Alia, daddy dan nail art

Apa hubungannya Alia, daddy dan nail art? mungkin dibanyak keluarga ketiga hal tersebut tidak ada hubungannya. Tapi di keluargahussein, tiga hal tersebut sering memicu perdebatan yang sering kali diakhiri oleh tangisan. Sebagai anak cewe yang hobi princess, Alia tergila gila dengan yang namanya pewarna kuku  atau yang sering disebut dengan kuteks. Kegemarannya terhadap kuteks sedikit terfasilitasi karena ada tantenya dan juga salah satu guru di sekolah nya yang juga seperti nya penggemar kuteks.

Sebenarnya sebagai anak cewe menggunakan pewarna kuku tidak menjadi masalah. Hal tersebut wajar karena penggunaan pewarna kuku konon kabar nya membuat lebih menarik. Tapi yang menjadi masalah adalah Alia ini baru 4.5 tahun. Sehingga daddy Abink merasa belum waktunya menggunakan hal-hal semacam itu. Selain itu di agama keluargahussein, penggunaan pewarna kuku kecuali daun pacar juga akan menghambat jika ingin beribadah khususnya bersuci. Oleh karena itu, penentang keras dari kegandrungan ALia terhadap pewarna kuku adalah daddy Abink.

Sudah sejak sebulan yang lalu Alia ngotot pakau kuteks. Karena ketidaktahuan kalo daddy Abink tidak suka, ketika main dirumah Oma Niek, Alia di entertain oleh Oma dengan diberi kuteks. Tetapi ketika Daddy datang, Oma langsung heboh mencari aseton untuk membersihkannya. Kegandrungan Alia terhadap pewarna kuku tidak berhenti hingga rumah Oma. Hingga beberapa waktu yang lalu walau sudah diberikan pengertian Alia tetap ngotot minta pewarna. Akhirnya Daddy menyerah dengan syarat. Setelah diskusi dengan tante ade, disepakati bahwa nail art bentuk stiker yang banyak dijual di accessories shop dapat menjadi alternative. Maka di janjikanlah Alia untuk dibelikan nail art. Tetapi hanya boleh di gunakan hari Sabtu dan Minggu.

Rencana pembelian nail art pun sempat tertunda beberapa kali secara Daddy masih terus mencoba bernegosiasi dengan Alia. AKhirnya keinginan Alia terturuti ketika Kai Roben datang ke Malang. Apa bole buat, mengikuti saran dari salah satu pakar pendidikan anak, bahwa jika anak berada di tangan orang lain, maka orang tua hanya akan jadi penonton. Well, it’s ok. Walaupun Kai Roben yang membelikan, tetapi Kai menyetujui bahwa Nail art hanya digunakan pada saat weekend. Alia pun setuju.

Setelah hampirr satu minggu tergelatak di kamar tante, akhirnya weekend pun tiba. Sudah sejak hari Kamis, Alia cerita ke daddy (bahasa lain dari nodong/ngingetin) kalo hari Sabtu Alia bole pakai Nail Art. Karena sudah deal bahwa boleh pakai nya Weekend saja Daddy Abink tidak banyak berkomentar dengan harapan Alia masih bias di nego. Tiba dihari yang ditunggu tunggu ternyata Daddy abink dan Alia harus ke perkawinan anak kolega dari Daddy di Surabaya. Alia pun ikut bersama Daddy ke Surabaya. Di mobil, Alia terus mengingatkan bahwa sekembali dari Surabaya Alia mau minta tante ade untuk masangkan nail artnya. Kembali daddy Abink tidak berkomentar. Diam seribus bahasa hehehehe….dalam hati terus mencari strategi untuk bernegosiasi.

Sampai di Surabaya, Daddy dan Alia mengina di apartemen nya Kai. Sampai di apartemen, ALia bobok, karena sepanjang perjalanan tidak mau dengan alas an mau bobok di apartemen saja. Sekitar 1 jam sebelom acara dimulai, Alia bangun dan dengan “nice” nya langsung inta ganti baju, cuci muka dan makan roti. Nice sekali anak Daddy sore itu. Sepanjang perjalanan daddy dan Alia ngobrol-ngobrol tentang “adek-adek” nya ALia Pop, Poppa, Frankrin and Frankrin. Daddy Abink ikut saja obrolan nya Alia. Sambil daddy beberapa kali mengingatkan Alia kalao nanti di pesta perkawinan Alia harus salim dengan temennya daddy dan juga harus makan yang banyak serta tidak minta gendong. Hebatnya selama di acara tersebut, Alia benar-benar nice. Dengan semua teman daddy, Alia mau salim. Makannya pun banyak. Serta yang hebat, walau terlihat bosan dan capek, Alia tidak rewel dan minta gendong, Bangga sekali Daddy dengan ALia. Diperjalanan pulang Daddy kasi hadiah kecil ALia yaitu oreo dan jus buah.

Esok harinya diperjalanan pulang Alia, sedikit rewel karena pagi tidak mau sarapan. Sarapannya mau di Malang saja sama Tante Adek. Selama perjalanan pun ALia cuma sekali nodong kalo hari ini dia mau pakai Nail Art. Akhirnya on the top of her nice attitude, Daddy Abink tidak mau lagi bernegosiasi. Biarlah sekali-sekali menyalurkan hasrat anak. Selama bukan keburukan dan tidak menyebabkan bahaya tidak ada salahnya dituruti.

Sampai di Malang, Alia makan, mandi dan pakai Nail Art. Happy sekali. Hebatnya ketika sudah malam, waktunya tidur, Alia pura-pura lupa, tetapi ketika daddy Abink mengingatkan kalao nail art harus dilepas tanpa perlawanan dan argumentasi Alia langsung menyodorkan jari-jarinya yang mungil untuk dilepas nail art nya. Sebelum bobok, sebuah cerita dam ciuman daddy berikan untuk Alia. I and your mom really proud of you Alia…. you are nice nice wee girl

Daddy Abink

Belajar Dari New Zealand Kindergarten

Sejak Januari yang lalu, si kecil Alia sudah berumur tiga tahun. Sudah tidak mau di panggil little girl lagi, apa lagi di panggil baby. Mau nya dipanggil kakak Alia atau Big Girl. Sejak berumur tiga tahun itulah saya dan Bu Abink memilih Kindergarten sebagai “sekolah” untuk Alia. Maka pindahlah Alia dari Lincoln Daycare ke Lincoln KidFirst.

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi kami menyekolahkan Alia di Kindergarten. Pertama sejak anak berumur tiga tahun, maka pemerintah New Zealand memberikan subsidi 20 jam gratis untuk bersekolah di pusat-pusat pendidikan usia dini. Sekedar informasi di New Zealand ini PAUD di buat dalam beragam format. Ada yang dalam bentuk Kindergarten macam kidfirst, ada pula Childacare/daycare dan ada pula yang dikelola komunitas dalam bentuk playcentre. Nah sebenarnya untuk semua PAUD centre ini diatas usia tiga tahun otomatis mendapat subsidi 20 jam gratis. Alasan lain menyekolahkan Alia di Kindy yaitu untuk mengajarkan kemandirian. Dengan asusmi di Kindy rasio guru dengan murid tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil berbeda dengan di Daycare yang rasio nya bisa 1:5. Jadi anak-anak sudah dianggap dewasa tidak terlalu diawasi macam di Childcare.

Setelah hampir empat bulan berjalan, ternyata pilihan kami sangat tepat. Beberapa perubahan positif terjadi pada Alia. Yang paling tampak adalah kemandirian. Sejak masuk ke kindy Alia :

– bisa pakai kaos kaki sendiri

– bisa pasang sepatu sendiri

– bisa pakai celana sendiri, kalau pake baju masih harus di bantu

– tidak ngompol lagi, kalau mau pipis selalu bilang ” daddy/mommy, I wanna go to toilet” terus langsung lari ke toilet. Memang masih harus di bantu naek ke toilet karena toilet nya masih ketinggian

– bisa brush teeth sendiri

Selain mandiri perkembangan signifikan lainnya adalah kemampuan berkomunikasi. Sekarang Alia sudah lancar bahasa inggrisnya – grammar nya pun sering akurat. Contoh nya Alia bilang ” I went to toilet with Sue at school” wow 3 y/o girl sudah mengerti Past tense. Bahkan beberapa words yang dipakainya kami tidak mengerti (nasib-nasib). Kalau tentang bahasa Indonesianya, Alia mengerti bahasa Indonesia pasif, karena di rumah, kami berbahasa Indonesia. Untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia Alia masih belum bisa. Mudah-mudahan ini nggak jadi masalah ketika kami harus pulang ke Indonesia nanti. Dari sisi kognitif nya, Alia sudah kenal huruf. Bahkan Alia sudah bisa menulis namanya sendiri.

Nah tapi jangan bayangkan model pendidikan PAUD di New Zealand sama dengan TK TK di Indonesia walaupun TK Plus sekalipun. Di New Zealand, tidak ada namanya keseragaman. Tidak ada namanya duduk dalam kelas kemudian belajar alphabet bersama atau menyenyi bersama atau diajarkan “Ini Truk”…”ini bola”. Anak-anak wajib masuk ruangan hanya untuk morning tea, lunch dan “mat time”. Mat time ini dongeng sebelum pulang sekolah.

Saya pernah bertanya kepada salah satu guru di Kidsfirst. Bagaimana bisa Alia dapat belajar huruf dan angka begitu cepatnya. Apa di Kindy diajarkan secara khusus untuk membaca dan menulis. Belio menjelaskan bahwa konsep nya adalah belajar sambil bermain. Maksud nya adalah waktu bermain, kadang-kadang si guru menanyakan “what is this” …”this is a bus” so “B” is for Bus. Sambil nunjukin huruf B yang ada dimana saja. Bisa di kaos salah satu anak. Atau dimana saja. Jadi waktu saya tanya apa kegiatan anak seharian di Kindy. Dia menjawab bermain dan berkreasi. Karena dunia anak adalah bermain dan kreativitas. Pernah saya bertanya juga kenapa mereka tidak banyak menyediakan kertas untuk mewarna. Ternyata mewarna tidak terlalu cocok untuk pengembangan kreativitas anak usia dini. Dalam mewarna ada batasan dan ada kesesuaian. Misal mewarna pohon maka warna tidak boleh keluar dari batas warna begitu juga warna batang harus coklat. Padahal anak masih mengeksplorasi segala kemungkinan. Benar-benar pendidikan yang memanusiakan manusia.

Hal lain yang membuat saya kagum adalah tidak adanya perbedaan antara anak yang normal dengan yang sedikit berketerbatasan. Salah satu teman Alia sedikit terbatas pendengaran dan penglihatan. Tetapi si anak tetap diperlakukan sama. Diberikan kesempatan yang sama dengan teman-teman yang lain. Walau sedikit ada perhatian khusus dari para guru.

Nah yang menarik selain Alia yang banya belajar, saya pun banyak mendapatkan pelajaran berharga selama mengantar Alia ke sekolah. Maklum kesepakatan di KeluargaHussein, Pak Abink antar Alia sekalian ke kampus, dan Bu Abink yang jemput Alia di sore hari. Nah setiap pagi Pak Abink mengantarkan Alia sekolah. Maka setiap pagi Pak Abink bertemu dengan beberapa ibu/bapak nya murid-murid lain. Kadang geli melihat bapak-bapak yang badannya besar bin kekar tapi dengan santai  nge gendong anaknya sambil menjjing tas sekolah. Kemudia sebelum pulang si Bapak juga ber hug ria dengan si anak sambil bercanda. Selain itu Pak Abink juga belajar kesopan santunan orang New Zealand. Contoh kecil saja adalah mengenai membuka pintu. Mereka rela memegang pintu ketika melihat ada orang lain datang. Selain itu jika ada ibu-ibu yang datang maka Bapak-bapak rela untuk tergesa-gesa membukakan pintu. Benar-benar contoh sopan santun yang tidak dibuat-buat.

Banyak pelajaran berharga yang Alia dan kami pelajari dari Kindergarten ala New Zealand ini. Semoga pengalaman dan pengetahuan yang kami peroleh ini bisa kami tularkan di Indonesia dikemudian hari.

Salam keluargaHussein

Cerita oleh: Bapak Abink

Creativity: Process vs Product

Siapa sih yang nggak pengen anak-anaknya menjadi seorang yang kreatif? Pasti semua orang tua ingin anak-anak nya tumbuh menjadi seorang yang kreatif, punya pendirian, dan tidak takut untuk menjadi dirinya sendiri. Lagi-lagi saya ingin berbagi cerita dari creativity (collage) workshop beberapa minggu yang lalu..

Kreativitas memang sudah seharusnya menjadi milik anak-anak. Biarkan anak-anak menentukan apakah mereka ingin melukis, menggambar, membuat sesuatu dengan cara mereka sendiri. Peran orang tua adalah ecourage them to do it themselves. Seringkali orangtua menginginkan anak-anak melukis/membuat sesuatu yang sempurna seperti yang diharapkan orang tua. MIsalnya, ketika anak melukis seekor kelinci dan memberi warna merah, masih banyak yang mempertanyakan “kok kelinci warnanya merah, nak? Yang bener dong gambarnya.. Kelinci itu warnanya putih, atau cokelat.” Padahal di dunia anak, tidak pernah ada benar atau salah dalam hal menunangkan imajinasi dan kreatifitas. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk mendukung anak-anak menjadi kreatif dalam melukis/membuat produk seni:

  • Be prepared for mess. Kan kalau nggak kotor, nggak belajar 🙂
  • Dengarkan cerita anak-anak tentang apa yang sedang dibuatnya. Seringkali anak-anak menggambar bentuk yang menurut kita tidak jelas, tapi dalam imajinasinya mereka sedang membuat sesuatu yang spektakuler.
  • Komentari gerakan dan bentuk yang mereka buat. Misal: cepat, lambat, lingkaran, spiral, dll. Contoh : ” Wow, Alia cepat sekali gambar rainbow nyaa..” atau ” I can see a circle there..”
  • Never interupt children while drawing
  • Don’t draw for children. Lukisan/gambar kita tidak akan berarti apa-apa bagi anak, dan akan merusak kreatifitasnya karena mereka akan tergatung pada kita.
  • Tawarkan media dan resources baru. Misalnya anak-anak biasa membuat kolase dengan memakai glitter, maka bisa tawarkan pasir putih sebagai gantinya. Atau kalau biasa menggambar di kertas ukuran A4, tawarkan melukis dengan kertas yang jauh lebih besar. Biasa menggambar dengan crayon atau spidol? Coba finger painting, pasti lebih asyik 🙂
  • Tawarkan topik lukisan hari ini. Misalnya “ALia mau gambar apa hari ini? Kemarin Alia kan ke taman sama bapak, gimana kalau kita gambar apa yang ada di taman kemarin? Alia ingat ada apa aja di sana?” Tapi jangan lupa beri kesempatan anak untuk menjawab dan berpendapat 🙂
  • Ketika anak merasa tidak bisa menggambar sesuatu, pilih salah satu objek di dekat kita atau minta mereka berpikir what it looks like bit by bit. Contoh : “Alia mau gambar kucing… Kucing punya apa aja? Kepala, telinga, badan, kaki, ekor. ok.. What does cat’s tail look like? (dst..)”
  • Beri komentar positif pada apa yang sudah dibuat anak-anak.
Salah satu yang seringkali masih menjadi sedikit perdebatan adalah saat ini masih banyak orang tua yang lebih suka memberi anak-anak meraka buku mewarnai. Berikut saya rangkumkan perdebatanya:
  • Buku mewarna dan dan mengikuti garis (kalo kata orang jawa “nge-blat”) sangat mudah diikuti anak-anak. Itulah kenapa buku mewarna dan mengikuti garis dikatakan memiliki devastating effect. 
  • Anak-anak belajar disiplin dari buku mewarna? Kata peelitian, itu nggak benar sama sekali. Anak-anak akan lebih fokus untuk mewarna tanpa melewati garis daripada pada objek/gambar/ warna yang sedang mereka kerjakan.
  • Pernah membandingkan ekspresi kepuasan anak-anak ketika selesai mewarnai gambar yang sudah ada di buku dengan kepuasan ketika mereka selesai menggambar berdasarkan kreatifitas mereka sendiri? Ketika seorang anak menggambar kucing misalnya, mereka bisa mengekspresikan perasaan suka, sayang bahkan takut untuk mengekspresikan relationship mereka dengan seekor kucing. Bagaimana dengan mewarnai seekor kucing di buku mewarna? bisa jadi dalam hati meeka akan berkata “aku nggak akan bisa menggambar kucing sebagus ini”, tau kan, gambar di buku mewarnai selalu sempurna dan “indah”. Kemungkinan anak akan berkata “I can’t draw” 😦
  • Banyak orang tua berkata bahwa anaknya sukaa sekali buku mewarnai. Yup! Bagi anak-anak pasti lebih menarik makan cokelat daripada makan sayuran… tapi orang tua nggak akan tinggal diam menuruti selera lidah anak-anak yang lebih suka makan cokelat, bukan?? Sama seperti menggambar dan berkreatifitas, Biarkan anak-anak mempunyai kemerdekaan untuk menjadi kreatif.

Hal lain yang juga perlu dipertimbangkan adalah bagaimana orang tua menyediakan resources dalam proses kreatif anak-anak. Alangkah lebih baik jika kita menyediakan natural resources. Sebisa mungkin menggunakan natural resources akan sangat baik untuk anak-anak belajar menyayangi alam. Salah satu ide yang sedang disukai anak-anak di palycentre minggu ini adalah mengumpulkan daun-daun kering, cuci, biarkan hingga kering. Ambil daun yang sudah kering, letakkan di bawah kertas kosong, bikin coretan rapi diatasnya pakai pensil warna atau crayon, dan akan kelihatan pattern daunnya. Kalo saya waktu kecil dulu, bukannya pake daun tapi pake duit. heheheh…
Cuma sekedar sharing, semua kembali lagi pada kepercayaan masing-masing 🙂 setiap anak adalah unik, maka orang tua pasti punya cara unik pula untuk mengasuh mereka..

Story by Ibu Ditha

20130113_105824

Alia 18 bulan

Sekarang kalo Ibu ditanya soal umur Alia, dengan bangga Ibu bisa bilang ‘ one and a half year’ Satu setengah tahun… Ngga terasa udah satu setengah tahun ada Alia di tengah-tengah kita. DUlu waktu masih bayi, Alia suka banget teriak-teriak kalau dia punya keinginan. Awal Ibu berangkat ke NZ, Ibu sempat khawatir bakalan repot banget ngurus rumah dan Alia sendirian tanpa ada yang bantu tanpa ada yang bisa dititip jaga Alia barang sebentar. Tapi semakin besar Alia semakin pinter, semakin pengertian.. Sekarang ngga ada lagi teriakan-teriakan histeris kayak dulu… Mungkin karena Alia sudah mulai bisa komunikasi, jadi Ibu tau apa maunya Alia. Cuma kalau lagi ngantuk aja sedikit rewel, pengen di gendong Ibu.. ALhamdulillah Ibu menikmati saat-saat harus pontang panting bikin sarapan, nyuapin Alia, nyiapin Alia ke sekolah, antar dan nemani Alia di sekolah, pulang kerumah biasanya Alia udah bobok, Ibu bisa selonjoran bentar trus bebenah rumah, nyiapin makan siang (biasanya blm selesai masak Alia udah bangun), Main bentar sama Alia, nerusin masak, nyuapin Alia, nyiapin makan bapak Abink, cuci piring, nge-vakum, ngelipet baju (jarang setrika), nyikat kamar mandi (urusan WC, Ibu serahkan kepada Bapak Abink 😀 ), tapi kalo udah slesai semua dapat ciuman dari Alia rasa capeknya ilang 🙂 Rasanya selama di Indonesia belum pernah se-pontang-panting ini tapi Ibu menikmati sekali, dan sudah mulai terbiasa. Salah satu hikmah dari semua ini adalah Ibu ngga naik berat badan walaupun makanannya ngga karuan hehehe.. *curcol*

Kembali soal Alia, gadis kecilku yang sudah 18 bulan… Tambah banyak omongnya.  A-haa…. Yup…. Yi(e)s…. Iiiiiiiyak… he-eh…. itu pilihan kata Alia kalau dia setuju.

A-haa.. terinspirasi dari Curious George. Monyet lucu dan pintar, suka banget bilang A-haaa dan akhirnya diikutin Alia..

Yi(e)s.. Mungkin denger dari temen-temennya dan lingkungan Play Centre yang kebanyakan adalah orang New Zealand. Orang2 NZ biasa melafalkan huruf e seperti huruf i. Misalnya, Yes jadi Yis 🙂 Jadilah Alia ikut2an..

He-eh.. Kalo yang ini ikut2an Ibu n Bapak.

Iiiiiiyak.. Yup.. Nggak tau nih alia copy dari mana. Yang jelas terdengar lucu ketika Alia bilang iiiiiiyak (dengan i yang ditarik panjang, dengan tampang agak mikir)..

Sekarng Alia juga lagi suka bilang ‘no way!!’. Awalnya memang lucu, dan kita jadi lebih sering memancing Alia untuk bilang no way. Tapi kemarin waktu di sekolah, Alia teriak2 “no way! no way!” waktu Ibu minta pakai apron sebelum painting, dan diulangi lagi teriakan ‘no way’ itu waktu Ibu minta pakai Jaket sebelum main di luar. Ibu sedikit malu waktu itu.. Anak bule aja ngga ada yang pake kata ‘no way’ untuk penolakan.. Hasil ngobrol dengan bapak Abink, kita akan berusaha meminimalisasi Alia ngeluarin kata ‘no way’ nya. Mudah2an berhasil, doakan kamiii…..

Soal makan, Alia mulai angin-anginan makannya. Kadang bisa makan lahap banget, tapi ada saat dimana Alia males makan. Tapi biasanya kalo Ibu bikin bubur ayam, sayur lodeh, atau oatmeal with tuna, Alia mau makan banyak…

Kalo lagi makan makanan yang Alia suka, dia biasanya bilang “nice…” atau ” yummm…y”. Kalau Alia share makanan/minumannya sama Bapak/Ibu, ALia bakal nanaya “nice????” dengan tampangnya yang lucu.

Lagi hobby main telpon-telponan. Bukan cuma pake HP Bapak/Ibu tapi pake remote, tempat CD, atau barang apa aja yang dia mau bisa dia pake untuk telpon2an. Kalo lagi main telponan, Alia suka manggil-manggil Bapak, kadang Mama, kadang Kai. Menurut pengamatan Ibu sih Alia ngga pernah manggil Ibu kalo lagi main telpon. Mungkin karena Alia ngerasa ngga perlu telpon kalo mau ngomong sama Ibu, kan Ibu ada sama Alia terus hehehehe…. “halooo, Kum… (halo Assalammualaikum)” kata pertama Alia kalo lagi main telpon. Kata selanjutnya???? Bisa ngomong soal apa yang lg dia lihat di TV, yang lagi dia mainin atau kata-kata ngga jelas yang Ibu ngga ngerti artinya.

Mulai suka pakai sepatu/sandal orang dewasa. Dari sepatu bapak sampai slipper ibu pernah dicobain Alia. Sepertinya diaudah mualai penasaran soalsepatu gede sejak bbrapa bulan yg lalu karena di Play Centre anak-anak yang udah agak gede (3 tahun ke atas) suka main dress up dan suka pakai sepatu orang gede. Skarang kalo ada sepatu nganggur di depan mata, suka Alia pakai.

Pakai sepatu Ibu

Rambut Alia udah semakin panjang sekarang.. Harus pakai hair clip terus. Untungnya Alia seneng kalo dipakein hair clip. Kemarin malah bisa di kuncir sama bapak Abink.. Sebenernya Ibu pengen potong rambut Alia tapi nanti aja deh tunggu di Indonesia aja. Abis disini bingung mau potong dimana, kan Ibu ngga bisa motong rambut Alia jadi kalo Ibu nekat malah jadi

ngga karuan , kasian Alianya…

dikuncir Bapak

18 bulan, Alia masih mimik ASI.. Kalau siang imik ASI nya udah mulai kurang karena sibuk main.. Paling kalau mau bobok aja Alia suka minta nenen. Skarang kalau pergi2 juga jarang nenen di jalan, jadi Ibu bisa lebih sering pakai baju tanpa bukaan depan.

Alia udah banyak omong nya. Suka banget ngikutin orang ngomong. Kalo ada musik/lagu suka kutan nyanyi. Tapiiii kalo ketemu orang yg ngga begitu kenal Alia suka malu, nunduk aja, ngga mau senyum… 😦 harus adaptasi dulu lumayan lama baru mau diajak main.

Sudah bisa nerusin lagu ABC. Kadang, dia suka ngoceh2 sendiri A,B, C,…. lanjutannya diterusin secara acak atau ngga jelas hehehe… Kalo ada tulisan, Alia suka berlagak ngeja huruf-hurufnya. Begtu juga dengan menghitung 1-10, kalo lagi mood nya bagus Alia bisa ngitung 1-10. Tapi klo lagi males, paling cuma asal aja ngitungnya.

Beberapa waktu yang lalu sempat adawacana untuk bawa Alia ke child care dan Ibu kerja. Kebetulan ada lowongan kerja dideket rumah dan kebetulan child care kampus juga sudah ada tempat untuk Alia (setelah antri selama 6 bulan). Ibu Bapak minta waktu ke childcare-nya selama 2 minggu untuk memutuskan apakah kita akan ambil tempatnya atau nggak, sambil tunggu panggilan kerja buat ibu.Jadi kalau ibu dapet panggilan kerja, Alia mau di child care. Hari-hari nunggu panggilan kerja bikin Ibu stress.. Bukan karena ngebayangin harus kerja, tapi lebih karena ngebayangin harus nitip Alia di childcare sementara Alia masih ASI, ngebayangin harus nyiapin stock ASIP buat Alia selama di child care. Akhirnya setelah ditunggu 2 minggu ngga ada panggilan juga, bapak ibu putuskan untuk ngelepas kesempatan/tempat di child care buat orang lain aja, kasian yg udah antri dibelakang kita digantung karena nungguin keputusan dari kita. Soal kerjaan kayaknya juga masih beum jadi rejeki Ibu, mungkin udah keisi orang lain. hikamhnya, Ibu jadi semakin menikmati saat2 sama Alia, nenen, main, cuddling.. 6 bulan lagi Alia disapih, mungkin nanti Ibu yang bakal lebih kangen nenenin Alia sambil ngobrol, sambil pipi di elus2 Alia… Sekarang ibu juga mulai cari penegetahuan tentang menyapih dengan cinta, seperti dulu Ibu mencari tahu tantang menyusui dengan cinta..

Alia 17 bulan

Alia udah 17 bulan, hampir 1.5 tahun.. Kadang ibu suka ngebayangin sekecil apa Alia waktu baru lahir dulu., ngebayangin bisa apa Alia waktu baru dateng ke NZ dulu, ngebayangin gimana Alia belajar jalan, belajar ngomong.. Sekarang udah lari2an kemana-mana, nomongnya udah banyak, tambah pinter, tambah bikin gemeess..

Alia lagi seneng banget bilang “o-ouw..” Setiap ada yang jatoh atau ada yg kurang bener menurut dia, Alia selalu bilang o-ouw.. Saking seringnya, sampe bosen dengernya.

“woo-woo.. woo-woo..” cara Alia minta sesuatu yg lagi dipegang bapak/Ibu maksudnya ‘borrow’..

Alia lagi suka main cilukba pake kelambu. Sampai2 kelambu untuk misahin dapur dan ruang makan sering diiket ke atas biar ngga dibuat main Alia. Takutnya kelambunya jatuh dan Alia ikutan jatuh. Soalnya Alia ngeri banget kalo lagi main peek-a-boo pake kelambu suka ngga kontrol dan sering jatuh.

Kalo lagi mau bobok sama Ibu atau bapak di tempat tidur, Alia selalu minta Ibu/Bapak lepas kaca mata. dia bilang “ses..sess (glasses)” sambil nunjuk2 kacamata. Kalau ngga dilepas juga, Alia yang bakal ngelepas. Tapi kalo udah dilepas, dia bakal ketawa2 kegirangan.

Kalo ada yang lagi bobok, Alia suka naik ke atas perut atau kakinya..

Alia lagi suka joget2, kalo ditabuhi pasti dia mau goyang..

Lagi suka gandeng tangan bapak atau ibu..

Alia lagi suka cium2, peluk2 dan sayang2.. Dan setiap ada lagunya barney yang “I love you”, Alia pasti cari seseorag untuk di peluk dan dicium. Kalo di bilang “cium kakak Alia”, dia bakal nyium tangannya sendiri. trus kalo “sayang kakak ALia”, dia bakal ngelus-elus pipinya, trs kalo disuruh “hug kakak Alia”, dia akan bergaya peluk dirinya sendiri sambil nepuk-nepuk bahunya 🙂

Lagi sukaa makan yoghurt, Udah tau tempat nyimpen cheese dan yoghurt di kulkas, bisa ambil sendiri..

Alia udah bisa disuruh ‘close the door’, ‘switch the heater on/off’, ‘put something in rubbish bin’ dan banyak lagi.. Pokonya kerjaan Ibu jadi makin ringan hehehehe… :p

Lagi suka duduk di segala macem barang mulai uduk di ata tas bapak, ember, kardus bekas nappy, kotak sepatu sampe kotak bekas eskrim.  Lagi suka pake topi dar segala macem barang juga. Dari keranjang sampe kotak sepatu, Alia pake jadi topi..

Suka makan pake saus tomat, suka makan nasi goreng bikinan Ibu, Suka makan pasta, suka makan nasi pake sayur lodeh, masih doyan kerupuk, suka makan pizza bikinan Ibu, suka makan ke sus gagal bikinan Ibu, pokoknya Alia pencinta masakan Ibu…

Sekarang Alia kalo maem duduk di highchair lagi, karena abis jatuh dari kursi. Alia masih terlalu kecil untuk duduk sendiri di kursi makan. Awalnya dia nangis minta duduk di kursi makan, tapi lama kelamaan udah mau lagi duduk di highchair nya.

Udah berani main sendiri di sekolah, ngga cari Ibu terus.. Tapi masih belum tau nama temen2nya. Setiap anak laki2 yang rambutnya pirang (semua temen laki2 Alia rambutnya pirang kecuali 1 orang) bakal Alia panggil Tom, karena dari awal Alia sering main sama Tom. hehehe..

Ngga cuma suka nonton Barney tapi suka elmo, igle-pigle dan george juga.

Lagi hobi bilang ‘haii, byebye, se you’.. Kemarin Alia loncat2an lagi di tempat tidur. Sama bapak di suruh duduk trus dikasih tau kalo loncat2an di tmpat tidur itu ngga baik.. Eh, ditengah2 bapak ngash tau tiba-tiba alia bilang ‘bye-bye, see u..’ sambil dadah-dadah.  Lucu tapi kadang ngeseliiin hehe…

Kalo lagi ada Bapak d rumah, Ibu jadi ngga laku.. Yang dipanggil bapak terus dan Alia suka ngikutin bapak kemanapun bapak pergi.  Sekarang ALia udah pinter disuruh salim Bapak, hampir selalu mau..

ALia suka corat-coret, gambar macem-macem di kertas atau di papan yg pake magnet (ngga tau namanya apa ya?) Untungnya Alia ngga suka coret-coret tembok 🙂