Ujian Thesis Doctoral ala New Zealand University (2) : via Video conference

SONY DSC
Saat menghadiri Wisuda tahun lalu. Sayangnya bukan saya yang diwisuda 🙂

Delapan April 2016 adalah hari wisuda di Lincoln University (LU). Saya seharusnya bisa diwisuda bersama kawan-kawan lain di LU, tapi saya memilih “Graduate in Absentia” karena kondisi yang ngggak memungkinkan untuk saya datang ke NZ.

Kalau sekitar 3 tahun yang lalu Bapak Abink sudah pernah cerita dengan Judul yang sama di sini tentang bagaimana ujian doktoral di Lincoln University, kali ini saya bawa cerita ujian yang sedikit berbeda dengan pengalaman bapak Abink 3 tahun lalu.

Begitu saya submit thesis, dan menyelesaikan kontrak kerja, saya langsung balik ke Indonesia. Meja kerja sudah saya kembalikan ke bagian administrasi untuk bisa dipakai oleh orang lain. Tapi, saya masih pakai locker saya untuk simpan beberapa barang yang kira-kira saya butuhkan kalau balik lagi NZ untuk ujian. Waktu itu memang rencananya saya bakal balik ke LU untuk ujian sekitar akhir tahun 2015 atau awal tahun 2016. Bahkan saya masih nitip koper isi baju dll di rumah seorang teman. Tapi, lagi-lagi kita cuma bisa berencana, tapi Allah siapkan rencana lain buat saya. Karena waktu itu nggak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh, saya harus rela ujian jarak jauh, lewat video conference. Waktu itu rasanya kecewa, karena waktu pulang ke Indonesia saya sama sekali nggak ada persiapan untuk ninggalin NZ untuk waktu yg belum ditentukan. Saya kira bakal ketemu NZ lagi dalam 4-6 bulan setelah kepulangan saya ke Indonesia. Tapi, karena terbang ke NZ lagi adalah pilihan terakhir, akhirnya saya pasrah aja, ngurus ujian jarak jauh ini biar jadi lancar..

Proses setelah submit thesis sampai ujian, kurang lebih hampir sama dengan pengalaman Bapak Abink. Tapi, entah kenapa waktu tunggu saya lebih lama. Saya harus nunggu sekitar 5 bulan sampai saya dapat email panggilan untuk ujian. Mulai tahun ini LU punya kebijakan baru mengenai ujian thesis doktoral. Kali ini, pembimbing tidak ikut andil dalam penilaian. Tugas pembimbing sudah selesai sampai kita submit thesis kita untuk dinilai oleh examiners. Artinya keputusan layak atau tidaknya sebuah thesis untuk mengantarkan seorang candidat doktor untuk menyandang gelar Doktor hanya berada di tangan para penguji. Kebijakan baru ini bikin saya lebih deg-deg an, karena thesis saya akan dinilai oleh orang-orang yang saya sama sekali nggak tau siapa aja mereka.

Tapi, dibalik kebijakan LU yang bikin deg-deg an, ada juga kebijakan lain yang menurut saya menguntungkan student. Ketika kita terima email yang menyatakan bahwa thesis kita layak untuk diuji secara oral, kita juga bakal langsung dapat review yang ditulis oleh para examiners. Jadi, kita udah tau kelebihan dan kelemahan thesis kita di mata examiners. Jadi kita bisa siap-siap buat oral examinationnya nanti.

Thesis examination melalui video conference sebenarnya belum biasa dilakukan di Lincoln University. Untuk bisa ujian jarak jauh, saya harus mengirimkan surat dokter yang menyatakan bahwa saya tidak direkomendasikan untuk terbang ke NZ.

Beberapa minggu sebelum hari ujian, saya sudah lumayan intens komunikasi dengan postgrad administrator dan convenor mengenai apa aja yang harus dipersiapkan untuk ujian jarak jauh dan juga mengatur jadwal yang cocok untuk saya yang di Indonesia, supervisor & convenor di NZ dan examiner di Australia. Selanjutnya, untuk memastikan koneksi internet dan komunikasi lancar, saya sempat 2x melakukan percobaan teleconference. Yang pertama, hanya berdua dengan convenor, dan yang selanjutnya rame-rame sama IT personnya LU, Postgrad Administrator, dan examiners.

Ujian thesis waktu itu jatuh di Hari Selasa, jam 9 pagi WIB, jam 3 sore waktu NZ, jam 1 siang waktu Australia. Saya udah siap dari pagi, saking deg-deg annya 🙂 Udah stand by di depan laptop 15 menit sebelum jam 9. Ujiannya sendiri berlangsung selama 45-60 menit aja. Dimulai dengan presentasi dari saya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Alhamdulillah, examiners  saya lumayan gampang ‘dipuaskan’ dengan jawaban-jawaban saya. Setelah sesi tanya jawab berakhir, teleconference dengan saya diputus supaya supervisors, convenor dan examiner bisa diskusi mengenai hasil ujian. Saya tinggal menunggu convenor menghubungi saya untuk bergabung lagi. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, akhirnya saya dihubungi dan diyatakan lulus. Yeaaayyy Alhamdulillah…

Viva

Intinya, ujian secara langsung atau melalui video conference ada plus dan minusnya. kalau ujian langsung komunikasinya pasti lebih lancar, diskusi mengenai revisi (kalau ada) juga bakal lebih jelas. Tapi kelemahannya, kalau udah pulang ke Indo harus ngeluarin biaya banyakk 🙂

Kalau ujian lewat video conference lebih banyak yang harus dipersiapkan, terutama konekasi internet yang stabil. Pre-test juga penting banget dilakukan beberapa hari sebelum ujian. Persiapan video conference nya sendiri sebenernya nggak begitu ribet karena kita tinggal tunggu undangan Skype meeting (Lync) dari postgrad adminstrator atau IT person. Tinggal klik-klik untuk instal dll aja.

Yang terpenting untuk ujian langsung maupun video conference adalah persiapan, baca lagi thesisnya, yakin aja kalau kita adalah orang yang paling tau tentang apa yang kita tulis selama 3 tahun terakhir. Dan jangan lupa banyak berdoa..

Advertisements

‘Cacing Berpendar’ di Gua Waitomo

Setelah puas menikmati Rotorua, pagi berikutnya kami siap untuk menjelajah Waitomo. Berbekal tiket murah dari Naked bus, kami berangkat ke Waitomo dengan hati senang 🙂

Naked bus yang kami tumpangi hanya mengantar sampai di Waitomo Village, dan kami harus jalan sedikit ke Waitomo Caves visitor centre (sekitar 500m dari Waitomo Village).

20140911_141216Ada 3 gua yang ditawarkan di Waitomo. Waitomo cave, Aranui cave dan Ruakuri cave. Selain liat gloworms dan menjelajah Aranui & Ruakiri caves, di Waitomo kita juga bisa melakukan panjat dinding di gua dalam tanah(dry underground caving) dan ‘cave tubing’. Tapi saya sama sekali nggak tertarik sama underground caving. Kalau cave tubingnya masih sempet kepengen nyobain, tapi setelah tau harus loncat dari  atas tebing gua yg gelap, nyali langsung ciut. Nggak jadi ahh.. takuutt.. Udahlah, jalan-jalan di dalem gua aja 🙂

Saya sebenernya pengen masuk ke tiga gua itu, tapi nggak siap ngeluarin diut nya heheeh.. kalau masuk ke 3 gua itu harus siap bayar $90. Akhirnya, karena tujuan kami ke Waitomo adalah untuk liat ‘glow worms’ di Waitomo cave, maka diputuskan untuk beli tiket combo Glow worm cave + Aranui cave, waktu itu seharga $65.

Camera 360

Tour pertama adalah masuk ke Glow worm cave, yang lokasinya di sekitar visitor centre. cuma perlu jalan sekitar 100-200 meter udah sampai ke dalam guanya.

Jalan menuju Glow worm cave
Jalan menuju Glow worm cave

Masuk ke dalam gua sepintas kelihatan seperti gua biasa, ditambah efek lampu-lampu terkesan sedikit dramatis. Semakin masuk ke dalam gua, mulai terlihat pendar-pendar cahaya, walaupun nggak begitu banyak dan nggak begitu jelas. Pendar cahaya itu ternyata adalah larva dari salah satu species serangga. Jadi sebetulnya mereka itu bukan cacing! Tapi mungkin karena bentuknya menggantung di langit-langit gua (sepanjang 3-4 cm) menyerupai cacing, jadi disebutnya glow worms. Dan waktu itu kita bisa lihat dari dekat.

u895
Larva-larva ini yg disebut glow worms. Foto dari CD souvenir pack yg dibeli di Waitomo

Semakin ke dalam, lighting di dalam gua semakin berkurang. Dan sampailah kami di Gloworms Grotto. Untuk mengarungi grotto ini kami harus naik sampan. Di Gloworms grotto ini sudah nggak ada lagi cahaya lampu dan cahaya matahari dan dilarang memotret. Selama di atas sampan, pendar-pendar gloworms nya terlihat jelasss sekalii.. Indaaah banget.. Kurang lebih memang kayak di foto dibawah ini. Cantik banget kayak liat bintang-bintang di langit, tapi lebih dekat, dan wananya hijau kebiruan.

u859
Gloworms grotto. Foto didapat dari beli CD souvenir pack 🙂

Setelah keluar dari gloworms cave, kami harus menunggu sekitar 1,5 jam untuk bisa ikut tour ke Aranui cave. Aranui cave ini jaraknya cukup jauh, sekitar 5-10 menit naik mobil dari visitor centre. Waktu booking tiketnya, kami sudah bilang kalau kami nggak bawa mobil dan butuh tumpangan. Akhirnya, kami dikasih tumpangan sama tour guidenya, yang asli orang Maori.

Aranui cave nya sih biasa aja menurut saya 🙂 Mungkin mirip-mirip kayak gua-gua di Indonesia. Aranui cave dilengkapi dengan lampu-lampu, dan track nya udah dibikin rata, kalaupun ada yang menanjak udah dibikin anak tangga juga untuk memudahkan.  Menurut si mas Tour guide, Aranui cave ini ditemukan oleh orang Maori bersama anjingnya yang lagi ngejar-ngejar babi.Tiba-tiba aja babi yang mereka kejar menghilang, dan ternyata  babi itu masuk ke dalam gua Aranui  yang gelap banget ini. Waktu di dalem Aranui cave, tour guide nya sempat sengaja matiin lampu nya, dan ternyata bener2 item, gelap banget nggak ada cahaya di dalam Aranui Cave.

20140911_134934
Aranui Cave

Di Aranui cave ada beberapa lokasi yang berpagar kawat, kata mas tour guidenya sih karena sebelumnya ada tangan-tangan jahil yang sengaja motong stalaktit dan stalakmit untuk dibawa pulang 😦

20140911_134719

Setelah selesai keliling di Aranui cave, kami (masih numpang sama si mas tour guide), kembali ke visitor centre. Karena kami masih punya waktu cukup lama sebelum bis kami datang menjemput, jadilah kami mengeksplore visitor centre dulu, sambil menikmati dua scope ice cream di cafe 🙂

20140911_141819
Boysenberry and lime swirl ice cream ini yummy banget
20140911_153956
Cafe
20140911_153521
Tulis pesan di kayu, terus cemplungin ke baskom isi air.

Puas makan es krim sambil istirahat, kami jalan-jalan ke sekitar visitor centre, dan sekalian jalan ke Waitomo village. Waitomo Village ini memang cuma desa kecil, tapi yang bikin menarik adalah pernak-pernik dan ukiran-ukiran khas Maori. Sambil menunggu bis kami datang, kami numpang istirahat di depan satu cafe kecil di sana. Rasanya, melihat langsung penda-pendar gloworms adalah highlight perjalanan Auckland-Rotorua-Waitomo kami kali ini.

20140911_162914
Pohon jeruk di halaman cafe tempat kita nunggu bis
20140911_175124
i-Site Waitomo Village

One Afternoon in Rotorua

Sebenernya saya jalan-jalan ke Rotorua ini tahun lalu, di bulan September 2014, tepatnya. Awalnya, saya yang waktu itu lagi pengen banget jalan-jalan iseng-iseng ngajakin temen untuk jalan-jalan, cari tiket murah 🙂

Beberapa hari setelahnya, saya dapet tuh tiket murah pake budget airline lumayan murah cuma $29 sekali jalan ke Auckland. Pikir-pikir, karena udah 2x ke Auckland, mending kita ke Auckland semalem trus besok paginya jalan lagi ke tempat lain naik bis. Setelah browsing sana sini, diputuskan untuk ke Waitomo caves, tapi mampir Rotorua dulu semalem. Setelah menimbang waktu, biaya dan tenaga, akhirnya kita susun itinerary Auckland-Rotorua-Waitomo-Auckland, 4 hari 3 malam naik bis.Deal!

20140911_160700Ini bukan pertama kalinya saya jalan-jalan naik bis. Sebelumnya, di Juli 2014, saya juga pernah naik bis dari Queenstown ke Christchurch bareng bapak Abink n Alia, dan sejak saat itu janji bakal naik bis lagi kapan-kapan. Kenapa saya ketagihan naik bis? Karena murah, nyaman, dan santaiii… Kalau mau cari tiket bis murah bisa ke website nya naked bus NZ. Tapi sebenernya kalu naik mobil sendiri, enaknya bisa berhenti untuk foto-foto dimana aja, dan bisa cari jalur yang kita suka. Ada plus minus nya lah ya… 🙂

Perjalanan dari Auckland ke Rotorua lancar, pemandangan indah.. Perjalanan dari Auckland ke Rotorua ditempuh selama 4 jam naik bis. Trip kali ini saya sengaja pilih untuk menginap di X-Base backpacker. Selain karena ngirit biaya, saya juga belum pernah nginap di backpacker yang sharing kamar dengan 6-8 orang. Ternyata pas dateng cuma ada kita berdua yang nginep di situ, dan malem nya baru dateng satu orang lagi, solo traveler dari China atau Vietnam ya? Lupa 🙂

backpacker
X-Base Backpacker Rotorua

Pengalaman pertama nginep di backpacker seruuu… Lumayan nyaman tempat tidurnya, setiap kamar ada toilet dan kamar mandi, dapet sabun shampo dan handuk. Kami booking backpacker ini dari website http://www.nakedsleep.com (by naked bus). Untuk di Rotorua kita booking dorm bed untuk 8 orang (female only), cuma bayar sekitar $17 per orang per malam. Pas di Auckland, kami booking double room with en suit bathroom bayar $50 per malam, tapi karena bagi dua sama temen jadinya masing2 cuma bayar $25 🙂 Lumayan murah kan, kalau dibanding nginep di hotel/motel bisa lebih dari $100 per malam.

Karena kita nyampe di Rotorua, udah terasa bau belerang, secara rotorua ini dijuluki Geothermal Wonderland-nya New Zealand.  Karena udah tengah hari, kita putuskan untuk jalan-jalan di kota aja. Kebetulan tempat kita nginep tepat di depan Kuirau Park. Parknya lumayan cantik dan ada beberapa spot lumpur panas (geothermal). Bahkan disediain kolam untuk yang pengen berendam atau cuma nyelupin kaki di air panas yg mengandung belerang.

rotorua6rotorua7Yang paling bikin saya seneng, di Kuirau park saya ketemu sama beberapa ‘Pukeko’ (NZ native bird) deket banget. Nggak tau kenapa saya suka banget sama Pukeko 🙂

rotorua5
Pukeko

Setelah puas menimati Kuirau park, kami lanjut jalan-jalan di sekitar kota dan museum. Rotorua ini kotanya ‘compact’, ada park, playground, tempat makan, belanja souvenir, museum, lake,semua bisa ditempuh dengan jalan kaki Tapi kalau main Luge, parasailing, jetboating, main ke Maori village, nyobain mud spa atau liat geothermal wonderland nya harus ada mobil atau ikut tour. Nulis ini bikin saya pengen banget balik ke Rotorua 🙂

Rotorua
Rotorua
Knitted Tree di Rotorua
Knitted Tree di Rotorua
X-Base Backpacker Rotorua
Rotorua Museum
rotorua3
Eat Streat. Macam-macam restaurant berjejer di depan Lake Rotorua
Lake Rotorua
Lake Rotorua

Setelah puas jalan-jalan sekitar kota dan berkontemplasi di pinggir danau, akhirnya kita putuskan untuk kembali ke tempat kami menginap sebelum gelap. Di bulan September, angin dan udara di Rotorua masih dingin banget waktu malam. Dan malam itu kami habiskan di kamar backpacker dengan menikmati semangkuk mie kuah, mengisi tenaga untuk melanjutkan perjalanan ke Waitomo besok pagi…

Horse Riding @Rubicon Valley

Di hari terakhir puasa kemarin, saya bersama Teh Neneng, seorang kawan yang datang liburan ke Christchurch dari Palmerston North, pergi ke Rubicon Valley, Springfield. Sekitar 67 km dari Lincoln, bisa ditempuh selama sekitar 1 jam naik mobil.

Tadinya saya nggak pernah kepikiran bakal naik kuda di NZ, secara saya agak penakut dan bukan penyuka binatang. Tapi kemarin waktu ada teman yang ngajakin naik kuda dan kebetulan beliau nggak ada teman jalan, saya jadi mikir-mikir… Apalagi setelah baca-baca reviewnya, liat foto-fotonya dan mereka menjanjikan a calm, relaxing time away from the city” , saya sangat tergoda. Setelah berhari-hari sibuk nyiapin full-draft thesis sekaligus nulis artikel bareng pak Supervisor yang banyak maunya, rasanya saya butuh sedikit refreshing 🙂

Akhirnya, berangkatlah kami dari rumah jam 6 pagi untuk ngejar shuttle ke Springfield jam 7.15. Sampe di Springfield sekitar jam 8.30, dijemput sama Chris, pemilik Rubicon Valley Horse Riding company sekaligus guide kita hari itu.

Setelah ngisi formulir, bayar, dan pilih-pilih helm yang pas di kepala kami, akhirnya kami kenalan dengan Arrow dan Whisper, kuda-kuda yang akan kami tunggangi pagi itu.

Setelah dijelaskan cara-cara mengendalikan kuda, prosedur keamanan, dll, akhirnya berangkatlah kita jalan-jalan naik kuda. Ini pertama kali saya naik kuda dan mengendalikan sendiri, nggak pake dituntun! Dulu waktu kecil kan kalo naik kuda selalu ada tukang kuda nya lari-lari ikutan nuntun kudanya disebelah kita kan 😀

Sebelum memutuskan berangkat, saya sudah cek ramalan cuaca hari itu dan diperkirakan hari bakal cerah. Tapi weatherman kan juga manusia, tempatnya salah dan khilaf.. Bukannya cerah, pagi itu malah dingiin gerimis dan berawan. Tapi setelah sejam kita berkuda, matahari mulai muncul walaupun gunung bersaljunya masih ketutup awan 😦

SONY DSC
Teh Neneng & Chris

Sebagian besar track di Rubicon Valley flat aja, jadi nggak begitu susah buat beginner rider kayak saya. Tapi di 10 menit pertama ada insiden kecil, kuda yang ditunggangi teh Neneng ‘membangkang’ nggak mau dikendalikan.. eh, si Arrow, kuda saya juga ikut-ikutan ngambek. Setelah di handle sama Chris mereka jadi nurut lagi. kata Chris, kita harus lebih tegas sama kudanya, kita yang mengendalikan kuda bukan kita yg dikendalikan.

Waktu itu kita juga dibawa masuk ke salah satu ladang yang penuh domba.. Seruu… jadi berasa penggembala domba.

SONY DSC

SONY DSCSetelah ngelewatin sheep farm, kita dibawa ke track yang lebih menantang, lewat lereng, naik turun curam dan berbatu. Agak takut sih karna si Arrow rasanya mepet pinggir lereng terus. Jadi takut jatuh… Chris bilang, kita harus percaya sama kuda kita.. Pengennya ambil foto di track naik-turun itu, tapi apa daya nggak punya nyali untuk ambil kamera untuk poto-poto, harus konsentrasi jaga keseimbangan dan mengendali kuda (supaya baik jalannya).

Nggak lama setelahnya, kami dibawa ke tempat yang pemangdangnnya Subhanallah indah bangetttt… walalupun mendung masih tetep bikin merinding pemandangannya.

SONY DSC
Beginner rider
SONY DSC
Breathtaking scenery

SONY DSC

SONY DSC

Setelah naik turun bukit, kita melanjutkan perjalanan, lewat hutan pinus, nyebrang sungai, ketemu sapi, domba, kuda, kelinci.. Sampai-sampai nggak terasa sudah 2 jam kami jalan-jalan, dan para kuda harus segera kembali ke kandang.

SONY DSC
Tapal Kuda

Setelah say goodbye ke Arrow dan Whisper, kami diantar Chris kembali ke Springfield village untuk tunggu dijemput Shuttle yang sudah kami pesan sehari sebelumnya. Karena waktu itu masih pukul 12 siang dan Shuttle kami baru dalatang sekitar pukul 4 sore, akhirnya kami jalan-jalan di sekitar Springfield village ke arah Springfield train station. Jalan-jalan nggak tentu arah, yang kami mau cuma menikmati pemandangan, menikmati sejuk dinginnya udara winter sambil cari tempat yang pas untuk sholat Dhuhur dan Ashar.

Ditengah perjalanan, kami lihat beberapa Llama yang sedang bermain main di halaman rumah yang luas…

SONY DSC
Llamas

Nggak berapa jauh, saya ketemu sama satu rumah yang menurut saya cantik banget.. Rumah besar di pedesaan, dikelilingi bukit dan lapangan rumput yang luas. Rumah impian banget….

SONY DSC
Rumah Impian, kayak di negeri dongeng

Akhirnya, setelah jalan sekitar 15 menit, kami berhenti di sekitar train station. Tempatnya sepi, pemandangannya indah, tapi gunung bersaljunya masih tertutup awan. Akhirnya kami memutuskan untuk sholat di situ. Setelah sholat, kami ngobrol-ngobrol santai aja sambil menunggu awan pergi dari puncak gunung bersalju.

SONY DSC
Sholat

SONY DSC

Setelah sholat dan puas memandangi gunung bersalju, kami kembali ke Springfield playground, tempat dimana seharusnya kami menunggu jemputan shuttle. Masih sekitar 1,5 jam lagi shuttle kami datang. Jadi kami menghabiskan waktu bermain ayunan, tidur-tiduran di ayunan besar, mengamati tingkah polah lucu anak-anak yang sedang bermain di playground, sambil berdoa semoga suatu saat nanti saya bisa ke sini lagi bawa Alia naik kuda..

Beberapa tips buat yang pengen berkuda di NZ:

  • Harga berkuda di NZ lumayan mahal, coba sering-sering cek website diskonan, sepert http://www.bookme.co.nz atau grabone.co.nz untuk dapat harga yang lebih murah.
  • Cek ramalan cuaca. Pakai baju nyaman sesuai musim dan cuaca. kalau Winter, jangan lupa pake sarung tangan, kaos kaki yang hangat dan jaket yang hangat.
  • Selama berkuda boleh ambil foto, tapi bakal susah kalau ambil foto pakai HP, karena kebanyakan kita ambil foto selagi kudanya jalan.
  • Ikuti arahan guide, percaya diri, rileks dan nikmati perjalanan.

Hanmer Springs

Long weekend kemarin Alia bareng keluarga besar bapak Abink jalan ke Jogja.. Mama saya pergi ke Bandung, trus bareng keluarga kakak saya jalan ke Jakarta. Saya? Ngerem aja di ofis, karna buanyaakk kerjaan #curcol. Untuk mengobati rasa rindu jalan-jalan, mending sekarang pasang foto-foto pas jalan bareng temen-temen bulan lalu aja ah.. Mudah2an yang baca masih belum bosen liat foto-foto pemandangan di NZ ya.

Awal April lalu saya bareng beberapa teman student Indonesia di Lincoln jalan-jalan ke Hanmer Springs. Hanmer springs ini tempatnya nggak terlalu jauh dari Lincoln, cuma sekitar 2,5 jam aja naik mobil. Desa kecil yang selalu rame dengan orang-orang yang pengen berendam air panas. Terutama kalo lagi liburan pasti rame banget desa ini.Tempat berendam nya kata saya sih keren, tiap kolam ada keterangan suhu airnya. Jadi, kita bisa pilih mau berendem di kolam yang panas banget, panas biasa, atau yang anget-anget tai ayam kuku aja. Trus, ada kolam arusnya juga, walaupun nggak terlalu gede, tapi lumayanlah untuk main-main pake ban atau pelampung. Di sini, kolam-kolamnya nggak semua di bangun kayak kolam renag modern, tapi ada beberapa kolam yang dibikin alami aja, jadi kayak kita berendem di sungai, bisa duduk-duduk di atas batu. Mereka sebutnya rock pool. Kalau nggak mau berendem bareng banyak orang, bisa juga sewa private pool. Tapi inget, di Hanmer Spring orang dateng untuk berendam ya, bukan untuk berenang, jadi memang dilarang berenang di sana.

Sebenernya kalo nggak mau berendem, di hanmer spring juga bisa naik quad bike, semacam ‘becak-becak fantasi’ yang sepet booming juga di Indonesia itu looh.. Atau, kalau yang suka tantangan bisa juga coba jet boating, rafting atau bungy jumping, atau jalan-jalan aja naik ke atas bukit untuk liat pemandangan dari atas. Atau kalau winter bisa main ski juga di Hanmer Springs.

Kali ini, saya nggak berendam, cuma jalan-jalan aja di sekitar situ, kebetulan pas ada pasar kaget di deket tempat pemandiannya, trus jalan lagi ke taman, ngasih makan bebek. Trus duduk-duduk aja, sambil makan es krim sambil nunggu temen-temen yang pada berendam.. Terus pulang deh….  Tapi saya menikmati banget pemandangan sepanjang jalan.. Perbukitan.. kadang ijo, kadang coklat, kadang banyak sapi kadang ketemu domba.. Lewat perkebunan anggur, sungai, padang rumput… Subhanallah.. Monggo di intip sedikit foto-foto di Hanmer Springs Village dan sepanjang perjalanan.

SONY DSCSONY DSC SONY DSC  SONY DSCSONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC SONY DSC

Daylight Saving

pic from http://www.coloring.com

Daylight saving ends today. Jarum jam harus dimundurin sejam. Karena nggak punya jam dinding, jadi tahun ini saya nggak perlu muter-muter jarum jam. Laptop dan HP pun udah otomatis menyesuaikan jadwal daylight saving.

Dulu waktu jaman-jaman bapak Abink masih kuliah di Australia (sekitar 2006an), saya suka bingung kenapa perbedaan waktu antara Indonesia-Australia berubah-ubah. Kadang beda waktunya 4 jam, trus beberapa bulan kemudian jadi beda 3 jam. Setelah saya browsing-browsing, ternyata karena daylight saving 🙂 Walaupun di beberapa wilayah australia nggak ada daylight saving, waktu itu bapak Abink tinggal di wilayah Australia yang kena dayight saving.

Dari 82 negara di dunia, ada sekitar 73 negara yang memberlakukan daylight saving time (DST). Pastinya ke 73 negara itu yang tidak berada di sekitar garis kathulistiwa. Kalo negara di sekitar garis khatulistiwa kan  jadwal terbit tan tenggelamnya matahari relatif nggak berubah ya. Siang 12 jam, dan malam 12 jam juga.

pic from http://www.geolounge.com

Sebelum saya dateng ke NZ, saya masih bingung-bingung aja kenapa harus ada daylight saving. Tapi setelah mengalami sendiri daylight saving, saya jadi sedikit paham. Karena “paham”nya masih sdikit, jadi sebenernya saya masih banyak “bingung”nya hehehehe…

Daylight saving selalu dimulai waktu spring, menjelang summer, dimana matahari bersinar lebih lama. Dan daylight saving berakhir waktu autumn menjelang winter. Kalo di NZ, daylight saving biasanya dimulai di bulan September dan berakhir di bulan April. Katanya sih, daylight saving dilakukan agar orang-orang bisa menikmati kegiatan outdoor lebih lama di malam hari (karena masih terang). Logika asal-asalan ala saya mungkin kayak gini: Misalnya matahari di musim panas tenggelam jam 8 malam. Kalo nggak ada daylight saving, jadi kita cuma dapet terangnya matahari sampe jam 8 malem aja. Tapi karena jam dimajuin 1 hour, jadinya kita bisa main-main di luar sampe jam 9 malem. Kalo misal kita pulang kerja jam 5 sore, trus pengen ngajak anak main bola di luar, tanpa daylight saving kita cuma punya waktu 3 jam sebelum matahari tenggelam. tapi, dengan daylight saving waktu main bola sama anak jadi lebih lama kann… 😀

Dengan maju atau mundurnya waktu selama satu jam, nggak terus bikin semua jadwal jadi berubah. Semua jadwal langsung otomatis ngikutin jam yang baru. Misalnya, kita pesen tiket pesawat sebelum daylight saving, dan dijadwalkan terbang jam 9 pagi. Walapun kita terbang nya pas daylight saving, dimana jam udah maju sejam, nggak berarti terus jadwal pesawat kita majuin sejam juga dari jam 9 ke jam 10. Jadwal tetep jam 9, tapi dengan “jarum jam” yang udah dimajuin. Intinya kalo jam hp dan laptop kita udah otomatis, percaya aja sama “mereka” dan tetep ikutin jadwal yg udah disusun 🙂

Tapi buat saya, daylight saving time bikin agak kacau jadwal nelpon ke Indonesia. karena perbedaan waktu Indonesia-NZ jadi 6 jam. Bapak Abink n Alia biasanya nyampe rumah jam 5 sore, yang mana di NZ udah jam 11 malem, dan pastinya saya udah ngantuk dan capek. Apalagi kalo nelpon sama mereka kan nggak bisa sebentar..

Jadinya saya seneng banget daylight saving tahun ini udah berakhir. Beda waktu Indo-NZ kembali ke 5 jam, bisa santai-santai dulu di kamar setelah sholat subuh, nggak harus buru-buru siap-siap ke ofis.. Tapi, sedihnya gelapnya jadi lebih cepet, bikin saya nggak bisa tinggal lama-lama di ofis. Saya takut pulang malem sendirian hehehe…

Napak Tilas New Zealand 2014: Invercargill dan Bluff

Masih mau cerita tentang liburan kami awal Agustus lalu.. Maap kalo udah pada bosen 🙂  Setelah sehari di Queenstown, kami lanjut nyetir ke Invercargill, kota paling selatan di NZ. Sebenernya dari dulu bapak Abink udah pengen banget ke Invercargill, tapi belum ada kesempatannya dan saya dulu suka nggak mau di ajak ke sana. Sekarang saatnya untuk diwujudkan keinginannya menjelajah New Zealand sampai ke ujung selatan. Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam aja dari Queenstown. Pemandangan sepanjang jalan nya mashaAllah baguuss banget! Diawali dengan menyusuri danau Wakatipu, terus lewat padang rumput yang kadang kosong, kadang penuh domba, sapi dan kijang, trus lewat kota-kota kecil yang cantik.. Cakep deh ! Sayangnya, sepanjang perjalanan hujan dan gerimis mengundang..

rainbow

Menyusuri Lake Wakatipu
Menyusuri Lake Wakatipu
Kingston
Kingston
Kingston (Kesalahan bukan pada mata anda. Ini fotonya emang burem :p
Kingston (Kesalahan bukan pada mata anda. Ini fotonya emang burem )

Invercargill.  Kami sampai di Invercargill sudah sore dan hari (masih) hujan.. jadi kami sengaja mampir ke supermarket untuk belanja cemilan dan sedikit bahan-bahan untuk masak makan malam. Untungnya di Invercargill kami nginepnya di motel, jadi bisa masak dan nggak perlu keluar cari makan malem. Oiya sebelum ke motel, kami sempet mampir ke warehouse juga beli boots murah meriah untuk saya dan ALia karena sepatu kami nggak tahan air jadi kaos kaki ikutan basah dan jadi dingin banget.. Karena sepatu saya sobek dikit (duh, kesian amat ya) terpaksa saya buang sepatu kesayangan yang udah menemani selama 3 tahun 😦 tapi sekarang udah ada gantinya sih, hasil hunting diskonan sehari hahaha..

Motel di Invercargill ini bisa dibilang motel terbaik yang pernah kami (saya) tinggali (walaupun cuma semalem ya). Kalau dari bangunannya memang nggak terlihat istimewa, ya standar bangunan motel biasa.. Tapi, pas nyampe di reception, ibu receptionisnya super ramah, trus kamar nya luuuaaaassss banget, ada spa bath di kamar, dan yang pasti harganya murah 🙂 Saking saya terpesonanya sama pelayanan motel ini, saya bela-belain foto di depan motelnya loh, biar jadi kenang-kenangan hahaha 😀

invercargill2

invercargill1
Invercargill water towerS

Setelah check out pagi-pagi, kami langsung menuju Invercargill water tower dan lanjut ke Bluff, ujung selatan New Zealand. Di Bluff kami cuma poto-poto aja, trus jalan di walking tracknya, dan kunjungan kami ke Bluff ditutup dengan menikmati brunch di cafe pinggir laut 🙂 sayangnya pas kami ke sana lagi nggak musim oyster, jadi cafe-nya nggak sedia oyster.

bluff

bluff2
Bluff Walking Track
bluff4
Bluff Walking Track
bluff3
Bluff Cafe

Abis dari Bluff kami langsung balik ke Queenstown lagi untuk pulang ke Christchurch naik bis besok paginya. Ini beberapa foto yang kami ambil selama perjalanan Queenstown-Invercargill/Bluff-Queenstown-Christchurch.

Camera 360

Camera 360
Nggak peduli rumputnya hijau atau udah cokelat, para domba tetep makan dengan lahap. Itu yang bintik2 putih di tengah2 itu domba looh..
Camera 360
Domba-domba yang lagi digiring
SInggah sebentar di Wanaka
Wanaka

Awesome Week

Dear September, thankyou for being nice to me 🙂 Beberapa hal yang bikin saya hepi selama seminggu ini:

Menang giveaway-nya teacher Joeyz. Baru pertama kali ikutan giveaway dan ngerjain postingannya pun secepat kilat sebelum berangkat ke Auckland.. Tapi  tenyata menang…. . Hadiahnyapun sesuai yang saya pengen. Thankyou teacher Joeyz!

Diskonan Mania. Sejak sepatu kesayangan harus rela dibuang di Invercargill karena sobek, basah dan nggak layak pakai lagi, saya memang pengen banget beli sepatu keds/casual baru. Saya tuh agak rewel sama sepatu.. Waktu pulang ke Malang akhir tahun lalu, sempet beli sepatu, sampe dua pasang. Tapi karena pengen ngirit akhirnya beli yang murah aja. Tapi begitu dipakai sekali dua kali trus rasanya nggak nyaman jadi jarang dipake lagi… Sekarang merasa butuh sepatu nyaman buat jalan-jalan. Kebetulan ada temen ngasih info kalo toko sepatu kesayangan lagi diskon besar-besaran tapi cuma sehari. Akhirnya abis tutorial, saya bela-belain naik bis ke sana demi diskonan. Semua sepatu dewasa turun harga jadi $50 dan sepatu anak-anak jadi $35. Baju olahraga, sweater dll jadi $30. Trus saya beli yang mana? Saya beli sepatu yang harga awalnya $230 dan diskon jadi cuma $50 saja. hahahah 😀 ga mau rugi.

Makan Pempek enak. Ini juga yang bikin minggu saya ceria! Ada temen yang lagi jualan pempek. Saya beli dan ternyata nggak mengecewakan. enaakk… Padahal minggu sebelumnya saya udah sempet browsing-browsing cara bikin pempek sendiri.. Alhamdulillah ada yang jualan dan enak, jadi nggak perlu susah-susah bikin sendiri.

Pengajian Ibu-ibu. Bulan Agustus lalu, beberapa ibu-ibu (baca: ibu muda. Penting untuk diperjelas) di sini memutuskan utuk bikin pengajian bulanan. Acara nya baca Al-Qur’an, denger ceramah, bahas tajwid, silaturahmi dan makan-makan… Kalau bulan lalu yang jadi idola adalah tahu crispy plus sambel petis, bulan ini ada bika Ambon yang yummoo sekali.. Iman kuat, batin tenang, perut kenyang 🙂

Pengajian Perdana. photo courtesy of Mbak Hesthi Nugroho
Pengajian Perdana. photo courtesy of Mbak Hesthi Nugroho

Menghitung hari untuk kumpul keluarga lagi. Beberapa waktu yang lalu pas Alia tanya kapan saya pulang, saya jawab masih 60 hari lagi dan Alia bilang masih lama.. Beberapa hari yang lalu, kk ALia tanya lagi, kapan ibu sampe ke sini? Saya bilang 50 hari lagi. Dan nggak nyangka itu bikin Alia hepi banget… Kata ALia “yeaayyy, nggak sampai 60 hari lagi ibu ke sini”. Padahal 60 dan 50 hari kan beda tipis yaa… Tapi mungkin ALia lihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Positifnya, 50 hari itu kurang dari 60 hari ! heheheh…. bikin saya ikutan hepi juga.

Being nominated for Green Award. Ini nih highlight of the week nya. Dinominasikan untuk Green Award! Bukan, ini bukan award lingkungan hidup.. Ini award untuk teaching and support excellent. Jadi, setiap tahun Lincoln University Student Association (LUSA) bikin acara Gold and Green award. Gold untuk student yang dirasa berpengaruh di kehidupan kampus (bisa melalui sport, clubs, events atau cultural activities) dan green untuk lecture, tutor atau support person di university. Untuk Green award, semua student bisa menominasikan lecture/tutor favoritnya.. Rasanya nggak percaya.. secara saya merasa ngajarnya biasa-biasa aja. Kadang saya masih diketawain soal aksen ‘medhok’ saya yang mungkin aneh buat mereka. Pernah juga dikerjain mahasiswa, diajak ‘minum’ atau dikasih pandangan aneh dari atas sampai ke bawah… Semester lalu malah saya selalu stress sebelum ngajar karena kebetulan saya tutoring matakuliah umum tentang research dan sedikit statistik, yang mahasiswanya (sepertinya) banyak dari agriculture. Farmer muda atau calon farmer yang agak susah dikendalikan 🙂 Tapi dengan dinominasikan di green award ini, semua terbayar.. Walaupun saya masih susah percaya sih, sampai saya email ke award commiteenya beneran nggak itu undangan karena saya dinominasikan?  Nggak peduli nanti saya bakal dapet awardnya atau enggak, dinominasikan aja udah bikin saya tersanjung.. Ya iyalah, secara kemungkinan dapet awardnya pun kecil.. yang tahun-tahun sebelumnya penerima awardnya orang-orang hebat semua…. Mudah-mudahan aja ini bukan pengumuman dan undangan salah kirim  yaaa 😀

Green Award for Teaching and Supprot Excellent
Green Award for Teaching and Supprot Excellent

Kalo kamu, apa yang bikin hepi selama seminggu ini?

Napak Tilas New Zealand 2014: Lake Tekapo & Queenstown

Bisa dibilang lake Tekapo adalah tempat wisata yang paling sering kami kunjungi selama tinggal di NZ. Selama 3.5 tahun di New Zealand, kami sudah 4 kali ke sana di 3 musim yang berbeda (winter, spring dan autumn). Pas Alia dan bapak Abink ke NZ kemaren, kami merencanakan untuk liburan ke luar kota Christchurch untuk 2-3 hari waktu weekend. Sebenernya bapak Abink pengen ke North Island ke Rotorua & Matamata atau ke Wellington. Tapi karena saya cari tiketnya agak mepet, jadi harga tiket pesawat udah mahal aja.. Jadi kita cari alternative liburan yang sesuai budget. Setelah mempertimbangkan waktu, tenaga dan ketebalan dompet, akhirnya diputuskan ke Queenstown (lewat lake Tekapo) dan Invercargill aja.

Liburan kali ini kami sewa mobil dari Christchurch ke Queenstown trus pulangnya naik bis. ALesannya sih biar ngirit (secara tiket pesawat kok ya pas mahal bener) dan sekalian biar bisa brenti-brenti di jalan untuk nostalgia dan poto-poto. Jadi, monggo dinikmati foto-foto amatirnya….

Perjalanan dari Christchurch Lincoln ke Lake Tekapo perlu waktu sekitar 3 jam. Karena kami berangkat pagi dan bapak Abink nggak sempat ngopi, jadi kami berhenti dulu untuk beli kopi di salah satu cafe di daerah Dunsandel. Take away aja….

dunsandel cafe
Dunsandel cafe

Sekitar satu setengah jam dari Dunsandel, kami berhenti lagi di Geraldine. Salah satu kota kecil yang cantik, dan setiap jalan ke Tekapo kami selalu mampir ke kota ini untuk istirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Tekapo.

geraldine
Geraldine Museum

Lake Tekapo. Karena ini kelima kalinya kami ke Lake Tekapo, jadi kami sepakat untuk nggak berlama-lama di sini. Di Lake tekapo, kami cuma berhenti sebentar untuk foto-foto di depan danau, di depan patung anjing dan di depan gereja kecil yang banyak dicetak di kartu pos itu..  Sayang kami fotonya cuma pakai kamera HP jadi hasilnya nggak begitu bagus. Padahal bapak Abink bawa “kamera beneran” lohh.. tapi nggak tau kenapa selama liburan kami nggak pake kameranya jadinya hasil fotonya nggak maksimal (halahh, padahal belum tentu bagus juga kalo pake kamera beneran 😀 hahaha..) Oiya, cerita tentang lake Tekapo juga sudah pernah di posting di sini , di sini dan di sini yaa..

tekapo5
Bapak Abink n Kk ALia (yang banyak gaya) di depan Lake Tekapo
tekapo8
Lake Tekapo
tekapo4
Lake Tekapo dan Church of The Good Shepherd – foto ini diambil bapak Abink sekitar summer 2 tahun lalu- kemarin nggak dapet foto yg bagus di tekapo 😦

Biasanya, kalo udah sampe Tekapo, kami selalu menyempatkan untuk naik ke Mt John untuk liat Lake Tekapo dari atas gunung. Tapi kali ini kami memutuskan nggak naik ke Mt John karena ngejar sholat Ashar di Queenstown. Tapi, kita berhenti makan siang dulu di lake Pukaki sekitar 1 jam dari lake Tekapo. Makan siang kami hari itu smoked salmon sandwiches pake sambel ABC 🙂 yumm…

Sampe Queenstown udah sore, dan agak gerimis. Jadilah sore itu kami cuma keluar cari makan malam sebentar di tengah kota terus balik ke Hotel untuk istirahat.

Queenstown

Ini keempat kali nya kami ke Queenstown, tapi kami masih tetap excited karena kami mencoba ‘atraksi’ yang berbeda. Liburan ke Queenstown kali ini, selain jalan-jalan di sekitar ‘queenstown mall’, kami pengen coba cruising di lake Wakatipu. Berbekal tiket diskonan, kami mengarungi lake Wakatipu selama 1.5 jam. Sayangnya, hari itu hujan deras, jadi indahnya lake Wakatipu nggak keliatan maksimal.

Lake Wakatipu
Lake Wakatipu
wakatipu1
Cruising Lake Wakatipu
queenstown4
Quuenstown Mall in the morning
Camera 360
Hotel tempat kami menginap, persis di depan Lake Wakatipu

Selain cruising di lake Wakatipu dan jalan-jalan di sekitar kota, kami juga sempat coba masuk ke minus5 icebar. Walaupun namanya minus5, tapi di dalem ruangannya jauuuuhhh lebih dingin dari minus 5. Makanya mereka juga menyediakan jaket, sarung tangan bahkan topi juga kalu mau pake topi. Tiket masuk yang saya beli sudah termasuk complimentary drink. Kebetulan saya beli family pass (lagi diskon banyak banget) dapet 2 cocktail dan 2 mocktail. Karena kami nggak minum alkohol sama sekali jadi kami bertiga pesen mocktail semua. Di sini, semuanya terbuat dari es. Mulai dari kursi, hiasan-hiasan sampai gelasnyapun terbuat dari es. Yang paling seneng di icebar ini tentu aja Alia.. Dari sehari sebelumnya, dia udah nggak sabar pengen liat gelas es dan pengen jilat-jilat gelas esnya, pengen duduk di kursi es juga katanya.. Overall, pengalaman di ice bar ini lumayan lah, tapi kalau ditanya mau ke sana lagi atau enggak, mungkin saya akan bilang enggak 🙂 Harga tiketnya (kalo nggak diskon) menurut saya agak overpriced juga. Tiket masuknya aja dihargai $20 atau $25 untuk entry + mocktail atau $30 untuk entry + cocktail. Mahal kaan… Tapi kadang di website diskonan kayak grabone atau bookme suka ada diskonan kok.

Camera 360
Kami cuma bertahan sekitar 15-20 menit aja di dalam icebar, karena kedinginan… Malam itu, kami memutuskan untuk makan malam dipinggir Lake Wakatipu aja, sekaligus menikmati malam terakhir di Queenstown.

queenstown1
Lake Wakatipu
Pavlova for desert
Big Pavlova. Yuummm….
Lagi di gunung tapi makannya seafood :)
Lagi di gunung tapi makannya seafood 🙂

Walaupun udah kenyang, saya nggak bisa tahan untuk nggak mampir jajan hot cookies-nya Cookie Time. White chocolate and macadamia cookies-nya yummyyy…… Setelah bungkus beberapa hot cookies, kami langsung balik ke hotel karena Alia udah rewel pengen istirahat dan udara malam itu dingiiiinnn banget. Lagipula, besok pagi kami harus melanjutkan perjalanan napak tilas New Zealand 2014 ini 😀

Napak Tilas New Zealand 2014: Christchurch City

Selain jalan-jalan dan nostalgia seputar kampus dan Lincoln town, saya juga sempat bawa Alia dan bapak Abink jalan-jalan ke Christchurch City. Karena kami nggak punya kendaraan, lagi-lagi kami menikmati jalan-jalan di Christchurch city naik bus. Walaupun dengan naik bus kemana-mana bikin perjalanan jadi lama, tapi ALia happy banget naik bus di sini.Kami biasa berangkatnya siang atau menjelang sore setelah semua urusan beres. Kadang Alia sampe ketiduran di bus karena kecapekan 🙂

Jadi selama di CHristchurc, kami kemana aja?

HAGLEY PARK/BOTANICAL GARDEN. Dari Lincoln ke Hagley park bisa ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit naik bus 81. Sebenernya di hari kami ke sana cuacanya lagi mendung ditambah angin dingin. Tapi karena Alia ngotot pengen main di (playgroundnya) Hagley akhirnya kami putuskan untuk ‘mampir sebentar’. Nggak banyak yang bisa dilakukan di Hagley park waktu winter. Bunga-bunga belum ada yang mekar dan kolam untuk main air ditutup karena dingin. Jadi kami kemarin cuma ajak Alia main sebentar di playground, trus jalan aja menyusuri taman, dan numpang lewat di visitor centre yang baru dibuka. Visitor centre nya lumayan keren. Ada cafe, nursery, dan toko souvenirnya juga.

Hagley park ini cukup luas (sekitar 165 hectares) dan dibagi jadi 2 bagian. North dan South Hagley Park. Kalau hari hangat, hagley park ini bakal dipenuhi orang-orang (dengan keluarga) untuk piknik, jalan-jalan, atau sekedar baca buku sambil tidur-tiduran di rumput. Di botanical gardennya sendiri di bagi jadi beberapa sections: playground area, azalea and magnolia garden yang mekar di bulan September, rose garden yang bakal mekar di sekitar bulan Januari, daffodil garden yang indah di bulan September, ada juga tropical garden yang di ruangan khusus dengan suhu dan kelembapan yang diatur sehingga pohon dan bunga tropis bisa hidup di situ. Dulu, setiap ada kesempatan, kami serig sekali jalan-jalan di Hagley park untuk sekedar ngasih makan bebek, ajak Alia main di playground atau nemenin Alia main sepeda keliling taman. Jadi pas kita bertiga balik ke Hagley park lagi, rasanya seneg bangettt….

chc2

CATHEDRAL SQUARE. Sebenernya dulu kami nggak begitu sering ke sini. Apalagi sesudah gempa besar di bulan tahun 2011 dan 2012 lalu bikin gereja Cathedral nya hancur dan belum selesai diperbaiki sampai sekarang.

chc5
in front of the Chalice
chc6
Gereja Cathedral yang masih belum selesai diperbaiki

CHRISTCHURCH GONDOLA. Sebenernya, kami belum pernah naik gondola di Chc sebelum ditutup karena gempa di tahun 2011 itu. Pas Alia dan bapak Abink pulang ke Indonesia tahun lalu pun, gondola nya belum beroperasi. Jadilah kesempatan naik gondola untuk Alia dan bapak Abink baru ada pas jadi turis bulan lau 🙂 Saya sendiri udah naik duluan summer tahun lalu dan udah posting juga di sini. ALia sih seneng naik gondola.. Tapi pas udah sampe atas, dan pas masuk ke time tunnel dia agak ketakutan. Jadi di time tunnel itu kan naik kereta kecildi ruangan yg gelap gitu. Alia sebenernya nggak takut gelap sih, tapi memang ‘boneka-boneka’ atau patung-patung yang di situ agak serem siih.. Jadinya dia agak nggak hepi gitu di dalem time tunnel nya. Untung cuma sebentar 🙂

gond1

gond2

gond3

Jadi cuma ke situ-situ doang selama di Christchurch??? Iyaaaa…. tapi udah lah ya, cukup napak tilas di Christchurchnya. Kita lanjut napak tilas ke kota yang lain lagi: Queenstown!!