerbong Narita Express

Penampakan Gerbong Narita Express
Penampakan Gerbong Narita Express

Interior gerbong Narita Express ini hampir sama dengan pesawat. Tidak beda jauh dengan kereta di Indonesia, di dalam Narita Express juga ada pedagan makanan. Bedanya pedagang makanannya memang bagian dari NEX. Sehingga jauh dari kesan kumuh dan kotor seperti di kereta-kereta di Indonesia.

Narsis di dalam Narita Express
Narsis di dalam Narita Express

Untuk menuju Akihabaran memakan waktu sekitar 1 jam. Narita Express tidak stop di Akihabara. Sehingga rute nya adalah Narita-Tokyo-Akihabara. Dari Tokyo train station sambung dengan Yamanote Line yang ke arah Ueno (untuk detail lokal train bisa dilihat di:Β http://www.jreast.co.jp/e/index.html). Untuk tiket ke Akihabara dengan Yamanote Line ini tidak perlu bayar karena sudah include dengan tiket NEX.

Di Akihabara Bapak dan Ibu ABink menginap di REMM Akihabara. Dalam pikiran Pak ABink untuk mencapai REMM Akihabara harus berjalan beberapa blok lagi. Ternyata REMM AKibhara berada tepat disamping Akihabara Stasiun.

Distrik Akihabara
Distrik Akihabara

Sedikit informasi, Akihabara ini tempat yang paling cocok untuk berburu barang-barang elektronik. Disekitar area tersebut dapatdijumpai dengan mudah toko-toko yang menjual alat elektronik. Selain elektronik, Akihabara juga terkenal sebagai tempat kelahiran AKB48 sister group nya JKT48 yang sedang naik daun itu :D.

AKB48 Cafe Shop
AKB48 Cafe Shop

Di Akihabara Pak ABink dan Bu Abink tidak banyak melakukan kegiatan. Karena Akihabara hanya sebuah distrik bisnis. Dari Akihabara beberarapa tempat dapat dengan mudah dikunjungi seperti Asakusa, Shibuya Crossing, Ueno Park dan Tokyo Dome. Ditulisan lain Pak Abink atau Bu Abink akan bercerita mengenai tempat-tempat menarik di Tokyo.