Ujian Thesis Doctoral ala New Zealand University (2) : via Video conference

SONY DSC
Saat menghadiri Wisuda tahun lalu. Sayangnya bukan saya yang diwisuda ūüôā

Delapan April 2016 adalah hari wisuda di Lincoln University (LU). Saya seharusnya bisa diwisuda bersama kawan-kawan lain di LU, tapi saya memilih¬†“Graduate in Absentia”¬†karena kondisi yang ngggak memungkinkan untuk saya datang ke NZ.

Kalau sekitar 3 tahun yang lalu Bapak Abink sudah pernah cerita dengan Judul yang sama di sini tentang bagaimana ujian doktoral di Lincoln University, kali ini saya bawa cerita ujian yang sedikit berbeda dengan pengalaman bapak Abink 3 tahun lalu.

Begitu saya submit thesis, dan menyelesaikan kontrak kerja, saya langsung balik ke Indonesia. Meja kerja sudah saya kembalikan ke bagian administrasi untuk bisa dipakai oleh orang lain. Tapi, saya masih pakai locker saya untuk simpan beberapa barang yang kira-kira saya butuhkan kalau balik lagi NZ untuk ujian. Waktu itu memang rencananya saya bakal balik ke LU untuk ujian sekitar akhir tahun 2015 atau awal tahun 2016. Bahkan saya masih nitip koper isi baju dll di rumah seorang teman. Tapi, lagi-lagi kita cuma bisa berencana, tapi Allah siapkan rencana lain buat saya. Karena waktu itu nggak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh, saya harus rela ujian jarak jauh, lewat video conference. Waktu itu rasanya kecewa, karena waktu pulang ke Indonesia saya sama sekali nggak ada persiapan untuk ninggalin NZ untuk waktu yg belum ditentukan. Saya kira bakal ketemu NZ lagi dalam 4-6 bulan setelah kepulangan saya ke Indonesia. Tapi, karena terbang ke NZ lagi adalah pilihan terakhir, akhirnya saya pasrah aja, ngurus ujian jarak jauh ini biar jadi lancar..

Proses setelah submit thesis sampai ujian, kurang lebih hampir sama dengan pengalaman Bapak Abink. Tapi, entah kenapa waktu tunggu saya lebih lama. Saya harus nunggu sekitar 5 bulan sampai saya dapat email panggilan untuk ujian. Mulai tahun ini LU punya kebijakan baru mengenai ujian thesis doktoral. Kali ini, pembimbing tidak ikut andil dalam penilaian. Tugas pembimbing sudah selesai sampai kita submit thesis kita untuk dinilai oleh examiners. Artinya keputusan layak atau tidaknya sebuah thesis untuk mengantarkan seorang candidat doktor untuk menyandang gelar Doktor hanya berada di tangan para penguji. Kebijakan baru ini bikin saya lebih deg-deg an, karena thesis saya akan dinilai oleh orang-orang yang saya sama sekali nggak tau siapa aja mereka.

Tapi, dibalik kebijakan LU yang bikin deg-deg an, ada juga kebijakan lain yang menurut saya menguntungkan student. Ketika kita terima email yang menyatakan bahwa thesis kita layak untuk diuji secara oral, kita juga bakal langsung dapat review yang ditulis oleh para examiners. Jadi, kita udah tau kelebihan dan kelemahan thesis kita di mata examiners. Jadi kita bisa siap-siap buat oral examinationnya nanti.

Thesis examination melalui video conference sebenarnya belum biasa dilakukan di Lincoln University. Untuk bisa ujian jarak jauh, saya harus mengirimkan surat dokter yang menyatakan bahwa saya tidak direkomendasikan untuk terbang ke NZ.

Beberapa minggu sebelum hari ujian, saya sudah lumayan intens komunikasi dengan postgrad administrator dan convenor mengenai apa aja yang harus dipersiapkan untuk ujian jarak jauh dan juga mengatur jadwal yang cocok untuk saya yang di Indonesia, supervisor & convenor di NZ dan examiner di Australia. Selanjutnya, untuk memastikan koneksi internet dan komunikasi lancar, saya sempat 2x melakukan percobaan teleconference. Yang pertama, hanya berdua dengan convenor, dan yang selanjutnya rame-rame sama IT personnya LU, Postgrad Administrator, dan examiners.

Ujian thesis waktu itu jatuh di Hari Selasa, jam 9 pagi WIB, jam 3 sore waktu NZ, jam 1 siang waktu Australia. Saya udah siap dari pagi, saking deg-deg annya ūüôā Udah stand by di depan laptop 15 menit sebelum jam 9. Ujiannya sendiri berlangsung selama 45-60 menit aja. Dimulai dengan presentasi dari saya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Alhamdulillah, examiners¬† saya lumayan gampang ‘dipuaskan’ dengan jawaban-jawaban saya. Setelah sesi tanya jawab berakhir, teleconference dengan saya diputus supaya supervisors, convenor dan examiner bisa diskusi mengenai hasil ujian. Saya tinggal menunggu convenor menghubungi saya untuk bergabung lagi. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, akhirnya saya dihubungi dan diyatakan lulus. Yeaaayyy Alhamdulillah…

Viva

Intinya, ujian secara langsung atau melalui video conference ada plus dan minusnya. kalau ujian langsung komunikasinya pasti lebih lancar, diskusi mengenai revisi (kalau ada) juga bakal lebih jelas. Tapi kelemahannya, kalau udah pulang ke Indo harus ngeluarin biaya banyakk ūüôā

Kalau ujian lewat video conference lebih banyak yang harus dipersiapkan, terutama konekasi internet yang stabil. Pre-test juga penting banget dilakukan beberapa hari sebelum ujian. Persiapan video conference nya sendiri sebenernya nggak begitu ribet karena kita tinggal tunggu undangan Skype meeting (Lync) dari postgrad adminstrator atau IT person. Tinggal klik-klik untuk instal dll aja.

Yang terpenting untuk ujian langsung maupun video conference adalah persiapan, baca lagi thesisnya, yakin aja kalau kita adalah orang yang paling tau tentang apa yang kita tulis selama 3 tahun terakhir. Dan jangan lupa banyak berdoa..

Pelajaran Hari Ini

Saya termasuk orang yang susah untuk bilang “nggak”, termasuk sama diri sendiri. Hari ini saya presented di¬†internal¬†conference di kampus¬†tapi rasanya nggak maksimal secara di awal saya register udah ragu-ragu,¬† karena udah¬†pernah ikut tahun lalu dan saya juga baru ikut thr3sis competition di bulan Juni lalu.¬†Tapi ketika spv saya yang biasanya cuek bebek meng-encourage saya untuk ikut, saya jadi nggak bisa nolak dan akhirnya saya¬†kirim abstract penelitian saya¬†tepat di hari terakhir batas pengiriman abstract, dan kirim power point¬†presentasi ke panitianya pun¬†telat (sampe harus di tagih). Malu siih, tapi karena saya sudah bilang ‘iya’ sama pak spv jadi saya nggak bisa mundur lagi. Siap nggak siap, mau nggak mau, saya harus ngomong sesuatu kaan…Dan ternyata¬†spv saya¬†dateng tepat beberapa saat sebelum giliran saya presentasi.¬† Rasanya gimana?? Rasanya nggak sama kayak ngadepin anak-anak bule yang suke ngeyel, abis pak spv nggak ada ngomongnya… Tapi “dahi berkerutnya” sudah cukup bikin saya stress…

ALhamdulillah udah berlalu, sekarang fokus ke thesis lagi..

Pelajaran yang bisa dipetik hari ini:

  • Harus punya prioritas, jangan semua mau dilakukan tapi hasilnya malah nggak maksimal.
  • Nggak bakal bisa menyenangkan semua orang. Sebelum meng-iya-kan permintaan seseorang, tanya ke diri sendiri dulu.¬†Ada yang bakal dikorbankan nggak? Kalau ada, sanggup hadapi resiko atas pengorbanan itu nggak? Baru bikin keputusan.
  • Preparation makes perfect.

Maaf ya yang pada mampir baca dan berharap dapet pelajaran dari tulisan ini… Ternyata ini cuma curcol-an semata..

Harta Karun dari Kampung Halaman

Camera 360

Heppii deh¬†Sabtu lalu dapet ransum dari Indonesia berupa sambel terasi, bumbu pecel, kopi mocca pake ampas, tepung cendol dan kering tempee… Duluu di tahun 2010 waktu awal-awal kami tinggal di New Zealand kami seriing banget dapet kiriman dari Indonesia. Biasanya mama-papa saya suka ngirimin pernak pernik buat Alia dan bapak-ibu mertua bagian ngirim2 makanan. tapi lama kelamaan semakin jarang dapet kiriman dari Indonesia. Selain karena ongkos kirimnya mahal, juga karena kami sudah bisa beradaptasi dengan kondisi (terutama¬†makanan) di sini. Jadi kangennya nggak pake “banget” atau “tingkat dewa”. Walaupun kalo dapet kiriman juga pasti bakal seneng banget..

Anyway, minggu lalu¬†saya bukan terima paket pos dari Indonesia tapi barang2 itu dibawain sama salah satu teman saya yang lagi jalan-jalan liburan ke New Zealand. Pas dia nawarin mau nitip apa saya seneng banget.. Tapi namanya nitip harus tau diri dong yaa.. Akhirnya kepikir pengen kopi (1 renteng) sambal terasi (1 renteng) dan bumbu pecel (3 bungkus) dari Indonesia. Saya minta tolong mama saya untuk ngirimin ke rumah temen saya itu (kebetulan¬†rumah orang tua temen saya itu deket¬†sama tempat tinggal ortu saya). Dan hari¬†Sabtu kemarin¬†kami ketemuan di Hagley park. Ngobrol-ngobrol di dalem campervan yang mereka sewa sambil ngeliatin mereka beres2 dan bersih-bersih sebelum si campervan dikembalikan sore itu. Begitu mereka ngeluarin titipan dari mama…. ternyataa mama nambahin titipannya. Bukan lagi cuma kopi, sambel dan bumbu pecel, tapi juga teh naga, tepung cendol dan kering tempe kesukaan saya…. Woohooo.. Terimakasih ya mamaaa.. terimakasih juga Midha, Febri dan dd Khansa sudah bawain harta karun titipannya..

20140531_135202 (1)

Ngomong soal titip menitip, saya sudah pernah jadi pihak yang ‘dititip’ dan ‘menitip’. Dan menurut saya wajar aja ya kalau kita tinggal jauh dari keluarga dan kemudian nitip sesuatu untuk dibawa kalau ada teman yang pulang kampung. Tapi jadi nggak wajar kalau titipannya ‘nggak tau diri’. Apalagi baggage allowance untuk tiket ekonomi dari NZ ke Indonesia cuma dapet 20 kg, sepertinya kalau buat student yang mau pulang untuk ambil data,¬†kopernya¬†bakal penuh dengan buku,¬†kuisioner (dan oleh-oleh). Sedangkan untuk student yang mau pulang for good karena udah slesai studinya juga bakal bawa bermacam2 barang dan oleh-oleh tentunya. Kalau ada yang nitip macem-macem bakal ngerepotin kan.. Walaupun sekarang beberapa maskapai ngasih baggage allowance 30 kg per orang, tapi ya tetep aja kalau misal harus ganti pesawat lokal di Indo juga jatah nya cuma 20kg kan..¬†ALhamdulillah selama ini saya nggak pernah dapet titipan yg banyak banget sampai harus mengorbankan kepentingan saya. Karena saya memang suka packing dari jauh-jauh hari, jadi sudah tau kira2 berapa banyak barang yang harus¬†dibawa. Waktu pulang kemarin saya sudah menetapkan jatah untuk barang-barang pribadi¬†berapa kg¬†dan jatah untuk titipan orang lain berapa kg, dan saya terapkan sistem ‘first-come, first-served’ hahaha ūüôā Jadi mohon maaf kalau ada teman-teman yang mau nitip tapi saya tolak karena jatahnya udah penuh.

Kalau datang ke negara yang bio security nya ketat seperti New Zealand dan Australia, kita sebagai pihak yang dititip juga harus waspada sama apa yang dititipkan ke kita. Menurut saya, nggak salah kok kalau kita buka-buka bungkusan punya orang lain yang akan kita bawa dari Indonesia ke NZ (atau ke negara lain). Karena, nanti di custom, kita lah yang harus tanggung jawab terhadap apa yang ada di bungkusan itu. Pernah ada cerita, seorang teman  nitip dibawakan obat-obatan herbal dari Indonesia. Karena di NZ agak-agak parno terhadap herbal-herbal gitu, terutama kalo mengandung madu, jadilah temen yang dititip tadi harus terhambat di custom bandara NZ selama beberapa saat. Jadi merasa bersalah nggak sih yang nitip itu obat-obatan?

Jadi, apa aja sih yang boleh dibawa dan nggak boleh di bawa masuk New Zealand?¬†Secara umum, segala macam fresh fruit and vegetable nggak boleh keluar dari bandara. Daging sapi juga nggak boleh, kecuali abon. Saya¬†dan teman2 lain sudah sering lolos bawa abon, bumbu pecel, sambel bu Rudi, gudeg kaleng, kering tempe dan kue-kue kering.¬†Tapi ada juga teman yang lagi apes dan¬†abonnya nggak diijinin keluar.¬†Trus, makanan atau obat-obatan yang mengandung madu, atau madu murni juga nggak bisa masuk New Zealand. Kemarin saya bawa tolak angin cair¬†pun¬†diambil sama mereka karena ada madunya ūüôā Trus, barang dari kayu juga ada aturan khusus kalau mau dibawa¬†masuk ke NZ.¬†Biar aman, mending barang-barang yang kita nggak yakin boleh masuk atau nggak, sebaiknya di declair aja,¬†kasih liat ke petugasnya. Kalau kita nggak declair trus pas di scan ternyata ketauan¬†kita bawa barang yang¬†nggak boleh dibawa masuk, dendanya bikin sakit ati looh….

By the way, adakah dari teman-teman yang mau datang ke NZ dalam waktu dekat? Titip bawain my precious Alia sekalian bapaknya dooong ūüôā

Note to myself: Jangan sensii…

Tiga minggu balik ke NZ sendirian¬†setelah 3 bulan ‘liburan’ di Malang memang berat buat saya. Manalah saya harus tinggal sendiri di rumah yang berjarak sekitar¬†2km dari kampus, beban kerja berlipat-lipat dibanding tahun lalu, nggak bisa kerja sampai malem banget di ofis (karna ga ada mobil dan nggak berani pulang larut malam kalo naik sepeda), dan dan hal-hal lain sempat bikin saya lebih ‘sensi’ dan cepet mewek. Banyak yang bilang kalo saya itu hebat, karena bisa pisah lama sama anak dan suami.. Walaupun kadang-kadang (kadang-kadang loh yaaa..) rasa simpatik atau pujian buat saya itu suka bikin saya sensi dan jadi¬†bikin saya¬†merasa ‘dihakimi’. Ketika orang bilang “ya ampuun kok bisa sih jauh sama anak selama itu..” di telinga saya itu kedengarannya kayak “Ihhh .. tega amat sih kamu ninggalin anakmu selama itu..”. Walaupun mungkin dari orang yang ngomong nggak ada maksud untuk begitu.

Sensitifnya saya juga terjadi kalo lagi denger suara Alia atau bapak Abink. Kayak beberapa hari yang lalu, setelah 4 jam tutorial yang bikin saya nggak menyentuh thesis sama sekali hari itu, saya nelpon bapak Abink. Baru denger suaranya aja, saya langsung mewek.. Trus dapet voice note dari Alia juga mewek.. Bermaksud menghibur diri dengan nonton talk show di yutub, mewek lagi (karna ceritanya sedih) hihihi… Tapi, bukan bapak Abink namanya kalo nggak bisa meyakinkan saya kalau kami bakalan baik-baik aja.

Saya jadi ingat beberapa hari yang lalu saya ketemu tetangga flat saya seorang PhD student dari negara tetangga. Waktu itu saya baru pulang dari office sekitar jam 8malam. Di depan gang saya ketemu beliau yang mau balik ke kampus karena¬†ada kerjaan dan terpaksa ninggalin anaknya yang masih¬†7-8 tahunan sendirian di rumah. ¬†Mungkin kalo saya harus bawa Alia ke sini, saya nggak bakal punya keberanian untuk ninggalin Alia sendiri dirumah sementara saya ke ofis. Tapi ofkors waktu itu saya nggak bilang ‚Äúwah, kamu hebat deh kok bisa ninggalin anak kamu sendirian malem-malem di rumah‚Ä̬†ūüôā bisa-bisa saya bikin dia ‚Äėsensi‚Äô dan merasa dihakimi heheheh‚Ķ

Tetanggaku itu bukan satu-satunya Ibu-ibu yang bawa anaknya sendirian kesini, sedangkan mereka juga harus sekolah dan suami nggak bisa ikut. Masih banyak ibu-ibu lain yang harus juggling antara sekolah, nemenin anaknya main, ngerjain tugas, nyiapin makan anak dsb. Belum lagi kalo anaknya sakit. Mereka semua jadi bikin saya lebih semangat dan lebih bersyukur. Berpikir bahwa apa yang kami jalani sekarang ini (termasuk LDM) adalah bagian dari rejeki Allah buat kami.

Ya, semua pilihan pasti butuh perjuangan dan ada konsekuensinya. Saya (dan bapak Abink) tentunya sudah melalui proses dan pertimbagan ketika kami memutuskan untuk menjalani LDM sementara. Sayapun yakin setiap ibu-ibu yang memutuskan sekolah untuk sekolah lagi dengan membawa keluarga atau tidak juga pasti punya pertimbangan sendiri. Sekarang, tinggal gimana kita menjalaninya aja. Kan kita sendiri yang menentukan kita mau sedih atau bahagia dengan pilihan kita.  Kalau lagi sedih atau khawatir saya juga selalu ingat hadist dari Al-Tarmidhi ini:

….. Be mindful of Allah, you will find Him before you. Get to know Allah in prosperity and He will know you in adversity. Know that what has passed you by was not going to befall you; and that what has befallen you was not going to pass you by. And know that victory comes with patience, relief with affliction and ease with hardship.

Udah deh, nggak usah¬†sensi-sensi lagii ūüôā Minum hot cokelat aja yuuk ahh….. ūüôā

IMG_20140316_141804

Mood Booster Saya Adalah………

IMG_20140225_213708

Minggu ini termasuk minggu yang berat buat kami (saya sih, lebih tepatnya). Kenapa? Karena di tengah Minggu saya harus balik lagi ke New Zealand, ninggalin Alia dan Bapak Abink. Jangan ditanya gimana rasanya, kali ini rasanya lebih sedih daripada perpisahan pertama kami di bulan Juli lalu walaupun lebih minim air mata. Mungkin karena saya merasa di Malang adalah zona nyaman saya dan saya merasa dibutuhkan untuk ngurus rumah (tangga) di Malang. Tapi, karena rejekinya masih di NZ ya dinikmati dan disyukuri aja. Kalo dibawa sedih malah nggak produktif nanti. Ya nggak?

Perjalanan Malang-Surabaya-Denpasar-Sydney-Christchurch cukup menyenangkan. Sampe di Christchurch, cuaca sangat cerah dan saya dijemput temen pake mobilnya yang dulu pernah jadi mobil saya. Begitu masuk mobil, lewat jalan2 yang pernah kami bertiga lewatin, ditambah cuaca cerah langsung inget Alia dan Bapak Abink. Biasanya kalo cuaca cerah kami suka jalan-jalan. Tapi kali ini saya sendirian di NZ ūüė¶

Begitu masuk¬†flat,¬†saya langsung disibukkan dengan urusan administrative kayak laporan ke landlord kalo saya udah masuk rumah dan nelpon ke perusahaan listrik untuk sign up account baru di rumah baru. Begitu abis maghrib, leyeh-leyeh di sofa¬†jadi terasa sepinya dan saya keinget bapak Abink dan Alia karena lay out flat lama tapi baru ini sangat mirip rumah kami yang dulu. Bedanya, lagi-lagi saya sekarang sendirian ūüė¶

Sehari setelah saya nyampe New Zealand, saya langsung ke kampus. Saya juga sudah langsung ada janji ketemu beberapa orang untuk urusan kerjaan. Sampe sehari setelahnya saya juga masih disibukkan dengan urusan kerjaan sampe sore. Begitu saya memutuskan untuk mulai pegang thesis lagi, saya dapet kabar kalo Alia demam. Jadi nggak konsen dan memutuskan pulang sambil mampir belanja ke supermarket. Sedihnya jadi bertambah-tambah ūüė¶ Pengeeen banget bawa Alia dan Bapaknya kesini sama saya. Tapi karna kondisi nggak memungkinkan, jadi pinggirin dulu pikiran itu. Ganti dengan pikiran positif, Alhamdulillah banyak saudara di sana yang bisa bantu jaga Alia…

Walaupun sedih (pake banget) pisahan sama keluarga lagi, tapi nggak sampe dibawa berlarut-larut kok.. Hari¬†Sabtu kemarin¬†saya sengaja tinggal dirumah selain karena ada janjian sama Landlord yang mau datang, juga biar bisa Skype sama Alia. Dan anak kecil ku yang sudah sembuh dari demamnya langsung pamer boneka minion barunya, cerita ini itu sambil sarapan pizza ūüôā

ALia pake kacamata Minion :)
ALia pake kacamata Minion ūüôā

Abis Skype sama bapak Abink n Alia, mood saya jadi bagus banget ūüôā bisa nyiapin bahan tutoring minggu depan, baca-baca buat thesis, sampe bisa¬† update blog segala hahahha ūüėÄ Ternyata mood booster saya bukan (window) shopping, makan di resto mahal atau ngopi2 di caf√©.. Cukup ngobrol sama Alia n bapak Abink dan semangkok (besar) mixed vegetable salad. Aaaahh….. indahnya hidupkuuuuu…… ALhamdulillah, terimakasih Allah…..

3 Universitas dengan 3 rasa berbeda

Tidak terasa ternyata dalam 10 tahun terakhir ini Pak ABink sangat beruntung memiliki pengalaman untuk mencicipi belajar di 3 universitas yang berbeda dengan jenjang yang berbeda pula. Ketiga universitas itu adalah Universitas Brawijaya tempat Pak ABink menempuh pendidikan Sarjana bidang Ekonomi Manajemen kekhususan Manajemen keuangan, kemudian dilanjutkan pada University of Wollongong Australia untuk mengambil Master di bidang Commerce dengan kekhususan Strategic Marketing dan yang terakhir di Lincoln University Canterbury Selandia Baru untuk tingkat Doktoral (Ph.D) dibidang social marketing. Teringat obrolan dari seorang teman yang terinspirasi dari sebuah pilem bahwa jika kamera kita rusak, maka memori kita akan hilang maka tulislah kenangan tersebut agar dapat selalu dikenang dan diingat maka Pak ABink mencoba untuk menuangkan kembali ingatan-ingatan dari 10 tahun yang lalu tersebut.

Tahun 2001, Pak ABink lulus dari sekolah menengah umum disebuah SMU negeri di Kota Malang, yaitu SMUN 8 Malang. Layaknya anak-anak yang dilanda euphoria kelulusan, keberhasilan menyelesaikan pendidikan menengan atas tersebut pun Pak ABink tanggapi dengan suka cita dan penuh bahagia. Tetapi dibalik kebahagiaan tersebut terselip suatu kekhawatiran mengenai masa depan. Khususnya mengenai kemana kaki harus melangkah untuk menuntut ilmu lebih tinggi. Pada masa itu persaingan masuk perguruan tinggi negeri sangat ketat. Setiap tahun hanya 100-150 mahasiswa yang bias diterima di masing-masing jurusan pada universitas-universitas negeri terkemuka. Berbekal rasak khawatir tersebut Pak ABink mencoba untuk mendaftar di universitas-universitas swasta sebagai cadangan jika tidak dapat diterima di universitas negeri.

Selain universitas swasta, Kai Roben juga memberi saran jika mau Pak ABink bias bersekolah di luar negeri dimana Malaysia adalah yang paling memungkinkan. Pertimbangannya simple saja karena Malaysia relative dekat dan biayanya masih terjangkau. Dengan alas an tersebut Pak ABink dan Kai Roben pun berangkat ke salah satu universitas swasta di Malaysia yang berafiliasi dengan salah satu Universitas di Australia.

Formulir sudah ditangan dan sudah diisi. Tetapi setelah berkonsultasi dengan Mama Hannie akhirnya rencana brsekolah di Malaysia pun dibatalkan. Mama Hannie beralasan dan khawatir kalo Pak ABink sampai sekolah di Malaysia takutnya Pak ABink menikah dengan orang Malaysia dan nanti tidak mau kembali ke Indonesia. Sedikit mengada ada tapi sebagai anak maka pertimbangan orang tua harus di dengarkan.

Alhasil berbekal semangat ikut UMPTN Pak Abink berhasil diterima sebagai mahasiswa baru di Jurusan Manajemen Universitas Brawijaya. Seingat Pak ABink mahasiswa baru jurusan Manajemen pada saat itu hanya sekitar 120 orang dan di bagi kedalam 4 kelas. Yaitu kelas A, B, C dan D. Pembagian kelas tersebut berdasarkan NIM yang tak lain dan tak bukan berdasarkan urutan abjad nama awal mahasiswa.

Kelas A ini cukup solid dan kompak secara dari sekitar 35 mahasiswanya, mayoritas adalah laki-laki. Perempuan hanya sekitar 9 orang. Kesolidan kelas A ini secara umum bertahan hingga sekarang. Tetapi semenjak semester 5 ketika dimulai era konsentrasi maka kelas A mulai jarang berkumpul. Pada saat itu Pak ABink masuk konsentrasi Manajemen Keuangan.

Singkat cerita, masa-masa berkuliah di Universitas Brawijaya sangat menyenangkan. Pak ABink lumayan aktif dikegiatan kemahasiswaan khususnya di LSME (Lingkar Studi Mahasiswa Ekonomi). Dimasa kuliah inilah Pak Abink pertama kali bertemu dengan Ibu ABink. Jadi tercatat kami sudah berkenalan sejak tahun 2002. Waktu yang cukup lama untuk saling mengenal.

Di masa kuliah ini Pak Abink bukan mahasiswa yang sangat cemerlang walau harus disyukuri karena paling tidak Pak ABink lulus dengan predikat Cum Laude dan masa kuliah hanya 3 tahun 3 bulan (seperti nya Pak ABink merupakan lulusan pertama dari angkatan 2001).

Setelah lulus S1 sekitar bulan Desember 2004 dan Wisuda pada Februari 2005, Kai Roben menyuruh Pak ABink untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Kali ini Kai Roben menyuruh dan berketetapan hati untuk menyekolahkan Pak ABink ke luar negeri dan dari hasil survey yang paling terjangkau adalah universitas di Malaysia. Kembali Malaysia menjadi tujuan pendidikan. Sekitar Bulan Februari Pak ABink dan Kai Roben mensurvey universitas-universitas di Malaysia. Yang disurvey pada saat itu adalah University Malaya, Universiti Kebangsaan Malaysia dan University Putra Malaysia.

Yang menarik pada saat itu adalah ketika berkunjung ke UKM, Pak ABink bertemu dengan seorang dosen akuntansi UB yang kebetulan juga sedang mengambil S3 di UKM. ALhasil dikenalkannya lah Pak ABink dengan kawan belio yang juga seorang mahasiswa MBA di UKM. Banyak cerita dan pengalaman yang disampaikan kawan tersebut yang akhirnya dapat disimpulkan bahwa MBA di UKM (menurut belio) tidak recommended.

Tapi apa dinyana, karena kembali Malaysia adalah Negara dengan kualitas pendidikan yang baik dengan biaya terjangkau maka Pak ABink tetap mendaftar di program MBA pada UKM dan UM.

Sedikit berbeda dengan universitas-universitas di Indonesia, pendaftaran program S2 di Malaysia dibuka sepanjang tahun. Tetapi pengumumannya menjelang perkuliahan di mulai. Sehingga ketika bulan Maret mendaftar maka Pak ABink tidak mendapat jawaban diterima atau tidak.

Di masa penantian tersebut, Kai Roben terbayang-bayang akan komplainan dari kawan yang mengambil MBA di UKM tersebut. Sehingga Kai menyuruh Pak ABink untuk mencari informasi S2 di Australia. Singkat cerita Pak ABink tertarik dengan program S2 yang ditawarkan oleh University of Wollongong. Maka dengan penuh kesadaran Pak ABink mendaftar ke UOW melalui agen pendidikan di Kota Malang. Ada hal yang lucu dan menarik pada saat mendaftar tersebut. Jadi ketika mau mengurus administrasi pendaftaran, salah satu konselor dari agen tersebut menyampaikan bahwa Pak ABink harus menguruskan badan. Karena kalo terlalu gemuk bias tidak diberikan visa. Mendengar informasi tersebut, maka patah hati lah Pak Abink. Masak orang mau sekolah harus diet dulu. Kayak militer saja. Karena si konselor tersebut bersikukuh untuk Pak Abink berdiet maka Pak ABink mundur teratur. Mencari agen lainnya. Akhirnya dapat agen pendidikan lain di Kota Surabaya. Lewat agen tersebut, Pak ABink tidak perlu diet dan sampai juga di UOW.

Karena nilai bahasa inggris yang sangat kurang maka Pak ABink harus ikut ELICOS selama 10 minggu. ELICOS diadakan di Wollongong University College (WUC) yaitu sebuah college tempat menempuh program diploma atau kursus persiapan bahasa inggris. Di WUC ini Pak ABink bertemu dengan dua sahabat sependeritaan dan sepermainan yaitu Suluh dan Ginanjar. Di luar college kami selalu berajalan dan bermain bersama tetapi selama di college kami sepakat supaya Bahasa Inggris meningkat maka kami brteman juga dengan yang lain. Sangat seru kursus di WUC ini. Walau Pak ABink kuliah di Australia, tetapi rasanya seperti di Beijing. Karena hamper 70% mahasiswa WUC adalah Asian dan mayoritas adaah orang China.

Mahasiswa WUC dari China, Thailand dan indonesia
Di kampus WUC bersama kawan-kawan dari China dan Thailand

Selain Pak Abink, Suluh dan Ginanar, pada saat ini di WUC ada bebebrapa mahasiswa lain dari Indonesia. Yang Pak ABink ingat adalah Pak Madyan (dosen Unair), Pak Heru (dosen Polinema) dan Mirza (ini cewek dari Jakarta). Tidak ada yang sekelas pada saat itu kecuali Mirza dengan Pak Madyan.

Akhirnya setelah 10 minggu berkutat belajar Bahasa Inggris Pak ABink dkk dinyatakan lulus dan berhak untuk melanjutkan mengambil postgraduate. Pada saat itu Pak ABink memutuskan untuk mengambil Master Strategic Marketing. Pada awalnya Pak ABink sempat bimbang. Dari Indonesia memang maksud hati ingin mengambil pendidikan tersebut. tetapi ketika sudah di Australia dan bertemu dengan kawan-kawan dari China maka hati sempat goyah. Motivasi kawan-kawan dari China pada saat itu adalah untuk menjadi seorang permanent resident. Untuk mendapatkan PR mereka harus bersekolah Akuntansi dan program yang memungkinkan adalah mengambil Master Professional Akuntansi. Tetapi setelah berdiskusi dengan Kai Roben, maka Pak ABink dengan kebulatan tekad mengambil Master Strategic Marketing.

4590_83940481918_2360648_n
Lebaran Bersama Mirza, Suluh dan Mia

Dikelas Postgraduate ini banyak sekali yang Pak ABink pelajari. Baik dari sisi pelajaran marketing hingga masalah akademik lainnya seperti plagiarism, etos kerja hingga berpikir kritis. Disinilah tempat pertama kali Pak ABink diajarkan bagaimana melakukan suatu pemikiran kritis pada permasalahan-permasalahan pemasaran. Sangat menyenangkan sekali belajar di UOW. Lingkungan yang sangat mendukung hingga fasilitas yang sangat memadai.

Akhirnya dengan sagal kerja keras dan cucuran keringat serta doa yang tak pernah berhenti pada Agustus 2006 Pak Abink berhasil diwisuda dengan gelar Master of Strategic Marketing. Tapi oleh DIKTI disetarakan dengan gelar Master of Commerce (Strategic Marketing).

Graduation with Migo from China
Graduation with Migo from China

Setelah lulus dari Wollongong, Pak ABink kembali ketanah air dan mengabdi di Universitas Brawijaya sebagai pengajar. Kurang dari 3 tahun mengabdi sebagai dosen, Pak ABink kembali berkesempatan untuk bersekolah kembali. Kali ini pilihan untuk bersekolah adalah New Zealand. Dari delapan Universitas negeri yang menawarkan program Doktoral, akhirnya Pak ABink memilih Lincoln University sebagai tempat menuntut ilmu

Lincoln University
Lincoln Univesity

Lincoln University ini bukan Universitas besar. Jumlah mahasiswa nya sekitar 4000 orang berasal dari 130 Negara yang berbeda (menurut marketingnya). Untuk program Doktoral ilmu bisnis dan manajemen saja mahasiswa yang terdaftar berasal dari beragam Negara seperti New Zealand, Brazil, Vietnam, Pakistan, Indonesia, Malaysia, Thailand, PNG, Sri Lanka, India dan sebagainya.

Ibu ABink bersama Doctoral Student dari Berbagai Negara
Ibu ABink bersama Doctoral Student dari Berbagai Negara

Study Doctoral di Lincoln University sangat menyenangkan. Iklim New Zealand yang sejuk ditambah dengan segar nya udara Lincoln membuat pikiran semakin terbuka. Gedung-gedung perkuliahan yang menawan menambah semangat untuk belajar.

Ivy Hall - Lincoln University Library
Ivy Hall – Lincoln University Library

Akhirnya setelah berhasil submit thesis pada bulan Oktober 2012, Pak ABink mempertahankan thesis pada bulan Februari 2013. Untuk ujian thesis secara lengkap bias di baca pada postingan pak Abink di kolom kompasiana. Akhirnya setelah ujian dan revisi Pak ABink resmi dinyatakan sebagai seorang Doctor dengan gelar Ph.D (Doctor of Philosphy).

Pak ABink Ph.D Thesis
Pak ABink Ph.D Thesis

Lengkap sudah perjalanan akademik formal Pak ABink. Penuh puji syukur selalu Pak ABink ucapkan ke Allah yang maha pengasih karena berkat Nya Allah perjalanan akademik yang panjang tersebut bias dilalui. Pengalaman di 3 universitas ini benar-benar memberikan warna pada pandangan hidup dan akademik dari Pak ABink. Semoga hal ini dapat menjadi hal yang bermanfaat bagi Pak ABink dan KeluargaHussein.

I can’t wait… I can’t wait……

Auckland pic dari http://en.wikipedia.org/
Auckland pic dari http://en.wikipedia.org/

Mau norak-norak bergembira dulu aahh…

Barusan dapet e-mail dari ANZMAC Doctoral Colloquium commitee, ngingetin deadline pengiriman power point sekaligus ngirim jadwal presentasi dan segala detail venue, catering, transportasi dll.

Dasarnya saya dari awal memang pengen banget ikut berpartisipasi di acara ini karena alasan cetek kepengen ketemu orang-orang tenar di bidang marketing dan services marketing. Pertama kali saya baca kalo Auckland sebagai host ANZMAC tahun ini, saya langsung mikir harus ikutan… Siapa tau bisa ketemu n ngobrol sama pak Rod Brodie ūüôā Setelah menyiapkan paper dan cari tau lebih lanjut tentang event ini, ternyata… banyak tokoh marketing yang saya pengen ketemu selain beliau yang sudah saya sebut namanya tadi.. Ternyata ada Pak Roland Rust dan Ibu Sharyn Rundle-Thielle, ada Ibu Jennifer Argo,¬†trus sebelum kirim paper saya juga sempat¬†e-mail-emailan dan kenalan sama Pak Roger Marshall yang dulu pernah ngajar di UGM, dan barusan saya baru tau ternyata paper saya di review sama Bu Linda Hollebeek (dan Pak Roger) yang¬†artikel-artikelnya nya saya cite banyak-banyak itu ūüôā dan I feel good karena dari kedua reviewer yang tenar di mata saya dan mumpuni di bidangnya¬†itu, saya bisa dapat travel award… Tadinya saya masih mikir, jangan-jangan saya dapet award ini karena reviewernya nggak ngerti apa yg saya kerjakan, atau karena kasian.

Karena tiket ke Auckland (lanjut ke Indonesia) sudah ditangan, penginapan sudah dibooking,¬†barang-barang sudah di-packed, oleh-oleh sudah dibeli, jadi sekarang harus ngebuttt…. selasaikan target-target, berangkat ke ke ANZMAC DC bulan depan trus langsung terbang ke Indonesia ketemu suami soleh dan anak solehah…. Berapa lama lagiii?? 4 minggu lagiii…. Bismillah… ūüôā

PPIC Research Day dan Post-Graduate Conference

Di bulan Agustus lalu, saya berkesempatan menghadiri dan berpartisipasi di acara yang diadakan Perhimpunan Pelajar Indonesia-Canterbury (Research Day) dan Pos-Graduate Conference yang diadakan oleh Lincoln University Student Association. Acara tersebut adalah dua acara yang berbeda, dalam waktu yang berdekatan dan punya tujuan yang hampir sama.

Inti dari kegiatan PPIC Research Day sebenarnya untuk mensosialisasikan berbagai riset yang sedang dilakukan oleh para pelajar Indonesia di Canterbury. Mulai riset bertema kehutanan, wine, manuka flower, sampai konflik Aceh. Acara nya dibuat sesantai mungkin, diselingi dengan potluck lunch khas student ūüôā kemarin sih potluck lunch nya lumayan seru menunya.. ada sushi, dendeng balado, cap cai, mie goreng, sambel goreng kentang¬†sampai nasi kuning juga ada.. Para pelajar Indonesia di CHristchurch sudah terbukti, selain¬†hebat di urusan akademis, juga¬†hebat di urusan perut hehehe..

research daykolase
Para Presenter di PPIC Research Day

The Audience

The Audience

research day

Beberapa hari setelah acara PPIC Research day, Lincoln University juga mengadakan Post-graduate Conference yang inti kegiatannya hampir sama dg research day. Tapi yang ini dalam bentuk yang lebih besar. Presentasinya pun dibagi menurut fakultas dan dibuat kompetisi.¬†Dari setiap fakultas akan dipilih 3 presenter terbaik. Dari Faculty of Commerce ada sekitar 11 orang partisipan yang mempresentasikan topik penelitian yang berbeda-beda. Saya juga berpartisipasi sebagai presenter. Niat awalnya cuma having fun, dan pemanasan buat ¬†ANZMAC Doctoral Colloquium di bulan November nanti. Tapi Alhamdulillah di penghujung acara Award Dinner saya malah dapat rejeki tak terduga¬†di acara ini.. ūüôā

PG Conf
beberapa partisipan
Me, Ainna and Mohan with our Dean
Me, Ainna and Mohan with our Dean

pg conf2

pg conf 1
with International friends

Photos courtesy of Liana Aisyah, Ainna Ramli dan Mohan Gurung

Ujian Thesis Doctoral ala New Zealand University

Akhirnya perjalanan akademik Pak Abink di tanah New Zealand di tutup dengan manis dengan diraihnya gelar Ph.D dalam bidang Marketing. Perjalanan akademik menempuh program doktoral ini dilalui dengan banyak tantangan, hambatan, cobaan dan pengalaman yang tak terlupakan. Alhamdulillah semua berjalan manis. Mungkin di kesempatan lain akan KeluargaHussein coba review perjalanan selama 3.5 tahun hidup di tanah Kiwi ini.

Kali ini, Pak Abink, ingin berbagi cerita mengenai bagaimana ujian thesis mahasiswa Doktoral di New Zealand. Semoga bisa berguna untuk memberikan gambaran bagi kandidat Doktor lainnya yang sedang berjuang.

Untuk dapat di uji dalam sidang doktoral, seorang kandidat Doktor harus lah berhasil menyelesaikan thesis nya terlebih dahulu. Secara umum kandidat Doktor diberikan waktu 3 tahun hingga 3.5 tahun untuk menyelesaikan thesis. Walaupun ada beberapa kandidat yang kurang dari 3 tahun atau bahkan ada yang sampai 5 tahun untuk menyelesaikan thesis nya.

Nah untuk Pak ABink sendiri, butuh 3 tahun 2 bulan untuk merampungkan thesis dan mendapat persetujuan dari pembimbing untuk men-submit thesis. Prosedur untuk submit mun tidak susah. Cukup minta submission form dari student service atau dari PG admin fakultas. Setelah dapat form tersebut maka di gandakan 4 kali. Diisi kemudian harus di tanda tangani oleh supervisor utama. Dalam beberapa kasus jika supervisor utama sedang on-leave maka supervisor kedua boleh untuk tanda tangan selama supervisor pertama sudah memberikan ijin. Setelah mendapat ijin dari supervisor, kandidat Doktor harus menggandakan thesis 4kali. Disarankan 5 karena kopi yang ke 5 untuk mahasiswa itu sendiri. Yang menjadi pertanyaan, buat siapa saja kah 4 jilid thesis tersebut?

Sistem New Zealand mensyaratkan bahwa Doktoral thesis akan di review oleh empat orang yaitu domestik examiner (penguji dari dalam New Zealand di luar Universitas), international examiner (penguji dari negara di luar New Zealand, serta dua supervisor. Tapi untuk supervisor hanya akan memberikan 1 penilaian (nilai bersama).

Nah setelah menggandakan thesis 5 kali, maka 4 jili thesis diserahkan ke student service. Tips bagi para kandidat doktor lainnya, adalah 3-6 bulan sebelum submission, ingatkan supervisor untuk mencari¬†examiner¬†baik international maupun domestik. Karena jika nama penguji sudah ada (kandidat tidak tahu siapa penguji tersebut untuk menghindari bias) maka jika thesis sudah masuk ke student service maka dalam 1×24 jam akan segera di kirim ke penguji. Yang sering terjadi adalah, supervisor belom memberikan nama ke student service sehingga walau sudah di submit, thesis akan tetap berada di student service dalam jangka waktu tertentu.

Setelah di submit, maka yang akan dilakukan adalah MENUNGGU. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu. Masing-masing universitas punya kebijkan masing-masing dalam kondisis menunggu ini. Untuk Lincoln University, 60 hari setelah thesis di submit maka convenor  akan mengirimkan reminder kepada para penguji. INGAT yang bisa dilakukan oleh convenor adalah mengirimkan reminder. Jadi sebentar atau lama review dari penguji sangat tergantung dari penguji itu sendiri. Untuk Lincoln University waktu tunggu standar adalah 3 Р7 bulan. Alhamdulillah PAk Abink cuma perlu menunggu 3 bulan sudah termasik christmast holiday.

Sudah menjadi rahasia umum jika tahap yang paling menegangkan adalah menunggu. Karena penilaian terbesar adalah review dari penguji + supervisor. Ada beberapa rekomendasi yang akan diberikan. Rekomendasi pertama adalah layak uji tanpa perbaikan (kondisi ini jarang terjadi), rekomendasi B adalah layak uji dengan perbaikan, rekomendasi C adalah re-do dan resubmit (untuk kasus ini thesis di kembalikan dan kandidat harus menambah beberapa hal sesuai rekomendasi penguji) dan yang terakhir adalah fail. Jadi dari pengalaman dan obrolan dengan kawan-kawan yang sudah Doktor, jika kita sudah di panggil untuk ujian maka sebenarnya kandidat tersebut sudah 80% lulus. Tinggal saat ujian saja. Tetapi dalam ujian jarang kasus gagal lulus selama thesis tersebut dikerjakan sendiri.

Nah untuk ujiannya pun cukup santai. Kandidat akan diberitahukan 1-2 minggu sebelom ujian. Kemudian berbeda dengan sidang Doktoral di Indonesia yang benar-benar formal, sidang ujian ini mirip seperti diskusi. Dalam ujian hanya akan ada lokal examiner, convenor dan supervisor. Diskusi mayoritas dengan lokal examiner. Lokal examiner akan membacakan beberapa pertanyaan dari international examiner. Sisanya akan ada diskusi dengan convenor dan supervisor.

Setelah diskusi selesai, kandidat akan di suruh keluar ruangan. Penguji, convenor dan supervisor akan meeting. Setelah meeting kandidat akan di panggil dan diumumkan apakah berhal mendapat kan gelar Ph.D nya atau tidak.

Jika dinyatakan lulus maka tahap berikut nya adalah melakukan revisi dan mendeposit kan thesis di library. Jika thesis sudah di deposit di library maka kandidat harus mencari clearance form dari library dan student finance. Jika sudah semua maka kandidat secara remis bisa meng klaim dirinya Doktor.

Kesimpulannya adalah ujian Doktoral ala New Zealand, tidak rumit. Tidak terlalu formal. Yang dipentingkan adalah daya kritis dan analitis. Bagi yang sedang mengerjakan thesis PAk Abink ucapkan selamat berjuang. Bagi yang sedang menunggu review, semoga segera di berikan hasil sesuai dengan keinginan.