Waktunya move on dari scopus

Scopus memang fenomenal. Sejak menjadi salah satu rujukan untuk melakukan publikasi ilmiah maka perdiskusian tentang scopus seakan tidak ada hentinya. Banyak pihak yang pro akan scopus tetapi banyak juga yang kontra. Bahkan hari-hari belakangan ini muncul wacana publikasi tidak wajib lagi di scopus. Tetapi sebelum salah paham terlalu jauh mari kita lihat sebenarnya scopus itu apa sih?

Coba bagi yang tidak tahu apa itu scopus silakan di buka website http://www.scopus.com. Pada website tersebut jelas disebutkan bahwa scopus itu adalah database abstrak dan sitasi dari peer-reviewed literature. Atau mungkin dengan kata lain scopus itu semacam lembaga pengindeks dari jurnal.

Screen Shot 2019-12-15 at 12.49.18.png

Jadi kalo masih ada yang bilang “Saya mau publikasi di jurnal scopus” maka menurut saya itu tidak tepat. Karena kalo anda mau publikasi ya publikasi nya di jurnal ilmiah. Terus yang bener apa? yang bener adalah saya mau publikasi artikel di jurnal yang di indeks atau tercatat di database scopus.

Nah jika seperti ini apa yang salah dengan scopus? mungkin banyak yang bilang kita di jajah scopus. Sedikit sedikit scopas scopus dan lain lain. Ujaran ini terjadi karena memang dibanyak sekolah pendidikan Doktor (S-3) salah satu syarat kelulusan adalah publikasi di jurnal yang ter indeks scopus. Selain itu untuk para peneliti dan dosen juga Kementerian terkait mensyaratkan bahwa untuk menjadi guru besar artikel hasil penelitian harus di publikasikan di jurnal yang di indeks pada peng-indeks bereputasi. Seperti nya dan sepemahaman saya pemerintah tidak menyebut secara jelas indeks scopus, tetapi indeks bereputasi. Tetapi walaupun tidak explicit menyebutkan scopus, pemerintah menambahkan indeks bereputasi seperti halnya scopus dan web of science. Jadi akhirnya gampang nya bisa dibilang ya terindeks scopus. Kembali lagi apa yang salah dengan publikasi di jurnal ter indeks scopus?

Fenomena scopas scopus ini ternyata menjadi ladang bisnis yang menarik bagi “oknum” baik di dalam maupun diluar negeri. Oke mari kita bahas siapa saja oknum tersebut dan bagaimana permainannya. Tetapi sebelum kita diskusi masalah oknum kita flash back dulu mengenai scopus dan database serta ideksasi jurnal.

Mungkin pertanyaan pertama adalah apakah didunia ini ada database jurnal dan kutipan serta indeksasi jurnal selain scopus? jawab nya adalah ada dan banyak. Sebut saja DOAJ, copernicus, microsoft search academic, proquest, google scholar, ebscohost, web of science, FT50 dll. Nah pertanyaan kedua bagaimana sebuah jurnal ilmiah bisa diindeks oleh lembaga-lembaga tersebut. Setiap lembaga indeks punya persyaratan  agar jurnal-jurnal tersebut bisa di indeks oleh lembaga tersebut. Misalnya bisa dilihat dibawah ini bagaimana scopus mensyaratkan jurnal agar bisa diindeks

Screen Shot 2019-12-15 at 13.10.21.png

Nah bisa dilihat ternyata sebuah jurnal tidak bisa dengan mudah diindeks oleh scopus. Bandingkan dengan indeksasi oleh DOAJ lihat link berikut untuk jelas nya

Screen Shot 2019-12-15 at 13.14.43

Jadi untuk dapat diindeks pada database scopus ternyata sebuah jurnal membutuhkan banyak hal yang imbas nya mereka tidak akan mempublikasikan artikel ilmiah yang tidak berkualitas karena bagaimana pun salah satu syarat dapat di indeks scopus adalah Academic contribution to field. Dapat pula dipastikan kualitas nya karena ada peer-review yang tidak main-main dan juga diversity in geographical editor

Intinya jika artikel anda mau dipublikasikan pada jurnal yang diindeks oleh scopus maka mau tidak mau harus berkualitas dan memyesuaikan dengan ketentuan jurnal tersebut yang secara tidak langsung mengikuti aturan scopus.

Sekarang kita kembali kepada oknum yang tadi kita bahas, siapa oknum tersebut. Oke, sebagai sebuah lembaga peng indeks maka scopus akan meng indeks seluruh jurnal yang telah berhasil mengikuti seluruh persyaratannya. Tetapi ingat akan hukum permintaan dan penawaran. Semakin tinggi permintaan dimana penawaran tidak banyak maka harga akan semakin mahal. Banyak jurnal-jurnal yang dimiliki oleh penerbit-penerbit besar seperti sciencedirect, emerald, routledge, blackwell dll telah dilanggan secara massal oleh insitusi-institusi besar sehingga mereka hidu dari biaya langganan tersebut. Akan tetapi penerbit-penerbit kecil dimana mereka hidup dari biaya berlangganan akhirnya membebankan seluruh biaya kepada penulis. Sebenarnya, pembebanan biaya kepada penulis merupakan praktik yang biasa saja. Karena sebenarnya penulis membeli hak akses artikel nya dimana akhirnya semua orang yang tidak berlangganan jurnal tersebut bisa ikut membaca.

Tetapi banyak oknum penerbit jurnal nakal yang membaca peluang bisnis ini. Mereka melihat banyak nya permintaan akan publikasi pada jurnal ter indeks scopus sehingga mereka mengeruk uang sebanyak-banyak nya dari para penulis. Bagaiman modus nya?

  1. Mempublikasikan banyak jartikel dalam satu penerbitan. Sewajar nya jurnal terindeks scopus hanya mempublikasikan tidak lebih dari 10 artikel dalam 1 kali edisi. Tetapi jurnal-jurnal nakal tersebut bisa mempublikasikan hingga 50-60 artikel dalam 1 penerbitan. Bayangkan saja. Jika 1penulis harus membayar USD 1000 per artikel, maka hanya dalam 1kali penerbitan mereka mendapatkan USD 50.000 – USD 60.000. Untuk poin ini pertanyaan utama adalah bagaimana menjamin kualitas artikel yang akan diterbitkan? bagaiamana proses peer-review nya?
  2. Mempublikasikan puluhan edisi dalam satu tahun. Normal nya dalam 1 tahun sebuah jurnal hanya mempublikasikan artikel 4 – 6 kali. Publisher-publisher nakal bisa mempublikasikan hingga 20 kali dalam setahun. Coba dihitung, 60 artikel x 20 publikasi x USD 1000 maka dalam setahun mereka akan mendapatkan USD 1.200.000 wow ini kan bisnis besar. Kembali lagi pertanyaannya adalah bagaimana proses review dan seleksi nya?
  3. mempublikasikan artikel yang tidak sesuai dengan scope jurnal nya. Gimana nih maksud nya? untuk jurnal abal-abal tersebut, bisa saja artikel tentang Small and Medium Entreprises di publikasikan pada jurnal applied science atau bahkan engineering. Saya pernah menjadi korbannya ketika mahasiswa bimbingan saya S3 mempublikasikan artikel nya tentang SMEs di jurnal applied mathematic.

Tetapi tenang saja, scopus tidak tinggal diam. Hampir setiap tahun scopus akan menyisir jurnal-jurnal tersebut. Mereka akan mendelisting publisher-publisher nakal tersebut.

Nah kenapa saya setuju untuk move on dari scopus? karena kalo universitas-universitas di Indonesia mau menjadi Top World Class University sudah waktunya bergeser ke pengindeks yang lebih ketat dalam menyeleksi jurnal seperti halnya SSCI (peneliti-peneliti Taiwan sudah berkiblat pada kelompok ini) atau mungkin FT50. Bagi bidang bisnis dan manajemen bisa mulai melirik ABDC List (Australian Business Dean Council) List. Kelompok ini jauh lebih ketat menseleksi jurnal-jurnal yang akan diindeks. Sehingga jika kita bisa publikasi pada jurnal yang diindeks oleh lembaga tersebut maka bobot nya pasti akan berbeda.

Tetapi jika pun masih belum bisa move on dari scopus, ya cobalah mulai dengan meningkatkan kualitas dengan membidik jurnal-jurnal scopus yang dipublikasikan oleh publisher besar seperti sciencedirect, emerald, taylor-francis dll. Jangan malah nego untuk publikasi dimana saja atau bahka membuat indek sendiri yang belun tentu diakui dunia.

Selamat menulis dan selalu berkarya