Sepotong cerita belajar di New Zealand

Menyambung cerita pengalaman bersekolah Pak ABink di 3 Negara berbeda, sekarang Pak ABink mau sharing cerita mengenai sekolah di New Zealand. Sebenernya pengen cerita lebih banyak mengenai sekolah di Australia dan di Indonesia. Tapi karena dokumentasi photo tercecer entah dimana maka rasanya jadi kurang afdho. Jadi sekarang ceritanya yang di New Zealand dulu mumpung masih banyak yang diingat dan banyak photonya.

Cerita bersekolah di New Zealand ini diawali dari diterima nya Pak ABink jadi dosen di Universitas Brawijaya. Sebagai seorang dosen baru, Pak ABink sudah ditodong pihak fakultas untuk mempersiapkan diri bersekolah kejenjang yang lebih tinggi. Browsing sana browsing sini pingin hati sih ke Eropa. Alasannya sepela soalnya pengena jalan-jalan dan ngerasain hidup di Eropa secara sudah pernah tinggal di Australia sekitar 1.5 tahun.

aotearoa

Setelah ngobrol sana ngobrol sini plus browsing-browsing akhirnya tambatan hati jatuh kepada New Zealand. Kenapa New Zealand? alasannya sepele karena senior Pak ABink – Dr Irawanto sudah berangkat duluan untuk sekolah di New Zealand. Belio banyak bercerita mengenai menarik nya bersekolah di New Zealand.

Dari 8 Universitas yang menawarkan program Doctoral, Pak ABink memutuskan untuk mengirimkan surat aplikasi ke beberapa Universitas. Yang menjadi prioritas adalah University of Auckland secara ini adalah universitas terkemuka di dunia bukan saja di New Zealand. Apa dikata setelah menunggu sekitar 6 bulan surat lamaran S3 Pak ABink mendapat balasan sebuah penolakan. Alasannya adalah karena Master yang Pak ABink miliki adalah coursework yang tidak cukup untuk mengambil Ph.D.

Patah hati ditolak University of Auckland, Pak ABink tidak patah semangat. Setelah koresponden dengan potential supervisor, Pak ABink mengirimkan aplikasi ke tiga Universitas sekaligus. Yaitu Massey University, Waikato University dan Lincoln University. Yang paling cepat membalas adalah Waikato University. Waikato menyatakan akan menerima Pak Abink tetapi harus mengambil Postgraduate Certificate selama 2 semester sebelum dapat mengambil program Doctoral. Senada dengan Waikato University, MAssey University juga memberikan surat penerimaan. Tetapi dengan syarat Pak ABink harus mengambil Master Management tahun kedua sebelum diterima di program Doctoral. FYI di New Zealand program PHD itu fees nya adalah domestic fees. Karena harus menambah PG Cert dan Master di Waikato dan Massey maka untuk tahun pertama Pak ABink tidak eligible untuk domestic fees. Sehingga Pak ABink terpaksa menolak surat penerimaan tersebut.

Bagaimana dengan Lincoln University? Berbeda dengan Waikato dan Massey. Lincoln University memberikan surat penerimaan untuk Pak ABink. Juga dengan syarat. tetapi syarat nya cuma bridging 2 mata pelajaran. Dua mata pelajaran ini bias diambil secara bersama sama dengan program Doctoral dan Pak ABink eligible langsung untuk membayar domestic fees. Akhirnya dengan pertimbangan tersebut, maka Pak ABink menerina tawaran dari Lincoln University.

Lincoln University Canterbury
Lincoln University Canterbury

Setelah mendapat admission dari Lincoln University, muncul masalah kedua. Masalah tersebut adalah berkaitan dengan pendanaan. Akhirnya dengan mengucap Bismillah, pak ABink mendaftar ke program beasiswa DIKTI. Alhamdulillah akhirnya Pak ABink mendapatkan beasiswa tersebut.

Berbekal beasiswa DIKTI, Pak ABink berangkat ke New Zealand pada Agustus 2009. Pada saat itu Bu Abink dan Alia tidak langsung pergi bersama Pak ABink. Pertimbangan utama adalah alasan untuk Pak Abink beradaptasi dan mempelajari lingkungan secara langsung. Selain itu Alia masih berusia 6 bulan sehingga lebih baik menunggu hingga Alia berumur 1 tahun.

Bagi yang ingin bersekolah, Pak ABink sarankan jika membawa keluarga, maka berangkat sedniri terlebih dahulu baru ketika semua sudah settle maka undanglah keluarga untuk datang. Di masa “orientasi” tersebut Pak ABink tinggal di asrama mahasiswa self-catered yang namanya Crescent.

Crescent
Crescent

Di Crescent Pak ABink tinggal bersama dua orang Malaysia dan seorang Jerman. Selama masa orientasi tersebut Pak ABink sangat berterima kasih dengan seorang teman dari Indonesia yaitu Dr. Dessy Aliandrina karena belau selalu siap membantu dan berbagi dengan Pak ABink. Jadi serasa menemukan seorang saudara di tanah nun jauh tersebut.

Bersama dengan Dr. Dwi Suhartanto dan Dr. Dessy Aliandrina
Bersama dengan Dr. Dwi Suhartanto dan Dr. Dessy Aliandrina

Sedangkan untuk perkuliahan, di awal bulan pertama Pak Abink belajarnya nomaden. Seharusnya setiap Doctoral student mendapatkan work station lengkap. Tetapi karena pada saat Pak ABink tiba adalah pertengahan semester maka pada saat itu tidak ada work station kosong, sehingga Pak Abink ditempatkan di ruang bersama yang biasanya diisi mahasiswa tingkat Master.

Setelah beberapa minggu di Orchard Building (nama untuk ruang bersama) Pak Abink dipindahkan ke Printery (ruang khusus Doctoral student). Di Printery ini Pak Abink mendapatkan work station permanent.

Pak ABink at Printery
Pak ABink at Printery

Pada saat itu di Printery sudah ada 3 mahasiswa Indonesia lainnya. Yaitu Dr. Dessy Aliandrina, Dr. Dwi Suhartanto dan Dr. Ludia Wambraw. Sangat menyenangkan memiliki kawan-kawan seperjuangan dari Negara yang sama.

Diawal kedatangan Pak ABink di New Zealand, ada sebuah organisasi pelajar Indonesia yang namanya adalah PPIC (Perhimpunan Pelajar Indonesia Canterbury). Pada saat itu sedikit sekali mahasiswa yang mau bergabung dengan PPIC. Di tahun 2009 hanya sekitar 10 orang mahasiswa Indonesia yang bergabung dalam organisasi tersebut. Ditahun 2010, Pak Abink berkesempatan menjadi Ketua PPIC menggantikan Dr. Dodi Ariyanto yang menyelesaikan studinya.

7233_155450966882_2288857_n
PPIC 2009

Selama menjadi mahasiswa di New Zealand, Pak ABink banyak mengalami kejadian-kejadian luar biasa. Sebut saja gempa bumi. Tercatat selama 3.5 tahun di New Zealand, KeluargaHussein mengalami 3 kali gempa bumi yang cukup besar. Gempa pertama terjadi pada bulan puasa tahun 2010. Gempa tersebut sekitar 7.6SR dan terjadi pukul 4 pagi pada saat waktu sahur. Gempa kedua terjadi pada Bulan Februari 2011 dan yang terakhir pada Juli 2011. Untuk gempa pada Februari 2011 tersebut tercatat yang menyebabkan korban dan kerusakan terbesar. Hampir 90 orang menjadi korban dan kota Christchurch harus di tutup beberapa waktu.

Printery Setelah Gempa
Printery Setelah Gempa

Teringat pesan dari pemberi beasiswa jika selama kuliah karyasiswa diharapkan juga selalu membuka wawasan dan jaringan maka Pak ABink selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan budaya. Salam satunya kegiatan rutin yang diikuti bersama PPIC adalah kegiatan Internasional Night yang rutin diadakan di Lincoln University. Acaranya biasanya terdiri dari cultural performance, pameran kebudayaan dan international dinner. Tim PPIC selalu aktif dalam kegiatan tersebut. Selain International Night banyak juga kegiatan-kegiatan kebudayaan lain yang Pak ABink ikuti seperti halnya Culture Galore dan Santa Parade.

International Night
International Night

Selama 3.5 tahun tinggal di New Zealand, KeluargaHussein menempati 3 rumah yang berbeda. Rumah merupakan salah satu tantangan tersendiri ketika kita tinggal di luar negeri. Mulai dari rumah yang tidak nyaman hingga harga sewa yang terlalu mahal. Pertama kali mendapatkan rumah Pak ABink sedang dalam kondisi terdesak. Hingga H-2 minggu sebelum kedatangan Alia dan Bu Abink, rumah belum didapatkan. Sehingga ketika ada yang menawarkan sebuah rumah yang sudah tua, besar dan mahal mau tidak mau Pak ABink ambil rumah tersebut. Beruntungnya tidak ada kontrak permanen sehingga jika ingin berhenti mengontrak cukup memberikan 3 minggu notice saja kepada owner nya. Dirumah tersebut, KeluargaHussein hanya tinggal selama 4 bulan. Ketika ada seorang kawan dari PNG yang pulang maka dengan antusias KeluargaHussein meng overtake rumah kawan tersebut. Kebetulan tetangga rumah tersebut adalah orang Indonesia juga yaitu Dr. Ludia dari Papua. Sehingga sangat menyenangkan punya tetangga berasal dari satu Negara. Dirumah kedua itu KeluargaHussein tidak tinggal terlalu lama-hanya sekitar 7 bulan. Karena setelah itu KeluargaHussein mendapatkan tawaran untuk tinggal dirumah yang dimiliki kampus. Rumah kampus ini berada dalam lingkungan kampus sehingga sangat dekat dengan office Pak ABink. Dengan banyak pertimbangan akhirnya KeluargaHussein pindah ke rumah kampus -ER01. DIsini kami tinggal hingga Pak ABink lulus.

ER01-Lincoln University
ER01-Lincoln University

Sebagai mahasiswa Doktoral, kurang afdol jika tidak diselingi dengan kegiatan-kegiatan akademis. Selama menjadi mahasiswa Doktoral Pak ABink aktif dalam kegiatan-kegiatan seminar baik menjadi peserta maupun menjadi pembicara. Sebagai pembicara Pak ABink selama kuliah tercatat tiga kali mengikuti conference. Yang pertama adalah Konferensi Pelajar Indonesia di Wellington.

Kongres Pelajar Indonesia Selandia Baru
Kongres Pelajar Indonesia Selandia Baru

Kemudian Pak ABink juga pernah ikut pada Konferensi Social Marketing yang diadakan oleh Australian Association Social Marketing di Griffith Brisbane dan juga Lincoln University Postgraduate conference.

Selain cerita akademik dan persahabatan, Pak Abink juga pernah mengalami kejadian mengerikan selama kuliah di New Zealand. Pada saat itu libur Waitangi Day. Dua hari setelah Pak ABink dinyatakan lulus Program Doktoral. KeluargaHussein ingin mengunjungi kawan yang juga tinggal di Lincoln. Dari arah Kota KeluargaHussein berkendara dengan kecepatan sedang. Di tikungan Birch Rd, seorang pengendara HD dengan kecepatan tinggi menabrak mobil keluargahussein. Sukur Alhamdulillah hanya Mobil Keluargahussein yang hancur lebur dan kaki Pak Abink retak. Alia dan Bu Abink selamat tanpa kekurangan apapun.

FBR 853 setelah kecelakaan
FBR 853 setelah kecelakaan

Dari sepenggal cerita tersebut, Pak Abink sangat banyak bersukur kepada Allah SWT karena berkat nikmat dan rejeki nya keluargahussein banyak mendapatkan pengalaman yang akan terkenang sepanjang masa.

Advertisements

3 Universitas dengan 3 rasa berbeda

Tidak terasa ternyata dalam 10 tahun terakhir ini Pak ABink sangat beruntung memiliki pengalaman untuk mencicipi belajar di 3 universitas yang berbeda dengan jenjang yang berbeda pula. Ketiga universitas itu adalah Universitas Brawijaya tempat Pak ABink menempuh pendidikan Sarjana bidang Ekonomi Manajemen kekhususan Manajemen keuangan, kemudian dilanjutkan pada University of Wollongong Australia untuk mengambil Master di bidang Commerce dengan kekhususan Strategic Marketing dan yang terakhir di Lincoln University Canterbury Selandia Baru untuk tingkat Doktoral (Ph.D) dibidang social marketing. Teringat obrolan dari seorang teman yang terinspirasi dari sebuah pilem bahwa jika kamera kita rusak, maka memori kita akan hilang maka tulislah kenangan tersebut agar dapat selalu dikenang dan diingat maka Pak ABink mencoba untuk menuangkan kembali ingatan-ingatan dari 10 tahun yang lalu tersebut.

Tahun 2001, Pak ABink lulus dari sekolah menengah umum disebuah SMU negeri di Kota Malang, yaitu SMUN 8 Malang. Layaknya anak-anak yang dilanda euphoria kelulusan, keberhasilan menyelesaikan pendidikan menengan atas tersebut pun Pak ABink tanggapi dengan suka cita dan penuh bahagia. Tetapi dibalik kebahagiaan tersebut terselip suatu kekhawatiran mengenai masa depan. Khususnya mengenai kemana kaki harus melangkah untuk menuntut ilmu lebih tinggi. Pada masa itu persaingan masuk perguruan tinggi negeri sangat ketat. Setiap tahun hanya 100-150 mahasiswa yang bias diterima di masing-masing jurusan pada universitas-universitas negeri terkemuka. Berbekal rasak khawatir tersebut Pak ABink mencoba untuk mendaftar di universitas-universitas swasta sebagai cadangan jika tidak dapat diterima di universitas negeri.

Selain universitas swasta, Kai Roben juga memberi saran jika mau Pak ABink bias bersekolah di luar negeri dimana Malaysia adalah yang paling memungkinkan. Pertimbangannya simple saja karena Malaysia relative dekat dan biayanya masih terjangkau. Dengan alas an tersebut Pak ABink dan Kai Roben pun berangkat ke salah satu universitas swasta di Malaysia yang berafiliasi dengan salah satu Universitas di Australia.

Formulir sudah ditangan dan sudah diisi. Tetapi setelah berkonsultasi dengan Mama Hannie akhirnya rencana brsekolah di Malaysia pun dibatalkan. Mama Hannie beralasan dan khawatir kalo Pak ABink sampai sekolah di Malaysia takutnya Pak ABink menikah dengan orang Malaysia dan nanti tidak mau kembali ke Indonesia. Sedikit mengada ada tapi sebagai anak maka pertimbangan orang tua harus di dengarkan.

Alhasil berbekal semangat ikut UMPTN Pak Abink berhasil diterima sebagai mahasiswa baru di Jurusan Manajemen Universitas Brawijaya. Seingat Pak ABink mahasiswa baru jurusan Manajemen pada saat itu hanya sekitar 120 orang dan di bagi kedalam 4 kelas. Yaitu kelas A, B, C dan D. Pembagian kelas tersebut berdasarkan NIM yang tak lain dan tak bukan berdasarkan urutan abjad nama awal mahasiswa.

Kelas A ini cukup solid dan kompak secara dari sekitar 35 mahasiswanya, mayoritas adalah laki-laki. Perempuan hanya sekitar 9 orang. Kesolidan kelas A ini secara umum bertahan hingga sekarang. Tetapi semenjak semester 5 ketika dimulai era konsentrasi maka kelas A mulai jarang berkumpul. Pada saat itu Pak ABink masuk konsentrasi Manajemen Keuangan.

Singkat cerita, masa-masa berkuliah di Universitas Brawijaya sangat menyenangkan. Pak ABink lumayan aktif dikegiatan kemahasiswaan khususnya di LSME (Lingkar Studi Mahasiswa Ekonomi). Dimasa kuliah inilah Pak Abink pertama kali bertemu dengan Ibu ABink. Jadi tercatat kami sudah berkenalan sejak tahun 2002. Waktu yang cukup lama untuk saling mengenal.

Di masa kuliah ini Pak Abink bukan mahasiswa yang sangat cemerlang walau harus disyukuri karena paling tidak Pak ABink lulus dengan predikat Cum Laude dan masa kuliah hanya 3 tahun 3 bulan (seperti nya Pak ABink merupakan lulusan pertama dari angkatan 2001).

Setelah lulus S1 sekitar bulan Desember 2004 dan Wisuda pada Februari 2005, Kai Roben menyuruh Pak ABink untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Kali ini Kai Roben menyuruh dan berketetapan hati untuk menyekolahkan Pak ABink ke luar negeri dan dari hasil survey yang paling terjangkau adalah universitas di Malaysia. Kembali Malaysia menjadi tujuan pendidikan. Sekitar Bulan Februari Pak ABink dan Kai Roben mensurvey universitas-universitas di Malaysia. Yang disurvey pada saat itu adalah University Malaya, Universiti Kebangsaan Malaysia dan University Putra Malaysia.

Yang menarik pada saat itu adalah ketika berkunjung ke UKM, Pak ABink bertemu dengan seorang dosen akuntansi UB yang kebetulan juga sedang mengambil S3 di UKM. ALhasil dikenalkannya lah Pak ABink dengan kawan belio yang juga seorang mahasiswa MBA di UKM. Banyak cerita dan pengalaman yang disampaikan kawan tersebut yang akhirnya dapat disimpulkan bahwa MBA di UKM (menurut belio) tidak recommended.

Tapi apa dinyana, karena kembali Malaysia adalah Negara dengan kualitas pendidikan yang baik dengan biaya terjangkau maka Pak ABink tetap mendaftar di program MBA pada UKM dan UM.

Sedikit berbeda dengan universitas-universitas di Indonesia, pendaftaran program S2 di Malaysia dibuka sepanjang tahun. Tetapi pengumumannya menjelang perkuliahan di mulai. Sehingga ketika bulan Maret mendaftar maka Pak ABink tidak mendapat jawaban diterima atau tidak.

Di masa penantian tersebut, Kai Roben terbayang-bayang akan komplainan dari kawan yang mengambil MBA di UKM tersebut. Sehingga Kai menyuruh Pak ABink untuk mencari informasi S2 di Australia. Singkat cerita Pak ABink tertarik dengan program S2 yang ditawarkan oleh University of Wollongong. Maka dengan penuh kesadaran Pak ABink mendaftar ke UOW melalui agen pendidikan di Kota Malang. Ada hal yang lucu dan menarik pada saat mendaftar tersebut. Jadi ketika mau mengurus administrasi pendaftaran, salah satu konselor dari agen tersebut menyampaikan bahwa Pak ABink harus menguruskan badan. Karena kalo terlalu gemuk bias tidak diberikan visa. Mendengar informasi tersebut, maka patah hati lah Pak Abink. Masak orang mau sekolah harus diet dulu. Kayak militer saja. Karena si konselor tersebut bersikukuh untuk Pak Abink berdiet maka Pak ABink mundur teratur. Mencari agen lainnya. Akhirnya dapat agen pendidikan lain di Kota Surabaya. Lewat agen tersebut, Pak ABink tidak perlu diet dan sampai juga di UOW.

Karena nilai bahasa inggris yang sangat kurang maka Pak ABink harus ikut ELICOS selama 10 minggu. ELICOS diadakan di Wollongong University College (WUC) yaitu sebuah college tempat menempuh program diploma atau kursus persiapan bahasa inggris. Di WUC ini Pak ABink bertemu dengan dua sahabat sependeritaan dan sepermainan yaitu Suluh dan Ginanjar. Di luar college kami selalu berajalan dan bermain bersama tetapi selama di college kami sepakat supaya Bahasa Inggris meningkat maka kami brteman juga dengan yang lain. Sangat seru kursus di WUC ini. Walau Pak ABink kuliah di Australia, tetapi rasanya seperti di Beijing. Karena hamper 70% mahasiswa WUC adalah Asian dan mayoritas adaah orang China.

Mahasiswa WUC dari China, Thailand dan indonesia
Di kampus WUC bersama kawan-kawan dari China dan Thailand

Selain Pak Abink, Suluh dan Ginanar, pada saat ini di WUC ada bebebrapa mahasiswa lain dari Indonesia. Yang Pak ABink ingat adalah Pak Madyan (dosen Unair), Pak Heru (dosen Polinema) dan Mirza (ini cewek dari Jakarta). Tidak ada yang sekelas pada saat itu kecuali Mirza dengan Pak Madyan.

Akhirnya setelah 10 minggu berkutat belajar Bahasa Inggris Pak ABink dkk dinyatakan lulus dan berhak untuk melanjutkan mengambil postgraduate. Pada saat itu Pak ABink memutuskan untuk mengambil Master Strategic Marketing. Pada awalnya Pak ABink sempat bimbang. Dari Indonesia memang maksud hati ingin mengambil pendidikan tersebut. tetapi ketika sudah di Australia dan bertemu dengan kawan-kawan dari China maka hati sempat goyah. Motivasi kawan-kawan dari China pada saat itu adalah untuk menjadi seorang permanent resident. Untuk mendapatkan PR mereka harus bersekolah Akuntansi dan program yang memungkinkan adalah mengambil Master Professional Akuntansi. Tetapi setelah berdiskusi dengan Kai Roben, maka Pak ABink dengan kebulatan tekad mengambil Master Strategic Marketing.

4590_83940481918_2360648_n
Lebaran Bersama Mirza, Suluh dan Mia

Dikelas Postgraduate ini banyak sekali yang Pak ABink pelajari. Baik dari sisi pelajaran marketing hingga masalah akademik lainnya seperti plagiarism, etos kerja hingga berpikir kritis. Disinilah tempat pertama kali Pak ABink diajarkan bagaimana melakukan suatu pemikiran kritis pada permasalahan-permasalahan pemasaran. Sangat menyenangkan sekali belajar di UOW. Lingkungan yang sangat mendukung hingga fasilitas yang sangat memadai.

Akhirnya dengan sagal kerja keras dan cucuran keringat serta doa yang tak pernah berhenti pada Agustus 2006 Pak Abink berhasil diwisuda dengan gelar Master of Strategic Marketing. Tapi oleh DIKTI disetarakan dengan gelar Master of Commerce (Strategic Marketing).

Graduation with Migo from China
Graduation with Migo from China

Setelah lulus dari Wollongong, Pak ABink kembali ketanah air dan mengabdi di Universitas Brawijaya sebagai pengajar. Kurang dari 3 tahun mengabdi sebagai dosen, Pak ABink kembali berkesempatan untuk bersekolah kembali. Kali ini pilihan untuk bersekolah adalah New Zealand. Dari delapan Universitas negeri yang menawarkan program Doktoral, akhirnya Pak ABink memilih Lincoln University sebagai tempat menuntut ilmu

Lincoln University
Lincoln Univesity

Lincoln University ini bukan Universitas besar. Jumlah mahasiswa nya sekitar 4000 orang berasal dari 130 Negara yang berbeda (menurut marketingnya). Untuk program Doktoral ilmu bisnis dan manajemen saja mahasiswa yang terdaftar berasal dari beragam Negara seperti New Zealand, Brazil, Vietnam, Pakistan, Indonesia, Malaysia, Thailand, PNG, Sri Lanka, India dan sebagainya.

Ibu ABink bersama Doctoral Student dari Berbagai Negara
Ibu ABink bersama Doctoral Student dari Berbagai Negara

Study Doctoral di Lincoln University sangat menyenangkan. Iklim New Zealand yang sejuk ditambah dengan segar nya udara Lincoln membuat pikiran semakin terbuka. Gedung-gedung perkuliahan yang menawan menambah semangat untuk belajar.

Ivy Hall - Lincoln University Library
Ivy Hall – Lincoln University Library

Akhirnya setelah berhasil submit thesis pada bulan Oktober 2012, Pak ABink mempertahankan thesis pada bulan Februari 2013. Untuk ujian thesis secara lengkap bias di baca pada postingan pak Abink di kolom kompasiana. Akhirnya setelah ujian dan revisi Pak ABink resmi dinyatakan sebagai seorang Doctor dengan gelar Ph.D (Doctor of Philosphy).

Pak ABink Ph.D Thesis
Pak ABink Ph.D Thesis

Lengkap sudah perjalanan akademik formal Pak ABink. Penuh puji syukur selalu Pak ABink ucapkan ke Allah yang maha pengasih karena berkat Nya Allah perjalanan akademik yang panjang tersebut bias dilalui. Pengalaman di 3 universitas ini benar-benar memberikan warna pada pandangan hidup dan akademik dari Pak ABink. Semoga hal ini dapat menjadi hal yang bermanfaat bagi Pak ABink dan KeluargaHussein.

Lincoln International Night

Lincoln International Night adalah salah satu annual event yang selalu saya tunggu-tunggu. Selama di NZ, saya berkesempatan untuk ikut terlibat dalam acara ini 4 tahun berturut-turut. Dan selama itu pula, kami dari tim Indonesia sudah menyajikan berbagai hidangan, performance dan memamerkan seni budaya Indonesia. Dulu waktu bapak Abink n kk Alia masih di Lincoln, kami sekeluarga selalu berpartisipasi mendukung Indonesia untuk ikut serta memeriahkan acra ini. Biasanya saya membantu memasak di pagi hari, dan bapak Abink membantu mempersiapkan cultural booth di siang/sore harinya. Kesibukan tim Indonesia untuk menyambut acara ini biasanya sudah dimulai jauh-jauh hari. Dari ngumpul bareng2 ngomongin performance apa yang ditampilkan, akan masak apa di hari itu sampai ngomongin barang apa aja yang akan di-display di cultural booth. Sebenarnya yang paling sibuk waktu itu sih Bapak Abink dan teman2 students. Saya yang waktu itu bukan student cuma mendukung aja dengan ikutan memberi saran, sumbang tenaga di hari H, sumbang makanan seadanya kalo pas ada acara ngumpul2 ngomongin Int’l nite dan menjadikan rumah kami sebagai base camp tempat dandan para penari.  Bagaimana dengan tahun ini? Tahun ini sepertinya tim Indonesia lebih santai… Saya pun santai, walaupun di hari H tetap sibuk di dapur untuk masak. Tahun ini kami memutuskan untuk masak bakwan jagung udang dan es teler saja. Simple tapi yummy 🙂

Acara ini diadakan oleh Lincoln University Student Association (LUSA). Ide nya adalah memperkenalkan keragaman budaya yang ada di Lincoln University karena students LU berasal dari beragam bangsa dan budaya. Partisipannya sendiri pun dari para student, walaupun tidak menutup kemungkinana adanya bantuan atau partisipasi community. Acara ini dikemas dalam 3 bagian; kuliner, performance di atas panggung dan cultural booth.

Kuliner. Negara yang mau berpartisipasi diminta memasak makanan khas dari negaranya. Semua bahan dan alat di sediakan oleh Lincoln Uni. Yang bikin seru, masaknya harus di dapur-nya Lincoln rame2 dengan teman2 dari negara lain. Seru nya lagi, kita bisa saling mencicipi makanan mereka fresh from the oven 🙂 Makanan dari berbagai negara ini akan dihidangkan di buffet table untuk para tamu. Indonesia sendiri sudah menghidangkan berbagai makanan seperti sate, rendang, pisang goreng, bakwan jagung sampai tempe mendoan. Dan the most favorite dessert yang selalu ada setiap tahun adalah es teler… Bangganyaa, masakan indonesia selalu mendapat pujian dari tahun ke tahun, nggak kalah dengan masakan dari India, China, Nepal, PNG, Jepang, Mexico, Amerika, VietNam, Iran, Malaysia dan New Zealand. Bahkan di tahun 2011 lalu, ketika kami masak rendang, seorang koki dari Lincoln Uni mendatangi kami untuk memuji rendang Indonesia dan minta resepnya!!

Image
Photo dari http://www.lusa.org.nz
intl night 2
Photo ini juga dari http://www.lusa.org.nz

Cultural Booth. Sambil menikmati hidangan, para tamu juga bisa melihat-lihat, mencari informasi atau berfoto di depan cultural booth dari berbagai negara. Biasanya setiap negara akan men-display benda-benda seni, peta negara, bendera dan beberapa penjaga booth biasanya juga memakai pakaian daerah. Selama ini pakaian daerah Indonesia berhasil menarik perhatian pengunjung. Banyak yang tertarik mencoba memakai hiasan kepala ala perempuan bali, memakai topi pria bali bahkan mencoba blangkon jawa. Selain itu, Indonesia juga biasa memamerkan wayang dan pengunjung pun tertarik untuk belajar mainin wayangnya.

Friends from Iran
10150300698211919
Indonesia-2011
39356_420183276882_653701882_5231962_3450928_n
Indonesia-2010

Performance. Setelah para tamu puas menikmati hidangan dan pameran budaya dari berbagai negara, sekarang saatnya melihat penampilan di atas panggung. Biasanya acara di buka dengan Haka (Maori war dances) khas New Zealand atau dibuka dengan lagu-lagu Maori. Saya pribadi dangat menikmati lagu2 Maori ini yang kental dengan sentuhan irama “kepulauan” dan diiringi dengan gerakan-gerakan tangan yang sederhana tapi manis 🙂

Maori song followed by Haka (photo courtesy of Mohan Gurung)
Maori song followed by Haka (photo courtesy of Mohan Gurung)

 Tim Indonesia sendiri sudah 4 tahun berturut-turut selalu menampilkan sesuatu yang berbeda dari tari Bali yang dibawan sendiri oleh penari Bali muda berbakat (Amel), tari modern dengan diiringi lagu Baliku (Chrisye) yang dibawakan oleh 3 remaja putri yang cantik-cantik (Mia, Amel, Puteri), Poco-poco rame-rame oleh PPIC, sampe peragaan busana Indonesia oleh Ibu-ibu PPIC dan CIS 🙂

tari
Photo courtesy of Ibu Indri Rasyid
busana
Photo Courtesy of Ibu Melanie Iskandar

Mungkiiinn International Night tahun depan (2014) bakal jadi International night terakhir saya di Lincoln sebagai student. Jadi nggak sabar nunggu bulang Agustus lagi, biar bisa menikmati keragaman budaya dunia lewat Lincoln University International Night lagi.. Doakan saya tahun depan bisa menikmati event dengan tenang karena thesis udah nyaris sampai di garis finish yaaaa 🙂 (aamiin)

Ujian Thesis Doctoral ala New Zealand University

Akhirnya perjalanan akademik Pak Abink di tanah New Zealand di tutup dengan manis dengan diraihnya gelar Ph.D dalam bidang Marketing. Perjalanan akademik menempuh program doktoral ini dilalui dengan banyak tantangan, hambatan, cobaan dan pengalaman yang tak terlupakan. Alhamdulillah semua berjalan manis. Mungkin di kesempatan lain akan KeluargaHussein coba review perjalanan selama 3.5 tahun hidup di tanah Kiwi ini.

Kali ini, Pak Abink, ingin berbagi cerita mengenai bagaimana ujian thesis mahasiswa Doktoral di New Zealand. Semoga bisa berguna untuk memberikan gambaran bagi kandidat Doktor lainnya yang sedang berjuang.

Untuk dapat di uji dalam sidang doktoral, seorang kandidat Doktor harus lah berhasil menyelesaikan thesis nya terlebih dahulu. Secara umum kandidat Doktor diberikan waktu 3 tahun hingga 3.5 tahun untuk menyelesaikan thesis. Walaupun ada beberapa kandidat yang kurang dari 3 tahun atau bahkan ada yang sampai 5 tahun untuk menyelesaikan thesis nya.

Nah untuk Pak ABink sendiri, butuh 3 tahun 2 bulan untuk merampungkan thesis dan mendapat persetujuan dari pembimbing untuk men-submit thesis. Prosedur untuk submit mun tidak susah. Cukup minta submission form dari student service atau dari PG admin fakultas. Setelah dapat form tersebut maka di gandakan 4 kali. Diisi kemudian harus di tanda tangani oleh supervisor utama. Dalam beberapa kasus jika supervisor utama sedang on-leave maka supervisor kedua boleh untuk tanda tangan selama supervisor pertama sudah memberikan ijin. Setelah mendapat ijin dari supervisor, kandidat Doktor harus menggandakan thesis 4kali. Disarankan 5 karena kopi yang ke 5 untuk mahasiswa itu sendiri. Yang menjadi pertanyaan, buat siapa saja kah 4 jilid thesis tersebut?

Sistem New Zealand mensyaratkan bahwa Doktoral thesis akan di review oleh empat orang yaitu domestik examiner (penguji dari dalam New Zealand di luar Universitas), international examiner (penguji dari negara di luar New Zealand, serta dua supervisor. Tapi untuk supervisor hanya akan memberikan 1 penilaian (nilai bersama).

Nah setelah menggandakan thesis 5 kali, maka 4 jili thesis diserahkan ke student service. Tips bagi para kandidat doktor lainnya, adalah 3-6 bulan sebelum submission, ingatkan supervisor untuk mencari examiner baik international maupun domestik. Karena jika nama penguji sudah ada (kandidat tidak tahu siapa penguji tersebut untuk menghindari bias) maka jika thesis sudah masuk ke student service maka dalam 1×24 jam akan segera di kirim ke penguji. Yang sering terjadi adalah, supervisor belom memberikan nama ke student service sehingga walau sudah di submit, thesis akan tetap berada di student service dalam jangka waktu tertentu.

Setelah di submit, maka yang akan dilakukan adalah MENUNGGU. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu. Masing-masing universitas punya kebijkan masing-masing dalam kondisis menunggu ini. Untuk Lincoln University, 60 hari setelah thesis di submit maka convenor  akan mengirimkan reminder kepada para penguji. INGAT yang bisa dilakukan oleh convenor adalah mengirimkan reminder. Jadi sebentar atau lama review dari penguji sangat tergantung dari penguji itu sendiri. Untuk Lincoln University waktu tunggu standar adalah 3 – 7 bulan. Alhamdulillah PAk Abink cuma perlu menunggu 3 bulan sudah termasik christmast holiday.

Sudah menjadi rahasia umum jika tahap yang paling menegangkan adalah menunggu. Karena penilaian terbesar adalah review dari penguji + supervisor. Ada beberapa rekomendasi yang akan diberikan. Rekomendasi pertama adalah layak uji tanpa perbaikan (kondisi ini jarang terjadi), rekomendasi B adalah layak uji dengan perbaikan, rekomendasi C adalah re-do dan resubmit (untuk kasus ini thesis di kembalikan dan kandidat harus menambah beberapa hal sesuai rekomendasi penguji) dan yang terakhir adalah fail. Jadi dari pengalaman dan obrolan dengan kawan-kawan yang sudah Doktor, jika kita sudah di panggil untuk ujian maka sebenarnya kandidat tersebut sudah 80% lulus. Tinggal saat ujian saja. Tetapi dalam ujian jarang kasus gagal lulus selama thesis tersebut dikerjakan sendiri.

Nah untuk ujiannya pun cukup santai. Kandidat akan diberitahukan 1-2 minggu sebelom ujian. Kemudian berbeda dengan sidang Doktoral di Indonesia yang benar-benar formal, sidang ujian ini mirip seperti diskusi. Dalam ujian hanya akan ada lokal examiner, convenor dan supervisor. Diskusi mayoritas dengan lokal examiner. Lokal examiner akan membacakan beberapa pertanyaan dari international examiner. Sisanya akan ada diskusi dengan convenor dan supervisor.

Setelah diskusi selesai, kandidat akan di suruh keluar ruangan. Penguji, convenor dan supervisor akan meeting. Setelah meeting kandidat akan di panggil dan diumumkan apakah berhal mendapat kan gelar Ph.D nya atau tidak.

Jika dinyatakan lulus maka tahap berikut nya adalah melakukan revisi dan mendeposit kan thesis di library. Jika thesis sudah di deposit di library maka kandidat harus mencari clearance form dari library dan student finance. Jika sudah semua maka kandidat secara remis bisa meng klaim dirinya Doktor.

Kesimpulannya adalah ujian Doktoral ala New Zealand, tidak rumit. Tidak terlalu formal. Yang dipentingkan adalah daya kritis dan analitis. Bagi yang sedang mengerjakan thesis PAk Abink ucapkan selamat berjuang. Bagi yang sedang menunggu review, semoga segera di berikan hasil sesuai dengan keinginan.

Belajar Dari New Zealand Kindergarten

Sejak Januari yang lalu, si kecil Alia sudah berumur tiga tahun. Sudah tidak mau di panggil little girl lagi, apa lagi di panggil baby. Mau nya dipanggil kakak Alia atau Big Girl. Sejak berumur tiga tahun itulah saya dan Bu Abink memilih Kindergarten sebagai “sekolah” untuk Alia. Maka pindahlah Alia dari Lincoln Daycare ke Lincoln KidFirst.

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi kami menyekolahkan Alia di Kindergarten. Pertama sejak anak berumur tiga tahun, maka pemerintah New Zealand memberikan subsidi 20 jam gratis untuk bersekolah di pusat-pusat pendidikan usia dini. Sekedar informasi di New Zealand ini PAUD di buat dalam beragam format. Ada yang dalam bentuk Kindergarten macam kidfirst, ada pula Childacare/daycare dan ada pula yang dikelola komunitas dalam bentuk playcentre. Nah sebenarnya untuk semua PAUD centre ini diatas usia tiga tahun otomatis mendapat subsidi 20 jam gratis. Alasan lain menyekolahkan Alia di Kindy yaitu untuk mengajarkan kemandirian. Dengan asusmi di Kindy rasio guru dengan murid tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil berbeda dengan di Daycare yang rasio nya bisa 1:5. Jadi anak-anak sudah dianggap dewasa tidak terlalu diawasi macam di Childcare.

Setelah hampir empat bulan berjalan, ternyata pilihan kami sangat tepat. Beberapa perubahan positif terjadi pada Alia. Yang paling tampak adalah kemandirian. Sejak masuk ke kindy Alia :

– bisa pakai kaos kaki sendiri

– bisa pasang sepatu sendiri

– bisa pakai celana sendiri, kalau pake baju masih harus di bantu

– tidak ngompol lagi, kalau mau pipis selalu bilang ” daddy/mommy, I wanna go to toilet” terus langsung lari ke toilet. Memang masih harus di bantu naek ke toilet karena toilet nya masih ketinggian

– bisa brush teeth sendiri

Selain mandiri perkembangan signifikan lainnya adalah kemampuan berkomunikasi. Sekarang Alia sudah lancar bahasa inggrisnya – grammar nya pun sering akurat. Contoh nya Alia bilang ” I went to toilet with Sue at school” wow 3 y/o girl sudah mengerti Past tense. Bahkan beberapa words yang dipakainya kami tidak mengerti (nasib-nasib). Kalau tentang bahasa Indonesianya, Alia mengerti bahasa Indonesia pasif, karena di rumah, kami berbahasa Indonesia. Untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia Alia masih belum bisa. Mudah-mudahan ini nggak jadi masalah ketika kami harus pulang ke Indonesia nanti. Dari sisi kognitif nya, Alia sudah kenal huruf. Bahkan Alia sudah bisa menulis namanya sendiri.

Nah tapi jangan bayangkan model pendidikan PAUD di New Zealand sama dengan TK TK di Indonesia walaupun TK Plus sekalipun. Di New Zealand, tidak ada namanya keseragaman. Tidak ada namanya duduk dalam kelas kemudian belajar alphabet bersama atau menyenyi bersama atau diajarkan “Ini Truk”…”ini bola”. Anak-anak wajib masuk ruangan hanya untuk morning tea, lunch dan “mat time”. Mat time ini dongeng sebelum pulang sekolah.

Saya pernah bertanya kepada salah satu guru di Kidsfirst. Bagaimana bisa Alia dapat belajar huruf dan angka begitu cepatnya. Apa di Kindy diajarkan secara khusus untuk membaca dan menulis. Belio menjelaskan bahwa konsep nya adalah belajar sambil bermain. Maksud nya adalah waktu bermain, kadang-kadang si guru menanyakan “what is this” …”this is a bus” so “B” is for Bus. Sambil nunjukin huruf B yang ada dimana saja. Bisa di kaos salah satu anak. Atau dimana saja. Jadi waktu saya tanya apa kegiatan anak seharian di Kindy. Dia menjawab bermain dan berkreasi. Karena dunia anak adalah bermain dan kreativitas. Pernah saya bertanya juga kenapa mereka tidak banyak menyediakan kertas untuk mewarna. Ternyata mewarna tidak terlalu cocok untuk pengembangan kreativitas anak usia dini. Dalam mewarna ada batasan dan ada kesesuaian. Misal mewarna pohon maka warna tidak boleh keluar dari batas warna begitu juga warna batang harus coklat. Padahal anak masih mengeksplorasi segala kemungkinan. Benar-benar pendidikan yang memanusiakan manusia.

Hal lain yang membuat saya kagum adalah tidak adanya perbedaan antara anak yang normal dengan yang sedikit berketerbatasan. Salah satu teman Alia sedikit terbatas pendengaran dan penglihatan. Tetapi si anak tetap diperlakukan sama. Diberikan kesempatan yang sama dengan teman-teman yang lain. Walau sedikit ada perhatian khusus dari para guru.

Nah yang menarik selain Alia yang banya belajar, saya pun banyak mendapatkan pelajaran berharga selama mengantar Alia ke sekolah. Maklum kesepakatan di KeluargaHussein, Pak Abink antar Alia sekalian ke kampus, dan Bu Abink yang jemput Alia di sore hari. Nah setiap pagi Pak Abink mengantarkan Alia sekolah. Maka setiap pagi Pak Abink bertemu dengan beberapa ibu/bapak nya murid-murid lain. Kadang geli melihat bapak-bapak yang badannya besar bin kekar tapi dengan santai  nge gendong anaknya sambil menjjing tas sekolah. Kemudia sebelum pulang si Bapak juga ber hug ria dengan si anak sambil bercanda. Selain itu Pak Abink juga belajar kesopan santunan orang New Zealand. Contoh kecil saja adalah mengenai membuka pintu. Mereka rela memegang pintu ketika melihat ada orang lain datang. Selain itu jika ada ibu-ibu yang datang maka Bapak-bapak rela untuk tergesa-gesa membukakan pintu. Benar-benar contoh sopan santun yang tidak dibuat-buat.

Banyak pelajaran berharga yang Alia dan kami pelajari dari Kindergarten ala New Zealand ini. Semoga pengalaman dan pengetahuan yang kami peroleh ini bisa kami tularkan di Indonesia dikemudian hari.

Salam keluargaHussein

Cerita oleh: Bapak Abink

Alia and The Gang

Alia sudah dua tahun, sudah gede. Sudah banyak tingkah nya. Sejak keluargahussein kembali dari Indonesia, Alia dan Ibu jadi rajin ke sekolah. Karena sekarang Alia sudah bisa main sendiri, sudah bisa lari sana-sini sendiri. Sudah bisa jumping-jumping dan yang paling seru Alia sudah bisa nge-Gang dengan teman-temannya. Ayo kita kenalan dengan anggota gang nya Alia.

Pertama yang paling gede adalah Karima. Karima itu temennya Alia yang sudah gede. Secara tidak langsung Karima ini kepala gang krucil Alia. Umur Karima ini sudah empat tahun lebih. Karima ini bapak nya orang Mesir dan ibunya orang New Zealand. Jadi hipotesa sementara Karima ini Islam. Karena di pantangan makanannya yang ditulis di Playcentre, Karima cuma makan Halal Meat dan Beef. Little Karima ini senang main sama Alia juga sama Bu Abink. Pernah suatu kali waktu Playcentre jalan-jalan ke Liffey Domain, semua anak harus ada pasangannya. Yang ga ada pasangan boleh gandengan dengan orang tuanya. Tapi ternyata Karima lebih milih gandengan dengan Bu Abink. Alhasil Bu Abink harus gendong Alia, Gandeng Karima dan bawa basket penuh dengan biji-bijian yang di dapat di domain. Cerita keakraban Karima dengan Bu Abink tidak cuma cerita tentang gandengan tangan. Tapi juga sering kali Karima kalau mau ke toilet milih sama bu Abink daripada sama emak nya. Karena sudah gede, Karima sudah bisa ber strategi. Sering kali dia kalau mau ke Toilet bilang ke Bu Abink kalau Alia yang mau ke Toilet. Alia mau pub or pipis. Terus kalau Bu Abink bawa Alia ke toilet, Karima juga ikut dan minta giliran setelah Alia.

Anggota yang lain dari geng tersebut adalah Adek Ray. Adek Ray ini anak dari sahabat KeluargaHussein yang berasal dari Indonesia. Adek Ray masih baby. Masih setahun kurang. Tapi walau belum genap setahun adek Ray ini temen favorit nya Alia. Kalo gak ketemu Adek Ray beberapa hari pasti Alia nyari-nyari Adek Ray dan ngajakin maen sama Adek Ray. Jadi akhirnya selain ketemu di Playcentre, setiap minggu pasti ada jadwal kunjungan baik Alia yang maen ke Adek Ray atau Adek Ray yang maen ke rumah Kakak Alia.

Kalau di Playcentre, Alia, Karima dan Ray sering main bersama. Biasanya ada additional member seperti Heleyna dari Belanda, Ben dari New Zealand atau Teoni juga dari New Zealand. Mereka senang sekali main swing bersama. Waktu main swing mereka sering ganti gantian atau istilahnya take turn. Awal nya sih take turn dan share bisa berjalan tapi namanya juga anak anak kalau sudah seneng main mainan tertentu maka lupa deh sama take turn nya.

Alia, Ray dan Karima Main Swing

Selain maen swing, Alia and the gang juga sering kali snacking bersama. Mereka makan bekal masing-masing dan kadang-kadang share. Sekedar informasi, bekal anak-anak “bule” ini kadang sangat sehat. Temen nya Alia sering bawa seledri untuk kudapan. Atau wortel. Dimakan krauk krauk gitu. Kalau Alia bekal nya standar anak Indonesia. Roti dengan stroberi jam, banana, orange dan raisin.

Picnic on a sunny day

Semakin lama Alia, adek Ray dan Karima akan semakin besar. Mereka akan selalu tumbuh dan berkembang. Sebagai orang tua Pak Abink, Bu Abink, Tante Resti dan Om Roby cuma bisa berdoa dan berharap semoga persahabatan anak-anak ini bisa berjalan selamanya. Karena make friends is fun….

story by Bapak Abink

Photos by Bu Abink

International Women Meeting

Salah satu yang bikin saya tetap merasa bersyukur jadi stay at home mom di NZ adalah bisa hadir di acara International Women Meeting (IWM) yang diadakan sebulan sekali. Kalau harus kerja, mana mungkin bisa dateng ke acara itu karena acaranya selalu diadakan setiap hari selasa di minggu pertama. Sebenernya saya baru dua kali dateng ke IWM, bulan lalu dan bulan ini.

Awalnya, saya pikir acara IWM bakal dihadiri banyak banget perempuan-perempuan dari berbagai penjuru dunia, secara di Lincoln banyak banget orang asingnya (baca:non New Zealander). Ternyata, dugaan saya salah.. Setiap bulannya, IWM hanya dihadiri sekitar 15-20 orang aja. Dari Papua New Guinea, Belanda, Perancis, Brazil, Australia, Vietnam, Nepal, Bangladesh, Taiwan, Hongkong, UK, Ireland, dan hanya saya yang dari Indonesia..

Minggu kemarin, kebetulan acaranya belajar masak makanan khas Nepal dan Perancis.. Makanan khas Nepal (saya lupa nama Nepalnya) bentuknya kayak tempura dari Jepang tapi pakai rempah-rempah. Sampai di rumah, saya langsung praktek, dan lariss maniss oleh Bapak ABink dan ALia.. Kalau yg dari perancis bikin Crepes, tapi ngga crispy  kaya yg biasa dijual di mall-mall. Crepes yang ini seperti pancake tapi tipis.. Setelah masakan matang, dimakan bareng-bareng sambil ngobrol-ngobrol..

Seru lah pokoknya acara IWM.. Bisa kenalan sama banyak orang dari berbagai negara, berbeda suku, bahasa, budaya, tapi saling menghargai dan menghormati.. Bulan depan, sudah diagendakan mau jalan-jalan bareng karena kebetulan anak-anak sekolah pada libur, jadi yang punya anak bisa ngajakin anaknya untuk ikut jalan-jalan. Nggak sabaaaarrr tunggu bulan depan……..