Hari-hari Menyenangkan di Taman Kanak-kanak

Hari ini, saya bikin sedikit kompilasi foto-foto Alia selama di Pre-school dan kindy di New Zealand dan Indonesia. Ternyata punya anak yang baru lulus TK itu rasanya campur aduk antara sedih dan seneng..

Dulu, pertama kali masuk ‘sekolah’ di playcentre Alia sama sekali nggak mau ditinggal.Lama kelamaan, dia udah enjoy main sendiri atau main bareng temen-temennya. Setelah Alia umur 2.5 tahun, pindah ke Lincoln Pre-school karena saya mulai kerja dan nggak punya tenaga untuk aktif di playcentre yang harus duty dan bantu-bantu administrasi. Setelah ulang tahunnya yang ke-3, Alia pindah sekolah lagi ke Lincoln KidsFirst. Di umur 4tahun, Alia harus pulang ke Indonesia dan sekolah di See me grow. setelah lulus dari see me grow masuk ke Iqro dan sekarang Alia udah lulus dari Iqro, siap masuk SD.

Alia tulis di surat terimakasihnya untuk Ms Linda & Ms Windri:
Alia tulis di surat terimakasihnya untuk Ms Linda & Ms Windri: “Terimakasih sudah mengajari Alia berdoa dan menulis” 🙂

Karena lagi jauh-jauhan sama Alia, rasanya campur aduk kalo ngeliat foto-foto dan video Alia yang di tag ke saya oleh para mama di Iqro’ (makasih ya semua!). Apalagi kalo liat foto-foto Alia jaman dulu, waktu masih baru masuk sekolah sampai sekarang udah bisa baca pidato di depan teman-teman, guru dan orang tua. Rasanya waktu cepat sekali berlalu.. Walaupun saya nggak ada di sana waktu Alia lulus TK dan nggak bisa antar Alia di hari pertamanya masuk SD, tapi doa saya selalu mengiringi.

———————————–

Salah satu cerita tentang  Playcentre bisa dibaca di sini

Salah satu cerita tentang  Lincoln pre-school bisa dibaca di sini

Salah satu cerita tentang  Lincoln KidsFirst bisa dibaca di sini

Salah satu cerita tentang  See Me Grow bisa dibaca di sini

Advertisements

Sekolah Impian

Waktu saya kecil setiap ditanya cita-cita saya apa, selalu saya jawab “mau jadi guru TK”. Saya ingat betul, waktu itu nenek saya pernah bilang “Jangan jadi guru. Guru itu gajinya kecil”. Dari situ, saat saya sma saya mulai berpikir untuk merubah sedikit cita-cita saya, dari “guru Tk” menjadi “guru dan pemilik TK” 🙂 cerdas nggak tuh? Sekarang gimana? Sekarang saya masih tetep pengen punya early childhood centre sendiri seperti yang saya tulis di halaman ini.

Kebetulan sekali mb Joeyz lagi bikin ‘sayembara’ tentang sekolah impian.  Jadi kalau punya rejeki, sekolah macam apa yang pengen saya dirikan? Udah ketebak lah ya kalo say pengen bikin TK 🙂 trus TK macam apa?

Pertama-tama, saya pikir bukan cuma anak di daerah terpencil/tdk mampu saja yang membutuhkan pendidikan berkualitas. Anak-anak di kota pun butuh pendidikan yang berkualitas. TK impian saya ini bias di aplikasikan di desa maupun di kota (kayak kampanye ya). Bayarnya gimana? Bayarnya subsidi silang aja. Yang mampu bayar, yang nggak mampu nggak usah bayar, kan punya cadangaan 10M.. Beberapa poin tentang sekolah impian saya:

Menghargai anak-anak sebagai pribadi-pribadi yang unik (udah kayak iklan belum nih kalimatnya?). Karena setiap anak itu unik, jadi jangan merasa aneh kalau setiap anak punya keinginan, kemampuan dan pendapat yang berbeda. Di sekolah saya nanti, setiap murid bakal di-encourage untuk mengungkapkan pendapatnya, apapun itu. Di sekolah bakal ditanamkan kalau berbeda itu bukan masalah. Jadi, guru sebagai fasilitator harus benar-benar menghargai pendapat setiap anak. Nggak ada gambar siapa lebih bagus dari siapa. Setiap anak punya kreatifitasnya masing-masing. Nggak ada yang salah kalau anak menggambar daun berwarna pink, bukan hijau. Kebetulan, kami punya pengalaman tentang ini di sekolah Alia di NZ yang pernah diceritakan bapak Abink di sini. Kalau anak-anak sudah terbiasa dengan perbedaan, sudah pasti Indonesia di masa depan akan semakin damai. Nggak ada lagi tuh yang putus silaturahim gara-gara beda pilihan capres 🙂

Untuk menunjang penghargaan terhadap setiap pribadi anak yang unik, di sekolah saya nanti bakal ada sesi di mana setiap anak bebas memilih kegiatan apa yang ingin dilakukan. Bebas. Misalnya, kegiatan membuat kerajinan tangan. Kalau di sekolah-sekolah pada umumnya semua anak akan membuat kerajinan tangan yang sama, di sekolah saya nanti anak-anak bebas membuat kerjinan tangan sesuai keinginannya. Boleh menggunting kertas, menempel, membuat sesuatu dari kardus, dari ranting, melukis, terserah mereka. Mereka (walaupun masih anak-anak) berhak menentukan pilihan.

Mengajarkan nilai kasih sayang, saling menghargai dan sopan-santun. Walaupun anak-anak bebas berpendapat dan bebas menentukan pilihan, di sekolha tetap diajarkan bagaimana ber sopan-santun. Bagaimana harus menghormati yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda. Tidak  boleh ada bullying dan kekerasan sama sekali di sekolah saya nanti.

Sekolah dengan arena bermain yang luas. Arena bermain yang saya maksud di sini bukan di dalam ruangan ya. Di luar ruangan. Kenapa luar ruangan? Tau kan kalau anak kecil itu nggak bias diem dan cepat bosan? Coba bayangkan kalau sekolah anak-anak minim tempat bermain luar ruangan. Kita aja yang kalo diminta stay di dalem ruangan bakal bosen dan nggak produktif kan.. Apa lagi anak-anak. Selain itu, di Tk saya nanti anak-anak bakal di encourage untuk bermain di luar banyak-banyak. Tanpa takut kotor!

Di TK saya nanti juga bakal ada kebun sayur yang ditanam oleh anak-anak danada hewan peliharaan seperti ayam, kelinci, ikan (sekarang sih cuma tiga hewan itu yang ada di pikiran saya, secara saya ‘geli’ sama segala jenis binatang). Dari situ anak-anak belajar tentang sains, belajar bersyukur, berbagi, sekaligus belajar menghargai orang lain.

Nggak boleh bawa snack kemasan untuk bekal. Jaman sekarang kan penyakit makin aneh-aneh ya.. Diduga, berbagai penyakit muncul karena gaya hidup dan makanan yang nggak sehat. Makanya di sekolah saya nanti anak-anak akan dapat snack sehat dan buah-buahan. Anak-anak boleh juga bawa bekal dari rumah, tapi harus bekal sehat (sehat bukan berarti nggak enak kan!). Kalau anak-anak bawa homemade food, pasti lebih sehat dan akan mengurangi sampah juga. Misal nih ya, di TK saya nanti ada 40 orang murid. Kalau setiap hari mereka bawa bekal snack kemasan, bakal berapa banyak plastic yang terkumpul selama sehari, sebulan, setahun? Selain sehat, juga mengajarkan mereka untuk menjaga lingkungan. Anak kecil itu makhluk paling pinter loh.. Kalau di sekolah ditanamkan bagaimana cara menjaga kesehatan dan menjaga lingkungan, diharapkan ini akan menjadi kebiasaan sampai mereka besar nanti.

Mengajarkan ‘hidup sederhana’. Sebisa mungkin sekolah akan memanfaatkan barang-barang bekas untuk sarana bermain dan belajar. Sebisa mungkin tidak mendorong anak untuk beli, beli dan beli. Tapi gunakan barang bekas yang masih bias dimanfaatkan. Banyak kok yang bias kita bikin dari barang bekas. Contohnya: sock puppets dari kaus kaki bekas atau yang ilang sebelah. Anak-anak pasti seneng bikinnya dan kalo udah jadi bias di lanjut bikin pertunjukannya di sekolah.

Sock puppet. pic from www.aokcorral.com
Sock puppet. pic from http://www.aokcorral.com

Berusaha menggunakan bahan dari alam untuk media bermain dan belajar. contonya nih melukis dengan media daun atau melukis di batu.

pic from www.lushome.com
pic from http://www.lushome.com
pic from www.indesignartandcraft.com
pic from http://www.indesignartandcraft.com

masih dalam rangka ‘hidup sederhana’, anak-anak boleh merayakan ulang tahun di sekolah, tapi tanpa bagi-bagi goodie bag mewah, tanpa kue tart yang mewah. Sekolah yang akan memfasilitasi ‘pesta’ ulang tahun untuk anak. Maksudnya apa? Maksudnya supaya anak-anak (atau orang tuanya) nggak terbiasa ‘pamer’ dan saling berlomba mengadakan pesta ultah nan meriah (dengan bingkisan yang mahal) di sekolah 🙂

Guru yang fun, tidak berhenti bercerita dan bertanya kepada anak-anak. Dengan bertanya dan bercerita akan merangsang anak untuk berpikir dan kreatif. Jadi, guru-gurunya harus dipastikan sayang anak, dan nggak capek ngomong sama anak-anak. Lemah lembut, tapi bias tegas di saat yang dibutuhkan. Para guru juga harus terlibat dalam semua kegiatan anak-anak (baca:nggak jaim alias jaga image).

Orang tua murid yang berkomitmen untuk mendukung program sekolah. Ini penting banget ya, walaupun mungkin untuk ibu bekerja agak susah menyediakan homemade food (no-wrap) untuk anak-anaknya, tapi nggak ada yang nggak mungkin kok.Percuma juga kalo disekolah anak-anak diberi kebebasan berimajinasi, tapi di rumah masih sering dihakimi dan dibanding-bandingkan. Jadi, komitmen orang tua penting!

Sepertinya sekolah impian saya biasa-biasa aja dan cenderung ‘kejam’ ya? Intinya, saya pengen anak-anak jadi long-life learner  jadi pribadi yang selalu bersyukur dan mudah berempati, peduli dengan alam, keluarga dan diri sendiri. Sebenernya masih banyak lagi nih, tapi untuk sekarang cukup itu dulu deh ya.. Itu menurut saya seperti ‘filosofi’nya sekolah impian saya nanti.

Menangin saya dong teacher Joeyz sekolah ini bukan mustahil untuk di bangun di Indonesia untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Apalagi kalau ada dana 10 M 🙂 … Saya mupeng sama novel & tas nyaa.. atau kalau nggak dapet yang itu, blazer merahnya boleh juga 🙂

Alia dan Sekolah Barunya

Ceritanya Alia sudah lulus dari TK nya yang dulu See Me Grow. Tapi karena Alia belum genap 6 tahun, Pak dan Bu Abink sepakat untuk belum memasukkan Alia ke SD. Pertimbangannya sederhana. Yang pertama, Alia memang belum cukup umur sehingga biarlah nambah setahun untuk bermain sambil belajar (nggak dibebani PR dan tugas-tugas) dan yang kedua kalo masuk SD kecuali yang full day pulang sekolah nya jam 12 an alias gada penitipan beda dengan TK.

Atas dua pertimbangan tersebut maka Alia tidak kami lanjutkan sekolah ke SD. Tapi kok pindah sekolah? kenapa ndak tetep di See Me Grow?. Ada beberapa alasan yang mendasari kami memindahkan Alia untuk pindah sekolah. Tetapi sebagai latar belakang kami ingin mencupakan Terima Kasih yang sangat besar kepada See Me Grow khususnya kepada para teacher dan pengelola karena 1 tahun Alia sekolah di See Me Grow banyak sekali yang diperoleh dan dipelajari. Overall kami sangat puas dengan See Me Grow. Nah kalo puas alasan pindahnya apa donk?

Alasan yang pertama berkaitan dengan kelulusan. Alia ini termasuk angkatan pertama di See Me Grow. Di angkatan K2 (TKB atau TK nol besar) nya ada 5 anak termasuk Alia (Rafael, Rara, Berryl, Shiera dan Alia) nah saya dan Bu ABink berpikir, kasian Alia kalo ke empat temennya lulus tapi Alia ndak, bisa bikin kecewa dan sedih. Jadi supaya ngerasa sama dengan teman-temannya maka kami minta Alia juga di luluskan. Yang kedua berkaitan dengan pendidikan agama. Secara kognisi, affeksi dan psikomotorik kami sangat puas dengan pendidikan di See Me Grow. Tetapi See Me Grow adalah sekolah nasional dimana tidak ada muatan agama. Sehingga dikarenakan waktu (bukan berarti mau lepas dari tanggung jawab) kami berpikir jika lebih baik Alia di masukkan ke sekolah yanga da muatan agamanya.

Dari kedua pertimbangan tersebut, Alia kami pindahkan ke TK lainnya. Dengar dari teman-teman, TK yang baru berdiri beberapa tahun ini reputasinya cukup baik. Fasilitas lengkap, guru yang sabar dan yang pasti ada muatan agaman. Di hari saya mendaftar saya ketemu dengan ketua yayasan yang kebetulan satu profesi sebagai dosen. Kami banyak ngobrol dan saya merasa pola pendidikan anak yang saya harapkan juga sama dengan visi dan misi beliau sehingga semakin mantablah kami memindahkan Alia ke TK tersebut.

Di awal sekolah Alia menolak untuk bersekolah. Tapi sebagai anak baik, Alia tetap sekolah. Cuma ya begitu setiap pagi harus berdebat dan berdiskusi dulu mengenai kenapa Alia harus pindah dari See Me Grow. Setiap hari saya dan Bu Abink (lewat Line) mencoba menjelaskan. Lama kelamaan, Alia mulai beradaptasi dengan sekolah dan teman barunya.

Halal bi Halal di Sekolah Alia

Beberapa hari yang lalu ada acara Halal bi Halal di sekolah nya Alia. Orang tua juga di undang. Mendengar penjelasan dari ketua yayasan dan melihat langsung bagaimana para guru menghandle para murid, saya percaya bahwa sekolah yang baru bisa memberikan yang terbaik bagi Alia. Semoga Alia selalu jadi anak solehah yang membanggakan keluarga. Aamiin..

Belajar Dari New Zealand Kindergarten

Sejak Januari yang lalu, si kecil Alia sudah berumur tiga tahun. Sudah tidak mau di panggil little girl lagi, apa lagi di panggil baby. Mau nya dipanggil kakak Alia atau Big Girl. Sejak berumur tiga tahun itulah saya dan Bu Abink memilih Kindergarten sebagai “sekolah” untuk Alia. Maka pindahlah Alia dari Lincoln Daycare ke Lincoln KidFirst.

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi kami menyekolahkan Alia di Kindergarten. Pertama sejak anak berumur tiga tahun, maka pemerintah New Zealand memberikan subsidi 20 jam gratis untuk bersekolah di pusat-pusat pendidikan usia dini. Sekedar informasi di New Zealand ini PAUD di buat dalam beragam format. Ada yang dalam bentuk Kindergarten macam kidfirst, ada pula Childacare/daycare dan ada pula yang dikelola komunitas dalam bentuk playcentre. Nah sebenarnya untuk semua PAUD centre ini diatas usia tiga tahun otomatis mendapat subsidi 20 jam gratis. Alasan lain menyekolahkan Alia di Kindy yaitu untuk mengajarkan kemandirian. Dengan asusmi di Kindy rasio guru dengan murid tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil berbeda dengan di Daycare yang rasio nya bisa 1:5. Jadi anak-anak sudah dianggap dewasa tidak terlalu diawasi macam di Childcare.

Setelah hampir empat bulan berjalan, ternyata pilihan kami sangat tepat. Beberapa perubahan positif terjadi pada Alia. Yang paling tampak adalah kemandirian. Sejak masuk ke kindy Alia :

– bisa pakai kaos kaki sendiri

– bisa pasang sepatu sendiri

– bisa pakai celana sendiri, kalau pake baju masih harus di bantu

– tidak ngompol lagi, kalau mau pipis selalu bilang ” daddy/mommy, I wanna go to toilet” terus langsung lari ke toilet. Memang masih harus di bantu naek ke toilet karena toilet nya masih ketinggian

– bisa brush teeth sendiri

Selain mandiri perkembangan signifikan lainnya adalah kemampuan berkomunikasi. Sekarang Alia sudah lancar bahasa inggrisnya – grammar nya pun sering akurat. Contoh nya Alia bilang ” I went to toilet with Sue at school” wow 3 y/o girl sudah mengerti Past tense. Bahkan beberapa words yang dipakainya kami tidak mengerti (nasib-nasib). Kalau tentang bahasa Indonesianya, Alia mengerti bahasa Indonesia pasif, karena di rumah, kami berbahasa Indonesia. Untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia Alia masih belum bisa. Mudah-mudahan ini nggak jadi masalah ketika kami harus pulang ke Indonesia nanti. Dari sisi kognitif nya, Alia sudah kenal huruf. Bahkan Alia sudah bisa menulis namanya sendiri.

Nah tapi jangan bayangkan model pendidikan PAUD di New Zealand sama dengan TK TK di Indonesia walaupun TK Plus sekalipun. Di New Zealand, tidak ada namanya keseragaman. Tidak ada namanya duduk dalam kelas kemudian belajar alphabet bersama atau menyenyi bersama atau diajarkan “Ini Truk”…”ini bola”. Anak-anak wajib masuk ruangan hanya untuk morning tea, lunch dan “mat time”. Mat time ini dongeng sebelum pulang sekolah.

Saya pernah bertanya kepada salah satu guru di Kidsfirst. Bagaimana bisa Alia dapat belajar huruf dan angka begitu cepatnya. Apa di Kindy diajarkan secara khusus untuk membaca dan menulis. Belio menjelaskan bahwa konsep nya adalah belajar sambil bermain. Maksud nya adalah waktu bermain, kadang-kadang si guru menanyakan “what is this” …”this is a bus” so “B” is for Bus. Sambil nunjukin huruf B yang ada dimana saja. Bisa di kaos salah satu anak. Atau dimana saja. Jadi waktu saya tanya apa kegiatan anak seharian di Kindy. Dia menjawab bermain dan berkreasi. Karena dunia anak adalah bermain dan kreativitas. Pernah saya bertanya juga kenapa mereka tidak banyak menyediakan kertas untuk mewarna. Ternyata mewarna tidak terlalu cocok untuk pengembangan kreativitas anak usia dini. Dalam mewarna ada batasan dan ada kesesuaian. Misal mewarna pohon maka warna tidak boleh keluar dari batas warna begitu juga warna batang harus coklat. Padahal anak masih mengeksplorasi segala kemungkinan. Benar-benar pendidikan yang memanusiakan manusia.

Hal lain yang membuat saya kagum adalah tidak adanya perbedaan antara anak yang normal dengan yang sedikit berketerbatasan. Salah satu teman Alia sedikit terbatas pendengaran dan penglihatan. Tetapi si anak tetap diperlakukan sama. Diberikan kesempatan yang sama dengan teman-teman yang lain. Walau sedikit ada perhatian khusus dari para guru.

Nah yang menarik selain Alia yang banya belajar, saya pun banyak mendapatkan pelajaran berharga selama mengantar Alia ke sekolah. Maklum kesepakatan di KeluargaHussein, Pak Abink antar Alia sekalian ke kampus, dan Bu Abink yang jemput Alia di sore hari. Nah setiap pagi Pak Abink mengantarkan Alia sekolah. Maka setiap pagi Pak Abink bertemu dengan beberapa ibu/bapak nya murid-murid lain. Kadang geli melihat bapak-bapak yang badannya besar bin kekar tapi dengan santai  nge gendong anaknya sambil menjjing tas sekolah. Kemudia sebelum pulang si Bapak juga ber hug ria dengan si anak sambil bercanda. Selain itu Pak Abink juga belajar kesopan santunan orang New Zealand. Contoh kecil saja adalah mengenai membuka pintu. Mereka rela memegang pintu ketika melihat ada orang lain datang. Selain itu jika ada ibu-ibu yang datang maka Bapak-bapak rela untuk tergesa-gesa membukakan pintu. Benar-benar contoh sopan santun yang tidak dibuat-buat.

Banyak pelajaran berharga yang Alia dan kami pelajari dari Kindergarten ala New Zealand ini. Semoga pengalaman dan pengetahuan yang kami peroleh ini bisa kami tularkan di Indonesia dikemudian hari.

Salam keluargaHussein

Cerita oleh: Bapak Abink

Last day at Lincoln Preschool

Good Bye Alia (Story by Liz)

Even though yo’ve not been in Lincoln Preschool for very long, Alia we have seen your confidence grow hugely during your time with us. We have enjoyed observing the ways in which you have enjoyed all the different activities and challenges presented to you with an assured confidence. 

You express yourself very clearly, Alia both with the children and adults, and you are able to select activities based on your interest at the time, rather than be influenced buy peer presure. Sometimes that’s not easy thing to do!

You have a well developed self-awareness and because of that you are able to recognise the progress that you have made during your time here. An example of this is the way that you mastered the tchnique you needed to swing on the rope with your feet off the ground. You were so pleased with your achivement here and rightly so. 

You have become increasingly confident in your interactions with your peers and in the way that you are willing to give new activities ‘a go’.

We are sorry to see you go ALia, we’ve really enjoyed having you here in Lincoln Preschool. We wish you have lots of luck in Lincoln Kindergarten.

~~~~~~###~~~~~~

Belum ada cerita ALia masuk pre-school kok tiba-tiba udah good bye aja yaa?! Jadi, ALia mulai masuk pre-school kira-kira 6 bulan yang lalu. Cuma 2x seminggu dari jam 8-12.30 tapi itu cukup ngasih ruang aku buat ngapa-ngapain sendirian (me time nih ceitanya..) dan bikin Alia tambah pintar dan mandiri. Hari-hari sulit pertama kali masuk sekolah baru tanpa Ibu cuma terjadi di 2 hari pertama. Hari selanjutnya gampang dan santaiiii…. Intinya ALia, Ibu dan Bapak hepi atas pilihan masukin ALia ke pre-school. Eh, ada sih yang bikin nggak hepi kalo pas waktunya bayar :p Tapiiii  next week ALia udah 3 tahun jadi udah dapet 20 hours subsidi dari pemerintah nggak harus bayar mahal lagi,  horraayy….

Diatas adalah cerita dari guru (primary caregiver) Alia di pre-school.  Hari Jumat, 21 Januari kemarin adalah hari tereakhir Alia di lincoln pre-school. Alia bawa buku cerita utuk kenang-kenangan. Alia cerita kalau gurunya bilang terimakasih ke Alia dan baca bukunya buat semua teman2 Alia, trus semua nyanyi “happy last day” for Alia. Sedih juga rasanya mau mindahin Alia dari pre-school ke Kindy, karena di pre-school ALia memang kelihatan banyak belajar, banyak teman, guru-gurunya perhatian dan tempatnya dekeet banget dari rumah heehehe…  Tapi mindahin ALia ke Kindy juga bukan tanpa pertimbangan walaupun kami butuh extra efforts to make it run smoothly. Ya buat nganter ALia lebih pagi dan lebih jauh, nyiapin snack dan lunch box ALia tiap hari, dan yang paling penting nyiapin ALia di lingkungan, teman dan guru yang baru. Trus kenapa dong ALia dipindah ke Kindy?? Karena Alia minggu depan udah 3 tahun, udah dapet 20 hours free dari pemerintah NZ dan Kindy cuma nerima anak-anak 3 tahun keatas. Waktu di pre-school teman-teman Alia umurnya bervariasi mulai dari bebi sampai 5 tahun dan di sana kesannya lebih ke ‘penitipan anak’ (tapi tetap dikemas dengan Early Childhood Curriculum). Di Kindy ALia akan punya teman seumuran (3-5 thn), nggak akan ada primary caregiver, jadi insyaAllah akan lebih fokus di kegiatan bermain-belajar yang benar-benar pas di usia ALia. Doakan ALia tambah pinter, jadi pribadi yang baik hati, baik budi, punya banyak teman, dan semakin solehah. Amiiinnn…