Menciptakan Generasi Wirausahawan

Di Agama yang saya anut jelas disebutkan bahwa rejeki akan datang dari 10 pintu dimana 9 pintunya adalah perdagangan. Jadi jangan heran jika sekarang yang menjadi orang kaya bukanlah dari kalangan PNS macam saya, atau kalangan pegawai tetapi mereka yang menjalankan bisnis alias berdagang.

Walaupun secara fakta juga ditemukan bahwa menjadi seorang wirausahawan itu berpeluang untuk lebih sukses dibandingkan menjadi pegawai, tetap saja jumlah wirausahawan di Indonesia terbilang cukup rendah. Menurut data yang dipublikasikan pada republika online wirausahawan di Indonesia baru mencapai lebih kurang 44 juta jiwa. Jauh dibandingkan total penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa.

Beranaka cara telah dilakukan untuk meningkatkan jumlah wirausahawan di Indonesia. Dalam dunia pendidikan hampir seluruh program studi di universitasi mengajarkan mata kuliah kewirausahaan. Selain itu sejak anak-anak dan remaja sudah banyak kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan jumlah wirausahawan tersebut. Jika kita tinjau dari segi usaha yang dilakukan berbagai pihak termasuk pemerintah untuk mendorong jumlah wirausahawan, sebenarnya yang sudah dilakukan cukup tepat. Sebenarnya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini sudah semakin banyak minat dari generasi muda untuk menjadi wirausahawan. Terbukti dalam program-program yang ditawarkan oleh pemerintah, banyak generasi muda yang ikut ambil bagian. Sebut saja program kreativitas mahasiswa kewirausahaan dan program mahasiswa wirausaha. Akan tetapi banyak dari generasi muda tersebut setelah 1-2 tahun mencoba menjadi wirausahawan, dan program tersebut sudah selesai, maka hilang pula lah semangat dari mereka untuk menjadi seorang wirausahawan, Banyak diantara mereka yang pada akhirnya kembali menjadi seorang pencari kerja, bukan sebagai orang yang berani membuka lapangan pekerjaan baru.

Berdasarkan fenomena tersebut, tahun 2013 yang lalu, saya mencoba membuat sebuah penelitian ilmiah. Saya mencoba untuk melihat faktor-faktor apakah yang membuat seorang wirausahawan loyal dalam memilih profesi/pekerjaan sebagai seorang wirausahawan. Penelitian ini di danai sepenuh nya dari dana DPP Jurusan Manajemen FEBUB.

Pada penelitian ini saya mencoba menggabungkan dua teori yang lazim digunakan pada bidang studi pemasaran dan keperilakuan. Kedua teori tersebut adalah teori loyalitas dan teory perilaku Ajzen. Dalam membangun model penelitian saya berasumsi bahwa seorang wirausahawan yang telah berwirausaha lebih dari tiga tahun secara konsep merupakan konsumen yang loyal terhadap pilihan karir menjadi seorang wirausahawan. Sehingga untuk menjelaskannya saya menggunakan teori loyaliyas. Untuk mencari tahu faktor-faktor yang melatarbelakanginya saya menggunakan teori perilaku ajzen yang mengatakan bahwa dalam ber perilaku seorang individu harus memiliki niat terlebih dahulu. Untuk mendapatkan niat tersebut dibutuhkan sebuah sikap/attitude, norma subjektif dan juga persepsi bahwa individu tersebut mampu untuk mengendalikan perilaku yang ingin dilakukan. Sehingga jika digambarkan maka model penelitian saya akan seperti dibawah ini.

Reseach Model ESMUntuk menganalisa model tersebut saya menggunakan Covariance Based SEM (CBSEM) dengan alat AMOS 19. Untuk melengkapi hasil analisa saya menggunakan teknik second-order Confirmatory Factor Analysis. Data dikumpulkan dari para wirausahawan di Kota Malang yang telah berwirausaha minimal 3 tahun. Sampel dikumpulkan dengan pendekatan purposive.

Yang menarik dari hasil penelitian ini adalah bahwa untuk menciptakan seorang wirausahawan yang tetap memilih profesi sebagai wirausahawan tidak berpaling untuk memilih profesi lain maka dibutuhkan sebuah sikap loyal yang tinggi. Tanpa adanya sebuah niatan/sikap loyal untuk tetap menjadi seorang wirausahawan maka terbuka sebuah peluang bahwa individu akan mencari pekerjaan/profesi lain.

Temuan lain yang menarik adalah bahwa dimensi kognisi dari sikap loyal untuk tetap berprofesi sebagai seorang wirausahawan merupakan dimensi yang paling berpengaruh dalam menciptakan niat loyal tersebut walau sebenarnya temuan ini juga menemukan bahwa dimensi afeksi dan konasi juga berperan secara signifikan.

Temuan ketiga yang bagi saya menjawab pertanyaan kenapa di Indonesia beberapa etnis tertentu seperti halnya orang Padang atau etnis Tionghoa merupakan pebisnis-pebisnis tangguh. Ternyata jawabannya adalah untuk mencipakan sebuah niat loyal menjadi seorang wirausahawan dibutuhkan sebuah norma subjective dan persepsi diri bahwa individu tersebut mampu melakukan perilaku tersebut. Maknanya adalah jika seorang individu tinggal di lingkungan/keluarga yang memiliki sebuah normal bahwa berwirausaha itu adalah pilihan yang baik maka individu tersebut akan memiliki niat yang besar untuk tetap menjadi seorang wirausahawan. Jadi wajar, jika seorang anak lahir pada keluarga yang berprofesi sebagai pebisnis maka niat si anak untuk menjadi wirausahawan akan lebih tinggi dibandingkan jika anak tersebut tinggal/lahir di lingkungan yang tidak memiliki normal subjective mendukung profesi kewirausahaan. Begitu pula dengan konsep percara diri. Konsep ini memiliki peranan yang penting. Untuk tetap memilih profesi sebagai seorang wirausahawan, maka individu tersebut harus memiliki keyakinan bahwa mereka mampu untuk menjadi wirausahawan. Jika individu tersebut sejak awal berpikir bahwa mereka tidak mampu menjadi wirausahawan maka jangan harap individu tersebut dapat menjadi wirausahawan.

Temuan menarik lainnya adalah, ternyata untuk menjadi seorang wirausahawan tidak dibutuhkan sebuah sikap positif mengenai wirausahawan dikarenakan pengujian statistik menunjukkan bahwa sikap tidak memiliki pengaruh terhadap niat. Sehingga hal ini dapat menjelaskan kenapa banyak individu yang sebenarnya tidak bercita-cita menjadi wirausahawan tetapi malah menjadi wirausahawan yang sukses. Banyak orang juga yang sejak awal tidak memiliki pandangan bahwa menjadi wirausahawan tetapi sukses menjadi wirausahawan. Hal ini berarti bahwa seseorang yang terpaksa menjadi pebisnis, dengan catatan yang bersangkutan yakin bahwa mampu mengendalikan perilaku tersebut maka individu tersebut akan sukses menjadi wirausahawan

Dari hasil temuan saya tersebut ada beberapa langkah yang bisa diambil jika kita ingin mencetak generasi wirausaha yang tangguh dikemudian hari. Yang pertama buatlah sebuah ekosistem/lingkungan yang mendukung seorang individu menjadi wirausahawan. Kemudian sejak kecil ditanamkan bahwa menjadi seorang wirausahawan bukan hal yang sulit. Yakinkan si anak bahwa mereka pasti bisa menjadi pebisnis. Munculkan optimisme dikalangan generasi muda bahwa menjadi wirausahawan/pebisnis bukan yang mustahil.

Yang terakhir dikarenakan aspek kognisi merupakan dimensi dari niat yang pengaruhnya paling besar, maka program-program pengembangan dan pembelajaran menjadi seorang wirausaha yang baik akan sangat membantu individu untuk tetap memiliki niat menjadi wirausahawan.

Tulisan di blog ini ditulis oleh Pak ABink. Hasil penelitian secara detail dan formal ditulis dan direncanakan untuk di publikasikan pada Jurnal Pengurusan.

Advertisements