A Reminder: Keep Your Feet on the Ground and Keep Reaching for the Stars

SONY DSC
Be like a duck. Stay calm on the surface, but paddle very hard underneath

“Asal nya dari mana?”  “ambil (kuliah) apa di sini?” dan “Kerja apa/dimana di Indonesia?” mungkin adalah pertanyaan-pertanyaan yang paling sering saya (dan teman-teman lain) terima waktu pertama kali kenalan dengan sesama orang Indonesia (di luar negeri). Waktu saya jawab saya dari Malang dan sedang menyelesaikan sekolah S3 saya di sini (New Zealand), mungkin sebagian besar kenalan baru saya mengira saya adalah dosen/pejabat di Malang. Padahal saya bukan siapa-siapa.Kalau kata Cita Citata “Aku mah apa atuh” 🙂 Aku cuma Ibu Rumah Tangga, bukan pejabat.

Terus, kalo cuma ibu rumah tangga ngapain sekolah sampe s3 segala? Sekolah kan hak semua orang ya.. Dan saya menganggap ini adalah bagian dari rejeki saya dan keluarga. Saya sebut rejeki karena saya masih ‘mau’ dan semangat untuk sekolah lagi, bapak Abink juga mau support saya 100 %, Alia, keluarga lainnya dan keadaan waktu itu juga sangat memudahkan proses pengambilan keputusan untuk saya sekolah lagi.

Kalau ada yang bilang untuk mendidik anak, diperlukan orang tua yang berpendidikan tinggi, sebenernya saya setengah setuju dengan pernyataan itu. Setujunya hanya setengah lho.. Artinya, orang tua yang tidak berpendidikan tinggi pun saya yakin bisa mendidik anaknya dengan baik juga.

Anyway, kalo ngomongin tentang kenapa saya bisa terdampar di New Zealand dan berjalan sampai sejauh ini, pastinya nggak lepas dari kehendak Allah dan dukungan bapak Abink (dan mama, papa, bapak, ibu juga pastinya). Saya awalnya datang ke New Zealand sebagai bagian dari support group-nya bapak Abink yang lagi sekolah s3 di NZ. Waktu itu, saya ibu-ibu muda beranak satu yang niatnya cuma nemenin suami sekalian liburan panjang ke New Zealand (secara NZ adalah salah satu negara impian saya, selain Swiss, Arab/Mekkah dan Jepang).

Selama setahun penuh saya benar-benar menikmati liburan saya di NZ. Jalan-jalan kesana kemari, anter dan nemenin anak sekolah, aktif di sekolah anak, aktif di kegiatan community, sampe ambil kursus gratis early childhood education dan parenting.

Setelah anak udah agak gede dan udah di sapih, saya mula mikir cari kerjaan. Tapi, karena tujuan saya ke NZ untuk support suami, jadi saya harus cari kerjaan yang nggak mengganggu jam belajar dan kerja suami dan nggak bikin anak terbengkalai juga. Waktu itu bapak Abink sekolah sambil nyambi jadi tutor juga. Berarti, saya harus kerja di pagi hari sebelum suami berangkat ke kampus dan malam/sore hari setelah suami pulang kampus, biar bisa gantian di rumah jagain anak.

Jadilah saya nekat ngelamar kerjaan sebagai early morning cleaner di University of Canterbury (UC). Saya bilang nekat karena rumah saya di Lincoln, sedangkan tempat kerja waktu itu di Cristchurch, jaraknya sekitar 18 km. Ditambah lagi, jam kerja nya mulai dari jam 4 pagi sampe jam 7 pagi. Jadi, karena perjalanan Lincoln-UC makan waktu sekitar 20 menit (18km), saya harus berangkat dari rumah jam 3.30 pagi.

Karena sudah diterima kerja dan  restu bapak Abink sudah di tangan, saya nekat aja nyetir sendirian di pagi buta. Gelap dan dingin….  Apalagi waktu winter.. Saya sempat nyetir di tengah hujan salju yang deres banget (winter tahun 2011). Walaupun waktu itu deg-deg an setengah mati, tapi sekarang jadi pengalaman yang nggak bakal terlupakan.

Mungkin karena nggak tega ngeliat saya nyetir sendiri di pagi buta, bapak Abink ngasih saran untuk cari kerja yang deket-deket aja. Jadilah saya tanya-tanya lowongan kerjaan (jadi cleaner juga) di Lincoln University (LU). Akhirnya saya diterima juga kerja di Lincoln Uni, jadi evening cleaner. Jam kerjanya mulai jam 6 sampe jam 9 malem dan deket rumah. Waktu keterima kerja sore, bapak Abink udah nyuruh-nyuruh saya berhenti kerja pagi, tapi saya nya berhasil meyakinkan bahwa saya bakal baik-baik aja kerja di pagi dan sore hari 🙂 Jadilah saya selama 1,5 tahun menjabat sebagai “floor director” (alias tukang vacuum karpet dan nge pel) di UC dan LU hehehhe.. Capek? Pasti.

Trus gimana ceritanya dari cleaner bisa sekolah? Di awal tahun 2012, saya dan bapak Abink ngobrol-ngobrol soal kemungkinan saya sekolah juga. Terus duitnya dari mana? Kebetulan ada sedikit tabungan dari hasil kerja dan saya harus cari bea siswa. Iseng-iseng saya bikin proposal, dan saya kirim-kirim untuk cari pembimbing. Target kami waktu itu memang daftar di LU atau UC, karena udah tau medan dan nggak jauh-jauh dari bapak Abink dan Alia. LU tanggapannya bagus dan cepet banget. Saya diterima di LU, padahal beasiswa belum di tangan. Karena udah cocok dengan pembimbingnya dan saya juga bisa langsung research (tanpa harus ambil mata kuliah), jadilah kita ‘nekat’ daftar sekolah tanpa beasiswa dulu. Dengan harapan, saya akan dapat bea siswa. PD banget ya…..

Setelah saya jadi student, saya lepas kerjaan pagi saya. Jadi waktu itu status saya adalah PhD student sekaligus cleaner di LU 🙂 Setelah jadi student, saya ngelamar-ngelamar kerjaan jadi riset assistant dan diterima. Saya kerja untuk salah satu dosen di LU. Akhirnya saya lepas kerjaan evening cleaner.

Di hari pengumuman bea siswa yang ditunggu-tunggu, ternyata saya nggak dapet beasiswa yang saya mau. Kecewa pasti, tapi kalau dibandingkan dengan pengalaman dan perjuangan para ‘pejuang beasiswa’ lain penolakan beasiswa ini pasti nggak ada apa-apa nya 🙂 Makanya saya salut banget sama para pejuang beasiswa yang tahan banting, yang walaupun ditolak, masih punya semangat bangkit lagi coba cari yang lain. Toh kita nggak pernah tau rejeki kita datangnya dari ‘sumber’ yang mana. Ya kan?

Waktu itu rasanya Allah memang maha baik dan maha tau apa yang saya butuhkan.. Beberapa hari setelah penolakan beasiswa, saya dihubungi oleh salah satu staff di fakultas. Dia bilang, komite beasiswa LU menawarkan jenis bea siswa lain untuk saya. Saya ditawari ‘teaching assistant scholarship’. Beasiswa dari LU, mereka tanggung uang sekolah saya sampai lulus, tapi saya harus kerja jadi teaching assistant. Alhamdulillah kan.. Saya jadi punya penghasilan untuk hidup (walaupun nggak banyak), dan saya jadi punya pengalaman tutoring sekaligus jadi ‘dosen tamu’ untuk beberapa mata kuliah. Salah satu pengalaman tutoring saya pernah saya ceritakan di sini dan di sini.

Waktu pertama kali menginjakkan kaki saya di salah satu ruang kelas di LU, saya ‘cuma’ sebagai cleaner, tapi 2 tahun kemudian, saya masuk ke ruangan itu dan berdiri di depan untuk tutoring dan lecturing. Saya pernah gagal dapat beasiswa, tapi Allah ganti dengan yang lebih baik untuk saya. Bukan untuk sombong atau jumawa, tapi sebagai pengingat bahwa kita nggak pernah tau apa yang Allah siapkan untuk kita di depan.

Nggak ada gunanya sombong dengan posisi kita yang sekarang, padahal kita nggak tau apa yang akan kita hadapi di depan kita. Nggak perlu minder juga dengan posisi kita sekarang, karena dengan usaha, kerja keras dan doa pasti kita bisa mencapai apa yang kita cita-citakan.

Sekarang, setelah liburan panjang di nz berakhir, studi sudah selesai, dan harus kembali ke kampung halaman, saya masih dan selalu berharap Allah menyiapkan sesuatu yang terbaik buat saya (dan keluarga). Apapun itu, yang penting  jangan lupa selalu bersyukur.

Stay humble. Keep your feet on the ground and keep reaching for the stars.

381352_2594466454300_97717243_n
Kaikoura Beach, NZ, 2011

Napak Tilas New Zealand 2014: Lincoln

Waktu pertama kali ketemu Alia dan Bapak ABink di Christchurch Airport, rasanya kayak mimpi yang jadi kenyataan #lebay. Tapi beneran loh, karena waktu bapak Abink harus kembali kerja di Indonesia dan saya balik ke New Zealand tanpa mereka, rasanya agak-agak berlebihan untuk minta Alia dan bapak Abink untuk balik ke New Zealand, walaupun cuma untuk sekedar liburan. Selain karena agak susah ngatur waktunya, tapi alesan utama sih karena budget liburan ke New Zealand itu ‘lumayan banget’ buat kami 🙂

Tapi, rejeki itu memang sudah ada yang atur ya.. di saat saya menyibukkan diri dan menguatkan hati untuk kembali ke NZ tanpa mereka, ada kabar kalau bapak ABink bakal ada kerjaan ke New Zealand selama 2 minggu. Tapi, pertanyaan selanjutnya ‘apa Alia mau diajak juga?’ Lagi-lagi kami galau karena jadwal keberangkatan bapak ABink ke sini nggak bertepatan dengan liburan semester di sini, yang artinya saya masih harus kerja dan bapak Abink juga bakal punya jadwal meeting yang lumayan padat. Tapi, setelah sepakat untuk nemenin Alia nya gantian jadilah diputuskan untuk bawa Alia, lumayan ketemu 2 minggu melepas kangen 🙂

Trus apa aja kegiatan kami selama 2 minggu di NZ? DI hari pertama mereka datang, langsung jalan-jalan keliling kampus, nostalgia untuk bapak Abink dan Alia. Lewat lapangan belakang rumah kami dulu, library, office bapak dulu, dan jalan-jalan seputar kampus yang sering kami lewati dulu.

Ivey Hall -Lincoln University Library
Ivey Hall -Lincoln University Library
Bug hotel
Bug hotel di kampus
Lincoln University Bus Stop
Lincoln University Bus Stop

Selain jalan-jalan di sekitar kampus, kami juga sempat jalan-jalan ke lincoln town (sekitar 2km dari kampus). Sempat ajak Alia masuk ke Lincoln Library yang baru di renovasi. ALia samapi nggak percaya library nya jadi bagus.. Dulu, waktu rumah kami masih di depan library, saya sering banget ajak Alia ke library. Setiap seminggu sekali saya juga biasa bawa Alia ikutan toddler time di library. Jadi Lincoln library lumayan punya kenangan buat Alia..

(new) Lincoln Library
(new) Lincoln Library

Setelah dari library, kami nyebrang ke cafe favorit untuk menikmati chai latte (dan fluffy untuk Alia). Ngomong-ngomong soal fluffy, biasanya di sini fluffy selalu di sajikan dengan marshmallow. Tapi dari dulu, kami udah kasih tau Alia kalau marhmallow yang di cafe-cafe itu kita nggak tau apakah gelatine nya halal atau nggak. Kadang gelatine juga dibuat dari babi. Jadi, dari dulu Alia nggak pernah makan marshmallow di new zealand. Bukan karena semua marshmallow di sini nggak hahal, tapi karena saya males cari tau merek marshmallow mana yang halal. Pernah sih sekali tanpa sengaja saya nemu postingan orang jual marshmallow halal di trade me, dan saya beli buat Alia. Dan selama beberapa tahun di NZ, Alia cuma makan marhsmallow sekali itu aja 🙂

Nah beberapa bulan lau saya baru tau kalo ternyata  ada juga marshmallow halal yang di jual di supermarket. Waktu alia ke sini kemaren, saya beli sekantong marshmallow untuk Alia. Yang pertama kali keluar dari mulut ALia waktu tau saya beliin marshmallow “Ini marshmallow nya halal nggak bu?” dan kemudian terjadilah percakapan kecil soal makanan:

ALia : Ini marshmallownya halal ya bu?

Ibu : Iya kak, ini halal.

Alia : Kok ibu tau?

Ibu : Ibu udah tanya ke pabriknya 🙂 (walaupun sebenrnya bukan saya yang nanya sih)

Alia : Kalau orang muslim itu nggak makan pork ya bu?

Ibu : Iya kak. Tapi kita boleh makan ayam, daging sapi, kambing, ikan…

Alia : Kalo Jojo (sahabat ALia waktu di NZ dulu) sukanya makan salami. Itu kan ada pork nya. Tapi nggak apa-apa kalo Jojo kan bukan muslim

Ibu : ALia mau makan salami? (ibu yang iseng … boleh nggak sih iseng nanya kayak gini ke anak?)

Alia : Nggak mau…. ALia kan muslim.. terus, pork kan kotor. Alia nggak mau ah kotor-kotor..

Ibu : (fiiuuh… slamet.. slamet… )

chai latte & fluffy
chai latte & fluffy

Puas ngobrol-ngobrol, sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk foto-foto di lincoln town bus stop yang ada papan tulisan Lincoln nya. Selama ini belum pernah foto di situ. Sekarang karena merasa jadi turis merasa harus foto di situ hahaha 😀

10568716_336027886551896_1198268073_n
Selain jalan-jalan sekitar Lincoln, kami juga sempat napak tilas ke Christchrch city, dan Queenstown. Kami juga sempat mampir ke Invercargill untuk mewujudkan keinginan bapak Abink yang dulu selalu saya tolak. Kali ini karena (lagi-lagi) merasa turis, jadi nggak ada salahnya kita mampir ke sana. InshaaAllah cerita nya bakal di posting kalo lagi nggak males yaa….

Salam,

Keluargahussein (yang udah nggak sabar ngumpul dan liburan lagi) 🙂

Pelajaran Hari Ini

Saya termasuk orang yang susah untuk bilang “nggak”, termasuk sama diri sendiri. Hari ini saya presented di internal conference di kampus tapi rasanya nggak maksimal secara di awal saya register udah ragu-ragu,  karena udah pernah ikut tahun lalu dan saya juga baru ikut thr3sis competition di bulan Juni lalu. Tapi ketika spv saya yang biasanya cuek bebek meng-encourage saya untuk ikut, saya jadi nggak bisa nolak dan akhirnya saya kirim abstract penelitian saya tepat di hari terakhir batas pengiriman abstract, dan kirim power point presentasi ke panitianya pun telat (sampe harus di tagih). Malu siih, tapi karena saya sudah bilang ‘iya’ sama pak spv jadi saya nggak bisa mundur lagi. Siap nggak siap, mau nggak mau, saya harus ngomong sesuatu kaan…Dan ternyata spv saya dateng tepat beberapa saat sebelum giliran saya presentasi.  Rasanya gimana?? Rasanya nggak sama kayak ngadepin anak-anak bule yang suke ngeyel, abis pak spv nggak ada ngomongnya… Tapi “dahi berkerutnya” sudah cukup bikin saya stress…

ALhamdulillah udah berlalu, sekarang fokus ke thesis lagi..

Pelajaran yang bisa dipetik hari ini:

  • Harus punya prioritas, jangan semua mau dilakukan tapi hasilnya malah nggak maksimal.
  • Nggak bakal bisa menyenangkan semua orang. Sebelum meng-iya-kan permintaan seseorang, tanya ke diri sendiri dulu. Ada yang bakal dikorbankan nggak? Kalau ada, sanggup hadapi resiko atas pengorbanan itu nggak? Baru bikin keputusan.
  • Preparation makes perfect.

Maaf ya yang pada mampir baca dan berharap dapet pelajaran dari tulisan ini… Ternyata ini cuma curcol-an semata..

Sepotong cerita belajar di New Zealand

Menyambung cerita pengalaman bersekolah Pak ABink di 3 Negara berbeda, sekarang Pak ABink mau sharing cerita mengenai sekolah di New Zealand. Sebenernya pengen cerita lebih banyak mengenai sekolah di Australia dan di Indonesia. Tapi karena dokumentasi photo tercecer entah dimana maka rasanya jadi kurang afdho. Jadi sekarang ceritanya yang di New Zealand dulu mumpung masih banyak yang diingat dan banyak photonya.

Cerita bersekolah di New Zealand ini diawali dari diterima nya Pak ABink jadi dosen di Universitas Brawijaya. Sebagai seorang dosen baru, Pak ABink sudah ditodong pihak fakultas untuk mempersiapkan diri bersekolah kejenjang yang lebih tinggi. Browsing sana browsing sini pingin hati sih ke Eropa. Alasannya sepela soalnya pengena jalan-jalan dan ngerasain hidup di Eropa secara sudah pernah tinggal di Australia sekitar 1.5 tahun.

aotearoa

Setelah ngobrol sana ngobrol sini plus browsing-browsing akhirnya tambatan hati jatuh kepada New Zealand. Kenapa New Zealand? alasannya sepele karena senior Pak ABink – Dr Irawanto sudah berangkat duluan untuk sekolah di New Zealand. Belio banyak bercerita mengenai menarik nya bersekolah di New Zealand.

Dari 8 Universitas yang menawarkan program Doctoral, Pak ABink memutuskan untuk mengirimkan surat aplikasi ke beberapa Universitas. Yang menjadi prioritas adalah University of Auckland secara ini adalah universitas terkemuka di dunia bukan saja di New Zealand. Apa dikata setelah menunggu sekitar 6 bulan surat lamaran S3 Pak ABink mendapat balasan sebuah penolakan. Alasannya adalah karena Master yang Pak ABink miliki adalah coursework yang tidak cukup untuk mengambil Ph.D.

Patah hati ditolak University of Auckland, Pak ABink tidak patah semangat. Setelah koresponden dengan potential supervisor, Pak ABink mengirimkan aplikasi ke tiga Universitas sekaligus. Yaitu Massey University, Waikato University dan Lincoln University. Yang paling cepat membalas adalah Waikato University. Waikato menyatakan akan menerima Pak Abink tetapi harus mengambil Postgraduate Certificate selama 2 semester sebelum dapat mengambil program Doctoral. Senada dengan Waikato University, MAssey University juga memberikan surat penerimaan. Tetapi dengan syarat Pak ABink harus mengambil Master Management tahun kedua sebelum diterima di program Doctoral. FYI di New Zealand program PHD itu fees nya adalah domestic fees. Karena harus menambah PG Cert dan Master di Waikato dan Massey maka untuk tahun pertama Pak ABink tidak eligible untuk domestic fees. Sehingga Pak ABink terpaksa menolak surat penerimaan tersebut.

Bagaimana dengan Lincoln University? Berbeda dengan Waikato dan Massey. Lincoln University memberikan surat penerimaan untuk Pak ABink. Juga dengan syarat. tetapi syarat nya cuma bridging 2 mata pelajaran. Dua mata pelajaran ini bias diambil secara bersama sama dengan program Doctoral dan Pak ABink eligible langsung untuk membayar domestic fees. Akhirnya dengan pertimbangan tersebut, maka Pak ABink menerina tawaran dari Lincoln University.

Lincoln University Canterbury
Lincoln University Canterbury

Setelah mendapat admission dari Lincoln University, muncul masalah kedua. Masalah tersebut adalah berkaitan dengan pendanaan. Akhirnya dengan mengucap Bismillah, pak ABink mendaftar ke program beasiswa DIKTI. Alhamdulillah akhirnya Pak ABink mendapatkan beasiswa tersebut.

Berbekal beasiswa DIKTI, Pak ABink berangkat ke New Zealand pada Agustus 2009. Pada saat itu Bu Abink dan Alia tidak langsung pergi bersama Pak ABink. Pertimbangan utama adalah alasan untuk Pak Abink beradaptasi dan mempelajari lingkungan secara langsung. Selain itu Alia masih berusia 6 bulan sehingga lebih baik menunggu hingga Alia berumur 1 tahun.

Bagi yang ingin bersekolah, Pak ABink sarankan jika membawa keluarga, maka berangkat sedniri terlebih dahulu baru ketika semua sudah settle maka undanglah keluarga untuk datang. Di masa “orientasi” tersebut Pak ABink tinggal di asrama mahasiswa self-catered yang namanya Crescent.

Crescent
Crescent

Di Crescent Pak ABink tinggal bersama dua orang Malaysia dan seorang Jerman. Selama masa orientasi tersebut Pak ABink sangat berterima kasih dengan seorang teman dari Indonesia yaitu Dr. Dessy Aliandrina karena belau selalu siap membantu dan berbagi dengan Pak ABink. Jadi serasa menemukan seorang saudara di tanah nun jauh tersebut.

Bersama dengan Dr. Dwi Suhartanto dan Dr. Dessy Aliandrina
Bersama dengan Dr. Dwi Suhartanto dan Dr. Dessy Aliandrina

Sedangkan untuk perkuliahan, di awal bulan pertama Pak Abink belajarnya nomaden. Seharusnya setiap Doctoral student mendapatkan work station lengkap. Tetapi karena pada saat Pak ABink tiba adalah pertengahan semester maka pada saat itu tidak ada work station kosong, sehingga Pak Abink ditempatkan di ruang bersama yang biasanya diisi mahasiswa tingkat Master.

Setelah beberapa minggu di Orchard Building (nama untuk ruang bersama) Pak Abink dipindahkan ke Printery (ruang khusus Doctoral student). Di Printery ini Pak Abink mendapatkan work station permanent.

Pak ABink at Printery
Pak ABink at Printery

Pada saat itu di Printery sudah ada 3 mahasiswa Indonesia lainnya. Yaitu Dr. Dessy Aliandrina, Dr. Dwi Suhartanto dan Dr. Ludia Wambraw. Sangat menyenangkan memiliki kawan-kawan seperjuangan dari Negara yang sama.

Diawal kedatangan Pak ABink di New Zealand, ada sebuah organisasi pelajar Indonesia yang namanya adalah PPIC (Perhimpunan Pelajar Indonesia Canterbury). Pada saat itu sedikit sekali mahasiswa yang mau bergabung dengan PPIC. Di tahun 2009 hanya sekitar 10 orang mahasiswa Indonesia yang bergabung dalam organisasi tersebut. Ditahun 2010, Pak Abink berkesempatan menjadi Ketua PPIC menggantikan Dr. Dodi Ariyanto yang menyelesaikan studinya.

7233_155450966882_2288857_n
PPIC 2009

Selama menjadi mahasiswa di New Zealand, Pak ABink banyak mengalami kejadian-kejadian luar biasa. Sebut saja gempa bumi. Tercatat selama 3.5 tahun di New Zealand, KeluargaHussein mengalami 3 kali gempa bumi yang cukup besar. Gempa pertama terjadi pada bulan puasa tahun 2010. Gempa tersebut sekitar 7.6SR dan terjadi pukul 4 pagi pada saat waktu sahur. Gempa kedua terjadi pada Bulan Februari 2011 dan yang terakhir pada Juli 2011. Untuk gempa pada Februari 2011 tersebut tercatat yang menyebabkan korban dan kerusakan terbesar. Hampir 90 orang menjadi korban dan kota Christchurch harus di tutup beberapa waktu.

Printery Setelah Gempa
Printery Setelah Gempa

Teringat pesan dari pemberi beasiswa jika selama kuliah karyasiswa diharapkan juga selalu membuka wawasan dan jaringan maka Pak ABink selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan budaya. Salam satunya kegiatan rutin yang diikuti bersama PPIC adalah kegiatan Internasional Night yang rutin diadakan di Lincoln University. Acaranya biasanya terdiri dari cultural performance, pameran kebudayaan dan international dinner. Tim PPIC selalu aktif dalam kegiatan tersebut. Selain International Night banyak juga kegiatan-kegiatan kebudayaan lain yang Pak ABink ikuti seperti halnya Culture Galore dan Santa Parade.

International Night
International Night

Selama 3.5 tahun tinggal di New Zealand, KeluargaHussein menempati 3 rumah yang berbeda. Rumah merupakan salah satu tantangan tersendiri ketika kita tinggal di luar negeri. Mulai dari rumah yang tidak nyaman hingga harga sewa yang terlalu mahal. Pertama kali mendapatkan rumah Pak ABink sedang dalam kondisi terdesak. Hingga H-2 minggu sebelum kedatangan Alia dan Bu Abink, rumah belum didapatkan. Sehingga ketika ada yang menawarkan sebuah rumah yang sudah tua, besar dan mahal mau tidak mau Pak ABink ambil rumah tersebut. Beruntungnya tidak ada kontrak permanen sehingga jika ingin berhenti mengontrak cukup memberikan 3 minggu notice saja kepada owner nya. Dirumah tersebut, KeluargaHussein hanya tinggal selama 4 bulan. Ketika ada seorang kawan dari PNG yang pulang maka dengan antusias KeluargaHussein meng overtake rumah kawan tersebut. Kebetulan tetangga rumah tersebut adalah orang Indonesia juga yaitu Dr. Ludia dari Papua. Sehingga sangat menyenangkan punya tetangga berasal dari satu Negara. Dirumah kedua itu KeluargaHussein tidak tinggal terlalu lama-hanya sekitar 7 bulan. Karena setelah itu KeluargaHussein mendapatkan tawaran untuk tinggal dirumah yang dimiliki kampus. Rumah kampus ini berada dalam lingkungan kampus sehingga sangat dekat dengan office Pak ABink. Dengan banyak pertimbangan akhirnya KeluargaHussein pindah ke rumah kampus -ER01. DIsini kami tinggal hingga Pak ABink lulus.

ER01-Lincoln University
ER01-Lincoln University

Sebagai mahasiswa Doktoral, kurang afdol jika tidak diselingi dengan kegiatan-kegiatan akademis. Selama menjadi mahasiswa Doktoral Pak ABink aktif dalam kegiatan-kegiatan seminar baik menjadi peserta maupun menjadi pembicara. Sebagai pembicara Pak ABink selama kuliah tercatat tiga kali mengikuti conference. Yang pertama adalah Konferensi Pelajar Indonesia di Wellington.

Kongres Pelajar Indonesia Selandia Baru
Kongres Pelajar Indonesia Selandia Baru

Kemudian Pak ABink juga pernah ikut pada Konferensi Social Marketing yang diadakan oleh Australian Association Social Marketing di Griffith Brisbane dan juga Lincoln University Postgraduate conference.

Selain cerita akademik dan persahabatan, Pak Abink juga pernah mengalami kejadian mengerikan selama kuliah di New Zealand. Pada saat itu libur Waitangi Day. Dua hari setelah Pak ABink dinyatakan lulus Program Doktoral. KeluargaHussein ingin mengunjungi kawan yang juga tinggal di Lincoln. Dari arah Kota KeluargaHussein berkendara dengan kecepatan sedang. Di tikungan Birch Rd, seorang pengendara HD dengan kecepatan tinggi menabrak mobil keluargahussein. Sukur Alhamdulillah hanya Mobil Keluargahussein yang hancur lebur dan kaki Pak Abink retak. Alia dan Bu Abink selamat tanpa kekurangan apapun.

FBR 853 setelah kecelakaan
FBR 853 setelah kecelakaan

Dari sepenggal cerita tersebut, Pak Abink sangat banyak bersukur kepada Allah SWT karena berkat nikmat dan rejeki nya keluargahussein banyak mendapatkan pengalaman yang akan terkenang sepanjang masa.

I can’t wait… I can’t wait……

Auckland pic dari http://en.wikipedia.org/
Auckland pic dari http://en.wikipedia.org/

Mau norak-norak bergembira dulu aahh…

Barusan dapet e-mail dari ANZMAC Doctoral Colloquium commitee, ngingetin deadline pengiriman power point sekaligus ngirim jadwal presentasi dan segala detail venue, catering, transportasi dll.

Dasarnya saya dari awal memang pengen banget ikut berpartisipasi di acara ini karena alasan cetek kepengen ketemu orang-orang tenar di bidang marketing dan services marketing. Pertama kali saya baca kalo Auckland sebagai host ANZMAC tahun ini, saya langsung mikir harus ikutan… Siapa tau bisa ketemu n ngobrol sama pak Rod Brodie 🙂 Setelah menyiapkan paper dan cari tau lebih lanjut tentang event ini, ternyata… banyak tokoh marketing yang saya pengen ketemu selain beliau yang sudah saya sebut namanya tadi.. Ternyata ada Pak Roland Rust dan Ibu Sharyn Rundle-Thielle, ada Ibu Jennifer Argo, trus sebelum kirim paper saya juga sempat e-mail-emailan dan kenalan sama Pak Roger Marshall yang dulu pernah ngajar di UGM, dan barusan saya baru tau ternyata paper saya di review sama Bu Linda Hollebeek (dan Pak Roger) yang artikel-artikelnya nya saya cite banyak-banyak itu 🙂 dan I feel good karena dari kedua reviewer yang tenar di mata saya dan mumpuni di bidangnya itu, saya bisa dapat travel award… Tadinya saya masih mikir, jangan-jangan saya dapet award ini karena reviewernya nggak ngerti apa yg saya kerjakan, atau karena kasian.

Karena tiket ke Auckland (lanjut ke Indonesia) sudah ditangan, penginapan sudah dibooking, barang-barang sudah di-packed, oleh-oleh sudah dibeli, jadi sekarang harus ngebuttt…. selasaikan target-target, berangkat ke ke ANZMAC DC bulan depan trus langsung terbang ke Indonesia ketemu suami soleh dan anak solehah…. Berapa lama lagiii?? 4 minggu lagiii…. Bismillah… 🙂

The Final Class of The Semester

ALhamdulillah…. It was such a big relief buat saya ketika saya bilang “good luck on your final exam” karena itu berarti bahwa tutorial terkhir untuk semester ini sudah berakhir. Ya, hari ini hari terakhir tutorial walaupun lecture masih akan berakhir 2 minggu lagi. Bukan berarti pekerjaan jadi tutor berakhir sampai di sini. Masih ada marking, dan memastikan nilai masuk ke nama yang tepat. Setelah itu?? Boleh liburaannn…. Yaaayyy…. !!!

Saya sebenarnya sudah ingin cerita tentang kegiatan sebagai teaching Assistant di Lincoln University sejak awal semester ini, tapi selalu berusaha saya tunda. Menundanya dengan kesengajaan siih sebenernya karena takut ‘kualat’ hehehehhe…. Jadilah, di hari terakhir tutorial ini keinginan saya untuk cerita akhirnya tersalurkan 🙂

Kegiatan jadi tutor adalah hal yang sangat baru buat saya. Mungkin sampai setahun yang lalu saya cuma berani berkhayal jadi guru TK, karena saya punya pengalaman aktif di playcentre, lulus 2 paket early childhood courses dan masih punya keinginan kuat untuk punya early childhood centre sendiri (aamiin). Saya nggak pernah membayangkan bakal berdiri di kelas ‘mengajar’ mahasiswa bule (dan international students). Summer tahun lalupun saya cuma kerja sebagai Research Assistant yang nggak perlu berurusan dengan student. Cuma perlu menghadap komputer, baca jurnal dan laporan ke pak Bos.

Kali ini saya punya 1 bos, 1 partner dan kami menangani sekitar 170 students. Kelas tutorial terbagi menjadi beberapa kelas yang diasuh (diasuh?? kayak sanggar tari aja ya istilahnya diasuh :p) 2 orang tutor. Bagaimana perasaan saya waktu pertama kali tutoring? Sebagai newbie, tentu perasaan saya resah dan gelisah dooong… deg-degan, nggak PD, takut salah, takut dikerjain students, takut nggak ada student yg dateng di sesi tutorial saya dll, dsb. Apalagi di ‘penampilan’ perdana, saya ditongkrongin sama partner saya yang udah berpengalaman mengajar belasan tahun dan saat ini sedang ambil doktoral degree untuk yang keDUA kalinya.. Tambah nervous dong…. Tapi lega setelah di 15 menit pertama dia keluar ruangan dan setelah selesai tutorial saya dapat e-mail dari dia bilang kalo dia suka cara saya membawakan sesi tutorial. Yaah paling nggak, sesuai dengan apa yang mereka harapkan lah 🙂

Semester ini saya punya pengalaman mengajar di dua keas yang berbeda. Satu kelas yang isinya banyak bule, dan satu lagi banyak orang Asia. Saya sebut kelas bule dan kelas asia, saya merasakan ada perbedaan di antara dua kelas itu.

Di kelas bule, mereka lebih students lebih keliatan santai. Mungkin didukung gaya berpakaian yang bercelana pendek, sendal jepit atau pake training keliatan abis olah raga 😀 Mereka  nggak banyak mencatat tapi lebih interaktif. Menjawab setiap pertanyaan yang saya tanya. Walaupun mereka ngga tau jawabannya, mereka tetep berusaha jawab walaupun ngawur. Beberapa student juga suka becanda atau nyeletuk yang lucu-lucu.. Jadi saya semangat kalo pas kedapetan ngajar di kelas bule.. Dan waktu tutorial juga berjalan cepat.. Nggak terasa udah abis aja waktunya hehehe….

Di kelas yang banyak asia-nya, lebih banyak senggol-senggolan sesama student, banyak mencatat, kalo ditanya tapi mereka ga tau jawabannya, mereka bakal bilang nggak tau. Hari pertama tutorial di kelas asia, saya sempet parno  karena ada salah satu student yang konsisten ambil gambar pake hp nya. Nggak tahan, akhirnya saya bilang nggak usah ambil foto karena semua bahan tutorial akan diupload di website matakuliah. Sebenernya sih waktu itu saya parno dia ambil atau rekam gambar saya trus di upload di yutub atau di soc-med hahahaha 🙂 ngeri kaannn……. Tapi salut buat orang Asia, banyak dari mereka yang nilai tes-nya bagus2 lhoo….

Beberapa minggu lalu saya sempat bilang ke Bapak Abink kalo saya nggak mau terima kerjaan tutor lagi. Bukannya saya nggak menikmati atau nggak bersyukur dengan kerjaan ini, tapi ada kalanya saya kewalahan harus nyiapin bahan tutorial, nge-cek jawaban bank soal untuk latihan students dan memastikan bahwa jawaban yang disediakan betul, marking (dan memastikan nilai masuk ke nama yg benar) sekaligus mikirin thesis saya yang progress nya melambat. Tapi, di hari terakhir tutorial ini kok rasaya saya ketagihan tutoring yaaa……

Yaah, dilihat saja nanti kalau ada rejeki tutoring lagi ya dipertimbangkan, tapi kalo nggak ya saya cukup hepi dengan kerjaan Riset Asistant tapi yang kerjaannya nggak terlalu banyak, trus bos nya baiiik, trus project nya sesuai dengan riset saya, trus nggak dikejar-kejar waktu, trus bayarannya lebih gede, trus…..heheheh… Ada nggak siih kerjaan kayak gitu???  Sekarang sih pinginnya lebih fokus ke thesis. Biar cepet selesai, cepet pulang, dan bisa uyel2 Alia dan Bapak Abink lagi 🙂